PENGARUH BLENDED LEARNING, MEDIA PEMBELAJARAN, DAN MOTIVASI
BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
Ni Made Viriyani Asih
Program
Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Budi Luhur
|
Riwayat Artikel: Received: 25-11-2022 Revised: 02-12-2022 Accepted: 09-12-2022 Keywords: Blended Learning, Learning Media, Learning
Motivation, dan Learning Outcomes Kata Kunci: Blended Learning, Media Pembelajaran,
Motivasi Belajar, dan Hasil Belajar. |
|
Abstract This study aims to determine the Effects of Blended Learning, Learning
Media, and Learning Motivation on Students� Outcomes in English subjects at
Narada Elementary School Jakarta. The research method used in this study is
quantitative with a survey method. The population in this research is all
students in grade 6 which are 68 students. The sample collecting techniques
used the total sampling technique. The data obtained were then tested with Microsoft
Excel 2019 software and SPSS version 25. The validity and reliability tests
used correlation coefficient significance SPSS and Cronbach Alpha test SPSS.
The data analysis method used multiple regression analysis. The result showed
that simultaneously blended learning, learning media, and learning motivation
have a positive effect with a percentage value of 96.4%. This shows that
blended learning, learning media, and learning motivation have a strong
effect on student learning outcomes. |
|
|
Abstrak Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Blended Learning, Media Pembelajaran, dan
Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada mata pelajaran Bahasa
Inggris di SDS Narada. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitaif
dengan metode survei. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas
6 yang berjumlah 68 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total
sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala model likert yang
diolah dengan software Microsoft Excel 2019 dan SPSS versi 25. Uji validitas
dan uji reabilitas instrumen penelitian menggunakan SPSS uji signifikansi
koefisien korelasi dan SPSS uji statistik Cronbach Alpha (A). Metode analisis
data menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa secara simultan blended learning, media pembelajaran, dan motivasi
belajar berpengaruh positif dengan nilai persentase 96,4%. Hal ini
menunjukkan bahwa blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar
berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa. |
Corresponding Author:
Ni Made Viriyani Asih�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Dewasa ini, pandemi dari wabah Coronavirus Disease (Covid-19) masih
menjadi momok terbesar di Indonesia. Pandemi adalah penyakit yang menyebar luas
misalnya di beberapa benua atau di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia,
tetapi di seluruh dunia. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna
mengurangi angka kenaikan pasien positif Covid-19
dan korban meninggal akibatnya. Program vaksin yang dilakukan secara
berkala untuk melindungi seluruh komponen masyarakat dari pandemi Covid-19 ini adalah salah satunya.
Selain itu, protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan atau
menggunakan hand sanitizer, dan
menjaga jarak serta menghindari kerumunan juga diterapkan.
Pandemi yang muncul pada 2019 ini
memiliki dampak luar biasa pada banyak sektor, seperti ekonomi, sosial, budaya,
pariwisata, dan lain sebagainya. Salah satu sektor yang juga terkena dampak
dari Covid-19 ini adalah pendidikan.
Pemerintah mengantisipasi penyebaran virus Corona
dengan mengubah sistem pelaksanaan pendidikan. Siswa diminta belajar secara
daring dan tidak berangkat ke sekolah (Nurkholis, 2020). Jadi, pembelajaran
sementara dilakukan secara jarak jauh, daring atau online. Penggunaan media online
seperti google classroom dan yang
lainnya merupakan salah satu solusi untuk peserta didik mampu menerima materi
pembelajaran dengan baik. Seiring berjalannya waktu, guru juga beralih ke media
pembelajaran yang lebih menarik lagi seperti canva, filmorago, dan masih banyak yang lainnya. Ini dilakukan oleh
para guru di Sekolah Narada agar siswa dapat lebih mengerti materi karena hanya
dibagikan melalui google classroom. Namun,
seiring berjalannya waktu, pembelajaran di tahun ajaran selanjutnya, penggunaan
aplikasi Zoom sudah digunakan di
Sekolah Narada. Sehingga, siswa dan guru dapat bertemu secara langsung di dalam
layar.
Media merupakan instrumen strategis
dalam perspektif pendidikan yang mendorong keberhasilan dalam proses belajar
mengajar di dunia pendidikan. Guru dituntut memanfaatkan media pembelajaran
untuk pengajaran selama proses belajar mengajar dilakukan dari rumah. Salah
satu proses pembelajaran yang inovatif adalah menggunakan media pembelajaran.
Menurut Sanjaya (2016), media pembelajaran adalah segala sesuatu seperti alat,
lingkungan, dan segala bentuk kegiatan yang dikondisikan untuk menambah
pengetahuan, mengubah sikap atau menanamkan keterampilan pada setiap orang yang
memanfaatkannya. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin
berkembang pesat serta dilengkapi dengan internet, masalah pendidikan di masa
pandemi dapat teratasi sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan.
