PENDIDIKAN KARAKATER DALAM PERSPEKTIF
FILSAFAT PENDIDIKAN
Nuraida
SD Negeri 057224 Paluh
Gusta
|
Riwayat Artikel: Received: 12-10-2022 Revised: 21-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords:
Character Education, Philosophy of Education Kata
Kunci: Pendidikan Karakter, Filsafat
Pendidikan |
|
Abstract This study aims to find out how the
philosophy of education views character education for students. As an
educational institution, the school is responsible for educating students and
building a good learning environment and is also expected to build good
character in a� student. If in terms of
learning national education must be able to be achieved by students, then
similarly, schools must also be able to shape the work of students to be even
better. We know that early learners are master imitators of adults, positive
attitudes let alone negative attitudes will be very easy for students to take
care of. That is why teachers must always exemplify good character to
students, it is hoped that students of the nation's successors will not only
have cognitive intelligence but also must have good character. |
|
|
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana filsafat pendidikan memandang pendidikan karakter untuk peserta didik. Sebagai lembaga pendidikan, sekolah tidak hanya bertanggung jawab dalam hal
mencerdaskan peserta didik-peserta didik dan membangun lingkungan belajar yang baik, akan tetapi diharapkan
juga dapat membangun karakter yang baik dalam diri seorang
peserta didik. Jika dalam hal belajar
pendidikan nasional harus mampu dicapai
oleh peserta didik-peserta
didik, maka sama halnya sekolah
juga harus mampu dalam membentuk karaker peserta didik menjadi lebih baik lagi.
Kita mengetahui bahwa peserta didik adalah peniru ulung terhadap orang dewasa, sikap positif apalagi sikap negatif akan sangat mudah untuk ditiru oleh peserta didik-peserta didik. Itulah sebabnya guru harus selalu mencontohkan karakter yangg baikk kepada peserta didik-peserta didik, diharapkannya peserta didik-peserta didik penerus bangsa tidak hanya mempunyai kecerdasan kognitif saja akan tetapi
juga harus berkarakter
yang baik. |
Corresponding Author:
Nuraida
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Degradasi nilai sikap sopan
santun dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu masalah yang sedang dirisaukan di dunia Pendidikan hari
ini.
Fungsi
Pendidikan sebagai pembentuk
watak dan moral serta berakhlak mulia belum mampu dicapai
melihat kondisi moral pelajar hari ini.
Hilangnya nilai karakter pelajar di lingkungan Pendidikan dasar hari ini
dibuktikan dengan sikap pelajar yang dengan mudahnya melawan gurunya dengan sengaja. Bahkan sangat sering saat ini ditemui
pelajar yang dengan lantang dan sengaja berbicara kotor, memaki bahkan menantang
guru di Sekolah. Tidak ada lagi sikap
sopan apalagi santun.
Akibat minimnya Pendidikan karakter terhadap pelajar mengakibatkan banyak penyimpangan di kalangan sekolah, keluarga maupun masyarkat. Salah satu jenis penyimpangan
yang hari ini begitu marak adalah
tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba yang telah sampai pada pelajar tingkat Sekolah Dasar, minuman keras, bullying dan hal lainnya. Hal ini pun menjadi keresahan bagi orang tua, guru dan pemerintahan.
Sebagai contoh berbagai permasalahan-permasalahan lainnya
yang timbul karena rendahnya nilai karakter adalah siswa tidak lagi
segan atau tidak lagi menghormati
gurunya. Siswa menjadi pribadi yang temperamen atau mudah marah; siswa
suka berkelahi dengan sesama teman,
tidak segan untuk mengambil yang bukan haknya atau
mencuri, tidak mempunyai rasa kepedulian terhadap lingkungannya, dan masih banyak lagi
contoh kasus-kasus kenakalan siswa terutama siswa SD.
Harian
Kompas memberitakan bahwa berdasarkan indeks persepsi korupsi, yang dilaksanakan oleh lembaga survei Transparency International, Indonesia masih masuk jajaran
negara-negara terkorup dengan
menempati peringkat ke-118 dari 174 negara. Kompas, (2012)
di harian
yang sama, Badan Kehormatan
DPR melaporkan ada 28 anggota dewan tersangkut masalah etika.
