PERSEPSI MASYARAKAT
TENTANG PERUBAHAN MAKANAN POKOK DARI SAGU KE BERAS DI DESA MATOBE KECAMATAN
SIKAKAP KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI
Yohana
Afridawati Salamanang1, Slamet Rianto2, Loli Setriani3
Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas PGRI
Sumatera Barat, Padang, Indonesia
[email protected]1 [email protected]2 [email protected]3
|
Riwayat Artikel: Received: 13-10-2022 Revised: 27-10-2022 Accepted: 11-11-2022 Keywords:
Perception, Sago, Rice Kata
Kunci: Persepsi, Sagu, Beras. |
|
Abstract This study aims to determine the public perception of changes in staple
food from sago to rice in Matobe Village, Sikakap District, Mentawai Islands
Regency. This type of research uses a qualitative method that produces
descriptive data. This study describes Public Perceptions About Changes in Staple
Food from Sago to Rice in Matobe Village, Sikakap District, Mentawai Islands
Regency. The data collected in this study is primary data obtained through
interviews and observations of respondents. Meanwhile, secondary data was
obtained through references and data from agencies related to this research.
The results showed that there was a massive shift in public consumption in
the change in consumption patterns of sago food into rice food in Matobe
Village. Most households prefer to consume rice food, because it is easy to
obtain, affordable prices, easy to process and tastes good. This change in
consumption patterns has resulted in a decrease in the level of preference
for local food consumption of sago, its availability is also reduced, making
it difficult to obtain. |
|
|
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui persepsi masyarakat tentang perubahan makanan pokok dari sagu ke
beras di Desa Matobe Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai. Jenis
penelitian ini menggunakan metode yang bersifat kualitatif yang menghasilkan
data deskriptif. Penelitian ini menggambarkan Persepsi Masyarakat Tentang
Perubahan Makanan Pokok dari Sagu ke Beras di Desa Matobe Kecamatan Sikakap
Kabupaten Kepulauan Mentawai.Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah
data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi pada responden.
Sementara data sekunder diperoleh melalui referensi dan data dari instansi
yang terkait dengan penelitian ini. Hasil penelitian
menunjukan terjadi pergeseran konsumsi masyarakat secara masif pada perubahan
pola konsumsi pangan sagu menjadi pangan beras di Desa Matobe. Sebagian besar
rumah tangga lebih memilih mengkonsumsi pangan beras, karena mudah
didapatkan, harga terjangkau, mudah diolah dan rasannya yang enak. Perubahan
pola konsumsi ini mengakibatkan tingkat kesukaan konsumsi pangan lokal sagu
menurun, ketersediaannya pun berkurang, sehingga sudah sulit untuk
didapatkan. |
Corresponding Author: Yohana
Afridawati Salamanang�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Ketahanan pangan dapat diartikan sebagai suatu
kondisi ketersediaan pangan yang cukup bagi semua orang pada setiap saat dan
setiap individu mempunyai akses untuk memperolehnya, baik secara fisik maupun
ekonomi. Ketahanan pangan juga bisa diartikan sebagai suatu kondisi
terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan
yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, amanmerata dan terjangkau pangan,
dimana penyediaan pangan yang cukup dapat diperoleh melalui produksi bahan
pangan yang swasembada (Dewijanti (2020).
Pemenuhan kebutuhan pangan juga terkait dengan
upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, sehingga nantinya akan
diperoleh kualitas sumber daya Indonesia manusia (SDM) yang mempunyai daya
saing tangguh dan unggul sebagai bangsa. Pemenuhan kecukupan pangan
perseorangan merupakan esensi dari ketahanan pangan, dan dicerminkan oleh
ketersediaannya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam,
bergizi, merata, dan terjangkau harganya serta tidak bertentangan dengan agama,
keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif
secara berkelanjutan. Salah satu program pemerintah yang diarahkan untuk
memelihara kemampuan swasembada pangan dan memperbaiki keadaan gizi melalui
penganekaragaman jenis pangan yaitu program devisifikasi
pangan. Perubahan konsep pangan yang secara eksplisit menyebutkan cakupan
pangan dalam arti luas dapat diartikan dalam perumusan kebijakan pangan harus
proposional antara komoditas pangan yang satu dengan komoditas pangan yang
lainnya. Sebagai contoh, kebijakan pemerintah yang biasa pada komoditas padi,
sehingga sebagian besar dana pemerintah hanya untuk melaksanakan kebijakan
tersebut. Sementara, kebijakan pangan lainnya seperti sagu seolah-olah
dibiarkan dan terlupakan (Saputri (2016).
Pangan lokal sagu, merupakan makanan pokok bagi masyarakat
desa Matobe di Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai. Masyarakat di
tanah Matobe kini mengalami proses perubahan makanan pokok yang sangat
berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari dan digantikan dengan kebiasaan baru
untuk mengkonsumsi nasi. didalam makanan pokok yang semula sagu, perlahan-lahan
tergantikan oleh beras yang sebenarnya bukan makanan asli masyarakat Matobe
Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Berdasarkanwawancara dengan kepala dusun
setempat, alasan masyarakat beralih yang dari semulanya mengkonsumsi sagu
sebagai makanan pokok ke beras mulai terjadi pada sekitar tahun1999, hal
tersebut disebabkan karena sulit serta lamanya proses dalam mengelolah sagu
menjadi makanan, apalagi pengolahannya secara tradisional, sehingga seiring
berjalannya waktu masyarakat memilih untuk bersawah dan menanam padi untuk
menghasilkan makanan pokoknya. Luas sawah masyarakat Matobe mencapai 30 hektar
untuk keseluruhan masyarakat yang menanam padi, sedangkan luas sagu sekitar 45
hektar dan tersebar di hutan Desa Matobe. Selain itu alasan lain masyarakat
Matobe memilih beras sebagai makanan pokok karena untuk mendapatkan pohon sagu
juga sulit dan jarang ditemui di desa Matobe saat ini, namun demikian pada saat
ini beberapa masyarakat masih mengkonsumsi sagu sebagai makanan. Dan
untukKonsumsi beras di Kabupaten Kepulauan Mentawai pada saat ini 9.900 ton per
tahun. Namun kebutuhan pemenuhan beras di Mentawai masih 50% per tahun (Erwin
(2017).
