PANTUN DAN MANTRA DALAM UPACARA MENUMBAI DI
KABUPATEN PELALAWAN, PROVINSI RIAU: KAJIAN KOMPOSISI, TRANSMISI, DAN FUNGSI
Moch.
Hafid Arofat, Novi Siti Kussuji Indrastuti
Universitas Gadjah Mada
|
Riwayat Artikel: Received: 15-11-2022 Revised: 20-11-2022 Accepted: 30-11-2022 Keywords:
oral literature, menumbai, composition, transmission, function Kata
Kunci: sastra
lisan, menumbai, komposisi, transmisi, fungsi |
|
Abstract Pantun and mantra�s menumbai are part of the menumbai ceremony in
Pelalawan District, Riau Province. Pantun and mantra�s menumbai belong to
oral literature because they are sung during the ceremony and there is no
text as a guide during the ceremony. The material object in this research is
a series of pantun and mantra�s menumbai what obtained from the chanting of
the source person, namely Juagan Tuo. This study uses the formal object from
the theory of oral literature by Albert B. Lord and the function of oral
literature by Ruth Finnegan. There are two problem formulations in this
study, consist of 1) what are the socio-cultural context, composition, and
transmission related to pantun and mantra at menumbai�s sialang tree ceremony
in the Pelalawan society, Riau, and 2) what are the functions of pantun and
mantra at menumbai�s sialang tree ceremony in the community Pelalawan, Riau.
The results of this study indicate that there is an inconsistency in the
pantun and mantra patterns with the big theme of respecting the queen bee,
the inhabitants of the sialang tree, Prophet Sulaiman, Prophet Muhammad, when
harvesting sialang honey. Performance context includes situation, performer,
duration, and audience. Transmission that occurred in previous generations
was done through family relationships and through live performances.
Transmission that occurs today depends on the documentation that has been
done by the local government and researchers. The agrarian socio-cultural
context includes sialang land forest use systems, honey plantation systems,
and honey processing. The supporting community for the menumbai ceremony is
Batin, the tribal chief who enforces the applicable customary law. Apart from
that, the performers consisting of Juagan Tuo, Juagan Mudo, and greeters play
an important role in the tumbai ceremony. In addition, there are farmers,
traders and local people who also benefit from sialang honey.The functions of
the pantun and mantra�s menumbai consist of three major functions, namely
religious, social and ecological. The function of the rhymes is more
horizontal, namely connecting between people so that mutual cooperation and
mutual assistance are established, while the function of the mantra is more
vertical, namely involving nature and God so that it involves nature and God
in order to provide sufficient sustenance and a place where people depend on
their lives. |
|
|
Abstrak Pantun dan mantra menumbai
termasuk bagian dari upacara menumbai di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Pantun dan mantra menumbai tergolong
ke dalam sastra lisan karena dilantunkan saat upacara dan tidak adanya teks sebagai
pegangan saat upacara. Objek material pada penelitian ini adalah serangkaian pantun dan
mantra menumbai yang didapat
dari dari lantunan narasumber, yakni Juagan Tuo. Penelitian ini menggunakan objek formal dari teori sastra lisan Albert B.
Lord dan fungsi sastra lisan
Ruth Finnegan. Ada dua rumusan
masalah pada penelitian ini, yakni 1) bagaimana konteks sosial budaya, komposisi, dan transmisi terkait pantun dan mantra pada upacara
menumbai pohon sialang pada masyarakat Pelalawan, Riau, dan 2) bagaimana
fungsi pantn dan mantra
pada upacara menumbai pohon sialang pada masyarakat Pelalawan, Riau.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada inkonsistensi pola pantun dan mantra dengan tema besar berupa
penghormatan kepada ratu lebah, penghuni pohon sialang, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, pada saat
memanen madu sialang. Konteks pertunjukan meliputi situasi, penampil, durasi, dan penonton. Transmisi yang terjadi pada generasi sebelumnya dilakukan lewat hubungan keluarga dan lewat pertunjukan secara langsung. Transmisi yang terjadi pada
masa kini bergantung dari pendokumentasian yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat dan para peneliti. Konteks sosial budaya agraris meliputi sistem pemakaian hutan tanah sialang,
sistem perkebunan madu, dan pengolahan madu. Masyarakat pendukung terhadap adanya upacara menumbai adalah Batin, kepala adat yang memberlakukan hukum adat yang berlaku. Di luar itu, para penampil yang terdiri dari Juagan Tuo,
Juagan Mudo, dan tukang sambut berperan penting terhadap upacara menumbai. Selain itu, ada petani,
pedagang, dan masyarakat setempat yang turut mendapat manfaat dari madu sialang.
Fungsi pantun dan mantra menumbai
terdiri dari tiga fungsi besar,
yakni religius, sosial, dan ekologis. Fungsi pantun lebih bersifat horizontal, yakni berhubungan antar masyarakat agar terjalin ikatan gotong-royong dan saling
membantu, sedangkan fungsi mantra lebih bersifat vertikal, yakni melibatkan alam dan Tuhan agar yakni melibatkan alam dan Tuhan agar mencukupkan rezeki dan tempat masyarakat menggantungkan hidupnya. |
Corresponding
Author: Moch. Hafid
Arofat�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Sastra lisan berkembang mengikuti perubahan masyarakat tradisional dalam memanfaatkan fungsi-fungsi yang terkandung di dalamnya.
