PENGARUH BLENDED LEARNING, MEDIA PEMBELAJARAN, DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

 

Ni Made Viriyani Asih

Program Studi Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Budi Luhur

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 25-11-2022

Revised: 02-12-2022

Accepted: 09-12-2022

 

Keywords: Blended Learning, Learning Media, Learning Motivation, dan Learning Outcomes

 

 

Kata Kunci: Blended Learning, Media Pembelajaran, Motivasi Belajar, dan Hasil Belajar.

 

 

Abstract

This study aims to determine the Effects of Blended Learning, Learning Media, and Learning Motivation on Students� Outcomes in English subjects at Narada Elementary School Jakarta. The research method used in this study is quantitative with a survey method. The population in this research is all students in grade 6 which are 68 students. The sample collecting techniques used the total sampling technique. The data obtained were then tested with Microsoft Excel 2019 software and SPSS version 25. The validity and reliability tests used correlation coefficient significance SPSS and Cronbach Alpha test SPSS. The data analysis method used multiple regression analysis. The result showed that simultaneously blended learning, learning media, and learning motivation have a positive effect with a percentage value of 96.4%. This shows that blended learning, learning media, and learning motivation have a strong effect on student learning outcomes.

 

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris di SDS Narada. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitaif dengan metode survei. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 6 yang berjumlah 68 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala model likert yang diolah dengan software Microsoft Excel 2019 dan SPSS versi 25. Uji validitas dan uji reabilitas instrumen penelitian menggunakan SPSS uji signifikansi koefisien korelasi dan SPSS uji statistik Cronbach Alpha (A). Metode analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar berpengaruh positif dengan nilai persentase 96,4%. Hal ini menunjukkan bahwa blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa.

 

Corresponding Author: Ni Made Viriyani Asih

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Dewasa ini, pandemi dari wabah Coronavirus Disease (Covid-19) masih menjadi momok terbesar di Indonesia. Pandemi adalah penyakit yang menyebar luas misalnya di beberapa benua atau di seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah guna mengurangi angka kenaikan pasien positif Covid-19 dan korban meninggal akibatnya. Program vaksin yang dilakukan secara berkala untuk melindungi seluruh komponen masyarakat dari pandemi Covid-19 ini adalah salah satunya. Selain itu, protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan juga diterapkan.

Pandemi yang muncul pada 2019 ini memiliki dampak luar biasa pada banyak sektor, seperti ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, dan lain sebagainya. Salah satu sektor yang juga terkena dampak dari Covid-19 ini adalah pendidikan. Pemerintah mengantisipasi penyebaran virus Corona dengan mengubah sistem pelaksanaan pendidikan. Siswa diminta belajar secara daring dan tidak berangkat ke sekolah (Nurkholis, 2020). Jadi, pembelajaran sementara dilakukan secara jarak jauh, daring atau online. Penggunaan media online seperti google classroom dan yang lainnya merupakan salah satu solusi untuk peserta didik mampu menerima materi pembelajaran dengan baik. Seiring berjalannya waktu, guru juga beralih ke media pembelajaran yang lebih menarik lagi seperti canva, filmorago, dan masih banyak yang lainnya. Ini dilakukan oleh para guru di Sekolah Narada agar siswa dapat lebih mengerti materi karena hanya dibagikan melalui google classroom. Namun, seiring berjalannya waktu, pembelajaran di tahun ajaran selanjutnya, penggunaan aplikasi Zoom sudah digunakan di Sekolah Narada. Sehingga, siswa dan guru dapat bertemu secara langsung di dalam layar.

Media merupakan instrumen strategis dalam perspektif pendidikan yang mendorong keberhasilan dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Guru dituntut memanfaatkan media pembelajaran untuk pengajaran selama proses belajar mengajar dilakukan dari rumah. Salah satu proses pembelajaran yang inovatif adalah menggunakan media pembelajaran. Menurut Sanjaya (2016), media pembelajaran adalah segala sesuatu seperti alat, lingkungan, dan segala bentuk kegiatan yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan, mengubah sikap atau menanamkan keterampilan pada setiap orang yang memanfaatkannya. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin berkembang pesat serta dilengkapi dengan internet, masalah pendidikan di masa pandemi dapat teratasi sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan.

