Destroyed Lung Akibat Keterlambatan Diagnosis Tuberkulosis Paru pada Usia Produktif

Pneumothorax Pulmonary TB Destroyed Lung Late Diagnosis of TB pleural effusion Anti-Tuberculosis Drugs (ATDs)

Authors

  • Rendy Hendrawinata A Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Univesitas Andalas, Indonesia
  • Dewi wahyu fitrina Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Univesitas Andalas, Indonesia
  • Irvan Medison Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Univesitas Andalas, Indonesia
  • Dessy Mizarty Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Univesitas Andalas, Indonesia
August 14, 2026

Downloads

Tuberkulosis (TB) paru dengan keterlambatan diagnosis pada usia produktif dapat menyebabkan berbagai komplikasi berat yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup pasien. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti dampak klinis keterlambatan diagnosis TB paru yang berkembang menjadi destroyed lung pada pasien usia muda, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keterlambatan tersebut. Penelitian ini merupakan studi laporan kasus (case report) dengan pendekatan deskriptif-naratif pada seorang laki-laki usia 26 tahun yang dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang sejak November 2024 hingga Mei 2025. Data diperoleh secara retrospektif melalui penelusuran rekam medis. Pasien datang dengan keluhan sesak napas progresif dan batuk kronik selama satu tahun, dengan riwayat penolakan pemeriksaan dahak di layanan primer. Pemeriksaan menunjukkan efusi pleura kiri (kadar ADA 62 U/L) dan hasil TCM sputum MTB detected high tanpa resistensi rifampisin. Komplikasi berkembang menjadi hidropneumotoraks yang memerlukan pemasangan chest tube, dengan gambaran CT scan menunjukkan kerusakan parenkim paru yang luas (destroyed lung). Setelah menjalani enam bulan pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT), pasien dinyatakan sembuh secara mikrobiologis (BTA negatif), namun masih mengalami gangguan fungsi paru obstruksi dan restriksi sedang serta gangguan difusi sedang yang menetap. Keterlambatan diagnosis TB, yang disebabkan oleh rendahnya kesadaran pasien, stigma sosial, dan keterbatasan deteksi dini, berkontribusi pada komplikasi ireversibel seperti destroyed lung. Deteksi dini dan penguatan sistem skrining sangat penting untuk mencegah kerusakan paru permanen, terutama pada kelompok usia produktif seperti pasien ini. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya intervensi berbasis komunitas dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan di fasilitas primer guna mengurangi angka keterlambatan diagnosis TB di Indonesia.