ANALISIS SPASIAL KEBAKARAN HUTAN DI KABUPATEN
KEPULAUAN MENTAWAI PROVINSI SUMATERA BARAT
Dopler1,
Erna Juita2, Arie Zella Putra Ulni3
Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas
PGRI Sumatera Barat, Padang, Indonesia
[email protected],
[email protected],
[email protected]
|
Riwayat Artikel: Received: 12-10-2022 Revised: �28-10-2022 Accepted: 10-11-2022 Keywords: Forest fires (Hotspot, Social and Physical) Kata
Kunci: Kebakaran hutan
(Titik Hotspot, Sosial dan Fisik) |
|
Abstract: This
study aims to obtain data, process, analyze and discuss the Spatial Analysis
of Forest Fires in the Mentawai Islands Regency, West Sumatra Province seen
from: 1. The distribution of hotspots or hotspots in the Mentawai Islands
Regency 2. The factors that cause forest fires in the Mentawai Islands
Regency and 3. government and community strategies in dealing with forest
fires. This research belongs to the type of descriptive research. The
population in this study is in the Mentawai Islands Regency. The sample of
this research is all sub-districts in the Mentawai Islands Regency taken by
taking samples, namely the total sample is the same as the population, namely
total sampling. The data analysis technique uses Spatial Analysis and
Descriptive Analysis. The final results of this study found that: 1).
Distribution of hotspots or hotspots in Mentawai Islands Regency Number of
Hotspots in Kepulan Mentawai Regency where the highest number of hotspots is
in North Siberut District with 14 hotspots and the lowest number of hotspots
is in South Pagai, North Pagai and South Seberut Districts as many as 1
Hotspot 2) The factors causing forest fires in the Mentawai Islands Regency
in terms of physical results from the respondents' answers, the most
influential are "Dry Season" and "Peatland" and from a
social point of view the most influential of forest fires is " Leftover
Campfires� and Land Use Change. 3). Government and community strategies in
dealing with forest fires: Improving community skills through socialization
in preventing forest and land fires through Fire Care Community: Increasing
community awareness and participation and organizing MPA disaster activities
by involving the community and business entities Capacity building and
institutional coordination in activities MPA disaster Improve forest and land
fire prevention facilities and infrastructure for the community and strict
law enforcement against forest and land fire perpetrators. Abstrak: Penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan data, mengolah, menganalisis dan membahas
Analisis Spasial Kebakaran Hutan Di Kabupaten Kepulauan Mentawai Provinsi
Sumatera Barat dilihat dari: 1.Sebaran titik api
atau hotspot di Kabupaten Kepulauan Mentawai 2.faktor-faktor penyebab
kebakaran hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan 3. strategi pemerintah
dan masyarakat dalam mengatasi kebakaran hutan. Penelitian ini termasuk
jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ialah di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sampel penelitian ini adalah semua
Keacamatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai diambil dengan cara
mengambil sampel yaitu total sampel sama dengan populasi yaitu total
sampling. Teknik analisa data menggunakan analisis Analisis
Spasial
dan Analisis Deskriptif. Hasil akhir penelitian ini yang di temukan bahwa : 1). Sebaran
titik api atau hotspot di Kabupaten Kepulauan Mentawai Jumlah Titik
Api/Hotspot di Kabupaten Kepulan Mentawai dimana jumlah Titik Hotspot yang
Tertinggi adalah di Kecamatan Siberut Utara sebanyak 14
Titik Api dan yang terendah jumlah Titik Hotspot terdapat di Kecamatan Pagai
Selatan, Pagai Utara dan Seberut Selatan sebanyak 1 Titik Api 2) Faktor-faktor penyebab kebakaran hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai di
lihat dari segi Fisik hasil jawaban responden yang paling berpengaruh diantaranya
�Musim Kemarau� dan �Lahan Gambut� dan dilihat dari segi sosial yang sangat
berpengruh terjadi kebakaran hutan adalah �Sisa Api Unggun� dan Alih Fungsi
Lahan. 3). Strategi pemerintah dan masyarakat dalam
mengatasi kebakaran hutan: Meningkatkan keterampilan masyarakat dengan cara
sosialiasai dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui Masyarakat
Peduli Api: Meningkatkan kesadaran dan peran serta
masyarakat dan Penyelenggaraan Kegiatan kebencanaan MPA dengan melibatkan
masyaraka dan badan usaha Peningkatan Kapasitas dan Koordinasi kelembagaan
dalam� kegiatan kebencanaan MPA Meningkatkan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran hutan dan lahan
bagi masyarakat dan penegakan hukum yang tegas kepada pelaku pembakaran hutan
dan lahan. |
Corresponding Author:
Dopler�
E-mail:
[email protected]
Pendahuluan
Kebakaran hutan dan lahan memberikan dampak yang cukup besar bagi kerugian
manusia baik materiil maupun imateriil. Pemerintah telah berupaya keras
menyelesaikan permasalahan ini baik melalui dukungan kebijakan, dukungan
kelembagaan, maupun dukungan pendanaan. Namun realita kejadian ini masih
berulang sepanjang tahun. Bahkan kejadian kebakaran hutan dan lahan di Provinsi
Jambi pada tahun 2015 yang lalu telah membuka mata seluruh pihak akan seriusnya
ancaman dan dampak yang ditimbulkan. Dampak kebakaran hutan dan lahan dirasakan
langsung seluruh elemen masyarakat yang terpapar bencana kabut asap
(Supriyanto, 2018)�
Dampak kebakaran yang sangat
dirasakan manusia berupa kerugian ekonomis yaitu hilangnya manfaat dari potensi
hutan seperti tegakan pohon hutan yang biasa digunakan manusia untuk memenuhi
kebutuhannya akan bahan bangunan, bahan makanan, dan obat-obatan, serta satwa
untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani dan rekreasi. Kerugian lainnya
berupa kerugian ekologis yaitu berkurangnya luas wilayah hutan, tidak
tersedianya udara bersih yang dihasilkan vegetasi hutan serta hilangnya fungsi
hutan sebagai pengatur tata air dan pencegah terjadinya erosi (Fachmi Rasyid,
2014)
Dampak kebakaran hutan dan lahan yang
menonjol adalah terjadinya kabut asap yang menganggu kesehatan dan sistem
transpotasi darat, laut dan udara. Dampak kebakaran hutan terhadap produksi
pertanian diduga tidak terlalu besar karena pembakaran dilakukan untuk
penyiapan lahan, kecuali jika kebakaran mencapai lahan pertanian yang
berproduksi. Kebakaran hutan menghasilkan emisi karbon yang dilepaskan ke
atmosfer (S. Andy Cahyono , Sofyan P Warsito , Wahyu
Andayani dan Dwidjono H Darwanto, 2015)
Dampak global dari kebakaran hutan
dan lahan yang langsung di rasakan adalah pencemaran udara dari asap yang di
timbulkan mengakibatkan gangguan pernafasan dan mengganggu aktifitas sehari-hari.