METODA PENELITIAN
Penelitian ini
meggunakan metode yang bersifat kualitatif yang menghasilkan data deskriptif.
Penelitian ini menggambarkan Persepsi Masyarakat Tentang Perubahan Makanan
Pokok dari Sagu ke Beras di Desa Matobe Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan
Mentawai.Sugiyono (2014:1) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di
mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci.
Pengumpulan data
Data diperoleh melalui
beberapa cara sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu Adapun teknik
yang digunakan peneliti untuk melengkapi data dalam membahas masalah ini yaitu
wawancara.
Melakukan wawancara
melalui informan penelitian yang berguna mengumpulkan data yang dibutuhkan dan
informasi langsung dengan penelitian. Menurut Bungin (2008:108) wawancara
adalah proses menperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya
jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang
diwawancarai tanpa menggunakan pedoman (guide)
wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang
relatif lama.
Analisis data
Data yang dikumpulkan
seterusnya dianalisis, (Sugiyono, 2011:338-345) menjelaskan bahwa dalam
penelitian kualitatif mempunyai tiga tahapan analisis, yaitu:
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data merupakan
proses berfikir positif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan dan kedalaman
wawasan yang tinggi. Pada saat mereduksi data, setiap peneliti akan dipandu
oleh tujuan yang akan dicapai.
2. Penyajian Data (Display Data)
Penyajian data dapat
dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan antara kategori atau dalam bentuk
teks yang bersifat naratif dengan menyajikan dapat mempermudah apa yang
terjadi, merencanakan apa yang dilakukan selanjutnya berdasarkan apa yang telah
dipahami. Dalam tahap ini peneliti menyajikan data dalam bentuk teks.
3. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi)
Langkah ketiga adalah
penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih
bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat
yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Temuan dapat berupa
deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau
gelap, sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal
atau interaktif, hipotesis atau teori.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Alasan Masyarakat Matobe Ingin Mengkonsumsi Beras
Dari Pada Sagu
Persepsi terhadap
pangan lokal merupakan pandangan ataupun pendapat dari responden terhadap
pangan lokal yang di identifikasi dari beberapa pertanyaan wawancara, jawaban responden
menunjukkan bahwa tingkat persepsi responden terhadap pangan lokal secara umum
menyatakan �pangan lokal sekarang susah diperoleh contohnya seperti sagu�, hal
ini dapat dipahami, karena tanaman sagu sebagai bahan baku pangan lokal
sekarang susah untuk ditemui. Hal ini terjadi dikarenakan luas areal pertanaman
sagu tersebut dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Penurunan areal
sagu di Desa Matobe Kecamatan Sikakp banyak disebabkan oleh alih fungsi lahan
menjadi komoditas lain, maupun karena budidaya sagu tidak berkembang baik.
Selama ini tanaman sagu tidak dibudidayakan, hanya tumbuh secara alami pada
areal yang sesuai, meskipun telah ada upaya pembudidayaan, akan tetapi
jumlahnya relative masih terbatas.
Hal lain yang
didapatkan pada saat wawancara yaitu persepsi masyarakat akan �merasa tidak
enak jika dalam sepekan tidak mengkonsumsi sagu. Hal ini karena pangan lokal
sagu biasanya bagi beberapa orang hanya menjadi pangan alternative, meskipun
terdapat beberapa responden yang menjadikan pangan lokal sagu sebagai salah
satu jenis pangan dalam pola pangan harian mereka. Artinya beberapa rumah
tangga menyediakan sagu dalam pola konsumsi harian mereka, dimana pangan lokal
sagu yang merupakan pangan lokal di Desa Matobe
Untuk persepsi
masyarakat terhadap pagan lokal sebagai makanan kampung, responden menyatakan
setuju jika pangan lokal sagu bukan lagi makanan �kampung�. Hal ini mematahkan
pernyaataan yang ada selama ini bahwa pangan lokal sagu merupakan makanan
kampung. Saat ini pangan lokal seperti sagu sudah menjadi makanan yang dicari
dan digemari semua kalangan. Sebagian besar responden memiliki persepsi yang
menyatakan bahwa pangan lokal merupakan makanan sehat, bergizi dan higienis. Ini
menunjukkan bahwa pangan lokal dipersepsikan secara baik yang akan memberikan
dampak pada konsumsi pangan lokal tersebut.