Sampai saatnya pandemi sudah mulai membaik di akhir tahun 2021, Surat Keputusan Bersama (SKB) dari empat menteri dikeluarkan dan menyebutkan bahwa satuan pendidikan di wilayah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 1 dan 2 bisa melaksanakan PTM dengan jumlah peserta didik 100 persen jika capaian vaksinasi dosis 2 pendidik dan tenaga kependidikan paling sedikit 80 persen. Dengan begitu, sekolah juga bisa menyelenggarakan PTM setiap hari dengan lama belajar paling banyak enam jam pelajaran per hari. Namun, jika capaian vaksinasi dosis 2 pendidik dan tenaga kependidikan di wilayah PPKM level 1 dan 2 berada di antara angka 50�80 persen, maka satuan pendidikan di wilayah tersebut hanya diperbolehkan menyelenggarakan PTM terbatas dengan jumlah peserta didik 50 persen dari kapasitas ruang kelas. PTM terbatas di wilayah itu bisa diselenggarakan setiap hari, namun harus dilakukan bergantian sesuai dengan jadwal yang diatur sekolah berdasarkan jumlah siswa dan ketersediaan ruang kelas, dengan lama belajar maksimal enam jam pelajaran per hari.

Dengan begitu, pembelajaran campuran antara tatap muka (face to face) dan daring pun menjadi metode baru yang sering disebut sebagai blended learning. Di Sekolah Narada, blended learning sudah dilaksanakan sejak semester 1 tahun 2021 untuk siswa kelas 5 dan 6. Sedangkan, blended learning untuk siswa kelas 1 sampai 4 mulai dilaksanakan pada bulan Januari tahun 2022. Beberapa guru yang mengajar mengalami kesulitan saat blended learning. Guru merasakan perhatian mereka terbagi untuk siswa yang terdapat di sekolah dan rumah. Selain itu, guru juga mengalami kesulitan saat akan memberikan tugas berupa G-Forms dan G- Docs karena siswa tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi seperti handphone, tablet, dan laptop ke sekolah.

Saat pembelajaran blended learning, perhatian guru terbagi kepada siswa yang ada di rumah dan sekolah oleh karena tidak semua siswa mengikuti pembelajaran tatap muka. Guru mengutamakan siswa yang ada di sekolah sehingga motivasi belajar siswa yang ada di rumah menurun karena merasa kurang diperhatikan. Sejalan dengan pendapat dari Menik, dkk (2020) bahwa motivasi belajar sangat berpengaruh terhadap naik turunnya hasil belajar siswa, terlebih dalam masa pandemi, tingkat motivasi belajar siswa tentu sangat mempengaruhi hasil belajar.

Terlihat dari data hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris berikut.

 


Gambar 1 Nilai Bahasa Inggris Kelas 6

Sumber: Data Ledger Nilai Kelas 6 SDS Narada Tahun Ajaran 2021/2022

 

Dari diagram di atas terlihat bahwa hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas 6A dan 6C menurun sedangkan di kelas 6B menaik. Ini berarti terdapat kesenjangan Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang �Pengaruh Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas 6 di SDS Narada�.

Tujuan Penelitian ini adalah : 1. Mengetahui blended learning mempengaruhi hasil belajar siswa. 2. Mengetahui media pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa. 3. Mengetahui motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar siswa. 4. Mengetahui blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar bersama-sama secara simultan mempengaruhi hasil belajar siswa.

Hasil belajar terdiri dari dua kata, yaitu hasil dan belajar. Menurut KBBI, hasil adalah sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dsb) oleh usaha. Sedangkan, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Jadi, hasil belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu. Ini sejalan dengan pendapat dari Mudjiono dalam Lukman (2020:110), �hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran hasil belajar�.

Menurut Susanto (2013:5), �hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar�. Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya guru menetapkan tujuan belajar dimana siswa dikatakan berhasil belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar terdapat jenis-jenis hasil belajar. Penggolongan atau tingkatan jenis hasil belajar terdiri atas tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor.

Senada dengan Bloom dalam Suprijono (2013:6), hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemampuan kognitif terdiri dari knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan), dan evaluating (menilai). Kemampuan afektif terdiri dari receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuting (nilai), organization (organisasi), dan characterization (karakterisasi). Kemampuan psikomotorik meliputi initiatory (inisiasi), pre-rountie (rutin), dan rountinized. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang bisa dinilai dari siswa bukan hanya darisegi pengetahuan saja, namun juga peningkatan sikap dan psikomotorik mempunyai andil atas peningkatan hasil belajar siswa.

 

METODA PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, metode survey adalah metode yang digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), di mana peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuisioner, tes, dan sebagainya menurut Sugiyono (2015: 53). Jenis penelitian yang dilakukan adalah explanatory research (penelitian penjelasan). Menurut Singarimbun dan Effendi (2014: 67), explanatory research adalah suatu penelitian di mana peneliti menjelaskan hubungan kausal sebab akibat antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesa.

Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini disajikan dengan angka-angka. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2015:112) yang mengemukakan penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dari hasil kuesioner tersebut dianalisis untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel dengan analisis data yang bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2013:62).

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah bidang manajemen pendidikan yang berfokus pada seberapa besar pengaruh blended learning (X1), media pembelajaran (X2), dan motivasi belajar (X3) sebagai variabel independen terhadap Hasil Belajar (Y) sebagai variabel dependen.