Peristiwa kebakaran hutan yang terjadi di indonesia pada tahun 1997-1998 dan
2002-2005 menghasilakan asap juga dirasakan oleh masyarakat malaysia, singapura
dan brunei darusalam serta mengancam terganggunya hubungan transportasi udara
antar negar (Fachmi Rasyid. 2014, p47-59)
Fenomena bencana kebakaran hutan dan lahan beserta dampak
yang telah ditimbulkan di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan
mengindikasi kurangnya kewaspadaan dan kesiapan menghadapi ancaman bahaya kebakaran
hutan dan lahan berpengaruh terhadap meningkatnya kerentanan akan terjadinya
bencana kebakaran hutan dan lahan dengan dampak yang lebih besar dan luas (RN Latifah, A Pamungkas, 2013).
Hutan sebagian
dari sumber daya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai
aspek kehidupan sosial, pembangunan dan likungan hidup. Telah diterima
sebagai kesepakatan tradisional bahwa hutan yang berfungsi penting bagi
kehidupan dunia,
harus dibina dan di lindungi dari berbagai tindakan yang berakibat
hilangnya keseimbangan ekosistem dunia. Namun ada saja tindakan
dari manusia yang melakukan perusakan hutan diantaranya melalui pembakaran
hutan yang akhir-akhir ini semakin marak di indonesia.
Definisi kebakaran hutan menurut SK.
Menhut. No. 195/Kpts-II/1996 yaitu suatu keadaan dimana hutan dilanda api
sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan hasil hutan yang menimbulkan
kerugian ekonomi dan lingkungannya. Kebakaran hutan merupakan salahsatu dampak
dari semakin tingginnya tingkat tekanan terhadap sumber daya hutan. Dampak yang
berkaitan dengan kebakaran hutan atau lahan adalah terjadinya kerusakan dan
pencemaran lingkunagan hidup, seperti terjadinya kerusakan flora dan fauna,
tanah dan air. Kebakaran hutan dan lahan di indonesia terjadi hampir setiap
tahun walaupun frekuensi, intensitas, dan luas arealnya berbeda.
Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki
3 pulau besar yaitu, pulau Siberut, pulau Sipora dan pulau Sikakap. Yang dimana
di pulau Siberut memiliki hutan seluas 385 847,42 km2, pulau Sipora
615 180,05 km2, pulau Sikakap 153 769,53 km2 dengan
jumlah luas hutan yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai seluas 601 135,08 km2
(BPBD Mentawai, 2017)
Kabupaten Mentawai sering terjadi
kebakaran lahan setiap memasuki musim kemarau yang mana di pusat kabupaten ada
beberapa kebakaran hutan yaitu di Dusun Jati Desa Tuapejat terjadi kebakaran
hutan seluas 3 ha, Desa Sidomakmur Dusun Boleleu seluas 2,5 ha, Desa Pamewa
Kecamatan Sipora Utara seluas 4 ha, Desa Matobek Kecamatan Sipora Selatan� seluas 50 ha yang mana tercatat kebakaran
lahan paling luas yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai sedangkan yang
terjadi di pulau Sikakap yaitu Dusun Sikakap seluas 26 ha, Dususn Ceppungan
Desa Matobek seluas 4 ha, Dusun Panatarat Desa Matobek seluas 5 ha dengan luas
keseluruha 102,5 ha (BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2019).
Kebakaran hutan dan lahan di
Kabupaten Kepulauan Mentawai terjadi pada tahun 2019 yang dimana bulan
Agustus-September kebakaran sering terjadi di Pulau Sikakap dan bulan
Oktober-November kebakaran sering terjadi di pusat kabupaten yaitu Tuapejat.
