ANALISIS SEISMISTAS WILAYAH KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI
BERDASARKAN DATA GEMPA BUMI PERIODE 2011-2021
Tegar Ilham Rianata Putra1,
Erna Juita2, Afrital Rezki3
Program Studi
Pendidikan Geografi,Fishum Universitas PGRI Sumatera Barat
rianataputra24@gmail.com, [email protected], [email protected]
|
Riwayat Artikel: Received: 13-10-2022 Revised: �27-10-2022 Accepted: 08-11-2022 Keywords: Seismistas, Spatial
Distribution Kata Kunci: Seismistas, Spasial,� Distribusi |
|
Abstract: The purpose of this study was
to find out and analyze the seismic analysis of the
Mentawai Islands Regency area based on earthquake data for the period
2011-2021. This study uses a quantitative research type. The population in
this study is the entire administrative area of the Mentawai
Islands Regency and the sample. This study is total sampling, total sampling
is a sampling technique where the number of samples is the same as the
population. The final result of this research is the administrative area of
the Mentawai Islands Regency. 1) The seismicity level for the
Mentawai Islands Regency Administration which is produced using the fractal
method obtained in 2011-2021 is prone to earthquakes, which is quite a lot so
that it is an area with an earthquake-prone category.2 ) The level of
seismicity for the Mentawai Islands Regency Administrative area generated
using the empirical method is obtained in the Mentawai region with an
earthquake period from 2011 to 2021 with calculations that have been carried
out data processing, the Mentawai region from 2011-2021 is in the medium
category. 3) In determining the level of seismicity in an area using two
methods, namely the Fractal method and the empirical method after being
calculated using the Likehold function method so
that the highest a-value results occur in 2019 of 4.344 and the lowest
a-value is 2, 776 and the highest b-value occurred in 2017 with a b-value of
0.650 and the lowest in 2012 with a value of 0.382. Both methods were
obtained in the same area, namely the Mentawai Islands Regency Administration
area which has moderate seismicity against earthquakes. or earthquake-prone
areas. 4) In determining the distribution of seismic points using the argis map, map-making processing is carried out by
determining the location of earthquake occurrences by taking latitude and longtitude using absolute x and y, X = Latitude and Y = Longtitude then the earthquake point will appear on its
own on the administrative map of the Mentawai Islands Regency as shown in
Figures 7 to 10. Abstrak:
Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis tentang analisis seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai berdasarkan data gempa bumi periode
tahun 2011-2021. Penelitian
ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini seluruh wilayah administrasi kabupaten kepulauan mentawai dan sampel Pada penelitian ini adalah adalah total sampling, total sampling adalah teknik pengambilan
sampel dimanan jumlah sampel sama dengan populasi. Hasil
Akhir penelitian ini adalah wilayah administrasi kabupaten kepulauan mentawai.1)Tingkat seimisitas untuk wilayah Administarasi Kabupaten Kepulauan Mentawai yang dihasilkan
dengan menggunakan metode fraktal diperoleh tahun 2011-2021 rentan terhadap gempa bumi, yang cukup banyak sehingga merupakan daerah dengan kategori rawan gempa bumi.2)Tingkat seimisitas
untuk wilayah Administarai
Kabupaten Kepuluan
Mentawai yang dihasilkan dengan
menggunakan metode empiris diperoleh pada wilayah mentawai dengan periode gempa bumi dari tahun
2011 sampai 2021 dengan perhitungan yang telah dilakukan pengolahan data maka daerah wilayah mentawai dari tahun 2011- 2021 dengan kategori sedang.3)Dalam menentukan tingkat seismisitas di suatu wilayah dengan menggunakan dua metode yaitu
baik dengan metode Fraktal� dan metode empiris setelah dihitung dengan menggunakan metode fungsi likehoold sehingga diperoleh hasil nilai a-value tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 4,344 dan nilai a-value terendah 2,776
dan nilai b-value paling besar
terjadi pada tahun 2017 dengan nilai b-value sebesar 0,650 dan paling rendah
pada tahun 2012 dengan nilai 0,382� kedua metode diperoleh di wilayah yang sama yaitu wilayah Administarsi Kabupaten Kepulauan Mentawai
yang memiliki seismisitas
yang sedang terhadap terjadinya gempa bumi atau daerah
rawan gempa.4)Dalam Menentukan persebaran titik seismistas dengan menggunakan argis map, pengolahan pembuatan peta dilakukan dengan cara menentukan titik lokasi kejadian gempa bumi dengan yang di ambil latitude dan longtitude
yang di buat dengan mengdunakan
absolut x dan y, X = Latitude dan Y= Longtitude maka titik gempa bumi
