Menentukan Kriteria, Data Referensi dan Bobot Penilaian Menggunakan AHP dalam Evaluasi Gambar Arsitektur
Downloads
Permasalahan kenyamanan termal bangunan di wilayah tropis menjadi isu penting, terutama akibat tingginya intensitas radiasi matahari yang berdampak pada peningkatan suhu ruang dan konsumsi energi untuk pendinginan buatan. Di sisi lain, limbah plastik jenis HDPE (High Density Polyethylene) terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan konsumsi produk plastik, namun pemanfaatannya kembali sebagai material bernilai tambah masih belum optimal. Kondisi ini membuka peluang pemanfaatan HDPE sebagai material konstruksi alternatif yang lebih berkelanjutan, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dalam industri konstruksi. Riset ini bertujuan mengkaji potensi komposit HDPE dan PCM sebagai material genteng yang mampu beradaptasi terhadap fluktuasi suhu iklim tropis, sekaligus menjadi solusi ganda bagi permasalahan lingkungan dan kenyamanan termal bangunan. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah mengombinasikan HDPE dengan PCM (Phase Change Material) yang mampu menyerap dan melepaskan panas laten saat perubahan fase, sehingga dapat menstabilkan suhu permukaan atap secara pasif tanpa energi tambahan. Faktor yang dipertimbangkan dalam pengembangan komposit ini antara lain sifat mekanik HDPE seperti kekuatan tarik dan ketahanan cuaca, karakteristik termal PCM meliputi titik leleh dan kapasitas panas laten, serta pengembangan material komposit bidang konstruksi. Integrasi PCM dalam matriks HDPE berpotensi meningkatkan kemampuan material menstabilkan suhu ruang di bawah atap, meskipun perlu memperhatikan keseimbangan komposisi agar penambahan PCM tidak menurunkan kekuatan struktur maupun ketahanan mekanik genteng. Dengan demikian, komposit HDPE-PCM memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai material genteng inovatif yang tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kenyamanan termal bangunan di iklim tropis, tetapi juga mendukung upaya pengurangan limbah plastik secara berkelanjutan serta pengembangan material konstruksi ramah lingkungan di masa mendatang.
Anthony, K.H. (1991) Juri desain di pengadilan: Kebangkitan kembali studio desain. Van Nostrand Reinhold.
Ching, F. D. K. (2014). Arsitektur: Bentuk, ruang, dan tatanan (4th ed.). John Wiley & Sons.
Chu, X., Deng, Y., & He, S. (2020). Pengenalan ruang arsitektur menggunakan jaringan saraf konvolusi dalam dan ekstraksi fitur visual. Computers in Human Behavior, 112, 106478. https://doi.org/10.1016/j.chb.2020.106478
Goodfellow, I., Bengio, Y., & Courville, A. (2016). Pembelajaran mendalam. MIT Press.
Harputlugil, T., & de Wilde, P. (2019). Interaksi antara manusia dan bangunan untuk efisiensi energi: Tinjauan kritis. Energy Research & Social Science, 56, 101216. https://doi.org/10.1016/j.erss.2019.101216
Jonsson, A., & Svingby, G. (2007). Penggunaan rubrik penilaian: Keandalan, validitas, dan konsekuensi pendidikan. Educational Research Review, 2(2), 130–144. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2007.05.002
Kamalian, R., & Peña-García, A. (2019). Prinsip desain berkelanjutan dalam arsitektur kontemporer dan implikasinya terhadap pembelajaran desain. Sustainable Cities and Society, 48, 101532. https://doi.org/10.1016/j.scs.2019.101532
Karimi, D., Dou, H., Warfield, S. K., & Gholipour, A. (2020). Pembelajaran mendalam dengan label berisik: Menjelajahi teknik dan solusi dalam analisis citra medis. Medical Image Analysis, 65, 101759. https://doi.org/10.1016/j.media.2020.101759
Koo, T. K., & Li, M. Y. (2016). Pedoman pemilihan dan pelaporan koefisien korelasi intrakelas untuk penelitian reliabilitas. Journal of Chiropractic Medicine, 15(2), 155–163. https://doi.org/10.1016/j.jcm.2016.02.012
Lawson, B., & Dorst, K. (2009). Pemahaman tentang desain: Pendekatan kognitif untuk perancangan desain. Design Studies, 30(1), 25–40. https://doi.org/10.1016/j.destud.2008.07.003
Liu, C., Wu, J., Kohli, P., & Furukawa, Y. (2017). Raster-ke-vektor: Meninjau kembali transformasi denah lantai. In Proceedings of the IEEE International Conference on Computer Vision (ICCV) (pp. 2195–2203). https://doi.org/10.1109/ICCV.2017.241
Oxman, R. (2008). Pemodelan digital dan pedagogi dalam pendidikan desain. Design Studies, 29(2), 228–243. https://doi.org/10.1016/j.destud.2007.12.007
Peng, Y., & Dai, S. Y. (2021). Integrasi pembelajaran mendalam dalam proses desain arsitektur: Analisis sistematis praktik kontemporer. Automation in Construction, 125, 103610. https://doi.org/10.1016/j.autcon.2021.103610
Saaty, T. L. (1980). Proses hierarki analitik. McGraw-Hill.
Salama, A. M. (2015). Pendidikan desain spasial: Arah baru untuk pedagogi dalam arsitektur dan bidang lainnya. Ashgate.
Salama, A. M., & Wilkinson, N. (2007). Pedagogi studio desain: Cakrawala untuk masa depan. Urban International Press.
Schön, D. A. (1983). Praktisi reflektif: Bagaimana para profesional berpikir dalam bertindak. Basic Books.
Tzonis, A., & Lefaivre, L. (2003). Arsitektur modern dan identitas budaya: Pertanyaan tentang keotentikan dan relevansi. Journal of Architectural Education, 56(3), 33–44. https://doi.org/10.1162/104648603322070614
Wang, L., Portegijs, W., & Jylhä, M. (2020). Pembelajaran mesin untuk estimasi daya cerna arsitektur berdasarkan fitur desain interior. Building and Environment, 180, 107061. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2020.107061
Zhu, X. X., Tuia, D., Mou, L., Xia, G. S., Zhang, L., Xu, F., & Fraundorfer, F. (2017). Pembelajaran mendalam dalam penginderaan jauh: Tinjauan komprehensif dan daftar sumber daya. IEEE Geoscience and Remote Sensing Magazine, 5(4), 8–36. https://doi.org/10.1109/MGRS.2017.2762307
Copyright (c) 2026 Hadi Permana, Agus Budi Purnomo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




