ANALISIS KERENTANAN BENCANA BANJIR BANDANG
DI SOLOK SELATAN
Desia Friti
Yulandari1, Erna Juita2, Arie zella Putra Ulni3
Pendidikan Geografi, STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang, Indonesia
|
Riwayat Artikel: Received: 06-11-2022 Revised: 14-11-2022 Accepted: 28-11-2022 Keywords:
Flash floods
(Environmental, Social and Economic Aspects. Kata
Kunci: Banjir bandang
(Aspek Lingkungan, Sosila dan Ekonomi). |
|
Abstract This study aims to: 1). Assessing the level of environmental
vulnerability to banjir bandang disasters in South Solok, 2). Assessing the
level of social vulnerability of banjir bandang disasters in South Solok 3).
Assessing the level of economic vulnerability of banjir bandang disasters in
South Solok, using descriptive methods. Data analysis using overlay analysis.
The results of this study revealed that 1). Environmental Aspects are the
results of the research of sub-districts that have high flash flood susceptibility,
namely the use of forest land located on the slope of V (>45%), having
Andosol soil types with a slightly sensitive category to banjir bandang,
which has a distance from the river> 21 meters and has high rainfall is
>2500 mm/year. Sub-districts with a moderate hazard category in the use of
rice fields, which are located on latosol soil types that are sensitive to
flash floods, have a distance of 15 meters from the river, and are in
rainfall of 1000-1200mm/year. The sub-district which is located on a slope
between 15-25 or equivalent to class III, has argonosol soil type that is
sensitive to flash flood susceptibility, is located at a distance of 0-5m
from the river, has dry land use and has rainfall <1000mm/year. 2). The
social aspect has a level of vulnerability that is vulnerable to flash floods
with a total vulnerability of 8.2 being in the high class in South Solok
district. 3). The economic aspect has a level of vulnerability that ranges
from banjir bandang with a total score of 21.2. It belongs to the high
vulnerability class. |
|
|
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengkaji tingkat kerentanan lingkungan bencana banjir bandang di Solok Selatan, 2). Mengkaji tingkat kerentanan sosial bencana banjir bandang di Solok Selatan 3). Mengkaji tingkat kerentanan ekonomi bencana banjir bandang di Solok Selatan, dengan mengunakan metode deskritif. Analisis data menggunakan analisis overlay.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa 1). Aspek Lingkungan adalah Hasil dari penelitian Kecamatan yang memiliki kerentanan banjir bandang tinggi yaitu penggunaan lahan hutan yang terletak pada kemiringan lereng V (>45%), mempunyai jenis tanah andosol dengan kategori agak peka dengan banjir
bandang, yang memiliki jarak dari sungai
>21-meter dan mempunyai curah
hujan tinggi adalah >2500 mm/tahun. Kecamatan dengan kategori bahaya sedang pada pengunaan lahan sawah, yang terletak pada
jenis tanah latosol peka terhadap banjir bandang, mempunyai jarak dari sungai 15 meter, dan berada pada curah hujan 1000-1200mm/tahun. Kecamatan yang terletak pada kemiringan lereng antara 15-25 atau setara dengan kelas III, memiliki jenis tanah argonosol
yang peka terhadap kerentanan banjir bandang, berada pada jarak dari sungai
0-5m, mempunyai penggunaan
lahan tegalan dan memiliki curah hujan <1000mm/tahun. 2). Aspek sosial memiliki tingkat kerentanan yang rentan terhadap banjir bandang dengan total kerentanan 8.2 berada di kelas tinggi pada kabupaten Solok Selatan. 3). Aspek ekonomi memiliki tingkat kerentanan yang rentang pada banjir bandang dengan total skor 21.2 termasuk kedalam kelas kerentanan tinggi. |
Corresponding Author: Desia
Friti Yulandari
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Bencana alam adalah salah satu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa ataupun serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi,
tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor. Bencana alam di Sumatera Barat sering terjadi, dikarenakan hampir seluruh Sumatera Barat rawan terhadap bencana alam. Rawan bencana merupakan kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, ekonomi, politik dan teknologi yang ada pada wilayah untuk jangka waktu tertentu
yang mana bisa menggurangi kemampuan yang mencegah, merendam, mencapai kesepian dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu
(Hermon, 2012).