Sampai saatnya pandemi sudah mulai
membaik di akhir tahun 2021, Surat Keputusan Bersama (SKB) dari empat menteri
dikeluarkan dan menyebutkan bahwa satuan pendidikan di wilayah PPKM
(Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 1 dan 2 bisa melaksanakan
PTM dengan jumlah peserta didik 100 persen jika capaian vaksinasi dosis 2
pendidik dan tenaga kependidikan paling sedikit 80 persen. Dengan begitu,
sekolah juga bisa menyelenggarakan PTM setiap hari dengan lama belajar paling
banyak enam jam pelajaran per hari. Namun, jika capaian vaksinasi dosis 2
pendidik dan tenaga kependidikan di wilayah PPKM level 1 dan 2 berada di antara
angka 50�80 persen, maka satuan pendidikan di wilayah tersebut hanya
diperbolehkan menyelenggarakan PTM terbatas dengan jumlah peserta didik 50
persen dari kapasitas ruang kelas. PTM terbatas di wilayah itu bisa
diselenggarakan setiap hari, namun harus dilakukan bergantian sesuai dengan
jadwal yang diatur sekolah berdasarkan jumlah siswa dan ketersediaan ruang
kelas, dengan lama belajar maksimal enam jam pelajaran per hari.
Dengan begitu, pembelajaran campuran
antara tatap muka (face to face) dan
daring pun menjadi metode baru yang sering disebut sebagai blended learning. Di Sekolah Narada, blended learning sudah dilaksanakan sejak semester 1 tahun 2021
untuk siswa kelas 5 dan 6. Sedangkan, blended
learning untuk siswa kelas 1 sampai 4 mulai dilaksanakan pada bulan Januari
tahun 2022. Beberapa guru yang mengajar
mengalami kesulitan saat blended learning. Guru merasakan perhatian mereka
terbagi untuk siswa yang terdapat di sekolah dan rumah. Selain itu, guru juga
mengalami kesulitan saat akan memberikan tugas berupa G-Forms dan G- Docs
karena siswa tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi seperti handphone,
tablet, dan laptop ke sekolah.
Saat pembelajaran blended learning, perhatian guru terbagi
kepada siswa yang ada di rumah dan sekolah oleh karena tidak semua siswa
mengikuti pembelajaran tatap muka. Guru mengutamakan siswa yang ada di sekolah
sehingga motivasi belajar siswa yang ada di rumah menurun karena merasa kurang
diperhatikan. Sejalan dengan pendapat dari Menik, dkk (2020) bahwa motivasi
belajar sangat berpengaruh terhadap naik turunnya hasil belajar siswa, terlebih
dalam masa pandemi, tingkat motivasi belajar siswa tentu sangat mempengaruhi
hasil belajar.
Terlihat dari data hasil belajar
siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris berikut.
Gambar 1 Nilai Bahasa Inggris Kelas 6
Sumber: Data Ledger Nilai Kelas 6 SDS Narada Tahun
Ajaran 2021/2022
Dari diagram di atas terlihat bahwa hasil
belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas 6A dan 6C
menurun sedangkan di kelas 6B menaik. Ini berarti terdapat kesenjangan Blended Learning, Media Pembelajaran,
dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa
Inggris. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan
penelitian tentang �Pengaruh Blended
Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar
Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas 6 di SDS Narada�.
Tujuan Penelitian ini adalah : 1. Mengetahui
blended learning mempengaruhi hasil
belajar siswa. 2. Mengetahui media
pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa. 3. Mengetahui motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar siswa. 4. Mengetahui blended
learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar bersama-sama secara
simultan mempengaruhi hasil belajar siswa.
Hasil belajar terdiri dari dua kata, yaitu hasil dan belajar. Menurut
KBBI, hasil adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dsb) oleh usaha.
Sedangkan, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Jadi, hasil
belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Ini
sejalan dengan pendapat dari Mudjiono dalam Lukman (2020:110), �hasil belajar
merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan
penilaian dan/atau pengukuran hasil belajar�.
Menurut Susanto (2013:5), �hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang
terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar�. Dalam kegiatan pembelajaran,
biasanya guru menetapkan tujuan belajar dimana siswa dikatakan berhasil belajar
adalah yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar
terdapat jenis-jenis hasil belajar. Penggolongan atau tingkatan jenis hasil
belajar terdiri atas tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah
psikomotor.
Senada dengan Bloom dalam Suprijono (2013:6), hasil belajar mencakup
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif terdiri dari knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan,
meringkas, contoh), application (menerapkan),
analysis (menguraikan, menentukan
hubungan), synthesis (mengorganisasikan,
merencanakan), dan evaluating (menilai).
Kemampuan afektif terdiri dari receiving (sikap
menerima), responding (memberikan
respon), valuting (nilai), organization (organisasi), dan characterization (karakterisasi).
Kemampuan psikomotorik meliputi initiatory
(inisiasi), pre-rountie (rutin),
dan rountinized. Dari pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang bisa dinilai dari siswa bukan
hanya darisegi pengetahuan saja, namun juga peningkatan sikap dan psikomotorik
mempunyai andil atas peningkatan hasil belajar siswa.
METODA PENELITIAN
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, metode
survey adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu
yang alamiah (bukan buatan), di mana peneliti melakukan perlakuan dalam
pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuisioner, tes, dan sebagainya
menurut Sugiyono (2015: 53). Jenis penelitian yang dilakukan adalah explanatory research (penelitian
penjelasan). Menurut Singarimbun dan Effendi (2014: 67), explanatory research adalah suatu penelitian di mana peneliti
menjelaskan hubungan kausal sebab akibat antara variabel-variabel melalui
pengujian hipotesa.
Pendekatan
dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini
disajikan dengan angka-angka. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto
(2015:112) yang mengemukakan penelitian kuantitatif adalah pendekatan
penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data,
penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya. Dalam penelitian
ini, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dari hasil kuesioner
tersebut dianalisis untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel dengan
analisis data yang bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2013:62).
