MENINGKATKAN KEMAMPUAN AKADEMIK GURU DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF TERHADAP GURU MATA PELAJARAN DI LINGKUNGAN SMP PASUNDAN I BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2018 � 2019

 

Nana Mulyana

SMP Pasundan 1

[email protected]

 

Riwayat Artikel:

Received: 01-09-2022

Revised: 07-09-2022

Accepted: 15-09-2022

 

Keywords: Intrinsic Motivation; Ethical Leadership; Organizational Commitment; Employee Engagement.

 

 

Kata Kunci: Motivasi Intrinsik; Kepemimpinan Etis; Komitmen Organisasi; Keterlibatan Karyawan.

 

 

Abstract

This School Action Research aims to determine the steps and benefits of appropriate guidance in carrying out supervision with a collaborative approach at SMP Pasundan 1 Bandung, so as to be able to form a learning community that can improve teacher competence and achieve effective academic supervision. This research is divided into two cycles through collaborative guidance. The observed factors include teacher activities, teacher interest attitudes, and student interest attitudes. The results of the second cycle research generally increased when compared to the first cycle. The task of a supervisor is to be able to apply appropriate supervision techniques in the implementation of supervision activities. Understanding and mastery of these techniques by supervisors is a must if you want the implementation of supervision in schools/madrasas to run well so as to improve the quality of learning. The researcher's actions in the implementation of the first cycle of supervision are as follows. (1) Researchers provide indicators that must be achieved during preparation, implementation, and assessment before the implementation of supervision, (2) Researchers ask teachers to fill out the assessment format and make plans for the following activities to be supervised Based on the results of research in cycle II, individual supervision activities with a collaborative approach can improve the quality and quantity of learning designs and implementation of educational learning. This is also accompanied by increased activities, attitudes, interests of teachers and students. This individual supervision becomes effective through collaborative guidance and the formation of a professional learning community.

 

 

Abstrak

Penelitian Tindakan Sekolah ini bertujuanuntuk mengetahui langkah � langkah dan manfaat bimbingan yang tepat dalam melaksanakan supervisi dengan pendekatan kolaboratif di SMP Pasundan 1 Bandung, sehingga mampu membentuk komunitas pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi guru dan mencapai supervisi akademik yang efektif. Penelitian ini terbagi kedalam dua siklus melalui bimbingan kolaboratif. Faktor-faktor yang diamati meliputi aktivitas guru, sikap minat guru, , dan sikap minat siswa. Hasil penelitian siklus II umumnya mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Tugas seorang supervisor adalah mampu menerapkan teknik-teknik supervisi yang tepat dalam pelaksanaan kegiatan supervisi. Pemahaman dan penguasaan teknik-teknik tersebut oleh supervisor, menjadi suatu keharusan jika ingin pelaksanaan supervisi di sekolah/madrasah, dapat berjalan dengan baik sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Tindakan Peneliti pada pelaksanaan supervisi siklus pertama sebagai berikut. (1) Peneliti memberikan indikator yangharus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian sebelum pelaksanaan supervisi, (2) Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian serta membuat perencanaan kembali kegiatan berikut yang akan disupervisi. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus II kegiatan supervisi individual dengan pendekatan kolaoratif dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas rancangan pembelajaran serta implementasi pembelajaran yang mendidik. Hal ini disertai juga dengan meningkatnya aktivitas, sikap, minat guru dan siswa. Supervisi individual ini menjadi efektif melalui bimbingan kolaboratif dan terbentuknya komunitas pembelajaran profesional.

 

Corresponding Author: Nana Mulyana

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan bangsa. Dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Upaya dalam mempersiapkan dan meningkatkan sumber daya manusia yang tangguh, berkualitas, dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain perlu dilakukan pembinaan dan peningkatan mutu pendidikan secara optimal. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia sera keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-undang Sisdiknas, 2003 : 3).

Sebagai agen pembelajaran, pendidik menempati posisi strategis dalam peningkatan mutu lulusan. Pendidik melakukan berbagai aktivitas sejak perencanaan, mengelola PBM, dan menilai ketercapaian tujuan pendidikan. Perkembangan teknologi informasi dan laju kehidupan global tidak akan mengubah atau meniadakan pendidik dalam proses pendidikan.

