PERUBAHAN
MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT PASCA BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI DI DUSUN RUAMOGA
DESA TAIKAKO KECAMATAN SIKAKAP KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI
Rinel
Prahantas1, Dasrizal 2, Rika
Despica� 3
Universitas PGRI Sumatera Barat
|
Riwayat Artikel: Received: 11-10-2022 Revised: 26-10-2022 Accepted: 09-11-2022 Keywords:
Livelihood, Post Disaster Kata
Kunci: Mata pencahariaan,
Pasca bencana |
|
Abstract This
study aims to obtain data that analyzes: 1) Factors
influencing changes in the livelihoods of the people of Ruamongan
Hamlet, Taikako Village, Sikakap
District, Mentawai Islands Regency, 2) The problem of changing livelihoods
for the people of Ruamonga Hamlet, Taikako Village, Sikakap
District, Mentawai Islands Regency, 3) Income the people of Dusun Ruamonga after changing their livelihood from fishermen
to farmers. This type of research is qualitative. This research was conducted
in Ruamonga Hamlet, Taikako
Village, Mentawai Islands Regency. The research informants were taken by
using the Snowball Sampling of the Village Head as Key Informants. Data
analysis was carried out by reducing, presenting and drawing conclusions. The
results showed: 1) Factors influencing changes in the livelihoods of the
people of Ruamonga Hamlet, Taikako
Village, Sikakap District, Mentawai Islands
Regency. These are natural disaster factors such as the Earthquake and
Tsunami, lack of income, lack of government attention to fishermen in Ruamoga Hamlet, Taikako
Village, results that are not in accordance with fishing gear expenditure
catches, getting older age, and climatic factors such as waves, wind, storm
and rain. 2) The problem of change that is obtained by the people of Dusun Ruamonga is that there are still many narrow lands to
open new plantations such as banana plantations, this is because the
population is increasing over time because of the large number of people who
come to live in these locations so that there is a shrinkage of farming land
for non-agricultural purposes. agriculture, the limitations of technology
that are expected by the people of Rasponga hamlet
from the local government, especially those experienced by the people of Rashamga hamlet, the low level of formal education for
farmers in the Rashamga hamlet, the community has
not been able to create jobs outside of farming, and have not been able to
take work risks. 3) The income earned by the people of Ruamonga
Hamlet, Taikako Village, which used to be
Rp.250,000/day, but now it has increased to Rp.600,000 to 1,200,0000 per day
so that the people of Ruamongah Village have
changed their livelihoods from I fisherman to farmer. |
|
|
Abstrak Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data yang� menganalisa tentang: 1)Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mata pencarian� Masyarakat Dusun Ruamongan Desa Taikako Kecamatan Sikakap kabupaten Kepulauan Mentawai, 2)Permaasalahan� perubahan
mata pencaharian Masyarakat Dusun Ruamonga Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai, 3) Pendapatan
masyarakat Dusun Ruamonga setelah berubah mata pencaharian dari nelayan ke petani.
Jenis
penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Dusun Ruamonga Desa Taikako Kabupaten Kepulauan Mentawai. Informan Penelitian diambil secara Snowball Sampling kepala Desa sebagai Key Informan Analisis data dilakukan dengan reduksi, penyajian dan menarik kesimpulan.