Masyarakat sebagai pelaku sekaligus bisa menjadi penonton, penyimak, pemerhati, dan pengapresiasi, untuk menyerap nilai-nilai sesuai kebutuhan, baik secara sosial
maupun individu. Sastra lisan (Rusyana, 2006) hadir dan hidup serta tersebar dalam bentuk tidak
tertulis. Menurut Hutomo (1991: 62), bahan sastra lisan dapat dibedakan
menjadi tiga bagian. Pertama, bahan yang bercorak cerita, diantaranya, cerita-cerita biasa, mitos, legenda, epik, cerita tutur, dan memori. Kedua, bahan yang bercorak bukan cerita, di antaranya, ungkapan, nyanyian, peribahasa, teka-teki, puisi lisan, nyanyian sedih, pantun, dan undang-undang atau peraturan adat. Ketiga, bahan
yang bercorak tingkah laku, yakni drama panggung dan drama arena. Kehadirannya
bisa menandai atau merayakan peristiwa tertentu.
Salah satu bentuk sastra lisan yang masih lestari di masyarakat, terutama pada masyarakat Riau adalah upacara menumbai. Upacara menumbai banyak ditemui di Riau dan sekitarnya, sehingga diperlukan batasan wilayah agar objek yang diteliti lebih fokus. Selain
itu, perbedaan daerah juga menyebabkan perbedaan langgam pantun dan
mantra yang digunakan di dalam
upacara tersebut. Oleh sebab itu, peneliti
memilih upacara menumbai di Kabupaten Pelalawan, Riau, sebagai usaha pelestarian budaya non benda di daerahnya.
Upacara menumbai kental dengan penggunaan pantun dan
mantra selama prosesi berlangsung. Sebagai karya sastra lisan, pantun dan
mantra menumbai tidak terlepas dari masyarakat
yang mengikatnya. Indrastuti
(2018: 191) menyebutkan bahwa
karya sastra yang mengandung
unsur kebudayaan di dalamnya akan ditempatkan
sebagai perantara untuk merepresentasikan unsur kebudayaan lainnya yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu. Karya sastra tersebut juga tidak menutup pada karya sastra lisan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
Menumbai (Hamidy, 1983) berasal dari kata tumbai atau umbai, yang artinya
turun atau menurunkan
dengan tali dan bakul. Alat tersebut digunakan untuk mengambil sarang lebah pada pohon sialang. Selain itu, kata umbai berkerabat dengan umbuk (KBBI, 2016) seperti frasa umbuk-umbai yang berarti bujuk-rayu.
Pengambilan madu sialang
(Hamidy, 2005) sendiri mempunyai dua kesulitan,
yakni besarnya pohon yang dipanjat serta serangan dari lebah sialang.
Diameter pohon sialang (Stevano, 2015) mulai dari satu meter hingga 7 meter dan tingginya bisa mencapai 25 meter hingga 30
meter. Selain itu, serangan lebah bisa datang sewaktu-waktu
apabila mereka merasa terancam. Untuk mengatasinya, (Hamidy, 2005) orang Petalangan di
Pangkalan Kuras mempergunakan kayu-kayu kecil disebut semangkat yang dibuat hampir
seperti sigai atau tangga yang diikatkan pada pohon sialang. Dari tangga lilitan kayu tersebut,
pohon bisa dipanjat oleh Juagan Mudo. Tugasnya adalah memanjat pohon sialang serta
mengambil sarang lebah dengan sebelumnya
diasapi dengan tunam, yakni sabut
kering yang dililitkan pada
sebilah kayu dan diberi tali agar mudah dibawa. Di bawah pohon, sudah
bersiap tukang sambut. Tugasnya menyambut semua madu yang diturunkan Juagan Mudo dari
atas pohon sialang. Tugas keduanya yang berat bergantung dari besar pohon dan banyaknya sarang madu, sehingga jumlah Juagan Mudo
dan tukang sambut,
masing-masing bisa lebih dari satu orang. Pemimpin upacara menumbai hanya satu orang, yakni Juagan Tuo. Tugasnya
memimpin prosesi dari sebelum berangkat
hingga selesai.
Upacara menumbai dilakukan pada malam hari agar lebah tidak bisa
melihat pemanjat dengan jelas. Meski
begitu, mereka tetap meminta izin
dan membujuk kepada lebah serta makhluk
halus penunggu pohon agar upacara menumbai bisa berjalan
lancar. Dengan kata lain, menumbai (Hamidy, 2005) adalah penggunaan mantra atau pantun-pantun sebagai pengucapan yang halus dalam upaya �menggoda
lebah� untuk dapat mengambil lebahnya. Upaya melantunkan pantun ini untuk mendapat kekuatan batin meski kekuatan lahiriah berupa semangkat, tunam, dan memanjat saat malam
hari sudah dipersiapkan dengan matang. Menurut Hamidy (2005), bagi pandangan pesukuan di Petalangan sendiri yang berada di Kab. Pelalawan (Kec. Pangkalan Kuras, Kec. Ukui, Kec.
Bunut dan sekitarnya), upaya lahiriah belum memadai karena
adanya kekuatan batin dan gaib yang lebih hebat dan tak dapat dijangkau
dengan upaya lahiriah. Oleh sebab itu, mereka membekali
diri dengan mantra yang dibalut pantun agar merasa tenang dalam melakukan
pekerjaannya.
Menumbai adalah upacara adat mengambil madu lebah di pohon
sialang disertai pantun dengan rapalan cepat serupa mantra guna mengusir makhluk
halus sekaligus menidurkan lebah di sarangnya.
Pantun tersebut berisi rasa takjub dan syukur manusia kepada alam, terutama
kepada sarang lebah (diibaratkan sebagai balai). Pantun serupa yang syarat akan nilai moral kepada masyarakat juga banyak ditemui di serangkaian upacara menumbai di sana.
Di luar pantun, mantra
juga kerap digunakan dalam upacara menumbai.