Hal tersebut diatas
sesuai dengan pendapat Nur (2014), menyatakan bahwa kebisaaaan makan individu
dipengaruhi oleh faktor budaya, persepsi individu, keluarga dan masyarakat,
sehingga tahap awal dalam mewujudkan diversifikasi pangan adalah dengan
mengubah persepsi. Sumbangan pendidikan formal maupun non formal, teladan dari
kelompok elit dan promosi media masa sangat diperlukan. Saat ini sedang
berlangsung perubahan selera konsumsi pangan yang mulai meninggalkan pangan
lokal dan makanan tradisional. Pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh sumber
daya pangan di sekitarnya, daya beli masyarakat, pengetahuan tentang pangan dan
gizi, dan selera konsumen. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada tanggal 27
Juli, sebagai berikut :
�Siburuk kai Matobe tak pei mareirei rakop berak, komenra senen gogoi
iate sagai kalulut maigi peile loinat sagai samba malegre peile ka pulaggaijat
oto kenanen makabesi galai ia musagai samba mauju itungena ibara bagat sagai
tapoi ia leu et ibailiu komen. Tapoi kele aimaburui, tai mereireinangan rakop
sagai kalulut aibara berak samba tak aimaigi loinat sagai samba leu ai mareunan
ka pulaggaijat. Bulat tak arakop sagai geti kalulut aimaigi sipasisasakiake
berak samba leu arapangurep berak sakalaggaijat bailiu malabbeinangan ibara
berak�.
Artinya zaman sebelum
masyarakat belum banyak mengkonsumsi beras, sagu merupakan makanan pokok atau
makanan yang sering di konsumsi oleh masyarakat kita yang ada di Desa Matobe
hal itu juga di dukung dengan masih banyaknya pohon sagu dan belum begitu jauh
dari pemukiman masyarakat, meskipun pengolahannya lumayan sulit dan proses
terbentuk sagu untuk bisa di konsumsi juga terbilang lama tapi hal demikian
tidak berpengaruh dengan masyarakat untuk mengkonsumsi sagu. Seiring
berjalannya waktu kegiatan mengelolah dan mengkonsusmi sagu dengan secara
perlahan mulai hilang, hal ini
Gambar 2 : Dokumentasi dengan Bapak SA, 27 Juli 2022
�Berdasarkan pemahan yang di sampaikan DS, PK dan RM dalam bahasa
mentawai, sakalaggaijat Matobe arasili komenda sagaik ei ka berak kalulut
ameingan sipusawah kapulaggaijat iate sakalaggaijat raobak arasili komenra dari
pada rasaki nia. Pek nek aibailiuan galajet saeppu bulet rakom berak�
Berdasarkan pemahan
yang di sampaikan DS, PK dan RM alasan masyarakat Desa Matobe beralih
mengkonsumsi sagu menjadi beras karena ketersediaan sumber lahan sawah sehingga
kami sebagai masyarakat memilih untuk menanam padi supaya kami bisa makan beras
dari pada kami membelinya kepada pedagang beras. Bukannya kami tidak mampu
untuk membeli beras akan tetapi hanya mengurangi uang keluar saja apalagi
membeli bersa. hal ini merupakan kegiatan yang kami lakukan supaya anggota kelurga
bisa makan beras
�Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh MT dan BT dalam bahasa
mentawai, sakalaggaijat rakop berak kalulut ai an lulut untuk rasaki berak
samba leuk et galaijat ra tai masyarakat berbeda- beda teret masanggup sia
rasaki berak�
Berdasarkan pemahaman
yang di sampaikan oleh MT dan BT alasan masyarakat Desa Matobe beralih
mengkonsumsi sagu menjadi beras karena tingkat sosial ekonomi masyarakat itu
berbeda-beda, sehingga pendapatan masyarakat itu memiliki tolak ukur untuk
melakukan transaksi membeli suatu barang. Contohnya di Desa Matobe ada sebagian
masyarakat yang memiliki anggota keluraga yang memiliki pekerjaan yang bisa
dikatakan baik sehingga mereka punya hak untuk memilih makanan apa yang mau di
konsumsi.
Gambar 3 : Dokumentasi dengan IbuRM, 30 Juli
2022
2.
Proses Perubahan Konsumsi Pangan Sagu Menjadi
Pangan Beras
Pilihan pola konsumsi
pangan berdasarkan hasil wawancara terhadap responden sebagian besar mengatakan
lebih menyukai mengkonsumsi pangan beras ketimbang pangan lokal seperti sagu,
hal ini dikarenakan rata-rata semua anggota keluarga rumah tangga lebih
menyukai konsumsi beras/nasi.Sejak Orde Baru, beras menjadi komoditas strategis
secara politis, sehingga peranan pemerintah terhadap perkembangan produksi dan
konsumsi beras sangat intensif. Pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan
yang berkaitan dengan perberasan, mulai dari industri hulu hingga hilir.
Kebijakan tersebut dilakukan secara terus menerus termasuk diantaranya
kebijakan beras untuk orang miskin yang dikenal dengan raskin yang di
perlakukan untuk semua provinsi. Dampak dari kebijakan yang bias akan beras
adalah terjadinya pergeseran pola konsumsi pangan lokal masyarakat, terutama di
daerah- daerah yang makanan pokoknya bukan beras seperti di Desa Matobe Kecamatan
Siakap.
