STRATEGI
PENGEMBANGAN EKOWISATA TAMAN AIR TLATAR (ETASIA) SEBAGAI WISATA DAERAH PADA
MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN BOYOLALI
Dian Deliana1, Erinna Rizkasari Putri2
Universitas Muhammadiyah Karanganyar
|
Riwayat Artikel: Received: 12-10-2022 Revised: 21-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords:
Cooking Traditions, Development Strategies, Guest
Satisfaction Kata
Kunci: Tradisi Memasak, Strategi Pengembangan, Kepuasan
tamu |
|
Abstract Boyolali is one of the milk-producing cities in Central Java which has
beautiful natural scenery and natural resources. Very abundant water is in
Boyolali so there are lots of baths in Boyolali, especially in the Tlatar
Boyolali area, namely ETASIA (Ecotourism of Tlatar Water Park) which presents
a different atmosphere among other baths. Its uniqueness that makes ETASIA
different from other baths is its cooking tradition which still uses firewood
as its main fuel, and its unique way of making outbound events that are very
integrated with nature, making it never dim until Indonesia was hit by the
global Covid-19 pandemic. The research methods used in this research are
observation, interviews, literature studies and collected documentation
studies, in order to obtain accurate data regarding the roles, strategies and
programs that are organized will boost the economy of ETASIA and the
surrounding community so that good cooperation is needed with each other so
that can increase service satisfaction to guests and increase company revenue. |
|
|
Abstrak Boyolali merupakan salah satu kota penghasil susu di Jawa
Tengah yang memiliki pemandangan alam yang indah serta sumber daya air yang
sangat melimpah ada di Boyolali sehingga banyak sekali pemandian yang ada di
Boyolali khususnya di daerah Tlatar Boyolali yaitu ETASIA ( Ekowisata Taman
Air Tlatar) yang menghadirkan suasana berbeda di antara pemandian lainnya.
Keunikannya yang membuat ETASIA berbeda dari pemandian lain yaitu tradisi
memasaknya yang masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utamanya, dan
cara uniknya membuat acara outbond yang sangat menyatu dengan alam membuatnya
tak pernah redup hingga Indonesia diterpa pandemi global Covid -19. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara,
studi pustaka dan studi dokumentasi terkumpul, sehingga diperoleh data-data
yang akurat mengenai peranan, strategi hingga program yang tertata akan
mendongkrak perekonomian ETASIA dan masyarakat sekitar sehingga dibutuhkan
kerjasama yang baik satu sama lain sehingga dapat meningkatkan kepuasan
pelayanan terhadap tamu dan meningkatkan pendapatan perusahaan. |
Corresponding Author:
Dian Deliana�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Ekowisata adalah suatu bentuk
perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi
lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat (The
Ecotourism Society, 1990). Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta
alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap lestari dan utuh, di
samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Namun, dalam
perkembangannya ternyata bentuk ekowisata ini berkembang karena wisatawan ingin
berkunjung ke area alami yang dapat menciptakan kegiatan bisnis. Sehingga
kemudian ekowisata didefinisikan sebagai bentuk baru dari perjalanan
bertanggungjawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri
pariwisata (Eplerwood, 1999).
Bisa dikatakan,hal yang membedakan
antara ekowisata dengan wisata alam pada umumnya adalah kegiatan wisata yang
mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,
menghormati kepercayaan masyarakat sekitar dan pendidikan lingkungan. Di
Indonesia ekowisata diperkenalkan oleh beberapa biro wisata asing pada tahun
1980-an, salah satunya oleh Mountain
Travel Sobek. Biro wisata ini membuat ekoturisme ke pendakian gunung api
aktif tertinggi di Gunung Kerinci, pendakian danau vulkanik tertinggi kedua di
dunia di Danau Gunung Tujuh, dan kunjungan
ke danau vulkanik terbesar dunia di Danau Toba. Kegiatan ekowisata di Indonesia
mendapat dukungan dari pemerintah, dengan adanya perlindungan dari Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 33 Tahun 2009.