Populasi adalah wilayah generalilasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2015: 61). Populasi yang dimaksud ialah siswa berjumlah kelas 6 dengan jumlah 68 orang.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2015: 62). Pengambilan sampel dalam penelitian ini didapatkan dengan menggunakan teknik non probability sampling.

Menurut Sugiyono (2014: 122) mengatakan bahwa teknik non probability sampling adalah teknik penarikan sampel yang tidak memberikan peluang bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dan, peneliti akan menggunakan teknik total sampling. Menurut Sugiyono (2014: 124) mengatakan bahwa total sampling adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Maka dari uraian di atas, teknik penarikan sampel yang digunakan sebagai penelitian sebanyak 68 orang yang terdiri dari siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data

Dalam penelitian ini, jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 68 orang yang terdiri dari siswa kelas 6 Sekolah Dasar Swasta Narada. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner kepada siswa kelas 6 SDS Narada untuk memperoleh informasi secara langsung dari responden sebagai obyek penelitian.

 

Pengujian Hipotesis dan Pembahasan

Interpretasi Nilai Interval

Interpretasi nilai interval adalah mengkategorikan nilai yang diperoleh. Nilai kelas selanjutnya dikategorikan sebagai sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Pengkategorian nilai interval didapatkan melalui rumus:

Interval = (Nilai Tertinggi - Nilai Terendah) : Jumlah kelas Interval

= (5 � 1) : 5 = 0,80

Tabel 1 Interpretasi Nilai Variabel

Interpretasi

Interval

Sangat tidak setuju

1 - 1,80

Tidak setuju

1,80 - 2,60

Cukup setuju

2,60 - 3,40

Setuju

3,40 - 4,20

Sangat setuju

4,20 - 5,00

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Pengukuran Deskriptif Variabel X₁, X₂, X₃, dan Y

Salah satu teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 68 orang siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Kuesioner ini terdiri atas berbagai pernyataan yang dibuat berdasarkan 4 variabel yang diteliti. Dari hasil penelitian dapat diketahui jawaban responden atas pernyataan tersebut yang tersaji dalam masing-masing tabel dibawah ini:

 

Tabel 2

Pengukuran Rata-Rata Blended Learning (X1)

 

 

Pernyataan

 

Skor

Rata- rata

Interprestasi nilai

X1.1

298

4.38

Sangat Setuju

X1.2

297

4.37

Sangat Setuju

X1.3

299

4.4

Sangat Setuju

X1.4

290

4.26

Sangat Setuju

X1.5

299

4.4

Sangat Setuju

X1.6

295

4.34

Sangat Setuju

X1.7

297

4.37

Sangat Setuju

X1.8

294

4.32

Sangat Setuju

X1.9

297

4.37

Sangat Setuju

X1.10

287

4.22

Sangat Setuju

X1.11

281

4.13

Setuju

X1.12

284

4.18

Setuju

X1.13

289

4.25

Sangat Setuju

X1.14

282

4.15

Setuju

X1.15

288

4.24

Sangat Setuju

Blended_Learning.X1

4377

64.37

 

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai blended learning (X1) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan 3 dan 5 (X1.3 dan X1.5) yaitu �Guru memberikan bimbingan yang efektif selama pelajaran�, dengan skor sebesar 299 dan �Saya nyaman berinteraksi dengan guru dalam pembelajaran selama belajar dari rumah�, dengan skor sebesar 299, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa blended learning yang dilakukan pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada pada mata pelajaran Bahasa Inggris sangat membantu dan sesuai pada penerapannya, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan 11 (X1.11) yaitu �Orangtua atau keluarga mampu membimbing saya dengan baik selama belajar dari rumah�, dengan skor sebesar 281.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3

Pengukuran Rata-Rata Media Pembelajaran (X2)

 

Pernyataan

Skor

Rata- rata

Interprestasi nilai

X2.1

299

4.4

Sangat Setuju

X2.2

298

4.38

Sangat Setuju

X2.3

292

4.29

Sangat Setuju

X2.4

297

4.37

Sangat Setuju

X2.5

297

4.37

Sangat Setuju

X2.6

289

4.25

Sangat Setuju

X2.7

293

4.31

Sangat Setuju

X2.8

296

4.35

Sangat Setuju

X2.9

294

4.32

Sangat Setuju

X2.10

298

4.38

Sangat Setuju

X2.11

284

4.18

Setuju

X2.12

278

4.09

Setuju

Media_Pembelajaran.X2

3515

51.69

 

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai media pembelajaran (X2) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan 1 (X2.1) yaitu �Apakah guru menggunakan media visual setiap kali pelajaran�, dengan skor sebesar 299, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa guru menggunakan atau memanfaatkan media visual dalam setiap pembelajaran. Sedangkan, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan 12 (X2.12) yaitu �Saya tidak merasakan manfaat media pembelajaran�, dengan skor sebesar 278.