Dikatakan demikian karena penuturan saat upacara menumbai
dipercayai mampu mengusir pengaruh jahat dari hal-hal
gaib yang tidak mampu dinalar. Hal tersebut sepahaman dengan pernyataan Djamaris (Djamaris, 1990) bahwa mantra termasuk gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan kepada dunia yang gaib dan sakti. Dengan kata lain, ada unsur magis
di dalam lantunannya dengan pemilihan kata yang dipilih iramanya serta mempertimbangkan isi sedalam-dalamnya. Dari unsur bahasa yang ketat tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana (Djamaris, 1990) menggolongkan
mantra ke dalam golongan bahasa berirama.
Pembacaannya tersebut tidak terlepas dari syarat-syarat dan cara tertentu yang ditetapkan oleh dukun, dalam upacara menumbai disebut Juagan Tuo, sehingga tujuan
bisa tercapai. Lebih lanjut, (Soedjijino & dkk, 1987), terdapat beberapa persyaratan dalam membacakan mantra sebagai berikut: waktu, tempat, peristiwa atau kesempatan, pelaku, perlengkapan, pakaian, dan cara membawakan mantra. Syarat-syarat tersebut harus dijalankan agar upacara menumbai bisa berjalan
dengan lancar.
Menumbai adalah upacara adat mengambil madu lebah di pohon
sialang disertai pantun dengan rapalan cepat serupa mantra guna mengusir makhluk
halus sekaligus menidurkan lebah di sarangnya. Pantun tersebut berisi rasa takjub dan syukur manusia kepada alam, terutama
kepada sarang lebah (diibaratkan sebagai balai). Pantun serupa yang syarat akan nilai moral kepada masyarakat juga banyak ditemui di serangkaian upacara menumbai di sana.
Di luar pantun, mantra
juga kerap digunakan dalam upacara menumbai.
Dikatakan demikian karena penuturan saat upacara menumbai
dipercayai mampu mengusir pengaruh jahat dari hal-hal
gaib yang tidak mampu dinalar. Hal tersebut sepahaman dengan pernyataan Djamaris (Djamaris, 1990) bahwa mantra termasuk gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan kepada dunia yang gaib dan sakti. Dengan kata lain, ada unsur magis
di dalam lantunannya dengan pemilihan kata yang dipilih iramanya serta mempertimbangkan isi sedalam-dalamnya. Dari unsur bahasa yang ketat tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana (Djamaris, 1990) menggolongkan
mantra ke dalam golongan bahasa berirama.
Pembacaannya tersebut tidak terlepas dari syarat-syarat
dan cara tertentu yang ditetapkan oleh dukun, dalam upacara menumbai disebut Juagan Tuo, sehingga tujuan
bisa tercapai. Lebih lanjut, (Soedjijino & dkk, 1987),
terdapat beberapa persyaratan dalam membacakan mantra sebagai berikut: waktu, tempat, peristiwa atau kesempatan, pelaku, perlengkapan, pakaian, dan cara membawakan mantra. Syarat-syarat tersebut harus dijalankan agar upacara menumbai bisa berjalan
dengan lancar.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini
menggunakan metode penelitian analisis deskriptif karena penelitian ini (Moleong, 2014) memahami
dan melihat fenomena yang dialami subjek penelitian secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada konteks yang alamiah. Pemahaman fenomena ini dimaksudkan
untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang bersumber dari lingkungan sosial (Creswell, 2009). Metode ini berkaitan dengan
serangkaian keputusan penting terhadap gagasan penelitian yang meliputi jenis informasi atau data yang dikumpulkan dan melalui teknologi pengumpulan datanya, di mana riset dilaksanakan (Berg, 2001).
Pengumpulan data dalam
penelitian ini dengan tiga cara,
yakni cara observasi, wawancara, dan pustaka. Bugin (2011: 108) menjelaskan bahwa metode observasi
digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Bisa dikatakan, peneliti terjun langsung ke lokasi,
yakni di Kab. Pelalawan, tepatnya di� Kec.
Bunut, Desa Lubuk Mandian Gajah, Riau. Dari kunjungan tersebut, peneliti akan mengamati
dan mendokumentasikan pelaksanaan
upacara menumbai. Metode observasi tersebut akan dilengkapi
dengan metode wawancara. Metode ini digunakan untuk
mendapat keterangan mengenai cara pewarisan
yang dilakukan dan hal terkait upacara menumbai.
Setelah data telah
dikumpulkan dengan lengkap, tahap selanjutnya adalah mentranskripsikan data lisan menjadi data tertulis. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah peneliti dan khalayak dalam membaca pantun dan mantra menumbai.
Upaya ini dilakukan untuk mendokumentasikan pantun dan mantra menumbai
dalam bentuk tertulis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Upacara menumbai
tidak hanya terkait pada upacara pengambilan madu, melainkan juga berhubungan erat dengan konteks
sosial budaya agraris. Tanpa adanya budaya agraris
yang tumbuh pada masyarakat,
upacara menumbai hanya dipahami sebagai eksploitasi madu tanpa adanya
pelestarian pohon sialang itu sendiri.
Oleh sebab itu, peneliti akan melihat
hubungan upacara menumbai, dalam hal ini pantun dan mantra menumbai, baik secara eksplisit maupun implisit, untuk melihat keterkaitannya
dengan budaya agraris pada masyarakat setempat.
Pada mantra di bagian ketiga bait 1 terdapat penggalan berikut:
Kami meuwak
tanggul mendayang sayang oii
(kami membuka
tanggul mendayang sayang oiii)
Kata �tanggul� pada penggalan mantra tersebut bukan merujuk pada pematang air yang besar untuk menahan air[*],
melainkan bermakna metaforis, yakni merujuk pada lahan untuk mendapatkan rezeki. Dalam hal
ini, tanggul bisa berarti hutan
sebagai habitat pohon sialang atau rimba
kepungan sialang.