Filsafat sebagai teori umum
dalm pendidikan dapat diintegrasikan dalam penentuan kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan
dan peran guru atau pendidik juga anak didiknya. Adanya berbagai pandangan para filsuf dalam filsafat
pendidikan juga menyebabkan
berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan guru dan siswa tersebut dalam struktur pendidikan. Semuanya tergantung pada pandangan filsuf apa yang diterapkan atau dianut oleh para pelakunya. Hanya saja, dalam
hal ini mereka
dituntut untuk memiliki kurikulum yang relevan dengan pendidikan ideal, juga disesuaikan
dengan perkembangan zaman
dan menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal. Metode pendidikan juga harus mengandung nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat direalisasikan dalam kehidupan. Selain itu, tujuan
pendidikan tidak hanya terpaku pada salah satu pihak semata,
melainkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan. Kedudukan guru dan siswa harus benar-benar
dimengerti oleh keduanya sehingga dapat menjalankan peranannya
masing-masing dengan baik.
METODA PENELITIAN
Metode yang digunakan untuk menyusun artikel ini adalah study kepustakaan. Artikel, referensi-referensi
yang berkaitan dengan
Pendidikan karakter dan filsafat
pendidikan. Telaah penelitian sejenis dilakukan agar mendapat simpulan yang valid dan akurat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
-Spasi-
Pendidikan dipandang mempunyai
peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan peserta didik. Dalam sejarah
pendidikan, dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai perkembangan peserta didik agar bermanfaat. Adapun beberapa pandangan mengenai perkembangan peserta didik yakni
sebagai berikut :
a. Empirisme, bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman yang diperoleh peserta didik didik selama
hidpnya. Pengalaman itu diperolehnya di luar dirinya berdasarkan
perangsang yang tersedia baginya, John Locke berpendapat bahwa peserta didik
yang dilahirkan di dunia ini
bagaikan kertas kosong atau sebagai
meja berlapis lilin (tabula rasa) yang belum ada tulisan diatasnya.
b. Nativisme, teori yang dianut oleh Schopenhauer yang berpendapat
bahwa bayi lahir dengan pembawan
baik dan pembawan yang buruk. Dalam hubungannya
dengan pendidikan, ia berpendapat bahwa hasil akhir
pendidikan dan perkembangan
itu ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak lahir. Aliran ini
berpendapat bahwa pendidikan tidak dapat menghasilkan tujuan yang diharapkan berhubungan dengan perkembangan peserta didik didik. Dengan
kata lain, aliran nativisme
merupakan aliran Pesimisme dalam pendidikan, berhasil tidaknya perkembangan peserta didik tergantung
pada tinggi rendahnya dan jenis pembawaan yang dimilikinya.
c. Naturalisme, dipelopori oleh J.J
Rousseau, ia berpendapat bahwa semua peserta
didik yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang peserta
didik pun lahir dengan pembawaan buruk. Aliran ini
berpendapat bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan peserta didik didik saja
dengan sendirinya, diserahkan saja selanjutnya kepada alam (negativisme). Pendidikan tidak diperlukan, yang dilakspeserta didikan adalah menyerahkan peserta didik didik
ke alam, agar pembawaan yang baik tidak rusak oleh tangan manusia melalui proses pendidikan.
d. Konvergensi, dipelopori oleh
William Stern, yang berpendapat bahwa
peserta didik dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk.
Hasil pendidikan itu bergantung dari pembawaan dan lingkungan.
Pendidikan diartikan sebagai
penolong yang diberikan kepada lingkugan peserta didik didik
untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawan yang buruk. Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan
mempunyai peranan yang amat penting untuk
menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Indonesia adalah negara
yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945 yang di dalamnya diatur bahwa pendidikan diusahakan dan diselenggarakan
oleh pemerintah sebagai satu sistem pengajaran
nasional.
