PANTUN DAN MANTRA DALAM UPACARA MENUMBAI DI KABUPATEN PELALAWAN, PROVINSI RIAU: KAJIAN KOMPOSISI, TRANSMISI, DAN FUNGSI

 

Moch. Hafid Arofat, Novi Siti Kussuji Indrastuti

Universitas Gadjah Mada

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 15-11-2022

Revised: 20-11-2022

Accepted: 30-11-2022

 

Keywords: oral literature, menumbai, composition, transmission, function

 

 

Kata Kunci: sastra lisan, menumbai, komposisi, transmisi, fungsi

 

Abstract

Pantun and mantra�s menumbai are part of the menumbai ceremony in Pelalawan District, Riau Province. Pantun and mantra�s menumbai belong to oral literature because they are sung during the ceremony and there is no text as a guide during the ceremony. The material object in this research is a series of pantun and mantra�s menumbai what obtained from the chanting of the source person, namely Juagan Tuo. This study uses the formal object from the theory of oral literature by Albert B. Lord and the function of oral literature by Ruth Finnegan. There are two problem formulations in this study, consist of 1) what are the socio-cultural context, composition, and transmission related to pantun and mantra at menumbai�s sialang tree ceremony in the Pelalawan society, Riau, and 2) what are the functions of pantun and mantra at menumbai�s sialang tree ceremony in the community Pelalawan, Riau. The results of this study indicate that there is an inconsistency in the pantun and mantra patterns with the big theme of respecting the queen bee, the inhabitants of the sialang tree, Prophet Sulaiman, Prophet Muhammad, when harvesting sialang honey. Performance context includes situation, performer, duration, and audience. Transmission that occurred in previous generations was done through family relationships and through live performances. Transmission that occurs today depends on the documentation that has been done by the local government and researchers. The agrarian socio-cultural context includes sialang land forest use systems, honey plantation systems, and honey processing. The supporting community for the menumbai ceremony is Batin, the tribal chief who enforces the applicable customary law. Apart from that, the performers consisting of Juagan Tuo, Juagan Mudo, and greeters play an important role in the tumbai ceremony. In addition, there are farmers, traders and local people who also benefit from sialang honey.The functions of the pantun and mantra�s menumbai consist of three major functions, namely religious, social and ecological. The function of the rhymes is more horizontal, namely connecting between people so that mutual cooperation and mutual assistance are established, while the function of the mantra is more vertical, namely involving nature and God so that it involves nature and God in order to provide sufficient sustenance and a place where people depend on their lives.

 

 

Abstrak

Pantun dan mantra menumbai termasuk bagian dari upacara menumbai di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Pantun dan mantra menumbai tergolong ke dalam sastra lisan karena dilantunkan saat upacara dan tidak adanya teks sebagai pegangan saat upacara. Objek material pada penelitian ini adalah serangkaian pantun dan mantra menumbai yang didapat dari dari lantunan narasumber, yakni Juagan Tuo. Penelitian ini menggunakan objek formal dari teori sastra lisan Albert B. Lord dan fungsi sastra lisan Ruth Finnegan. Ada dua rumusan masalah pada penelitian ini, yakni 1) bagaimana konteks sosial budaya, komposisi, dan transmisi terkait pantun dan mantra pada upacara menumbai pohon sialang pada masyarakat Pelalawan, Riau, dan 2) bagaimana fungsi pantn dan mantra pada upacara menumbai pohon sialang pada masyarakat Pelalawan, Riau. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada inkonsistensi pola pantun dan mantra dengan tema besar berupa penghormatan kepada ratu lebah, penghuni pohon sialang, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, pada saat memanen madu sialang. Konteks pertunjukan meliputi situasi, penampil, durasi, dan penonton. Transmisi yang terjadi pada generasi sebelumnya dilakukan lewat hubungan keluarga dan lewat pertunjukan secara langsung. Transmisi yang terjadi pada masa kini bergantung dari pendokumentasian yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat dan para peneliti. Konteks sosial budaya agraris meliputi sistem pemakaian hutan tanah sialang, sistem perkebunan madu, dan pengolahan madu. Masyarakat pendukung terhadap adanya upacara menumbai adalah Batin, kepala adat yang memberlakukan hukum adat yang berlaku. Di luar itu, para penampil yang terdiri dari Juagan Tuo, Juagan Mudo, dan tukang sambut berperan penting terhadap upacara menumbai. Selain itu, ada petani, pedagang, dan masyarakat setempat yang turut mendapat manfaat dari madu sialang. Fungsi pantun dan mantra menumbai terdiri dari tiga fungsi besar, yakni religius, sosial, dan ekologis. Fungsi pantun lebih bersifat horizontal, yakni berhubungan antar masyarakat agar terjalin ikatan gotong-royong dan saling membantu, sedangkan fungsi mantra lebih bersifat vertikal, yakni melibatkan alam dan Tuhan agar yakni melibatkan alam dan Tuhan agar mencukupkan rezeki dan tempat masyarakat menggantungkan hidupnya.