Hasil penelitian
menunjukkan: 1) Faktor yang mempengaruhi perubahan mata pencarian Masyarakat Dusun Ruamonga Desa Taikako Kecamatan Sikakap Kabupaten Kepulauan Mentawai. Yaitu faktor bencana alam seperti Gempa dan Tsunami, kurangnya pendapatan, kurangnya perhatian pemerintah terhdap para nelayan yang berada di Dusun Ruamoga Desa Taikako, adanya hasil
yang tidak
sesuai dengan� tangkapan� pengeluaran alat
memancing, usia yang semakin tua, dan faktor iklim
seperti ombak, angin, badai, dan hujan.2) Masalah perubahan� yang didapat oleh masyarakat Dusun Ruamonga yaitu
masih
banyak kepemikikan lahanyang sempit untuk� membuka perkebunan baru seperti perkebunan pisang hal ini disebabkan karena jumlah penduduk semakin lama semakin bertambah karna banyaknya penduduk yang datang tinggal dilokasih tersebut sehingga terjadi penyusutan lahan usaha tani untuk keperluan non pertanian, keterbatasannya teknologi yang diharapka oleh masyarakat dusun ruamonga dari pemerintah setempat terutamna sebagai besar yang dialami masyarakat dusun ruamonga, rendahnya� pendidikan formal� terhadap para petani yang ada di� dusun ruamonga, masyarakat belum mampu menciptakan pekerjaan diluar usaha tani, dan belum mampu mengambil resiko kerja.3) Pendapatan yang didapat oleh masyarakat Dusun Ruamonga Desa Taikako yaitu dulunya pendapatan masyarakat Rp.250.000/ hari tetapi sekarang meningkat menjadi Rp.600.000 sampai dengan 1.200.0000 perharinya sehingga masyarakat dusun ruamongah merubah mata pencahariannya dari nelayan ke petani.. |
Corresponding Author:
Rinel Prahantas�
E-mail:
[email protected]
�����������������������������������
PENDAHULUAN
Kepulauan Mentawai terletak di samuderah Hindia, kurang lebih 100
kilometer sebelah
barat dan dataran pulau sumatera, Tuapeijat sebagai ibukota kepulauan kabupaten kepulauan mentawai salah satunya di Kecamatan Sikakap. Sedangkan jarak Sikakap dengan
kota Padang adalah 196 Kilometer. Jarak tersebut kurang lebih sama
dengan jarak ke Kota Bengkulu. Untuk mencapai ibukota kabupaten maupun ibukota Provinsi Sumatera Barat hanya tersedia sarana kapal laut.
Kecamatan Sikakap terletak di Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi
Sumatera Barat berjarak 150 KM dari
lepas pantai pulau sumatera. Kabupaten ini dibentuk
dari empat besar, yaitu Siberut,
Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Kecamatan Sikakap sendiri berada di pulu pagai utara dan pulau pagai selatan.� Terdiri dari 3 desa besar,
yakni Desa Sikakap (13 dusun luas wilayah 202,3,Km�), Desa Taikako ( 19 dusun luas wilayah 136,8 Km�), Kecamatan
Sikakap memiliki luas 466,1 Km�, pada saat terjadinya gempa dan tsunami di
Mentawai Sikakap banyaknya jatuh korban, tidak hanya korbannyawa namun korban hartapun ikut lenyap jiwa
yang� melayang serta bangunan sertah rumah-rumah permanen, sekolah, klinik dan sarana lainnya� seperti di Desa Taikako Dusun Ruamonga� banyaknya rumah dan harta pun ikut diratakan oleh tanah akibat bencana
alam gempa dan stunami.
Bencana alam Gempa Bumi dan Tsunami yang melanda
Mentawai pada tahun 2010 sangat berpengaruh
pada sistem perekonomian terutama pada mata pencaharian dan pendapatan pada masyarakat dusun ruamonga. Mata pencaharian keseharian yang sekarang cepat dijangkau yaitu sektor pertanian,
berbeda sebelum bencana alam gempa
bumi dan stunami yang melanda Masyarakat Dusun Ruamonga
Desa Taikako Kabupaten Kepulauan Mentawai, sebagian besar penduduk masyarakat dusun ruamonga bergantung pada sektor nelayan.
Sebelum terjadinya bencana alam gempa bumi
dan tsunami pada tahun 2010 Oktober
Masyarakat dusun ruamonga tersebut berada dikampung lamayang disebut
pulaggaijat siburu (tempat tinggal yang lama) yang berjarak 8 Km dari perkampungan yang sekarang dan kehidupan
penduduk masyarakat dusun ruamonga pada umumnya adalah nelayan.
Mata pencaharian nelayan yang dimiliki masyarakat dusun ruamonga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mencari lopster, swalo. Gurita, namun masih
belum menopang perekonomian masyarakat dusun ruamonga, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja hanya tergantung
pada alam itu sendiri apabila kondisi alam tidak
memunngkinkan maka akan terjadi komplen
dalam pendapatan untuk menafkai keluarga karena tidak memiliki hasil yang tetap.