Faktor utama kebakaran hutan itu adalah manusia. Faktor manusiala yang sering
penyebab kebakaran hutan, mereka melihat kondisi lahan kering dan beranggapan
dengan cara membakar maka lahan akan segera bersih tapi mereka tidak
perhitingkan dampaknya (Novriadi,� 2019)
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui penyebaran titik api/hotspot di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Salah
satu kegiatan yang dilakukan dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan yaitu pemerintah
melakukan peringatan dini kepada masyarakat terhadap dampak besar yang
ditimbulkan oleh kebakaran hutan, peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak
melakukan pembakaran, dan kesadaran perusahaan perkebunan khususnya masyarakat
yang membuka lahan baru untuk tidak melakukan pembakaran serta ikut bekerjasama
untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pengembangan pemetaan daerah karhutla
dapat dilakukan dengan bantuan teknologi pengindraan jarak jauh dan sistem
informasi geografi berdasarkan faktor penyebab karhutla, yaitu kodisi bahan
bakar, kondisi klimatologi dan perilaku kebakaran.
Pemetaan kebakaran hutan dan lahan
dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sistem informasi geografi (SIG)
dengan penentuan titik panas (hotspot).
Dengan menggunakan data titik api yang direkam secara kontiniu dan data spasial
biofisik yang berpengaruh terhadap kejadian �kebakaran hutan dan lahan.
Dalam upaya mengidentifikasi daerah
kebakaran hutan dan lahan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di
Kabupaten Mentawai, maka dilakukan kajian untuk menganalisis faktor-faktor
penyebab kebakaran hutan dan lahan serta menyusun/membuat pemetaan zonasi
daerah kebakaran hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Metode
Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode kuantilatif. Penelitian
kuantilatif yaitu suatu penelitian yang bertujuan mendapatkan gambaran atau
kenyataan sesungguhnya suatu objek yang didukung oleh data-data jawaban dari
responden (Pramudito, 2016)
Pengumpulan
data
Tabel 1. alat yang diperlukan dalam penelitian
|
No. |
Alat |
Kegunaan |
|
1. |
Laptop |
Mengakses data,
pengumpulan data |
|
2. |
Camera |
Pengambilan gambar
dilapangan |
|
3. |
ArcGis |
Pembuatan peta dan
pengolahan data untuk membuat peta |
Tabel 2. bahan yang digunakan dalam
penelitian
|
No. |
Bahan |
Kegunaan |
|
1 |
Peta administrasi
Kabupaten Kepulauan Mentawai |
Sebagai peta dasar dan
acuan pembuatan peta |
|
2 |
Peta lokasi penelitian |
Sebagai alat untuk
menginformasikan letak lokasi penelitian |
Analisis
data
1.
Analisis sebaran titik api/hotspot
Analisis titik panas/hotspot
diperoleh dari BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Selain itu, tim Direktorat
Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan menemukan areal kebakaran pada
titik panas dengan tingkat kepercayaan 0 sampai 100% pada saat melakukan
penafsiran menggunaan Citra Satelit Landsat. Hal ini diperkuat oleh Tansey et
al. (2008), hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah sangat sedikit ditemukan
sebagai kebakaran namun dapat meningkatkan hasil estimasi daerah bekas
kebakaran. Selain itu identifikasi areal kebakaran hutan dan lahan biasanya
dilakukan saat identifikasi adanya asap dan setelah terjadinya kebakaran hutan
dan lahan identifikasi hotspot dengan selang kepercayaan rendah hingga tinggi.
2. Analisis faktor-faktor
penyebab kebakaran hutan
������ Steel
& Torrie, (1995) dalam analisanya digunakan pendekatan tabulasi atau
content analysis. Kemudian, untuk mengidentifikasi faktor penyebab kebakaran
hutan dan lahan yang ditentukan oleh masyarakat sekitar dan bagaimana upaya
pencegahan masyarakat terhadap lokasi kebakaran lahan dihitung dengan
menggunakan rumus persentase sebagai berikut:����
���
Untuk menganalisis keeratan hubungan
antara karakteristik masyarakat seperti usia, pendidikan, dan pekerjaan dengan
upaya yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi kebakaran dalam mencegah
kebakaran tersebut dianalisis dengan menggunakan analisa regresi linier
berganda.
3.
Analisis strategi pemerintah dan masyarakat mengatasi
kebakaran hutan
Strategi pencegahan kebakaran hutan
dan lahan di Kesatuan Pengelolaan Hutan dianalisis dengan menggunakan SWOT.
Pengambilan data melalui wawancara terstruktur dan pengajuan kuesioner
penilaian dari para pakar ahli yang berkompetan dalam hal pencegahan kebakaran
hutan dan lahan.
Berdasarkan Gurel & Tat (2017)
bahwa tahapan dalam penyusunan matriks SWOT ialah menyusun strategi SO
(Strength-Opportunity) dengan mencocokkan kekuatan-kekuatan internal dan
peluang-peluang eksternal, menyusun strategi WO (Weakness Opportunity) dengan
mencocokkan kelemahan-kelemahan internal dan peluang-peluang eksternal,
menyusun strategi ST (Strength-Threat) dengan mencocokkan kekuatan-kekuatan
internal dan ancaman-ancaman eksternal, dan menyusun strategi WT
(Weakness-Threat) dengan mencocokkan kelemahankelemahan internal dan
ancaman-ancaman eksternal Matriks Internal-Eksternal diperoleh dari hasil
pembobotan dan skoring.
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Hasil
Penelitian
1.
Distribusi titik Api/Hotspot di Kabupaten Kepulauan Mentawai
a.