Berdasarkan hasil
penelitian diketahui bahwa masyarakat telah beralih dari mengkonsumsi pangan
lokal menjadi pangan beras. Lebih jelasnya dampak perubahan pola konsumsi
pangan lokal sagu menjadi konsumsi beras. Perubahan konsumsi pangan pokok lokal
sagu mengalami penurunan sedangkan konsumsi beras meningkat. Kondisi ini
seolah- olah menggambarkan bahwa sumber karbohidrat hanya bersumber dari beras,
sehingga pola konsumsi pangan yang terlalu bergantung pada satu jenis pangan
dapat menimbulkan kekurangan dalam jenis pangan rumah tangga. Pola konsumsi
pangan yang mengutamakan satu jenis pangan tidak dapat menjamin keseimbangan
gizi yang memadai, akibatnya gaya hidup dan pola konsumsi pangan rumah tangga
cenderung tidak sehat. Responden mengatakan apabila dalam sehari menyediakan
jenis makan seperti (sagudan beras) kebanyakan dari anggota rumah tangga lebih
dominan memilih mengkonsumsi nasi/beras dari pada sagu. Responden merasa belum
makan walaupun sudah makan roti, mi instan tetapi belum makan nasi. Nasi adalah
primadona bagi sebagian masyarakat Desa Matobe, dampaknya tingkat partisipasi
konsumsi beras mencapai hampir 100% dan beras dijadikan pangan pokok utama dan
tunggal. Dalam pola makan, kadang-kadang bertindak irasional, faktor gengsi kadang
lebih dominan dari pada aspek kesehatan. Dalam hal ini termasuk kesadaran
masayarakat terhadap keamanan pangan. Perubahan tersebut menunjukan tingkat
kesukaan konsumsi beras semakin banyak dibandingkan konsumsi pangan lokal sagu.
Perubahan ini sesuai dengan hasil penelitian Thenu, (2004) yang menunjukan
adanya perubahan tingkat kesukaan rumah tangga mengkonsumsi pangan beras
dibandingkan pangan lokal sagu, setelah adanya perkembangan konsumsi beras.
Berdasarkan wawancara yang di lakukan pada tanggal 27 Juli, sebagai berikut:
�Kele
araagai sakalaggaijat tai Matobe labbeinia masigaba berak samba maneuk berak
paturangan meruk peilek mukom berak daripada sagaik. Sara pei kineneiget ai an
piga pa sakalaggaijat siagai kandungan gizi kaberak bailiu marereinanggan et
rakop berak belepei ka sagai. Kirenangan ai piga pa galai akenen kabagat maneu
berak tak poi rakom berak tak leuk kasangamatat gogoi kalulut aipeileuk
tupasasaili kau-kau mokom saga, kau-kau leu et mukom berak tak poi ai leuk et
taincok teterenia rakop sagai sakalaggaijat kepasese ibara iba kelek
siboik-boik samba sigulei�.
Artinya masyarakat Desa
Matobe setalah tau kalau mengkonsumsi beras lebih mudah dalam bentuk
pengelolahannya dan juga mudah di dapat, dari sana masyarakat kita yang ada di
Desa Matobe berfikir untuk mengkonsumsi beras dari pada sagu untuk sekarang
ini. Di sisi lain ada juga beberapa masyarakat kita yang khususnya di dalam
keluarga yang sudah paham akan kandungan gizi yang ada pada beras sehingga
sebagian anggota keluarga lebih memilih untuk mengkonsusmsi beras dari pada
sagu. Tentu benar dalam mengkonsumsi beras itu tidak langsung melainkan melalui
beberapa tahap atau proses sehingga dalam mengkonsumsi beras pun tidak
dilakukan dalam satu hari penuh, melaikan masih terjadi selingan kadang dalam
satu hari itu mengkonsumsi sagu satu kali. Akan tetapi ada beberapa masyarakat
yang kita lihat mengkonsumsi sagu itu ketika waktu tertentu saja maksudnya
ketika mendapat ikan yang cocok dalam mengkunsusmi sagu seperti ikan rebus dan
ikan gulai. Proses ini selalu berlangsung disetiap harinya sehingga terjadilah
beberapa perubahan sampai sekarang ini yang membuat masyarakat kita yang ada di
Desa Matobe lebih suka mengkonsumsi beras dari pada sagu.
Berdasarkan pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa proses perubahan dari mengkonsumsi sagu menjadi
beras lebih ke anggota keluarga yang sudah paham dengan kandungan yang ada pada
beras sehingga anggota keluarga sudah suka dan lebih sering mengkonsumsi beras,
sebagai faktor penunjang lain kebiasaan masyarakat dalam mengkonsusmsi sagu di
pengaruhi dengan adanya sifat atau kebiasaan dalam memilih bentuk masakan yang
cocok dalam mengkonsumsi sagu seperti ikan rebus dan ikan gulai.
Gambar 4 :
Dokumentasi dengan bapak RK selaku Kepala Desa dan DS selaku Kepala Dusun
Matobe, 28 Juli 2022
�Berdasarkan
pemahaman yang di sampaikan oleh LS, NT dan PK dalam bahasa mentawai, atusisli
komen barania ka sagaik teret ka berak kalulut maigingan sibabara kalaggai
kelek pasiliat rura, kineiget amapopulernan samba ameian kapulaggaijat kabaga
sakalaggaijat Matobe amareireian rakom berak�
Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh
LS, NT dan PK, proses perubahan konsumsi masyarakat dari sagu menjadi beras
adalah adanya proses perkembangan zaman dan karena terjadi asimilasi budaya,
bahkan beras sekarang sudah sangat populer bahkan hingga wilayah pedalaman pun
seperti di Desa Matobe sudah terbiasa mengkonsumsi beras. Sehingga kami yang
ada di Desa Matobe sudah terbiasa dan secara perlahan mengkonsumsi beras dari
pada sagu.
