MENINGKATKAN KEMAMPUAN AKADEMIK GURU DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF TERHADAP GURU MATA PELAJARAN DI LINGKUNGAN SMP PASUNDAN I BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2018 � 2019
Nana Mulyana
SMP Pasundan 1
|
Riwayat Artikel: Received: 01-09-2022 Revised: 07-09-2022 Accepted: 15-09-2022 Keywords:
Intrinsic
Motivation; Ethical Leadership; Organizational Commitment; Employee
Engagement. Kata
Kunci: Motivasi Intrinsik; Kepemimpinan Etis; Komitmen Organisasi; Keterlibatan Karyawan. |
|
Abstract This School Action Research aims to determine the
steps and benefits of appropriate guidance in carrying out supervision with a
collaborative approach at SMP Pasundan 1 Bandung, so as to be able to form a
learning community that can improve teacher competence and achieve effective
academic supervision. This research is divided into two cycles through
collaborative guidance. The observed factors include teacher activities, teacher
interest attitudes, and student interest attitudes. The results of the second
cycle research generally increased when compared to the first cycle. The task
of a supervisor is to be able to apply appropriate supervision techniques in
the implementation of supervision activities. Understanding and mastery of
these techniques by supervisors is a must if you want the implementation of
supervision in schools/madrasas to run well so as to improve the quality of
learning. The researcher's actions in the implementation of the first cycle
of supervision are as follows. (1) Researchers provide indicators that must
be achieved during preparation, implementation, and assessment before the
implementation of supervision, (2) Researchers ask teachers to fill out the
assessment format and make plans for the following activities to be
supervised Based on the results of research in cycle II, individual
supervision activities with a collaborative approach can improve the quality
and quantity of learning designs and implementation of educational learning.
This is also accompanied by increased activities, attitudes, interests of
teachers and students. This individual supervision becomes effective through
collaborative guidance and the formation of a professional learning community. |
|
|
Abstrak Penelitian Tindakan Sekolah ini bertujuan� untuk mengetahui langkah � langkah dan
manfaat bimbingan yang tepat dalam melaksanakan supervisi dengan pendekatan
kolaboratif di SMP Pasundan 1 Bandung, sehingga mampu membentuk komunitas
pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan mencapai supervisi
akademik yang efektif. Penelitian ini terbagi kedalam dua siklus melalui
bimbingan kolaboratif. Faktor-faktor yang diamati meliputi aktivitas guru,
sikap minat guru, , dan sikap minat siswa. Hasil penelitian siklus II umumnya
mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Tugas seorang
supervisor adalah mampu menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam
pelaksanaan kegiatan supervisi. Pemahaman dan penguasaan teknik-teknik
tersebut oleh supervisor, menjadi suatu keharusan jika ingin pelaksanaan
supervisi di sekolah/madrasah, dapat berjalan dengan baik sehingga dapat
meningkatkan mutu pembelajaran. Tindakan Peneliti pada pelaksanaan supervisi
siklus pertama sebagai berikut. (1) Peneliti memberikan indikator yang� harus dicapai pada saat persiapan,
pelaksanaan, dan penilaian sebelum pelaksanaan supervisi, (2) Peneliti
menyuruh guru mengisi format penilaian serta membuat perencanaan kembali
kegiatan berikut yang akan disupervisi. Berdasarkan
hasil penelitian pada siklus II kegiatan supervisi individual dengan
pendekatan kolaoratif dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas rancangan
pembelajaran serta implementasi pembelajaran yang mendidik. Hal ini disertai juga dengan meningkatnya aktivitas, sikap, minat
guru dan siswa. Supervisi individual ini menjadi efektif melalui bimbingan
kolaboratif dan terbentuknya komunitas pembelajaran profesional. |
Corresponding Author: Nana Mulyana�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan
salah satu prioritas pembangunan bangsa. Dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia
yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Upaya dalam mempersiapkan dan meningkatkan sumber daya manusia yang tangguh, berkualitas, dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain perlu dilakukan pembinaan dan peningkatan mutu pendidikan secara optimal. Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia sera keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-undang Sisdiknas, 2003 : 3).
Sebagai agen pembelajaran, pendidik menempati posisi strategis dalam peningkatan mutu lulusan. Pendidik
melakukan berbagai aktivitas sejak perencanaan, mengelola PBM, dan menilai ketercapaian tujuan pendidikan. Perkembangan teknologi informasi dan laju kehidupan global tidak akan mengubah atau
meniadakan pendidik dalam proses pendidikan.
Pelaksanakan tugas pendidik diatur dalam UU 14 Th 2005 dan Permendiknas 74 Th 2008. Dalam regulasi ini guru berperan sebagai tenaga profesional. Dalam mengelola PBM, guru berperan sebagai agen pembelajaran yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sebagai tenaga profesional, untuk meningkatkan tugasnya dilakukan supervisi. Hal ini menunjukkan komitmen guru dalam melakukan fungsinya sebagai agen pembelajaran. Menurut Pidarta (2009:1) supervisi selalu mengacu pada kegiatan memperbaiki proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut juga tidak bisa terlepas
dari tujuan akhir setiap sekolah,
yaitu menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Supervisi yang dilaksanakan kepala sekolah terhadap guru di sekolah dasar terbiasa
saling memberi dan menerima. Hal ini tercermin dalam situasi keakraban, karena personalia di sekolah dasar hanya sedikit.
Untuk melaksanakan kegiatan supervisi, antara kepala sekolah
dan guru dapat membuat kesepakatan. Harapannya untuk dapat menciptakan
suasana yang menyenangkan
dan kondusif. Kepala sekolah bertanggungjawab memantau, membina, dan memperbaiki proses pembelajaran
di kelas atau di sekolah. Dalam meningkatkan dan memperbaiki
proses pembelajaran, salah satu
tugasnya adalah melakukan supervisi. Di samping itu kepala
sekolah bertanggungjawab terhadap kualitas pembelajaran.
Dinamika perkembangan pendidikan dan berbagai perubahan di luar sekolah setiap
saat mengalami perubahan. Oleh sebab itu perencanaan yang disusun di tahun berikutnya harus ada perubahan yang lebih baik dari
tahun sebelumnya. Seiring dengan dinamika perkembangan pendidikan, guru harus merubah perencanaan pengajaran setiap tahunnya. Peningkatan pendidikan yang saat ini tercermin pada perkembangan teknologi, maka perencanaan dan proses pembelajaran harus memanfaatkan teknologi.
Pembaharuan pendidikan terus dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan
mutu pendidikan, salah satu yang harus dilakukan untuk menghasilkan mutu adalah proses pembelajaran, yang merupakan intisari dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai peran utamanya, karena kegiatan pembelajaran menuntut keaktifan guru yang memiliki tanggung jawab dan inisisatif pembelajaran sedangkan siswa yang terlibat langsung akan dituntut keaktifannya
dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu penyempurnaan dalam pembelajaran harus melalui pendekatan
dan metode yang lebih diutamakan siswa aktif� dalam� proses pembelajaran.
Pada situasi keadaan ilmu pengetahuan
yang begitu pesat dengan jumlah penduduk
bangsa Indonesia yang begitu
besar, pendidikan menjadi suatu peran
yang sangat penting terutama
pendidikan formal.
Kemampuan dan profesionalisme guru sangat penting
untuk ditingkatkan mengingat kedua hal tersebut apabila
belum mencukupi akan mempengaruhi proses pembelajaran. Guru yang tidak profesional sama saja dengan guru yang masih kon-vensional dan mereka akan mengajar
sesuai kemauannya sendiri, tidak sesuai dengan aturan
yang ditentukan seperti Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Tuntutan-tuntutan yang ada pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan
Pemerintah, baik Permen No. 41, Permen No. 16, Permen No. 19, Permen No. 20, Permen No. 22, 23, 24 yang berhubungan
erat dengan kemampuan dan profesionalisme guru
meng-upayakan adanya peningkatan kemampuan bagi guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Tuntutan demi tuntutan, harapan demi harapan yang berisi pe-nekanan-penekanan agar pendidikan di Indonesia terus meningkat ternyata belum sesuai dengan
harapan. Kenyataannya kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran baru mencapai angka
58,33 dan 56,66, sedangkan profesionalisme
mereka baru mencapai kategori D. Hasil ini patut menjadi
pertanyaan besar apakah dengan kemampuan
dan profesionalisme guru serendah
itu akan dapat mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi bagi para siswa yang mereka ajar? Jawabannya tentu tidak. Hal inilah yang menyebabkan penelitian ini perlu dilakukan
demi mengupayakan peningkatan
kemampuan dan profesionalisme
mereka dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan supervisi individual.
Perkembangan sistem pendidikan yang mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP), untuk setiap satuan
pendidikan secara bertahap harus mengimplentasikan SNP. Seorang pendidik harus memahami dan mengimplementasikan standar isi, standar
kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, standar pengelolaan pendidikan dan harus memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi guru. Ini semua akan berdampak
positip pada rancangan dan implementasi pembelajaran di kelas/laboratorium/di luar kelas.