Citra Himawari-8
Satelit Himawari membawa sensor AHI (Advanced
Himawari Imager). Satelit ini memiliki orbit geostationary dengan ketinggian
35.791 km. Resolusi spasial data Himawari-8 yaitu 0.5 km (band 3), 1 km, dan 2
km. Data Himawari-8 diaplikasikan
untuk monitoring tingkat curah hujan, suhu atas awan, dan suhu permukaan laut.
Data titik panas (hotspot) memiliki atribut untuk� mendeteksi adanya kebakaran hutan.
Citra Satelit Himawari-8 Advanced Himawari
Imager dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang merupakan
instansi resmi pemerintah yang bekerja sama dengan Badan Meteorologi Jepang
(JMA) dalam penyediaan data citra Himawari-8. Data citra Himawari-8 merupakan
data utama dalam penelitian karena berguna untuk pengolahan citra yang
menghasilkan titik panas. Berikut data titik hotspot terbesar di
Kabupaten Kepulauan Mentawai :
Tabel IV.4
Persebaram Titik Api/Hotspot tahu
2020-2021
|
NO |
Kecamatan |
Hotspot |
Lintang |
Bujur |
|
1 |
Pagai Selatan |
1 |
3012�03.3�S |
100022�28.6�E |
|
2 |
Pagai Utara |
1 |
2036�28.4�S |
100003�28.4�E |
|
3 |
Siberut Barat |
9 |
1014�06.2�S |
98042�12.9�E |
|
4 |
Siberut Barat Daya |
3 |
1046�47.1�S |
99008�23.9�E |
|
5 |
Siberut Selatan |
1 |
1035�46.2�S |
99012�47.7�E |
|
6 |
Siberut Tengah |
3 |
1019�41.2�S |
99004�51.5�E |
|
7 |
Siberut Utara |
14 |
1006�48.3�S |
98059�28.7�E |
|
8 |
Sipora Utara |
2 |
2007�26.3�S |
99034�44.6�E |
Sumber
:
BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2020-2021
Berdasarkan Tabel di atas persebaran Titik
Api/Hotspot di Kabupaten Kepulauan Mentawai sebanyak 34 titik yang tersebar di Kecamatan
diantaranya Pagai Selatan berjumlah 1 dengan persentase (3%), Pagai Utara
sebanyak 1 dengan persentase (3%), Siberut Barat sebanyak 9 dengam persentase
(26%), Siberut Barat Daya bermlah 3 dengan Persentase (9%), Siberut Selatan
berjumlah 1 dengan persentase (3%), Siberut Tengah sebanyak 3 dengan persentase
(9%), Siberut Utara berjumlah 14 sebanyak (41%) dan Sipora Utara sebesar 2
dengan persentase (6%). Untuk lebih jelasnya perhatikan Grafik di bawah ini:
Grafik 1. Jumlah Titik Api/Hotspot di Kabupaten Kepulaian Mentawai
Berdasarkan Grafik Diatas bahwasanya Jumlah Titik
Api/Hotspot di Kabupaten Kepulan Mentawai dimana jumlah Titik Hotspot yang
Tertinggi adalah di Kecamatan Siberut Utara sebanyal 14 Titik Api dan yang
terendah jumlah Titik Hotspot terdapat di Kecamatan Pagai Selatan, Pagai Utara
dan Seberut Selatan sebanyak 1 Titik Api. Untuk lebih jelasnya perhatikan peta
dibawah ini :
��������������
2. Faktor-faktor penyebab kebakaran hutan
di Kabupaten Kepulauan Mentawai
1. Fisik
Pengertian
a. Musim Kemarau
Musim kemarau yang terlampau panjang merupakan penyebab
kebakaran hutan alami yang sulit dikendalikan. Kebakaran ini biasanya dipicu
oleh gesekan pohon atau daun kering. Gesekan yang terjadi bisa memercikkan api
secara alami dan menyebabkan kebakaran hutan. Kebakaran hutan karena musim
kemarau panjang biasanya terjadi di lereng gunung.
� ��������� Grafik 1. Jawaban
Responden Musim Kemarau
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor Fisik yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Musim Kemarau� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi
di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 27 Orang.
b. Lahan Gambut
Kebakaran
lahan gambut sering terjadi di Indonesia dan menjadi bencana yang berskala
luas. Penyebab kebakaran lahan gambut bisa dipicu oleh faktor alam dan faktor
manusia. Salah satu fenomena yang memicu kebakaran lahan gambut di Indonesia
adalah El Nino.
� Grafik 2. Jawaban
Responden Lahan Gambut
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor Fisik yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Lahan Gambut� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi
di Jawaban �Cukup Setuju� berjumlah 27 Orang.
c. Kayu Mudah Terbakar
Vegetasi kayu menjadi pemicu meningkatnya kerentanan
kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi kayu yang mudah terbakar dapat menjadi
pemicu terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan.
� ��������� �����Grafik 3. Jawaban Responden Kayu Mudah Terbakar
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Kayu Mudah Terbakar� Fisik yang
mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Kayu Mudah Terbakar� dimana Jawaban
Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 17
Orang.
d. Kurangnya Pasokan Air di Sekitar Lahan
Gambut
Pembuatan kanal-kanal dan parit di lahan gambut telah
menyebabkan gambut mengalami pengeringan yang berlebihan dimusim kemarau dan
mudah terbakar.
