POLA ASUH ORANG TUA
TERHADAP KOGNITIF ANAK USIA DINI
Lydia
Margaretha
Universitas Dehasen Bengkulu
|
Riwayat Artikel: Received: 13-10-2022 Revised: 27-10-2022 Accepted: 11-11-2022 Keywords:
Parenting, Parents, Cognitive, Children Kata
Kunci: Pola Asuh, Orang Tua,
Kognitif, Anak |
|
Abstract The potential and ability of children will be influenced by how well
mothers communicate with their children to love and raise them. Children can
learn cognitive skills such as problem solving, abstract thinking, and
learning from experience. The ability to care for and love their children at
home affects the cognitive abilities of their children. The research method
used is qualitative with descriptive analysis, and the sample consists of
twenty-five young mothers of children in grade B1 opening. Instruments,
observations, and interviews are all methods of data collection. During data
analysis, the stages of data reduction, data modeling, and drawing conclusions
were carried out. The results of the study found that young mothers already
have the ability, but have not been used effectively. Children's cognitive
abilities will later be influenced by how they are cared for and utilized at
home. The conclusion is that the parenting style of young mothers on
children's cognitive in TK Selva Buana, Bengkulu City has a significant
effect. |
|
|
Abstrak Potensi dan kemampuan anak akan dipengaruhi oleh seberapa baik ibu berkomunikasi dengan anaknya untuk mencintai dan membesarkannya. Anak dapat mempelajari keterampilan kognitif seperti memecahkan masalah, berpikir abstrak, dan belajar dari pengalaman. Kemampuan mengasuh dan menyayangi anaknya di rumah berpengaruh terhadap kemampuan kognitif anaknya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif, dan sampel terdiri dari dua puluh lima ibu muda anak
kelas B1 pembukaan. Instrumen, observasi, dan wawancara adalah semua metode pengumpulan data. Selama analisis data, dilakukan tahapan reduksi data, model
data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menemukan
bahwa ibu muda sudah memiliki
kemampuan, namun belum dimanfaatkan secara efektif. Kemampuan kognitif anak nantinya akan dipengaruhi oleh bagaimana mereka dirawat dan dimanfaatkan di rumah.menghasilkan kesimpulan bahwa pola asuh Ibu-ibu muda terhadap
kognitif anak di TK Selva
Buana Kota Bengkulu berpengaruh
secara signifikan. |
Corresponding Author: Lydia
Margaretha�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Peran orang tua dan keluarga merupakan salah satu faktor yang membantu keberhasilan anak di sekolah. Banyak penelitian (Boonk dkk) telah menunjukkan
bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan
anak berpengaruh terhadap prestasi akademik anak. Hal ini sesuai dengan
temuan Ma, Shen, Krenn, Hu,
& Yuan (2016), yang menemukan bahwa
keterlibatan orang tua berdampak pada hasil belajar anak. Menurut
Niehaus & Adelson (2014) keterlibatan orang tua juga berdampak pada prestasi akademik anak dan kesejahteraan emosional dan sosial. Temuan penelitian oleh Lv, Lv, Yan, & Luo (2019),
yang menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua juga berpengaruh pada sosial anak. dan perkembangan emosional, memberikan kepercayaan pada badan penelitian
ini. Oleh karena itu, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal, lingkungan terutama rumah ibunya harus memberikan
pengetahuan dan stimulasi. Keluarga merupakan tempat pendidikan yang penting untuk melatih
dan mendorong tumbuh kembang anak. ,
pendidikan keluarga dan pendidikan anak sangat erat kaitannya karena keluarga merupakan tempat pertama anak belajar
mengidentifikasi diri sebagai makhluk sosial dan berinteraksi dengan kelompok dan lingkungannya. Sebagai figur utama dalam
keluarga, ibu memainkan peran penting dan bertanggung jawab penuh atas
pendidikan anak-anaknya.
Oleh karena itu, ibu disebut sebagai
"ummu al-madrasatul",
yang diterjemahkan menjadi
"sekolah pertama bagi anak-anaknya". , mencintai, dan mendidik anak adalah
bagian dari menjadi seorang ibu.
