Strategi Komunikasi Kang Nong Kota Tangerang dalam Melestarikan Tari Nandak Kang Nong Melalui Lomba Tari Nandak Kota Tangerang (Studi Kasus pada Lomba Tari Nandak Kang Nong Kota Tangerang)

Strategi Komunikasi Kang Nong Kota Tangerang Lomba Tari Nandak Kang Nong Pelestarian Budaya Model PENCILS Excellence Theory

Authors

September 29, 2026

Downloads

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi komunikasi Kang Nong Kota Tangerang dalam melestarikan Tari Nandak Kang Nong melalui Lomba Tari Nandak Kang Nong Kota Tangerang. Tari Nandak Kang Nong merupakan salah satu kesenian yang memiliki keterkaitan dengan Kang Nong dan menjadi bagian dari identitas budaya Kota Tangerang. Di tengah perubahan minat masyarakat dan perkembangan media digital, pelestarian tari tradisional memerlukan strategi komunikasi yang tidak hanya mempertahankan keberadaan tarian, tetapi juga memperluas pengenalan dan keterlibatan publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dari pihak yang terlibat dalam promosi pariwisata, Kang Nong, serta masyarakat. Excellence Theory ditempatkan sebagai grand theory untuk melihat fungsi komunikasi dalam membangun hubungan antara organisasi/program dengan publik. Model PENCILS digunakan sebagai middle-range theory untuk menganalisis aktivitas komunikasi melalui Publications, Events, News, Community Involvement, Identity Media, Lobbying and Negotiation, serta Social Responsibility. Konsep pelestarian budaya digunakan sebagai applied theory/konsep pendukung untuk melihat penerapan strategi komunikasi dalam menjaga keberlanjutan Tari Nandak Kang Nong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lomba Tari Nandak Kang Nong menjadi ruang komunikasi budaya yang mempertemukan Kang Nong, Tari Nandak Kang Nong, dan masyarakat secara langsung, kemudian diperkuat melalui publikasi digital dan keterlibatan berbagai pihak. Faktor pendukung meliputi keterkaitan historis Tari Nandak Kang Nong dengan Kang Nong, dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, keberadaan lomba sebagai ruang interaksi publik, antusiasme masyarakat, serta pemanfaatan media digital dan influencer. Faktor penghambat meliputi perubahan pola konsumsi informasi, persaingan dengan budaya populer, keterbatasan jangkauan kegiatan tatap muka, dan luasnya sasaran komunikasi.