 

Corresponding Author: Moch. Hafid Arofat

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Sastra lisan berkembang mengikuti perubahan masyarakat tradisional dalam memanfaatkan fungsi-fungsi yang terkandung di dalamnya. Masyarakat sebagai pelaku sekaligus bisa menjadi penonton, penyimak, pemerhati, dan pengapresiasi, untuk menyerap nilai-nilai sesuai kebutuhan, baik secara sosial maupun individu. Sastra lisan (Rusyana, 2006) hadir dan hidup serta tersebar dalam bentuk tidak tertulis. Menurut Hutomo (1991: 62), bahan sastra lisan dapat dibedakan menjadi tiga bagian. Pertama, bahan yang bercorak cerita, diantaranya, cerita-cerita biasa, mitos, legenda, epik, cerita tutur, dan memori. Kedua, bahan yang bercorak bukan cerita, di antaranya, ungkapan, nyanyian, peribahasa, teka-teki, puisi lisan, nyanyian sedih, pantun, dan undang-undang atau peraturan adat. Ketiga, bahan yang bercorak tingkah laku, yakni drama panggung dan drama arena. Kehadirannya bisa menandai atau merayakan peristiwa tertentu.

Salah satu bentuk sastra lisan yang masih lestari di masyarakat, terutama pada masyarakat Riau adalah upacara menumbai. Upacara menumbai banyak ditemui di Riau dan sekitarnya, sehingga diperlukan batasan wilayah agar objek yang diteliti lebih fokus. Selain itu, perbedaan daerah juga menyebabkan perbedaan langgam pantun dan mantra yang digunakan di dalam upacara tersebut. Oleh sebab itu, peneliti memilih upacara menumbai di Kabupaten Pelalawan, Riau, sebagai usaha pelestarian budaya non benda di daerahnya.

Upacara menumbai kental dengan penggunaan pantun dan mantra selama prosesi berlangsung. Sebagai karya sastra lisan, pantun dan mantra menumbai tidak terlepas dari masyarakat yang mengikatnya. Indrastuti (2018: 191) menyebutkan bahwa karya sastra yang mengandung unsur kebudayaan di dalamnya akan ditempatkan sebagai perantara untuk merepresentasikan unsur kebudayaan lainnya yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tertentu. Karya sastra tersebut juga tidak menutup pada karya sastra lisan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

Menumbai (Hamidy, 1983) berasal dari kata tumbai atau umbai, yang artinya turun atau menurunkan dengan tali dan bakul. Alat tersebut digunakan untuk mengambil sarang lebah pada pohon sialang. Selain itu, kata umbai berkerabat dengan umbuk (KBBI, 2016) seperti frasa umbuk-umbai yang berarti bujuk-rayu.

Pengambilan madu sialang (Hamidy, 2005) sendiri mempunyai dua kesulitan, yakni besarnya pohon yang dipanjat serta serangan dari lebah sialang. Diameter pohon sialang (Stevano, 2015) mulai dari satu meter hingga 7 meter dan tingginya bisa mencapai 25 meter hingga 30 meter. Selain itu, serangan lebah bisa datang sewaktu-waktu apabila mereka merasa terancam. Untuk mengatasinya, (Hamidy, 2005) orang Petalangan di Pangkalan Kuras mempergunakan kayu-kayu kecil disebut semangkat yang dibuat hampir seperti sigai atau tangga yang diikatkan pada pohon sialang. Dari tangga lilitan kayu tersebut, pohon bisa dipanjat oleh Juagan Mudo. Tugasnya adalah memanjat pohon sialang serta mengambil sarang lebah dengan sebelumnya diasapi dengan tunam, yakni sabut kering yang dililitkan pada sebilah kayu dan diberi tali agar mudah dibawa. Di bawah pohon, sudah bersiap tukang sambut. Tugasnya menyambut semua madu yang diturunkan Juagan Mudo dari atas pohon sialang. Tugas keduanya yang berat bergantung dari besar pohon dan banyaknya sarang madu, sehingga jumlah Juagan Mudo dan tukang sambut, masing-masing bisa lebih dari satu orang. Pemimpin upacara menumbai hanya satu orang, yakni Juagan Tuo. Tugasnya memimpin prosesi dari sebelum berangkat hingga selesai.

Upacara menumbai dilakukan pada malam hari agar lebah tidak bisa melihat pemanjat dengan jelas. Meski begitu, mereka tetap meminta izin dan membujuk kepada lebah serta makhluk halus penunggu pohon agar upacara menumbai bisa berjalan lancar. Dengan kata lain, menumbai (Hamidy, 2005) adalah penggunaan mantra atau pantun-pantun sebagai pengucapan yang halus dalam upayamenggoda lebahuntuk dapat mengambil lebahnya. Upaya melantunkan pantun ini untuk mendapat kekuatan batin meski kekuatan lahiriah berupa semangkat, tunam, dan memanjat saat malam hari sudah dipersiapkan dengan matang. Menurut Hamidy (2005), bagi pandangan pesukuan di Petalangan sendiri yang berada di Kab. Pelalawan (Kec. Pangkalan Kuras, Kec. Ukui, Kec. Bunut dan sekitarnya), upaya lahiriah belum memadai karena adanya kekuatan batin dan gaib yang lebih hebat dan tak dapat dijangkau dengan upaya lahiriah. Oleh sebab itu, mereka membekali diri dengan mantra yang dibalut pantun agar merasa tenang dalam melakukan pekerjaannya.

Menumbai adalah upacara adat mengambil madu lebah di pohon sialang disertai pantun dengan rapalan cepat serupa mantra guna mengusir makhluk halus sekaligus menidurkan lebah di sarangnya.

Pantun tersebut berisi rasa takjub dan syukur manusia kepada alam, terutama kepada sarang lebah (diibaratkan sebagai balai). Pantun serupa yang syarat akan nilai moral kepada masyarakat juga banyak ditemui di serangkaian upacara menumbai di sana.