������������ Grafik 4. Jawaban Responden Kurangnya Pasokan Air
di Sekitar Lahan Gambut
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Kurangnya Pasokan Air di Sekitar Lahan Gambut� dimana Jawaban
Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 20
Orang.
e. Sambaran Petir
Petir
merupakan penyebab kebakaran hutan yang terjadi secara alami. Biasanya sambaran
pentir lebih berdampak pada musim kemarau. Ketika lahan vegetasi kering dan
mudah tersulut api. Terkadang, petir juga menyebabkan kebakaran di medan yang
kasar dan sulit dijangkau.
�� ��������������������Grafik 5. Jawaban
Responden Sambaran Petir
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Sambaran Petir� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi
di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 15 Orang.
f.
Vulkanik
Gunung Api
Letusan
vulkanik gunung berapi adalah penyebab kebakaran hutan yang terjadi secara
alami. Kebakaran hutan ini semakin diperparah ketika musim kemarau panjang
tiba. Risiko terbesarnya, area vegetasi terbakar oleh material vulkanik yang
dimuntahkan ketika terjadi sebuah letusan.
������ �Grafik 6. Jawaban
Responden Berdasarkan Vulkanik Gunung Api
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Vulkanik Gunung Api� dimana Jawaban Responden dimana yang paling
tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 20 Orang
g. Pemanasan Global
Dampak
keempat dari global warming atau pemanasan global yang dapat
terjadi adalah kebakaran hutan. Sama dengan sebelumnya, dengan adanya
peningkatan suhu di bumi, maka dapat dengan mudah memicu terjadinya kebakaran
di hutan. Seperti yang kita ketahui dari salah satu contoh kasus yang dilanda
oleh California, Amerika Serikat di tahun 2020 yang menurut para ilmuwan
disebabkan adanya pemanasan global.
�
� ����������������������� Grafik 7. Jawaban
Responden Pemanasan Global
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Pemanasan Global� dimana Jawaban Responden dimana yang paling
tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 15 Orang
h. Penebangan Hutan
Penebangan hutan besar-besaran termasuk penyebab kebakaran hutan yang tidak boleh disepelekan. Apalagi jika penebangan hutan dilakukan oleh orang yang asal-asalan. Mesin penebang berisiko memercikkan api, terutama di musim kemarau.
�������������� �������������������� Grafik 8. Jawaban
Responden Penebangan Hutan
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Penebangan Hutan� dimana Jawaban Responden dimana yang paling
tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 23 orang.
i.
Pembuatan
Lahan oleh masayarakat
Kebakaran hutan memang bisa terjadi secara alami. Hal ini tidak berlaku ketika pembukaan lahan tengah dilakukan. Kemungkinan terbesarnya, penyebab kebakaran hutan disebabkan karena perbuatan manusia.
��������� �Grafik 9.Jawaban
Responden Pembuatan Lahan oleh Masyarakat
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Pembuatan Lahan oleh Masyarakat� dimana Jawaban Responden dimana
yang paling tinggi di Jawaban �Sangat Tidak Setuju� berjumlah 20 Orang
2. Faktor Sosial
a. Penebangan Hutan secara besar-besaran
Penebangan hutan besar-besaran termasuk penyebab kebakaran hutan yang tidak boleh disepelekan. Apalagi jika penebangan hutan dilakukan oleh orang yang asal-asalan. Mesin penebang berisiko memercikkan api, terutama di musim kemarau.
� Grafik 10. Jawaban
Responden Penebangan Hutan secara Besar-besaran
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor���
�Fisik� yang mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Pembuatan Lahan oleh
Masyarakat� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban
�Sangat Setuju� berjumlah 22 Orang
b. Membuang Putung Rokok
Merokok di
hutan bisa menjadi penyebab kebakaran hutan. Kali ini bukan karena alam,
melainkan ulah manusia. Risikonya akan semakin parah ketika vegetasi kering
kerontang karena musim kemarau panjang
���������� �Grafik 11. Jawaban
Responden Membuang Putung Rokok
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor���
�Fisik� yang mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Membuang Puting Rokok�
dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju�
berjumlah 16� Orang.
c. Kegiatan Penyiapan Lahan
Aspek
ekologis, kebakaran hutan, kebun, lahan mengakibatkan rusak dan terganggunya
ekosistem hutan dan fungsi-fungsinya, berkurangnya keanekaragaman hayati dan
hilangnya keterwakilan ekosistem daerah tersebut
������������� ���������������Grafik 12. Jawaban
Responden Kegiatan Penyiapan Lahan
Berdasarkan Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang
mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Kegiatan Penyiapan Lahan� dimana Jawaban
Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Setuju� berjumlah 21 orang.
d. Mata Pencaharian
Masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari hasil
hutan sering kali lalai membakar vegetasi.
� Grafik 13. Jawaban Responden Mata Pencaharian
Berdasarkan Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang
mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Mata Pencaharian� dimana Jawaban Responden
dimana yang paling tinggi di Jawaban � Setuju� berjumlah 19� Orang
e.
Sisa Api Unggun
Hutan memang tempat paling nyaman untuk mendirikan tenda. Lalu membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Sayangnya banyak oknum yang salah mempraktikkan. Sisa api unggun yang tidak dimatikan dengan benar bisa menjadi penyebab kebakaran hutan.
� ����������������Grafik 14. Jawaban
Responden Sisa Api Unggun
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Sisa Api Unggun� dimana Jawaban Responden paling tinggi di Jawaban
� Sangat Setuju� berjumlah 25� Orang
f.