Jika kita berbicara mengenai
ekowisata, Boyolali memiliki sebuah lokasi wisata andalan yang mengusung tema
ekowisata yang berbasis edukasi serta pelestarian alam dan rekreasi. Tempat
wisata satu ini memiliki luas sekitar 5 hektar dan baru di resmikan pada tahun
2002 lalu.umbul Tlatar memiliki alam yang masih sejuk dan asri, karena berada
di kaki Gunung Merbabu. Di sini para wisatawan akan merasakan suasana pedesaan
dan wisata yang satu ini memiliki sumber mata air yang selalu mengalir. Hal
tersebut juga yang melatarbelakangi penamaan Umbul Tlatar. Umbul artinya
menyembur sedangkan Tlatar berarti sumber airnya. Jadi secara bahasa Umbul
Tlatar berarti sumber mata air yang selalu menyembur.
Udaranya yang sejuk serta alamnya
yang indah dilengkapi dengan beragam wahana yang dapat dilakukan ketika berada
di Umbul Tlatar menjadikan wisatawan di segala usia bisa betah ketika berada di
Umbul Tlatar. Bahkan saat pandemi Covid-19 seperti ini, Umbul Tlatar menerapkan
protokol kesehatan ketat seperti yang telah dianjurkan pemerintah jadi
wisatawan tidak perlu merasa khawatir untuk menghabiskan waktu bersama keluarga
Umbul Tlatar ini.
Di masa pandemi ini banyak sekali
tantangan yang di hadapi setiap tempat wisata, terutama Umbul Tlatar ini.
Bahkan banyak di antaranya yang terpaksa
harus gulung tikar dikarenakan tidak adanya wisatawan yang datang untuk
berkunjung. Sehingga butuh adanya strategi pengembangan bagi ekowisata Taman
Air Tlatar atau yang biasa disebut Umbul Tlatar agar ada peningkatan kunjungan
oleh para wisatawan di masa pandemi Covid-19 ini.
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka penulis memilih judul �Strategi Pengembangan Ekowisata Taman Air
Tlatar Sebagai Wisata Daerah Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kabupaten Boyolali� dengan
alasan bahwa adanya strategi pengembangan akan membuat Ekowisata Taman Air
Tlatar lebih ramai pengunjung, lebih mudah di akses oleh pengunjung dan menarik
minat pengunjung dari berbagai pelosok daerah bahkan bisa di kenal oleh banyak
orang sebagai destinasi berbasis edukasi.
Tujuan penelitian ini adalah 1. untuk mengetahui strategi pengembangan
dalam menunjang kelancaran operasional Taman Air Tlatar di masa pandemi
Covid-19. 2. Untuk mengetahui program dan kebijakan pengelola untuk
kelancaran operasional Ekowisata Taman Air Tlatar di Kabupaten Boyolali saat
masa pandemi Covid-19.
Ekowisata Taman Air Tlatar merupakan
usaha keluarga obyek wisata yang berwawasan lingkungan didirikan di dekat Umbul
Tlatar, desa Kebonbimo, Kecamatan Boyolali pada tanggal 1 Januari 2000 dengan
luas tanah 5 (lima) ha. Usaha ini memiliki cabang di Kecamatan Selo 1 ha
berbentuk wisma dan kebun alfaafa terletak diantara puncak Merapi � Merbabu
serta lahan yang belum tergarap 4,5 ha di Sampetan dan Gunung Madu Boyolali.
Semula bernama Ekowisata Taman air, sejak berlangsung Indonesia Open
International Woodball tahun 2007 ada tambahan kata �Indonesia� dan disingkat
Etasia.
METODA PENELITIAN
Dalam
penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian
kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya
pada kondisi yang alamiah (natural
setting); Obyek yang alamiah adalah objek yang berkembang apa adanya, tidak
dimanipulasi oleh peneliti. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah
orang atau human instrument yaitu peneliti itu sendiri (Sugiyono, 2010:14).