Di luar pantun, mantra juga kerap digunakan dalam upacara menumbai. Dikatakan demikian karena penuturan saat upacara menumbai dipercayai mampu mengusir pengaruh jahat dari hal-hal gaib yang tidak mampu dinalar. Hal tersebut sepahaman dengan pernyataan Djamaris (Djamaris, 1990) bahwa mantra termasuk gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan kepada dunia yang gaib dan sakti. Dengan kata lain, ada unsur magis di dalam lantunannya dengan pemilihan kata yang dipilih iramanya serta mempertimbangkan isi sedalam-dalamnya. Dari unsur bahasa yang ketat tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana (Djamaris, 1990) menggolongkan mantra ke dalam golongan bahasa berirama.

Pembacaannya tersebut tidak terlepas dari syarat-syarat dan cara tertentu yang ditetapkan oleh dukun, dalam upacara menumbai disebut Juagan Tuo, sehingga tujuan bisa tercapai. Lebih lanjut, (Soedjijino & dkk, 1987), terdapat beberapa persyaratan dalam membacakan mantra sebagai berikut: waktu, tempat, peristiwa atau kesempatan, pelaku, perlengkapan, pakaian, dan cara membawakan mantra. Syarat-syarat tersebut harus dijalankan agar upacara menumbai bisa berjalan dengan lancar.

Menumbai adalah upacara adat mengambil madu lebah di pohon sialang disertai pantun dengan rapalan cepat serupa mantra guna mengusir makhluk halus sekaligus menidurkan lebah di sarangnya. Pantun tersebut berisi rasa takjub dan syukur manusia kepada alam, terutama kepada sarang lebah (diibaratkan sebagai balai). Pantun serupa yang syarat akan nilai moral kepada masyarakat juga banyak ditemui di serangkaian upacara menumbai di sana.

Di luar pantun, mantra juga kerap digunakan dalam upacara menumbai. Dikatakan demikian karena penuturan saat upacara menumbai dipercayai mampu mengusir pengaruh jahat dari hal-hal gaib yang tidak mampu dinalar. Hal tersebut sepahaman dengan pernyataan Djamaris (Djamaris, 1990) bahwa mantra termasuk gubahan bahasa yang diresapi oleh kepercayaan kepada dunia yang gaib dan sakti. Dengan kata lain, ada unsur magis di dalam lantunannya dengan pemilihan kata yang dipilih iramanya serta mempertimbangkan isi sedalam-dalamnya. Dari unsur bahasa yang ketat tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana (Djamaris, 1990) menggolongkan mantra ke dalam golongan bahasa berirama.

Pembacaannya tersebut tidak terlepas dari syarat-syarat dan cara tertentu yang ditetapkan oleh dukun, dalam upacara menumbai disebut Juagan Tuo, sehingga tujuan bisa tercapai. Lebih lanjut, (Soedjijino & dkk, 1987), terdapat beberapa persyaratan dalam membacakan mantra sebagai berikut: waktu, tempat, peristiwa atau kesempatan, pelaku, perlengkapan, pakaian, dan cara membawakan mantra. Syarat-syarat tersebut harus dijalankan agar upacara menumbai bisa berjalan dengan lancar.

 

METODA PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif karena penelitian ini (Moleong, 2014) memahami dan melihat fenomena yang dialami subjek penelitian secara holistik dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada konteks yang alamiah. Pemahaman fenomena ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang bersumber dari lingkungan sosial (Creswell, 2009). Metode ini berkaitan dengan serangkaian keputusan penting terhadap gagasan penelitian yang meliputi jenis informasi atau data yang dikumpulkan dan melalui teknologi pengumpulan datanya, di mana riset dilaksanakan (Berg, 2001).

Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan tiga cara, yakni cara observasi, wawancara, dan pustaka. Bugin (2011: 108) menjelaskan bahwa metode observasi digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Bisa dikatakan, peneliti terjun langsung ke lokasi, yakni di Kab. Pelalawan, tepatnya diKec. Bunut, Desa Lubuk Mandian Gajah, Riau. Dari kunjungan tersebut, peneliti akan mengamati dan mendokumentasikan pelaksanaan upacara menumbai. Metode observasi tersebut akan dilengkapi dengan metode wawancara. Metode ini digunakan untuk mendapat keterangan mengenai cara pewarisan yang dilakukan dan hal terkait upacara menumbai.

Setelah data telah dikumpulkan dengan lengkap, tahap selanjutnya adalah mentranskripsikan data lisan menjadi data tertulis. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dan khalayak dalam membaca pantun dan mantra menumbai. Upaya ini dilakukan untuk mendokumentasikan pantun dan mantra menumbai dalam bentuk tertulis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Upacara menumbai tidak hanya terkait pada upacara pengambilan madu, melainkan juga berhubungan erat dengan konteks sosial budaya agraris. Tanpa adanya budaya agraris yang tumbuh pada masyarakat, upacara menumbai hanya dipahami sebagai eksploitasi madu tanpa adanya pelestarian pohon sialang itu sendiri. Oleh sebab itu, peneliti akan melihat hubungan upacara menumbai, dalam hal ini pantun dan mantra menumbai, baik secara eksplisit maupun implisit, untuk melihat keterkaitannya dengan budaya agraris pada masyarakat setempat.

Pada mantra di bagian ketiga bait 1 terdapat penggalan berikut:

Kami meuwak tanggul mendayang sayang oii

(kami membuka tanggul mendayang sayang oiii)

 

Kata �tanggul� pada penggalan mantra tersebut bukan merujuk pada pematang air yang besar untuk menahan air[*], melainkan bermakna metaforis, yakni merujuk pada lahan untuk mendapatkan rezeki. Dalam hal ini, tanggul bisa berarti hutan sebagai habitat pohon sialang atau rimba kepungan sialang.