Ruang
lingkup dalam penelitian ini adalah bidang manajemen pendidikan yang berfokus
pada seberapa besar pengaruh blended
learning (X1), media pembelajaran (X2), dan motivasi belajar (X3) sebagai
variabel independen terhadap Hasil Belajar (Y) sebagai variabel dependen.
Populasi adalah wilayah generalilasi
yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2015: 61). Populasi
yang dimaksud ialah siswa berjumlah kelas 6 dengan jumlah 68 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan
peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya
karena keterbatasan dana dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang
diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2015: 62). Pengambilan sampel dalam
penelitian ini didapatkan dengan menggunakan teknik non probability sampling.
Menurut Sugiyono (2014: 122)
mengatakan bahwa teknik non probability
sampling adalah teknik penarikan sampel yang tidak memberikan peluang bagi
setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dan, peneliti
akan menggunakan teknik total sampling.
Menurut Sugiyono (2014: 124) mengatakan bahwa total sampling adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel. Maka dari uraian di atas, teknik penarikan
sampel yang digunakan sebagai penelitian sebanyak 68 orang yang terdiri dari
siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
Dalam
penelitian ini, jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 68 orang yang
terdiri dari siswa kelas 6 Sekolah Dasar Swasta Narada. Data yang digunakan
adalah data primer yang diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner kepada
siswa kelas 6 SDS Narada untuk memperoleh informasi secara langsung dari
responden sebagai obyek penelitian.
Pengujian Hipotesis dan Pembahasan
Interpretasi Nilai Interval
Interpretasi
nilai interval adalah mengkategorikan nilai yang diperoleh. Nilai kelas selanjutnya
dikategorikan sebagai sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat
setuju. Pengkategorian nilai interval didapatkan melalui rumus:
Interval =
(Nilai Tertinggi - Nilai Terendah) : Jumlah kelas Interval
= (5 � 1) :
5 = 0,80
Tabel 1 Interpretasi Nilai Variabel
|
Interpretasi |
Interval |
|
Sangat tidak setuju |
1 - 1,80 |
|
Tidak setuju |
1,80 - 2,60 |
|
Cukup setuju |
2,60 - 3,40 |
|
Setuju |
3,40 - 4,20 |
|
Sangat setuju |
4,20 - 5,00 |
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Pengukuran Deskriptif Variabel X₁, X₂,
X₃, dan Y
Salah satu
teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan kuesioner yang
disebarkan kepada 68 orang siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Kuesioner ini
terdiri atas berbagai pernyataan yang dibuat berdasarkan 4 variabel yang diteliti.
Dari hasil penelitian dapat diketahui jawaban responden atas pernyataan
tersebut yang tersaji dalam masing-masing tabel dibawah ini:
Tabel
2
Pengukuran
Rata-Rata Blended Learning (X1)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
X1.1 |
298 |
4.38 |
Sangat Setuju |
|
X1.2 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
X1.3 |
299 |
4.4 |
Sangat Setuju |
|
X1.4 |
290 |
4.26 |
Sangat Setuju |
|
X1.5 |
299 |
4.4 |
Sangat Setuju |
|
X1.6 |
295 |
4.34 |
Sangat Setuju |
|
X1.7 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
X1.8 |
294 |
4.32 |
Sangat Setuju |
|
X1.9 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
X1.10 |
287 |
4.22 |
Sangat Setuju |
|
X1.11 |
281 |
4.13 |
Setuju |
|
X1.12 |
284 |
4.18 |
Setuju |
|
X1.13 |
289 |
4.25 |
Sangat Setuju |
|
X1.14 |
282 |
4.15 |
Setuju |
|
X1.15 |
288 |
4.24 |
Sangat Setuju |
|
Blended_Learning.X1 |
4377 |
64.37 |
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Dari tabel
di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap sangat setuju dari
tiap pernyataan mengenai blended learning
(X1) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat
dari pernyataan 3 dan 5 (X1.3 dan X1.5) yaitu �Guru memberikan bimbingan yang
efektif selama pelajaran�, dengan skor sebesar 299 dan �Saya nyaman
berinteraksi dengan guru dalam pembelajaran selama belajar dari rumah�, dengan
skor sebesar 299, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa blended learning yang dilakukan pada
siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada pada mata pelajaran Bahasa Inggris sangat
membantu dan sesuai pada penerapannya, skor terendah dapat dilihat dari
pernyataan 11 (X1.11) yaitu �Orangtua atau keluarga mampu membimbing saya
dengan baik selama belajar dari rumah�, dengan skor sebesar 281.
Tabel 3
Pengukuran Rata-Rata Media
Pembelajaran (X2)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
X2.1 |
299 |
4.4 |
Sangat
Setuju |
|
X2.2 |
298 |
4.38 |
Sangat
Setuju |
|
X2.3 |
292 |
4.29 |
Sangat
Setuju |
|
X2.4 |
297 |
4.37 |
Sangat
Setuju |
|
X2.5 |
297 |
4.37 |
Sangat
Setuju |
|
X2.6 |
289 |
4.25 |
Sangat
Setuju |
|
X2.7 |
293 |
4.31 |
Sangat
Setuju |
|
X2.8 |
296 |
4.35 |
Sangat
Setuju |
|
X2.9 |
294 |
4.32 |
Sangat
Setuju |
|
X2.10 |
298 |
4.38 |
Sangat
Setuju |
|
X2.11 |
284 |
4.18 |
Setuju |
|
X2.12 |
278 |
4.09 |
Setuju |
|
Media_Pembelajaran.X2 |
3515 |
51.69 |
|
Sumber:
Hasil Pengolahan Data 2022
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap
sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai media pembelajaran (X2) pada siswa
kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan 1
(X2.1) yaitu �Apakah guru menggunakan media visual setiap kali pelajaran�,
dengan skor sebesar 299, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa guru
menggunakan atau memanfaatkan media visual dalam setiap pembelajaran.
