DAMPAK PANDEMI COVID 19 BAGI SEKTOR PARIWISATA DI
KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI (STUDI OBJEK WISATA PANTAI KATIET, PANTAI
MAPADDEGAT DAN PULAU AWERA
Alexander
Chandra Wijaya S 1, Slamet Rianto2, Loli Setriani3
Program Studi
Pendidikan Geografi, Universitas PGRI Sumatera Barat,
Padang, Indonesia
|
Riwayat Artikel: Received: 11-10-2022 Revised: 25-10-2022 Accepted: 10-11-2022 Keywords: Covid-19 Pandemic, Tourism Kata
Kunci: Pandemi Covid-19, Pariwisata |
|
Abstract: The
study aims to obtain data and analyze: tourist
visits, income of tourism actors and the efforts of the government and
tourism actors in overcoming the impact of the Covid-19 pandemic in the
Mentawai Islands Regency. This type of research is qualitative. This research
was conducted in the Mentawai Islands Regency. Research informants were taken
by incidental sampling. Data analysis was carried out by reducing, presenting
and drawing conclusions. The results showed: 1) No tourist visits to the
Mentawai Islands Regency during the Covid 19 pandemic came from outside on
the grounds of implementing strict health protocols for the community and the
community was required to comply with the health protocols set by the
government. (2) The income of tourism actors during the Covid 19 pandemic in
the Mentawai Islands Regency due to the impact of the Covid 19 pandemic
decreased due to a decrease in tourists visiting tourist objects in the
Mentawai Islands Regency. Tourists who visit are generally local tourists.
The tourism actors who have experienced the decline in their income the most
are travel agencies, hotels and inns. (3) The efforts of the government and
tourism actors in overcoming the impact of the Covid-19 pandemic in the
Mentawai Islands Regency include promoting tourism in the Mentawai Islands
Regency and improving facilities and infrastructure at tourist objects. Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data dan menganalisa
tentang: kunjungan wisatawan, pendapatan pelaku wisata dan upaya pemerintah dan pelaku wisata dalam mengatasi dampak pandemic Covid-19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai. Jenis
penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Informan penelitian diambil secara insidental samplingAnalisis data dilakukan
dengan reduksi, penyajian dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 tidak ada yang berasal dari luar dengan
alasan penerapan protocol
kesehatan yang ketat bagi masyarakat serta diharuskannya masyarakat mematuhi protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. (2)
Pendapatan pelaku wisata selama pandemi Covid 19 di Kabupaten Kepulauan Mentawai akibat dampak pandemi Covid 19 menurun disebabkan berkurangnya wisatawan yang mengunjungi objek wisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Wisatawan
yang berkunjung umumnya wisatawan lokal. Pelaku wisata yang paling merasakan penurunan pendapatan adalah biro perjalanan, hotel dan penginapan.
(3) Upaya pemerintah dan pelaku wisata dalam mengatasi dampak pandemic Covid-19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai diantaranya
dengan melakukan promosi pariwisata kabupaten Kepulauan Mentawai serta pembenahan sarana dan prasarana pada objek wisata. |
Corresponding Author: Alexander Chandra Wijaya S�
E-mail: [email protected]
Pendahuluan
Pertengahan tahun 2019 dunia
dikejutkan dengan adanya new emerging infectious disease di China yang
disebabkan oleh Coronavirus Disease (Covid-19). Covid-19 merupakan virus
yang menyerang sistem pernapasan dengan gejala demam, batuk, pilek, sakit
tenggorokan, sesak napas, letih, dan lesu. Pada kasus berat dapat menyebabkan
pneumonia, sindrom pernapasan akut, hingga kematian (Suni, 2020).
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health
Organization) telah menetapkan status gawat darurat global untuk wabah virus
corona. Dunia menjadi waspada akan wabah virus ini. Tidak hanya waspada
terhadap penyebaran penyakitnya saja akan tetapi juga waspada terhadap dampak
yang mungkin terjadi terhadap perekonomian dunia (Budiyanti, 2020).
Salah satu negara yang ikut terjangkit
virus ini adalah Indonesia. Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia,
berdasarkan pengumuman juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad
Yurianto, pada 28 April 2020 mencapai 9.511 orang (kompas.com., 28 April 2020).
Data kasus dan korban Covid-19 yang tersebar di berbagai negara ini menunjukkan
bahwa Covid-19 telah menjadi masalah global dan menimbulkan dampak bagi
aktivitas internasional, seperti ekonomi dan berbagai aktivitas lainnya (Lisbet,
2020).
Kabupaten Kepulauan
Mentawai merupakan satu-satunya
wilayah Kabupaten di Sumatera Barat yang merupakan wilayah kepulauan. Secara geogarafis letaknya terpisah dari Kabupaten lainnya di Sumatera Barat karena
di batasi oleh laut. Terletak di bagian Barat Sumatera
Barat di perairan Samudera Hindia, merupakan gugusan kepulauan yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata khususnya wisata bahari, sebagai dikawasan pesisir yang dikelilingi laut, pulau-pulau kecil, pesona hutan
yang masih alami dan tradisi budaya yang spesifik, secara pembentukan merupakan jenis pulau tektonik.