akan muncul sendiri di peta administrasi Kabupaten Kepulauan mentawai seperti pada gambar 7 sampai gambar 10. |
Corresponding Author:
Tegar Ilham Rianata
Putra�
E-mail:
rianataputra24@gmail.com
Pendahuluan
Kepulauan Mentawai merupakan bagian dari Pulau Sumatera yang terdapat dua lempeng
tektonik yang aktif. Kedua lempeng tektonik
tersebut yaitu lempeng Indo-Australi menunjam ke arah
lempeng Eurasia dan menimbulkan
zona subduksi Sumatera yang banyak
menimbulkan kejadian gempabumi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui sesar gempa ditinjau dari besarnya magnitudo
dengan menggunakan metode focal mechanism studi kasus gempa pada periode 2010-2016 dengan menggunakan Metode focal
mechanism merupakan metode untuk menentukan bidang sesar yang dihasilkan oleh kejadian gempa dengan memanfaatkan
gerak awal gelombang P. Gerak awal gelombang P berupa gaya kompresi
ataupun dilatasi. Selain dengan metode
focal mechanism, dalam penelitian
ini juga dibuat cross
section gempa dengan luasan daerah tertentu
yang bertujuan untuk mengetahui indikasi gempa yang terjadi merupakan gempa pada daerah lempeng tektonik. Hasil solusi focal
mechanism untuk data gempa bermagnitudo ≥ 6.0 Mw rata-rata gempa
menghasilkan sesar naik
(thrust/reverse) dengan beberapa
nilai kemiringan tertentu. Sedangkan hasil dari cross section gempa menunjukkan sebaran hiposenter gempa yang cenderung menunjam. Kejadian ini adalah indikasi
bahwa lokasi gempa-gempa tersebut merupakan tempat lempeng yang menunjam dan ketika dihubungkan dengan hasil focal mechanism juga
menunjukkan kecenderungan sesarnya adalah sesar naik dengan beberapa nilai kemiringan� tertentu (Naim et al., 2018: 6)����
Seismisitas merupakan
ukuran untuk membandingkan aktifitas seismik suatu daerah
dengan daerah lain. Untuk mengetahui distribusi zona-zona gempa aktif atau pola
aktifitas kegempaan berdasarkan analisis hubungan frekuensi-magnitudo dapat diperoleh dengan cara menggambarkan
pola sebaran
parameter-parameter seismisitas a & b serta periode ulangnya,
dan melakukan pemetaan kegempaan untuk mengklasifikasikan suatu daerah dengan daerah
lain berdasarkan parameter-parameter seismisitas terutama magnitudo atau energi dan distribusinya di atas permukaan bumi dan di bawah permukaan bumi. Pada umumnya geografi distribusi gempabumi. (Budi, 2017: 109�115)
Dalam kaitan dengan kepentingan manusia, studi dan analisis kegempaan ini diharapkan dapat memberikan informasi penting dalam usaha penyelamatan
jiwa dan penanggulangan bahaya akibat gempa
bumi. Untuk tujuan ini maka
informasi mengenai
parameter-parameter di atas sangat diperlukan. Zona-zona seismik aktif yang ditinjau berdasarkan parameter-parameter seismisitas
diharapkan dapat memberikan alokasiatau pemetaan yang eksak mengenai aktifitas kegempaan pada daerah seismotektonik secara seismologis. Seismisitas menyatakan ukuran untuk membandingkan aktifitas seismik atau pola aktifitas
seismik suatu daerah dengan daerah
lain. Untuk melihat pola aktifitas ini dapat dilakukan
dengancara kualitatif dan cara kuantitatif. Pengamatan pola aktifitas secara kuantitatif dapat dilakukan dengan menganalisis berbagai besaran gempa dengan
menggunakan statistik. Besaran- besaran tersebut di antaranya adalah intensitas, energi, dan hubungan frekuensi kejadian denganmagnitude gempa. (Guntenberg 1942 ).
�Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 14 Maret 2022 di Instansi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Padang
Panjang bahwa dalam rentang 2010 sampai 2021 terjadi sebanyak 1.268 Gempa Bumi di wilayah kabupaten Kepuluan Mentawai.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu sebuah metode penelitian
yang memanfaatkan data kualitatif
dan dijabarkan sejara deskriptif. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif kerap digunakan untuk menganalisis kejadian, fenomena, atau keadaan secara sosial dan Data kuantitatif yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah data hasil pengamatan (observasi) dan data dokumen berupa peta dan citra satelit. Dengan demikian teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan teknik
observasi.
Pengumpulan data
Data yang diperoleh dari BMKG Padang Panjang kemudian
diolah di Ms. Excel yang bertujuan
merapikan data sekunder dan
menyusun Format yang telah sesuai akan disalin
ke notepad untuk disimpan dengan format .dat
Analisis data
a.
Analisis Metode Fraktal
dan Metode Empiris
Metode fraktal
dan metode empiris dalam anlisis seismistis
wilayah Kabupaten Kepulaan Mentawai :
1.Metode Fraktal
������� Berdasarkan penelitian sebelumnya
digunakan metode fraktal dengan perhitungan menggunakan fungsi likelhoold, metode ini digunakan
untuk dilakukan perbandingan dengan metode empiris, Grafik hubungan antara Log (N) dan m.