 

Tabel 4

Pengukuran Rata-Rata Motivasi Belajar (X3)

 

Pernyataan

Skor

Rata- rata

Interprestasi nilai

X3.1

300

4.41

Sangat Setuju

X3.2

300

4.41

Sangat Setuju

X3.3

302

4.44

Sangat Setuju

X3.4

282

4.15

Setuju

X3.5

296

4.35

Sangat Setuju

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai motivasi belajar (X3) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan 3 (X3.3) yaitu �Saya malas bertanya kepada guru kalau ada pelajaran yang tidak saya mengerti�, dengan skor sebesar 302 dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa enggan bertanya jika ada hal yang tidak iamengerti. Sedangkan, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan 4 (X3.4) yaitu �Saya senang belajar dengan menggunakan video�, dengan skor sebesar 282.

�� Tabel 5

Pengukuran Rata-Rata Hasil Belajar (Y)

 

Pernyataan

 

Skor

Rata- rata

Interprestasi nilai

Y.1

298

4.38

Sangat Setuju

Y.2

297

4.37

Sangat Setuju

Y.3

291

4.28

Sangat Setuju

Y.4

293

4.31

Sangat Setuju

Y.5

296

4.35

Sangat Setuju

Y.6

294

4.32

Sangat Setuju

Hasil_belajar_Y

1769

26.01

 

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata responden menganggap sangat setuju dari tiap pernyataan mengenai hasil belajar (Y) pada siswa kelas 6 Sekolah Dasar Narada. Skor tertinggi dapat dilihat dari pernyataan 1 (Y.1) yaitu �Saya memahami materi melalui pembelajaran daring�, dengan skor sebesar 298, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa secara umum dapat memahami materi pembelajaran selama proses daring, skor terendah dapat dilihat dari pernyataan 3 (Y3) yaitu �Saya dapat belajar mandiri dengan menggunakan e- learning�, dengan skor sebesar 291.

 

Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya kuesioner yang disebar. Keputusan pengujian validitas responden menggunakan taraf signifikansi sebagai berikut:

1.        Item pertanyaan-pertanyaan responden penelitian dikatakan valid jika rhitung lebihbesar atau sama dengan rtabel (rhitung rtabel).

2.        Item pertanyaan-pertanyaan responden penelitian dikatakan tidak valid jika rhitung lebihkecildarirtabel (rhitung ≤ rtabel).

Di mana untuk rtabel 68 Responden adalah sebesar 0.2012.

Disamping harus valid Instrumen penelitian, juga harus dapat dipercaya (reliable). Oleh karena itu, digunakan uji reliabilitas yang berguna untuk mengetahui ketepatan nilai kuesioner, artinya instrumen penelitian bila diujikan pada kelompok yang sama walaupun pada waktu yang berbeda hasilnya akan sama. Instrumen dapat dikatakan reliabel, apabila hasil Cα hitung > Cα table . Dasar pengambilan keputusan pada uji reliabilitas ini, yaitu :

         Cronbach�s Alpha > 0,6, maka kuesioner yang diuji reliabel.

         Cronbach�s Alpha 0,6, maka kuesioner yang diuji tidak reliabel.

Untuk Instrumen penelitian ini hasil uji validitas dan reliabilitasnya sebagai berikut:

Tabel 6

Hasil Pengujian Validitas & Reliabilitas

 

 

No

Variabel

Ite m

Koefisien Cronbach Alfha

Item total Correlation

Item Gugur

 

1

Blended

Learning

15

0,896

0,307

4������������������ Item

 

 

(X1)

 

 

 

0,588

 

(10,12,13,14)

 

2

Media

Pembelajaran

12

0,835

0,310

2 Item (11,12)

 

 

(X2)

 

 

 

0,940

 

 

3

Motivasi Belajar (X3)

11

0,788

0,272��������

0,575

2 Item (4,7)

 

4

Hasil Belajar (Y)

6

0,817

0,329��������

0,530

Nihil

 

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Uji Asumsi Klasik

a.    Uji Normalitas

Dasar pengambilan keputusan untuk mendeteksi kenormalan adalah jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas dan dapat dilihat juga dari grafik diagramnya berdistribusi normal (Priyatno, 2017).

 


 

Gambar 1 Hasil Uji Normalitas Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Pada gambar hasil dari output SPSS Normal P-P plot, memperlihatkan bahwa distribusi dari titik-titik data menyebar disekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik data searah dengan garis diagonal. Jadi, data pada variabel hasil belajar dapat dikatakan normal.

 

b.        Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada sebuah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka terdapat multikolinearitas. Model regresi yang baik memiliki syarat bshwa tidak adanya masalah multikolinearitas. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas yaitu dengan cara melihat nilai Tolerance (t) dan variance inflation factor (VIF). Metode pengambilan keputusan yaitu jika semakin kecil nilai Tolerance dan semakin besar nilai VIF, maka semakin mendekati terjadinya masalah multikolinearitas. Dalam kebanyakan penelitian menyebutkan bahwa jika Tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10 maka tidak terjadi multikolinearitas.