Rangkaian pantun dan mantra menumbai tersebut berdasarkan pada alur upacara yang diselenggarakan, yakni pembuka, inti acara, dan penutup. Pembuka upacara menumbai terdapat pada bagian 1, yakni berupa mengucap
salam sebelum naik ke atas pohon
sialang. Potongan baris pertama /ikan kuning/ merujuk pada lebah, sedangkan /pancing/ merujuk kepada tunam. Baris pertama menunjukkan bahwa bujukan awal agar lebah berkenan menyambut tunam yang dibawa oleh Juagan Mudo, yang kemudian dijelaskan di baris ketiga sebagai salam. Selanjutnya, potongan baris kedua pada /tarik menarik/ merujuk pada tunam, sedangkan potongan baris keempat /kering bukit dalam
tulang/ merujuk pada kebutuhan manusia terhadap madu, yang kemudian bisa dilihat
bahwa hubungan baris kedua dan keempat adalah awal bujuk
rayu yang masih terkait dengan salam. Hal ini diperkuat dengan sapaan sayang oiii.
Inti acara terdapat pada bagian 2, 3, 4, dan 5. Bagian 2 berisi
Juagan Mudo menuju dahan yang terdapat sarang lebah. Hal ini bisa dilihat pada baris ketiga dan keempat, yakni /jadilah tulang kau kulit/ jadilah besi kau dahan/ yang merujuk pada Juagan Mudo akan menaiki
dahan.
Bagian 3 berisi Juagan
Mudo mendekati sarang lebah. Hal ini bisa dilihat
pada baris keempat, yakni /kami membuka tanggul mendayang sayang oii/. Potongan baris /membuka tanggul/ merujuk pada sarang lebah, yang dijelaskan adanya sapaan sayang
oii kepada lebah.
Bagian 4 terdiri dari tiga bait pantun yang berisi Juagan Mudo
menyapu sarang lebah untuk mengusir
lebah. Bait pertama dan kedua berisi bujukan
agar lebah mau pergi sejenak meninggalkan
sarang, yang ditandai dengan adanya potongan
/bangun tempat yang belum jadi/. Untuk bait ketiga, berupa ucapan rasa penghormatan kepada lebah dan penghuni pohon yang ditandai pada baris keempat /jadi balai lebah semua
hidup Oong tuon/.
Bagian 5 berisi pujian
Juagan Mudo agar lebah mau bersarang
lagi setelah sarang lebah berhasil
dipetik. Hal ini bisa dilihat pada baris ketiga dan keempat, yakni /kau jangan sayang lama pergi/ mati berair
balai kita tinggal/. �Balai� di sini merujuk pada sarang lebah, sedangkan
�sayang� merujuk kepada ratu lebah.
Terakhir, bagian
penutup terdapat pada bagian 6, yakni Juagan Tuo dan orang terlibat hendak pulang meninggalkan pohon sialang. Bagian 6 terdiri dari dua
bait. Bait pertama berisi permohonan pamit untuk pulang yang ditandai dengan potongan baris berikut: /kami mohon berbalik pulang/ yang kemudian dipertegas dengan menitipkan pohon sialang kepada
penunggu pohon agar tetap menjaga pohon
sialang lewat potongan baris berikut: /mohon pelihara sianak buah Oong tuon/.
Berbeda dengan bait pertama, bait kedua berisi permohonan pamit namun ditujukan
kepada ratu lebah, yang ditandai dengan potongan baris berikut: /kami ingin pulang ke muara
sayang oii/.
Bisa dikatakan, rangkaian
pantun dan mantra menumbai terdiri
tiga bagian utama, yakni pembuka,
inti acara, dan penutup. Bagian pembuka
terdapat pada bagian 1, bagian inti terdapat pada bagian 2, 3, 4, dan 5, serta bagian penutup terdapat pada bagian 6.
Pada formula, ditemukan bahwa bagian 1, 4, 5, dan bagian 6 bait kedua tergolong pantun, sedangkan pada bagian 2, 3, dan bagian 6 bait pertama tergolong mantra. Penggunaan pola pantun dilakukan saat salam pembuka (pada bagian 1), menyanjung lebah (bagian 4 dan 5), dan penutup (pada bagian 6 bait 2)
pada upacara menumbai. Bisa
dikatakan, pola pantun digunakan saat menyangkut hubungan Juagan Mudo kepada
lebah yang mana Juagan Mudo diposisikan sebagai tamu yang berkunjung ke rumah
orang yang dihormati. Jika ditarik
lebih jauh, penggunaan pantun berhubungan dengan kekayaan tradisi pada masyarakat setempat sehingga pantun kerap digunakan pada berbagai upacara di Riau, contohnya upacara pernikahan, khitan, adat, media dakwah, dan kegiatan masyarakat lainnya.
Penggunaan pola
mantra terkait meminta kekuatan (pada bagian 2), meminta restu kepada
para nabi dan penjaga pohon (bagian 3), dan berpamitan kepada penunggu pohon (bagian 6 bait pertama).� Bisa dikatakan, pola mantra digunakan saat Juagan Mudo
bersinggungan dengan makhluk di luar dirinya, baik untuk
meminta restu, diberi kekuatan, maupun berpamitan. Lebih lanjut, penggunaan
mantra berhubungan dengan penghormatan alam semesta, ratu lebah, penghuni pohon, dan Nabi Sulaiman serta Nabi Muhammad.
Tema besar pada
pantun dan mantra menumbai bisa
tampak setelah menganalisis subtema pada setiap bagian. Enam bagian memiliki
subtema dengan rincian berikut:
a.
