ANALISIS
SPASIAL TEMPAT PENGGILINGAN PADI DI KECAMATAN TIGO NAGARI KABUPATEN PASAMAN
Adilla
Muhararisa1, Dasrizal2, Afrital Rezki3
Universitas
PGRI Sumatera Barat
|
Riwayat Artikel: Received: 01-10-2022 Revised: 26-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords:
rice mill (pattern,
distance, slope). Kata Kunci: penggilingan padi (pola, jarak
jalan, lereng). |
|
Abstract This study aims
to obtain data, process, analyze and discuss the
Spatial Analysis of Rice Mills, Tigo Nagari
District, Pasaman Regency seen from: 1. Spatial
Distribution of Rice Mills 2. Spatial Distribution of Rice Fields, Slopes and
Road Networks in Tigo Nagari District 3.
Distribution Spatial rice fields and rice mills and their relation to slopes
and road distances in Tigo Nagari District. This
research belongs to the type of descriptive research. The population and
samples in this study were all Rice Mill Locations in Tigo
Nagari District. taken by taking a sample, namely the total sample is the
same as the population, namely total sampling. The data analysis technique
uses Spatial Analysis, Nearest Neighbor Analysis
(ANN) and Buffering. The final results of this study found that: 1). The
distribution of the total number of rice mills was 27, in Nagari Binjai 5, Ladang Panjang 22 and Malampah
0. As well as the distribution pattern of rice mills based on Nagari, namely
Nagari, Binjai the distribution of the pattern was
Uniform (Regular) in Nagari Ladang Panjang tends to be uneven/random (random
pattern). (2). The distribution of paddy fields based on the total area of
rice fields in Tigo Nagari District
is 3,952 Ha, where the distribution is, Binjai is
781 Ha (20%) Ladang Panjang is 1,038 Ha (26%) and Malampah
Barat is 2,105 Ha (54%) , the slope in Tigo Nagari District where the highest land area based on
a slope of 0-8% and > 45% which has the same land area of
25,841 and the distribution of the road network, the
distribution of the road covers the entire Nagari that is there 3).
Distribution rice fields and rice mills and their relation to slopes in Tigo Nagari District that the area of paddy
fields is based on the slope where the highest area of rice
fields is based on the slope of the slope, which is a slope of <8% which
means (Sloping, rice plants will grow optimally, because of its nutrients.
because it contains nutrients well, amounting to 3,732 Ha and the distance
from the road to the mill used is 1-500 meters, where the number of locations
There are 21 rice mills located at a distance of 1-100 meters and the least amount
is at a distance of 1001-200 meters and 301-400 meters for 1 location of rice
mills. Abstrak Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data, mengolah, menganalisis dan membahas Analisis Spasial Tempat Penggilingan Padi Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman dilihat dari: 1.Distribusi Spasial Penggilingan Padi 2. Distribusi Spasisl Sawah, Kemiringan Lereng dan Jaringan Jalan di Kecamatan Tigo Nagari 3. Distribusi Spasial sawah dan penggilingan padi serta kaitanya
dengan lereng dan Jarak jalan di Kecamatan Tigo Nagari. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Populasi dan sampel dalam penelitian ialah semua Lokasi Penggilingan Padi di Kecamatan Tigo Nagari. diambil dengan cara mengambil
sampel yaitu total sampel sama dengan
populasi yaitu total
sampling. Teknik analisa data menggunakan
analisis Analisis Spasial,Analisis tetangga terdekat (ANN) dan
Buffering. Hasil akhir penelitian
ini yang di temukan bahwa :
1).Distribusi jumlah penggilingan padi keseluruhan berjumlah 27, di
Nagari Binjai 5, Ladang Panjang 22 dan Malampah 0. Serta pola persebaran penggilingan padi berdasarkan Nagari yaitu Nagari, Binjai persebaran Pola nya Seragam (Regular) di Nagari Ladang Panjang cendrung tidak merata/acak (random pattern).