Pembakaran Liar
��������� Illegal
logging atau pembakaran liar menghasilkan
lahan-lahan kritis dengan tingkat rawan tinggi. Api yang tidak terkendali
secara mudah merambat ke area hutan-hutan kritis tersebut.
�
� Grafik 15. Jawaban Responden Pembakaran Liar
Berdasarkan Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik�
yang mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Pembakaran Liar� dimana Jawaban
Responden paling tinggi di Jawaban � Sangat Setuju�
berjumlah 23� Orang.
g.
Berburu menggunakan
Senjata Api
Pemburuan hewan liar
secara tidak langsung menjadi penyebab kebakaran hutan juga. Apalagi jika
pemburuan ini dilakukan dengan senapan yang bisa memicu percikan api. Jika hal
ini terjadi, tak hanya hutan yang akan habis, tetapi flora dan fauna yang
tinggal di hutan terancam kehidupannya.
������������������������� �Grafik 16. Jawaban Responden Senjata Api
Berdasarkan Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik�
yang mempengaruhi kabakaran hutan yaitu �Senjata Api� dimana Jawaban Responden
paling tinggi di Jawaban � Sangat Setuju� berjumlah 17
Orang.
h.
Membakar Kawasan Padang
Rumput yang Tidak Produktif
Terlebih lagi jika kebakaran tersebut terjadi di hutan masyarakat
biasanya membakar padang
rumput yang sudah tidak produktif lagi.
� �Grafik 17. Jawaban Responden Membakar Kawasan
Padang Rumput yang Tidak Produktif
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Membakar Kawasan Padang Rumput yang Tidak Produktif� dimana
Jawaban Responden paling tinggi di Jawaban � Sangat Setuju� berjumlah 20� Orang
i.
Alih Fungsi Lahan
Kebakaran
hutan memang bisa terjadi secara alami. Hal ini tidak berlaku ketika pembukaan
lahan tengah dilakukan. Kemungkinan terbesarnya, penyebab kebakaran hutan disebabkan
karena perbuatan manusia.
������������������� �Grafik 18.Jawaban
Responden Alih Fungsi Lahan
Berdasarkan
Grafik diatas bahwasanya bahwsanya Faktor �Fisik� yang mempengaruhi kabakaran
hutan yaitu �Alih Fungsi Lahan� dimana Jawaban Responden paling tinggi di
Jawaban � Sangat Setuju�
berjumlah 25 Orang.
3. Strategi pemerintah dan masyarakat dalam
mengatasi kebakaran hutan
Strategi
Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan yang penulis rumuskan dalam bentuk
analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), yang dapat dijadikan
sebagai terobosan penanganan permasalahan yang sering terjadi, adapun
pengolahan dilakukan dengan mengambil informasi yang bersumber dari BPBD
Kabupaten Kepulau Mentawai Antara Lain:
|
Isu Stategi |
Kekuatan (Strength) |
Kelemahan (Weaknesses) |
|
|
1)
Kearifan lokal (budaya menanam
sagu) 2)
Adanya tradisi �bale kampong� 3)
Adanya MPA 4)
Meningkatnya kesadaran masyarakat
dalam pencegahan kebakaran hutan 5)
Adanya system early warning
kebakaran hutan dan lahan 6)
Adanya UU, Pergub, dan Perbup
tentang penanggulangan kebakaran hutan 7)
Adanyanya sosialisasi berkala
terhadap bahaya kebakaran hutan dan lahan |
1)
Masyarakat masih membakar lahan
untuk persiapan lahan 2)
System pengolahan hutan masih
belum optimal 3)
Masih adanya pembalakan liar atau
illegal loging 4)
Masih adanya perambahan hutan 5)
Adanya pembukaan lahan baru oleh
HPH 6)
Adanya konflik sosial antara
pemilik modal dengan penduduk asli 7)
Belum optimalnya fungsi MPA 8)
Anggaran sarana dan prasarana
belum memadai 9)
Anggota MPA belum keahlian yang
memadai 10)
Birograsi pemerintah yang
berbelit-belit 11)
Lemahnya penegakan hokum 12)
Belum ditetapkannya RT/RW
Kabupaten Kepulauan Mentawai 13)
Belum adanya model pencegahan
kebakaran hutan dan lahan terpadu |
|
Peluang (Opportunities) |
Strategi
SO |
Strategi
WO |
|
1)
Restorasi gambut 2)
Masuk dalam kawasan lokasi prioritas
penanganan bencana kebakaran hutan (peraturan BNPB No.2 Tahun 2015) 3)
Adanya penelitian dan kajian yang
berkaitan dengan kebakaran hutan 4)
Dijadikannya kebakaran hutan dan
lahan sebagai bencana nasional 5)
Keterlibatan
perusahaan-perusahaan swasta yang ada di Mentawai (NSP dan RAPP) |
Meningkatkan keterampilan masyarakat dengan cara
sosialiasai dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui Masyarakat
Peduli Api |
Meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat dan Penyelenggaraan Kegiatan kebencanaan MPA dengan melibatkan masyaraka dan badan usaha |
|
Ancaman (Threats) |
Strategi
ST |
Strategi
WT |
|
1)
Kondisi cuaca dan iklim yang
tidak menentu 2)
Hilangnya mata pencaharian masyarakat
disekitar hutan 3)
Menurunnya produktifitas tanaman 4)
Rusak ekosistem hutan 5)
Erosi 6)
Perubahan fungsi pemanfaatan dan
peruntukan lahan 7)
Terganggunya transportasi 8)
Kondisi geografi yang menyulitkan
ketika pemadaman 9)
Menungkatnya kebutuhan masyarakat
akan lahan pertanian/perkebunan |
Peningkatan Kapasitas dan Koordinasi
kelembagaan dalam penyelenggaraan kegiatan kebencanaan MPA |
Meningkatkan sarana dan,prasarana