Banjir adalah salah satu bencana yang sering kita hadapi dalam
kehidupan sehari-hari, baik yang terjadi dilingkungan sekitar maupun jauh dari
tempat kita berbeda. Banjir sangat merugikan karena bisa merusak roda
perekonomian di suatu daerah, menghentikan aktivitas manusia, meningalkan kerusakan harta benda, menyebar
penyakit bahkan dapat juga menelan korban jiwa.
Banjir bandang adalah salah satu bahaya alam
yang terjadi pada kawasan aliran Daerah Aliran Sungai (DAS)
dengan kecepatan aliran yang dapat merusak daerah yang dilaluinya (Hermon, 2012).
Banjir bandang yang terjadi yang terjadi pada� rabu 20 November 2019, jumat 22
November 2019 dan minggu 24 November 2019, di empat kecamatan yaitu koto pariak
gadang diateh, sungai pagu, sangir
dan pauh duo, karena tinggi dampak intensitas
hujan dalam jangka waktu lama di solok selatan menyebabkan
nagari seribu rumah gadang dilanda
bencana banjir dan longsor secara bertubi-tubi dan meluapnya air sungai-sungai kecil di daerah setempat yang mengakibatkan salah satu jembatan ambruk di sungai pangkua, ada 11 nagari� di 3 kecamatan terdampak banjir bandang dan longsor. 1.706 kepala keluarga atau 8.809 jiwa terdampak banjir bandang, dan merendam 1.952-unit rumah, 18 rumah mengalami rusak berat, 5 rumah rusak sedang dan 3-unit rumah rusak ringan.
Banjir bandang ini tidak hanya
merusak rumah warga, tetapi juga merusak fasilitas publik seperti dua kantor, tujuh
unit sekolah, lima rumah
ibadah, dua irigasi, dan merusak 60-meter badan jalan, tetapi juga menghanjutkan harta benda dan meluluhkan lahan pertanian di kawasan itu (BPBD). Banjir bandang tidak terlepas
dari aktivitas tambang ilegal yang aktif beroperasi di beberapa kecamatan di Nagari Saribu Rumah Gadang.
Setidaknya terdapat puluhan aktivitas tambang ilegal yang masih aktif di Kecamatan Koto Parit Gadang Diateh (KPGD), Sangir, Sangir Batanghari, dan
Sungai Pagu.
Banjir bandang kembali menghantam Kabupaten Solok Selatan, Jumat pagi 13 Desember 2019, akibatnya 1.000-unit rumah terendam banjir dengan kedalaman 120 centimeter,
6 rumah hanyut, dan 1 jembatan roboh di tiga kecamatan daerah tersebut. Hujan deras yang mengguyur Solok Selatan beberapa hari terakhir
menyebabkan air suungai meluap dan merendam rumah warga (BPBD). Tiga kecamatan yang dihantam banjir bandang di Nagari Saribu Rumah Gadang tersebut
antara lain Koto Parik Gadang Diateh, Sungai Pagu, dan Pauh Duo. korban banjir sudah melakukan
evakuasi mandiri menuju daerah yang lebih tinggi. Untuk
jumlah korban terdampak hingga saat ini
masih dalam pendataan.
