Evaluasi Tingkat Implementasi Green Tourism Berbasis Green Destinations Standard pada Desa Wisata Pesisir di Kota Batam

green tourism green destinations standard desa wisata pesisir implementasi pariwisata berkelanjutan

Authors

September 22, 2026

Downloads

Pengembangan desa wisata pesisir di Kota Batam menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata dan kelestarian ekosistem pesisir, khususnya mangrove. Green Tourism menjadi pendekatan pengelolaan destinasi yang menekankan praktik ramah lingkungan, efisiensi sumber daya, konservasi, dan tata kelola lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat implementasi Green Tourism pada desa wisata pesisir di Kota Batam berdasarkan Green Destinations Standard. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif. Objek penelitian terdiri atas tiga desa wisata pesisir, yaitu Kampung Tua Bakau Serip, Kampung Terih, dan Mangrove Presiden. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur menggunakan instrumen Green Tourism Assessment yang terdiri atas 20 indikator dalam empat dimensi: Environmental Management, Green Operational Practice, Low-Carbon Strategy, dan Environmental Governance. Setiap indikator dinilai menggunakan skala 0–4. Validitas isi instrumen diuji menggunakan Aiken's V dan seluruh indikator memperoleh nilai 0,92–1,00 sehingga dinyatakan valid. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung skor rata-rata setiap indikator, dimensi, dan keseluruhan implementasi. Hasil penelitian menunjukkan Kampung Tua Bakau Serip memperoleh skor rata-rata 3,05 (kategori tinggi), Kampung Terih 2,15 (kategori sedang), dan Mangrove Presiden 1,60 (kategori rendah). Berdasarkan dimensi, Kampung Tua Bakau Serip memiliki capaian tertinggi pada Environmental Governance (3,50), sedangkan capaian terendah terdapat pada Low-Carbon Strategy di Mangrove Presiden (1,40). Dengan demikian, tingkat implementasi Green Tourism pada ketiga desa wisata pesisir di Kota Batam berbeda dan belum merata, sehingga penguatan aspek operasional hijau, strategi rendah karbon, dan tata kelola lingkungan masih diperlukan.