Menurut Hurlock
(Setiawan, 2017), terdapat pola
asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Pola asuh dan pendidikan yang sepenuhnya didasarkan pada aturan keluarga, terutama yang ditetapkan oleh
orang tua, antara lain meliputi peraturan yang ketat dan kurangnya kesempatan. bagi anak-anak untuk mengekspresikan keinginan mereka. Jika anak tidak mengikuti aturan, mereka dapat dikenakan hukuman fisik. Menurut Padjirin (2007), orang tua seperti ini
tidak berkompromi, mendengarkan apa yang diinginkan anak, atau berkomunikasi dengan mereka. Orang tua yang otoriter sering menggunakan paksaan dan hukuman tanpa menunjukkan kasih sayang dan pengertian kepada anak-anaknya. Selain itu, pola asuh
demokratis adalah pola asuh yang mengutamakan kepentingan anak dengan tetap
menjaga kontrol dan pengawasan orang tua. Pola asuh seperti ini
bersifat rasional; itu tidak berharap
terlalu banyak dari anak yang melampaui apa yang bisa dia lakukan;
melainkan selalu mendasarkan tindakan anak pada rasio atau pemikiran. Sedangkan pola asuh permisif adalah
salah satu jenis pola asuh dimana
anak diberikan kebebasan tanpa pengawasan orang tua, anak tidak diharapkan
bertanggung jawab, dan jarang orang tua mengawasinya. pendekatannya
sangat reseptif (bersedia mendengarkan), jadi tidak ada batasan
khusus.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini
bersifat kualitatif dan menggunakan metodologi deskriptif kualitatif. Oleh karena itu, dalam
hal ini peneliti
menjelaskan, sesuai dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan peneliti di Taman kanak-kanak, bagaimana pengaruh pola asuh pada ibu muda terhadap
kognitif kemampuan anak di TK Selva Buana Kota
Bengkulu. Dengan jumlah responden 15 orang, subjek penelitian adalah ibu dari anak
kelas B1�9 ibu dengan anak pertama,
4 ibu dengan anak ketiga, dan 2 ibu dengan anak
bungsu. Kelas B1 TK Selva Buana Kota Bengkulu pada tanggal
23 Agustus 2022 merupakan sumber data penelitian. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif dalam mendeskripsikan hasil penelitian, yang meliputi dampak home caregiving terhadap kemampuan kognitif ibu muda.
Peneliti menggunakan tahap triangulasi sebagai teknik analisis data dan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data untuk membuat gambaran ulang yang realistis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan observasi
yang dilakukan peneliti dapat diketahui bahwa parenting dan kegiatan mencintai dari rumah bagi ibu
muda dapat berpengaruh signifikan terhadap kemampuan kognitif anak di TK Selva Buana Kota Bengkulu. dalam survei. Dari jumlah tersebut, 9 adalah ibu bekerja yang harus membagi waktu
dan 6 mengurus rumah tangga. Rata-rata usia mereka antara 21 hingga 30 tahun, sehingga 80 persen di antaranya masih muda. Menurut pengamatan,
responden mengungkapkan berbagai kekhawatiran terkait pengasuhan anak di rumah. Karena setiap kegiatan dan kegiatan belajar dilakukan di rumah, banyak waktu yang dihabiskan bersama keluarga. Anak banyak menghabiskan waktu bermain dengan teknologi. Karena mereka tidak memiliki banyak kekuatan untuk mengontrol, mencintai, mengasuh, atau merangsang potensi anak-anak mereka, para ibu muda ini khawatir.
kegiatan yang biasanya dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk
berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari dan bertindak sesuai dengan keinginan mereka untuk alasan
yang tidak terbayangkan. Namun, ditemukan juga bahwa beberapa ibu muda selalu
berhubungan dengan anak-anak mereka selama mereka hari.
Selain itu, ada ibu yang memberlakukan
pembatasan berlebihan pada anak-anaknya. Hal ini dilakukan ibu muda
karena tidak tahu bagaimana cara mengasuh anaknya
sesuai dengan tahapan perkembangannya. Namun hal ini
akan berdampak pada anak karena mereka
akan melihat anak-anak melakukan aktivitas sesukanya tanpa mempertimbangkan lingkungan sekitar, sehingga mengakibatkan kurangnya rasa tanggung jawab.
