Profil Fitokimia dan Aktivitas Antimikroba Daun Hibiscus tiliaceus L. serta Formulasi Sediaan Farmasinya

antibakteri antijamur hibiscus tiliaceus l. formulasi farmasi skrining fitokimia

Authors

October 26, 2026

Downloads

Hibiscus tiliaceus L. (waru) merupakan tanaman obat tradisional yang tumbuh melimpah di wilayah tropis dan telah lama digunakan untuk mengobati infeksi kulit, radang amandel, serta batuk.  Tinjauan ini dilakukan untuk merangkum profil fitokimia daun waru serta mengevaluasi efektivitas antibakteri dan antijamur dari ekstrak maupun sediaan farmasinya. Penelusuran pustaka difokuskan pada kandungan metabolit sekunder, berbagai teknik ekstraksi (maserasi, perkolasi, refluks, soxhletasi, dan sonikasi), aktivitas penghambatan terhadap mikroba patogen, serta stabilitas fisik sediaan yang dihasilkan. Berdasarkan artikel-artikel yang memenuhi kriteria, skrining fitokimia secara konsisten menunjukkan keberadaan flavonoid, saponin, tanin, fenol, triterpenoid/steroid, dan alkaloid, termasuk alkaloid yang dihasilkan oleh bakteri endofit Pseudomonas hibiscicola Wk. Ekstrak daun waru menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif (Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pyogenes) maupun bakteri Gram-negatif (Escherichia coli, Salmonella typhi, Aeromonas hydrophila, Pseudomonas aeruginosa), dengan metode ekstraksi yang melibatkan pemanasan (refluks dan soxhletasi) memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan metode dingin. Terhadap Candida albicans, ekstrak ini juga menunjukkan aktivitas penghambatan yang baik, baik untuk aplikasi pada gigi maupun penggunaan topikal. Selain itu, ekstrak tersebut telah berhasil diformulasikan menjadi gel topikal, gel pembersih tangan (hand sanitizer), sabun mandi cair, sabun cair pembersih area kewanitaan, dan deodoran roll-on dengan stabilitas fisik yang memadai. Dapat disimpulkan bahwa daun waru memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan aktif alami dalam sediaan antimikroba terstandarisasi.