Bagian pertama bertemakan salam pembuka sebelum menaiki dahan pada pohon sialang. Hal ini dibuktikan pada potongan pantun berikut: //dahan jambang jawab salamku/
kering bukit dalam tulang sayang
oiii//. Salam tersebut menunjukkan bahwa perlu penghormatan berupa salam kepada
penghuni pohon sialang.
b.
Bagian kedua bertemakan harapan agar dikuatkan tubuh (terutama pada kulit) dan dahan yang mereka panjat. Hal ini dibuktikan pada potongan pantun berikut ini: //jadilah tulang kau kulit/ jadilah besi kau dahan//. Pengandaian kulit menjadi tulang dan dahan menjadi besi
menunjukkan harapan agar kulit Juagan Mudo,
si pemanjat, agar keras seperti tulang
dan kuat dari sengatan lebah, sedangkan dahan menjadi besi agar kuat menahan beban
tubuh Juagan Mudo.
c.
Bagian ketiga bertemakan penghormatan kepada ratu lebah, penghuni pohon sialang serta penyampaian
salam kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad. Penghormatan
kepada penghuni pohon sialang dibuktikan
pada potongan mantra berikut
ini: //kami meuwak tanggul mendayang sayang oii/ menyapu lobah
penunggu pintu Oong Tuon//. Sapaan sayang oiii merujuk pada ratu lebah, sedangkan Oong Tuon merujuk pada penghuni pohon sialang. Penghormatan berupa uluk salam kepada
Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad dibuktikan
pada potongan mantra berikut
ini: //menyampi meucap nabi Sulaiman/ menyapu lobah penunggu
pintu sayang oii/ Allahuma Shaliala
Sayidinna Muhammad//. Uluk
salam kepada Nabi Sulaiman sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Sulaiman sebagai nabi seluruh
binatang karena bisa berbicara dengan seluruh binatang, sedangkan uluk salam kepada
Nabi Muhammad sebagai bentuk
penghormatan kepada Nabi
Muhammad sebagai nabi terakhir sekaligus nabi seluruh umat
manusia.
d.
Bagian keempat terdapat tiga bait yang keseluruhan bagian keempat bertemakan bujuk rayu kepada
ratu lebah dan penghuni pohon sialang. Hal tersebut dibuktikan pada potongan mantra berikut ini: //bangun tompat yang belum jadi sayang
oiii/ jadi Balai lobah semuo
hidup Oong tuon//. Bait pertama dan kedua terjadi perulangan
mantra, yakni //bangun tompat yang belum jadi sayang
oiii//. Hal tersebut menunjukkan penghormatan kepada ratu lebah. Potongan mantra pada bait ketiga yakni: //jadi Balai lobah
semuo hidup Oong tuon//. Hal tersebut menunjukkan penghormatan kepada penghuni pohon sialang.
e.
Bagian kelima bertemakan permohonan kepada lebah agar kembali setelah memanen madu. Hal tersebut dibuktikan pada potongan pantun berikut ini: //kau jangan sayang lama pergi/ mati berair
balai kita tinggal//. Potongan pantun tersebut menunjukkan adanya rayuan agar lebah nantinya bisa pulang kembali
ke rumahnya setelah madu dipanen.
f.
Bagian keenam bertemakan permohonan kepada penghuni pohon sialang agar tetap menjaga pohon
sialang serta salam perpisahan kepada ratu lebah serta. Permohonan kepada penghuni pohon sialang dibuktikan
pada potongan mantra berikut:
//kami mohon bebalik pulang/ mohon peliao sianak
buah Oong tuon//. Juagan Tuo dan orang yang terlibat pamit untuk pulang
sehingga menyampaikan permohonan kepada penghuni pohon sialang. Salam perpisahan kepada ratu lebah dibuktikan pada potongan mantra berikut: //kuak lakuak sayang
sampan jalanan/ kami nak balik kemuao sayang
oiii//.� Potongan mantra tersebut menunjukkan salam perpisahan Juagan Tuo dan orang yang terlibat setelah meninggalkan pohon.
Beragam situasi
bisa ditemukan saat upacara dilaksanakan,
seperti sarang telah ditinggalkan kawanan lebah sehingga
sarang tidak berisi madu, lebah
tidak beranjak saat mengambil madu, lebah tiba-tiba
menyengat, fajar mulai memerah namun
memanen belum selesai, dan situasi lainnya. Berdasarkan penuturan Pak Burhan dan Pak Mustofa
secara bergantian via telepon[�], keduanya mengatakan bahwa tidak pernah
menggubah pantun dan mantra secara
spontan. Jika ada kejadian yang tidak terduga seperti dirasuki hantu, dahan yang patah atau disengat gerombolan
lebah, kedua narasumber membacakan Ayat Kursi yakni ayat
ke-255 dari Surat Al-Baqarah pada Al-Quran atau merapal Surat Al-Fatihah.
Upacara menumbai
terdiri dari 3 peran, yakni Juagan
Tuo, Juagan Mudo, dan tukang sambut. Juagan sendiri memiliki arti yang sama dengan kata �juragan� yang berarti tuan atau majikan. Juagan
Tuo adalah pemimpin upacara menumbai. Tugasnya memimpin upacara dari sebelum berangkat
hingga selesai. Juagan Tuo memastikan
upacara berlangsung dengan lancar sehingga
beliau sering merapal mantra agar para Juagan Mudo yang sedang di atas pohon diberi
keselamatan. Biasanya, Juagan Mudo lebih
dari satu orang bergantung besar pohon sialang dan banyaknya sarang lebah pada pohon tersebut. Tidak hanya Juagan Tuo
yang melantunkan pantun dan mantra, melainkan Juagan Mudo juga melakukan hal serupa menyesuaikan
situasi dan tahapan yang dilalui. Setelah Juagan Mudo berhasil
memanen, sarang madu diletakkan di dalam timbo untuk diberikan kepada tukang sambut.