Sedangkan, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan 12 (X2.12) yaitu �Saya
tidak merasakan manfaat media pembelajaran�, dengan skor sebesar 278.
Tabel 4
Pengukuran Rata-Rata
Motivasi Belajar (X3)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
X3.1 |
300 |
4.41 |
Sangat
Setuju |
|
X3.2 |
300 |
4.41 |
Sangat
Setuju |
|
X3.3 |
302 |
4.44 |
Sangat
Setuju |
|
X3.4 |
282 |
4.15 |
Setuju |
|
X3.5 |
296 |
4.35 |
Sangat
Setuju |
Dari
tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap sangat setuju
dari tiap pernyataan mengenai motivasi belajar (X3) pada siswa kelas 6 Sekolah
Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan 3 (X3.3) yaitu �Saya
malas bertanya kepada guru kalau ada pelajaran yang tidak saya mengerti�,
dengan skor sebesar 302 dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa enggan
bertanya jika ada hal yang tidak ia�
mengerti. Sedangkan, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan 4
(X3.4) yaitu �Saya senang belajar dengan menggunakan video�, dengan skor
sebesar 282.
Pengukuran Rata-Rata Hasil Belajar (Y)
|
Pernyataan |
Skor |
Rata- rata |
Interprestasi nilai |
|
Y.1 |
298 |
4.38 |
Sangat Setuju |
|
Y.2 |
297 |
4.37 |
Sangat Setuju |
|
Y.3 |
291 |
4.28 |
Sangat Setuju |
|
Y.4 |
293 |
4.31 |
Sangat Setuju |
|
Y.5 |
296 |
4.35 |
Sangat Setuju |
|
Y.6 |
294 |
4.32 |
Sangat Setuju |
|
Hasil_belajar_Y |
1769 |
26.01 |
|
Sumber:
Hasil Pengolahan Data 2022
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa
rata-rata responden menganggap sangat
setuju dari tiap pernyataan mengenai hasil belajar (Y) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat
dilihat dari pernyataan 1 (Y.1) yaitu �Saya memahami
materi melalui pembelajaran daring�, dengan skor sebesar 298, dari hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa siswa secara umum dapat memahami materi pembelajaran selama proses daring,
skor terendah dapat dilihat dari pernyataan
3 (Y3) yaitu �Saya dapat belajar mandiri dengan menggunakan e- learning�, dengan skor sebesar 291.
Uji validitas dilakukan
untuk mengetahui valid atau tidaknya
kuesioner yang disebar. Keputusan pengujian
validitas responden menggunakan taraf signifikansi sebagai berikut:
1.
Item pertanyaan-pertanyaan responden penelitian dikatakan valid jika rhitung lebih�besar atau sama dengan rtabel (rhitung ≥ rtabel).
2.
Item pertanyaan-pertanyaan responden penelitian dikatakan tidak valid jika rhitung lebih�kecil�dari�rtabel (rhitung ≤ rtabel).
Di mana untuk rtabel 68 Responden adalah sebesar
0.2012.
Disamping harus valid Instrumen penelitian, juga harus
dapat dipercaya (reliable). Oleh karena itu, digunakan
uji reliabilitas yang berguna untuk mengetahui
ketepatan nilai kuesioner, artinya instrumen penelitian bila diujikan pada kelompok yang sama walaupun pada
waktu yang berbeda hasilnya akan sama. Instrumen dapat
dikatakan reliabel, apabila hasil Cα hitung > Cα table . Dasar pengambilan keputusan pada uji reliabilitas
ini, yaitu :
�
Cronbach�s Alpha > 0,6,
maka kuesioner yang diuji reliabel.
�
Cronbach�s Alpha ≤
0,6, maka
kuesioner yang diuji tidak reliabel.
Untuk Instrumen
penelitian ini hasil uji validitas
dan reliabilitasnya sebagai
berikut:
Hasil Pengujian Validitas & Reliabilitas
|
No |
Variabel |
Ite m |
Koefisien Cronbach Alfha |
Item
total Correlation |
Item Gugur |
||||||||
|
1 |
Blended |
Learning |
15 |
0,896 |
0,307 |
� |
4������������������ Item |
||||||
|
|
(X1) |
|
|
|
0,588 |
|
(10,12,13,14) |
||||||
|
2 |
Media |
Pembelajaran |
12 |
0,835 |
0,310 |
� |
2 Item (11,12) |
||||||
|
|
(X2) |
|
|
|
0,940 |
|
|
||||||
|
3 |
Motivasi Belajar (X3) |
11 |
0,788 |
0,272�������� � 0,575 |
2 Item
(4,7) |
|
||||||||
|
4 |
Hasil Belajar (Y) |
6 |
0,817 |
0,329�������� � 0,530 |
Nihil |
|
||||||||
Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
Uji Asumsi
Klasik
a. Uji Normalitas
Dasar
pengambilan keputusan untuk mendeteksi kenormalan adalah jika data menyebar
disekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal, maka model regresi
memenuhi asumsi normalitas dan dapat dilihat juga dari grafik diagramnya
berdistribusi normal (Priyatno, 2017).