Filsafat adalah
cara berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang pendidikan berdasarkan filsafat, apabila kita hubungkan fungsi dengan fungsi
Pendidikan yakni untuk mencetak Generasi yang berkarakter
Saat ini pendidikan
karakter menjadi isu yang masih hangat untuk dibicarakan,
seperti yang diketahuii bahwaa anak-anak zaman asekarang sangat kurang
dalam pembentukan karakternya, karena orang-orang hanya menganggap bahwa dalam dunia pendidikan yang harus ditonjolkan dalam diri anak adalah
aspek kognitif dan intelektual, namun tanpa orang tua sadari bahwa mandiri,
sabar, disiplin, bijaksana, jujur, rendah hati, malu
saat berbuat salah dan lainnya adalah karakter yang sangat penting dan harus ditanamkan kepada anak sejak
dini. Karakteristik dalam pembelajaran yang menggunakan behaviorisme ini hendaknya seorang
guru wajib bersikapp ttegas karena ia adalah penyalurr iilmu pendidikann dan sebagai pengarahh sikap perilakuu sseseorang.
Pengertian karakter menurut
Pusat Bahasa Depdiknas adalah
�bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku,
personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak�. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak�. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti �to mark� atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan
atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam,
rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan
orang berkarakter jelek.
Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan
pendidikan merupakan suatu cara atau
mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut.
Dalam filsafatnya, Al-Kindi menegaskan juga bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang berupaya mengetahui kebenaran yang pertama.
Al-Kindi
berpendapat bahwa tujuan terakhir filsafat terletak pada hubungan-hubungan moralitas. Sedangkan tujuan menurut
filosof adalah mencari kebenaran, kemudian dari kebenaran tersebut direalisasikan kedalam kehidupan nyata.
Pemikiran
Al-Kindi mengenai pendidikan ini
didasarkan pada pengetahuan etika, yaitu untuk memperoleh kebajikan dan menolak
keburukan dengan mengkonsepakan Al-Qur�an dan Hadits.
Jika dikaitkan dengan
pendidikan yang terjadi disaat ini, pengetahuan karakter harus dimiliki
oleh seorang pendidik, karena tugas utama
seorang pendidik menanamkan pengetahuan karakter kepada peserta didiknya.
Sebagai
pendidik harus mengetahui, memahami, serta menerapkan
dan meneladani karakter yang baik. Maka dari itu buah dari pemikiran Al-Kindi
ini digunakan dalam dunia pendidikan.
Tujuannya adalah agar siswa diberi
bekal, ketika berada di lingkungan masyarakat dapat berprilaku sesuai dengan
karakter yang diharapkan.
Dengan demikian tujuan pendidikan melalui Undang-Undang dapat terwujud. Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal
3 yang menyebutkan, pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Pendidikan nasional bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berahlak mulia,
sehat, berilmu, cerdas, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang baik serta bertanggung jawab (Kemdiknas, 2010).
Dalam mencapai tujuan pendidikan nasional maka setiap
jenjang pendidikan harus diselenggarakan pendidikan budaya dan karakter secara terprogram dan sistematis, dengan mengintegrasikan muatan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, untuk menghasilkan
insan Indonesia yang cerdas
dan kompetitif.
Panduan pelaksanaan pendidikan karakter yang diterbitkan oleh Balitbang Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas (2011, hal. 5) menyatakan bahwa pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi
oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti:
disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai
Pancasila; keterbatasan perangkat
kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya
nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa. Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD
1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka
Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit
ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu �Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.�
Dengan demikian,
RPJPN dan UUSPN merupakan landasan
yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasional
2010-2014, yang dituangkan dalam
Rencana Aksi Nasional
Pendidikan Karakter (2010): pendidikan
karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan
moral, pendidikan watak
yang bertujuan mengembangkan
kemampuan seluruh warga sekolah untuk
memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik & mewujudkan kebaikan itu dalam
kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Pendidikan karakter bukan hanya sekedar
mengajarkan mana yang benar
dan mana yang salah. Lebih dari
itu, pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation)
sehingga peserta didik mampu bersikap
dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Nilai-nilai tersebut harus ditumbuhkembangkan pada setiap peserta didik hingga berkembang
menjadi budaya sekolah (school culture). Untuk
mencapai tujuan terbentuknya karakter positif tersebut, pendidikan karakter tidak terlepas dari nilai-nilai tentang benar dan salah.