Implementasi SNP perlu dilakukan pengawasan oleh pengawas satuan pendidikan yaitu tenaga kependidikan
profesional berstatus PNS
yang diberi tugas dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melaksanakan pengawasan pendidikan di sekolah. Tugas pengawas satuan pendidikan dapat melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Pengawasan akademik yaitu membina guru agar dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa. Sedangkan pengawasan manajerial yaitu membina kepala sekolah dan seluruh staf sekolah agar dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan pada sekolah binaannya.
Untuk melaksanakan pengawasan antara lain meliputi supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan.
Supervisi meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Teknik supervisi
sangat menentukan sukses atau tidaknya pelaksanaan
supervisi. Teknik supervisi
inilah yang dipratekkan
oleh supervisor di lapangan. Teknik supervisi ini bersifat
rasional-empiris-temporer. Artinya
teknik supervisi membutuhkan pembaharuan, perubahan, dan penyempurnaan secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan
yang terjadi. Tidak ada finalisasi teknik karena ia
berangkat dari kajian realitas yang bisa terus dikembangkan.
Disinilah peran supervisor untuk mengembangkan teknik supervisi dengan banyak melakukan
kajian, eksperimentasi, dan
generalisasi.�
Berdasarkan cara supervisi yang sudah dilaksanakan pada tahun pelajaran sebelumnya, tidak dapat dilaksanakan pada semua guru-guru di sekolah, sehingga peningkatan kinerja guru dan peningkatan mutu proses pembelajaran belum merata di setiap sekolah maupun di seluruh sekolah binaan. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan supervisi ke semua guru pada semester genap tahun pelajaran
2018 / 2019 dilakukan bimbingan
kolaboratif guru di sekolah.
Maka di setiap sekolah terbentuk komunitas pembelajaran yang profesional.
�� Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah penelitian
dapat diajukan sebagai berikut: �Bagaimana teknik supervisi dapat meningkatkan dapat meningkatkan kompetensi guru dan
mencapai supervisi akademik yang efektif melalui supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif terhadap guru mata pelajaran �.
Adapun secara khusus, rumusan masalah penelitian tindakan ini sebagai
berikut.
a. Apakah dengan supervisi
individual dengan pendekatan
kolaboratif dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas?
b. Apakah dengan supervisi
individual dengan pendekatan
kolaboratif dapat meningkatkan guru dalam menilai prestasi belajar siswa?
c. Apakah dengan supervisi
individual dengan pendekatan
kolaboratif dapat meningkatkan guru dalam melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian
prestasi belajar siswa?
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran
b. Untuk menemukan langkah-langkah supervisi yang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran.
c. Meningkatkan minat guru sebagai upaya meningkatkan
kualitas proses pembelajaran.
d. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
e. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa
f.
Untuk meningkatkan makna suatu proses pembelajaran
g. Untuk memberikan peluang kepada guru untuk mengembangkan dirinya sebagai pembelajar dengan landasan berpikir kritis dan konstruktif
METODA PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SMP
Pasundan I Bandung yang beralamat Jalan Pasundan
No.32 Telepon : 022-4203383 Bandung 40251
Provinsi Jawa Barat. Peneliti mengambil tempat penelitian� di� SMP
Pasundan I Bandung itu� adalah sebagai
Kepala Sekolah. Guru-guru di SMP Pasundan I Bandung ada yang GTT, GB, PNS, dan
ijazahnya pun beragam, yakni� ada yang
berijazah diploma, sarjana, dan pascasarjana.
Waktu�
penelitian adalah pada tahun pelajaran 2018 - 2019. Selama penelitian
tersebut peneliti� mengumpulkan data
awal, menyusun program supervisi, pelaksanaan supervisi, analisis, dan tindak
lanjut.
Faktor yang
Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan, ada beberapa faktor� yang diselidiki sebagai berikut.
a.
Kepala Sekolah, melihat belum adanya
peningkatan kemampuan guru� dalam
melaksanakan pembelajaran yang lebih efektif di kelas
b.
Pembelajaran, memperhatikan
keefektifan� pembelajaran di kelas yang
dikelola oleh guru� dengan menerapkan
strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.
c.
Kepala Sekolah� memperhatikan motivasi belajar siswa dan
hasil belajar, yang dicapai oleh siswa
d.
Peneliti, memperhatikan tindakan Guru
selama melakukan supervisi indvidual.
Prosedur
Penelitian
Karena penelitian ini� merupakan penelitian tindakan maka� pelaksanakan�
ini dilaksanakan secara siklus. Pelaksanaannya selama dua siklus. Siklus-siklus
itu merupakan rangkaian yang saling berkelanjutan, maksudnya siklus kedua
merupakan kelanjutan dari siklus pertama. Setiap siklusnya� selalu ada persiapan tindakan, pelaksanaan
tindakan, pemantauan dan evaluasi, dan refleksi.
Gambaran
penelitan tindakan� itu sebagai berikut.
Gambaran
Pelaksanaan Siklus I
a.
Persiapan Tindakan
Siklus pertama dilaksanakan selama 3
bulan yaitu pertengahan bulan Juli sampai akhir bulan September 2019 tahun
pelajaran 2018� - 2019 dengan� kegiatan sebagai berikut :
1. Pengumpulan
data awal diambil dari� daftar keadaan
guru untuk mengetahui pendidikan� terakhir,
pelatihan yang pernah diikuti guru, serta lamanya guru bertugas. Data awal
kerja guru dan efektivitas�
pembelajaran� dilihat dari hasil
supervisi� kunjungan kelas masing-masing
guru sebelum dilaksanakan penelitian
2. Mengadakan
pertemuan guru-guru sebagai mitra penelitian membahas langkah-langkah pemecahan
masalah pembelajaran dari aspek guru, dan Peneliti.
3. Merumuskan
langkah-langkah tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus� pertama�
b.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanakan tindakan ini dilakukan
oleh� peneliti dan Peneliti selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan tindakan sebagai berikut.
1.
Mengadakan penelitian guru selama
membuat program pembelajaran melalui workshop sekolah.
2.
Melaksanakan supervisi individual selama
pembelajaran secara periodik dengan�
sistem kolaboratif.
c.
Pemantauan dan Evaluasi
Pada prinsipnya pemantauan� dilaksanakan selama� penelitian berlangsung, dengan sasaran utama
untuk melihat peningkatan kemampuan guru�
serta efektivitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru serta
tindakan-tindakan Peneliti dalam mensupervisi guru tersebut.
Adapun instrumen� yang digunakan untuk memantau tindakan� guru dalam pembelajaran dan sepervesor
dalam� mensupervisi berupa:
1.
Profesional, guru yang memiliki komitmen
tinggi dan kemampuan berpikir tinggi
2.
Analitis, guru yang memiliki kemampuan
berpikir� tinggi, tetapi komitmennya
rendah.
3.
Tidak terfokus atau bingung,� guru yang memiliki komitmen tinggi, tetapi
kemampuan berpikirnya rendah
4.
Gagal, guru memiliki komitmen rendah dan
kemampuan berpikirnya juga rendah
5.
Tindakan Peneliti sebelum pelaksanaan
supervisi
6.
Tindakan Peneliti selama pelaksanaan
supervisi
7.
Tindakan Peneliti setelah pelaksanaan
supervisi
8.
Aktivitas guru dalam melaksanakan
pembelajaran di kelas
d.
Refleksi
Refleksi�
merupakan kegiatan� yang meliputi
analisis, sintesis, memaknai, menerangkan, dan akhirnya menyimpulkan semua
informasi yang diperoleh� pada saat� persiapan dan tindakan. Hasil refleksi
dimanfaatkan untuk perbaikan pada siklus berikutnya.
Peneliti (Kepala Sekolah) dan Guru pada
tahap ini� mendiskusikan pelaksanaan
proses� tindakan yang dilakukan
berdasarkan hasil pengamatan selama� guru
menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,� menilai prestasi belajar, melaksanakan tindak
lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa dan Peneliti melakukan tindakan.
Hal yang didiskusikan meliputi: (a)�
kesesuaian pembelajaran dengan perencanaan, (b)� materi yang digunakan pembelajaran, (c)
evaluasi pembelajaran, (d)� kesesuaian
tindakan guru dengan format supervisi, (e) tindak lanjut Peneliti dan guru.
2. Gambaran Siklus II
Siklus�
II dilaksanakan selama 3 bulan, yakni awal bulan Oktober sampai
pertengahan bulan Desember 2019 tahun pelajaran 2018 - 2019 dan merupakan� kelanjutan�
serta perbaikan siklus I. Kegiatan siklus kedua didasarkan pada hasil
siklus pertama dengan rangkaian: (a) Persiapan Tindakan, (b) Pelaksanaan
Tindakan, (c) Pemantauan dan Evaluasi, (d)�
Refleksi.
Teknik
Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data pada penelitian
ini terdiri atas� empat kegiatan pokok
yakni pengumpulan data awal, data hasil analisis setiap akhir siklus, serta
tanggapan lain dari guru terhadap pelaksanaan supervisi individual dengan
pendekatan secara model kolaboratif.