Rangkaian pantun dan mantra menumbai tersebut berdasarkan pada alur upacara yang diselenggarakan, yakni pembuka, inti acara, dan penutup. Pembuka upacara menumbai terdapat pada bagian 1, yakni berupa mengucap salam sebelum naik ke atas pohon sialang. Potongan baris pertama /ikan kuning/ merujuk pada lebah, sedangkan /pancing/ merujuk kepada tunam. Baris pertama menunjukkan bahwa bujukan awal agar lebah berkenan menyambut tunam yang dibawa oleh Juagan Mudo, yang kemudian dijelaskan di baris ketiga sebagai salam. Selanjutnya, potongan baris kedua pada /tarik menarik/ merujuk pada tunam, sedangkan potongan baris keempat /kering bukit dalam tulang/ merujuk pada kebutuhan manusia terhadap madu, yang kemudian bisa dilihat bahwa hubungan baris kedua dan keempat adalah awal bujuk rayu yang masih terkait dengan salam. Hal ini diperkuat dengan sapaan sayang oiii.

Inti acara terdapat pada bagian 2, 3, 4, dan 5. Bagian 2 berisi Juagan Mudo menuju dahan yang terdapat sarang lebah. Hal ini bisa dilihat pada baris ketiga dan keempat, yakni /jadilah tulang kau kulit/ jadilah besi kau dahan/ yang merujuk pada Juagan Mudo akan menaiki dahan.

Bagian 3 berisi Juagan Mudo mendekati sarang lebah. Hal ini bisa dilihat pada baris keempat, yakni /kami membuka tanggul mendayang sayang oii/. Potongan baris /membuka tanggul/ merujuk pada sarang lebah, yang dijelaskan adanya sapaan sayang oii kepada lebah.

Bagian 4 terdiri dari tiga bait pantun yang berisi Juagan Mudo menyapu sarang lebah untuk mengusir lebah. Bait pertama dan kedua berisi bujukan agar lebah mau pergi sejenak meninggalkan sarang, yang ditandai dengan adanya potongan /bangun tempat yang belum jadi/. Untuk bait ketiga, berupa ucapan rasa penghormatan kepada lebah dan penghuni pohon yang ditandai pada baris keempat /jadi balai lebah semua hidup Oong tuon/.

Bagian 5 berisi pujian Juagan Mudo agar lebah mau bersarang lagi setelah sarang lebah berhasil dipetik. Hal ini bisa dilihat pada baris ketiga dan keempat, yakni /kau jangan sayang lama pergi/ mati berair balai kita tinggal/. Balai� di sini merujuk pada sarang lebah, sedangkansayangmerujuk kepada ratu lebah.

Terakhir, bagian penutup terdapat pada bagian 6, yakni Juagan Tuo dan orang terlibat hendak pulang meninggalkan pohon sialang. Bagian 6 terdiri dari dua bait. Bait pertama berisi permohonan pamit untuk pulang yang ditandai dengan potongan baris berikut: /kami mohon berbalik pulang/ yang kemudian dipertegas dengan menitipkan pohon sialang kepada penunggu pohon agar tetap menjaga pohon sialang lewat potongan baris berikut: /mohon pelihara sianak buah Oong tuon/. Berbeda dengan bait pertama, bait kedua berisi permohonan pamit namun ditujukan kepada ratu lebah, yang ditandai dengan potongan baris berikut: /kami ingin pulang ke muara sayang oii/.

Bisa dikatakan, rangkaian pantun dan mantra menumbai terdiri tiga bagian utama, yakni pembuka, inti acara, dan penutup. Bagian pembuka terdapat pada bagian 1, bagian inti terdapat pada bagian 2, 3, 4, dan 5, serta bagian penutup terdapat pada bagian 6.

Pada formula, ditemukan bahwa bagian 1, 4, 5, dan bagian 6 bait kedua tergolong pantun, sedangkan pada bagian 2, 3, dan bagian 6 bait pertama tergolong mantra. Penggunaan pola pantun dilakukan saat salam pembuka (pada bagian 1), menyanjung lebah (bagian 4 dan 5), dan penutup (pada bagian 6 bait 2) pada upacara menumbai. Bisa dikatakan, pola pantun digunakan saat menyangkut hubungan Juagan Mudo kepada lebah yang mana Juagan Mudo diposisikan sebagai tamu yang berkunjung ke rumah orang yang dihormati. Jika ditarik lebih jauh, penggunaan pantun berhubungan dengan kekayaan tradisi pada masyarakat setempat sehingga pantun kerap digunakan pada berbagai upacara di Riau, contohnya upacara pernikahan, khitan, adat, media dakwah, dan kegiatan masyarakat lainnya.

Penggunaan pola mantra terkait meminta kekuatan (pada bagian 2), meminta restu kepada para nabi dan penjaga pohon (bagian 3), dan berpamitan kepada penunggu pohon (bagian 6 bait pertama).Bisa dikatakan, pola mantra digunakan saat Juagan Mudo bersinggungan dengan makhluk di luar dirinya, baik untuk meminta restu, diberi kekuatan, maupun berpamitan. Lebih lanjut, penggunaan mantra berhubungan dengan penghormatan alam semesta, ratu lebah, penghuni pohon, dan Nabi Sulaiman serta Nabi Muhammad.