Berdasarkan aspek
perkembangan anak, kemampuan anak belum berkembang secara maksimal. Bagi seorang ibu
dan anak untuk membentuk suatu ikatan, mencintai dan mengasuh anak harus
dilakukan secara perlahan dan hati-hati. Selain itu, ibu
yang belum memahami kognitif anak kemampuan.
Namun, mereka akrab dengan pembelajaran
kognitif melalui calistung.Sementara itu, berdasarkan wawancara dengan ibu yang mengelola rumah tangga dan mereka yang bekerja.Selain itu, ibu dengan
dan tanpa pendidikan tinggi diwawancarai.Menurut temuan dari hasil
wawancara, tipikal jenjang pendidikan adalah tamatan SMA. Format pertanyaan, �Apakah ibu selalu melaksanakan
keinginan anak?� dari jawaban berdasarkan
masalah. Namun, sembilan di antaranya terpenuhi, dan 16 responden diberitahu terlebih dahulu. Alasannya karena mayoritas anak pertama, sehingga
mereka mencurahkan segala kasih sayang
kepada mereka. Selain itu, anak
akan menangis jika respon responden
tidak memuaskan. Namun, mereka tidak
menyadarinya. konsekuensi bagi anak pada rentang usia berikutnya.
Selain itu, ada ibu yang mengakui
bahwa itu bergantung pada keinginan anak dan bahwa jika keinginan anak melewati batas,
itu akan menjadi tanggung jawab anak. Dipahami
terlebih dahulu dan dipahami. Dari respon tersebut terlihat bahwa ibu yang berpengetahuan dan yang tidak mengalami hal yang berbeda. Seorang ibu harus belajar
bagaimana menyikapi anak yang tahap sosial-emosionalnya belum berkembang secara optimal selain kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Sikap ini juga terlihat pada perilaku anak-anak di sekolah, dimana mereka bermain
dengan teman dan tidak mau berbagi
dengan mereka karena harus memuaskan
semua keinginan mereka. Oleh karena itu, sedikit orang yang mau berteman dengan
anak-anak yang tidak Tidak mau berbagi
dan egois sehingga dapat mempengaruhi perkembangan sosial anak. Bagaimana ibu melatih anaknya
untuk berperilaku? Responden melakukannya dengan berbagai cara, salah satunya menjawab bahwa jika anak tidak
menginginkan sesuatu maka akan dihukum.
Selain itu, beberapa responden menetapkan batas waktu kegiatan anak agar untuk mengajarkan keterampilan tanggung jawab dan manajemen waktu.
Responden juga menyatakan
bahwa tidak ada disiplin di rumah dan bahwa anak melakukan apa saja karena
ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya
untuk memperhatikan. Namun, ada juga ibu yang bekerja yang mampu membagi waktu
mereka dan menempatkan nilai tinggi pada pertumbuhan keluarga mereka serta anak-anak
mereka, menyediakan lingkungan yang terpisah di mana anak-anak dapat belajar tanggung jawab, disiplin, dan menghormati waktu. Berdasarkan tanggapan ini, tampak bahwa
mengajar anak-anak bagaimana Disiplin sangat penting karena akan mempengaruhi cara berpikirnya. Anak akan mampu memecahkan
berbagai masalah dalam kehidupan selanjutnya jika kemampuan kognitif atau cara berpikirnya
dibentuk sedini mungkin. Metode apa yang digunakan ibu untuk menginspirasi
anaknya? Beberapa responden menjawab bahwa mereka selalu
memotivasi anak dengan memberi penghargaan, pujian, atau penghargaan kepada mereka. Selain itu, ada
responden yang merespon dengan mengajak anak berkomunikasi dengan kata-kata, meski tidak setiap hari.