Di bawah pohon, tukang sambut telah
bersiap untuk menyambut madu untuk kemudian diperas ke dalam
ubo dan dimasukkan ke dalam
jerigen.
Durasi upacara
menumbai bergantung dari cepat tidaknya
dalam memanen madu. Hal ini berkaitan
dengan situasi yang dihadapi oleh para juagan saat upacara menumbai
serta banyaknya sarang lebah pada pohon sialang. Biasanya, upacara dilaksanakan mulai pukul 22.00 WIB hingga paling
lama menjelang fajar menyingsing. Durasi tersebut bersifat tentatif karena bergantung dengan seberapa cepat madu bisa dipanen.
Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kesulitan lebah saat diusir,
kesulitan medan, serta seberapa banyak sarang yang hendak dipanen. Upacara dilaksanakan pada malam hari agar lebah tidak terganggu
saat Juagan Mudo mengambil sarang lebah. Dengan
terganggunya pandangan lebah, diharapkan lebah kembali bersarang
di pohon dan dahan yang sama.
Dalam konteks
upacara menumbai, penonton mengalami dua jenis perubahan
posisi penonton dengan penampil bergantung situasi yang sedang berlangsung. Ketika Juagan Tuo mengucap
salam sebelum Juagan Mudo memanjat
pohon, posisi penonton berada di jenis kedua, yakni
penonton berada di posisi yang terpisah dari penonton tanpa
adanya pembatas berupa pagar. Meski
tanpa batasan, penonton tidak bisa ikut ambil
bagian dalam pelantunan pantun dan mantra menumbai
sehingga tidak memenuhi untuk jenis ketiga.
Saat penampil
berupa Juagan Mudo sudah memanjat
pohon sialang, posisi penonton tidak lagi berada
di jenis kedua, namun berada di jenis pertama, yakni perbedaan posisi penampil dengan penonton. Penonton juga tidak bisa turut melantunkan
pantun dan mantra. Dalam artian,
penonton sekadar menonton atau diam
saat menonton upacara menumbai. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau
mengganggu jalannya prosesi itu sendiri.
Jumlah penonton cenderung sedikit karena upacara dilaksanakan saat malam hari.
Salah satu transmisi
pantun dan mantra upacara menumbai
terjadi secara peer to peer, dari
generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya
secara langsung dengan penuturan berulang-ulang. Berdasarkan penuturan Pak Burhan lewat wawancara bahwa beliau belajar melantunkan pantun dan mantra upacara
menumbai dari mertuanya. Mertua Pak Burhan selaku Juagan Tuo
mewariskan pantun dan mantra upacara
menumbai kepada Pak Burhan secara langsung lewat pengajaran di dalam rumah. Pak Burhan juga menuturkan bahwa hapalan yang dilakukan beliau tanpa bantuan
media, baik secara tulis maupun rekam.
Pewarisan secara lisan yang berlangsung lewat pengajaran dan hapalan ini dilakukan
secara tertutup, yakni dari Juagan
Tuo terdahulu ke sanak keluarganya.
Meski dilakukan secara tertutup, pewarisan ini berjalan
secara fleksibel sehingga tanpa adanya hubungan sanak keluarga, seperti tetangga atau warga desa,
dimungkinkan untuk mengikuti prosesi pewarisan tersebut.
Meski tanpa
transmisi secara lisan, transmisi tetap berjalan dengan pemanfaatan media yang efektif di zaman kiwari. Ditinjau dari media yang digunakan, ada kesadaran pemerintah setempat untuk mendokumentasikan, baik lewat video maupun teks. Pendokumentasian menumbai dengan media video oleh
Pak Burhan bisa dilihat
pada kanal Youtube Kebudayaan Riau[�], sedangkan pendokumentasian menumbai lewat teks sudah dilakukan
oleh Lamriau.id. Selain itu,
pendokumentasian berupa penelitian sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, di antaranya: Kang (2001), Maspuri (2013), Novrianti, dkk (2018), Yance (2018), dan Zulfaljri (2020). Usaha pendokumentasian
oleh beberapa pihak tersebut secara tidak langsung turut berperan dalam proses transmisi di zaman kiwari.
Bisa dikatakan, transmisi
di zaman kiwari ini hanya bergantung dari pendokumentasian yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat dan para peneliti. Di luar itu, transmisi memiliki banyak kendala, di antaranya aktivitas menumbai yang dilaksanakan di siang hari, berkurangnya lahan pohon sialang,
serta jumlah Juagan Tuo yang terus berkurang.
Dengan jumlah
pemeluk agama Islam yang mendominasi
di wilayah Kec. Pangkalan Kuras dan Bunut, pantun dan
mantra menumbai turut terpengaruh dengan adanya budaya Islam di wilayah terkait. Hal ini bisa dilihat pada penggalan mantra di bagian ketiga berikut:
- Cocap buung petuah tobang meuang
uang di pintu
(Cecap burung
petuah terbang mendekat dekat ke pintu)
- Menyampai meucap nabi Sulaiman
(menyampaikan
salam ke Nabi Sulaiman)
- Menyapu lobah penunggu pintu sayang oii
(menyapu lebah penunggu pintu sayang oiii)
- Allahuma Shaliala Sayidinna Muhammad
(Allahuma Shaliala
Sayidinna Muhammad)
Dari potongan mantra tersebut disebutkan adanya uluk salam
atau salawat kepada Nabi Sulaiman dan Nabi
Muhammad sebagai nabi di
agama Islam. Berkirim salam
kepada Nabi Sulaiman bertujuan untuk meminta restu kepada
Nabi Sulaiman selaku nabi seluruh binatang
yang bisa berkomunikasi dengan seluruh binatang. Dengan berkirim salam kepadanya, Juagan Mudo dihindarkan dari bahaya sengatan
lebah. Kemudian, berkirim kepada Nabi Muhammad bertujuan untuk mendapat ketenangan hati saat hendak
mendekati sarang lebah.