Pelaksanakan tugas pendidik diatur dalam UU 14 Th 2005 dan Permendiknas 74 Th 2008. Dalam regulasi ini guru berperan sebagai tenaga profesional. Dalam mengelola PBM, guru berperan sebagai agen pembelajaran yang berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sebagai tenaga profesional, untuk meningkatkan tugasnya dilakukan supervisi. Hal ini menunjukkan komitmen guru dalam melakukan fungsinya sebagai agen pembelajaran. Menurut Pidarta (2009:1) supervisi selalu mengacu pada kegiatan memperbaiki proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut juga tidak bisa terlepas dari tujuan akhir setiap sekolah, yaitu menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Supervisi yang dilaksanakan kepala sekolah terhadap guru di sekolah dasar terbiasa saling memberi dan menerima. Hal ini tercermin dalam situasi keakraban, karena personalia di sekolah dasar hanya sedikit. Untuk melaksanakan kegiatan supervisi, antara kepala sekolah dan guru dapat membuat kesepakatan. Harapannya untuk dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan kondusif. Kepala sekolah bertanggungjawab memantau, membina, dan memperbaiki proses pembelajaran di kelas atau di sekolah. Dalam meningkatkan dan memperbaiki proses pembelajaran, salah satu tugasnya adalah melakukan supervisi. Di samping itu kepala sekolah bertanggungjawab terhadap kualitas pembelajaran.

Dinamika perkembangan pendidikan dan berbagai perubahan di luar sekolah setiap saat mengalami perubahan. Oleh sebab itu perencanaan yang disusun di tahun berikutnya harus ada perubahan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Seiring dengan dinamika perkembangan pendidikan, guru harus merubah perencanaan pengajaran setiap tahunnya. Peningkatan pendidikan yang saat ini tercermin pada perkembangan teknologi, maka perencanaan dan proses pembelajaran harus memanfaatkan teknologi.

Pembaharuan pendidikan terus dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satu yang harus dilakukan untuk menghasilkan mutu adalah proses pembelajaran, yang merupakan intisari dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai peran utamanya, karena kegiatan pembelajaran menuntut keaktifan guru yang memiliki tanggung jawab dan inisisatif pembelajaran sedangkan siswa yang terlibat langsung akan dituntut keaktifannya dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu penyempurnaan dalam pembelajaran harus melalui pendekatan dan metode yang lebih diutamakan siswa aktifdalamproses pembelajaran.

Pada situasi keadaan ilmu pengetahuan yang begitu pesat dengan jumlah penduduk bangsa Indonesia yang begitu besar, pendidikan menjadi suatu peran yang sangat penting terutama pendidikan formal.

Kemampuan dan profesionalisme guru sangat penting untuk ditingkatkan mengingat kedua hal tersebut apabila belum mencukupi akan mempengaruhi proses pembelajaran. Guru yang tidak profesional sama saja dengan guru yang masih kon-vensional dan mereka akan mengajar sesuai kemauannya sendiri, tidak sesuai dengan aturan yang ditentukan seperti Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Tuntutan-tuntutan yang ada pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan Pemerintah, baik Permen No. 41, Permen No. 16, Permen No. 19, Permen No. 20, Permen No. 22, 23, 24 yang berhubungan erat dengan kemampuan dan profesionalisme guru meng-upayakan adanya peningkatan kemampuan bagi guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Tuntutan demi tuntutan, harapan demi harapan yang berisi pe-nekanan-penekanan agar pendidikan di Indonesia terus meningkat ternyata belum sesuai dengan harapan. Kenyataannya kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran baru mencapai angka 58,33 dan 56,66, sedangkan profesionalisme mereka baru mencapai kategori D. Hasil ini patut menjadi pertanyaan besar apakah dengan kemampuan dan profesionalisme guru serendah itu akan dapat mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi bagi para siswa yang mereka ajar? Jawabannya tentu tidak. Hal inilah yang menyebabkan penelitian ini perlu dilakukan demi mengupayakan peningkatan kemampuan dan profesionalisme mereka dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan supervisi individual.

Perkembangan sistem pendidikan yang mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP), untuk setiap satuan pendidikan secara bertahap harus mengimplentasikan SNP. Seorang pendidik harus memahami dan mengimplementasikan standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian, standar pengelolaan pendidikan dan harus memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi guru. Ini semua akan berdampak positip pada rancangan dan implementasi pembelajaran di kelas/laboratorium/di luar kelas.