 

 

 

 

Tabel 7

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

 

 

Model

Collinearity Statistics

Tolerance

VIF

 

1

(Constant) Blended_Learning.X1

 

0.458

 

2.183

Media_Pembelajaran.X2

Motivasi_Belajar.X3

0.265

0.190

3.773

5.275

a. Dependent Variable: Hasil_belajar_Y

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Dari hasil di atas dapat diketahui nilai variance inflation factor (VIF) masing-masing variabel yaitu variabel Blended Learning sebesar 2,183, variabel Media Pembelajaran sebesar 3,773, dan variabel Motivasi Belajar 5,275. Sedangkan, nilai Tolerance dari masing-masing variabel yaitu 0,458 pada variable Blended Learning, 0,265 pada variabel Media Pembelajaran, dan 0,190 pada variabel Motivasi Belajar. Jadi, Tolerance dari ketiga variabel lebih dari 0,100 dan VIF kurang dari 10. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan bahwa untuk variabel Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar tidak memiliki masalah multikolinearitas.

 

c.         Uji Heteroskedastisitas.

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, terjadi ketidaksamaan varians pada residual (error) dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas. Namun, jika varians berbeda disebut sebagai Heteroskedastisitas. Sebuah model regresi dikatakan baik jika tidak terjadi Heteroskedastisitas. Dasar pengambilan keputusan ada atau tidaknya Heteroskedastisitas:

         Jika titik-titik pada output tersebut membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka terjadi heteroskedastisitas.

         Jika titik-titik pada output tersebut tidak membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka tidak terjadi heteroskedastisitas.


Gambar 2 Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Pada gambar di atas penyebaran titik-titik menunjukkan data sebagai berikut:

1.      Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau disekitar angka 0.

2.      Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja.

3.      Penyebaran titik � titik data tidak berpola.

Maka, dapat disimpulkan bahwa variabel independen terbebas dari asumsi klasik heteroskedastisitas dan layak digunakan dalam penelitian.

 

Korelasi

Analisis korelasi adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan secara linear antara dua variabel.

Tabel 8

Hasil Pengujian Analisis Korelasi

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

 

Tabel 9

Tabel Tingkat Korelasi

Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0,80 � 1,000

Sangat Kuat

0,60 � 0,969

Kuat

0,40 � 0,599

Cukup Kuat

0,20 � 0,399

Rendah

0,00 � 0,199

Sangat Rendah

Tabel Klasifikasi Koefisien Pearson

 

 

Berdasarkan tabel di atas, keterangan pada output mengenai korelasi dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1.    Variabel Blended Learning (X1) dengan Hasil Belajar (Y) : (r = 0,618 : Sig

= 0,000)

Data pada tabel menunjukkan hubungan antara variabel Blended Learning dengan Hasil Belajar sebesar 0,618 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan antara Blended Learning dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan Korelasi Kuat.

2.    Variabel Media Pembelajaran (X2) dengan Hasil Belajar (Y) : (r = 0,965 : Sig = 0,000)

Dari data pada tabel menunjukkan hubungan antara variabel Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar sebesar 0,965 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan antara variabel Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan korelasi kuat.

3.    Variabel Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y) : (r=0,766 : Sig = 0,000)

Data pada tabel menunjukan hubungan antara variabel Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar sebesar 0,766 sehingga dapat disimpulkan bahwa besarnya hubungan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Siswa menunjukan korelasi kuat.

 

Analisis Regresi Linier Berganda

Tabel 10

Hasil Perhitungan Regresi Coefficientsa

 

 

 

 

 

Model

 

 

Unstandardized Coefficients

Standardiz ed Coefficient

s

 

 

 

 

 

t

 

 

 

 

 

Sig.

 

B

Std. Error

 

Beta

1

(Constant)

Blended_Learning.X1

.347

.092

.686

.016

 

.205

.506

5.838

.614

.000

Media_Pembelajaran.X2

Motivasi_Belajar.X3

.745

-.281

.029

.039

1.182

-.397

25.586

-7.262

.000

.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


a. Dependent Variable: Hasil_belajar_Y Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

 

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui persamaan regresinya yaitu:

Y = a + b1X1 + b2 X2 + b3X3 + e

Y = 0,347 + 0,092 X1 + 0,745 X2 + -0,281 X3 + e

Keterangan :

Y = Hasil Belajar a = Konstanta

X1 = Blended Learning X2 = Media Pembelajaran X3 = Motivasi Belajar

e = error

 

Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

a.       Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah dengan sendirinya sebesar nilai konstanta yaitu 0,347.

b.       Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar 0,092 setiap satuan variabel Blended Learning (X1).

c.       Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar 0,745 setiap satuan variabel Media Pembelajaran (X2).

d.       Apabila variabel lain bernilai konstan, maka nilai Hasil Belajar (Y) akan berubah sebesar -0,281 setiap satuan variabel Motivasi Belajar (X3).