Jenis Sumber Data
Data adalah segala fakta atau keterangan
tentang sesuatu yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun informasi
(Abdurrahman dan Muhidin, 2011:74). Sumber data dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a. Data
primer yaitu informasi yang diperoleh langsung dari sumber- sumber primer, sumber
yang asli, informasi dari tangan pertama atau responden (Wardiyanta, 2006:29)
Dalam
penelitian ini data primernya adalah hasil observasi dan wawancara dengan
narasumber atau informan di Ekowisata Taman Air Tlatar Boyolali.
Data sekunder
yaitu informasi yang diperoleh secara tidak langsung atau dari pihak kedua
(Wardiyanta, 2006:29) Data sekunder dalam penelitian ini adalah buku referensi,
brosur, catatan-catatan dan sumber lainya yang berkaitan dengan obyek
penelitian.
Metode Pengumpulan Data
b. Observasi
(pengamatan) yaitu pengumpulan data dimana peneliti turun ke lapangan mengamati
hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda,
waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan. (Ghony dan Almanshur, 2012:165)
c.
Wawancara yaitu pengumpulan data
dengan cara mengadakan Tanyajawab, baik secara langsung maupun tidak langsung
dengan sumber data atau responden. (Abdurrahmandan Muhidin,
2011:89)
d. Dokumentasi yaitu
pengumpulan data dengan cara menggunakan buku pustaka, makalah, buku harian, surat
maupun artikel dan karya-karya
monumental seseorang. (Sugiyono, 2010:329)
e.
Studi pustaka yaitu teknik
pengumpulan data dengan cara menggunakan dokumen. Dokumen terdiri atas tulisan
pribadi seperti buku harian, surat, dan dokumen resmi serta buku-buku referensi.
(Ghony dan Almanshur, 2012:200)
Responden atau Informan
Responden atau informan adalah orang
yang memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Ghony
dan Almanshur, 2012:146). Responden dalam penelitian ini adalah owner atau pemilik
Ekowisata Taman Air Tlatar di Boyolali.
Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata, gambar dan bukan angka dari orang- atau perilaku yang dapat diamati.
Data tersebut berasal dari wawancara dan catatan dokumen lainnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Strategi
pengembangan dalam menunjang kelancaran operasional Ekowisata Taman Air Tlatar
( ETASIA) di masa pandemi Covid-19.
Konsep dari Ekowisata Taman Air
Tlatar ( ETASIA) adalah back to nature atau kembali ke alam, karena dapat
terlihat jelas dari suasana yang masih asri, udara yang masih segar tidak
tercemar polusi dan alam yang sangat hijau. Jika dilihat lebih dekat lagi,
ETASIA terlihat seperti hutan hijau yang sangat mengangumkan dan bisa memikat
siapapun yang datang.
Gambar 3.1 Bagian depan ETASIA
Namun keindahan dari Ekowisata Taman
Air Tlatar (ETASIA) seketika sepi oleh pengunjung dikarenakan pandemi yang
melanda seluruh dunia terutama di Indonesia. Lonjakan kasus Covid-19 membuat
semua destinasi wisata di tutup dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan
hingga membutuhkan waktu 2 tahun bagi Ekowisata Taman Air
(ETASIA) untuk bisa bangkit lagi dalam keterpurukan.
Di tahun 2022 ini Ekowisata Taman Air
Tlatar (ETASIA) mulai mengatur strategi untuk menunjang kelancaran
operasionalnya di masa pandemi Covid-19 ini dengan cara mempromosikan lewat
online maupun offline:
�
Promosi dengan cara offline atau door to door, Bapak Much. Sahid selaku owner dan narasumber mengaku
jika pengunjung atau langganan yang sering datang ke Taman Air Tlatar (ETASIA)
menanyakan kapan ETASIA buka melalui via telpon dan pengelola memberikan kabar
secepatnya lalu dari situlah mulai banyak pengunjung yang mulai membicarakan ke
kerabat, teman, keluarga. Bahkan dari warga sekitar juga dengan senang hati
mempromosikan Taman Air Tlatar (ETASIA) yang sudah mulai dibuka kembali. Dari
sinilah kemudian Ekowisata Taman Air Tlatar ( ETASIA) menjadi ramai pengunjung.