2. Metode Empiris
�������������� Menerut Guttenberg, B,, Richter, (1944)� Dengan metode empiris untuk mengetahui
tingkat seismisitas di suatu wilayah khususnya wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai yang
menjadi tempat penelitian. b�value adalah
konstanta yang dikenal dengan parameter tektonik atau struktur material suatu wilayah sedangkan a�value
adalah konstanta yang dikenal dengan nilai seismisitas.
�a. Perhitungan nilai a�value dan b�value Untuk masing�masing kelompok data
akan dicari hubungan nilai dan b valuenya. Persamaan yang dipakai adalah yang dirumuskan oleh fungsi Likelihood berdasarkan
persamaan Guttenberg-Richter sebagai berikut:
Untuk menentukan nilai
b-value menggunakan persamaan
di bawah ini:
������
Dimana
:
b = Variabel Tektonik
Log e �= logaritma euler (0,4343)
Untuk menentukan nilai a-value menggunakan persamaan di bawah ini
Keterangan :
� a ,b : Konstanta
�log e :
Bilangan euler (0,4343)
N : Jumlah gempa
bumi dengan
M�� : Magnitudo
rata�rata (SR)
M����� : Magnitudo
minimum (S)
3. Distribusi Spasial tingkat seisimistas
wilayah Mentawai
������������ Dalam
Penentuan Distribusi spasial seismistas maka akan digunakan analisis tentangga
terdekat , sebagai berikut :
Keterangan :
T = Indeks penyeberan tetangga terdekat
Ju = jarak yang di ukur antara satu titik dengan titik
tetangganya yang terdekat
Jh =� jarak yang
diperoleh andai semua titik mempunyai pola random
Jh =�
P = Kepadatan�
dalam tiap Km2
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
1. Tingkat seismisitas wilayah Mentawai dengan
menggunakan metode fraktal
����������� a. Grafik
Tingkat Seismistas Wilayah Mentawai
�����������
Tingkat Seismistas wilayah administrasi
Kabupaten Kepulauan
Mentawai� memiliki
aktivitas seismisik yang sedang, sehingga membuat struktur tektoknik nya rumit
yang bisa meyebabkan patahan terhadap lempang ketika terjadi yang cukup tinggi dan sering berulang- ulang dari itu bisa
dilihat dari nilai a�value yang menyatakan
tingkat seisimsitas di suatu wilayah yang membuat daerah tersebut cukup rawan akan
terjadinya gempa bumi yang bermagnitudo rendah yang terjadi terus-menerus dan gempa sedang yang sering terjadi� sehingga menmbulkan gempa dengan magnitudo
di atas 5 SR terjadi yang akan menyebabkan dampak yang cukup tinggi baik segi
harta benda maupan nyawa manusia
itu tersebut , karena tingkat seismisitas di suatu wilayah
salah satu parameter dari nilai a� valuenya
dan terlihat pada Tabel 1 bahwa
Tabel 1 Nilai a-Value atau Tingkat Seismistas Di setiap Tahunya
|
No |
Tahun |
a-value |
|
1 |
2011 |
3,486 |
|
2 |
2012 |
2,776 |
|
3 |
2013 |
3,11 |
|
4 |
2014 |
3,538 |
|
5 |
2015 |
3,093 |
|
6 |
2016 |
3,368 |
|
7 |
2017 |
3,881 |
|
8 |
2018 |
4,195 |
|
9 |
2019 |
4,344 |
|
10 |
2020 |
3,413 |
|
11 |
2021 |
3,622 |
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
�Berdasrkan tabel 4.1 di atas bahwa nilai a-value pada wilayah admnistrasi kabupaten kepulauan mentawai memiliki nilai yang cukup tinggi pada periode 11 tahun terakhir adalah Seluruh� wilayah Administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai. Hal tersebut didukung oleh hasil yang diperoleh untuk nilai a�value yang menghasilkan
wilayah yang memilki tingkat
seismisitas yang tinggi dengan Nilai 4,344
�������� Grafik jumlah kejadian
gempa terhadap magnitudo dengan metode fraktal dapat dilihat pada gambar Tingkat seismisitas untuk seluruh wilayah Administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai dapat di lihat gambar 7, berdasarkan distribusi frekuensi magnitudo diperoleh nilai a-value