Setiap responden pendekatan mendorong dan memotivasi anak-anak mereka dengan cara
yang unik. Namun, ibu biasanya memberikan
motivasi kepada anak-anak mereka sebagai sarana untuk mendorong mereka agar berhasil dalam upaya apa
pun. Seorang ibu harus menjadi lebih
akrab dengan anak-anaknya dan mendorong mereka untuk duduk bersama untuk berbicara
tentang kemampuan kognitif mereka dan area lain
yang dapat memperoleh manfaat dari stimulasi.
Menurut temuan
penelitian, menunjukkan bahwa kegiatan yang mengasuh dan mencintai anak dari rumah
dapat berdampak signifikan pada kemampuan kognitif mereka. Selain itu, latar
belakang ibu dan gaya pengasuhan ditemukan berpengaruh pada kemampuan kognitif anak. antara usia
5 dan 6. Namun, pengamatan menunjukkan bahwa ibu muda yang kurang
pengalaman, pengetahuan, atau kemampuan untuk mengembangkan aspek perkembangan anak, khususnya perkembangan kognitif, menjadi perhatian. Berikut hasil wawancara.
Ditemukan bahwa beberapa respon telah menunjukkan pola asuh yang baik terhadap anak
untuk mempengaruhi kemampuan kognitif mereka. Akan lebih mudah bagi anak-anak
kita untuk mengembangkan dan mengeksplorasi kemampuan mereka jika mereka sehat.
Karena ibu adalah kerabat terdekat anak, peran ibu
diperlukan dalam situasi ini. Hal ini sesuai dengan
temuan penelitiannya (Kuswanti dkk, 2020), yang menegaskan bahwa keluarga memainkan peran penting dalam
pendidikan, perawatan, dan pengasuhan anak � terutama ibu � karena ibu juga bertanggung jawab untuk pengasuhan, pengasuhan, dan pemeliharaan rumah tangga. Kemampuan
kognitif anak-anak, serta aspek lain dari perkembangan mereka, dapat dipengaruhi
secara positif oleh kasih sayang dan perhatian yang ditunjukkan ibu muda di rumah.
Kemampuan seorang ibu dalam merawat
dan menyayangi anaknya dapat berdampak positif terhadap kemampuan anak. Anak memiliki kemampuan untuk melatih pikiran
dan otaknya agar dapat digunakan secara maksimal. Kemampuan ini juga diungkapkan (Meilanie, 2021). ) sebagai potensi yang dimiliki seorang anak berdasarkan rangsangan atau stimulasi yang diberikan untuk perkembangannya.
Kegiatan yang ditawarkan
sebagai stimulasi tergantung pada keterampilan dan pengetahuan ibu agar anak dapat mengembangkan
potensinya secara maksimal. proses pengembangan potensi anak dan peningkatan kemampuannya hingga dewasa, kegiatan stimulasi bagi anak harus
sesuai dengan usianya. Keluarga, sekolah, teman, dan media merupakan faktor lingkungan penting yang berpengaruh besar terhadap kemampuan kognitif anak. jurnal (Anggraini & Putri,
2019), salah satu aspek penting yang perlu dikembangkan adalah perkembangan kemampuan kognitif karena merupakan setting yang akan menggambarkan seseorang kemampuan mental anak, yang meliputi kemampuan memecahkan masalah, berpikir abstrak, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Untuk memastikan anak tidak mengalami stres saat beradaptasi
dengan era teknologi, kemampuan kognitif ini perlu diasah
sejak dini. dipublikasikan (Ferguson dkk,
2018) dalam temuan penelitiannya bahwa kemampuan kognitif anak dapat dikembangkan
dengan memasukkan kegiatan pengembangan anak usia dini
ke dalam sistem kesehatan untuk menjangkau anak-anak yang rentan sehingga tidak ada masalah dengan
perilaku, adaptasi, atau masalah sosial
lainnya.
KESIMPULAN
Agar
anak dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal, lingkungannya terutama rumah ibunya harus
memberikan informasi dan stimulasi. Kemampuan seorang ibu untuk
merawat dan mencintai anaknya dapat berpengaruh
positif terhadap kemampuan anak .Salah satu kemampuan
kognitif yang dimiliki anak adalah kemampuan
mengasah pikiran dan otaknya agar dapat digunakan dan berfungsi secara optimal. Kemampuan adalah keterampilan. Anak-anak dapat mempelajari
keterampilan kognitif seperti memecahkan masalah, berpikir abstrak, dan belajar dari pengalaman. Akibatnya, agar potensi dan kemampuan anak berkembang secara maksimal, ibu dari
anak kecil perlu banyak belajar
dan menggali informasi terkait pengasuhan dan kasih sayang anak.