Peran wilayah pesisir dan laut
sudah menjadi bagian penting dari kegiatan pembangunan
perekonomian di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sejak tahun 1998 pemerintah Indonesia mempromosikan Kepulauan ini sebagai Indonesian Marine
Tourism Destination (dalam Oram,
1999). Salah satu tempat
yang dijadikan sebagai objek wisata tersebut
adalah Pantai Katiet,
Pantai Mapaddegat dan Pulau
Awera.
Penyebaran Covid-19 menyebabkan
penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, termasuk
salah satunya adalah
Sumatera Barat. Sektor pariwisata
Sumatera Barat merupakan salah satu
sektor andalan.
Berdasarkan data dilapangan terlihat bahwa kunjungan wisatawan ke kabupaten Kepulauan
Mentawai pada tahun 2020 menurun
drastis dibanding tahun 2018 dan 2019. Penurunan ini diakibatkan merebaknya virus Covid-19 Corona, sehingga
banyak pembatasan bagi seseorang untuk melakukan perjalanan, terutama perjalanan wisata.
Semenjak pemerintah pusat memberikan arahan untuk menutup
destinasi wisata di seluruh Indonesia dan diberlakukannya
PSBB (Pembatasan Sosial Berskala
Besar) telah membuat banyak aktivitas stagnan termasuk kegiatan pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai. PSBB diberlakukan
pada tiga tahap mulai tanggal 22 April sampai dengan 7 Juni 2020 akibat peningkatan kasus covid-19 semenjak ditemukan kasus pertama kali di Sumatera
Barat (26 Maret 2020) (Masbiran,
2020).
Berlakunya sosial
distancing, menyebabkan dampak
terhadap sektor pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai yaitu berkurangnya kunjungan wisatawan. Hal ini berarti Covid-19 diduga berpengaruh terhadap pendapatan para pelaku pada sektor pariwisata, pemilik penginapan/hotel, pemilik restoran, pelaku jasa perjalanan
dan masyarakat yang terlibat
dalam sektor pariwisata. Kondisi ini membuat pemerintah
melakukan upaya dari pemerintah untuk mencari solusi
berkaitan dengan sektor ini.
Metode Penelitian
Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bog dan Taylor, metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang diamati, Moleong (2002). Selanjutnya Sugiyono (2010) mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh, jadi dalam
hal ini tidak
boleh mengisolasikan individu atau organisasi
kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya
sebagai bagian dari suatu keutuhan.
Pengumpulan data
Data diperoleh
melalui beberapa cara sesuai dengan
jenis penelitian yang digunakan yaitu wawancara dan observasi.
a.
Wawancara
Wawancara yang ditujukan
kepada seluruh subjek penelitian, untuk mengetahui Dampak
pandemi Covid-19 bagi sektor pariwisata di Kabupaten
Kepulauan Mentawai.
1)
Wawancara bebas
Biasa terwujud dalam bentuk pembicaraan-pembicaraan
ringan namun keterangan-keterangan yang diberikan
diarahkan pada data yang diinginkan
yaitu tentang Dampak
pandemi Covid-19 bagi sektor pariwisata di Kabupaten
Kepulauan Mentawai.
2)
Wawancara terstruktur
Tujuannya adalah untuk memperoleh keterangan khusus yang berkaitan dengan masalah penelitian yaitu Dampak pandemi Covid-19 bagi sektor pariwisata di Kabupaten
Kepulauan Mentawai.
b.
Observasi
Maksudnya adalah teknik yang digunakan untuk melihat dan mengamati kenyataan dilapangan yang terjadi. Dalam observasi ada tiga tahap
kegiatan yang dilakukan peneliti:
1)
Melakukan observasi
umum, dengan tujuan untuk memperoleh
deskripsi umum, tentang situasi sosial yang menjadi objek penelitian.
2)
Melakukan observasi
terfokus, tujuannya untuk memperoleh deskripsi yang lebih rinci tentang berbagai
komponen atau elemen yang sebelumnya ditemukan dalam observasi umum.
3)
Melakukan observasi
terseleksi, yaitu memilih secara lebih tegas mana dari sekian banyak
elemen atau aspek yang telah diketahui menjadi perhatian utama peneliti.
c.
Dokumentasi
Teknik dokumentasi dalam
penelitian dilakukan untuk mengumpulkan, meneliti, dan menganalisis dokumen mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Tahap-tahap penelitian :
1)
Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah menemukan literatur-literatur yang berkaitan
dengan variabel penelitian dengan maksud melandasi variabel-variabel tersebut agar lebih reliabel dengan tujuan penelitian
yang hendak dicapai.
2)
Tahap Pra-lapangan
Tahap pra penelitian
meliputi :
a)
Menyusun rencana penelitian
b)
Memilih lapangan
penelitian
c)
Mengurus perizinan
d)
Menjajaki dan menilai
keadaan penelitian
e)
Memilih dan memanfaatkan
informan
f)
Menyiapkan perlengkapan
penelitian, dan
g)
Persoalan etika
penelitian.