�Berdasarkan
pemahaman yang di sampaikan oleh LS, RM dan SA dalam bahasa mentawai, atusili
komen barania ka sagaik ei ka berak tak ai paobak kalulut maigi siooi
kapulaggaijat maigi sioiake samba sipikuddu simaburu kalaggai Matobe�
Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh
LS, RM dan SA, proses perubahan konsumsi masyarakat dari sagu menjadi beras
tidak lepas dari meningkatnya orang baru atau masyarakat pendatang yang
mengunjungi bahkan tinggal di daerah yang di kunjingi untuk jangka panjang
sehingga masyarakat lokal atau khusus masyarakat Matobe terbiasa dengan gaya
hidup mereka.
�Berdasarkan
pemahaman yang disampaikan oleh MT, BT dan TR dalam bahasa mentawai atusili
komen barania ka sagaik ei ka berak kalulut maiginagn sikom berak maigingan
sakalaggaijat ka Desa Matobe�
Berdasarkan pemahaman yang disampaikan oleh
MT, BT dan TR, proses perubahan konsumsi masyarakat dari sagu menjadi beras
adalah ketergantungan terhadap beras lebi besar sehingga kebiasaan untuk
mengkonsumsi beras sudah tertanam dari diri sendiri, keluarga bahkan masyarakat
secara keseluruhan yang ada di Desa Matobe.
Gambar 5 :
Dokumentasi dengan Ibuk TR, 30 Juli 2022
3.
Pola Konsumsi Masyarakat Dari Sagu Menjadi Beras
Dari aspek harga, harga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu
barang. Hal ini terutama berkaitan dengan tingkat pendapatan seseorang.
Berdasarkan hasil penelitian, salah satu faktor yang mempengaruhi responden
untuk mengkonsumsi pangan beras adalah harga pangan beras yang menurut
responden cukup murah. Berbicara mengenai pola konsumsi pangan sudah menjadi
sebuah fakta bahwa pangan masyarakat Desa Matobe bukan lagi pangan lokal
seperti sagu tetapi pangan masyarakat Desa Matobe sekarang ini adalah beras.
Padahal seperti yang diketahui bahwa pangan lokal dapat menunjang ketahanan
pangan suatu daerah termasuk Desa Matobe. Namun kenyataan yang terjadi sekarang
ini, pangan lokal seperti sagu jangankan dibudidayakan, lahan sagu yang sudah
ada tidak dirawat lagi.
Keterjangkauan harga
pangan beras semakin murah dan juga di bantu dengan adanya bantuan raskin untuk
masyarakat yang di kelola oleh pemerintah setempat. Harga beras dari segi
produksi dengan harga pasaran Rp 10.000,00/kg sampai Rp. 13.000,00/kg. Perubahan
keterjangkauan harga ini sejalan dengan pernyataan responden rumah tangga yang
mengatakan bahwa adanya perkembangan pangan beras, melalui bantuan raskin yang
disalurkan oleh pemerintah. Raskin yang di salurkan mengakibatkan perkembangan
konsumsi pangan beras mudah dijangkau oleh rumah tangga. Berbagai kebijakan dan
program swasembada pangan beras yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten
Kepulauan Mentawai, dengan maksud mempermudah akses masyarakat terhadap pangan
dari segi produksi dan produktivitas beras yang mudah dijangkau untuk
dikonsumsi. Apabila untuk saat ini sebagian dari masyarakat Desa Matobe sudah
bisa menghasilkan beras sendiri dengan cara membuka lahan sawah. Berdasarkan
hasil wawancara yang di lakukan pada tanggal 28 juni, sebagai berikut :
�Aitusili mukom sagai kaberak kalulut ta aimaigi sagai kalaggai kai
Matobe neknek bailiu iate paluluat nia aitusili komen bara nia kasagai ei ka
berak ai pasili komen neknek kalulut paluluat bagei iate aimareirei goisok
puririmanuatda sakalaggaijat tai matobe bailiu malabbeinangan ragaba sakit
berak sara pei sakit berak makalebbei peilek goisok itugaba samba leuk aibara
paroman pamerintah kabagat masirubei akek berak kasalaggaijat ka program
sembako kenanen tak senengogoi samba tak sangamberi sakalaggaijat bara tak poi
amakalabbeian katubudda goisok masigaba berak�.
Artinya konsumsi sagu
menjadi beras itu terjadi ketika stok pangan itu sendiri berkurang begitu juga
dengan pohon sagu yang ada di Desa Matobe sudah mulai berkurang sehingga
konsumsi sagu beralih dengan konsumsi beras. Perubahan terjadi juga dengan
adanya beberapa pendorong sehingga mengalami perubahan seperti tingkat ekonomi
masyarakat Desa Matobe sejauh ini sudah mulai membaik sehingga mempermudah
masyarakat untuk mengkonsumsi beras ditambah lagi pedagang menjual beras di
dearah Desa Matobe harganya bermacam-macam. Selain itu ada juga bantuan dari
pemerintah seperti sembako walaupun tidak setiap hari atau tidak semua
masyarakat mendapatkannya setidaknya sudah mempermudah masyarakat yang ada di
Desa matobe bisa mengkonsumsi beras. Perilaku sosial masyarakat juga
berpengaruh dalam mengkonusmsi beras, karena bisa di lakukan dengan sistem
barter maksudnya ketika ada masyarakat yang tidak mampu membeli beras, mereka
bisa menukarkan beberapa hasil tani atau hasil yang lain kepada tetangga yang
mampu membeli beras seperti kelapa, sayuran dan lainnya. Dengan demikian
masyarakat juga di permudah dalam mengkonsumsi beras.