Teknik Analisis
Data
Data yang telah dikumpulkan dianalisis
dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif.� Analisis kualitatif digunakan untuk� menjelaskan perubahan perilaku guru dalam pembelajaran
dan perilaku Peneliti dalam melaksanakan supervisi guru. Adapun analisis
kuantitatif� digunakan untuk� mengetahui keberhasilan guru dan siswa
berdasarkan standar kompetensi guru yang telah ditetapkan oleh Depdiknas
sebagai berikut.
a.
Nilai�
81 � 100 =� amat baik (A) berhasil
b.
Nilai 76 � 80� �� =� baik (B) berhasil
c.
Nilai 55 � 75� �� =� cukup (C) belum berhasil
d.
Nilai 0 � 54 ����� =� kurang (D) belum
berhasil
Indikator
Keberhasilan
Indikator keberhasilan yang dicapai oleh
peneliti dalam penelitian ini� ialah
apabila persentasi rata � rata keberhasilan dari keseluruhan guru kelas
meningkat. Sedangkan tolak ukur nilai keberhasilan dari seorang guru
sebesar� > 75. Aspek � aspek kinerja
guru yang ditujukan sebagai indikator keberhasilan, diantaranya : kinerja guru
dalam� menyusun rencana pembelajaran,
kinerja guru dalam� melaksanakan
pembelajaran, kinerja guru dalam menilai prestasi belajar siswa, kinerja guru
dalam melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa. Dengan
meningkatnya kinerja guru maka dapat berakibat terjadinya pembelajaran� efektif yang mampu� memotivasi�
belajar siswa dengan meningkatnya hasil belajar terutama nilai ujian
semester.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Awal
Awalnya Guru guru di SMP Pasundan I Bandung kurang lebih 75 % dalam proses kegiatan
pembelajaran� masih menggunakan model
pembelajaran konvensional (teacher centre) diharapkan setelah dilakukan
tindakan ada peningkatan mencapai target 15% dan penelitian berhasil bila
mencapai target 85 %.
Penelitian Siklus I
a. Perencanaan�
Supervisi� Siklus I
Peneliti bersama guru
membuat perencanaan yang berkaitan dengan pembuatan instrumen penelitian.
Instrumen tersebut dibuat berdasarkan pada�
indikator� yang dibuat oleh� Departemen Pendidikan� Nasional.�
Hasil pemantauan sebagai berikut.
Pembuatan format
penilaian pra-KBM sebagai berikut.
1.
Mendeskripsikan tujuan pembelajaran
2.
Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah
ditentukan
3.
Mengorganisasikan materi berdasarkan� urutan dan kelompok
4.
Mengalokasikan waktu
5.
Menentukan metode pembelajaran yang sesuai
6.
Merancang prosedur pembelajaran
7.
Menentukan media�
pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan
8.
Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku,
modul, program komputer dan sejenisnya)
9.
Menentukan teknik penilaian
Berdasarkan instrumen
tersebut, guru akhirnya membuat perencanaan pembelajaran yang alurnya sama
dengan instrumen supervisi tersbut. Berdasarkan data yang dikumpulkan, ternyata
hampir� semua guru dapat membuat perencanaan
tersebut, tetapi hasilnya jika kita ukur dengan indikator yang telah ditetapkan
masih ada yang kurang.� Hasil tersebut
dapat dilihat pada tabel I
b.
Pelaksanaan Supervisi
Siklus I
Instrumen penelitian yang
digunakan berupa instrumen yang sesuai dengan indikator yang dibuat oleh
Depdiknas, yakni:
1.
Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai
2.
Menyajikan� materi
pelajaran secara otomatis
3.
Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah
ditentukan
4.
Mengatur kegiatan siswa di kelas
5.
Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan
bahan) yang telah ditentukan
6.
Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa
buku, modul, program komputer dan sejenisnya)
7.
Memotivasi siswa
dengan berbagai cara yang positif
8.
Melakukan interaksi
dengan siswa� menggunakan
bahasa yang komunikatif
9.
Memberikan pertanyaan
dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuat penerimaan siswa dalam proses
belajar
10.
Menyimpulkan�
pembelajaran
11.
Menggunakan waktu
secara efektif dan efisien
c.
Penilaian Supervisi Siklus
I
Instrumen penilaian
yang digunakan dalam penelitian tindakan berupa instrumen yang sesuai dengan indikator
yang dibuat oleh Depdiknas, yakni:
1.
Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan
2.
Melaksanakan penilaian
3.
Memeriksa� jawaban/memberikan
skor tes hasil belajar� berdasarkan� indikator/kriteria unjuk kerja yang telah
ditentukan
4.
Menilai hasil belajar
5.
Mengolah hasil penilaian
6.
Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat
kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas)
7.
Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis
(misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian
siswa, dll.)
8.
Menyusun laporan hasil penilaian
9.
Memperbaiki�
soal/perangkat penilaian
d.
Refleksi Siklus I
Refleksi Perencanaan� Supervisi Siklus I
Setelah� dilaksanakan diskusi dengan guru kelas
maka� peneliti� menulis hasil refleksi sebagai berikut.
1.
Mendeskripsikan tujuan pembelajaran 5 Guru dengan
presentasi 50 %, berdasarkan data tersebut kegiatan guru sudah� cukup. Namun kegiatan seperti harus lebih
ditingkatkan lagi, juga ada beberapa guru yang perlu dimotivasi.
2.
Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah
ditentukan sebanyak 5 Guru dengan presentasi 50 %, berdasarkan data itu�� kegiatan guru tersebut harus ditingkatkan
lagi.
3.
Mengorganisasikan materi berdasarkan� urutan dan kelompok sebanyak 4 Guru dengan
presentasi 40 %. Pada bagian ini guru perlu�
diberi bimbingan lagi tentang bagaimana mengorganisasikan matari� berdasarkan urutannya.
4.
Mengalokasikan waktu sebanyak 6 Guru dengan presentasi 60
%. Kegiatan pada bagian ini guru perlu lebih menentukan alokasi waktu melalui
workshop guru mata pelajaran di sekolah dengan dipandu peneliti.
5.
Menentukan metode pembelajaran yang sesuai sebanyak 3
guru dengan presentasi 30 %,� berdasarkan
catatan� dan hasil pelaksanaan� ternyata pada bagian ini guru perlu diberi
bimbingan, pengarahan dengan cara berdiskusi dengan peneliti untuk menetapkan
metode yang berkaitan dengan kontekstual.
6.
Merancang prosedur pembelajaran sebanyak 4 Guru dengan presentasi
40 %. Pada penentuan prosedur sangat berkaitan dengan metode pembelajaran. Oleh
sebab itu, perlu ada perbaikan di bidang ini. Guru masih terpancang dengan
prosedur-prosedur yang sifatnya mengancam siswa jika� kurang mampu atau melanggar pembelajaran.
7.
Menentukan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan
bahan) yang akan digunakan sebanyak 4 Guru dengan presentasi 40 %. Guru pada
bagian ini masih terfokus pada� media
yang dibeli atau dibuat oleh perusahaan padahal di sekitar kelas banyak media
alami yang bisa digunakan sebagai media. Bagian ini, masih perlu diperbaiki.
8.
Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku,
modul, program komputer dan sejenisnya) sebanyak 4 Guru dengan presentasi 40 %,
9.
Menentukan teknik penilaian sebanyak 4� guru dengan presentasi 40 %. Teknik-teknik
yang dibuat guru dalam menyusun penilaian masih kurang beragam. Guru masih
terfokus pada teknik tradisional yakni penilaian hasil saja, padahal kita juga
perlu� penilaian proses.
Refleksi Pelaksanaan
Supervisi Siklus I
Hasil refleksi
pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru kelas
sebagai berikut.
1.
Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai. Guru� rata-rata sudah� mampu membuka pelajaran dengan metode yang
tepat. Guru yang dianggap mampu membuka pelajaran dengan tepat sebanyak 5 orang
atau� dengan persentasi� 50 %. Berdasarkan persentasi di atas, guru
perlu meningkatkan lagi� cara tersebut.
Adapun satu guru yang belum sesuai� perlu
diajak diskusi bersama dengan peneliti.
2.
Menyajikan� materi
pelajaran. Dalam menyajikan materi pelajaran, guru rata-rata sudah baik dan
berdasarkan pengamatan ada 4 guru yang dikategorikan kurang. Jika hal itu
dipersentasi maka sudah mencapai� 40 %.
Guru-guru dalam menyajikan� materi perlu
ada persiapan� karena� sebagian guru masih kurang menguasai materi
yang diberikan akibatnya murid sulit memahaminya.
3.
Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah
ditentukan berjumlah 4 guru dengan persentasi�
40 %. Guru dalam menggunakan metode masih terfokus pada metode
tradisional secara otomasis pelaksanaannya guru seakan-akan mentransfer
ilmunya.� Sebagai perbaikan guru-guru
yang masih belum paham dalam menggunakan metode pembelajaran yang modern� diwajibkan membaca buku-buku yang berkaitan
metode pembelajaran modern, terutama buku CTL, dan diberi contoh pembelajaran
modern
4.