3)
Tahap Pekerjaan Lapangan
�Pada tahap
ini (a) memahami latar penelitian, (b) turun ke lapangan,
(c) berperan dalam mengumpulkan data.
4)
Tahap Analisis
Data
Tahap analisis data meliputi (a) konsep dasar analisis data, (b) memberikan penafsiran terhadap data, (c) menemukan pencatatan dan analisis data (Moleong, 2002).
Analisis data
Dalam penelitian
ini data dianalisis dengan metode kualitatif.
Moleong (2010), analisis kualitatif tidak mengandalkan rumus buku tetapi lebih
mengandalkan kemampuan peneliti. Ada 3 unsur dalam proses analisi data dalam penelitian yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan
proses penyederhanaan dan informasi
data kasar yang muncul dari catatan tertulis
dilapangan. Reduksi data adalah bentuk analisis
yang menajam, menggolongkan
dan mengorganisasikan data sehingga
kesimpulan-kesimpulan akhir
dapat ditarik.
2. Penyajian Data
Penyedian informasi
tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam penyedian data ini peneliti melakukan pengelompokkan, penyusunan data berdasarkan kategori dan urutannya sehingga strukturnya dapat dipahami dan memberikan adanya penarikan kesimpulan.
3. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan
merupakan bagian dari kegiatan utuh.
kesimpulan dilaksanakan setelah penelitian dilakukan.
Hasil
Penelitian dan Pembahasan
Hasil
Penelitian
���� Berdasarkan hasil temuan dilapangan dan sesuai dengan tujuan
penelitian maka didapatkan hasil tentang Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Sektor Pariwisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai (Studi pada Objek Wisata Pantai Katiet, Pantai Mapaddegat dan Pulau Awera)� sebagai berikut:
1.
Kunjungan wisatawan selama
pandemic Covid-19 di Kabupaten Kepulauan
Mentawai
Pandemi COVID-19 yang mewabah, sangat berdampak pada
industry pariwisata halal yang sedang
bergeliat tumbuh dan berkembang di Indonesia. Virus tersebut
menyebabkan gangguan pada rantai pasok global, dalam negeri, volatilitas pasar keuangan, guncangan permintaan konsumen dan dampak negatif di sektor-sektor utama seperti perjalanan dan pariwisata. Dampak wabah Covid-19 tidak diragukan lagi akan terasa di seluruh rantai nilai pariwisata
Kunjungan wisatawan
selama pandemic Covid-19 ke
Kabupaten Kepulauan
Mentawai seperti dikemukakan
oleh staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai,
Bapak Rs, wawancara tanggal
18 Juli 2022 sebagai berikut:
�Selama covid strategi apapun kita lakukan
agar pengunjung masuk menurut saya tidak
bisa berubah pengunjungnya itu dikarenakan pemerintah itu mengkat kebijakan
kebijakn pemerintahyang membuat pengunjung tidak datang. Dari tahun 2020 sampai sekarang tahnun 2022 mengalami penurunan pengunjung semasa covid itu pun pengunjung yang datang hanya wisatawan
yang terkurung selama covid� contoh
dari bali datang kementawa. Intinya semasa covid kunjungan wisatawan mengalami penurunan otomis pendapat daerah berkurang. Sedangkan frekuensi untuk pengunjung tidak ada semasa
covid�
Gambar 1. Wawancara dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan����
Mentawai, Bapak Rs (Dokumentasi Penelitian, Juli 2022)
Hasil wawancara tersebut juga didukung dengan pernyataan dari pelaku pariwisata Ibu Sk (wawancara tanggal
20 Juli 2022), sebagai berikut:
�Selama Covid-19 memang untuk kunjungan
ke wisata tidak beroperasi bagi pewisata yang datang dari luar
kota kecuali pewisata yang terkurung di wisata lain. Untuk
frekuensi bagi yang mengunjungi wisata Katiet selama covid harus mematuhi protokol kesehatan dan harus di karantina selama 10 hari dulu.�.
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan
bahwa kunjungan wisatawan ke Kabupaten
Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 tidak ada sama sekali,
sesuai dengan adanya pembatasan perjalanan bagi masyarakat. Wisatawan yang berasal dari luar
Kepulauan Mentawai tidak ada yang berkunjung karena berbagai syarat yang harus mereka penuhi terlebih
dahulu.
Hal ini juga diperkuat
dengan pernyataan pengunjung objek wisata, Facs yang merupakan masyarakat yang berasal dari Kepulauan
Mentawai sendiri (wawancara
tanggal 26 Juli 2022), sebagai berikut:
�Yang pastinya
sangatlah susah itu dikarenakan untuk mudik di tutup. Terus wisatawan harus menjalani karantina selama 2 minggu dan mematuhi protokol kesehatan yangtelah di anjurkan oleh pemerintah�.