Berdasarkan pendapat di
atas, dapat di simpulkan pola perubahan terjadi itu dengan meningkatnya ekonomi
masyarakat itu sendiri sehingga mampu untuk membeli barang seperti yang ada di
Desa Matobe mereka mampu untuk membeli beras. Disisi lain perilaku sosial
masyarakat juga mempengaruhi dalam mengkonsumsi beras dalam artian saling
tolong menolong.
Gambar 6 : Dokumentasi dengan Ibu NT berprofesi sebagai guru selaku
Masyarakat Desa Matobe, 30 Juli 2022
�Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh SA, RM, LS dan DS dalam
bahasa mentawai, atusili komen barania ka sagaik ei ka berak kalulut
pupaatuanra rasiliake kateteura sambat masikom sagaik tan an rakom�
Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh SA, RM,
LS dan DS pola konsumsi sagu mejadi beras di pengaruhi oleh minimnya
pengetahuan masyarakat tentang mengkonsumsi pangan lokak atau sagu sehingga
terabawa-bawa sampai ke pengolahannya sehingga minat masyarakat untuk mengolah
sagu berkurang. Selain itu kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi beras yang
sudah bersifat turun temurun sehingga menjadikan pangan lokal seperti sagu terabaikan.
�Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh RK, LS dan PK dalam bahasa
mentawai atusili komen barania ka sagaik ei ka berak kalulut ke maigi saeppu
kabagat lalep maigi rapili komen kalulut saeppu tak mugalai sia bulet rakom
berak kipa iginia bulaggda sirimanua�
Berdasarkan pemahaman
yang di sampaikan oleh RK, LS dan PK pola konsumsi masyarakat dari sagu menjadi
beras di pengaruhi oleh jumlah anggota rumah tangga dalam hal ini yang dimaksud
yaitu ketika jumlah anggota rumah tangga itu banyak maka akan menimbulkan
pemilihan makanan yang berbeda karena akan tidak mungkin anggota keluarga itu
tidak bekerja sehingga mempermudah mereka untuk membeli beras sehingga bisa
mengkonsumsi beras ddalam hal ini di pengaruhi dengan pendapatan anggota keluarga
�Berdasarkan pemahaman yang di sampaikan oleh MT, BT dan TR dalam bahasa
mentawai, kelek tak itcok nia berak peilek maigi di bandingake sagaik kalulut
berak maigi rapasaki ka kadai oto kelek sagaik tak an anai ragalai samba leuk
tak an rapasasaki�
Berdasarkan pemahaman
yang di sampaikan oleh MT, BT dan TR alasan masyarakat Desa Matobe dalam
pemilihan pola konsumsi masyarakat dari sagu menjadi beras yaitu tingkat
pemenuhan kebutuhan pokok beras lebih banyak dibandingkan dengan sagu sehingga
masyarakat Desa Matobe lebih memilih mengkonsumsi beras dari pada sagu dan
akhirnya membiasakan masyarakat Desa Matobe untuk mengkonsumsi beras daripada
sagu.
Gambar 7 : Dokumentasi dengan Bapak LS, 31 Juli 2022
Pembahasan
Pertama, alasan masyarakat Desa Matobe ingin mengkonsumsi beras dari pada sagu,
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mempersepsikan beras masih
menjadi sebagai bahan makanan pokok yang paling disukai oleh masyarakat Desa
Matobe. Makanan lokal sagu hanya dikonsumsi pada waktu-waktu tertentu saja,
namun masih sebagai pelengkap dan cenderung digunakan karena faktor darurat
karena alasan kepraktisan.
Sebagian besar
responden masih mengatakan beras adalah makanan pokok yang sudah lama tidak
akan tergantikan.
Masyarakat di Desa
Matobe menganti makanan pokok sagu ke beras itu di tunjang oleh beberapa
faktor, hal ini di sampaikan lewat hasil wawancara. Pergantian makanan pokok
sagu ke beras itu terjadi akibat kuantitas pohon sagu yang ada di Desa Matobe
tiap tahunnya selalu berkurang karena pohon sagu itu bukan lagi di jadikan
makanan pokok untuk manusia melainkan untuk ternak masyarakat, seperti makanan
ayam dan babi. Meskipun pohon sagu yang sekarang ini masih ada, namun sudah
tidak di manfaatkan lagi oleh masyarakat Desa matobe dan juga pengolahannya
yang membuat masyarakat di Desa Matobe menjadi malas karena prosesnya teralalu
lama untu di konsumsi langsung. Lain halnya dengan beras, meskipun ada sebagian
masyarakat Desa Matobe menanam padi meskipun hasilnya tidak terlalu banyak
dalam melakukan panen tapi setidaknya sudah bisa menutupi kebutuhan pokok untuk
beberpa hari. Disisi lain beras yang di jual pedagang juga memiliki harga yang
lumayan terjangkau sehingga masyarakat Desa Matobe sudah mampu untuk membeli
beras sama pedagang.
Perubahan ini sesuai
dengan hasil wawancara terhadap responden yang mengatakan lebih menyukai
mengkonsumsi pangan beras karena rata-rata semua anggota keluarga rumah tangga
lebih menyukai konsumsi beras/nasi. Perubahan tersebut menunjukan tingkat
kesukaan konsumsi beras semakin banyak dibandingkan konsumsi pangan lokal sagu.