�
Promosi dengan cara online menggunakan media sosial seperti
postingan di Instagram, Facebook, Blog, Website, perusahaan pelayanan jasa
wisata dan lainnya.
Bahkan
ketika ada kebijakan pelonggaran untuk memperbolehkan melepas masker bagi
masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin booster, taman wisata ini sudah mulai
kembali seperti normal. Tidak sampai di situ, Ekowisata Taman Air Tlatar
(ETASIA) juga mulai menggelar tarian- tarian tradisional
sebagai magnet untuk menarik pengunjung seperti tarian topeng ireng, live music
jika memang ada pengunjung yang menghendaki.
Gambar 3.2
Tempat yang biasa digunakan untuk
menggelar tarian tradisional Karena menurut narasumber atau owner, kepuasan
pelanggan adalah
yang paling utama. Bahkan ketika
penulis berkunjung ke Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA), owner sekaligus
narasumber sangat welcome dan penulis belajar banyak hal dari owner atau
narasumber.
Dari
pengakuan narasumber atau owner sendiri mengatakan bahwa Ekowisata Taman Air
Tlatar (ETASIA) sudah tidak punya lagi situs web yang bisa dikunjungi dan
penulis memberi saran jika akan sangat lebih baik lagi jika memiliki situs web
resmi sehingga pengunjung dari luar pulau atau wisatawan mancanegara yang
mungkin ingin memiliki rekomendasi tempat wisata
terbaik di Boyolali ketika ada di daerah Boyolali akan bisa tertarik untuk
mengunjungi Ekowisata Taman Air Tlatar.
B.
Program dan kebijakan pengelola untuk
kelancaran operasional Ekowisata Taman Air (ETASIA) Tlatar di Kabupaten
Boyolali saat masa pandemi Covid-19.
Pada dasarnya pandemi Covid-19
membuat seluruh masyarakat di dunia terganggu secara finansial. Bahkan pandemi
ini sudah mengganggu aktifitas di segala sektor, baik ekonomi maupun wisata
juga terganggu dan bahkan lumpuh. Di Indonesia sendiri, pariwisata yang dulunya
menjadi daya pikat bagi wisatawan mancanegara, kini harus mengalami penurunan
wisatawan yang teramat sangat drastis.
Namun sekarang, status Indonesia
sendiri sudah hampir beralih menjadi endemi, yang mana sudah ditetapkan untuk
melonggarkan penggunaan masker. Dan adanya pelonggaran aturan bagi wisatawan
mancanegara ketika akan masuk ke negara Indonesia yaitu hanya menunjukkan
sertifikat vaksin hingga dosis ketiga atau vaksin booster membuat Indonesia
kembali diminati sebagai tujuan wisata bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Bahkan segala
tujuan wisata daerahpun tidak luput dari incaran para wisatawan, khususnya
wisatawan domestik untuk dikunjungi. Indonesia juga sangat gencar untuk membuat
promosi wisata agar banyak wisatawan yang tertarik datang ke negara ini. Tak
hanya Bali yang menjadi tujuan wisata para
pelancong, tapi wisata daerah seperti yang ada di Boyolali Jawa Tengah yaitu
ETASIA (Ekowisata Taman Air) Tlatar juga mulai ramai dikunjungi para wisatawan.
