Evaluasi Desain Well Pad untuk Mitigasi Dampak Lingkungan Tumpahan Minyak pada Aktivitas Pengeboran Minyak dan Gas Bumi di Permukiman Padat Penduduk (Studi Kasus: Aktivitas Pengeboran di Distrik Suai, Timor Leste)

tumpahan minyak well pad Environmental Cost Benefit Analysis (ECBA)

Authors

July 28, 2026

Downloads

Kegiatan eksplorasi darat (onshore) memiliki risiko tumpahan minyak (oil spill) yang berdampak katastropik, terutama bila berdekatan dengan permukiman. Studi kasus rencana pengeboran sumur FetoKmaus-2 di Timor-Leste menghadapi tantangan paparan langsung terhadap permukiman Kotatasi yang diperparah oleh anomali curah hujan ekstrem serta karakteristik minyak ringan (light crude oil) bermobilitas tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian teknis sistem penahanan sekunder tapak sumur (well pad), mengestimasi potensi kerugian ekonomi lingkungan, merumuskan redesain fasilitas ramah lingkungan, serta mengevaluasi keandalan taktis Oil Spill Contingency Plan (OSCP). Metodologi menggunakan pendekatan kuantitatif dan geospasial. Evaluasi kapasitas infrastruktur diuji terhadap standar API RP 51R, US EPA SPCC, dan IFC Guidelines melalui integrasi volume Worst Case Discharge (WCD) dengan curah hujan 25-tahunan. Laju infiltrasi dianalisis dengan Hukum Darcy. Kelayakan perbaikan dijustifikasi menggunakan Environmental Cost-Benefit Analysis (ECBA). Evaluasi OSCP dilakukan via pemodelan spasial tutupan lahan ArcGIS untuk rute lintasan tumpahan, dan standar analisis lapisan proteksi (LOPA-CCPS) untuk evaluasi waktu respons. Hasil penelitian mengonfirmasi desain eksisting tidak memadai. Meskipun kapasitas statis bund wall mampu menampung luapan awal, ketinggian efektifnya (0,5 meter) memberikan holding time yang sangat kritis (3,2 hari) untuk skenario blowout berkelanjutan, serta diperparah oleh kapasitas evakuasi Pollution Control Pit eksisting (177,8 m³/jam) yang gagal menahan debit gabungan puncak sebesar 862,92 m³/jam hingga memicu pelimpasan dalam waktu kurang dari 13 menit. Ketiadaan geomembrane juga memicu infiltrasi vertikal secara instan. ECBA memproyeksikan total liabilitas kegagalan mencapai Rp 11,41 Miliar. Rekomendasi redesain mewajibkan peninggian bund wall menjadi 0,65 meter guna menjamin batas aman sesuai standar US EPA SPCC, pemasangan HDPE geomembrane 1,5–2,0 mm, kemiringan tapak 2%–3%, serta unit PCP beton dengan manifol ganda 20 inci. Terakhir, evaluasi OSCP merekomendasikan pengalihan evakuasi luapan dari area permukiman (selatan) menuju koridor vegetasi (timur laut), disertai pewajiban penyediaan alat berat dalam status siaga penuh di lokasi guna mengeliminasi kesenjangan waktu tanggap darurat.