Namun seiring berjalanya waktu masyarakat dusun ruamonga yang awalnya menekuni pekerjaan sebagai nelayan mendorong dirinya beralih profesi dari nelayan
ke petani pada tahun 2010 sebagai dampak
dari berbagai alasan, salah satunya ialah masalah ekonomi
hasil tangkapan yang tidak mencukupi jika hanya bergantung
harapan pada sektor nelayan. Beberapa referensi dan temuan di lapangan ditemukan terdapat beberapa alasan yang peneliti kategorisasikan sebagai faktor internal dan faktor eksternal perubahan mata pencaharian masyarakat yang diantaranya yaitu hasil tangkapan
yang tidak sesuai harapan sehingga tidap dapat mencukupi
kebutuhan ekonomi, tingkat pendapatan, faktor usia yang semakin tua dan tidak dapat lagi
melakukan aktifitas biasanyan yaitu melaut, tingkat pengetahuan seperti kuarangnya pengetahuan� di bidang perikanan disaat� malakukan aktifitas melaut,� perlengkapan dilihat seperti alat mancing yanghanaya
menggunakan perahu dan pendayung untuk melaut itulah yang membuat masyarakat dusun ruamingah melakukan perubahan mata pencaharian dari nelayan ke
petani, sedangkan faktor eksternal yang membuat masyarakat dusun ruamonga berubah mata pencaharian
dari nelayan ke petani seperti
keadaan alam yang tidak menentu sehingga
tidak dapat melakukan aktifitas malaut karna apabilah
cuaca tidak memungkinkan seperti badai, hujan dan sebagainya maka para pelaut masyarakat dusun ruamonga tidak dapat melakukan
aktifitas tersebut sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup, kurangnya perhatian pemerintah terhadap para nelayan setempat yaitu pada para nelayan masyarakat dusun ruamonga, inovasi pada mata pencaharian yang meningkatkan pendapatan seperti alat angkap
ikan yang lengkap, dan resiko
kerja mang merupakan pertimbangan pada masyarakat dusun ruamonga seperi disaat memalakukan
aktifitas malaut tentunya pasti beresiko sehingga masyarakat dusun ruamonga� barniat untuk melakuan
perubahan mata pencaharian yang dulunya dari nelayan kepetani.
Alasan-alasan tersebut inilah yang membuat masarakat dusun ruamonga melakukan perubahan mata pencaharian nelayan ke petani dan manurunya
tingkat pendapatan serta maningkatnya tinkat kebutuhan hidup. Perubahan mata pencaharian tersebut tentunya melalui suatu proses, ada faktor-faktor yang mempengaruhinya serta akan bardampak pada kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat dusun ruamonga desa taikako
kecamatan sikakap kabupaten kepulauan mentawai.
���������������������������������������������������
METODA PENELITIAN
Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif, karena lebih melihat ada
proses-proses yang terjadi dalam
perubahan mata pencaharian masyarakat. Penelitian ini memerlukan keterlibatan langsung dari peneliti
dalam pengambilan informasi dari para narasumber. Penelitian ini berupaya untuk
menjelaskan, mendeskripsikan
dan memahami secarah menyeluruh terhadap perubahan mata pencaharian Masyarakat yang terjadi
dalam kehidupan Masyarakat
Dusun Ruamonga secara alami dan wajar.
Dalam penelitian ini data dianalisis dengan metode kualitatif.
Moleong (2010), analisis kualitatif tidak mengandalkan rumus buku tetapi lebih
mengandalkan kemampuan peneliti. Ada 4 unsur dalam proses analisi data dalam penelitian yaitu:
1. Pengumpulan
Data
Pengumpulan data adalah pengumpulan
data (catatan lapangan)
yang dilakukan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi yang ada dilapangan.
2. Reduksi
Data (Data Reduction)
Reduksi data merupakan proses merangkum,
memilih hal-hal inti, memfokuskan hal-hal yang penting serta memcarigagasan
dan polanya. Data yang telah
direduksi dapat diberikan sketsa yang lebih jelas dan mempermuda penelitian untuk mengumpulkan data yang
lain, dan mencarainya (Sugiyono,
2017:247)
3. Penyajiandata
display (Data Display)
Penyajian data merupakan
kegiatan yang dapat dilakukan dalam bemntuk uraian singkat, hubungan antara kategori, bagan, flowchart dan lain-lain. Hal yang paring sering untuk menyajikan
data dalam penelitian kualitatif adalah teks yang bersifat naratif (Sugiyono, 2017:249).