Menurut narasumber sekaligus owner
atau pemilik ETASIA yaitu Bapak Much. Sahid, ETASIA (Ekowisata Taman Air)
Tlatar di masa sebelum pandemi Covid-19 merupakan tujuan wisata bagi wisatawan
domestik untuk sekedar rekreasi bersama keluarga, menikmati pemandangan dan
udara yang sejuk, berkumpul dan pertemuan. Bahkan dulunya, ETASIA (Ekowisata
Taman Air) Tlatar ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Dan ketika pandemi
covid-19 mulai melanda Indonesia beliau menyatakan bahwa ETASIA (Ekowisata
Taman Air) Tlatar ini benar-benar sepi pengunjung terutama sejak diberlakukannya
PPKM di seluruh wilayah di Indonesia. Hampir 2 tahun beliau menutup ETASIA
(Ekowisata Taman Air) Tlatar ini karena tidak ada pengunjung sama sekali.
Di mulai dari tahun 2022 ini beliau
kembali membuat kebijakan baru agar ETASIA (Ekowisata Taman Air) Tlatar kembali
di buka karena beliau sangat memikirkan nasib karyawan yang telah lama bekerja
bersama beliau. Dan berikut ini kebijakan pengelola untuk kelancaran
operasional Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA) di masa pandemi Covid-19 :
1.
Menyiapkan tempat cuci tangan bagi
pengunjung yang akan mengunjungi Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA).
2.
Selalu mengecek suhu pengunjung yang
datang.
3.
Menggunakan
aplikasi peduli lindungi untuk mengetahui pengunjung sudah di vaksin Covid-19
4.
Memberikan
sekat pembatas agar di antara pengunjung tidak saling berdekatan atau berjarak.
5.
Selalu
memakai masker (kecuali saat makan dan renang)
Gambar 3.3
Penerapan Protokol Kesehatan Selama Pandemi
Untuk Program Selama Pandemi Covid-19, Narasumber Atau Owner Sendiri Mengaku Jika Tidak Ada
Program Khusus Untuk
Kembali Membuka Ekowisata
Taman Air Tlatar (ETASIA). Beliau
Hanya Berpegang Pada Keyakinan Jika Semangat
Gotong-Royong Di Antara Pelaku Usaha Di Sekitarnya Akan Membantu Bangkitnya Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA). Tak Hanya Berhenti Sampai Disini, Narasumber Atau Owner Yang Memang Masih Keturunan Orang Jawa Asli, Beliau Selalu Menerapkan Sistem Kekeluargaan Di Antara Pelaku Usaha Dan Penduduk Sekitar. Beberapa Program
Gotong-Royong Yang narasumber
atau owner yakini akan membantu bangkitnya Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA)
antara lain :
a.
Warga sekitar sangat merasa tertolong
karena beliau membangun kios-kios sederhana yang berjejer di lahan parkir
secara gratis dengan tujuan agar warga juga bisa meningkatkan perekonomiannya.
Gambar 3.4
Kios gratis bagi warga sekitar
Narasumber atau owner memperbolehkan
warga sekitar menjajakan dagangannya di dalam Ekowisata Taman Air Tlatar
(ETASIA). Maksud dan tujuan dari narasumber atau owner adalah agar warga
sekitar bisa saling membantu meningkatkan perekonomian.
Gambar 3.5
Warga sekitar diperbolehkan berjualan di lingkungan
ETASIA
b.
Karena Indonesia sudah berada di
peralihan dari pandemi menjadi endemi, maka sudah mulai ramai pula ETASIA
(Ekowisata Taman Air Tlatar) dikunjungi oleh para wisatawan terutama anak-anak
TK yang sangat menikmati segarnya air ETASIA untuk kegiatan outbond, memandikan
kerbau hingga makan bersama guru dan orang tuanya di lesehan.
Gambar 3.6
Anak-anak memandikan kerbau
Di
samping banyak yang memanfaatkan ETASIA untuk kegiatan outbond, owner atau
pemilik atau narasumber juga sangat memperhatikan keasrian dari Ekologi Taman
Air Tlatar (ETASIA) dengan cara membuatnya terlihat menyatu dengan alam
sehingga bisa diterima oleh pegunjung di segala usia. Seperti tempat flying fox
yang berada seperti di tengah hutan, air terjun mini yang langsung dialirkan ke
sungai, taman batu yang mereplika pancasila, jalan menuju tempat parkir yang
dibuat seperti banjir yang bertujuan untuk membersihkan roda kendaraan, dan
lain sebagainya.