dan b-value yang bervariasi dimana nilai tersebut
diperoleh dengan cara menginput seluruh data kejadian gempa kedalam Mc.Excel
lalu dilakuan perhitungan dengan 2 metode fumgsi likehold
maka akan diperoleh output kedalam� grafik sebagai berikut:
������������� Grafik� 2 : Grafik
Nilai a-value tingkat seismistas
wilayah Mentawai
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
����������������� Berdasarkan
Grafik 2 di atas merupakan tingkatan seismistas dari tahun ke tahunya
yang berada di wilayah administrasi
kabupaten kepulauan mentawai, Pada grafik di atas memlikik tingkat
seimistas yang berbeda di setiap tahun nya
dengan nilai paling tinggi berada pada tahun 2019 dengan nilai a-valeu nya
4,344
Grafik 3 : Grafik
Nilai b-Value tingkat Seismistas
wilayah Mentawai
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
�������� Berdasarkan Grafik 3 di atas merupakan nilai b-value tingkat seismistas wilayah administarasi kabupaten kepulauan mentawai, Pada grafik di atas merupakan nilai b-value dari tahun 2011-2021 yang memiliki oerdedan di setiap tahunya nilai b-value tertinggi terjadi pada tahun 2017 dengan nilai b-valuenya 0,65
����������� Berdasarkan
grafik hubungan antara jumlah kejadian
gempa dengan magnitudo untuk penelitian wilayah Administrasi kabupaten Kepulauan Mentawai maka dapat dilihat
pada tabel 5 di bawah ini adalah besarnya
nilai MC atau kelemahan magnitudo di setiap tahun- ketahun
di wilayah administrasi Kabupaten
Kepulauan Mentawai sebagai berikut:
Tabel 4 Nilai MC atau Kelemahan Magnitudo di setiap tahun
|
NO |
Tahun |
Nilai MC |
|
1 |
2011 |
2,7 SR |
|
2 |
2012 |
2,1 SR |
|
3 |
2013 |
2,5 SR |
|
4 |
2014 |
2,7SR |
|
5 |
2015 |
2,6SR |
|
6 |
2016 |
2,7SR |
|
7 |
2017 |
2,8SR |
|
8 |
2018 |
2,7SR |
|
9 |
2019 |
1,9SR |
|
10 |
2020 |
2,5SR |
|
11 |
2021 |
2,5SR |
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
��������� Pada tabel
4 di atas, diperoleh nilai MC (Magnitude Completeness) yang bervariasi. MC (Magnitude Completeness) atau kelemahan magnitudo adalah magnitudo yang dominan terjadi di suatu wilayah, dari Tabel di atas
MC yang paling tinggi berada
di Tahun 2017 dengan 2,8 SR
dan MC terjadi Pada Tahun
2019 dengan 1,9 SR. Keadaan
tersebut menunjukan bahwa gempa dengan
skala tersebut lemah terjadi pada wilayah penelitian tersebut. MC merupakan suatu parameter yang berpengaruh dalam menentukan seimisitas di suatu wilayah.
2. Tingkat seismisitas
wilayah Mentawai dengan menggunakan
metode empiris
������ a. Grafik hubungan antara jumlah kejadian gempa dengan magnitudo
Tabel 5.Kejadian Gempa Bumi Wilayah Kabupaten Kepuluan Mentawai
|
No |
Tahun Kejadian
Gempa |
Jumlah Gempa |
|
1 |
2011 |
129 kali gempa |
|
2 |
2012 |
106 kali gempa |
|
3 |
2013 |
91 kali gempa |
|
4 |
2014 |
67 kali gempa |
|
5 |
2015 |
54 kali gempa |
|
6 |
2016 |
71 kali gempa |
|
7 |
2017 |
77 kali gempa |
|
8 |
2018 |
187 kali gempa |
|
9 |
2019 |
213 kali gempa |
|
10 |
2020 |
149 kali gempa |
|
11 |
2021 |
124 kali gempa |
|
Total |
1.268 kali gempa |
|
Sumber : Data Gempa
Bumi BMKG tahun 2011-2021
�������� Pada Tabel 5
merupakan jumlah kejadian gempa bumi di wilayah administrasi kabupaten kepulauan mentawai berdasrakan periode waktu tahun
2011-2021 yang terjadi sebanyak
1.268 kali gempa bumi baik gempa kecil,
sedang maupun besar.
Untuk menentukan hubungan jumlah kejadian gempa dengan magnitudo terlebih dahulu dilakukan pengambilan data sekunder di BMKG, kemudian dilakukan pengelompokkan data gempa berdasarkan magnitudo dan jumlah gempanya dan input ke Ms.