4. Penarikan Kesimpulan (Conclusion/Verification)
Penarikan kesimpulan
awal dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, dan akan berubah apabila tidak ditermukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung dalam tahap pengumpulan data yang berikutnya. Tapi apabila kesimpulan awal sudah didukung
oleh data-data yang valid dankonsisten, maka kesimpulan yang dibuat merupakan kesimpulan yang kredibel (Sugiyono, 2017:252).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertama faktor-faktor
yang mempengaruhi perubahan mata pencaharian masyarakat dusun Ruamonga yaitu: faktor yang pertama berkurangnya hasil tangkapan, berdasarkan hasil wawancara terhadap bapak Epipanias (58 Tahun) bawa pendapatan menurut mereka dari dulu sebelum terjadinya bencana gempa dan tsunami memang tidak mencukupi kalau hanya bergantung pada peng hasilan memancing. Hal inilah yang membuat masyarakat berubah mata pencaharian dari nelayan ke petani pisang. Faktor yang kedua adalah masalah usia yang semakin tua yang membuat masyarakat dusun ruamonga berubah mata pencaharian dari nelayan kepetani seperti hasil wawancara terhadap Ibu Kristina sapalakkai (71 Tahun) yang mengemukakan bahwa sebelum terjadinya gempa dan tsunami pekerjaan ibuk tersebut hanyalah memancing dan mengupas lokan dari cangkangnya ha ini diakibakan umur yang semakin tua dan tidak dapat melakukan antifitas jauh. Faktor yang ketiga yaitu kurangnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat dusun ruamonga untuk memberikan bantuan kepada para nelaya masyarakat dusun ruamonga berdasarkan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Bapak Adam (62 Tahun ) bahwa fator perubahan mata pencaharian masyarakat karna dilihat dari kurangnya perhatian pemerintah setempat kepada kami�
seperti pemberian bantuan yang tidak ada yang diberikan pemerintah setempat sehingga kami berniat merubah mata pencaharian kami dari nelayan ke petani pisang. Kemudian faktor yang ke empat adalah resiko kerja�
banyaknya hal yang ditakuti oleh masyarakat dusun ruamonga seperti kejadian yang tidak diinginkan kepada masyarakat dusun ruamonga�
tersebut seperti akan terjadinya ombak yang besar, angin dan hujan yang begitu deras sehingga menimbulkan adanya korban hal inilah yang membuat masyarakat dusun ruamonga berubah mata pencahariannya dari nelayan ke petani�
pisang seperti
hasil wawancara yang dikemukakan oleh Bapak Iskandar (25 Tahun) yaitu menurut kami yang lebih menyenangkan yaitu bertani dibadingkan dengan memancing dilaut karena yang kamni lihat banyaknya hama yang ditakuti disaat melaut seperti terjadinya bombak besar,angin, dan juga hujan. Dari faktor-faktor inilah yang membuat berubanyah mata pencaharian masyarakat dusun ruamonga dari nelayan kepetani pisang. Hal in sama seperti yang n dikemukakan oleh Manalu (2003) dalam Sisca sama-sama
membahas tentang faktor-faktor perubahan mata pencaharian.
����� Kedua Permasalahan� yang di dapati oleh masyarakat dusun ruamonga setelah berubah mata pencaharian dari nelayan kepetani yaitu petani pisang beberapa masalah yang�
peneliti temukan dilapangan ialah
masyakat dusun ruamong kusunya para petani masih banyak kepemikikan lahanyang sempit untuk�
membuka perkebunan baru seperti perkebunan pisang hal ini disebabkan karena : jumlah penduduk semakin lama semakin bertambah karna banyaknya penduduk yang datang tinggal dilokasih tersebut sehingga terjadi penyusutan lahan usaha tani untuk keperluan non pertanian. Permasalah yang kedua yang didapati masyarakat setempat yaitu
keterbatasannya teknologi yang diharapka oleh masyarakat dusun ruamonga dari pemerintah setempat terutamna sebagai besar yang dialami warga dusun
ruamonga yaitu rendahnya pendidikan formal terhadap para petani yang ada di desa taikako
dusun ruamonga sehingga pengetahuan penduduk setempat terbatas seperti keterampilan bertani. Permasalahan
yang keriga
adalah banyaknya para petani masyarakat dusun ruamonga masih memiliki modal yang terbatas sehingga para petani mengalami kesulitan dalam mengembangkan usaha perkebunanya. Permasalahan yang ke empat masalah rendanya pendapatan membuat para petani kususnya masyarakat Dusun Ruamonga belum mampu menciptakan pekerjaan diluar usaha tani pada umumnya petani kecil belum mempunyai kemampuan dan peluang besar untuk melihat keberanian mengambil resiko kerja hal ini dilandasi karna masyarakat masih mempunyai kemampuan yang rendah.