Tema besar pada pantun dan mantra menumbai bisa tampak setelah menganalisis subtema pada setiap bagian. Enam bagian memiliki subtema dengan rincian berikut:

a.     Bagian pertama bertemakan salam pembuka sebelum menaiki dahan pada pohon sialang. Hal ini dibuktikan pada potongan pantun berikut: //dahan jambang jawab salamku/ kering bukit dalam tulang sayang oiii//. Salam tersebut menunjukkan bahwa perlu penghormatan berupa salam kepada penghuni pohon sialang.

b.    Bagian kedua bertemakan harapan agar dikuatkan tubuh (terutama pada kulit) dan dahan yang mereka panjat. Hal ini dibuktikan pada potongan pantun berikut ini: //jadilah tulang kau kulit/ jadilah besi kau dahan//. Pengandaian kulit menjadi tulang dan dahan menjadi besi menunjukkan harapan agar kulit Juagan Mudo, si pemanjat, agar keras seperti tulang dan kuat dari sengatan lebah, sedangkan dahan menjadi besi agar kuat menahan beban tubuh Juagan Mudo.

c.     Bagian ketiga bertemakan penghormatan kepada ratu lebah, penghuni pohon sialang serta penyampaian salam kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad. Penghormatan kepada penghuni pohon sialang dibuktikan pada potongan mantra berikut ini: //kami meuwak tanggul mendayang sayang oii/ menyapu lobah penunggu pintu Oong Tuon//. Sapaan sayang oiii merujuk pada ratu lebah, sedangkan Oong Tuon merujuk pada penghuni pohon sialang. Penghormatan berupa uluk salam kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad dibuktikan pada potongan mantra berikut ini: //menyampi meucap nabi Sulaiman/ menyapu lobah penunggu pintu sayang oii/ Allahuma Shaliala Sayidinna Muhammad//. Uluk salam kepada Nabi Sulaiman sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Sulaiman sebagai nabi seluruh binatang karena bisa berbicara dengan seluruh binatang, sedangkan uluk salam kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir sekaligus nabi seluruh umat manusia.

d.    Bagian keempat terdapat tiga bait yang keseluruhan bagian keempat bertemakan bujuk rayu kepada ratu lebah dan penghuni pohon sialang. Hal tersebut dibuktikan pada potongan mantra berikut ini: //bangun tompat yang belum jadi sayang oiii/ jadi Balai lobah semuo hidup Oong tuon//. Bait pertama dan kedua terjadi perulangan mantra, yakni //bangun tompat yang belum jadi sayang oiii//. Hal tersebut menunjukkan penghormatan kepada ratu lebah. Potongan mantra pada bait ketiga yakni: //jadi Balai lobah semuo hidup Oong tuon//. Hal tersebut menunjukkan penghormatan kepada penghuni pohon sialang.

e.     Bagian kelima bertemakan permohonan kepada lebah agar kembali setelah memanen madu. Hal tersebut dibuktikan pada potongan pantun berikut ini: //kau jangan sayang lama pergi/ mati berair balai kita tinggal//. Potongan pantun tersebut menunjukkan adanya rayuan agar lebah nantinya bisa pulang kembali ke rumahnya setelah madu dipanen.

f.     Bagian keenam bertemakan permohonan kepada penghuni pohon sialang agar tetap menjaga pohon sialang serta salam perpisahan kepada ratu lebah serta. Permohonan kepada penghuni pohon sialang dibuktikan pada potongan mantra berikut: //kami mohon bebalik pulang/ mohon peliao sianak buah Oong tuon//. Juagan Tuo dan orang yang terlibat pamit untuk pulang sehingga menyampaikan permohonan kepada penghuni pohon sialang. Salam perpisahan kepada ratu lebah dibuktikan pada potongan mantra berikut: //kuak lakuak sayang sampan jalanan/ kami nak balik kemuao sayang oiii//.Potongan mantra tersebut menunjukkan salam perpisahan Juagan Tuo dan orang yang terlibat setelah meninggalkan pohon.

 

Beragam situasi bisa ditemukan saat upacara dilaksanakan, seperti sarang telah ditinggalkan kawanan lebah sehingga sarang tidak berisi madu, lebah tidak beranjak saat mengambil madu, lebah tiba-tiba menyengat, fajar mulai memerah namun memanen belum selesai, dan situasi lainnya. Berdasarkan penuturan Pak Burhan dan Pak Mustofa secara bergantian via telepon[�], keduanya mengatakan bahwa tidak pernah menggubah pantun dan mantra secara spontan. Jika ada kejadian yang tidak terduga seperti dirasuki hantu, dahan yang patah atau disengat gerombolan lebah, kedua narasumber membacakan Ayat Kursi yakni ayat ke-255 dari Surat Al-Baqarah pada Al-Quran atau merapal Surat Al-Fatihah.

Upacara menumbai terdiri dari 3 peran, yakni Juagan Tuo, Juagan Mudo, dan tukang sambut. Juagan sendiri memiliki arti yang sama dengan kata �juragan� yang berarti tuan atau majikan. Juagan Tuo adalah pemimpin upacara menumbai. Tugasnya memimpin upacara dari sebelum berangkat hingga selesai. Juagan Tuo memastikan upacara berlangsung dengan lancar sehingga beliau sering merapal mantra agar para Juagan Mudo yang sedang di atas pohon diberi keselamatan. Biasanya, Juagan Mudo lebih dari satu orang bergantung besar pohon sialang dan banyaknya sarang lebah pada pohon tersebut. Tidak hanya Juagan Tuo yang melantunkan pantun dan mantra, melainkan Juagan Mudo juga melakukan hal serupa menyesuaikan situasi dan tahapan yang dilalui. Setelah Juagan Mudo berhasil memanen, sarang madu diletakkan di dalam timbo untuk diberikan kepada tukang sambut. Di bawah pohon, tukang sambut telah bersiap untuk menyambut madu untuk kemudian diperas ke dalam ubo dan dimasukkan ke dalam jerigen.