Excel sehingga diperoleh
grafik seperti dibawah ini:
Grafik 6: Grafik kejadian gempa
bumi Tahun 2011-2021
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
������� Grafik 4.6 di
merupakan jumlah kejadian gempa bumi di seluruh wilayah administrasi kabupaten kepulauan mentawai berdasarkan periode data gempa bumi tahun
2011-2021 yang di peroleh dari
badan metorologi, klimatologi,
dan Geofisika Padang panjang
Tabel
7 : Grafik Magnitudo Gempa Bumi tahun 2011-2021 di Mentawai
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
����� Grafik 7 merupakan Jumlah Kejadian Magnitudo gempa bumi di wilayah Administrasi Kabupaten Kepulauan Mentawai dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2021 yang memliki jumlah kejadian gempa bumi sebanyak 1.268 kali kejadian gempa bumi dari grafik
di atas memiliki 3 warna yang di bagi menjadi 3 macam magnitudo yaitu 1. Yang berwarna hijau merupakan mangnitudo 1,9 SR-3,0
SR yang bermagnitudo kecil,
2. yang berwarna kuning adalah magnitudo 3,1 SR -5,0 SR
yang bermagnitudo sedang, 3
yang berwarna merah adalah Magnitudo 5.1 SR- 6.5 SR
yang bermagnitudo lumayan besar.
���������� Nilai a�value dan b�value
diperoleh dengan menggrid data gempa
pada aplikasi Arcgis
lalu data gempa di masukkan ke Ms.excel digunakan� untuk memperoleh nilai a�value
dan b�value sebagai berikut :
Tabel 8 Tingkat seismistas
Berdasarkan� Nilai a-value dan
b-value
|
Tahun |
a-value |
b-value |
|
2011 |
3,486 |
0,491 |
|
2012 |
2,776 |
0,382 |
|
2013 |
3,11 |
0,452 |
|
2014 |
3,538 |
0,586 |
|
2015 |
3,093 |
0,50 |
|
2016 |
3,368 |
0,530 |
|
2017 |
3,881 |
0,650 |
|
2018 |
4,195 |
0,648 |
|
2019 |
4,344 |
0,425 |
|
2020 |
3,413 |
0,480 |
|
2021 |
3,622 |
0,568 |
Sumber : Data BMKG Tahun 2011-2021
������������ Pada tabel
8 merupakan nilai a-value
dan b-value dari data gempa
bumi periode tahun 2011-2021 di wilayah Administarasi
kabupaten kepulauan mentawai yang di peroleh dari BMKG padang panjang dan dilakukan pengolahan dengan menggunakan metode fungsi likelhoold maka di hasilkan nilai a-value dan b-value nilai a
value paling besar terjadi
pada tahun 2019 sebesar
4,344 dan nilai b-value terbesar
terjadi pada tahun 2017 sebesar 0.650
3. Pola Distribusi Spasial Wilayah Mentawai Dengan Menggunakan Metode tetangga terdekat
����������� Distribusi spasial bisa dianalisis Sistem Informasi Geografi, yaitu sebuah program yang dibuat untuk melihat, mencari, memanipulasi dan mengenalisis semua jenis data geografi. Persebaran lokasi industri,
asal daerah penghasil bahan baku dan daerah jangkauan pemasaran dapat dipetakan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Distribusi dapat diartikan dengan persebaran. Persebaran yang dimaksud adalah posisi lokasi yang terletak di suatu tempat dengan keadaan
tertentu. Pada dasarnya jenis sebaran ada
tiga macam, 1) mengelompok (cluster),
2) acak (random),
3) teratur (reguler).
�������� Dalam mencari pola
persebaran titik seismistas di wilayah administrasi
kabupaten kepulauan mentawai menggunakan arcgis map yang menggunakan spasial statistik tools dengan rumus Avarege
Nearest Neighbor setelah itu akan mengeluarkan
hasil dengan langsung maka dapat
di lihat pada gambar 10 sehingga dapat dilihat pola persebaran
titik seismistas wilayah administrasi kabupaten kepulauan Mentawai dari rentang tahun 2011-2021 yaitu secara mengelompok
(cluster).
��������� Persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai yang diolah dari data yang di dapat dari instansi
badan meteorlogi, klimatologi
dan geofisika padang panjang yang diolah menjadi peta titik
seismistas menggunakan absolout variabel X dan Y sehingga akan muncul
titik koordinat sesuasi titik seismistas
gempa bumi yang sesuia dengan data.
����� nearest neighbor
analysis merupakan suatu
metode dimana jarak sembarang ke tetangga terdekat
dalam suatu pola acak M titik.
Teknik perhitungan didasarkan
pada perbandingan antara
rata-rata jarak tetangga terdekat(M), hasil perhitungan dengan nilai harapan rata-rata jarak tetangga terdekat (T), yang diturunkan dari asumsi bahwa
pola titik dibangkitkan dari proses acak dan bebas (Nearest neighbor
analysis merupakan sebuah
metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan suatu pola penyebaran,
apakah berpola seragam (uniform),
acak (random),
atau mengelompok (cluster).������
�� Nearest
neighbor analysis dalam
perhitungannya mempertimbangkan
jarak, jumlah titik lokasi penyebaran,
dan luas wilayah, hasil akhir analisis ini berupa indeks
tetangga terdekat (T) yang nilainya berkisar antara 1,9 sampai 6,5 SR. Korelasi didefinisikan sebagai hubungan dua peubah atau
lebih. Pada analisis korelasi tidak didasarkan pada definisi \yang tegas
tentang peubah bebas (X) peubah terikat (Y), kedua dapat bertukar tempat dan bersifat acak.