�Hal ini juga didukung dengan pernyataan pengunjung lain yaitu Lz (wawancara
tanggal 31 Juli 2022) sebagai berikut:
�Kaku
tai Mentawai lek aku, mareirei
kuoi senek mugejek. Pas bara corona memang tak an momoi tuei
mugejek senek. Tapoi nenda kai peraturan makopek ron katubutda sasareu
sioi ka Mentawai. Tapoi kakai leuet memang
momoi kuoi kai tapoi harus masih
pakek masker sabbat bagei sikuatda sautek�
Saya
berasal dari Mentawai, sering juga mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada disini. Selama
Covid 19 memang ada larangan untuk mengunjungi tempat wisata, tetapi larangan umumnya berlaku bagi wisatawan
yang berasal dari luar Mentawai. Kami masyarakat
Mentawai masih bisa mengunjungi objek wisata dengan syarat
mematuhi protocol kesehatan
yang ditetapkan pemerintah�.
Sepinya kunjungan wisatawan dari luar daerah
dikemukakan juga oleh Bb, wisatawan
lokal (wawancara tanggal 28 Juli 2022) sebagai berikut:
�Pengaruh covid sangatlah
berdampak terhadap pengunjung dan juga pengusaha lokal seperti cafe tempat karaukean, karena kalau tidak
ada pengunjung���� perputaran ekonomi pasti tidak
akan berputar juga. ada itu memang
di wajibkan dan selalu jaga
jarak dan selalu di awasi oleh satpolpp dan serta wajib pakek
masker dan cuci tangan sesuai protokol kesehatan�
Beberapa hasil wawancara di atas diketahui bahwa kunjungan wisatawan ke objek
wisata yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai
sangat minim sekali, kecuali
wisatawan lokal. Wisatawan tidak melakukan perjalanan ke Kabupaten Kepulauan
Mentawai seiring dengan adanya protocol kesehatan serta adanya kewajiban
untuk karantina bagi pengunjung dari luar daerah.
Wisatawan lokal masih bisa mengunjungi
tempat wisata dengan memenuhi persyaratan protocol kesehatan
yang ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan dari hasil wawancara
di atas maka dapat disimpulkan bahwa kunjungan wisatawan
ke Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 tidak ada yang berasal dari luar, hanya
wisatawan lokal. Hal ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah tentang pembatasan perjalanan, penerapan protocol kesehatan yang
ketat bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan serta diharuskannya masyarakat mematuhi protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2.
Pendapatan Pelaku Wisata
selama pandemic Covid-19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai.
Sektor-sektor penunjang
pariwisata seperti hotel, restoran maupun pengusaha hotel dan penginapan
juga terpengaruh dengan adanya virus Corona. Pendapatan pelaku wisata selama
pandemi Covid 19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai terdampak,
karena berkurangnya kunjungan wisatawan. Berkurangnya pendapatan pelaku wisata Kabupaten
Kepulauan Mentawai seperti dikemukakan oleh staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai, Bapak Rs, wawancara
tanggal 18 Juli 2022 sebagai berikut:
��Masih covid pedagang bisa dibilang
kayak efek domino masalah satu akan kena
yang lain karna masalah pedang disitu ada
kaitannya dengan kuliner ada kaitannya
dengan seni artinya tidak jalan
mereka otomatis keberatan pas pemerintah mengadakan pembatasan mudik jadi itu sangat berefek. Pedagang itukan sasarannya berupa pengunjung. jadi kita bilang
pendapatan mereka berkurang�.
Hal serupa
juga ditambahkan oleh pelaku
wisata yang merupakan pemilik restoran di Katiet Kabupaten Kepulauan Mentawai Sk (wawancara tanggal 20 Juli 2022) sebagai berikut:
�Kalau di wisata
Katiet selama covid penjualannya masih stabil tapi tidak
sampai anjlok karena di wisata Katiet selama covid tetap beroperasihdalam arti tetap buka. Dan setiap orang yang berwisata tetap mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. tingkat penjualan di wisata katiet masih
stabil dan masih bisa diputar-putar keungan resort karena pada saat covid yang berkunjung di wisata katiet orang yang tinggal di resort lain atau wisata lain dan berkunjung disini. Itu tejadi
karena di wisata katiet pada saat covid kami disini mengadakan promosi wisata besar-besaran. Jadi para pengunjung
yg ada di wisata lain berbondong bondong datang ke wisata katiet
karena adanya promo besar-besaran dan para wisata dari luar negri
yang pada saat sebelum
covid mereka sudah ada di Mentawai dan setelah adanya covid mereka terkurung di Mentawai maka dari itu mereka
jadi mengunjungi wisata yang memiliki promosi contoh wisata bali dan wisata lain yang ada di mentawai itu setiap
para pengunjung pada saat
covid mereka berbondong-bondong
mencari promosi di wisata lain contoh wisata Katiet yang mengadakan promosi.�
Gambar 2. Wawancara dengan
Ibu Sk, pelaku wisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai (Dokumentasi Penelitian, Juli 2022)
Wawancara di atas, terlihat
bahwa tidak semua objek wisata
di Kepulauan Mentawai yang mengalami
campak Covid 19, salah satunya
adalah objek wisata Pantai Katiet. Pengunjung yang datang umumnya dari luar
dan ada juga wisatawan yang
datang sebelum adanya Covid, sehingga mereka memperlama waktu tinggal di Mentawai sekaligus mengunjungi objek wisata� yang ada.