Hal ini sama seperti yang dikemukakan oleh (Pantjar Simastuppang 2003:14-15)
yang sama-sama membahas tentang masalah perubahan mata pencaharian masyarakat.����
����� ������Ketiga Berbicara tentang masalah pendapatan berarti yang membahas tentang hasil yang diperoleh dari usaha baik berupa uang maupun barang. Berdasarkan hasil wawancara yang penelitian bahwa adanya perubahan pendapatan pada masyarkat dusun ruamonga yang telah berubah mata pencaharian dari nelayan ke petani pisang. Pendapatan masyarakat pada umumnya sebelum terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami yaitu perharinya pendapatan masyarakat adalah Rp.250.000 hasil dari penjualan ikan hal ini yang membuat masyarakat merubah mata pencahariannya dari nelayan ke petani namun setelah berubahnya mata pencaharian masyarakat dusun ruamonga yang sekarang yaitu sebagai petani pisang dari sanalah terjadinya perubahan hasil pendapatan yang dulunya pendapatan masyarakat perharinya ialah Rp.250.000 sekarang menjadi Rp.600.000 sampai dengan 1.200.000/hari dilihat
dari sektor penjualan pisang yang begitu banyak seperti hasil wawancara yang dikemukakan olek Ibu Mersa Samaloisa (46 Tahun ) yaitu : Sebelum kami merubah mata poencaharian kami pendapatan yang kami terima dalam satuhari ialah Rp.250.000 inilah pendaptan yang kami terima sebelum terjadinya bencana gempa dan tsunami setelah berubahnya mata pencaharian kami yang sekarang yaitu bertani pisang pendaptan yang kami terima perharinya ialah Rp.600.000 hingga sampai Rp.1.200.000 perharinya ianilah yang membuat kami berubah mata pencaharian dari nelayan ke petani
Menurut dalam Wati (2013) yang menjelaskan bahwa pendapatan adalah semua barang dan jasa dan juga uang yang diterima oleh seseorang atau golongan masyarakat dalam waktu tertentu.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang peneliti laksanakan dilapangan, Maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1.
Pada dasarnya pekerjaan Masyarakat Dusun
Ruamonga� hanyala memancing mengupas lokan dari cangakangnya karena mata pencaharian
tidak ada lagi, itu sebelum
terjadinya gempa dan memang� dari dahulu sebelum
terjadinya gempa dan
tsunami mata pencaharian masyarakat Dusun Ruamonga� ialah hanya melaut setiap
hari tetapi begitu banayaknya biaya yang dikeuarkan untuk membeli alat
tangkapan dilaut�� namun hasil tangkapan tidak sesuai dengan
banayaknya biaya dan semenjak sesudah terjadinya gempa dan tsunami merubah mata pencaharian
karna menurut
masyarakat dusun Ruamonga� dengan berubahnya mata pencarian tersebut sudah sangat mempermuda kehidupan� masyarakat setempat.
2.
Pernasalahan perubahan mata pencaharian masyarakat dusun ruamonga karena masih sulit mendapatkan
bantuan kapal, dari dulu sampai
sekarang, semua masyarakat dusun ruamonga yang kususnya nelayn masi belum
mempunyai atau mendapatkan asuransi jiwa, kurangnya keungangaan yang dipakai untuk permodalan untuk oprasional melut contonya perlengkapan lauat� yang digunakan masyarakat dusun ruamonga yaitu sampan, pendayung dan alat pancing yang tidak memadai, kurangnya pengetahuan mengenai pemanfaatan pendapatan untuk mengembangkan usaha, banyaknya sektor penagkapan ikan yang dimasuki oleh orang asaing sehingga hasil yang didapatkan masyarakat dusun ruamonga tidak begitu banyak,
penyimpanan dan pengelolaan,
dimana informasi kapasitas penyimpanan pendingin masih terbtas seperti yang digunakan masyarakat dusun ruamonga yaitu hanya polipom
kecil yang di isi batu ES.
3.