(2).Distribusi lahan sawah
berdasarkan luas keseluruhan lahan sawah di Kecamatan Tigo Nagari� seluas 3.952 Ha, dimana persebarannya, Binjai seluas 781 Ha (20%)
Ladang Panjang seluas� 1.038�
Ha (26%) dan Malampah Barat sebesar 2.105 Ha (54%), kemiringan
lereng di Kecamatan Tigo Nagari dimana Luas lahan yang paling Tinggi berdasarkan
kemiringan lereng 0-8%
dan > 45 % yang memiliki luas
lahan yang sama besar yaitu seluas
25.841 dan persebaran jaringan
jalan persebaran jalan mencakupi keseluruhan Nagari yang ada disana 3).Distrisbusi lahan sawah dan tempat penggilingan padi serta kaitanya dengan lereng di Kecamatan Tigo Nagari bahwasanya Luas lahan sawah berdasakan kemiringan lereng dimana luas sawah yang paling tinggi berdasarkan kemiringan lereng yaitu lereng < 8 % artinya (Landai, tanaman padi akan tumbuh
dengan optimal,karena unsur hara nya karena mengandung unsur hara dengan baik. sebesar 3.732 Ha dan
Jarak jalan terhadap Penggilingan yang digunkan
1-500 Meter, dimana jumlah
loaksi penggilingan padi yang banyak terdapat di jarak 1-100 Meter berjumlah 21 dan jumlah yang
paling sedikit berada di
Jarak 1001-200 Meter dan 301-400 Meter sebanya 1
Lokasi pengilingan Padi. |
|
|
|
Corresponding Author: Adilla Muhararisa�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Indonesia
adalah salah satu Negara agraris dimana, sebagian besar atau hampir keseluruhan
penduduknya tinggal di perdesaan dengan mata pencaharian sebagai petani. Penduduk Indonesia pada umumnya mengkonsumsi hasil pertanian untuk makanan pokok mereka.
Pertanian di Indonesia perlu
ditingkatkan produksinya semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan pangan akan tetapi, tantangan
untuk mencapai hal tersebut sangat besar karena luas
wilayah pertanian yang semakin
lama semakin sempit, penyimpangan iklim, pengembangan produk lain, teknologi yang belum modern, dan masalah yang satu ini adalah
masalah yang sering meresahkan hati para petani yaitu hama
dan penyakit yang menyerang
tanaman yang sedang di budidayakan. Hasil produksi tanaman padi di Indonesia belum bisa memenuhi
target kebutuhan masyarakat
karena ada di beberapa daerah di Indonesia yang
masih mengalami kelaparan atau kekurangan pangan (Novalinda, 2014)
Ketersediaan pangan merupakan kondisi penyediaan yang cukup makanan dan minuman yang berasal dari tanaman, ternak,
dan ikan serta yang berkaitan
dengan pangan lainnya, bagi penduduk
suatu wilayah dalam suatu kurun waktu
tertentu.Ketersediaan pangan
merupakan suatu sistem yang berjenjang atau bertingkat, mulai dari nasional,
provinsi (regional), lokal
(kabupaten/kota), dan rumah tangga/individu.Ketersediaan
pangan dapat diukur pada tingkat makro (nasional), meso (provinsi, kabupaten/kota) maupun tingkat mikro (rumah tangga)
(Baliwati & Roosita
2004). Ketersediaan pangan
(food availibility) di suatu
daerah atau wilayah ditentukan oleh berbagai faktor seperti keragaman produksi pangan, tingkat kerusakan dan kehilangan pangan karena penanganan
yang kurang tepat, dan tingkat ekspor/impor pangan (Mahfi
2009)
Lahan sawah merupakan lahan pertanian yang digunakan untuk menanam padi,
lahan pertanian tersebut membentuk petak-petak dan dibatasi oleh pematang (gelengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi tanpa
memandang dimana diperoleh/status lahan tersebut. Digunakan secara terus menerus
sepanjang tahun maupun bertahap dengan tanaman palawija(Widiastuti, 2017).�
Tanah di sawah adalah areal tanah pertanian basah dan atau kering yang digenangi air secara berkala dan atau terus-menerus ditanami padi dan atau diselingi dengan tanaman tebu, tembakau dan atau tanaman semusim
lainnya seperti jagung, kacang panjang, kecipir, mentimun.