Gambar 3.7
Flying fox yang berada seperti di tengah hutan
�� Dikelilingi oleh pohon cemara yang rindang dan
pemandangan yang asri, udara yang masih segar membuat pengunjung betah untuk
berlama-lama di Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA) mencoba wahana yang ada di
dalamnya.
Gambar 3.8
Air terjun mini yang
langsung dialirkan ke sungai
Konsep yang
jarang ditemui dimanapun, area pemancingan yang menyuguhkan pemandangan alam
yang indah. Dibuat sedemikian rupa sehingga muncul ide untuk membuat air terjun
mini yang tanpa diduga malah membuat suasana semakin menyatu dengan alam, suara
gemericik air yang didesain agar pengunjung bisa merasakan relaksasi.
Gambar 3.9
Taman batu yang mereplika
Pancasila
Jika di lihat lebih dalam lagi, narasumber atau
owner memang memiliki jiwa patriotisme, dimana kalangan muda di era modernisasi
ini yang jarang sekali memahami beberapa pilar dari Pancasila itu sendiri,
sehingga narasumber atau owner berinisiatif untuk membangun taman batu ini agar
menumbuhkan jiwa patriot di kalangan anak muda.
Gambar 3.10
Jalan menuju tempat parkir
yang dibuat seperti banjir Area parkir yang memang dirancang sedemikian rupa
sehingga menjadi daya tarik tersendiri terutama para pengunjung dari luar kota
����������� yang sering takjub dengan konsepnya. Karena banyak
yang mengira jika kolam renang tersebut bocor karena adanya aliran air yang
terlihat menggenang tetapi sebenarnya memang dibuat seperti banjir dengan air
yang mengalir jernih.
Gambar 3.11
Lapangan Woodball
Kemudian,
narasumber atau owner memiliki ide untuk membuat lapangan Woodball yang memang
sama sekali tidak ada di tempat manapun selain di Ekowisata Taman Air Tlatar
(ETASIA) agar menarik pengunjung dari mancanegara yang ingin merasakan sensasi
bermain Woodball atau sekedar menjajal permainan yang mirip dengan golf ini.
Gambar 3.12
Patung Woodball yang
menandai diresmikannya Woodball pertama
kali di Indonesia
Gambar 3.13 Tempat terapi
ikan
Selain itu, narasumber juga
menambahkan tempat untuk terapi ikan yang cukup banyak digemari pengunjung
terutama saat liburan dan akhir pekan. Dengan biaya Rp 5.000,00 pengunjung bisa
menikmati sensasi terapi dari ikan-ikan yang memang dikhususkan untuk terapi,
bukan dari ikan konsumsi.
Tak lepas dari peranan
narasumber atau owner, ada tradisi dari owner yang membuat pengunjung selalu
terhipnotis untuk kembali ke Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA) yaitu :
a.
Owner
mengaku jika nasi untuk makan lesehan selalu dimasak di pawon (dalam bahasa
Jawa, pawon berarti kompor tradisional yang digunakan untuk memasak menggunakan
kayu) selama 3-4 jam karena akan lebih tanak dan bisa awet hingga dua hari
tanpa harus dihangatkan lagi dan owner sudah membuktikan sendiri nasinya tidak
akan basi walaupun sudah 2 hari tidak dihangatkan.
Gambar 3.14 Pawon untuk memasak nasi
b. Narasumber atau owner selalu menggunakan minyak
goreng jernih untuk pemakaian satu hari dan setiap harinya selalu diganti dan
ditaruh di drum pembuangan minyak yang sudah tidak layak pakai. Karena owner
mengaku bahwa beliau tidak ingin pengunjung kecewa.