Gambar
1 Hasil Uji Normalitas Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
Pada
gambar hasil dari output SPSS Normal P-P plot, memperlihatkan bahwa distribusi
dari titik-titik data menyebar disekitar garis diagonal dan penyebaran
titik-titik data searah dengan garis diagonal. Jadi, data pada variabel hasil
belajar dapat dikatakan normal.
b.
Uji
Multikolinearitas
Uji
Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada sebuah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi,
maka terdapat multikolinearitas. Model regresi yang baik memiliki syarat bshwa
tidak adanya masalah multikolinearitas. Salah satu cara untuk mendeteksi ada
tidaknya multikolinearitas yaitu dengan cara melihat nilai Tolerance (t) dan variance
inflation factor (VIF). Metode pengambilan keputusan yaitu jika semakin
kecil nilai Tolerance dan semakin
besar nilai VIF, maka semakin mendekati terjadinya masalah multikolinearitas.
Dalam kebanyakan penelitian menyebutkan bahwa jika Tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10 maka tidak terjadi
multikolinearitas.
Tabel 7
Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa
|
Model |
Collinearity Statistics |
||
|
Tolerance |
VIF |
||
|
1 |
(Constant) Blended_Learning.X1 |
0.458 |
2.183 |
|
Media_Pembelajaran.X2 Motivasi_Belajar.X3 |
0.265 0.190 |
3.773 5.275 |
|
|
a. Dependent Variable: Hasil_belajar_Y |
|||
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Dari hasil di atas dapat diketahui nilai variance inflation factor (VIF) masing-masing variabel yaitu
variabel Blended Learning sebesar
2,183, variabel Media Pembelajaran sebesar 3,773, dan variabel Motivasi Belajar
5,275. Sedangkan, nilai Tolerance dari
masing-masing variabel yaitu 0,458 pada variable Blended Learning, 0,265 pada variabel Media Pembelajaran, dan 0,190 pada
variabel Motivasi Belajar. Jadi, Tolerance dari ketiga variabel lebih dari
0,100 dan VIF kurang dari 10. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa
untuk variabel Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar tidak
memiliki masalah multikolinearitas.
c.
Uji
Heteroskedastisitas.
Uji
heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model
regresi, terjadi ketidaksamaan varians pada residual (error) dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians
dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut
Homoskedastisitas. Namun, jika varians berbeda disebut sebagai
Heteroskedastisitas. Sebuah model regresi dikatakan baik jika tidak terjadi
Heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan ada atau tidaknya
Heteroskedastisitas:
�
Jika titik-titik pada output tersebut
membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka terjadi heteroskedastisitas.
�
Jika titik-titik pada output tersebut
tidak membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Gambar 2 Hasil Uji
Heteroskedastisitas Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
Pada
gambar di atas penyebaran titik-titik menunjukkan data sebagai berikut:
1. Titik-titik data menyebar
di atas dan di bawah atau disekitar angka 0.
2. Titik-titik data tidak
mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.
3. Penyebaran titik � titik
data tidak berpola.
Maka,
dapat disimpulkan bahwa variabel independen terbebas dari asumsi klasik
heteroskedastisitas dan layak digunakan dalam penelitian.
Analisis
korelasi adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan
secara linear antara dua variabel.
Tabel 8
Hasil Pengujian Analisis Korelasi
Sumber: Hasil Pengolahan
Data 2022
Tabel 9
Tabel Tingkat Korelasi
|
Interval Koefisien |
Tingkat Hubungan |
|
0,80
� 1,000 |
Sangat
Kuat |
|
0,60
� 0,969 |
Kuat |
|
0,40
� 0,599 |
Cukup
Kuat |
|
0,20
� 0,399 |
Rendah |
|
0,00
� 0,199 |
Sangat
Rendah |
Tabel Klasifikasi
Koefisien Pearson
Berdasarkan
tabel di atas, keterangan pada output mengenai
korelasi dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Variabel Blended
Learning (X1) dengan Hasil Belajar (Y) : (r = 0,618 : Sig
= 0,000)
Data
pada tabel menunjukkan hubungan antara variabel Blended Learning dengan Hasil Belajar sebesar 0,618 sehingga dapat
disimpulkan bahwa besarnya hubungan antara Blended
Learning dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan Korelasi Kuat.
2. Variabel Media Pembelajaran (X2) dengan Hasil
Belajar (Y) : (r = 0,965 : Sig = 0,000)
Dari
data pada tabel menunjukkan hubungan antara variabel Media Pembelajaran dengan
Hasil Belajar sebesar 0,965 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan
antara variabel Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan
korelasi kuat.
3. Variabel Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar
(Y) : (r=0,766 : Sig = 0,000)
Data
pada tabel menunjukan hubungan antara variabel Motivasi Belajar dengan Hasil
Belajar sebesar 0,766 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan
Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan korelasi kuat.
Analisis
Regresi Linier Berganda
Tabel 10
Hasil Perhitungan Regresi Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) Blended_Learning.X1 .347 .092 .686 .016 .205 .506 5.838 .614 .000 Media_Pembelajaran.X2 Motivasi_Belajar.X3 .745 -.281 .029 .039 1.182 -.397 25.586 -7.262 .000 .000
a.