Hal yang berbeda terjadi di Objek Wisata di Pantai Mapaddegat, seperti dikemukakan oleh pedagang, PSS (wawancara tanggal 21 Juli 2022) sebagai berikut:
�Selama Covid objek
wisata Mapaddegat berkurang dikarenakan para wisatawan terkhusus wisatawan luar pada saat Covid kadang ada yang tidak datang berkunjung atau berwisata� dan akibatnya penjualan pedagang bisa dibilang pendapatannya
turun drastis diakibatkan oleh Covid. Dan adapun
wisatawan lokal yang berkunjung seperti sekitaran Mentawai tapi tidak banyak juga pemasukan bagi pedagang. Intinya selama Covid bisa dibilang berkurang pendapatan para pedagang�.
Kondisi menurunya pendapatan pelaku wisata juga diungkapkan oleh pelaku wisata bidang biro perjalanan di Mentawai, wawancara
dengan Tm, tanggal 28 Juli 2022 sebagai berikut:
�Kondisi biro perjalanan
kalau untuk mengunjungi wisata katiet disini memiliki
2 bentuk perjalanan yaitu jalan darat
dan jalan laut. Kalau didarat perjalanan
masih dalam proses perbaikan itu dikarenakan
jalan kurang bagus dan agak lama sampainya di wisata katiet kalau jalan
laut, pertama ada tim penjemputan
pengunjung pakek boat atau kapal yang telah di sediakan resort dan perjalan laut tidak
memakan waktu lama. Jadi kesimpulannya para wisata kebanyakan mengunkan jalan laut. Kecuali
wisata lokal mereka kebanyakan jalan darat�.
Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa pendapatan pelaku wisata selama
pandemi Covid 19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai terjadi
pada sektor perdagangan dan
biro perjalanan. Hal ini terjadi karena kurangnya kunjungan wisatawan yang berasal dari luar Mentawai. Wisatawan lokal yang berkunjung selama pandemi Covid 19 tidak memberikan pendapatan yang memadai bagi pedagang,
karena jumlah wisatawan yang berkunjung tidak terlalu banyak.
Berkurangnya pendapatan pelaku
wisata Kabupaten Kepulauan Mentawai, terutama bagi pelaku wisata
restoran dan rumah makan seperti dikemukakan
oleh staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai,
Bapak Rs, wawancara tanggal
18 Juli 2022 sebagai berikut:
�Otomatis pasti
hampir sama dengan kondisi pedagang. Itu dikarenakan
pada saat covid kadang untung restoran pasti kebanyakan tertutup dikarenakan tidak adanya pembeli
semasa covid.
Hal serupa
juga ditambahkan oleh pelaku
wisata Kabupaten Kepulauan Mentawai yang bergerak dalam bidang restoran,
yaitu R (wawancara tanggal 22 Juli 2022) sebagai berikut:
�Semasa Covid kondisi
restoran diwisata pulau awera memang
kadang ada yang tertutp dan kadang ada juga terbuka, itu karena adanya
anjuran dari pemerintah.�.
Kurangnya pendapatan
pemilik restoran dikemukakan oleh pelaku wisata di Pantai Mappadegat Kabupaten Kepulauan Mentawai, PSS
(wawancara tanggal 26 Juli 2022) sebagai berikut:
�Pada semasa
Covid pemerintah menerepkan
protokol kesehatan dan setiap pewisata tetap harus mematuhi
protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Selama Covid restoran atau cafe tetap terjaga kebersihannya dan setiap pengunjung yang datang untuk makan
tetap mematuhi protokol kesehatan�
Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa pendapatan pelaku wisata bidang
restoran dan rumah makan di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 juga menurun, walaupun pengelola restoran dan rumah makan tetap ada
yang buka dan menjaga kualitas restoran mereka. Wisatawan dari luar daerah
maupun wisatawan lokal enggan untuk
makan di restoran dan rumah makan karena
adanya aturan protocol kesehatan dari pemerintah. Bagi wisatawan yang sudah ada di Mentawai sebelum Covid, mereka umumnya memanfaatkan tempat menginap sekaligus sebagai tempat makan.