Mengatur kegiatan siswa di kelas berjumlah 5 Guru dengan
persentasi� 50 %. Berdasarkan data
tersebut guru hanya sebagian yang mampu mengelola kelas. Guru yang belum
berhasil mengelola kelas dengan baik diajak diskusi pada pasca supervisi.
5.
Menggunakan media pembelajaran/ peralatan praktikum (dan
bahan) yang telah ditentukan berjumlah 4 guru dengan persentasi� 40 %. Guru masih jarang menggunakan alat-alat
yang bisa menguatkan pembelajaran. Hal itu, dikarenakan bulum paham
pembelajaran CTL.
6.
Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa
buku, modul, program komputer dan sejenisnya) berjumlah 4 Guru dengan
persentasi� 40 %. Untuk itu guru masih
perlu dibimbing oleh peneliti.
7.
Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif,� berjumlah 5 Guru dengan persentasi� 50 %. Guru sudah banyak yang memotivasi
siswa, yang� jarang memberi motivasi pada
siswa rata-rata guru� senior. Hal ini
terjadi karena masih terpengaruh pada pendidikan lama. Guru seperti itu perlu
diajak diskusi tentang keunggulan memberi motivasi kepada siswa.
8.
Melakukan interaksi dengan siswa� menggunakan bahasa yang komunikatif berjumlah
5 Guru dengan persentasi� 50 %. Ada� satu guru yang masih menggunakan bahasa yang
sulit dipahami siswa. Hal itu terjadi pada guru yunior.�
9.
Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui
penerimaan siswa dalam proses belajar berjumlah 6 guru dengan persentasi� 60 %. Guru sudah dapat memberikan umpan balik
pada� siswa. Rata-rata hanya mengerjakan
soal-soal di LKS sampai waktunya habis.
10.
Menyimpulkan�
pembelajaran berjumlah 4 Guru dengan persentasi� 40 %. Guru masih banyak yang belum
menyimpulkan pembelajaran. Hal ini terjadi karena waktunya habis digunakan
mengerjakan LKS saja. Untuk itu perlu disesuaikan soal-soal yang dikerjakan
dalam LKS itu.
11.
Menggunakan waktu secara efektif dan efisien berjumlah 4
guru dengan persentasi� 40 %. Guru kurang
efektif� dalam menggunakan waktu
pembelajaran jika dikaitkan dengan�
langkah-langkah yang ada dalam indikator tersebut karena waktunya hanya
tersita pada mengerjakan LKS saja. Untuk itu, perlu direncanakan dengan baik
Refleksi Penilaian� Supervisi Siklus I
Hasil refleksi pada
bagian penilaian supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai
berikut.
1.
Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan
indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 5 Guru dengan
persentasi� 50 %. Masih ada satu guru
yang belum mampu menyusun soal penilaian karena masih tidak sesuai dengan
indikatornya. Berdasarkan pengamatan/analisis ternyata guru tersebut belum
paham betul pada kata kerja yang ada dalam indikator tersebut. Oleh sebab itu,
guru itu masih perlu belajar bersama tentang indikator tersebut.
2.
Melaksanakan penilaian berjumlah 6 Guru dengan persentasi� 60 %. Masih ada guru yang membiarkan siswanya
membuka buka dalam ulangan tersebut. Hal seperti ini akan merugikan anak.
Bahkan penilaian itu tidak bisa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Guru
seperti ini perlu diberi bimbingan secara khusus tentang pentingnya penilaian.
3.
Memeriksa� jawaban/
memberikan skor tes hasil belajar�
berdasarkan� indikator/kriteria
unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 6 Guru dengan persentasi� 60 %. Guru yang belum mampu� memberikan skor ialah guru yang belum pernah
mengikuti pelatihan. Skor dianggap sama dengan bobot. Untuk mengatasi seperti
itu, guru-guru tersebut diikutkan MGMP kota atau diberi bimbingan secara
khusus.
4.
Menilai hasil belajar siswa berjumlah 6 Guru dengan
persentasi 60 %. Hanya sebagian guru yang mampu pada indikator ini
5.
Mengolah hasil penilaian berjumlah 5 guru dengan
persentasi� 50 %. Guru yang belum mampu
mengolah nilai sebagian besar sama dengan guru�
yang tidak paham terhadap penyekoran pembobotan nilai.
6.
Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat
kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas) berjumlah 4 Guru dengan
persentasi� 40 %. Guru yang tidak bisa
menganalisis� soal rata-rata guru yang
enggan menganalisis atau tidak mau menganalisis sehingga lupa cara
menganalisis. Untuk mengatasi hal itu, guru tersebut diajak diskusi atau diajak
mengikuti workshop di sekolah.
7.
Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis
(misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa,
dll.) berjumlah 5 Guru dengan persentasi�
50 %. Karena tidak bisa menganalisis butir soal akibatnya guru tersebut
tidak bisa menyimpulkan penilaian secara logis dan jelas. Untuk mengatasi hal
itu, guru tersebut diajak diskusi atau diajak mengikuti workshop di sekolah.
8.
Menyusun laporan hasil penilaian berjumlah 7 Guru dengan
persentasi� 70 %. Karena semua guru sudah
mampu pada indikator ini dipertahankan.
9.
Memperbaiki�
soal/perangkat penilaian berjumlah 6 Guru dengan persentasi� 60 %. Karena semua guru sudah mampu pada
indikator ini dipertahankan.
Refleksi Pelaksanaan
Tindak Lanjut Penilaian Siklus I
Refleksi pada bagian
tindak lanjut ini dilakukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan oleh
Peneliti dan dianalisis lalu dicarikan solusinya. Hasil refleksinya sebagai
berikut.
1.
Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian
berjumlah 4� guru, dengan persentasi
40� %. Pada bagian ini masih banyak guru
yang belum mampu mengidentifikasikan kebutuhan tindak lanjut. Oleh sebab itu,
pada siklus berikutnya guru tersebut diajak berdiskusi betapa pentingnya
pelaksanaan tindak lanjut tersebut.
2.
Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian berjumlah
5 Guru, dengan persentasi 50 %. Guru yang belum mampu menyusun program tindak
lanjut perlu melaksanakan workshop
sekolah atau dengan dibimbing oleh peneliti, guru tersebut menyusun program
tindak lanjut.
3.
Melaksanakan tindak lanjut berjumlah 6 Guru, dengan
persentasi 60 %. Karena guru banyak yang terbiasa menyusun program, peneliti
memotivasi kepada guru tersebut supaya melaksanakan tindak lanjut.
4.
Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian
berjumlah� 5 Guru, dengan persentasi 50
%. Pelaksanaan ini belum dilakukan guru karena belum bisa membuat program
makanya perlu motivasi pada guru tersebut.
5.
Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil
penilaian berjumlah 4 guru, dengan persentasi 40 %. Hasil analisis yang
dilakukan guru masih sedikit. Untuk meningkatkan guru agar mau menganalisis
maka peneliti selalu memotivasi guru tersebut.
Refleksi Tindakan Peneliti
Hasil refleksi
pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai
berikut.
1.
Peneliti memberikan
indikator yang� harus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi,
2.
Peneliti menyuruh
guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum
pelaksanaan supervisi,
3.
Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang akan
disupervisi,
4.
Peneliti mengamati guru pada saat supervisi,
5.
Peneliti berdiskusi dengan guru setelah melaksanakan
supervisi,
6.
Guru dan Peneliti membuat perencanaan kembali kegiatan berikutnya
yang akan disupervisi
Tindak Lanjut Hasil Siklus I
Pelaksanakan Penilaian Siklus I
Kegiatan ini dilaksanakan
oleh guru pada bagian terakhir setelah melaksanakan penilaian dengan tujuan
menganalisis program penilaian dan perbaikan hasil penilaian. Adapun instrumen
yang digunakan untuk menjaring data berupa indikator yang dibuat oleh depdiknas
(2004:12) yaitu:
1.
Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian
2.
Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian
3.
Melaksanakan tindak lanjut
4.
Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian
5.
Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut
hasil penilaian
Tindakan Peneliti Siklus I
Tindakan Peneliti pada
pelaksanaan supervisi siklus pertama sebagai berikut. (1) Peneliti memberikan
indikator yang� harus dicapai pada saat
persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi,
(2) Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian serta membuat perencanaan
kembali kegiatan berikut yang akan disupervisi
Pelaksanaan Tindak Lanjut Siklus I
Berdasarkan
deskripsi� dan refleksi di atas,
peneliti, guru dan Peneliti melakukan tindak lanjut yang berkaitan dengan
tindakan-tindakan yang perlu dilakukan pada siklus kedua, baik yang berkaitan
dengan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian.
a.� Tindak Lanjut Perencanaan� Supervisi Siklus I
Guru yang disupervisi
dibantu oleh Peneliti membuat perencanaan�
pembelajaran yang kriterianya berdasarkan pada indikator yang telah
dibuat oleh Dirjen� Dikmenum dengan
memperhatikan:
1.