Selain meminta
restu kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad, potongan
mantra tersebut bertujuan untuk meminta keberkahan
saat berkebun, baik saat prosesi
upacara menumbai maupun setelah mendapat madu, serta bentuk rasa terima kasih dan rasa syukur atas madu
yang akan didapatkan.
Nilai gotong-royong masyarakat pada
upacara menumbai, secara tersurat, tecermin pada penggalan mantra bentuk pantun bagian kedua berikut ini:
- Tengkulang mandi ke bukit
(tengkulak
mandi ke bukit)
- Mandi timbo segalang dahan
(mandi timba penyangga
dahan)
- Menjadi la tulang kau la kulit
(jadilah tulang kau kulit)
- Jadilah bosi kau dahan
(jadilah besi kau dahan)
- Tompat semangat kami begantung montuk
(tempat semangat kami bergantung)
Penggunaan pronomina
�kami� menunjukkan bahwa ada sekelompok orang yang menggantungkan semangat pada pohon sialang, terlebih pada madu sialang. Sekelompok orang ini lingkup kecilnya
adalah yang terlibat dalam upacara menumbai,
mulai dari Juagan Tuo, Juagan
Mudo, maupun tukang sambut, serta lingkup besarnya
adalah masyarakat setempat yang turut mendapatkan manfaat dari madu sialang.
Selain itu, �semangat� pada penggalan mantra tersebut merujuk pada semangat hidup. Hal ini tentu membutuhkan
gotong-royong masyarakat sehingga
semangat hidup tersebut bisa tercipta.
Secara kontekstual,
pantun dan mantra menumbai memiliki
nilai-nilai kearifan lokal untuk dipahami
oleh anak muda dan masyarakat luas. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, dirinci sebagai berikut:
a.
Mengucap salam saat bertamu.
Hal ini bisa dilihat pada potongan pantun berikut: //dahan jambang salamku/
kerang bukit dalam tulang sayang
oiii//. Potongan pantun
tersebut dilantunkan saat Juagan Mudo
hendak memanjat pohon sialang.
b.
Berdoa untuk memperlancar segala urusan. Hal ini bisa dilihat
pada potongan mantra berikut:
//menyampai lobah penunggu pintu sayang oii/
Allahuma Shaliala Sayidinna Muhammad//. Potongan
mantra tersebut dilantunkan
saat meminta restu disertai doa agar diberi keselamatan.
c.
Menjaga alam, termasuk lebah dan pohon sialang. Hal ini bisa dilihat pada potongan pantun berikut: //kau jangan sayang lamo poi/ mati beai balai
kito nanti//. Potongan pantun berupa pujian tersebut dilantunkan agar lebah kembali ke sarangnya
setelah menumbai. Dalam artian, ada
pesan bahwa tetap menjaga alam
meski telah memanen madu.
d.
Berpamit ketika hendak pulang.
Hal ini dibuktikan pada potongan pantun berikut: //mano nan datuk antu sialang ayo/
kami mohon bebalik pulang//. Potongan pantun tersebut dilantunkan saat Juagan Tuo
dan hendak pulang ke rumah.��
Dari nilai kearifan lokal yang telah ditemukan tersebut, bisa digunakan sebagai sarana pendidikan untuk ditanamkan kepada anak muda berupa
nilai moral, etika, dan sopan santun terhadap
sesama dan bersyukur terhadap berkah yang didapatkan.
Secara tekstual, pantun dan mantra
menumbai bisa memperkaya pengetahuan anak muda dan masyarakat
luas tentang karya sastra terutama puisi lama seperti pantun dan
mantra. Hal ini sudah disinggung oleh Maspuri (2013), yakni
mantra dalam upacara menumbai sebagai bahan ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.
Selain terkait
pengajaran karya sastra,
pantun dan mantra menumbai juga bisa
digunakan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia dari
segi unsur kebahasaannya, seperti diksi, gaya bahasa,
dan sebagainya. Lebih lanjut, bisa dilihat
pada penggunaan gaya bahasa metafora pada potongan pantun berikut: //menjadi la tulang kau la kulit/ jadilah bosi kau dahan//. Setelah diterjemahkan, potongan pantun tersebut menjadi: //jadilah tulang kau kulit/ jadilah besi kau dahan//. Dari potongan pantun
tersebut, bisa dilihat bahwa pengandaian
berupa harapan kulit sekuat tulang
dan dahan sekuat besi. Pada diksi, bisa dilihat penggunaan
sapaan /sayang oiii/ yang ditujukan kepada ratu lebah, Oong tuon
sebagai penghuni pohon sialang, dan balai sebagai sarang
lebah.
Pada cakupan yang lebih luas dan masih berhubungan dengan media hiburan, upacara menumbai dipertunjukkan oleh sekelompok siswa yang mendapat juara satu lewat
FLS2N (Festival dan Lomba Seni
Siswa Nasional) Musik Tradisional tahun 2019 tingkat SMP Provinsi Riau yang bisa ditonton di Youtube[�].
Penampil pada pertunjukan tersebut tentu sudah berlatih berkali-kali di sekolah agar bisa menampilkan pertunjukan dengan maksimal. Tanpa adanya dukungan dari sekolah, mereka
tidak bisa mendapat pencapaian yang memuaskan tersebut.
Harapan terhadap kesuburan sarang lebah ini masih
berkaitan dengan poin sebelumnya, yakni bertahan hidup dari alam.