Pada kamis 19 Desember 2019 Banjir bandang di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat membuat
6.000 warga di Nagari Pakan
Rabaa, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh
terpaksa harus memutar jalan sekitar
10-meter akibat ambruknya jembatan Sungai Pangkua. Jembatan itu sebelumnya
sudah sempat ambruk pada saat banjir 24 November 2019 lalu, namun masih bisa
dilewati pejalan kaki. Pada
banjir 13 Desember 2019, akses jalan benar-benar
putus karena jembatan itu patah
ke dasar sungai. Karena judul ini memiliki daya
tarik tersendiri dan belum banyak diteliti
oleh orang lain atau judul ini menimbulkan beberapa persoalan sehingga saya tertarik
untuk membedah persoalan dan kejadian banjir bandang ini baru yang pertamana
kali ada di solok selatan dan memiliki dampak yang besar terhapad masyarakat solok selatan.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini adalah �Deskritif��. penelitian deskritif ini untuk mendeskripsikan
atau memaparkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Deskritif peristiwa lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan (Nursalam, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah kawasan di Kabupaten Solok Selatan. Teknik
sampling yang digunakan adalah
sampling area (sampling wilayah atau daerah) dan terknik analisis data Skoring dan Overlay.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kerentanan lingkungan memiliki curah hujan yang rentan terhadap bencana banjir bandang yang terdapat pada kecamatan pada kecamatan sungai pagu 927213205,745 mm,�
koto pariak gadang diateh 5.698.142,58114 mm,
sangir 1.931.722,3791 , dan sangir
balai janggo
33.744.566,8093 mm. Sedangkan pada kecamatan sangir batang hari 2.418,174392 , pauh duo 3.311.484,48537 dan sangir
jujuan�
1169973,05863. Yang mempunyai kelas kemiringan lereng berbeda- beda pada setiap kecamatan yaitu pada kecamatan pauh duo, sangir jujuan, sungai pagu, sangir,
dan koto pariak gadang diateh memiliki
kelas kemiringan datar dengan luas
yang berbeda-beda. selanjutnya
pada kecamatan sangir balai jango memiliki
kelas landai dengan luas 50.107.998,831m, lalu pada kecamatan sangir batanh hari
memiliki kelas agak curam seluas
11.196.280,1271m.Yang mempunyai jarak
dari sungai, yang sangat tinggi berada pada kecamatan sangir batang hari, lalu
pada kelas tinggi berada pada kecamatan sungai pagu, selanjutnya
sedang berada pada sangir jujuan, selanjutnya rendah ada pada pauh duo, sangir, sangir balai janggo dan paling rendah berada pada koto pariak gadang
diateh. Selanjutnya pada penggunaan lahan dengan kategori tinggi berada pada kecamatan sangir batang hari, koto
pariak gadang diateh, sangir, sangir balai janggo
dan sangir jujuan, lalu pada kecamatan Pauh duo memiliki kelas sedang dan sungai pagu rendah
. sedangkan jenis tanah di solok selatan yaitu Regosol,
Andosol, Alluvial seluas 543.312.445,329 Ha, Organosol dengan luas 68.240.213,7249 Ha, lalu Podsol, Latosol luas
305.422.463,553 dan Litosol,Laterit seluas 283.656.226,88.
2.
Pada kerentanan sosial terdapat beberapa yakni kepadatan penduduk yang mana pada kecamatana
Sangir batang hari mempunyai kepadatan yang paling tinggi yaitu 91,40 jiwa, lalu sangir 66.03, Sungai pagu 56,67 jiwa, sangir jujuan 49.53 jiwa, koto pariak
gadang diateh 45,16, pauh duo 42,64 jiwa, dan paling rendah berada pada kecamatan sangir balai janggo 25.66. selanjutnya disusul oleh tingkat laju pertumbuhan
penduduk, tertinggi berada pada kecamatan sangir 39.181, sangir balai janggo 16.779, sangir jujuan 11.781, sangir batang hari
3,02, pauh duo�
3,01, koto pariak gadang diateh dan pauh duo 2,79. Kemudian ada persentase penduduk usia tua
yang tinggi berada pada sangir batang hari
45,74, sangir balai janggo 16.40, koto pariak gadang diateh
16,24, sangir jujuan 15,31,
sangir 12,80, sungai
pagu12,58 dan pauh duo memiliki
kelas rendah yaitu� 11,82. Lalu
pada persentas penduduk usia balita memiliki
kelas tinggi di setiap kecamatan yakni sungai pagu
175, pauh duo 144, sangir jujuan 90, sangir batang hari 86, koto pariak gadang
diateh 83, sangir balai janggo 75 dan sangir 50.
3.
Kerentanan
Ekonomi� ini memiliki dua parsentase
yaitu persentase rumah tangga miskin� dan pencarian sebagai petani. Peneliti menyimpulkan bahwa persentase rumah tangga miskin di solok selatan mempunyai
persentase tinggi yaiti pada kecamatan sangir 3.648 %, Sungai Pagu 2.686
%, Koto Pariak Gadang
Diateh2.151%, Sangir Balai Janggo 1.562%, Pauh Duo 1.424%, Sangir Batang Hari1.251% dan� Sangir Jujuan 1.097% .