Dependent Variable: Hasil_belajar_Y Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
Berdasarkan
tabel di atas dapat diketahui persamaan regresinya yaitu:
Y
= a + b1X1 + b2 X2 + b3X3 + e
Y
= 0,347 + 0,092 X1 + 0,745 X2 + -0,281 X3 + e
Keterangan
:
Y
= Hasil Belajar a = Konstanta
X1
= Blended Learning X2 = Media Pembelajaran
X3 = Motivasi Belajar
e
= error
Berdasarkan
persamaan regresi di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.
Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan
berubah dengan sendirinya sebesar nilai konstanta yaitu 0,347.
b. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar 0,092 setiap satuan variabel Blended Learning (X1).
c. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar 0,745 setiap satuan variabel Media Pembelajaran
(X2).
d. Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar -0,281 setiap satuan variabel Motivasi Belajar (X3).
a. Uji Signifikasi Pengaruh Parsial (Uji t)
Coefficientsa
|
Model |
Unstandardized Coefficients |
Standardiz ed
Coefficient s |
t |
Sig. |
||
|
B |
Std. Error |
Beta |
||||
|
1 |
(Constant) Blended_Learning.X1 |
.347 .092 |
.686 .016 |
.205 |
.506 5.838 |
.614 .000 |
|
Media_Pembelajaran.X2 Motivasi_Belajar.X3 |
.745 -.281 |
.029 .039 |
1.182 -.397 |
25.586 -7.262 |
.000 .000 |
|
a. Dependent
Variable: Hasil_belajar_Y Sumber:
Hasil Pengolahan Data 2022
Berdasarkan data pada tabel diperoleh nilai thitung. Nilai ini digunakan
untuk mengukur tingkat signifikansi pengaruh variabel X terhadap
Y. Dengan db (derajat kebebasan ) = N
� k - 1, dimana N = jumlah sampel dan k = jumlah variabel
(k=4), sehingga db = 68 � 4 - 1= 63. Nilai ttabel dengan db = 63 dan
taraf kepercayaan sebesar
95%, maka diperoleh angka 1.669.
Hypothesis:
a. Ho: Variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh tidak signifikan
terhadap
variabel terikat.
b. Ha: Variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
Aturan dalam Uji t:
�
Jika thitung > ttabel, Ho ditolak sehingga Ha diterima (Signifikan).
�
Jika ttabel < thitung, Ho diterima sehingga Ha ditolak (Tidak Signifikan). Atau, dapat juga menggunakan Nilai Signifikasi:
�
Jika Sig < 0,05, Ho ditolak sehingga Ha diterima (Signifikan).
�
Jika Sig > 0,05, Ho diterima sehingga Ha ditolak (Tidak Signifikan). Dari
tabel di
atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Variabel�Blended
Learning (thitung = 5,838 ; Sig = 0,000) thitung (5,838) > ttabel (1,669) maka Ha diterima dan H0
ditolak. Nilai Sig (0,000)
< 0,05) maka
Ha diterima
dan H0 ditolak.
Artinya,
koefisien variabel Blended Learning
(X1) secara parsial
memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Hasil Belajar
(Y).
2. Variabel�Media Pembelajaran
(thitung = 25,586 ; Sig = 0,000) thitung (25,586) > ttabel (1,669) maka Ha diterima dan H0 ditolak. Nilai Sig (0,000)
< 0,05) maka Ha diterima dan H0 ditolak.
Artinya, koefisien variabel Media
Pembelajaran (X2) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Hasil Belajar
(Y).
3. Variabel�Motivasi�Belajar�(thitung = 7,262 ; Sig = 0,000) thitung (7,262) > ttabel (1,669) maka Ha diterima dan H0
ditolak. Nilai Sig (0,000)
< 0,05) maka
Ha diterima
dan H0 ditolak.
Artinya,
koefisien variabel Motivasi
Belajar (X3) secara parsial memiliki
pengaruh signifikan terhadap
variabel Hasil Belajar (Y).
Untuk menguji signifikasi pengaruh variabel bebas yaitu Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) terhadap variabel terikat Hasil Belajar (Y) dapat digunakan uji F.
Kriteria
pengambilan keputusan untuk menguji signifikansi adalah: Ho : ρYX1 =
ρYX2 = 0
H1
: sekurang-kurangnya ada sebuah ρYX1 , ρYX2 0 Jika Fhitung
> Ftabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho
diterima dan H1 ditolak
Tabel 12 Output ANOVA ANOVAa
|
Model |
Sum
of Squares |
df |
Mean
Square |
F |
Sig. |
|
|
� 1 |
Regression |
309.358 |
3 |
103.119 |
567.582 |
.000b |
|
� |
Residual |
11.628 |
64 |
.182 |
|
|
|
� |
Total |
320.985 |
67 |
|
|
|
a.