Jika ditinjau dari pantun menumbai, ajaran tersebut tertuang pada bait berikut:
Ini Awang dipijak nabi
Dibuat dengan batang pintal
Kau jangan
sayang lama pergi
Mati berair
balai kita tinggal
(pantun menumbai, bagian
5)
Masyarakat Petalangan
berharap dengan kesuburan sarang madu. Hal ini dikarenakan
sarang madu akan dijual dan sebagian lagi akan
dikonsumsi. Bait /mati berair balai
kita tinggal/ merujuk pada ketergantungan mereka terhadap madu, baik secara
ekonomi maupun kesehatan untuk tubuh. Tanpa adanya
madu, pendapatan mereka akan berkurang
disertai kondisi kesehatan yang berpotensi menurun.
KESIMPULAN
Upacara menumbai tidak terlepas dari teks sastra lisan di dalamnya, yakni pantun dan mantra menumbai.
Berdasarkan analisis yang sudah peneliti lakukan, didapatkan temuan sebagai berikut: 1) konteks sosial budaya meliputi
konteks sosial agraris dan sistem masyarakat pendukung upacara menumbai; 2) komposisi pantun dan mantra menumbai
meliputi struktur teks dan konteks pertunjukan dalam komposisi; 3) transmisi pantun
dan mantra menumbai meliputi
cara transmisi pada generasi sebelumnya dan generasi masa kini; 4) fungsi pantun dan mantra menumbai
meliputi fungsi religiusitas, fungsi sosial, dan fungsi ekologis.
DAFTAR PUSTAKA
Berg, B. L. (2001). Qualitative Research Methods for The Social
Sciences (4th ed.). United State of America: Allyn
& Bacon.
Bugin, B. (2011). Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya.
Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Creswell, J. W.
(2009). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Terjemahan
Fawaid, A. 2014). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djamaris, E. (1990). Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Balai Pustaka.
Hamidy, UU. (1983). Menumbai: dalam Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan
Melayu. Pekanbaru: Penerbit Bumi Pustaka.
____________.
(2005). Rimba Kepungan
Sialang. Pangkalan Kerinci: Lembaga Adat Melayu Kabupaten Pelalawan.
Hutomo, S. S. (1991). Mutiara Yang Terlupakan:
Pengantar Studi Sastra Lisan. Jawa Timur: Hiski.
Indrastuti, Novi Siti Kussuji.
(2018). �(Representasi Unsur
Budaya dalam Cerita Rakyat Indonesia: Kajian Terhadap
Status Sosial dan Kebudayaan Masyarakat)�. Malaysian
Journal of Social Sciences and Humanities (MJSSH), vol. 3, issue 3, hal. 189-199.
Kang, Y. (2001). �Endearing
or En-daring?: The
Pragmatics of Love in a Performance of Honey-Colletcting
Chants among the Petalangan of Indonesia�. Ninth Annual Symposium about Language and
Society. 44 (2), pp. 302-312.
Austin: Texas Linguistic Forum.
KBBI. (2016). Bahasa, Badan Pengembangan
dan Pembinaan. Retrieved from KBBI Daring: https://kbbi.kemdikbud.go.id/
Maspuri. (2013). Mantra dalam Upacara
Menumbai Lebah pada
Masyarakat Melayu Rokan:
Kajian Struktur Teks, Konteks
Penuturan, Fungsi, dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar di SMA (tesis).
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Moleong, L. J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Novrianti, M., Isjoni,
& Bunari. (2018). �Tradisi
Upacara Menumbai Sialang (Mengambil madu lebah) di Kecamatan Sungai Apit�. JOM FKIP UNRI Volume 5 Edisi
1 Januari � Juni 2018.
Rusyana, Y. (2006). Tradisi Lisan dalam Ketahanan Budaya (makalah). Bandung.
Soedjijino, & dkk.
(1987). Struktur dan Isi Mantra Bahasa Jawa
di Jawa Timur. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Stevano, D. (2015). Pemanfaatan Hasil Tanaman Kehidupan Berupa Madu Sialang Sebagai
Penghasilan Utama Petani Madu di Sekitar Hutan PT. RAPP (jurnal).
Yogyakarta: Institut Pertanian
Stiper.
Yance, I. (2018). �Ritual Menumbai Orang Petalangan dalam Perspektif�. Patrawidya.
Zulfajri, M., & Yohana, N. (2020). �Etnografi
Komunikasi Tradisi Menumbai Sialang�. JOM FISIP UNRI Vol. 7: Edisi
I Januari � Juni 2020.
[*] Berdasarkan pencarian pada KBBI.
[�] Pada bulan Oktober 2021, laman
lamriau.id masih bisa dibuka dan menunjukkan bahwa pantun dan mantra menumbai
dengan kondisi tertentu akan turut berubah. Berpijak dari sana, peneliti berasumsi
bahwa pantun dan mantra dari sumber Pak Burhan dan Pak Mustofa juga mengalami
hal yang sama. Sewaktu peneliti berkunjung ke rumah Pak Burhan dan Pak Mustofa
pada tanggal 30 April � 12 Mei 2021, keduanya menjawab tidak ada pantun dan
mantra yang dimaksudkan. Peneliti kemudian berkunjung ke laman lamriau.id namun
disayangkan tidak bisa diakses pada sejak Mei 2022 hingga tesis ini selesai
ditulis. Peneliti kemudian menanyakan via telepon pada tanggal 27 Agustus 2022
kepada kedua narasumber.
[�] Salah satu videonya bisa
diakses di laman berikut: https://www.youtube.com/watch?v=a86fm9NQGQk
[�]Pertunjukan tersebut bisa ditonton di laman berikut: https://www.youtube.com/watch?v=T4ajEt_qG70.