Memperjelas tujuan pembelajaran yang ada dalam Kurikulum
yang berlaku dengan membuat tujuan khusus pembelajaran
2.
Materi pembelajaran dibuat sesederhana mungkin dan urut
dari yang sederhana ke yang sulit. Materi itu ditulis di RPP guru.
3.
Menentukan pembagian alokasi waktu secara spisifik dan
berdasarkan pada langkah-langkah pembelajaran dan metodenya.
4.
Menentukan media pembelajaran secara kontekstual dan
berdasarkan pada materi yang dipelajari siswa.
5.
Teknik penilaian didasarkan pada� keterampilan atau materi yang diberikan.
�b. Tindak Lanjut Pelaksanaan Supervisi Siklus I
Pada siklus I pelaksanaan
supervisi difokuskan pada kerja sama dalam pembelajaran di kelas. Guru senior
atau guru yang sudah mampu membantu pada guru yunior atau guru yang belum mampu
dalam pelaksanaan pembelajaran. Contoh-contoh pembelajaran perlu diperhatikan
oleh guru yang belum mampu tersebut, terutama melakukan hal-hal berikut.
1.
Guru senior atau yang sudah mampu melaksanakan
pembelajaran memberi contoh� pada guru
yunior (guru yang belum mampu) dalam�
membuka pelajaran dengan� cara
apersepsi dan menggali skemata siswa yang berkaitan dengan materi sebelumnya.
2.
Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan
yang dibuat bersama dengan memperhatikan langkah-langkah yang ada dalam RPP.
3.
Penggunaan media difokuskan pada benda-benda yang ada di
lingkungan sekolah. Tentu saja disesuaikan dengan materi yang dipelajari siswa.
4.
Guru� membagi papan
tulis menjadi tiga bagian, yakni bagian pertama digunakan� untuk menulis tujuan yang ingin dicapai.
Bagian kedua untuk tanya jawab atau tulisan yang berkaitan dengan proses
pembelajaran. Bagian ketiga digunakan untuk kesimpulan.
c.
�Tindak Lanjut
Penilaian Pembelajaran Siklus I
Pada bagian penilaian ini
guru� berdiskusi dengan guru lain untuk
menentukan penilaian� yang cocok� untuk pokok bahasan atau KD yang� akan disampaikan pada siswa.� Hal yang perlu dilaksanakan sebagai perbaikan
siklus I adalah:
1.
Pembuatan kisi-kisi ulangan dititikberatkan pada ulangan
uraian objektif dan satu uraian non objektif.
2.
�Pelaksanaan
penilaian dikelompokkan menjadi dua, yakni dalam proses, yang soalnya berupa
pertanyaan yang dijawab secara langsung oleh siswa, kedua soal-soal yang dibuat
untuk dikerjakan setelah proses pembelajaran.
3.
Guru selalu mendiskusikan dengan teman guru atau dengan
Peneliti untuk menentukan skor, bobot,�
analisis butir soal, dan perbaikan soal, menyimpulkan hasil dan
melaporkan hasil penilaian.
d.
Pelaksanaan Tindak Lanjut Penilaian Siklus I
Pada bagian penilaian ini
guru� berdiskusi dengan guru lain untuk
menentukan tindak lanjut penilaian karena banyak bagian yang belum dipahami
oleh guru-guru. Untuk itu, ada beberapa rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti pada siklus
II yaitu:
Para guru� perlu work
shop tentang tindak lanjut penilaian, untuk membicarakan:�� (a) identifikasi tindak lanjut� hasil penilaian, (b) menyusun program tindak
lanjut, (c) Melaksanakan tindak lanjut, (d) mengevaluasi hasil tindak lanjut,
(e) menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian.
Penelitian Siklus II
Siklus II dilaksanakan
berdasarkan temuan siklus I. Bagian yang sudah baik dipertahankan, sedangkan
bagian yang� persentasi keberhasilannya
kecil diperbaiki pada siklus II ini. Berdasarkan refleksi dan� pelaksanaan tindak lanjut siklus I, maka
gambaran� hasil dan temuan yang perlu
ditindaklanjuti sebagai berikut.
a.
Perencanaan�
Supervisi Siklus II
Guru berdiskusi dengan
peneliti sekolah untuk merumuskan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.
Tujuan itu bersumber pada KD / indikator atau pokok bahasan dan indikator� kompetensi guru yang telah dirumuskan Dirjen
Dikmenum. Hasil pembuatan perangkat tersebut dipahami bersama sebelum diberikan
pada siswa.
Pembuatan format
penilaian pra-KBM sebagai berikut.
10.
Mendeskripsikan tujuan pembelajaran yang dimulai dari
penentuan KD / Pokok Bahasan, Indikator sampai pada tujuan khusus pembelajaran
11.
Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah
ditentukan dengan cara mengelompokkan materi yang berupa fakta, konsep,
prinsip, dan prosedur.
12.
Mengorganisasikan materi berdasarkan� urutan dan kelompok
13.
Mengalokasikan waktu
14.
Menentukan metode pembelajaran yang sesuai dan diarahkan
pada pembelajaran CTL dan CL
15.
Merancang prosedur pembelajaran
16.
Menentukan media�
pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan
17.
Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku,
modul, program komputer dan sejenisnya)
18.
Menentukan teknik penilaian
Berdasarkan hasil yang
dicapai ternyata hampir� semua guru dapat
membuat perencanaan seperti terlihat pada tabel 5.
b.
Pelaksanaan Supervisi Siklus II
Instrumen penelitian pada
siklus II tetap menggunakan instrumen yang dibuat oleh pemerintah. Menurut
Dirjen (2004:8) instrumen tersebut berisi indikator sebagai berikut.
12.
Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai
13.
Menyajikan� materi
pelajaran secara otomatis
14.
Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah
ditentukan
15.
Mengatur kegiatan siswa di kelas
16.
Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan
bahan) yang telah ditentukan
17.
Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa
buku, modul, program komputer dan sejenisnya)
18.
Memotivasi siswa
dengan berbagai cara yang positif
19.
Melakukan interaksi
dengan siswa� menggunakan
bahasa yang komunikatif
20.
Memberikan pertanyaan
dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuan penerimaan siswa dalam proses
belajar
21.
Menyimpulkan�
pembelajaran
22.
Menggunakan waktu
secara efektif dan efisien
Berdasarkan hasil
pengumpulan data secara langsung
pada saat supervisi guru pada siklus II dapat dilihat pada tabel 6.
c.
Penilaian Supervisi Siklus II
Pada siklus II instrumen
yang digunakan berdasarkan Dirjen (2004:11) yaitu:
10.
Menyusun soal/perangkan penilaian sesuai dengan
indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan
11.
Melaksanakan penilaian
12.
Memeriksa�
jawaban/memberikan skor tes hasil belajar� berdasarkan�
indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan
13.
Mengolah hasil penilaian
14.
Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat
kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas)
15.
Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis
(misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian
siswa, dll.)
16.
Menyusun laporan hasil penilaian
17.
Memperbaiki� soal/perangkat
penilaian
Hasil yang diperoleh pada
siklus II dapat dilihat pada tabel 7.���
Tindak Lanjut Hasil
Penilaian Siklus II
Kegiatan ini dilaksanakan
oleh guru pada bagian terakhir setelah melaksanakan penilaian dengan tujuan menganalisis
program penilaian dan perbaikan hasil penilaian. Adapun instrumen yang
digunakan Dirjen Dikmenum (2004:12) yaitu:
6.
Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian
7.
Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian
8.
Melaksanakan tindak lanjut
9.
Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian
10.
Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut
hasil penilaian
Tindakan Peneliti
Siklus II
Tindakan Peneliti
pada pelaksanaan supervisi siklus pertama sebagai berikut. (1) Peneliti
memeberikan indikator yang� harus dicapai pada saat
persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi.
Guru yang disupervisi diajak diskusi tentang format tersebut, (2) Peneliti
menyuruh guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum
pelaksanaan supervisi, (3) Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang
akan disupervisi, (4) Peneliti mengamati guru pada saat supervisi dengan cara
berkolaborasi secara langsung dalam PBM, (5) Peneliti berdiskusi dengan guru
setelah melaksanakan supervisi, (6) Guru dan Peneliti menganalis hasil belajar
siswa dan membuat laporan bersama tentang pembelajaran. (7) Guru dan Peneliti� menganalisis program yang telah dibuat untuk
diperbaiki jika kurang sesuasi.
d.
Refleksi Siklus II
Refleksi Perencanaan�
Supervisi Siklus II
Setelah� dilaksanakan diskusi dengan guru dan� Peneliti maka�
peneliti� menulis hasil refleksi sebagai berikut.
1.
Mendeskripsikan tujuan pembelajaran 8 Guru dengan
presentasi 80 %, berdasarkan data tersebut�
sudah mampu mendeskripsikan tujuan pembelajaran. Untuk itu, model
seperti ini tetap dipertahankan.
2.
Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah
ditentukan sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Ternyata guru sudah mampu
menentukan materi pembelajaran� yang
sesuai dengan kompetensinya. Guru lebih mudah menjalankan tugasnya jika� supervisi edukatif dilakukan secara
kolaboratif dengan Peneliti.
3.
Mengorganisasikan materi berdasarkan� urutan dan kelompok sebanyak 7 Guru dengan
presentasi 70 %. Pada bagian ini guru yang mampu mengorganisasikan materi baik
yang berupa materi konsep, perinsip, prosedur, maupun� fakta.
4.
Mengalokasikan waktu sebanyak 8 Guru dengan presentasi 80
%. Kegiatan pada bagian ini dipertahankan yakni menentukan alokasi waktu
melalui workshop guru� di sekolah dengan
dipandu���� peneliti.
5.
Menentukan metode pembelajaran yang sesuai sebanyak 7
Guru dengan presentasi 70 %. Guru sudah banyak yang melaksanakan metode
pembelajaran yang mengarah student
center. Hal seperti ini perlu dipertahankan. Guru dan peneliti perlu
berkolaborasi dalam mengajarnya lalu membahasnya melalui diskusi di MGMP� sekolah.
6.
Merancang prosedur pembelajaran sebanyak 8 Guru dengan
presentasi 80 %. Pada penentuan prosedur sangat berkaitan dengan metode
pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu ada perbaikan di bidang ini. Ada 2 guru
masih terpancang dengan prosedur-prosedur yang sifatnya mengancam siswa
jika� kurang mampu atau melanggar
pembelajaran.
7.
Menentukan media�
pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan
sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Ternyata pada�
bagian ini sudah banyak guru yang menggunakan media yang ada di sekitar
kelas. Hal ini bisa dilihat pada hasil di atas.
8.
Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku,
modul, program komputer dan sejenisnya) sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %.
Dalam menentukan sumber belajar, guru sudah bervariatif. Itu pun sudah bisa
menyesuaikan dengan kompetensi dasar yang�
harus dikuasai siswa.
9.
Menentukan teknik penilaian sebanyak 7 Guru dengan
presentasi 70 %. Teknik-teknik yang dibuat guru dalam menyusun penilaian sudah
beragam. Ada yang menggunakan portofolio, kinerja, proyek, kuis, psikomotorik.
Refleksi Pelaksanaan Supervisi Siklus II
Hasil refleksi
pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai
berikut.
1.
Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai. Guru� rata-rata sudah� mampu membuka pelajaran dengan metode yang
tepat. Guru yang dianggap mampu membuka pekajaran dengan tepat sebanyak 8 orang
atau� dengan persentasi� 80 %. Berdasarkan persentasi di atas, guru
perlu mempertahankan� cara tersebut.
2.
Menyajikan� materi
pelajaran. Dalam menyajikan materi pelajaran, guru rata-rata sudah baik dan
berdasarkan pengamatan ada 8 Guru yang dikategorikan baik. Jika hal itu
dipersentasi maka sudah mencapai� 80 %.
Pada siklus II ini guru banyak yang sudah mampu menyajikan materi dengan urutan
yang tepat. Untuk itu, model penguasaan materi dalam supervisi kolaboratif
perlu dipertahankan.
3.
Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah
ditentukan berjumlah 7 Guru dengan persentasi�
70 %. Guru dalam menggunakan metode pembelajaran sudah mengarah ke model
CTL.
4.
Mengatur kegiatan siswa di kelas berjumlah 8 Guru dengan
persentasi� 80 %. Berdasarkan data
tersebut guru sudah mampu mengelola kelas. Kepala sekolah harus terus memotivasi
guru-guru tersebut.
5.
Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan
bahan) yang telah ditentukan berjumlah 8 Guru dengan persentasi� 80 %. Guru banyak yang menggunakan alat-alat
yang bisa menguatkan pembelajaran.
6.
Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa
buku, modul, program komputer dan sejenisnya) berjumlah 7 Guru dengan
persentasi� 70 %. Pada bagian ini guru
sudah tidak masalah lagi. Tetapi, kepala sekolah harus terus memotivasi guru-guru
tersebut.
7.
Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif,� berjumlah 8 Guru dengan persentasi� 80 %. Guru sudah banyak yang memotivasi
siswa. Kegiatan seperti ini perlu dipertahankan
8.
Melakukan interaksi dengan siswa� menggunakan bahasa yang komunikatif berjumlah
8 Guru dengan persentasi� 80 %. Kegiatan
seperti ini perlu dipertahankan
9.
Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui
dan memperkuan penerimaan siswa dalam proses belajar berjumlah 7Guru dengan
persentasi� 70 %.� Guru yang memberikan pertanyaan-pertanyaan
sebagai umpan balik ternyata sudah banyak. Hal ini dikarenakan ada kerja sama
antara guru yang disupervisi dengan Penelitinya.
10.
Menyimpulkan�
pembelajaran berjumlah 8 Guru dengan persentasi� 80 %. Setelah siklus I dilaksanakan,
kemudian� guru dan Peneliti� berdiskusi tentang cara menyimpulkan
pembelajaran ternyata membawa hasil yang memuaskan. Ternyata semua guru sudah
mempu menyimpulkan pembelajaran.
11.
Menggunakan waktu secara efektif dan efisien berjumlah 8
Guru dengan persentasi� 80 %. Pada siklus
II� ternyata sudah semua guru dapat
memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Cara seperti ini perlu
dipertahankan.
Refleksi Penilaian�
Supervisi Siklus II
Hasil refleksi pada
bagian penilaian supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai
berikut.
1.
Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan
indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 8 Guru dengan
persentasi� 80 %. Masih ada satu guru
yang belum mampu menyusun soal penilaian karena masih tidak sesuai dengan
indikatornya. Berdasarkan pengamatan/analisis ternyata guru tersebut pada
pertemuan dengan Peneliti tidak masuk karena sakit. Karena demikian, guru yang
belum berhasil perlu belajar sendiri dengan guru yang sudah mampu.
2.
Melaksanakan penilaian berjumlah 8 Guru dengan
persentasi� 80 %. Hampir semua guru sudah
melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan. Siswa tidak boleh membuka,
bertanya kepada siswa lain. Hal seperti ini perlu dilakukan karena penilaian
itu untuk mengukur anak yang� sudah mampu
atau yang belum mampu.
3.
Memeriksa�
jawaban/memberikan skor tes hasil belajar� berdasarkan�
indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 8 Guru
dengan persentasi� 80 %. Guru sudah
mampu� memberikan skor soal. Cara seperti
yang sudah dilakukan perlu dipertahankan.
4.
Menilai hasil belajar siswa berjumlah 9 Guru dengan
persentasi 90 %. Karena semua guru sudah mampu pada indikator ini
dipertahankan.������������
5.
Mengolah hasil penilaian berjumlah 9 Guru dengan
persentasi� 90 %. Guru sudah mampu
mengolah nilai mulai dari penskoran pembobotan sampai pada memberi nilai siswa.
6.
Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat
kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas) berjumlah 8 Guru dengan
persentasi� 80 %. Guru yang tidak
bisa� menganalisis� soal berjumlah 2 orang dan guru yang enggan
menganalisis atau tidak mau menganalisis sehingga lupa cara menganalisis. Untuk
menghadapi seperti itu, sekolah perlu mengadakan diskusi dengan guru yang belum
mampu tersebut dengan mendatangkan nara sumber.
7.
Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis
(misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian
siswa, dll.) berjumlah 10 Guru dengan persentasi� 100 %
8.
Menyusun laporan hasil penilaian berjumlah 10 Guru dengan
persentasi� 100 %. Pada bagian ini perlu
dipertahankan karena 100 persen berhasil dalam pembelajaran.
9.
Memperbaiki�
soal/perangkat penilaian berjumlah 8 Guru dengan persentasi� 80 %. pada siklus II ini� hanya 2 guru yang belum maximal dalam� memperbaiki soal yang kurang valid. Makanya
guru tetap mempertahankan cara memperbaiki soal tersebut.
Refleksi Pelaksanaan Tindak Lanjut Penilaian Siklus II
Refleksi pada bagian
tindak lanjut ini dilakukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan oleh
Peneliti dan dianalisis lalu dicarikan solosinya. Hasil refleksinya sebagai
berikut.
1.
Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian
berjumlah 10� guru, dengan persentasi
100� %. Pada siklus II perkembangan guru
pesat sekali. Untuk itu, guru perlu mempertahankan� model mengidentifikasi kebutuhan tindak
lanjut.
2.
Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian berjumlah
10 Guru, dengan persentasi 100 %. Dengan adanya supervisi individual
berkolaboratif ternyata banyak guru yang sebelumnya tidak bisa menyusun program
tindak lanjut ternyata pada siklus II ini berhasil menyusun dengan skor lebih
dari 80. Berarti model ini perlu dipertahankan oleh sekolah.
3. Melaksanakan tindak lanjut berjumlah 9
Guru,�� dengan�� persentasi 90 %. Guru sudah banyak
melaksankan tindak lanjut penilaian. Ini terbukti 5 Guru telah melaksanakan
dengan baik, sedangkan 1 guru sudah melaksanakan tindak lanjut tetapi skor yang
dicapai masih di bawah� 80.
4. Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil
penilaian berjumlah� 10 Guru, dengan
persentasi 100 %. Karena siklus II ini�
guru sudah mampu mengevaluasi hasil tindak lanjut maka� tindakan guru tersebut perlu dipertahankan.
5. Menganalisis hasil evaluasi program tindak
lanjut hasil penilaian berjumlah 8 guru, dengan persentasi 80� %. Semua guru sudah menganalisis hasil
evaluasi program tindak lanjut penilaian�
walaupun masih ada dua guru yang hasil analisisnya kurang memadai.
Refleksi Tindakan Peneliti Siklus II
Hasil refleksi
pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai
berikut.
1.
Peneliti memeberikan
indikator yang� harus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi. Guru yang sudah diberi format
penilaian perlu diisi dan dipahami.
2.
Peneliti menyuruh
guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum
pelaksanaan supervisi.
3.
Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang akan
disupervisi,
4.
Peneliti mengamati guru pada saat supervisi,
5.
Peneliti berdiskusi
dengan guru setelah melaksanakan supervisi,
6.
Guru dan Peneliti membuat tindak lanjut program penilaian
Hasil Tindakan
Penelitian Siklus II
��������������� Berdasarkan deskripsi� dan refleksi
di atas, peneliti, guru dan
Peneliti menghentikan penelitian tindakan ini karena hasil
yang diperoleh setelah tindakan, baik yang dilakukan oleh peneliti maupun guru sudah memuaskan.
Tindakan-tindakan guru yang
dapat meningkatkan hasil supervisi guru sebagai berikut.
a.
Perencanaan Supervisi
Tindakan guru
dan Peneliti pada� perencanaan supervisi individual kolaboratif
yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah:
1.
Guru dan Peneliti
selalu bekerja sama dalam membuat persiapan
supervisi.� Bekerja sama tersebut termasuk menentukan instrumen penilaian, pelaksanaan, dan penilaian hasil siswa.
2.
Setelah instrumen
supervisi selesai, guru diberi format
penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi dan� Peneliti selalu menanyakan kekurangmampuan dan kekurang jelasan format penilaian tersebut.
3.
Peneliti menanyakan
perangkat pembelajaran seminggu sebelum pelaksanaan baik yang berkaitan dengan pembelajaran maupun penilaian.
b. Pelaksanaan
Supervisi
1.
Guru dan Peneliti
selalu bekerja sama melaksanakan pembelajaran. Peneliti membuka pelajaran dengan apersepsi dan menggunakan skemata siswa, kemudian dilanjutkan oleh guru yang disupervisi.
2.
Dalam pelaksanaan
supervisi, guru merasa nyaman pada saat mengajarnya karena Peneliti dalam mensupervisi seperti rekanan guru yang mengajar bersama di kelas.
3.
Peneliti mengamati
guru yang sedang mengajar dengan catatan-catatan khusus tentang kejadian positif dan negatif pada pembelajaran tersebut.
4.
Guru memberi
penilaian proses dengan berdasarkan persiapan yang� dikerjakan dengan peneliti.
5.
Peneliti dan guru
mendiskusikan kelebihan dan
kekurangan pembelajaran. Bagain yang kurang langsung dicarikan solosinya.
c. Penilaian
Supervisi
1.
Guru melaksanakan
penilaian berdasarkan program yang sudah dibuat.
2.
Penilaian difokuskan
pada bentuk uraian objektif dan uraian non-objektif.
3.
Penyusunan soal
dilaksanakan secara koaboratif
dengan peneliti.
4.
Pengoreksian hasil
evaluasi dilakukan secara langsung oleh guru
setelah pembelajaran. Hal seperti itu
dilakukan dengan peneliti.
5.
Guru menyimpulkan
hasil belajar siswa dan melaporkan hasilnya kepada kepala sekolah.
d. Tindak
Lanjut Hasil Penelitian
Guru dan Peneliti
menindak lanjuti hasil penilaian dengan langkah-langkah:
1.
Guru mengumpulkan
hasil penilaian
2.
Guru mendiskusikan
tindak lanjut penilaian
3.
Guru merencanakan
tindak lanjut hasil penilaian
4.
Guru bersama
Peneliti mengevaluasi hasil tindak lanjut
penilaian� kemudian menganalisisnya .
e.
Hasil Tindakan
Peneliti
Hasil refleksi
pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai
berikut.
1.
Peneliti memeberikan
indikator yang� harus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi,
2.
Peneliti menyuruh
guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum
pelaksanaan supervisi,
3.
Peneliti mendiskusikan
persiapan dengan guru yang akan disupervisi,
4.
Peneliti mengamati
guru pada saat supervisi,
5.
Peneliti berdiskusi
dengan guru setelah melaksanakan supervisi,
6.
Guru dan Peneliti
membuat perencanaan kembali kegiatan berikutnya yang akan disupervisi
Pembahasan Hasil Penelitian
��������������� Pembahasan didasarkan pada teori-teori yang sudah ada, baik
berdasarkan pada referensi mapun dari ucapan
ahli di bidang penelitian ini. Adapun pembahasan hasil penelitian ini sebagai berikut.
Temuan pertama,
kinerja guru meningkat dalam membuat perencanaan pembelajaran. Hal ini terjadi karena
adanya kerja sama antara guru kelas yang satu dengan lainnya
serta diberi pengarahan oleh peneliti. Langkah-langkah yang dapat meningkatkan kinerja guru dalam
membuat persiapan pembelajaran adalah: (1) Peneliti memberikan format supervisi dan jadwal supervisi pada awal tahun pelajaran
atau awal semester. Pelaksanaan supervisi tidak hanya dilakukan sekali, (2) Peneliti selalu menanyakan perkembangan pembuatan perangkat pembelajaran (mengingatkan betapa pentingnya perangkat pembelajaran), (3) satu minggu sebelum pelaksanaan supervisi perangkat pembelajaran, Peneliti menanyakan format penilaian, jika format yang diberikan pada awal tahun pelajaran tersebut hilang, maka guru yang bersangkutan disuruh memfotokopi arsip sekolah. Jika di sekolah masih banyak
format seperti itu maka guru
tersebut diberi kembali. Bersamaan dengan memberi/menanyakan format, Peneliti meminta pengumpulan perangkat pembelajaran yang sudah dibuatnya untuk diteliti kelebihan dan kekurangannya, (4) Peneliti memberikan catatan-catatan khusus
pada lembaran untuk diberikan kepada guru yang akan disupervisi� tersebut.
(5) Peneliti dalam menilai perangkat pembelajaran penuh perhatian dan tidak mencerminkan sebagai penilai.
��������������� Peneliti bertindak sebagai kolaborasi. Peneliti membimbing, mengarahkan guru yang belum bisa, tetapi Peneliti juga menerima� argumen guru yang positif. Dengan adanya itu,
terciptalah hubungan yang akrap antara guru dan Peneliti. Tentu� saja ini akan membawa
nilai positif dalam pelaksanaan pembelajaran.
Temuan kedua,
kinerja guru meningkat dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam penelitian tindakan ini ternyata
dari 6 guru hampir semuanya mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik. Hal ini
terbukti dari hasil supervisi. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran� berdasarkan penelitian tindakan ini adalah: (1) Peneliti yang mengamati guru mengajar tidak
sebagai penilai tetapi sebagai rekan bekerja yang siap membantu guru
tersebut, (2) Selama pelaksaaan supervisi di di kelas guru
tidak menganggap Peneliti sebagai penilai karena sebelum pelaksanaan supervisi guru dan Peneliti telah berdiskusi permasalahan-permasalahan
yang ada dalam pembelajaran tersebut, (3) Peneliti mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam pembelajaran baik yang positif maupun yang negatif, (4) Peneliti selalu memberi contoh pembelajaran yang berorientasi pada�
Modern Learning. (5) Jika
ada guru yang pembelajarannya kurang jelas tujuan, penyajian,
umpan balik, Peneliti memberikan contoh bagaimana menjelaskan tujuan, menyajikan, memberi umpan balik kepada
guru tersebut, (6) Setelah guru diberi
contoh pembelajaran modern, Peneliti� setiap
dua atau tiga minggu mengunjungi
atau mengikuti guru tersebut dalam
proses pembelajaran.
Temuan� ketiga, kinerja
guru meningkat dalam menilai prestasi
belajar siswa. Pada penelitian tindakan yang dilakukan di�� SMP Pasundan I Bandung ini ternyata pelaksanaan
supervisi individual kolaboratif
secara periodik memberikan dampak positif terhadap guru dalam
menyusun soal/perangkat penilaian, melaksanakan, memeriksa, menilai, mengolah, menganalisis, menyimpulkan, menyusun laporan dan memperbaiki soal. Sebelum diadakan supervisi individual secara kolaboratif,
guru banyak yang mengalami kesulitan dalam melaksankan penilaian.