������ Pada Gambar� di atas merupakan peta persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai pada tahun 2011-2013, Dalam rentang tahun 2011-2013� terjadi 326 kali kejadian gempa bumi di wilayah kepulauan kabupaten kepulauan mentawai dengan mangnitudo terbesar terjadi pada 14-september-2012 dengan
6,1 SR dalam menentukan pola persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai dengan menggunakan rumus tertangga terdekat maka persebaran titik seismistas wilayah mentawai dengan nilai sebesar -15.210272 dan nilai rasio tetangga terdekatnya 0.400692 sehingga pesebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepuluan mentawai memilik
pola Menggelompok
(Cluster). Dengan menggunakan
rumus tetangga terdekat dapat� lihat
pada gambar di bawah, pesebaran titk seismistas dalam rentang tahun 2011- 2013 di
wilayah administrasi kabupaten
kepulauan mentawai seperti yang� tampilkan pada gambar di bawah dengan menggunakan
rumus tetangga terdekat.�����
���������������
Gambar 10 : Pola Persebaran
Seismistas Tahun 2011-2013
Pada Gambar� di atas merupakan peta persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai pada tahun 2014-2016, Dalam rentang tahun
2014-2016� terjadi
129 kali kejadian gempa bumi di wilayah administrasi kepulauan kabupaten kepulauan mentawai dengan mangnitudo terbesar terjadi pada
01-juni-2016 dengan 6,5 SR dalam
menentukan pola persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai dengan menggunakan rumus tertangga terdekat menperoleh nilai -15.044589
dan rasio tetangga terdekat 0.607285 maka persebaran
titik seismistas wilayah mentawai memilik pola Menggelompok(Cluster). Dengan menggunakan rumus tetangga terdekat dapat� lihat
pada gambar di bawah, pesebaran titk seismistas pada rentang tahun 2014- 2016 di wilayah administrasi
kabupaten kepulauan mentawai seperti yang di tampilkan pada gambar di bawah dengan menggunakan
rumus tetangga terdekat.� Titik pada Peta Terbagi atas 3 jenis yaitu
titik Seismistas warna Hijau magnitudo 1.9 SR sampai 3,0 SR, Titik yang berwarna Orange mangnitudo 3.1 SR
sampai 5.0 SR dan rtitik persebaran Seismistas dengan warna Merah merupakan magnitudo 5.1 SR sampai 6.5 SR
������������������������
������������������������� Gambar 12 :Pola Persebaran Seismistas 2014-2016
Pada Gambar� di atas merupakan peta persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai pada tahun 2017-2019, Dalam rentang tahun 2017-2019� terjadi 477 kali kejadian gempa bumi di wilayah kepulauan kabupaten kepulauan mentawai dengan mangnitudo terbesar terjadi pada 18-juni-2018 dengan
5,8 SR dalam menentukan pola persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai dengan menggunakan rumus tertangga terdekat dapat di peroleh nilai sebasar -10.18 9187 dengan rasio tetangga terdekat 0.611555 maka persebaran
titik seismistas wilayah mentawai memilik pola Menggelompok(Cluster). Dengan menggunakan rumus tetangga terdekat dapat� lihat
pada gambar di bawah, pesebaran titk seismistas pada rentang tahun 2017- 2019 di wilayah administrasi
kabupaten kepulauan mentawai seperti yang di tampilkan pada gambar di bawah dengan menggunakan
rumus tetangga terdekat.���� Titik pada Peta Terbagi atas 3 jenis yaitu
titik Seismistas warna Hijau magnitudo 1.9 SR sampai 3,0 SR, Titik yang berwarna Orange mangnitudo 3.1 SR
sampai 5.0 SR dan rtitik persebaran Seismistas dengan warna Merah merupakan magnitudo 5.1 SR sampai 6.5 SR
�����������������������
Gambar 14 :Pola persebaran Seismistas 2017-2019
Pada Gambar� di atas merupakan peta persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai pada tahun 2020-2021, Dalam rentang tahun
2020-2021� terjadi
273 kali kejadian gempa bumi di wilayah kepulauan kabupaten kepulauan mentawai dengan mangnitudo terbesar terjadi pada 17-November-2020 dengan
6,3 SR dalam menentukan pola persebaran titik seismistas wilayah kabupaten kepulauan mentawai dengan menggunakan rumus tertangga terdekat maka di peroleh nilai tetangga terdekatnya sebesar -16.974279 dan rasio tetangga terdekatnya 0.422430 sehingga persebaran titik
seismistas wilayah mentawai
memilik pola Menggelompok(Cluster). Dengan menggunakan rumus tetangga terdekat dapat� lihat pada gambar di bawah, pesebaran titk seismistas pada rentang tahun 2020- 2021 di wilayah administrasi
kabupaten kepulauan mentawai seperti yang di tampilkan pada gambar di bawah dengan menggunakan
rumus tetangga terdekat.���� Titik pada Peta Terbagi atas 3 jenis yaitu
titik Seismistas warna Hijau magnitudo 1.9 SR sampai 3,0 SR, Titik yang berwarna Orange mangnitudo 3.1 SR
sampai 5.0 SR dan rtitik persebaran Seismistas dengan warna Merah merupakan magnitudo 5.1 SR sampai 6.5 SR
������������������������
���������� Gambar 16 : Pola Persebaran tahun 2020-2021
Kesimpulan
�� Berdasarkan
hasil pengolahan data, maka dapat disimpulkan
hasil penelitian sebagai berikut:
1.