 

Uji Hipotesis

a.    Uji Signifikasi Pengaruh Parsial (Uji t)

 

Tabel 11 Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa

 

 

 

 

 

Model

 

 

Unstandardized Coefficients

Standardiz ed Coefficient

s

 

 

 

 

 

t

 

 

 

 

 

Sig.

 

B

Std. Error

 

Beta

1

(Constant)

Blended_Learning.X1

.347

.092

.686

.016

 

.205

.506

5.838

.614

.000

Media_Pembelajaran.X2

Motivasi_Belajar.X3

.745

-.281

.029

.039

1.182

-.397

25.586

-7.262

.000

.000

a. Dependent Variable: Hasil_belajar_Y Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

Berdasarkan data pada tabel diperoleh nilai thitung. Nilai ini digunakan untuk mengukur tingkat signifikansi pengaruh variabel X terhadap Y. Dengan db (derajat kebebasan ) = N � k - 1, dimana N = jumlah sampel dan k = jumlah variabel (k=4), sehingga db = 68 � 4 - 1= 63. Nilai ttabel dengan db = 63 dan taraf kepercayaan sebesar 95%, maka diperoleh angka 1.669.

Hypothesis:

a.       Ho: Variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh tidak signifikan

terhadap variabel terikat.

b.      Ha: Variabel bebas secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

Aturan dalam Uji t:

         Jika thitung > ttabel, Ho ditolak sehingga Ha diterima (Signifikan).

         Jika ttabel < thitung, Ho diterima sehingga Ha ditolak (Tidak Signifikan). Atau, dapat juga menggunakan Nilai Signifikasi:

         Jika Sig < 0,05, Ho ditolak sehingga Ha diterima (Signifikan).

         Jika Sig > 0,05, Ho diterima sehingga Ha ditolak (Tidak Signifikan). Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa:

1.      VariabelBlended Learning (thitung = 5,838 ; Sig = 0,000) thitung (5,838) > ttabel (1,669) maka Ha diterima dan H0 ditolak. Nilai Sig (0,000) < 0,05) maka Ha diterima dan H0 ditolak.

Artinya, koefisien variabel Blended Learning (X1) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Hasil Belajar (Y).

2.      VariabelMedia Pembelajaran (thitung = 25,586 ; Sig = 0,000) thitung (25,586) > ttabel (1,669) maka Ha diterima dan H0 ditolak. Nilai Sig (0,000) < 0,05) maka Ha diterima dan H0 ditolak.

Artinya, koefisien variabel Media Pembelajaran (X2) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Hasil Belajar (Y).

3.      VariabelMotivasiBelajar(thitung = 7,262 ; Sig = 0,000) thitung (7,262) > ttabel (1,669) maka Ha diterima dan H0 ditolak. Nilai Sig (0,000) < 0,05) maka Ha diterima dan H0 ditolak.

Artinya, koefisien variabel Motivasi Belajar (X3) secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Hasil Belajar (Y).

 

b. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Untuk menguji signifikasi pengaruh variabel bebas yaitu Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) terhadap variabel terikat Hasil Belajar (Y) dapat digunakan uji F.

Kriteria pengambilan keputusan untuk menguji signifikansi adalah: Ho : ρYX1 = ρYX2 = 0

H1 : sekurang-kurangnya ada sebuah ρYX1 , ρYX2  0 Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima Jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak

 

Tabel 12 Output ANOVA ANOVAa

 

Model

Sum of

Squares

df

 

Mean Square

 

F

 

Sig.

  1

Regression

309.358

3

103.119

567.582

.000b

   

Residual

11.628

64

.182

 

 

   

Total

320.985

67

 

 

 

 

a.   Dependent Variable: Hasil_belajar_Y

b.  Predictors: (Constant), Motivasi_Belajar.X3, Blended_Learning.X1, Media_Pembelajaran.X2

Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

 

Berdasarkan tabel diperoleh nilai Fhitung = 567,582 dengan nilai signifikansi 0,000, sedangkan Ftabel = 2,748. Karena nilai Fhitung > Ftabel dan nilai signifikansi lebih kecil dari taraf signifikansi 5%, maka H0 ditolak dan regresi dapat digunakan untuk memprediksi Hasil Belajar (Y), atau secara bersama-sama variabel Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) berpengaruh terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dengan taraf kepercayaan 95%.

 

c.   Analisis Koefisien Determinasi (R2)

Untuk mengetahui seberapa kuat dan seberapa besar nilai Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) berpengaruh terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dapat dilihat melalui nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi.