Gambar 3.15
Drum minyak yang sudah tidak layak pakai
c. Ikan yang digunakan untuk dikonsumsi harus selalu
ikan yang segar dan masih hidup karena rasanya akan selalu segar saat di
konsumsi dan pengunjung tidak akan kecewa.
Gambar Gambar 3.16 Ikan
segar untuk konsumsi
d. Harga tiket
untuk renang yang sangat terjangkau dengan tujuan agar pengunjung dari segala kalangan
bisa menikmati segarnya renang di Ekowisata Taman Air Tlatar ( ETASIA).
Gambar 3.17
Tiket masuk yang
sangat terjangkau harganya
e.
Konsep lesehan yang sangat bisa diterima oleh
seluruh lapisan masyarakat, dengan harga makanan yang sangat murah meriah yang
sangat cocok bagi kantong pengunjung, narasumber atau owner menerapkan sistem
makan lesehan yang sesuai dengan tradisi orang Jawa zaman dahulu.
Gambar 3.18 Makan lesehan
Dengan
sistem gotong-royong yang diterapkan narasumber atau owner, semakin hari
semakin banyak pengunjung yang datang ingin menghabiskan akhir pekan bersama
keluarga ataupun bersama teman atau hanya sekedar bersantai. Menikmati
pemandangan alam yang asri adalah tujuan dari dibangunnya Ekowisata Taman Air
Tlatar (ETASIA) agar wisata Indonesia khususnya daerah Boyolali juga bisa
bangkit kembali seperti saat sebelum pandemi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang
dijelaskan pada bab sebelumnya, maka pada bab ini hasil penelitian yang telah
dilakukan dapat disimpulkan:
1. Banyaknya tempat rekreasi seperti pemandian yang sudah
sangat banyak di buka tidak hanya di Boyolali tetapi juga di banyak tempat,
hanya Ekowisata taman Air Tlatar (ETASIA) yang menyajikan suasana berbeda dari
yang lainnya. Untuk menunjang kelancaran operasionalnya selama masa pandemi
Covid-19, ETASIA memiliki cara promosi melalui via telepon maupun door to door atau offline.
Tradisi memasak yang berbeda yang masih sangat
menjunjung tinggi warisan budaya Jawa, serta berpegang teguh pada semangat
gotong- royong di antara pelaku usaha di sekitarnya akan membantu bangkitnya
Ekowisata Taman Air Tlatar (ETASIA). Sistem kekeluargaan yang selalu diterapkan
juga diyakini akan membuat ETASIA kembali bangkit dan pulih seperti sediakala.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman
dan Muhidin. 2011. Panduan Praktis
Memahami Penelitian.
Bandung:
Pustaka Setia.
Ghony,
M.D. dan Almanshur, F. (2012). Metodologi
Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta:
Ar-ruzz Media.
https://indonesiatraveller.id/taman-air-tlatar-sepenggal-latar-belakang-ala-drama- korea/
https://rimbakita.com/ekowisata/ https://www.disbudpar.ntbprov.go.id/pengertian-ekowisata/
https://www.indonesiaecotourism.com/2016/03/21/6-prinsip-ekowisata-menurut-
ties/
https://www.nativeindonesia.com/tlatar-boyolali/
https://www.topwisata.imfo/2019/02/keindahan-ekowisata-taman-air-tlatar.html
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian
Kualitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono.
2010. Memahami penelitian Kualitatif.
Jakarta : Alfabeta
The
Ecotourism Society. 1990, dalam Fandeli, C, Et Al. 2000. Pengusahaan Ekowisata.
Yogyakarta: Fahutan UGM- UKSDA DIY � Pustaka Pelajar.
Wardiyanta,
2006. Metode Penelitian Pariwisata,
Yogyakarta: ANDI.
Wood,
M.E., 2002. Ecotourism: Priciples,Practices
&Policies for Sustainability,
UNEP