Di
Indonesia, usaha penggilingan
padi adalah salah satu usaha yang berfungsi sebagai tempat pengolahan padi menjadi beras
milik petani yang selanjutnya di salurkan kepada pembeli atau konsumen. Peranan ini selanjutnya
menjadikan usaha penggilingan padi sebagai titik pokok
dari suatu kawasan pertanian. penggilingan padi ikut menentukan jumlah ketersediaan pangan, mutu pangan,
harga pangan, pendapatan petani, serta lapangan pekerjaan di pedesaan. Penggilingan padi menjadi titik acuan
industri pedesaan sehingga memainkan peranan yang sangat besar terhadap perekonomian pedesaan.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis
penelitian deskriptif. Populasi dan sampel dalam penelitian ialah semua Lokasi Penggilingan Padi di Kecamatan Tigo Nagari. diambil dengan cara mengambil sampel yaitu total sampel sama dengan
populasi yaitu total
sampling. Teknik analisa data menggunakan
analisis Analisis Spasial, Analisis tetangga terdekat (ANN) dan
Buffering.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Distribusi jumlah penggilingan padi di Kecamatan Tigo Nagari di Kabupaten Pasaman sebanyak 27 Orang yamg tersebar di Nagari-nagari yang adi di Kecamatan Tigo Nagari diantaranya Nagari Binjai (PP Isau, PP Jusar, PP Penggilingan petani, PP Udin dan PP Tomi) berjumlah 5 Orang ( 19%), Nagari Ladang Panjang (PP Adi, PP
Anaih, PP Bari, PP Culiak,
PP H.Lukman, PP H.Manua, PP
Ijun, PP Inan, PP Jon, PP Juniawan, PP Mayu, PP Misi, PP Munas, PP Munia, PP
Putra, PP Sabor, PP Safri,
PP Sion, PP Sipen,PP Tonyok,
PP Untuang dan PP Siwan) berjumlah
22 Orang (81%) dan Nagari Nagari Malampah
berjumlah 0 (0%). Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini.
Kapasitas penggilingan
padi di Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman� memiliki 4 kategori yaitu kategori 0 -16,5 ton� (Sangat Rendah)� yaitu berjumlah 18 orang penggilingan padi 16,5 � 33 ton (Rendah) yaitu berjumlah 2 orang penggilingan padi� , 33 � 49,5 ton (Sedang) yaitu
berjumlah� 3
orang , sedangkan�
>49,5 ton (Tinggi) berjumlah 4 orang.
Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar di bawah ini.
Tipe� penggilingan padi
di Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman memilki 2 macam tipe yang pertama yaitu tipe RMP (Rice Milling
Plant) dan RMU (Rice Milling Unit). Untuk tipe RMP yaitu sebanyak 3 tempat penggilingan padi yang terdapat di nagari Ladang
Panjang. Sedangkan untuk tipe RMU sebanyak 24 tempat penggilingan padi yang berada di nagari ladang panjang dan binjai.
Kepemilikan usaha penggilingan padi di kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman memiliki 2 macam kepemilikan ada yang milik pribadi dan ada juga yang milik kelompok tani atau
bisa disebut dengan milik kelompok.
Milik kelompok itu hanya berjumlah 1 (satu) penggilingan padi saja yaitu
penggilingan padi milik petani yang beradaa di nagari Binjai. Selain itu hanya milik
pribadi yang berjumlah 26 penggilingan padi yang berada di nagari Binjai dan Ladang Panjang.
Tenaga kerja di penggilingan
padi itu ada yang berjumlahh lebih dari lima (>5) orang dan
ada yang berjjumlah 2
orang. Untuk tenaga kerja yang berjumlah >5 orang itu adalah penggilingan
petani yang berada di nagari Binjai. Selain itu di 26 penggilingan padi lainnya memiliki tenaga kerja 2 orang saja di karenakan kepemilikan penggilingan padi tersebut adalah
milik pribadi. Pendapatan penggilingan padi di kecamatan tigo nagari kabupaten
pasaman memiliki 4 kategori yaitu kategori 0 - 9 juta (sangat rendah) berjumlah 12 penggilingan padi, 9 � 18 juta (Rendah) berjumalh
13 penggilingan padi , 18 � 26 (sedang) berjumalh 1 penggilingan padi dan >26 (tinggi) berjumlah 1 pengggilingan padi.