Durasi upacara menumbai bergantung dari cepat tidaknya dalam memanen madu. Hal ini berkaitan dengan situasi yang dihadapi oleh para juagan saat upacara menumbai serta banyaknya sarang lebah pada pohon sialang. Biasanya, upacara dilaksanakan mulai pukul 22.00 WIB hingga paling lama menjelang fajar menyingsing. Durasi tersebut bersifat tentatif karena bergantung dengan seberapa cepat madu bisa dipanen. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kesulitan lebah saat diusir, kesulitan medan, serta seberapa banyak sarang yang hendak dipanen. Upacara dilaksanakan pada malam hari agar lebah tidak terganggu saat Juagan Mudo mengambil sarang lebah. Dengan terganggunya pandangan lebah, diharapkan lebah kembali bersarang di pohon dan dahan yang sama.

Dalam konteks upacara menumbai, penonton mengalami dua jenis perubahan posisi penonton dengan penampil bergantung situasi yang sedang berlangsung. Ketika Juagan Tuo mengucap salam sebelum Juagan Mudo memanjat pohon, posisi penonton berada di jenis kedua, yakni penonton berada di posisi yang terpisah dari penonton tanpa adanya pembatas berupa pagar. Meski tanpa batasan, penonton tidak bisa ikut ambil bagian dalam pelantunan pantun dan mantra menumbai sehingga tidak memenuhi untuk jenis ketiga.

Saat penampil berupa Juagan Mudo sudah memanjat pohon sialang, posisi penonton tidak lagi berada di jenis kedua, namun berada di jenis pertama, yakni perbedaan posisi penampil dengan penonton. Penonton juga tidak bisa turut melantunkan pantun dan mantra. Dalam artian, penonton sekadar menonton atau diam saat menonton upacara menumbai. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau mengganggu jalannya prosesi itu sendiri. Jumlah penonton cenderung sedikit karena upacara dilaksanakan saat malam hari.

Salah satu transmisi pantun dan mantra upacara menumbai terjadi secara peer to peer, dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya secara langsung dengan penuturan berulang-ulang. Berdasarkan penuturan Pak Burhan lewat wawancara bahwa beliau belajar melantunkan pantun dan mantra upacara menumbai dari mertuanya. Mertua Pak Burhan selaku Juagan Tuo mewariskan pantun dan mantra upacara menumbai kepada Pak Burhan secara langsung lewat pengajaran di dalam rumah. Pak Burhan juga menuturkan bahwa hapalan yang dilakukan beliau tanpa bantuan media, baik secara tulis maupun rekam. Pewarisan secara lisan yang berlangsung lewat pengajaran dan hapalan ini dilakukan secara tertutup, yakni dari Juagan Tuo terdahulu ke sanak keluarganya. Meski dilakukan secara tertutup, pewarisan ini berjalan secara fleksibel sehingga tanpa adanya hubungan sanak keluarga, seperti tetangga atau warga desa, dimungkinkan untuk mengikuti prosesi pewarisan tersebut.

Meski tanpa transmisi secara lisan, transmisi tetap berjalan dengan pemanfaatan media yang efektif di zaman kiwari. Ditinjau dari media yang digunakan, ada kesadaran pemerintah setempat untuk mendokumentasikan, baik lewat video maupun teks. Pendokumentasian menumbai dengan media video oleh Pak Burhan bisa dilihat pada kanal Youtube Kebudayaan Riau[�], sedangkan pendokumentasian menumbai lewat teks sudah dilakukan oleh Lamriau.id. Selain itu, pendokumentasian berupa penelitian sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, di antaranya: Kang (2001), Maspuri (2013), Novrianti, dkk (2018), Yance (2018), dan Zulfaljri (2020). Usaha pendokumentasian oleh beberapa pihak tersebut secara tidak langsung turut berperan dalam proses transmisi di zaman kiwari.

Bisa dikatakan, transmisi di zaman kiwari ini hanya bergantung dari pendokumentasian yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat dan para peneliti. Di luar itu, transmisi memiliki banyak kendala, di antaranya aktivitas menumbai yang dilaksanakan di siang hari, berkurangnya lahan pohon sialang, serta jumlah Juagan Tuo yang terus berkurang.

Dengan jumlah pemeluk agama Islam yang mendominasi di wilayah Kec. Pangkalan Kuras dan Bunut, pantun dan mantra menumbai turut terpengaruh dengan adanya budaya Islam di wilayah terkait. Hal ini bisa dilihat pada penggalan mantra di bagian ketiga berikut:

-  Cocap buung petuah tobang meuang uang di pintu

(Cecap burung petuah terbang mendekat dekat ke pintu)

 

-  Menyampai meucap nabi Sulaiman

(menyampaikan salam ke Nabi Sulaiman)

 

-  Menyapu lobah penunggu pintu sayang oii

(menyapu lebah penunggu pintu sayang oiii)

 

-  Allahuma Shaliala Sayidinna Muhammad

(Allahuma Shaliala Sayidinna Muhammad)

 

Dari potongan mantra tersebut disebutkan adanya uluk salam atau salawat kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad sebagai nabi di agama Islam. Berkirim salam kepada Nabi Sulaiman bertujuan untuk meminta restu kepada Nabi Sulaiman selaku nabi seluruh binatang yang bisa berkomunikasi dengan seluruh binatang. Dengan berkirim salam kepadanya, Juagan Mudo dihindarkan dari bahaya sengatan lebah. Kemudian, berkirim kepada Nabi Muhammad bertujuan untuk mendapat ketenangan hati saat hendak mendekati sarang lebah.