 

Tabel 13

 

Analisis Koefisien Determinasi Model Summaryb

 

Model

 

R

 

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

.982a

.964

.962

.426

 

 

a.  Predictors: (Constant), Motivasi_Belajar.X3, Blended_Learning.X1, Media_Pembelajaran.X2

b.  Dependent Variable: Hasil_belajar_Y Sumber: Hasil Pengolahan Data 2022

 

Berdasarkan data pada tabel diperoleh nilai koefisien korelasi antara Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y) sebesar 0,982. Bila korelasi tersebut diinterpretasikan pada tabel klasifikasi koefisien korelasi menurut Sugiyono (2015), maka hubungan antara Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) dengan�� Hasil Belajar (Y) memiliki hubungan yang sangat kuat yakni 0,982. Sementara, besarnya pengaruh Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) secara bersama-sama terhadap Hasil Belajar (Y) adalah sebesar 96,4%. Hal ini berarti Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) sangat efektif dalam mempengaruhi Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dikarenakan hanya sebesar 3,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (є).

 

Interpretasi Hasil Penelitian

Berdasarkan berdasarkan hasil pengolahan data penelitian, maka dapat interpretasikan sebagai berikut:

1.    Variabel Blended Learning (X1) dengan Hasil Belajar (Y)

Hasil pengujian hipotesis pertama, pada penelitian ini menunjukkan bahwa Blended Learning (X1) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Diyakini bahwa beban kognitif asing menghambat pembelajaran; tujuan akhir merancang pembelajaran multimedia adalah untuk mengurangi beban kognitif asing (Kruger & Doherty, 2016) yang berkembang ketika informasi baru diintegrasikan dengan pengetahuan yang ada. Beban kognitif Germane adalah sumber daya mental individu yang digunakan untuk memperoleh dan mengotomatisasi skema dalam sistem memori jangka panjang (Debue & Van De Leemput, 2014). Tujuan akhir dari pendidikan online adalah untuk mengurangi beban kognitif siswa (Chen & Wu, 2015; Tolkach & Pratt, 2021). Hubungan antara beban kognitif peserta didik dan hasil belajar telah dipelajari secara ekstensif (Atiomo, 2020; Kirschner, Paas, & Kirschner, 2011; Tzafilkou, Perifanou, & Economides, 2021; Wang, Fang, & Gu, 2020).

 

2.    Variabel Media Pembelajaran (X2) dengan Hasil Belajar (Y)

Hasil pengujian hipotesis kedua pada penelitian ini menunjukkan bahwa Media Pembelajaran (X2) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar (Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Moser et. All, 2017 lebih lanjut mencatat bahwa media digital bergerak, dalam arti "pembelajaran di mana-mana," menawarkan peluang yang menjanjikan untuk desain proses pembelajaran yang fleksibel dan mandiri. Selain itu, aplikasi digital yang agak baru, seperti opsi AR, memadukan lingkungan fisik dan virtual peserta didik, dengan menambah dunia nyata peserta didik dengan informasi virtual tambahan pada tampilan (Ibanez M, et. All 2018). Penggunaan media digital untuk pendidikan tampaknya bermanfaat bagi meningkatkan pengetahuan mata pelajaran, motivasi, dan literasi media peserta didik. Namun, penggunaan informasi digital itu sendiri tidak secara otomatis meningkatkan proses pembelajaran, khususnya dalam lingkungan belajar yang diarahkan sendiri, seperti tempat belajar informal. Di sini, langkah-langkah pendukung untuk memandu proses pembelajaran diperlukan (Banner M, et. All 2009, Lin M, et. All 2016, Mayer RE, et.all 2003).

 

3.    Variabel Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y)

Hasil pengujian hipotesis ketiga pada penelitian ini menunjukkan bahwa Motivasi Belajar (X3) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Hasil Belajar

(Y) pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Motivasi dapat mengarahkan anak-anak untuk mengejar peluang untuk belajar, yang kemungkinan akan menghasilkan peningkatan usaha, lebih banyak latihan, pengembangan keterampilan yang lebih cepat dan pada akhirnya pencapaian yang lebih tinggi (Aunola et al., 2006). Penelitian tentang motivasi pada anak sekolah dasar jarang dilakukan, yang mungkin disebabkan oleh kesulitan dalam menilai motivasi pada usia ini (Berhenke et al., 2011).

 

4.    Variabel Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2) dan Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y)

Hasil pengujian hipotesis keempat pada penelitian ini menunjukkan bahwa Blended Learning, Media Pembelajaran, dan Motivasi Belajar berpengaruh positif secara simultan terhadap Hasil Belajar pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta untuk mata pelajaran Bahasa Inggri

 

KESIMPULAN

Tesis ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui apakah pengaruh Blended Learning (X1), Media Pembelajaran (X2), dan Motivasi Belajar (X3) dengan Hasil Belajar (Y) pada Hasil Belajar pada Siswa kelas 6 SDS Narada Jakarta. Dari hasil dan analisis data serta pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar dapat berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 6 di SD Narada Jakarta.