Keterampilan kognitif, bahasa, sosial, emosional, agama dan moral, seni,
dan motorik merupakan aspek perkembangan yang harus diperhatikan oleh seorang ibu. Oleh karena itu, penelitian
ini dapat menarik kesimpulan, Berdasarkan analisis data, bahwa kegiatan ibu muda dalam
pengasuhan di rumah dapat memberikan dampak yang signifikan pada kelas B1 di TK Selva Buana Kota
Bengkulu.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini,
W., & Putri, A.D. (2019). Penerapan Metode Bermain Peran (Role Playing)
dalam Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun. JECED:
Jurnal Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini, 1(2), 104�114. https://doi.org/10.15642/jeced.v1i2.466.
Boonk, L.,
Gijselaers, H. J. M., Ritzen, H., & Merek-Gruwel, S. (2018). Sebuah
tinjauan hubungan antara indikator keterlibatan orang tua dan prestasi
akademik. Penelitian Pendidikan Ulasan,
24 (November 2017), 10�30. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2018.02.001
Ferguson, B.
A., Downey, J. L., Shriver, A. E., Goff, K. L., Ferguson, A. M., & De Mello,
M. C. (2018). Meningkatkan Perkembangan Anak Usia Dini di antara Populasi
Rentan: Inisiatif Percontohan di Klinik Wanita, Bayi, dan Anak. Penelitian Perkembangan Anak, 2018. https://doi.org/10.1155/2018/3943157
Kuswanti, A.,
Munadhil, M.A., Zainal, A.G., & Oktarina, S. (2020). Manajemen Komunikasi
Keluarga Saat Pandemi COVID-19. SALAM; Jurnal
Sosial & Budaya Syar-I, 7(8), 707�722. https://doi.org/DOI: 10.15408/sjsbs.v7i8.1595.
Lv, B., Lv,
L., Yan, Z., & Luo, L. (2019). Hubungan antara keterlibatan orang tua dalam
pendidikan dan DOI: 10.31004/obsesi.v5i2.959 profil akademik/emosi anak:
Pendekatan yang berpusat pada orang. Layanan Anak dan Remaja Ulasan, 100 (Oktober 2018), 175�182. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2019.03.003
Ma, X., Shen,
J., Krenn, H. Y., Hu, S., & Yuan, J. (2016). Sebuah Meta-Analisis Hubungan
Antar Hasil Belajar dan Keterlibatan Orang Tua Selama Pendidikan Anak Usia Dini
dan Pendidikan Dasar Dini. Dalam Tinjauan
Psikologi Pendidikan (Vol. 28, Edisi 4, hlm. 771�801). Tinjauan Psikologi
Pendidikan. https://doi.org/10.1007/s10648-015-9351-1
Meilanie,
R.S.M. (2021). Pengawasan Kemampuan Guru dan Orang Tua dalam Stimulasi Dini
Sensori pada Anak Usia Dini. 5(1)
958�964. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.741.
Niehaus, K.,
& Adelson, J. L. (2014). Dukungan Sekolah, Keterlibatan Orang Tua, dan
Akademik dan Sosial Hasil Emosional untuk Pembelajar Bahasa Inggris. Jurnal Penelitian Pendidikan Amerika, 51(4),
810�844. https://doi.org/10.3102/0002831214531323
Padjirin.
(2016). Pola Asuh Anak dalam Perspektif
Pendidikan Islam. Intelektualita, 5, 1�14
Setiawan, S.
(2017). Pengaruh Bentuk Pola Asuh Orang Tua Dan Regulasi Diri Terhadap Disiplin
Siswa (SMP 17 Agustus 1945 Samarinda). Jurnal.Psikologi.
Isip-Unmul.Ac.Id, 5(2), 310�319.