Pendapatan yang didapat oleh masyarakat setempat sehingga mereka merubah mata pencahariannya
dari nelayan ke petani seperti
masalah pendapatan dari hasil tangkapan
Gurita yang dulu harganya 1 ekor Rp. 70.000 sekarang menurun menjadi Rp.30.000 dapun harga penjualalan lain seperti harga 1kg udang (lopster) yang dulunya Rp.250.00/kg sekarang menjadi Rp.150.000. hal ini diakibatkan karena telah banyaknya
masyarakat lain yang melakukan
penjualan udang dan gurita yang mati sehinngga� sektor penjualan masyarakat dusun ruamonga menurun dan ada� hal lain yang menbuat masyarakat dusun ruamonga merurubah mata pencahariannya dilihat dari hasil
pendapatan di bidang pertanian seperti penjualan pisang yang dulunya harga 1 tandan piasang adalah Rp. 30.000 tetapi sekarang sesudah terjadinya bencana pada tahun 2010 harga psang semakin lama semakin naik yaitu 1 tandan dihargai Rp. 90.000 sampai dengan Rp.150.000/tandan. Hal mengakibatnya
tingkat penjualan pisang
naik karena telah banyaknya pembeli pisang dari luar dan yang memberikan harga yang tinggi terhadap masyarakat dusun ruamonga.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Sulistiyono, S. M.
(2015). Trasformasi Mata Pencaharian Dari Petani kenelayan Dipantai Depok Desa
Parangtritis Kabupaten Bantul. Julnal
Geoco, Vol 1, No 2, Juli 2015, 234-149.
Falentina Wijayanto, O. S.
(2017). Perubahan Mata Pencaharian Dan Proses Adaptasi Warga Terkena Dampak
Pembanagunan Waduk Jatigede. Indonesia
Jurnal Of Antropologi, Vol 2 (2) Desember 2017, 66-77.
Febrianti, E. P. (2017).
Perubahan Mata Pencaharian Generasi Muda Di Desa Girirejo Kecamatan Tempuran
Kabupaten Magelang . Skripsi Jurusan Sosiologi Dan Antropologi , 1-114.
Hafis, A. (2017). Perubahan
Mata Pencaharian Masyarakat Dari Petani Ke Pengrajin Batu Bata Di Dusun Dasan
Baru Desa Lenek Daya Kecamatan Aimel Dalam Tinjauan Ekonomi. Jurnal
Pendidikan IPS Ekonomi, Vol XVII April 2017, 1-20.
Hardiana Mutmaina, D. W.
(2016). Tsunami Mentawai 25 Oktober 2010 Dampaknya Kini Terhadap Pantai Barat
Mentawai. Jurnal Kelauatan, Vol 9, No.2, Oktober 2016, 175-195.
Harefa, I. (2017).
Perubahan SosialEkonomi Masyarakat Desa Muara Taikako Kecamatan Sikakap
Kabupaten Kepulauan Mentawai Pasca Relokasi . Skripsi program StudiPendidikan
Siologi , 21-35.
Miftahuljanna, A. M.
(2021). Peralihan Mata Pencaharian Orang Bajo Dari Nelayan Menjadi Buru
Pabrik. Jurnal Sosil Dan Budaya, Vol 5, No 1, Juni 2021, 31-44.
Purwati, G. (2018). Faktor
Penyebab Perubahan Mata Pencaharian Masyarakat Petani Kopi Menjadi Petani
Sayuran . Jurnal Vakultas keguruan Dan Ilimu Pendidikan , 1-15.
Ridha, A. (2017). Analisis Fakto-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan
Nelayan Dikecamatan Ide Rayeuk. Jurnal Samudesa Ekonomi Dan Bisnis, Vol 8,
NO1, Januari 2017, 646-652.
Saliman, W. (2019).
Perubahan Mata Pencarian Petani Pala Menjadi Nelayan Dalam Meningkatkan Status
Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Bender . Skripsi Jurusan Sosiologi ,
1-75.
Septiana, T. C. (2013).
Leason Learnet Peralihan Mata Pencaharian Masyarakat Sebagai Ketahanan
Terhadap Perubahan Iklim Kelurahan Mangunharjo. Jurnal Wilayah Dan
Lingkungan, Vol 1 No 2, Agustus 2013, 123-140.
Yuwono, D. B. (2019).
Pergeseran Mata Pencaharian Dan Pudarnya Ritual Syukur Laut Pada Masyarakat
Nelayan Bugis Di Sungai Liat Bangka. Jurnal Al-Qalam, Vol 25 Desember 2019,
1-13.