Implementasi SNP perlu dilakukan pengawasan oleh pengawas satuan pendidikan yaitu tenaga kependidikan profesional berstatus PNS yang diberi tugas dan wewenang secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melaksanakan pengawasan pendidikan di sekolah. Tugas pengawas satuan pendidikan dapat melaksanakan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Pengawasan akademik yaitu membina guru agar dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa. Sedangkan pengawasan manajerial yaitu membina kepala sekolah dan seluruh staf sekolah agar dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan pada sekolah binaannya.

Untuk melaksanakan pengawasan antara lain meliputi supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan. Supervisi meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Teknik supervisi sangat menentukan sukses atau tidaknya pelaksanaan supervisi. Teknik supervisi inilah yang dipratekkan oleh supervisor di lapangan. Teknik supervisi ini bersifat rasional-empiris-temporer. Artinya teknik supervisi membutuhkan pembaharuan, perubahan, dan penyempurnaan secara terus-menerus sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Tidak ada finalisasi teknik karena ia berangkat dari kajian realitas yang bisa terus dikembangkan. Disinilah peran supervisor untuk mengembangkan teknik supervisi dengan banyak melakukan kajian, eksperimentasi, dan generalisasi.

Berdasarkan cara supervisi yang sudah dilaksanakan pada tahun pelajaran sebelumnya, tidak dapat dilaksanakan pada semua guru-guru di sekolah, sehingga peningkatan kinerja guru dan peningkatan mutu proses pembelajaran belum merata di setiap sekolah maupun di seluruh sekolah binaan. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan supervisi ke semua guru pada semester genap tahun pelajaran 2018 / 2019 dilakukan bimbingan kolaboratif guru di sekolah. Maka di setiap sekolah terbentuk komunitas pembelajaran yang profesional.

�� Berdasarkan latar belakang tersebut maka masalah penelitian dapat diajukan sebagai berikut: �Bagaimana teknik supervisi dapat meningkatkan dapat meningkatkan kompetensi guru dan mencapai supervisi akademik yang efektif melalui supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif terhadap guru mata pelajaran �.

Adapun secara khusus, rumusan masalah penelitian tindakan ini sebagai berikut.

a.       Apakah dengan supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas?

b.       Apakah dengan supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan guru dalam menilai prestasi belajar siswa?

c.       Apakah dengan supervisi individual dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan guru dalam melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa?

1. Tujuan Penelitian

a.       Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran

b.       Untuk menemukan langkah-langkah supervisi yang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran.

c.       Meningkatkan minat guru sebagai upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

d.       Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa

e.       Untuk meningkatkan hasil belajar siswa

f.        Untuk meningkatkan makna suatu proses pembelajaran

g.       Untuk memberikan peluang kepada guru untuk mengembangkan dirinya sebagai pembelajar dengan landasan berpikir kritis dan konstruktif

 

METODA PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Pasundan I Bandung yang beralamat Jalan Pasundan No.32 Telepon : 022-4203383 Bandung 40251 Provinsi Jawa Barat. Peneliti mengambil tempat penelitiandiSMP Pasundan I Bandung ituadalah sebagai Kepala Sekolah. Guru-guru di SMP Pasundan I Bandung ada yang GTT, GB, PNS, dan ijazahnya pun beragam, yakniada yang berijazah diploma, sarjana, dan pascasarjana.

Waktupenelitian adalah pada tahun pelajaran 2018 - 2019. Selama penelitian tersebut penelitimengumpulkan data awal, menyusun program supervisi, pelaksanaan supervisi, analisis, dan tindak lanjut.

Faktor yang Diselidiki

Untuk menjawab permasalahan, ada beberapa faktoryang diselidiki sebagai berikut.

a.       Kepala Sekolah, melihat belum adanya peningkatan kemampuan gurudalam melaksanakan pembelajaran yang lebih efektif di kelas

b.    Pembelajaran, memperhatikan keefektifanpembelajaran di kelas yang dikelola oleh gurudengan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.

c.     Kepala Sekolahmemperhatikan motivasi belajar siswa dan hasil belajar, yang dicapai oleh siswa

d.    Peneliti, memperhatikan tindakan Guru selama melakukan supervisi indvidual.

 

Prosedur Penelitian

Karena penelitian inimerupakan penelitian tindakan makapelaksanakanini dilaksanakan secara siklus. Pelaksanaannya selama dua siklus. Siklus-siklus itu merupakan rangkaian yang saling berkelanjutan, maksudnya siklus kedua merupakan kelanjutan dari siklus pertama. Setiap siklusnyaselalu ada persiapan tindakan, pelaksanaan tindakan, pemantauan dan evaluasi, dan refleksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambaran penelitan tindakanitu sebagai berikut.