Gambar 3. Wawancara dengan
salah satu pengunjung Objek Wisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai (Dokumentasi Penelitian, Juli 2022)
Berkurangnya pendapatan pelaku
wisata Kabupaten Kepulauan Mentawai yang paling besar
adalah biro perjalanan. Hal
ini dikemukakan oleh staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai,
Bapak Rs, wawancara tanggal
18 Juli 2022 sebagai berikut:
�Biro perjalanan saya rasa sama semasa covid merupoakan pihak yang paling terdampak, karena tidak adanya
wisatawan dari luar daerah yang berkunjung ke objek
wisata artinya dengan masa covid dan adanya kebijakan semua bisa di bilang ber efek domino itu dikarenakan adanya aturan yang di terah kan pemerintahan
semasa covid 19 contoh tidak boleh mudik.�
Hal serupa
juga ditambahkan oleh pelaku
wisata Kabupaten Kepulauan Mentawai Sk (wawancara tanggal 20 Juli 2022) sebagai berikut:
�Biro perjalanan merupakan pikhak yang paling menderita selama Covid 19 karena tidak adanya
perjalanan wisata dari luar Mentawai. Wisata lokal kebanyakan
menggunakan jalan laut. Kecuali wisata
lokal mereka kebanyakan jalan darat�
Gambar 4. Wawancara
dengan salah satu pelaku wisata di bidang biro perjalanan. (Dokumentasi Penelitian, Juli 2022)
Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa pendapatan pedagang selama pandemi Covid 19 bidang biro perjalanan sangat menurun. Hal ini tidak adanya
perjalanan yang dilakukan
oleh wisatawan dari luar daerah, sehingga
tidak ada wisatawan yang memanfaatkan biro perjalanan.
Hotel dan penginapan sebagai salah satu sarana pendukung
pariwisata juga mengalami dampak dengan adanya
pandemi Covid 19. Hal ini seperti dikemukakan oleh staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Mentawai,
Bapak Rs, wawancara tanggal
18 Juli 2022 sebagai berikut:
��Selama
covid kondisi hotel atau penginapan kadang tidak buka itu
dikarenakan tidak adanya pengunjung yang datang�
Hal berbeda
terjadi pada objek wisata Pantai Ketiet, seperti dikemukakan oleh pelaku wisata Pantai Kaetiet Kabupaten Kepulauan Mentawai Ls (wawancara tanggal 28 Juli 2022) sebagai berikut:
�Kondisi hotel atau
penginapan pada saat covid bisa dibilang masih
aman karna itu kami disisni mengadakan promosi wisata dan membuat wisata katiet pada saat covid bisa dibilang masih banyak pengunjungnya. Itu di karenakan yang mengunjungi wisata katiet adalah orang yang berwisata di tempat lain dan datang kesinidan juga orang berwisata disini belum ada yang positif corona jadi aman jadinya�
Hal yang bertolak belakang dikemukakan oleh pelaku wisata, yaitu PSS (wawancara tanggal 21 Juli 2022) sebagai berikut:
� Kondisi penginapan
selama Covid bisa dibilang ditutup itu� dikarenakan
para wisatawan tidak ada yang berkunjung dan pendapatan untuk penginapan tidak ada jadi intinya
semasa Covid penginapan
yang ada diwisata Mapaddegat bisa dibilag ditutup.karena kebanyakan pengunjung dari luar kota
jadi pada saat Covid ditutup karena pengunjungnya tidak ada yang datang.
Kalau wisata Mapaddegat pada saat Covid tingkat huniannya berkurang, itu dikarenakan semasa Covid wisata tersebut ditutup dari tahun
2020-2021 wisata Mapaddegat
barulah dibuka kembali dengan mematuhi protokol kesehatan
Gambar 5. Kondisi ObjekWisata
Mapadeggat Kabupaten Kepulauan Mentawai. (Dokumentasi Penelitian, Juli 2022)
Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa pendapatan pelaku wisata selama
pandemi Covid 19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai menurun disebabkan oleh tidak adanya wisatawan dari luar Mentawai yang berkunjung. Pedagang, pemilik restoran, biro perjalanan dan hotel serta penginapan mengalami dampak akibat pandemi
Covid 19. Penyebab utama menurunnya pendapatan pelaku wisata adalah
minimnya kunjungan wisatawan ke objek
wisata karena protocol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Wisatawan yang mengunjungi objek wisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 didominasi oleh wisatawan lokal, sehingga pelaku wisata yang paling merasakan penurunan pendapatan adalah biro perjalanan, hotel dan
penginapan.
3.