Tingkat seimisitas untuk wilayah Administarasi Kabupaten Kepulauan Mentawai yang
dihasilkan dengan menggunakan metode fraktal diperoleh tahun 2011-2021 rentan terhadap gempa bumi, yang cukup banyak sehingga merupakan daerah dengan kategori rawan gempa bumi.
2.
Tingkat seimisitas untuk wilayah Administarai Kabupaten Kepuluan Mentawai yang dihasilkan dengan menggunakan metode empiris diperoleh pada wilayah mentawai dengan periode gempa bumi
dari tahun 2011 sampai 2021 dengan perhitungan yang telah dilakukan pengolahan data maka daerah wilayah mentawai dari tahun
2011- 2021 dengan kategori sedang.
3.
Dalam menentukan tingkat seismisitas di suatu wilayah dengan menggunakan dua metode yaitu
baik dengan metode Fraktal� dan metode empiris setelah dihitung dengan menggunakan metode fungsi likehoold sehingga diperoleh hasil nilai a-value tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 4,344 dan nilai a-value terendah 2,776 dan nilai b-value paling besar terjadi pada tahun 2017 dengan nilai b-value sebesar 0,650 dan paling rendah
pada tahun 2012 dengan nilai 0,382� kedua metode diperoleh
di wilayah yang sama yaitu
wilayah Administarsi Kabupaten
Kepulauan Mentawai yang memiliki
seismisitas yang sedang terhadap terjadinya gempa bumi atau
daerah rawan gempa.
4.
Dalam Menentukan persebaran titik seismistas dengan menggunakan argis map, pengolahan pembuatan peta dilakukan dengan cara menentukan titik lokasi kejadian
gempa bumi dengan yang di ambil latitude dan
longtitude yang di buat dengan
mengdunakan absolut x dan
y, X = Latitude dan Y= Longtitude maka
titik gempa bumi akan muncul
sendiri di peta administrasi Kabupaten Kepulauan mentawai seperti pada gambar 7 sampai gambar 10 yang dapat dilihat pada gambar di atas
Daftar Pustaka
Agustiawati,
Aryani. 2016. Studi B-Value Untuk Analisis Seismisitas Berdasarkan Data
Gempabumi Periode 1904-2014. Skripsi Unhas. Badan Meteorologi Klimatologi Dan
Geofisika Wilayah Iii Denpasar. 2017. Gempabumi. Diakses Pada
Http://Balai3.Denpasar.Bmkg.Go.Id/Tentanggempa.
Akmam. (2011). Subduksi
Lempeng Indo-Australia Pada Lempeng Eurasia Di Pantai Barat Sumatera Barat. In Jurnal
Sains Dan Teknologi (Vol. 3, Issue 1, Pp. 52�59).
Amirullah. (2015). Populasi Dan
Sampel (Pemahaman, Jenis Dan Teknik). Bayumedia Publishing Malang, 17(1993),
100�108.
Arif Ismul Hadi, Suhendra, dan Efriyadi. (2010). Studi
Analisis Parameter Gempa Bengkulu Berdasarkan Data Single-Station dan
Multi-Station serta Pola Sebarannya. 105-112.
Badan
Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika Wilayah Iii Denpasar. 2017. Gempabumi.
Diakses Pada Http://Balai3.Denpasar.Bmkg.Go.Id/Tentanggempa.
Budi, N. (2017). Analisis Seismisitas Dan Energi Gempabumi Di Kawasan
Jalur Sesar Opak-Oyo Yogyakarta The Analysis Of Seismicity And Earthquake
Energy In Opak-Oya Fault Area Yogyakarta Metode Penelitian Hasil Dan Pembahasan.
6(2), 109�115.