Pola persebaran tempat
penggilingan padi di Nagri Binjai persebaran
Pola Seragam (Regular) dimana
T nya (T=2,28), hal ini diketahui nilai
T diperoleh yang berada�� > 2,15 (2,28) dengan kategori Pola Seragam (Regular) dan di lihat dari peta bahwasanya
pola perseba6ygran penggilingan
padi tersebut lebih dominan di bagian Tengah Nagari Binjai sebanyak 2 penngilingan padi dan bagian timur ditemukan 3 Tempat penggilingan padipola persebaran tempat penggilingan padi di Nagari Ladang Panjang cendrung
tidak merata/acak (random pattern) (T=1,174), hal
ini diketahui nilai T diperoleh yang berada 1-2,15 (1,174) dengan tidak merata/acak
(random
pattern). dan di lihat dari
peta bahwasanya pola persebaran penggilingan padi tersebut lebih dominan di bagian Utara ke arah Barat di Nagari Padang
Panjang
Hal ini sejalan
dengan penelitan, Sarliyanti, S.(2016) �Distribusi Spasial Lahan Sawah Berbasis Kelompoktani di Kecamatan Cilaku, Bojongpicung, dan Mande Kabupaten Cianjur�Luas lahan sawah berdasarkan data spasial. Selisih lahan sawah masing-masing adalah Kecamatan Cilaku 44,59 ha, Bojongpicung 12,21 ha, dan Mande 13,04 ha.
Hal ini sejalan
dengan penelitian Joko Mariyad (2013), �Pola Distribusi
Dan Faktor-FaktorYang MempengaruhiKeberlangsungan
Usaha Jasa Penggilingan Padi
Di KecamatanPolanharjo Kabupaten
Klaten� Dari hasil analisis dengan menggunakan software arcveiw yaitu menggunakan otomasi kartografi diperoleh indeks tetangga terdekat dengan nilai T = 1,2 Jadi dari analisa peta
yang mengunakan analisis tetangga terdekat yang menghasilkan peta pola distribusi usaha jasa penggilingan
padi di Kecamatan Polanharjo dan hasil dari analisis diperoleh
bahwa untuk pola distribusinya adalah berpola random. Desa yang mempunyai pola random ini dekat dengan jalan
lokal, sehingga hal ini perlu
perhatian dari pemerintah supaya huller yang pinggiran desa supaya dibangun jalan yang lebih baik lagi dalam
membantu para penguna jasa agar mudah menjangkau ke tempat
penggilingan padi.
Hal ini sejalan
dengan penelitian Hermawindo (2018),�Distribusi Spasial Objek Wisata
Alam Dan Budaya Di Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Pelita
Putra� Berdasarkan hasil penelitian dan pengumpulan data
di lapangan mengenai pemetaan objek wisata di wilayah Kabupaten Pesawaran pada tahun 2017 maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut: dari hasil
pemetaan terdapat 42 lokasi objek wisata
di wilayah Kabupaten Pesawaran
yang tersebar wilayah diantaranya
Kecamatan Punduh Pidada, Marga Punduh,
Way Khilau, Way Ratai,
Gedung Tataan, Padang Cermin,
Teluk Pandan, dan Kedondong
Kedua, Distribusi lahan sawah berdasarkan luas keseluruhan lahan sawah di Kecamatan Tigo Nagari� seluas 3.952
Ha, dimana persebaran nya berdasarkan Nagari diantaranya Binjai seluas 781 Ha (20%) Ladang Panjang seluas� 1.038�
Ha (26%) dan Malampah Barat sebesar 2.105 Ha (54%).
Kemiringan lereng luas total nya� 11.334 Ha, dimana luas Wilayah di kemiringan lereng < 8 % seluas 25.841Ha
(23%) Nagari di Cakupi ( Binjai
6.522 Ha, Ladang Panjang4.915Ha dan Malampah14.404Ha), Kemiringan
Lereng 8 % - 15 % seluas
2.952 Ha (23%) Nagari yang di Cakupi (Binjai 6.522 Ha, Ladang Panjang 4.915 Ha dan Malampah 14.404 Ha), Kemiringaan lereng 15-25% seluas 14.404Ha
(19%) Nagari yang di cakupi hanya
Malampah, Kemiringaan lereng 25-40%seluas 20.926Ha Nagari yang di cakupi� (Binjai 6.522 Ha, Ladang Panjang 4.915 Ha dan Malampah 14.404 Ha),�
dan kelas lereng
>40 luas lahan yang di cakupi 2.545 Ha (22%) Nagari yang di cakupi
(Binjai sebesar 6.522 Ha,
Ladang Pajang sebesar
4.915Ha dan Malampah sebesar
14.404
Berdasarkan persebaran jaringan jalan� Tigo Nagari dimana persebaran jalan mencakupi keseluruhan Nagari yang adi Kecamatan Tigo Nagari, pada gambar di bawah adalah peta Persebaran
jaringan Jalan �Utama� di Kecamatan
Tigo Nagari Hal ini sejalan dengan penelitian (Wijaya, 2016) Tentang
Analisis Perubahan Luas Dan
Pola Persebaran Permukiman bahwasanya hasil dari interpretasi peta dan citra serta hasil perhitungan
yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa luas penggunaan
lahan non permukiman di Kecamatan Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Mijen mengalami penurunan, sedangkan luas penggunaan lahan permukiman Kecamatan Tembalang, Banyumanik Gunungpati, dan Mijen mengalami peningkatan dimana pada tahun 1992 adalah sebesar 3.133,421 Ha, tahun 2014 adalah sebesar 4.600,258 Ha. Penggunaan lahan permukiman di 4 Kecamatan tersebut mengalami perubahan luas sebesar 1.466,837 Ha. Pada kurun waktu 22 tahun penggunaan lahan permukiman yang mengalami perubahah paling besar adalah Kecamatan Tembalang yaitu sebesar 572,595 Ha.