Upaya pemerintah dan pelaku
wisata dalam mengatasi dampak pandemic
Covid-19 di Kabupaten Kepulauan
Mentawai
Pemulihan pariwisata dari dampak pandemi Covid-19 tidak mudah. Pariwisata
adalah sistem kompleks yang melibatkan jaringan pelaku usaha yanp sanpat
banyak dari tingkat plobal maupun lokal. Sektor
pariwisata memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan dengan berbagai
industri. Pariwisata merupakan sistem terbuka yang terdapat interaksi antar orang dan lingkungannya. Diperlukan penanganan multi sistem termasuk sistem ekonomi dan kesehatan global dan lokal
Pemerintah berupaya membuat kebijakan pemulihan sektor pariwisata secara bertahap dimulai dengan membuka industri perhotelan dan restoran dengan pemberlakukan protokol kesehatan, pelaku industri pengolahan, dan destinasi wisata. Upaya pemerintah
dalam mengatasi dampak
pandemic Covid-19 di Kabupaten Kepulauan
Mentawai seperti
dikemukakan oleh Staf Dinas Pariwisata,
Bapak RS (wawancara tanggal
18 Juli 2022) sebagai berikut:
� kegiatan
promosi selama covid tetap di lakukan melalui media sosial tanpa harus turun
lapangan. Contoh promosi harga serta
tentang kepariwisataan. Pembenahan kita tetap lakukan kayak adanya sapta pesona
contoh kebersihannya, keamananya, kenyamanan itu tetap dilakukan
dan dijaga dan tetap dilakukan pembangunan semenarik dan seunik mungkin untuk pesona
wisatanya. Selama covid pelayan dan perbaikan itu tetap kita
lakukan untuk menjaga ke alaman
pesona mentawainya�
Pernyataan tersebut juga didukung pengunjung objek wisata yaitu PL (wawancara tanggal 25 Juli 2022) sebagai berikut bahwa:
�Untuk promosi
selama covid ada, contoh pemotongan harga. kalau pembenahan
semasa Covid kalau menurut saya belum
ada soalnya semasa Covid kebanyakan karyawannya banyak yang diliburkan dan adapun pembenahnnya setelah pemerintah mengadakan kelonggaran untuk berwisata. Jadi, pembenahan terjadi pada saat adanya kelonggaran dari pemerintah itu terjadi ditahun
2020-2021 disitu saya lihat adanya kayak perbaikan wisata dipulau awera, contoh perbaikan penginapan atau penambahan penginapan dan masih banyak yang laina�.
Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh pengujung lainnya, TS senada dengan pendapat
Bb (wawancara tanggal 27 Juli 2022) sebagai berikut:
��Promosi
menurut saya selama covid tidak diadakan terutam auntuk objek wisata
Mapaddegat, apalagi pada saat awal covid wisata di mapaddegat di tutup. untuk pembenahan
menurut saya tidak ada pada saat covid itu di karenakan pemerintah juga menganjur kan untuk
tidak keluar rumah karna nanti
kenak virus corona. pembenahan
terjadi setelah virus
corona sudah mulai aman atau sudah
ada izin pemerintah untuk bisa beraktifitas�.
Gambar 6. Wawancara dengan
Informan Penelitian (Dokumentasi Penelitian, Juli 2022)
Hasil wawancara tersebut terlihat bahwa upaya pemerintah
dan pelaku wisata dalam mengatasi dampak pandemic Covid-19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai diantaranya
dengan melakukan promosi pariwisata kabupaten Kepulauan Mentawai serta pembenahan sarana dan prasarana pada objek wisata. Pembenahan
dilakukan untuk mengantisipasi berakhirnya wabah pandemi Covi
19, sehingga kunjungan wisatawan normal kembali.
Pembahasan
�� Pertama, kunjungan wisatawan ke Kabupaten
Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 tidak ada yang berasal dari luar, hanya
wisatawan lokal. Hal ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah tentang pembatasan perjalanan, penerapan protocol kesehatan yang
ketat bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan serta diharuskannya masyarakat mematuhi protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
�� Hal ini sesuai dengan pendapat Pitana dan Diarta (2009:184) bahwa suatu destinasi
wisata yang dikunjungi wisatawan dapat dipandang sebagai konsumen sementara. Mereka datang ke
daerah tersebut dalam jangka waktu
tertentu, menggunakan sumber daya dan fasilitasnya dan biasanya
mengeluarkan uang untuk berbagai keperluan, dan kemudian meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke
rumah atau negaranya. Jika wisatawan yang datang ke destinasi
tersebut sangat banyak, mengeluarkan sebegitu banyak uang untuk membeli berbagai keperluan selama liburannya, tidak dapat dibantah bahwa hal ini
akan berdampak pada kehidupan ekonomi daerah tersebut, baik langsung maupun
tidak langsung. Dampak ekonomi yang ditimbulkannya dapat bersifat positif maupun negatif.
�� Kedua,
pendapatan pelaku wisata selama pandemi
Covid 19 di Kabupaten Kepulauan
Mentawai menurun disebabkan
oleh tidak adanya wisatawan dari luar Mentawai yang berkunjung. Pedagang, pemilik restoran, biro perjalanan dan
hotel serta penginapan mengalami dampak akibat pandemi Covid 19. Penyebab utama menurunnya pendapatan pelaku wisata adalah
minimnya kunjungan wisatawan ke objek
wisata karena protocol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Wisatawan yang mengunjungi objek wisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 didominasi oleh wisatawan lokal, sehingga pelaku wisata yang paling merasakan penurunan pendapatan adalah biro perjalanan, hotel dan
penginapan
�� Hal ini
sesuai dengan pendapat BPS (2006) pendapatan
adalah merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi dalam jangka waktu tertentu . Balas jasa tersebut
dapat berupa sewa, upah atau
gaji, bunga uang ataupun laba. Dilihat
dari pemanfaatan tenaga kerja pendapatan
yang berasal dari balas jasa berupa
upah atau gaji di sebut dengan
pendapatan tenaga kerja (labor income). Sedangkan pendapatan dari balas jasa
selain tenaga kerja disebut dengan
pendapatan bukan tenaga kerja (non labor- income) . Disamping itu
ada pula pendapatan yang bukan berasal dari
balas jasa atas pemanfaatan faktor produksi dan tidak bersifat mengikat. Pendapatan ini disebut pendapatan
transfer. Pendapatan transfer ini
(transfer income) dapat
berasal dari pemberian perseorangan atau institusi (misalnya pemerintah).