Selain meminta restu kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad, potongan mantra tersebut bertujuan untuk meminta keberkahan saat berkebun, baik saat prosesi upacara menumbai maupun setelah mendapat madu, serta bentuk rasa terima kasih dan rasa syukur atas madu yang akan didapatkan.

Nilai gotong-royong masyarakat pada upacara menumbai, secara tersurat, tecermin pada penggalan mantra bentuk pantun bagian kedua berikut ini:

-  Tengkulang mandi ke bukit

(tengkulak mandi ke bukit)

 

-  Mandi timbo segalang dahan

(mandi timba penyangga dahan)

 

-  Menjadi la tulang kau la kulit

(jadilah tulang kau kulit)

 

-  Jadilah bosi kau dahan

(jadilah besi kau dahan)

 

-  Tompat semangat kami begantung montuk

(tempat semangat kami bergantung)

 

Penggunaan pronomina �kami� menunjukkan bahwa ada sekelompok orang yang menggantungkan semangat pada pohon sialang, terlebih pada madu sialang. Sekelompok orang ini lingkup kecilnya adalah yang terlibat dalam upacara menumbai, mulai dari Juagan Tuo, Juagan Mudo, maupun tukang sambut, serta lingkup besarnya adalah masyarakat setempat yang turut mendapatkan manfaat dari madu sialang. Selain itu, �semangat� pada penggalan mantra tersebut merujuk pada semangat hidup. Hal ini tentu membutuhkan gotong-royong masyarakat sehingga semangat hidup tersebut bisa tercipta.

Secara kontekstual, pantun dan mantra menumbai memiliki nilai-nilai kearifan lokal untuk dipahami oleh anak muda dan masyarakat luas. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, dirinci sebagai berikut:

a.       Mengucap salam saat bertamu. Hal ini bisa dilihat pada potongan pantun berikut: //dahan jambang salamku/ kerang bukit dalam tulang sayang oiii//. Potongan pantun tersebut dilantunkan saat Juagan Mudo hendak memanjat pohon sialang.

b.       Berdoa untuk memperlancar segala urusan. Hal ini bisa dilihat pada potongan mantra berikut: //menyampai lobah penunggu pintu sayang oii/ Allahuma Shaliala Sayidinna Muhammad//. Potongan mantra tersebut dilantunkan saat meminta restu disertai doa agar diberi keselamatan.

c.       Menjaga alam, termasuk lebah dan pohon sialang. Hal ini bisa dilihat pada potongan pantun berikut: //kau jangan sayang lamo poi/ mati beai balai kito nanti//. Potongan pantun berupa pujian tersebut dilantunkan agar lebah kembali ke sarangnya setelah menumbai. Dalam artian, ada pesan bahwa tetap menjaga alam meski telah memanen madu.

d.       Berpamit ketika hendak pulang. Hal ini dibuktikan pada potongan pantun berikut: //mano nan datuk antu sialang ayo/ kami mohon bebalik pulang//. Potongan pantun tersebut dilantunkan saat Juagan Tuo dan hendak pulang ke rumah.��

Dari nilai kearifan lokal yang telah ditemukan tersebut, bisa digunakan sebagai sarana pendidikan untuk ditanamkan kepada anak muda berupa nilai moral, etika, dan sopan santun terhadap sesama dan bersyukur terhadap berkah yang didapatkan.

Secara tekstual, pantun dan mantra menumbai bisa memperkaya pengetahuan anak muda dan masyarakat luas tentang karya sastra terutama puisi lama seperti pantun dan mantra. Hal ini sudah disinggung oleh Maspuri (2013), yakni mantra dalam upacara menumbai sebagai bahan ajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.

Selain terkait pengajaran karya sastra, pantun dan mantra menumbai juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia dari segi unsur kebahasaannya, seperti diksi, gaya bahasa, dan sebagainya. Lebih lanjut, bisa dilihat pada penggunaan gaya bahasa metafora pada potongan pantun berikut: //menjadi la tulang kau la kulit/ jadilah bosi kau dahan//. Setelah diterjemahkan, potongan pantun tersebut menjadi: //jadilah tulang kau kulit/ jadilah besi kau dahan//. Dari potongan pantun tersebut, bisa dilihat bahwa pengandaian berupa harapan kulit sekuat tulang dan dahan sekuat besi. Pada diksi, bisa dilihat penggunaan sapaan /sayang oiii/ yang ditujukan kepada ratu lebah, Oong tuon sebagai penghuni pohon sialang, dan balai sebagai sarang lebah.

Pada cakupan yang lebih luas dan masih berhubungan dengan media hiburan, upacara menumbai dipertunjukkan oleh sekelompok siswa yang mendapat juara satu lewat FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) Musik Tradisional tahun 2019 tingkat SMP Provinsi Riau yang bisa ditonton di Youtube[�]. Penampil pada pertunjukan tersebut tentu sudah berlatih berkali-kali di sekolah agar bisa menampilkan pertunjukan dengan maksimal. Tanpa adanya dukungan dari sekolah, mereka tidak bisa mendapat pencapaian yang memuaskan tersebut.