pencegahan kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat dan penegakan hukum yang
tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan |
Berdasarkan data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa analisis SWOT
yang dibuat penulis dapat dijadikan sebagai upaya atau solusi baru dalam
penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan harapan dapat membawa perubahan dalam
keberhasilan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, yaitu dengan melakukan: 1) Meningkatkan
keterampilan masyarakat dengan cara sosialiasai dalam pencegahan kebakaran
hutan dan lahan melalui Masyarakat Peduli Api; 2) Meningkatkan kesadaran dan peran
serta masyarakat dan Penyelenggaraan Kegiatan kebencanaan MPA dengan melibatkan
masyaraka dan badan usaha 3) Peningkatan Kapasitas dan Koordinasi kelembagaan dalam �kegiatan kebencanaan MPA 4) Meningkatkan sarana dan prasarana
pencegahan kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat dan penegakan hukum yang
tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Pembahasan
Pertama, S. Andy Cahyono, Sofyan P
Warsito, Wahyu Andayani dan Dwidjono H Darwanto (2015) penelitian dengan judul
factor- factor yang mempengaruhi kebakaran hutan di Indonesia penelitian yang
menulis teliti sama-sama mengkaji tentang kebakaran hutan dan lahan namun
penelitian peneulis lebih menjelaskan faktor yang mempengaruhi kebakaran hutan
kepada masyarakat Kabupaten Mentawai.
Kedua, Faktor-faktor penyebab
kebakaran hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai di lihat dari segi Fisik nya diantaranya�Musim
Kemarau� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Sangat
Setuju� berjumlah 27 Orang,� �Lahan Gambut�
dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Cukup Setuju�
berjumlah 27 Orang, �Kayu Mudah Terbakar� dimana Jawaban Responden dimana yang
paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 17 Orang �Kurangnya Pasokan
Air di Sekitar Lahan Gambut� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi
di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 20 Orang, �Sambaran Petir� dimana Jawaban
Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 15
Orang,� �Vulkanik Gunung Api� dimana
Jawaban Responden dimana yang paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju�
berjumlah 20 Orang, �Penebangan Hutan� dimana Jawaban Responden dimana yang
paling tinggi di Jawaban �Sangat Setuju� berjumlah 23 orang dan d �Pembuatan
Lahan oleh Masyarakat� dimana Jawaban Responden dimana yang paling tinggi di
Jawaban �Sangat Tidak Setuju� berjumlah 20 Oran. dan di lihat dari Segi Sosial diantaranya �Kegiatan
penduduk� kegiatan-kegiatan penyiapan lahan untuk berbagai macam bentuk usaha
pertanian dan kehutanan dapat menimbulkan bencana kebakaran �Kegiatan penduduk�
seperti halnya membakar lahan �membuang puntung rokok� atau membakar api unggun
ketika berkemah sering kali menjadi penyebab bencana kebakara. �Mata
Pencaharian� masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari hasil hutan
sering kali lalai membakar vegetasi. �Jaringan Jalan� dengan jaringan jalan
yang cukup memadai akan memudahkan mobilisasi peralatan dan juga tenaga untuk
penanggulangan kebakaran yang terjadi, kondisi jaringan jalan yang kurang
memadai untuk menuju akses titiktitik rawan terjadinya bencana kebakaran sering
kali menghambat proses pemadaman api secara cepat.
�Pengadaan
Prasarana Pemadam Kebakaran� pendayagunaan sarana dan prasarana yang telah ada
diperlukan inventarisasi terhadap peralatan yang diperlukan berdasarkan skala
prioritas. �Minimnya penyediaan prasarana� pemadam masyarakat menginisiasi
dengan dana swadaya untuk membeli peralatan pemadaman kebakaran. �Peningkatan
jumlah penduduk� berpengaruh terhadap pembukaan hutan dan lahan dimana api
digunakan sebagai teknik dalam persiapan lahan
Ketiga, Strategi adalah
serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak
dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka
pencapaian tujuan organisasi tersebut (Siagian,� 2004).
Strategi penanggulangan
kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan BPBD berjalan dengan baik dapat
dilihat dengan menurunnya titik api atau hotspot
dikawasan rawan kebakaran hutan dan lahan, peningkatan kesadaran masyarakat
untuk tidak melakukan pembakaran, dan kesadaran perusahaan perkebunan khususnya
masyarakat yang membuka lahan baru untuk tidak melakukan pembakaran serta ikut
bekerjasama untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.
BPBD
Kabupaten Kepulauan Mentawai mengadakan pelatihan ini dalam rangka mengurangi
risiko kebakaran hutan atau lahan, bertepatan pada musim kemarau, sehingga
banyak kasus kebakaran hutan, untuk itu bagaimana upaya kita kedepan Satgas ini
dapat mengatasi hal tersebut, tentu saja butuh dukungan dari Masyarakat.