Ketiga, Distribusi lahan sawah dan tempat penggilingan padi serta kaitanya dengan lereng di Kecamatan Tigo Nagaribahwasanya Luas lahan sawah
berdaskan kemiringan lereng dimana luas
sawah yang paling tinngi berdasarkan
kemiringan lereng yaitu lereng < 8 % artinya� (Landai/hampir datar,
tanaman padi akan tumbuh dengan
optimal, karena media perakaran
landai dan unsur hara dapat diserap secara
optimal.) sebesar 3.732 Ha dan yang terendah terdapat di kemiringan lereng 25-40 % (Agak curam, pada kondisi kemiringan lereng yang agak curam ini tanaman
padi kurang cocok, karena akan
kurang optimal.)
Jarak jalan terhadap
Penggilingan yangb digunkan 1-500 Meter, dimana jarak 1-100 Meter terdapat 21 Lokasi� Penggilingan
padi, jarak 101-200 Meter terdapat 1 Lokasi penggilingan padi, 201-300 Meter terdapat 2
Lokasi penggilingan padi,
Jarak 301-400 Meter terdapat 1 Lokasi penggilingan padi dan� jarak 401-500 Meter
terdapat 2 Lokasi penggilungan
padi.
Hal ini sejalan
dengan penelitian Febriyanto Pinoa, (2015) Pemetaan Potensi Lahan Sawah Di Kecamatan Ratahan Dengan Menggunakan Sistem InformasiGeografis Potensi lahan sawah di Kecamatan Ratahan seluas 6.216,73 ha yang terdiri dari: Potensi
lahansawah pada kemiringan lereng 0-8% seluas 5.850 ha, yang
di konversi dari penggunaan lahanperkebunan rakyat seluas 4.467,00 ha, semak seluas 448,00 ha, tegalan seluas 444,00 ha dan penggunaanlahan sawah saat ini seluas 451,00 ha. Potensi lahan sawah ini menyebar di desa Maulit, desa
Poniki, desaRasi, desa Wioi, desa
Ratahan ,desa Pangu, desa Tosiraya , desa Wawali dan desa Wawali Pasan.
Potensilahan sawah pada kemiringan
lereng >8% seluas 366,73
ha yang di konversi dari penggunaan lahanperkebunan rakyat seluas 191,81 ha dan penggunaan lahan sawah saat ini 174,92 ha . potensi lahan
sawahini menyebar di desa Kalatin, dan desa lowu.
Hal ini sejalan
dengan penelitian Hardianto,(2017)
dengan judul �Distribusi Spasial Lahan Sawah dan Penggilingan Padi Serta Kaitannya dengan Kemiringan Lereng dan Jarak Jalan: Studi Kasus di Tiga Kecamatan,
Kabupaten Cianjur� hasil peneltian� adapun luasan lahan sawah tertinggi di tiga kecamatan tersebut terdapat pada jarak 100 m � 200 M
dari jaringan jalan yakni sebesar
36,01% sedangkan sebesar
88,09% lokasi usaha penggilingan padi terdapat pada jarak 0 � 100 m dari jaringan jalan.
KESIMPULAN
1.
Distribusi jumlah penggilingan padi di Kecamatan Tigo Nagari Kabupaten Pasaman yang paling tertinggi adalah Nagari Ladang
Panjang berjumlah 22 orang, di Nagari Binjai berjumlah 5 orang, sedangkan di Nagari Malampah berjulah 0. Untuk kapasitas penggilingan padi dan pendapatan PP di Kecamatan tersebut memiliki 4 kategori yaitu rendah, sangat rendah, sedang dan tinggi. Tipe penggilingan
padi nya memiliki 2 tipe yaitu RMP dan RMU. Kepemilikannya
26 PP milik Pribadi dan 1
PP milik Petani. Tenaga kerjanya rata-rata hanya 2 orang,
hanya 1 PP yang memiliki
>5 tenaga kerja. Untuk pola sebaran
PP di Nagari Binjai adalah seragam sedangkan di Nagari
Ladang Panjang adalah tidak
merata.