(Abdullah Munir: 2010).
Pendidikan merupakan jantungnya dalam pembentukan karakter bagi pelajar. Kemampuan
yang dimiliki oleh pelajar didapat dari adanya
proses pembelajaran di dalam
pendidikan. Proses belajar merupakan suatu proses yang memiliki aktivitas mental dalam mengubah tingkah laku melalui
pengalaman seseorang.
Menurut Usiono
(2006) guru merupakan orang yang mengusai
pengetahuan, dan kelas berada di bawah pengaruh dan pengawasan guru.
KESIMPULAN
Pendidikan
karakter merupakan jantungnya Pendidikan di Indonesia. Indonesia yang memiliki pandangan filsafah Timur salah satunya oleh
Filsuf Al-Kindi menyebutkan bahwa Pendidikan bertujuan untuk membangun etika, morak dan karakter. Kurikulum Pendidikan juga diarahkan
kepada pengetahuan tentang karakter hingga penerapan karakter yang menjadi budaya bagi masyarakat
di Indonesia.
Jika
dibandingkan dengan Negara
Barat yang menganut filsafat
Barat, maka corak budaya Timur yang beretika sangat
terlihat kontras terutama dalam bidang kemajuan dan kecanggihan serta adat budaya yang ada di Indonesia.
Dalam hal ini,
filsafat pendidikan cukup berperan dalam memandang bahkan menjelaskan bagaimana urgensi Pendidikan karakter. Proses pembentukan
Pendidikan karakter harus terus diterapkan dan dikaji secara mendalam
agar dapat diterapkan dan dibudayakan baik di dunia
Pendidikan, keluarga maupun
masyarakat luas.
Penerapan Pendidikan karakter
yang telah dikaji dalam pandangan filsafat dan para filsuf dapat terus diperdalam
agar dalam proses pembelajaran
maupun mengembangkan kurikulum dapat semakin terlaksana dengan baik. Begitu
juga peran guru, sekolah, masyarakat dan keluarga. Keempat lingkup ini sangat berperan dalam pembetukan karakter yang diharapkan. Seperti halnya pesan yang dicetuskan oleh Bapak
Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara yakni �Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso,
Tut Wuri Handayani�.
DAFTAR PUSTAKA
Munir,
Abdullah, Pendidikan Karakter
Membangun
karakter Anak sejak dari
Rumah,
Pedagogia, Yogyakarta, 2010
Febriantina,
S., Anggrayni, D. R., Pendidikan Karakter Pada Siswa Sekolah, I., Anggrayni
Riswono, D., Aprilia, L., Ukhfiya, S., & Negeri Jakarta, U. (2021).
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA SISWA SEKOLAH DASAR Sejarah Artikel. In
Juni (Vol. 8, Issue 1).
Harefa, I.
D., & Tabrani, A. (2021). Problematika Pendidikan Karakter, Antara Konsep
dan Realita. SHAMAYIM: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 1(2), 148�156.
https://doi.org/10.51615/sha.v1i2.23
Muchtar, D.,
& Suryani, A. (2019). Pendidikan Karakter Menurut Kemendikbud. Edumaspul:
Jurnal Pendidikan, 3(2), 50�57. https://doi.org/10.33487/edumaspul.v3i2.142
Muslim, A.
(2020). TELAAH FILSAFAT PENDIDIKAN ESENSIALISME DALAM PENDIDIKAN KARAKTER.
Jurnal Visionary : Penelitian Dan Pengembangan Dibidang Administrasi
Pendidikan, 5(2). https://doi.org/10.33394/vis.v5i2.3359
Salirawati,
D. (2021). Identifikasi Problematika Evaluasi Pendidikan Karakter di Sekolah.
Jurnal Sains Dan Edukasi Sains, 4(1), 17�27.
https://doi.org/10.24246/juses.v4i1p17-27
Semadi, Y. P.
(2019). FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA MENUJU BANGSA
BERKARAKTER. Jurnal Filsafat Indonesia, 2(2).
https://doi.org/10.23887/jfi.v2i2.21286
Usiono. 2006.
Pengantar Filsafat
Pendidikan.
Jakarta: Hijri Pustaka
Utama.