Dependent Variable: Hasil_belajar_Y
b. Predictors: (Constant),
Motivasi_Belajar.X3, Blended_Learning.X1, Media_Pembelajaran.X2
Sumber:
Hasil Pengolahan Data 2022
Berdasarkan
tabel diperoleh nilai Fhitung = 567,582 dengan nilai signifikansi 0,000,
sedangkan Ftabel = 2,748. Karena nilai Fhitung > Ftabel dan nilai
signifikansi lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka H0 ditolak dan
regresi dapat digunakan untuk memprediksi Hasil Belajar (Y), atau secara
bersama-sama variabel Blended Learning (X1),
Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) berpengaruh terhadap Hasil
Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa
Inggris dengan taraf kepercayaan 95%.
c. Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Untuk
mengetahui seberapa kuat dan seberapa besar nilai Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi
Belajar (X3) berpengaruh terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS
Narada Jakarta untuk mata pelajaran
Bahasa Inggris dapat dilihat melalui nilai koefisien korelasi dan koefisien
determinasi.
Tabel 13
|
Model |
R |
R Square |
Adjusted R Square |
Std. Error
of the Estimate |
|
1 |
.982a |
.964 |
.962 |
.426 |
a. Predictors: (Constant),
Motivasi_Belajar.X3, Blended_Learning.X1, Media_Pembelajaran.X2
b. Dependent Variable:
Hasil_belajar_Y Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022
Berdasarkan
data pada tabel diperoleh nilai koefisien korelasi antara Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi
Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y) sebesar 0,982. Bila korelasi tersebut
diinterpretasikan pada tabel klasifikasi koefisien korelasi menurut Sugiyono
(2015), maka hubungan antara Blended
Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3)
dengan�� Hasil Belajar (Y) memiliki
hubungan yang sangat kuat yakni 0,982. Sementara, besarnya pengaruh Blended Learning (X1), Media
Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) secara bersama-sama terhadap Hasil
Belajar (Y) adalah sebesar 96,4%. Hal ini berarti Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi
Belajar (X3) sangat efektif dalam mempengaruhi Hasil Belajar (Y) pada Siswa
kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dikarenakan
hanya sebesar 3,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (є).
Interpretasi
Hasil Penelitian
Berdasarkan
berdasarkan hasil pengolahan data penelitian, maka dapat interpretasikan
sebagai berikut:
1. Variabel Blended
Learning (X1) dengan Hasil Belajar (Y)
Hasil
pengujian hipotesis pertama, pada penelitian ini menunjukkan bahwa Blended Learning (X1) berpengaruh
positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6
SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Diyakini bahwa beban
kognitif asing menghambat pembelajaran; tujuan akhir merancang pembelajaran
multimedia adalah untuk mengurangi beban kognitif asing (Kruger & Doherty,
2016) yang berkembang ketika informasi baru diintegrasikan dengan pengetahuan
yang ada. Beban kognitif Germane adalah sumber daya mental individu yang
digunakan untuk memperoleh dan mengotomatisasi skema dalam sistem memori jangka
panjang (Debue & Van De Leemput, 2014). Tujuan akhir dari pendidikan online adalah untuk mengurangi beban
kognitif siswa (Chen & Wu, 2015; Tolkach & Pratt, 2021). Hubungan
antara beban kognitif peserta didik dan hasil belajar telah dipelajari secara
ekstensif (Atiomo, 2020; Kirschner, Paas, & Kirschner, 2011; Tzafilkou,
Perifanou, & Economides, 2021; Wang, Fang, & Gu, 2020).
2. Variabel Media Pembelajaran (X2) dengan Hasil
Belajar (Y)
Hasil
pengujian hipotesis kedua pada penelitian ini menunjukkan bahwa Media
Pembelajaran (X2) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar
(Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.
Moser et. All, 2017 lebih lanjut mencatat bahwa media digital bergerak, dalam
arti "pembelajaran di mana-mana," menawarkan peluang yang menjanjikan
untuk desain proses pembelajaran yang fleksibel dan mandiri. Selain itu,
aplikasi digital yang agak baru, seperti opsi AR, memadukan lingkungan fisik
dan virtual peserta didik, dengan menambah dunia nyata peserta didik dengan
informasi virtual tambahan pada tampilan (Ibanez M, et. All 2018). Penggunaan
media digital untuk pendidikan tampaknya bermanfaat bagi meningkatkan
pengetahuan mata pelajaran, motivasi, dan literasi media peserta didik. Namun,
penggunaan informasi digital itu sendiri tidak secara otomatis meningkatkan
proses pembelajaran, khususnya dalam lingkungan belajar yang diarahkan sendiri,
seperti tempat belajar informal. Di sini, langkah-langkah pendukung untuk
memandu proses pembelajaran
diperlukan (Banner M, et. All 2009, Lin M, et. All 2016, Mayer RE, et.all
2003).
3. Variabel Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar
(Y)
Hasil
pengujian hipotesis ketiga pada penelitian ini menunjukkan bahwa Motivasi
Belajar (X3) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar
(Y)
pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.
Motivasi dapat mengarahkan anak-anak untuk mengejar peluang untuk belajar, yang
kemungkinan akan menghasilkan peningkatan usaha, lebih banyak latihan,
pengembangan keterampilan yang lebih cepat dan pada akhirnya pencapaian yang
lebih tinggi (Aunola et al., 2006). Penelitian tentang motivasi pada anak
sekolah dasar jarang dilakukan, yang mungkin disebabkan oleh kesulitan dalam
menilai motivasi pada usia ini (Berhenke et al., 2011).