Harapan terhadap kesuburan sarang lebah ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya, yakni bertahan hidup dari alam. Jika ditinjau dari pantun menumbai, ajaran tersebut tertuang pada bait berikut:

Ini Awang dipijak nabi

Dibuat dengan batang pintal

Kau jangan sayang lama pergi

Mati berair balai kita tinggal

 

(pantun menumbai, bagian 5)

 

 

Masyarakat Petalangan berharap dengan kesuburan sarang madu. Hal ini dikarenakan sarang madu akan dijual dan sebagian lagi akan dikonsumsi. Bait /mati berair balai kita tinggal/ merujuk pada ketergantungan mereka terhadap madu, baik secara ekonomi maupun kesehatan untuk tubuh. Tanpa adanya madu, pendapatan mereka akan berkurang disertai kondisi kesehatan yang berpotensi menurun.

 

KESIMPULAN

Upacara menumbai tidak terlepas dari teks sastra lisan di dalamnya, yakni pantun dan mantra menumbai. Berdasarkan analisis yang sudah peneliti lakukan, didapatkan temuan sebagai berikut: 1) konteks sosial budaya meliputi konteks sosial agraris dan sistem masyarakat pendukung upacara menumbai; 2) komposisi pantun dan mantra menumbai meliputi struktur teks dan konteks pertunjukan dalam komposisi; 3) transmisi pantun dan mantra menumbai meliputi cara transmisi pada generasi sebelumnya dan generasi masa kini; 4) fungsi pantun dan mantra menumbai meliputi fungsi religiusitas, fungsi sosial, dan fungsi ekologis.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Berg, B. L. (2001). Qualitative Research Methods for The Social Sciences (4th ed.). United State of America: Allyn & Bacon.

Bugin, B. (2011). Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Creswell, J. W. (2009). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Terjemahan Fawaid, A. 2014). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Djamaris, E. (1990). Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Balai Pustaka.

Hamidy, UU. (1983). Menumbai: dalam Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu. Pekanbaru: Penerbit Bumi Pustaka.

____________. (2005). Rimba Kepungan Sialang. Pangkalan Kerinci: Lembaga Adat Melayu Kabupaten Pelalawan.

Hutomo, S. S. (1991). Mutiara Yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Jawa Timur: Hiski.

Indrastuti, Novi Siti Kussuji. (2018). �(Representasi Unsur Budaya dalam Cerita Rakyat Indonesia: Kajian Terhadap Status Sosial dan Kebudayaan Masyarakat)�. Malaysian Journal of Social Sciences and Humanities (MJSSH), vol. 3, issue 3, hal. 189-199.

Kang, Y. (2001). �Endearing or En-daring?: The Pragmatics of Love in a Performance of Honey-Colletcting Chants among the Petalangan of Indonesia�. Ninth Annual Symposium about Language and Society. 44 (2), pp. 302-312. Austin: Texas Linguistic Forum.

KBBI. (2016). Bahasa, Badan Pengembangan dan Pembinaan. Retrieved from KBBI Daring: https://kbbi.kemdikbud.go.id/

Maspuri. (2013). Mantra dalam Upacara Menumbai Lebah pada Masyarakat Melayu Rokan: Kajian Struktur Teks, Konteks Penuturan, Fungsi, dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar di SMA (tesis). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Moleong, L. J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Novrianti, M., Isjoni, & Bunari. (2018). �Tradisi Upacara Menumbai Sialang (Mengambil madu lebah) di Kecamatan Sungai Apit�. JOM FKIP UNRI Volume 5 Edisi 1 JanuariJuni 2018.

Rusyana, Y. (2006). Tradisi Lisan dalam Ketahanan Budaya (makalah). Bandung.

Soedjijino, & dkk. (1987). Struktur dan Isi Mantra Bahasa Jawa di Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Stevano, D. (2015). Pemanfaatan Hasil Tanaman Kehidupan Berupa Madu Sialang Sebagai Penghasilan Utama Petani Madu di Sekitar Hutan PT. RAPP (jurnal). Yogyakarta: Institut Pertanian Stiper.

Yance, I. (2018). �Ritual Menumbai Orang Petalangan dalam Perspektif�. Patrawidya.

Zulfajri, M., & Yohana, N. (2020). �Etnografi Komunikasi Tradisi Menumbai Sialang�. JOM FISIP UNRI Vol. 7: Edisi I JanuariJuni 2020.



[*] Berdasarkan pencarian pada KBBI.

[�] Pada bulan Oktober 2021, laman lamriau.id masih bisa dibuka dan menunjukkan bahwa pantun dan mantra menumbai dengan kondisi tertentu akan turut berubah. Berpijak dari sana, peneliti berasumsi bahwa pantun dan mantra dari sumber Pak Burhan dan Pak Mustofa juga mengalami hal yang sama. Sewaktu peneliti berkunjung ke rumah Pak Burhan dan Pak Mustofa pada tanggal 30 April � 12 Mei 2021, keduanya menjawab tidak ada pantun dan mantra yang dimaksudkan. Peneliti kemudian berkunjung ke laman lamriau.id namun disayangkan tidak bisa diakses pada sejak Mei 2022 hingga tesis ini selesai ditulis. Peneliti kemudian menanyakan via telepon pada tanggal 27 Agustus 2022 kepada kedua narasumber.

[�] Salah satu videonya bisa diakses di laman berikut: https://www.youtube.com/watch?v=a86fm9NQGQk

[�]Pertunjukan tersebut bisa ditonton di laman berikut: https://www.youtube.com/watch?v=T4ajEt_qG70.