KESIMPULAN
Kerentanan Lingkungan memliki
kerentantan 18, 55 memiliki
kategori tinggi dan tingkat kerentanan bencana banjir pada daerah penelitian terjadi akibat beberapa faktor yaitu curah hujjan,
lereng, jarak dari sungai, penggunaan
lahan, dan jenis tanah. Kerentanan Sosial memiliki kerentanan 21.2 memiliki kategori tinggi pada kelas kerentanan dan mempunyai resiko kerentanan sosial tingkat sedang dan rendah, hal ini menggambarkan
bahwa tingkat kerentanan banjir bandang cukup baik Kerentanan Ekonomi mempunyai kerentanan 8.2 termasuk kedalam kelas kerentanan
tinggi dan berkurangnya penghasilan masyarakat antara sebelum dan sesudah terjadi bencana banjir bandang.
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Syachrul. Analisis
Spasial Kerentanan Pesisir Jakarta Utaraterhadap Banjir Pasang (Rob) Akibat Kenaikan Muka Air Laut. 2014, p. xi+53.
Danianti, Rizsa Putri, and S. Sariffuddin. �Tingkat Kerentanan
Masyarakat Terhadap Bencana
Banjir Di Perumnas Tlogosari, Kota
Semarang.� Jurnal Pengembangan
Kota, vol. 3, no. 2, 2015, p. 90, doi:10.14710/jpk.3.2.90-99
Hapsoro, Arsiadi Wisnu,
and Imam Buchori. �Kajian Kerentanan
Sosial Dan Ekonomi Terhadap Bencana
Banjir (Studi Kasus: Wilayah Pesisir Kota Pekalongan).� Teknik PWK (Perencanaan
Wilayah Kota), vol. 4, no. 4, 2015, pp. 542�53.
Hastanti, Baharina. �Analysis of Vulnerability
Levels to the Flash Flood Based on Social Economic and Institutional Factors in
Wasior, Teluk Wondama, West Papua.� Jurnal Wasian, vol. 7, no. 1, 2020, pp. 25�38, doi:10.20886/jwas. v7i1.4785.
Iii, B. A. B., and A. Pengertian Bencana. Bahaya Dan Kerentangan Bencana. 2013, pp.
13�34.
Kuswadi, Didik, and Iskandar Zulkarnain. �Identifikasi Wilayah
Rawan Banjir Kota Bandar Lampung Dengan
Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG)
Identification of Flood-Prone Areas on Bandar Lampung City with Geographical
Information System (GIS) Aplication.� TekTan Jurnal Ilmiah
Teknik Pertanian, vol. 6, no. 1, 2014, pp. 1�70, https://jurnal.polinela.ac.id/index.php/TEKTAN/article/view/840.
Malaka, D. I.Kabupaten. BERDASARKAN NILAI
KETANGGUHAN. no. 2009, 2015, pp. 1�13.
Murdiana, et al. �Analisis Banjir
Bandang Kota Sabang.� Jurnal Ilmu Kebencanaan
(JIKA), vol. 2, no. 4, 2015, pp. 206�16.
Pascasarjana, Sekolah. Model Spasial
Banjir Untuk Mendukung Ketersediaan Pangan di Kabupaten Karawang
Bambang Riadi. 2019.
Pradipta, I. Made Sukma, and Adjie Pamungkas. �Karakteristik Lingkungan Fisik Yang Mempengaruhi Pengelolaan Air Berdasarkan Water
Sensitive Urban Design Di Kelurahan Tambak Sarioso.� Jurnal Teknik ITS, vol. 6, no. 1, 2017, pp. 8�11,
doi:10.12962/j23373539.v6i1.22179.
Priyanto, Eko Hari, and Nawiyanto.
�Banjir Bandang Di Kodya Semarang Tahun 1990.� Publika Budaya, vol. 3, no. 3,
2014, pp. 9�17.
Pustaka, Tinjauan. Bab
2 Tinjauan Pustaka Risiko
Dan Desa Tangguh Bencana.
no. 2002, 2018, pp. 16�36.