Perubahan ini sesuai dengan hasi penelitian yang menunjukan adanya perubahan
tingkat kesukaan rumah tangga mengkonsumsi pangan beras dibandingkan pangan
lokal sagu, setelah adanya perkembangan konsumsi beras.
Beras memegang peranaan
penting bagikehidupan sosial budaya masyarakat, Selain itu beras juga merupakan
makanan pokok setiap masyarakat bahkan hampir seluruh daerah mengkonsumsi
beras. Secara umumpengetahuan local di Desa Matobe menjadi kuncipenting dalam
melakukan pemilihin konsumsi ecara turun temurun (Marwa, 2013)
Kedua, proses perubahan konsumsi pangan sagu menjadi pangan beras, sejak zaman
nenek moyang mentawai, betapa pentingya atau manfaat sagu untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, sehingga pohon sagu juga dijadikan salah satu harta atau
benda untuk dijadikan alat pembayaran. Pengelolaan sagu menjadi bahan pangan
memiliki keunikan tersendiri karena tidak musti mengenal musim panen akan
tetapi mengelolah sagu bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan kebutuhan, hal
ini disampaikan oleh kepala dusun Desa Matobe. Seiring berjalannya waktu proses
pengeloaan sagu sudah banyak di tinggalkan oleh masyarakat Desa Matobe karena
pengerjaannya lumayan lama dan prosesnya pembuatan sagu pun agar bisa
dikonsumsi juga terbilang lama. Disisi lain masyarakat Desa matobe juga sudah
mampu untuk membeli beras dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bila
dibandingkan dengan mengelolah sawah atau padi, meskipun hasilnya tidak banyak
akan tetapi masyarakat Desa Matobe sudah merasa nyaman untuk melakukan
pekerjaan seperti mengelolah sawah meskipun harus menunggu musim panen. Maka
dapat disumpulkan masyarakat di Desa Matobe beralih pangan dari sagu ke beras
itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat ekonomi masyarakat Desa
Matobe sudah mulai membaik dalam artian sudah mampu untuk membeli beras,
masyarakat Desa matobe sudah memiliki pengetahuan tentang gizi yang baik, pohon
sagu yang ada di Desa Matobe sudah mulai berkurang dan untuk sekarang ini hanya
dijadikan alat pembayaran saja.
Salah satu faktor yang
berpengaruhterhadap perilaku ataupun pengambilankeputusan atau bertindak oleh
masyarakat Desa Matobe adalah cara pandangmasyarakat dalam situasi tertentu.
Kepeutusun masyarakat Desa Matobe initidak hanya bergantung pada rangsang
fisik, tetapi juga rangsangan non fisik sepertilingkungan sekitar, emosi, dan
cara pandang masyarakat yang bersangkutan.
Kengiatan mengkonsusmi
atau pangan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia dan merupakan hak dasar
yang haus di penuhi, kualitas dan kecukupannya sangat penting dalam menentukan
kualitas sumber daya manusia. Ketersediaan pangan merupakan faktor yang penting
untuk menentukan tingkat kesehatan dan tingkat intelegensi manusia sebagagai
sumber daya produktif (Umanailo, 2019)
Ketiga, pola konsumsi masyarakat dari sagu menjadi beras di Desa Matobe sudah
mulai berubah sejak adanya pemilihan bahan makanan dari sagu ke beras hal ini
tentunya di pengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat sudah mulai
meningkat. Disisi lain pola konsumsi masyarakat dari sagu ke beras di Desa
Matobe itu juga dipengaruhi dengan ketersediaan makanan pokok sebelum nasi
(sagu) sudah mulai berkurang karena pohon sagu yang ada di Desa Matobe sudah
mulai berkurang. Disisi lain ada pendapat yang disampaikan oleh salah satu
tokoh masyarakat yang ada di Desa matobe yang berpendapat bahwa pola konsumsi
pangan dari sagu ke beras oleh Desa Matobe juga di pengeruhi oleh harga beras
yang dijual oleh pedagang kepada masyarakat yang ada di Desa Matobe relatif
murah sehingga masyarakat Desa Matobe masih mampu untuk membeli beras. Faktor
sosial juga berperan penting dalam dalam pola konsumsi masyarakat dari makanan
pokok sagu ke beras, karena dengan meningkatnya jiwa sosial masyarakat maka
pengetahuan masyarakat tentang beras akan lebi meningkat ditambah lagi dengan
adanya msayarakat dari luar yang lebih sering mengkonsumsi beras dari pada sagu
hal ini di sampaikan oleh kepala dusu Desa Matobe
Pola konsumsi pangan
merupakan susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan
rata-rata perongan perhari yang umum dikonsumsi atau dimakan dalam jangka waktu
yang tertentu (Pusat Pengembangan Konsumsi Pangan, 2003).
Perubahan pola konsumsi
tingkat kesukaan rumah tangga mengkonsumsi pangan beras dibandingkan pangan
lokal sagu, setelah adanya perkembangan konsumsi beras. Perubahan ini terlihat
jelas pada ketersediaan konsumsi pangan sagu yang menurun. Pola Konsumsi suatu
masyarakat dapat diketahui dari tingkat konsumsi, pengeluaran rumah tangga,
serta pangsa dari pengeluaran rumah tangga untuk suatu komoditas tertentu
(afriansyah, 2020).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan di atas
dapat disimpulkan bahwa terjadi pergeseran konsumsi masyarakat secara masif
pada perubahan pola konsumsi pangan sagu menjadi pangan beras di Desa Matobe.