2.
Distribusi lahan sawah di Kecamatan Tigo Nagari seluas 3.952 Ha, persebaran nya berdasarkan Nagari, Binjai seluas 781 Ha (20%) Ladang
Panjang seluas 1.038� Ha (26%) dan Malampah
Barat sebesar 2.105 Ha (54%)
3.
Distrisbusi lahan sawah kemiringan lereng, yaitu lereng < 8 % artinya� (Landai tanaman padi akan
tumbuh dengan baik,karena mengandung unsur hara.) sebesar 3.732 Ha kemiringan lereng 25-40 % (Agak curam, kurang
cocok ditanami padi.
DAFTAR PUSTAKA
A17twh. (n.d.). Degradasi, D. A. N.,
Pada, L., & Perbukitan, K. (2007). Pola-Pola Pemanfaatan Lahan Dan Degradasi Lingkungan Pada Kawasan
Perbukitan. Jurnal Geografi :
Media Informasi Pengembangan
Dan Profesi Kegeografian,
4(1). https://doi.org/10.15294/jg.v4i1.108
Deliyanto, B. (2014). Manajemen Lahan. Pengenalan Lahan, 1�35.
Donggulo, C. V., Lapanjang, I. M. dan, &
Made, U. (2017). Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi (
Oryza sativa L) Pada Berbagai Pola Jajar Legowo Dan Jarak Tanam. J. Agroland, 24(1), 27�35.
Gultom, A. (2019). Fakultas pertanian universitas muhammadiyah
sumatera utara medan 2019. Scholar, 1�60.
Hardianto, T. W (2017). Distribusi Spasial Lahan Sawah dan Penggilingan Padi Serta Kaitannya dengan Kemiringan Lereng dan Jarak
Jalan: Studi Kasus di Tiga Kecamatan, Kabupaten Cianjur.
Hidayah, N. (2015). Analisis Pendapatan Dan Kelayakan Usaha Penggilingan Padiud Berkah Pangan Di Desa Biangkeke Dusun Makkaninong Kecamatan Pa�Jukukang Kabupaten Bantaeng. 22�24.
Kusnadi, Y. dan M. (2016). Pengaruh Keterimaan Aplikasi Pendaftaran Online Terhadap Jumlah Pendaftar di Sekolah Dasar Negeri Jakarta. Jurnal
Paradigma, XVIII(2), 89�101.
Laudon. (2010). Pengertian Sistem Informasi.
Novalinda, D. (2014). Teknologi Pasca Panen Kopi Liberika Tungkal Komposit. Science Innovation Networks, 1(1), 1�2.
Prasanti, D. (2018). Penggunaan Media Komunikasi Bagi Remaja Perempuan Dalam Pencarian Informasi Kesehatan.
LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 13�21.
https://doi.org/10.30656/lontar.v6i1.645
Rosdiana, Agus, F., & Kridalaksana,
A. H. (2015). Menggunakan Google Maps Api. Jurnal Informatika
Mulawarman, 10(1), 38�46.
Sarliyanti, S.� (2016) Distribusi Spasial Lahan Sawah Berbasis Kelompoktani di Kecamatan Cilaku, Bojongpicung, dan Mande Kabupaten Cianjur.
Sunardi, Soelistijadi, R., & Handayani, D. U. . (2005). Pemanfaatan Analisis Spasial untuk Pengolahan
Data Spasial Sistem Informasi Geografi. Jurnal Teknologi Informasi DINAMIK, X(2), 108�116.
Widiastuti, F. (2017). Lahan Sawah Sebagai Pendukung Ketahanan Pangan serta Strategi Pencapaian Kemandirian Pangan. Jurnal Sumberdaya Lahan, 8(3), 17�30. https://doi.org/10.2018/jsdl.v8i3.6479
Zendrato, N., & Ginting, S. B. F. (2000). Sistem Informasi Geografis Pemetaan Rumah Makan (Studi
kasus pada : Wilayah
Medan Kabanjahe). Informatika,
24�29.