Triyatno, Erna Juita.2012 Pemetaan Zonasi Bahaya Dan Risiko Longsoran Di
Daerah Ngarai Sianok Landslide Risk And Hazard Zone Mapping In Sianok Kota
Bukittinggi Bukittinggi Municipality, West Sumatra, Indonesia Volume 4 No.2
Juni 2012 Issn : 2252-7168
Galih & Handayani, �Pemetaan Pola Terjadinya Gempa Bumi Di
Indonesia Dengan Metode Fraktal,�,Riset Geologi dan Pertambangan17,no,2
(2007): h, 51-56. �
Gutenberg,
B. Dan Richter, F C. 1942. Earthquake Magnitude, Intensity, Energy, And������ Acceleration. Bulletin Of The
Seismological Society Of America. 32 (3), 163-191.
Hagiwara,
T., 1964, �Brief Description Of The Project Proposed By The Earthquake
Prediction Group In Japan�, Proc. Us-Japan Conference On Research Related To
Earthquake Prediction Problems, Tokyo, 10-12
Harimei,
Bambang., Muhammad Altin Massinai, Mustakim. 2017. Analisis Seismisitas Pada
Daerah Sulawesi Utara. Jurnal Geocelebes Vol. 1 No. 2, Oktober 2017. .
Kaharuddin,
Setiawan., Muhammad Altin Massinai, Lantu. 2014. Model Subduksi Berbasisi Data
Gempabumi (Studi Kasus Sulawesi Utara Dan Sekitarnya), Prosiding Seminar
Nasional Geofisika 2014, Makassar.
Akmam. (2011). Subduksi Lempeng Indo-Australia Pada Lempeng Eurasia Di
Pantai Barat Sumatera Barat. In Jurnal Sains Dan Teknologi (Vol. 3,
Issue 1, Pp. 52�59).
Amirullah. (2015). Populasi Dan
Sampel (Pemahaman, Jenis Dan Teknik). Bayumedia Publishing Malang, 17(1993),
100�108.
Arif Ismul Hadi, Suhendra, dan Efriyadi. (2010). Studi
Analisis Parameter Gempa Bengkulu Berdasarkan Data Single-Station dan
Multi-Station serta Pola Sebarannya. 105-112.
�Arikunto.s. (2014). Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta.
Badan
Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika Wilayah Iii Denpasar. 2017. Gempabumi.
Diakses Pada Http://Balai3.Denpasar.Bmkg.Go.Id/Tentanggempa.
Budi, N. (2017). Analisis Seismisitas Dan Energi Gempabumi Di Kawasan
Jalur Sesar Opak-Oyo Yogyakarta The Analysis Of Seismicity And Earthquake
Energy In Opak-Oya Fault Area Yogyakarta Metode Penelitian Hasil Dan Pembahasan.
6(2), 109�115.
Triyatno, Erna Juita.2012 Pemetaan Zonasi Bahaya Dan Risiko Longsoran Di
Daerah Ngarai Sianok Landslide Risk And Hazard Zone Mapping In Sianok Kota
Bukittinggi Bukittinggi Municipality, West Sumatra, Indonesia Volume 4 No.2
Juni 2012 Issn : 2252-7168
Ferdian,
Felik. 2008. Peta Rawan Kegempaan Pulau Sumatera Berdasarkan Analisa
Probabilistik. Skripsi Itb.
Galih & Handayani, �Pemetaan Pola Terjadinya Gempa Bumi Di
Indonesia Dengan Metode Fraktal,�,Riset Geologi dan Pertambangan17,no,2
(2007): h, 51-56. �
Gutenberg,
B. Dan Richter, F C. 1942. Earthquake Magnitude, Intensity, Energy, And������ Acceleration. Bulletin Of The
Seismological Society Of America. 32 (3), 163-191.
Hagiwara,
T., 1964, �Brief Description Of The Project Proposed By The Earthquake
Prediction Group In Japan�, Proc. Us-Japan Conference On Research Related To
Earthquake Prediction Problems, Tokyo, 10-12
Harimei,
Bambang., Muhammad Altin Massinai, Mustakim. 2017. Analisis Seismisitas Pada
Daerah Sulawesi Utara. Jurnal Geocelebes Vol. 1 No. 2, Oktober 2017. .
Kaharuddin,
Setiawan., Muhammad Altin Massinai, Lantu. 2014. Model Subduksi Berbasisi Data
Gempabumi (Studi Kasus Sulawesi Utara Dan Sekitarnya), Prosiding Seminar
Nasional Geofisika 2014, Makassar.
Mawaddah,� alina masda. (2013). Distribusi spasial dan
karakteristik industri rumah tangga pangan di kecamatan ungaran barat. Skripsi.
Naim, M. I., -, S., & Linuwih, S. (2018). Analisis Seismisitas Dari
Kepualuan Mentawai Pada Periode 2010-2016. Indonesian Journal Of Applied
Physics, 8(1)
Rokhmah, R. H. (2013).
Distribusi Spasial dan Kontribusi Obyek Wisata Pada Pendapatan Rumah Tangga di
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. skripsi.