Sebagian besar rumah tangga di Desa Matobe lebih memilih mengkonsumsi pangan
beras, karena mudah didapatkan, harga terjangkau, mudah diolah, selain itu
alasan terbesar masyarakat merasa beras dikonsumsi karena rasannya yang enak.
Perubahan pola konsumsi pangan lokal sagumenjadi pangan beras di Desa Matobe,
mengakibatkan tingkat kesukaan konsumsi pangan lokal sagu menurun. Ketersediaan
konsumsi pangan lokal sagu pun berkurang, hal ini karena dampak negatif dari
kebijakan dan program pemerintah untuk ketersediaan pangan beras yang
mengakibatkan berkurangnya produksi pangan lokal sagu.
Alasan
masyarakat Desa Matobe ingin mengkonsumsi beras dari pada sagu, berdasarkan
penelitian menunjukkan bahwamasyarakat mempersepsikan beras masihmenjadi
sebagai bahan makanan pokok yangpaling disukai oleh masyarakat Desa Matobe.
Makanan lokal sagu hanya dikonsumsi pada waktu-waktu tertentu saja, namun
masihsebagai pelengkap dan cenderung digunakankarena faktor darurat karena alasan
kepraktisan. Pengelolaan sagu menjadi bahan pangan memiliki keunikan tersendiri
karena tidak musti mengenal musim panen akan tetapi mengelolah sagu bisa
dilakukan kapan saja sesuai dengan kebutuhan, hal ini disampaikan oleh kepala
dusun Desa Matobe. Seiring berjalannya waktu proses pengeloaan sagu sudah
banyak di tinggalkan oleh masyarakat Desa Matobe karena pengerjaannya lumayan
lama dan prosesnya pembuatan sagu pun agar bisa dikonsumsi juga terbilang lama.
Disisi lain masyarakat Desa matobe juga sudah mampu untuk membeli beras dalam
memenuhi kebutuhan sehari-hari. pola konsumsi masyarakat dari sagu menjadi
beras di Desa Matobe sudah mulai berubah sejak adanya pemilihan bahan makanan
dari sagu ke beras hal ini tentunya di pengaruhi oleh tingkat pengetahuan
masyarakat sudah mulai meningkat. Disisi lain pola konsumsi masyarakat dari
sagu ke beras di Desa Matobe itu juga dipengaruhi dengan ketersediaan makanan
pokok sebelum nasi (sagu) sudah mulai berkurang karena pohon sagu yang ada di
Desa Matobe sudah mulai berkurang.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin.
(2018). Analisis Persepsi Masyarakat Terhadap Pangan Lokal Sagu Di Kota Kendari
Sulawesi Tenggara. Jurnal Agribisnis,
1(7.
Afriansyah.
(2020). Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Pola Konsumsi Pangan Lokal Ke
Pangan Beras Di Papua Barat. Jbs (Jurnal
Berbasis Sosial), 1.
Baransano.
(2019). Dampak Perubahan Pola Konsumsi Pangan Lokal Ubi Dan Sagu Menjadi Pangan
Beras Di Kampung Makimi, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Jurnal Agribisnis Dan Agrowisata (Journal Of
Agribusiness And Agritourism), 8.
Bimo Walgito.
(2004). Pengantar Psikologi Umum.
Yogyakarta: Andi Offset.
Botanri, S.,
Setiadi, D., Guhardja, E., & Qayim, I. (2011). Dalam Komunitas Alami Di
Pulau Seram , Maluku Ecology Study Of Sago Palm ( Metroxylon Spp ) In The
Natural Community At The Seram Island , Maluku.
Dewi. (2016).
Diversifikasi Olahan Sagu (Metroxylon Sagu) Dalam Rangka Pemberdayaan Ekonomi Keluarga
Pra Sejahtera. Laboratorium Penelitian
Dan Pengembangan Farmaka Tropis Fakultas Farmasi Universitas Mualawarman,
Samarinda, Kalimantan Timur, 04.
Erwin.
(2017). Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dan Wilayah berbasis Pangan Lokal Sagu,
Keladi Dan Pisang Di Kabupaten Kepulauan Mentawai.Jurnal Perencanaan Dan Pembangunan, 4.
Latue.
(2021). Perubahan Pola Konsumsi Dari Pangan Lokal Ke Pangan Beras Di Pedesaan
Pulau Seram Utara: Studi Kasus Di Desa Buria Kecamatan Taniwel Kabupaten Seram
Bagian Barat. Jurnal Agribisnis
Kepulauan, 3(9).
Lepinius
Sahettapy Dan Ritha L. Karuwal. (2015). Variasi Karakter Morfologis Lima Jenis
Sagu ( Metroxylon Sp ) Di Pulau Saparua Sagu ( Metroxylon Sp ). Biopendix, 1.
Mursyid.
(2008). Konsumsi Sagu Keluarga Berdasarkan Preferensi Dan Persepsi Nilai Sosial
Sagu Keluarga Di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 4(3), 104-110.
Rajab, M. A.,
& Munisya, M. (2020). Potensi Olahan Sagu Dalam Mendukung Diversifikasi
Pangan Di Desa Poreang Kabupaten Luwu Utara. Biofarm : Jurnal Ilmiah Pertanian, 16. Saputri. (2016). Pola Konsumsi Pangan Dan Tingkat Ketahanan
Pangan Rumah Tangga Di
Kabupaten
Kampar Provinsi Riau. Jurnal Gizi Klinik
Indonesia, 12.