Secara parsial, blended learning berpengaruh positif dengan nilai persentase 9,2% dan berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Media pembelajaran berpengaruh positif dengan nilai persentase 74,5% dan berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Motivasi belajar berpengaruh positif dengan nilai persentase -28,1% dan berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa kelas 6 pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Serta, secara simultan, blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar berpengaruh positif dengan nilai persentase 96,4%. Hal ini menunjukkan bahwa blended learning, media pembelajaran, dan motivasi belajar berpengaruh kuat terhadap hasil belajar siswa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aditia, M. T. & Novianti, M. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Sains, Lingkungan, Teknologi, Masyarakat, dan Islam (Salingtemasis) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Ekosistem Kelas X di SMA NU (Nadhatul Ulama) Lemahabang Kabupaten Cirebon: Scientiae Educatia.

Arikunto. 2015. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Arfan, H. H., Misnawati, Sakkir, G., Puspita, N., Akbar, Z., Asriadi, & Yusriadi,

Y. 2021. Student Learning Interest in Covid-19 Pandemic Age by Blended E-Learning (Asynchronous and Synchronous). Proceedings of the International Conference on Industrial Engineering and Operations Management Singapore, 6330�6339.

Arikunto. 2015. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Cornelius Brandmiller, Hanna Dumont, Michael Becker. 2020. Teacher Perceptions of Learning Motivation and Classroom Behavior: The Role of Student Characteristics, Contemporary Educational Psychology, Volume 63, 101893, ISSN 0361-476X, https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101893.

Djaali. 2017. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

K.M. Hammond, S. Brown. 2021. Transitioning to learning outcomes at the coalface: An academic�s quantitative evaluation at the course level, Studies in Educational Evaluation, Volume 68, 100961, ISSN 0191-491X, https://doi.org/10.1016/j.stueduc.2020.100961.

Liat Biberman-Shalev. 2021. Motivational factors for learning and teaching global education, Teaching and Teacher Education, Volume 106, 103460, ISSN 0742-051X, https://doi.org/10.1016/j.tate.2021.103460.

Maesaroh. 2020. Pengaruh Blended learning Terhadap Proses Dan Hasil Belajar Peserta didik Pada Mata Pelajaran Fiqih Di MTS Negeri 12 Majalengka. Jurnal Ilmiah Kajian Islam 4, no. 2.

Miriam Degner, Stephanie Moser, Doris Lewalter. 2022. Digital media in institutional informal learning places: A systematic literature review, Computers and Education Open, Volume 3, 100068, ISSN 2666-5573, https://doi.org/10.1016/j.caeo.2021.100068.

Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Qomariah, Siti Saptari dan Sudiarditha., & I Ketut R. (2016). Kualitas Media Pembelajaran, Minat Belajar, Dan Hasil Belajar Siswa: Studi Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Kelas X IIS SMA Negeri 12 Jakarta. Jurnal Pendidikan Ekonomi dan Bisnis.

Sheren dkk., 2018. Model Blended learning Berbasis Moodle. Jakarta: Halaman Moeka Publishing.

Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Susilo, M. J. 2015. Analisis Kualitas Media Pembelajaran Insektarium dan Herbarium untuk Mata Pelajaran Biologi Sekolah Menengah. Bioedukatika. Sutopo, H. Ariesto. 2012. Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan.

Yogyakarta: Bina Ilmu.

Syahyuti. 2014. Definisi, Variabel, Indikator dan Pengukuran dalam Ilmu Sosial.

Jakarta: Bina Rena Pariwara.

�arūnė Magelinskaitė, Albina Kepalaitė, Visvaldas Legkauskas. 2014. Relationship between Social Competence, Learning Motivation, and School Anxiety in Primary School, Procedia - Social and Behavioral Sciences, Volume 116, Pages 2936-2940, ISSN 1877-0428,

https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.683.

Tayebinik, M., & Puteh, M. 2013. Blended Learning or E-learning? International Magazine on Advances in Computer Science and Telecommunications (IMACST), https://arxiv.org/abs/1306.4085v1.

Tiffanie Ford-Baxter, Kendall Faulkner, Jennifer Masunaga. 2022. Situating Information Literacy: A Case Study Exploring Faculty Knowledge of National Disciplinary Standards and Local Program Learning Outcomes, The Journal of Academic Librarianship, Volume 48, Issue 3, 102523, ISSN 0099-1333, https://doi.org/10.1016/j.acalib.2022.102523.

Uno, H. 2011. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara. Wulandari, R. A., & Atmojo, S. E. 2017. Pengembangan Bahan Ajar IPA Kelas

III������� SD������ Berbasis�� Lingkunganuntuk�� MenumbuhkanKarakter Peduli Lingkungan. PGSD Indonesia.