�� Ketiga,
upaya pemerintah dan pelaku
wisata dalam mengatasi dampak pandemic
Covid-19 di Kabupaten Kepulauan
Mentawai diantaranya dengan
melakukan promosi pariwisata kabupaten Kepulauan Mentawai serta pembenahan sarana dan prasarana pada objek wisata. Pembenahan dilakukan untuk mengantisipasi berakhirnya wabah pandemi Covi
19, sehingga kunjungan wisatawan normal kembali.
�� Hal ini
sesuai dengan hasil pendapat Damanik dan Weber (2006:19) bahwa
pemerintah sebagai pihak yang mempunyai otoritas dalam pengaturan, penyediaan, dan peruntukan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan pariwisata. Tidak hanya itu, pemerintah
juga bertanggungjawab dalam
menentukan arah yang dituju perjalanan pariwisata. Kebijakan makro yang ditempuh pemerintah merupakan panduan bagi stakeholder yang
lain dalam memainkan peran masing-masing
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan
di atas dapat disimpulkan tentang Dampak Pandemi Covid-19 Bagi Sektor Pariwisata
di Kabupaten Kepulauan
Mentawai (Studi pada Objek Wisata Pantai Katiet, Pantai Mapaddegat dan Pulau Awera) sebagai berikut:
1.
Kunjungan
wisatawan ke Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 tidak ada yang berasal dari luar
dengan alasan penerapan protocol kesehatan yang
ketat bagi masyarakat serta diharuskannya masyarakat mematuhi protocol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2.
Pendapatan
pelaku wisata selama pandemi Covid 19 di Kabupaten Kepulauan Mentawai akibat dampak pandemi
Covid 19. Wisatawan yang mengunjungi
objek wisata di Kabupaten Kepulauan Mentawai selama pandemi Covid 19 didominasi oleh wisatawan lokal, sehingga pelaku wisata yang paling merasakan penurunan pendapatan adalah biro perjalanan, hotel dan penginapan
3.
Upaya
pemerintah dan pelaku wisata dalam mengatasi
dampak pandemic Covid-19 di Kabupaten
Kepulauan Mentawai diantaranya
dengan melakukan promosi pariwisata kabupaten Kepulauan Mentawai serta pembenahan sarana dan prasarana pada objek wisata.
Daftar Pustaka
�BPS
Sumatera Barat. 2021. Sumatera Barat dalam Angka Tahun 2021. Padang: CV.
Petratama Persada
Budiyanti, E. 2020. �Dampak Virus Corona Terhadap
Sektor Perdagangan Dan Pariwisata Indonesia�. Kajian Bidang Ekonomi Dan
Kebijakan Publik, XII (4), 19�24.
Damanik, Janianton dan Helmut F. Weber. 2006.
Perencanaan Ekowisata. Andi Offset: Yogyakarta
Hanoatubun, S. 2020. Dampak Covid�19 terhadap
Prekonomian Indonesia. EduPsyCouns:
Journal of Education, Psychology and Counseling, 2(1), 146-153.
Ismayanti. 2014. Pengantar Pariwisata. Jakarta:
Grasindo
Itamar, Hugo. 2016. �Strategi
Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Tanah Toraja�. Journal-UNHAS.
Makassar: Universitas Hasanuddin.
Liga, M. Suryadana. 2015. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta:
Humaniora.
Mahadiansar, M., Wijaya, A. F., & Wanto, A. H.
2021. Analisis Dampak Penutupan Akses Pariwisata di Wilayah Perbatasan
Kabupaten Bintan Pada Masa Pandemi COVID-19. In Prosiding Seminar Nasional Perbatasan Dan Desa, 1(1)
Matthew B. Milles & Huberman. 1992. Analisa Data
Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara
Moleong, J. Lexi. 2002. Tahap-tahap Penelitian, Edisi
Revisi. Remaja Rosda Karya, Bandung
Pitana, I Gde dan Diarta, I Ketut Surya. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Andi
Offset, Yogyakarta
Pitana, Gde, Diarta, Ketut. 2005. Pengantar Ilmu Pariwisata. Andi
Yogyakarta
Purwahita, A. R. M., Wardhana, P. B. W., Ardiasa, I.
K., & Winia, I. M. 2021. Dampak Covid-19 terhadap Pariwisata Bali Ditinjau
dari Sektor Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan (Sebuah Tinjauan Pustaka). Jurnal Kajian dan Terapan Pariwisata,
1(2)
Sherraden, Michael. 2006. Aset Untuk Orang Miskin.
Jakarta: Raja Grafindo.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Undang Undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Yoeti, A. Oka. 2006. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.