Kegiatan pelatihan yang dibuka
langsung oleh Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet tersebut
sedikitnya diikuti sebanyak 100 orang yang terdiri dari masing-masing 10 orang
dari 10 Kecamatan yang ada di Kepulauan Mentawai, peserta pelatihan juga
bertanggung jawab menyuarakan kepada masyarakat untuk sama-sama mewaspadai
kebakaran hutan dan lahan perkebunan. Satgas juga harus memahami faktor penyebab kebakaran hutan
dan lahan, kemudian dampak kebakaran hutan dan cara mengatasinya, selanjutnya
menyampaikan kepada masyarakat, khususnya yang berprofesi sebagai petani, agar
melakukan pembersihan lahan tidak dengan cara membakar (Novriadi 2019)
Kesimpulan
�� Berdasarkan hasil
pengolahan data, maka dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Sebaran titik api atau
hotspot di Kabupaten Kepulauan Mentawai Jumlah Titik Api/Hotspot di Kabupaten
Kepulan Mentawai dimana jumlah Titik Hotspot yang Tertinggi adalah di Kecamatan
Siberut Utara sebanyal 14 Titik Api dan yang terendah jumlah Titik Hotspot terdapat
di Kecamatan Pagai Selatan, Pagai Utara dan Seberut Selatan sebanyak 1 Titik
Api
2. Faktor-faktor penyebab
kebakaran hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai di lihat dari segi Fisik hasil
jawaban responden yang paling berpengaruh diantaranya �Musim Kemarau� dan
�Lahan Gambut� dan dilihat dari segi sosial yang sangat berpengruh terjadi
kebakaran hutan adalah �Sisa Api Unggun� dan Alih Fungsi Lahan.
3. Strategi pemerintah dan
masyarakat dalam mengatasi kebakaran hutan: 1) Meningkatkan keterampilan
masyarakat dengan cara sosialiasai dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan
melalui Masyarakat Peduli Api; 2) Meningkatkan kesadaran dan peran serta
masyarakat dan Penyelenggaraan Kegiatan kebencanaan MPA dengan melibatkan
masyaraka dan badan usaha 3) Peningkatan Kapasitas dan Koordinasi kelembagaan
dalam� kegiatan kebencanaan MPA 4)
Meningkatkan sarana dan prasarana pencegahan kebakaran hutan dan lahan bagi
masyarakat dan penegakan hukum yang tegas kepada pelaku pembakaran hutan dan
lahan.
Daftar
Rujukan
�
Aditiea Loren, Muhammad Ruslan, Fadly H. Yusran, Fonny
Rianawati (2015)� Analissi Faktor Penyebab Kebakaran Hutan Dan Lahan Serta
Upaya Pencegahan Yang Dilakukan Masyarakat Di Kecamatan Basarang Kabupaten
Kapuas Kalimantan Tengah�
Agung Adiputra Dan Baba
Barus� 2018,� �Analisis Risiko Bencana Kebakaran Hutan Dan
Hutan Di Pulau Bengkalis�
Aji Dwi Komara, Esmeralda C.
Djamal, Faiza Renaldi� 2016, �Sistem
Pendukung Keputusan Penentuan Prioritas Pemadaman Hotspot Kebakaran Hutan Dan
Lahan Menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process Dan Weighted Product�
Ambar Tri Ratnaningsih, Sri
Rahayu Prastyaningsih� 2017, �Dampak
Kebakaran Hutan Gambut Terhadap Subsidensi DI Hutan Tanaman Industri�
Amirullah. (2015). Populasi Dan
Sampel (Pemahaman, Jenis Dan Teknik). Bayumedia Publishing Malang, 17(1993),
100�108.
Ardhi Yusuf1 , Hapsoh2 , Sofyan Husein Siregar3 ,
Dodik Ridho Nurrochmat4 (2019)� Analisis Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Provinsi
Riau�
Fachmi Rasyid� 2014, �Permasalahan
Dan Dampak Kebakaran Hutan�
Baskoro,A.� 2010. �Sistem
Informasi Kebakaran. Jakarta Modol Penelitian Kualitas Udara Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika�
Dolly Kuswara Harap, Defri Yoza, Yossi Oktorini
(2017)�strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan berdasarkan persepsi
masyarakat di desa dayun kabupaten siak�
Gaol, Indra Devian Lumban (2017)�Strategi
Penanggulangan Kebakaran Hutan Dan Lahan�
Muhammad Badri, Djuara P Lubis, Djoko Susanto, Didik
Suharjito(2018)�sistem komunikasi peringatan dini pencegahan kebakaran hutan
dan lahan di provinsi riau�
Muta�ali (2016)� perencanaan pembangunan berbasis
pengurangan risiko bencana�
Rosmayani Noor Latifah dan Adjie
Pamungkas� 2013, �Identifikasi
Faktor-Faktor Kerentanan Terhadap Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Di
Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru�
S.Andy Cahyono, Sofyan P Warsito, Wahyu Andayani dan
Dwidjono H Darwanto (2015) �factor- factor yang mempengaruhi kebakaran hutan di
Indonesia�
Triyatno, Erna Juita.2012 Pemetaan Zonasi Bahaya Dan Risiko Longsoran Di
Daerah Ngarai Sianok Landslide Risk And Hazard Zone Mapping In Sianok Kota
Bukittinggi Bukittinggi Municipality, West Sumatra, Indonesia Volume 4 No.2
Juni 2012 Issn : 2252-7168