��������������� �Langkah-langkah� yang
dilakukan dalam supervisi individual kolaboratif
secara periodik yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah: (1) Peneliti berdiskusi dengan guru dalam
pembuatan perangkat penilaian� sebelum dilaksanakan supervisi, (2) Guru melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan bersama Peneliti yang sebagai kolaboratif dalam pembelajaran, (3)� Guru� membuat kriteria penilaian yang berkaitan dengan penskoran, pembobotan, dan pengolahan nilai, yang sebelum pelaksanaan supervisi didiskusikan dengan peneliti, (4)� Guru� menganalisis� hasil penilaian dan melaporkannya kepada urusan kurikulum.
Temuan keempat,
Kinerja guru meningkat dalam� melaksanakan
tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. Langkah-langkah yang dapat meningkatkan kinerja guru dalam supervisi
individual kolaboratif adalah:
(1)� Peneliti dan guru bersama-sama membuat program tindak lanjut hasil penilaian,
(2) Peneliti memberi contoh� pelaksanaan tindak lanjut, yang akhirnya dilanjutkan oleh guru dalam pelaksanaan
yang sebenarnya, (3) Peneliti
mengajak diskusi� pada guru yang telah membuat, melaksanakan, dan menganalis program tindak lanjut. Temuan kelima, Kinerja guru meningkat dalam menyusun program pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai prestasi belajar, dan� melaksanakan
tindak lanjut hasil prestasi belajar siswa.
|
Hasil Penentuan
Perencanaan Siklus I |
||||
|
No. |
Indikator |
Jml Guru |
JML Guru Berhasil
(Skor >� 75
) |
% Keber-hasilan |
|
1 |
Mendeskripsikan Tujuan Pembelajaran |
10 |
5 |
50 |
|
2 |
Menentukan materi sesuai
dengan kompetensi |
10 |
5 |
50 |
|
3 |
Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan atau kelompok |
10 |
4 |
40 |
|
4 |
Mengalokasikan waktu |
10 |
6 |
60 |
|
5 |
Menentukan metode pembelajaran |
10 |
3 |
30 |
|
6 |
Merancang prosedur pembelajaran |
10 |
4 |
40 |
|
7 |
Menentukan media pembelajaran |
10 |
4 |
40 |
|
8 |
Menentukan� sumber belajar
yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) |
10 |
4 |
40 |
|
9 |
Menentukan teknik penilaian
yang sesuai |
10 |
3 |
30 |
|
Rata - Rata Keberhasilan |
4.22 |
42.22 |
||
|
Hasil Melaksanakan
Pembelajaran� Tindakan Siklus I |
||||||||
|
No |
Indikator |
Jml Guru |
JML Guru Berhasil
(Skor >� 75
) |
% Keber-hasilan |
||||
|
1 |
Membuka pelajaran dengan
metode yang tepat |
10 |
5 |
50 |
||||
|
2 |
Menyajikan materi pelajaran
secara sistematis |
10 |
4 |
40 |
||||
|
3 |
Menerapkan metode dan prosedur
pembelajaran yang telah ditentukan |
10 |
4 |
40 |
||||
|
4 |
Mengatur kegiatan siswa
di kelas |
10 |
5 |
50 |
||||
|
5 |
Menentukan media pembelajaran |
10 |
4 |
40 |
||||
|
6 |
Menggunakan sumber belajar
|
10 |
4 |
40 |
||||
|
7 |
Memotivasi siswa dengan
berbagai cara yang positif |
10 |
5 |
50 |
||||
|
8 |
Melakukan interaksi dengan
siswa menggunakan bahasa yang komunikatif |
10 |
5 |
50 |
||||
|
9 |
Memberikan pertanyaan dan umpan
balik |
10 |
6 |
60 |
||||
|
10 |
Menyimpulkan pembelajaran |
10 |
4 |
40 |
||||
|
11 |
Menggunakan waktu secara
efektif |
10 |
4 |
40 |
||||
|
Rata - Rata Keberhasilan |
4.54 |
45.45 |
||||||
|
Hasil Penentuan
Perencanaan Siklus II |
||||||||
|
No. |
Indikator |
Jml Guru |
Jml Guru Berhasil
(Skor >� 75) |
% Keber-hasilan |
||||
|
1 |
Mendeskripsikan Tujuan Pembelajaran |
10 |
8 |
80 |
||||
|
2 |
Menentukan materi sesuai
dengan kompetensi |
10 |
7 |
70 |
||||
|
3 |
Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan atau kelompok |
10 |
7 |
70 |
||||
|
4 |
Mengalokasikan waktu |
10 |
8 |
80 |
||||
|
5 |
Menentukan metode pembelajaran |
10 |
7 |
70 |
||||
|
6 |
Merancang prosedur pembelajaran |
10 |
8 |
80 |
||||
|
7 |
Menentukan media pembelajaran |
10 |
7 |
70 |
||||
|
8 |
Menentukan� sumber belajar
yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) |
10 |
7 |
70 |
||||
|
9 |
Menentukan teknik penilaian
yang sesuai |
10 |
7 |
70 |
||||
|
Rata - Rata Keberhasilan |
7.33 |
73.33 |
||||||
|
Hasil Melaksanakan
Pembelajaran� Tindakan Siklus II |
||||
|
No. |
Indikator |
Jml Guru |
Jml Guru Berhasil
(Skor >� 75) |
% Keber-hasilan |
|
1 |
Membuka pelajaran dengan
metode yang tepat |
10 |
8 |
80 |
|
2 |
Menyajikan materi pelajaran
secara sistematis |
10 |
8 |
80 |
|
3 |
Menerapkan metode dan prosedur
pembelajaran yang telah ditentukan |
10 |
7 |
70 |
|
4 |
Mengatur kegiatan siswa
di kelas |
10 |
8 |
80 |
|
5 |
Menentukan media pembelajaran |
10 |
8 |
80 |
|
6 |
Menggunakan sumber belajar
|
10 |
7 |
70 |
|
7 |
Memotivasi siswa dengan
berbagai cara yang positif |
10 |
8 |
80 |
|
8 |
Melakukan interaksi dengan
siswa menggunakan bahasa yang komunikatif |
10 |
8 |
80 |
|
9 |
Memberikan pertanyaan dan umpan
balik |
10 |
7 |
70 |
|
10 |
Menyimpulkan pembelajaran |
10 |
8 |
80 |
|
11 |
Menggunakan waktu secara
efektif |
10 |
8 |
80 |
|
Rata - Rata Keberhasilan |
7.727272727 |
77.27272727 |
||
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Peneliti berdiskusi dengan guru dalam pembuatan
perangkat penilaian� sebelum dilaksanakan supervisi, (2) Guru melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan bersama Peneliti yang sebagai kolaboratif dalam pembelajaran, (3)� Guru� membuat kriteria penilaian yang berkaitan dengan penskoran, pembobotan, dan pengolahan nilai, yang sebelum pelaksanaan supervisi didiskusikan dengan peneliti, (4)� Guru� menganalisis� hasil penilaian dan melaporkannya kepada urusan kurikulum.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.
2004. Dasar-dasar Supervisi,
Jakarta: Rineka Cipta
ickman, Stephen, Jovita. 2009. The
Basic Guide to Supervision and Instructional Leadership, USA: Pearson
Maunah, Binti. �Hand Out Supervisi Pendidikan Islam,� dalam
http://blog.iain-tulungagung.ac.id/uunbinti/2013/11/09/32/ diakses
pada Jumat, 22 April 2016 pukul
20.20 WIB
Nazri, Ziria.
�Pendekatan supervisi kolaboratif,� dalam
http://zirya.mywap blog.com/pendekatan -supervisi-kolaboratif.xhtml diakses
pada Jumat, 22 April 2016 pukul
20.30 WIB
Noname. Pendekatan
Supervisi Kolaboratif, dalam http://makalahmanajemen
pendidikan.blogspot.co.id/2013/11/pendekatan-supervisi-kolaboratif.html diakses pada Jumat, 22 April 2016
pukul 21.21 WIB
Suharsimi Arikunto,
Dasar-dasar Supervisi,
(Jakarta: Rineka Cipta,
2004), hlm. 3
Binti Maunah, �Hand Out Supervisi
Pendidikan Islam,� dikutip dari
http://blog.iain-tulungagung.ac.id/uunbinti/2013/11/09/32/ diakses
pada hari Jumat, 22 April
2016 jam 20.20 WIB
Ziria Nazri,
�Pendekatan supervisi kolaboratif,� dikutip dari http://zirya.mywap blog.com/pendekatan
-supervisi-kolaboratif.xhtml diakses
pada hari Jumat, 22 April
2016 jam 20.30 WIB
��Pendekatan
Supervisi Kolaboratif, dikutip dari
http://makalahmanajemen
pendidikan.blogspot.co.id/2013/11/pendekatan-supervisi-kolaboratif.html diakses pada hari Jumat, 22 April 2016 jam 21.21 WIB
Carl D Glickman, Stephen P Gordon dan Jovita M Ross Gordon, The Basic
Guide to Supervision and Instructional Leadership, (USA: Pearson, 2009), hlm 132 � 135