4. Variabel Blended
Learning (X1), Media Pembelajaran (X2) dan Motivasi Belajar (X3) dengan
Hasil Belajar (Y)
Hasil pengujian hipotesis keempat pada penelitian ini menunjukkan bahwa Blended Learning, Media Pembelajaran,
dan Motivasi Belajar berpengaruh positif secara simultan terhadap Hasil Belajar
pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggri
KESIMPULAN
Tesis
ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui apakah pengaruh Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi
Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y) pada Hasil Belajar pada Siswa kelas 6 SDS
Narada Jakarta. Dari hasil dan analisis data serta pembahasan pada bab
sebelumnya dapat disimpulkan bahwa blended
learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar dapat berpengaruh secara
signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris
kelas 6 di SD Narada Jakarta.
Secara parsial, blended
learning berpengaruh positif dengan nilai persentase 9,2% dan berpengaruh
kuat terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris.
Media pembelajaran berpengaruh positif dengan nilai persentase 74,5% dan
berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran
Bahasa Inggris. Motivasi belajar berpengaruh positif dengan nilai persentase
-28,1% dan berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata
pelajaran Bahasa Inggris. Serta, secara simultan, blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar
berpengaruh positif dengan nilai persentase 96,4%. Hal ini menunjukkan bahwa blended learning, media pembelajaran,
dan motivasi belajar berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Aditia, M. T. & Novianti, M. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Sains, Lingkungan, Teknologi,
Masyarakat, dan Islam (Salingtemasis) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
pada Konsep Ekosistem Kelas X di SMA NU (Nadhatul Ulama) Lemahabang Kabupaten Cirebon:
Scientiae Educatia.
Arikunto. 2015. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arfan, H. H., Misnawati, Sakkir, G., Puspita, N., Akbar, Z.,
Asriadi, & Yusriadi,
Y. 2021. Student
Learning Interest in Covid-19 Pandemic Age by Blended E-Learning (Asynchronous
and Synchronous). Proceedings of the International Conference on Industrial
Engineering and Operations Management Singapore, 6330�6339.
Arikunto. 2015. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Cornelius Brandmiller, Hanna Dumont, Michael Becker. 2020. Teacher Perceptions of Learning Motivation
and Classroom Behavior: The Role of Student Characteristics, Contemporary
Educational Psychology, Volume 63, 101893, ISSN 0361-476X, https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101893.
Djaali. 2017. Psikologi
Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
K.M. Hammond, S. Brown. 2021. Transitioning to learning outcomes at the coalface: An academic�s quantitative
evaluation at the course level, Studies in Educational Evaluation, Volume
68, 100961, ISSN 0191-491X, https://doi.org/10.1016/j.stueduc.2020.100961.
Liat Biberman-Shalev. 2021. Motivational factors for learning and teaching global education,
Teaching and Teacher Education, Volume 106, 103460, ISSN 0742-051X, https://doi.org/10.1016/j.tate.2021.103460.
Maesaroh. 2020. Pengaruh
Blended learning Terhadap Proses Dan Hasil Belajar Peserta didik Pada Mata
Pelajaran Fiqih Di MTS Negeri 12 Majalengka. Jurnal Ilmiah Kajian Islam 4,
no. 2.
Miriam Degner, Stephanie Moser, Doris Lewalter. 2022. Digital media in institutional informal
learning places: A systematic literature review, Computers and Education Open,
Volume 3, 100068, ISSN 2666-5573, https://doi.org/10.1016/j.caeo.2021.100068.
Muhibbin Syah. 2013. Psikologi
Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Qomariah, Siti Saptari dan Sudiarditha., & I Ketut R.
(2016). Kualitas Media Pembelajaran,
Minat Belajar, Dan Hasil Belajar Siswa: Studi Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di
Kelas X IIS SMA Negeri 12 Jakarta. Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis.
Sheren dkk., 2018. Model
Blended learning Berbasis Moodle. Jakarta: Halaman Moeka Publishing.
Sugiyono. 2015. Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Susilo, M. J. 2015. Analisis
Kualitas Media Pembelajaran Insektarium dan Herbarium untuk Mata Pelajaran
Biologi Sekolah Menengah. Bioedukatika. Sutopo, H. Ariesto. 2012. Teknologi
Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Bina Ilmu.
Syahyuti. 2014. Definisi,
Variabel, Indikator dan Pengukuran dalam Ilmu Sosial.
Jakarta: Bina Rena Pariwara.
�arūnė Magelinskaitė, Albina Kepalaitė,
Visvaldas Legkauskas. 2014. Relationship
between Social Competence, Learning Motivation, and School Anxiety in Primary
School, Procedia - Social and Behavioral Sciences, Volume 116, Pages
2936-2940, ISSN 1877-0428,
https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.683.
Tayebinik, M., & Puteh, M. 2013. Blended Learning or E-learning? International Magazine on Advances in
Computer Science and Telecommunications (IMACST),
https://arxiv.org/abs/1306.4085v1.
Tiffanie Ford-Baxter, Kendall Faulkner, Jennifer Masunaga.
2022. Situating Information Literacy: A
Case Study Exploring Faculty Knowledge of National Disciplinary Standards and
Local Program Learning Outcomes, The Journal of Academic
Librarianship,
Volume 48, Issue 3, 102523,
ISSN 0099-1333, https://doi.org/10.1016/j.acalib.2022.102523.
Uno, H. 2011. Teori
Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara. Wulandari, R. A.,
& Atmojo, S. E. 2017. Pengembangan
Bahan Ajar IPA Kelas
III������� SD������ Berbasis�� Lingkungan� untuk�� Menumbuhkan� Karakter
Peduli Lingkungan. PGSD Indonesia.