Gambaran Pelaksanaan Siklus I

a.       Persiapan Tindakan

Siklus pertama dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pertengahan bulan Juli sampai akhir bulan September 2019 tahun pelajaran 2018- 2019 dengankegiatan sebagai berikut :

1.       Pengumpulan data awal diambil daridaftar keadaan guru untuk mengetahui pendidikanterakhir, pelatihan yang pernah diikuti guru, serta lamanya guru bertugas. Data awal kerja guru dan efektivitaspembelajarandilihat dari hasil supervisikunjungan kelas masing-masing guru sebelum dilaksanakan penelitian

2.       Mengadakan pertemuan guru-guru sebagai mitra penelitian membahas langkah-langkah pemecahan masalah pembelajaran dari aspek guru, dan Peneliti.

3.       Merumuskan langkah-langkah tindakan yang akan dilaksanakan pada sikluspertama

b.       Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanakan tindakan ini dilakukan olehpeneliti dan Peneliti selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan tindakan sebagai berikut.

1.       Mengadakan penelitian guru selama membuat program pembelajaran melalui workshop sekolah.

2.       Melaksanakan supervisi individual selama pembelajaran secara periodik dengansistem kolaboratif.

c.       Pemantauan dan Evaluasi

Pada prinsipnya pemantauandilaksanakan selamapenelitian berlangsung, dengan sasaran utama untuk melihat peningkatan kemampuan guruserta efektivitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru serta tindakan-tindakan Peneliti dalam mensupervisi guru tersebut.

Adapun instrumenyang digunakan untuk memantau tindakanguru dalam pembelajaran dan sepervesor dalammensupervisi berupa:

1.       Profesional, guru yang memiliki komitmen tinggi dan kemampuan berpikir tinggi

2.       Analitis, guru yang memiliki kemampuan berpikirtinggi, tetapi komitmennya rendah.

3.       Tidak terfokus atau bingung,guru yang memiliki komitmen tinggi, tetapi kemampuan berpikirnya rendah

4.       Gagal, guru memiliki komitmen rendah dan kemampuan berpikirnya juga rendah

5.       Tindakan Peneliti sebelum pelaksanaan supervisi

6.       Tindakan Peneliti selama pelaksanaan supervisi

7.       Tindakan Peneliti setelah pelaksanaan supervisi

8.       Aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas

 

d.       Refleksi

Refleksimerupakan kegiatanyang meliputi analisis, sintesis, memaknai, menerangkan, dan akhirnya menyimpulkan semua informasi yang diperolehpada saatpersiapan dan tindakan. Hasil refleksi dimanfaatkan untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

Peneliti (Kepala Sekolah) dan Guru pada tahap inimendiskusikan pelaksanaan prosestindakan yang dilakukan berdasarkan hasil pengamatan selamaguru menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,menilai prestasi belajar, melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa dan Peneliti melakukan tindakan. Hal yang didiskusikan meliputi: (a)kesesuaian pembelajaran dengan perencanaan, (b)materi yang digunakan pembelajaran, (c) evaluasi pembelajaran, (d)kesesuaian tindakan guru dengan format supervisi, (e) tindak lanjut Peneliti dan guru.

2.       Gambaran Siklus II

SiklusII dilaksanakan selama 3 bulan, yakni awal bulan Oktober sampai pertengahan bulan Desember 2019 tahun pelajaran 2018 - 2019 dan merupakankelanjutanserta perbaikan siklus I. Kegiatan siklus kedua didasarkan pada hasil siklus pertama dengan rangkaian: (a) Persiapan Tindakan, (b) Pelaksanaan Tindakan, (c) Pemantauan dan Evaluasi, (d)Refleksi.

Teknik Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atasempat kegiatan pokok yakni pengumpulan data awal, data hasil analisis setiap akhir siklus, serta tanggapan lain dari guru terhadap pelaksanaan supervisi individual dengan pendekatan secara model kolaboratif.

Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif.Analisis kualitatif digunakan untukmenjelaskan perubahan perilaku guru dalam pembelajaran dan perilaku Peneliti dalam melaksanakan supervisi guru. Adapun analisis kuantitatifdigunakan untukmengetahui keberhasilan guru dan siswa berdasarkan standar kompetensi guru yang telah ditetapkan oleh Depdiknas sebagai berikut.

a.       Nilai81 � 100 =amat baik (A) berhasil

b.       Nilai 76 � 80�� =baik (B) berhasil

c.       Nilai 55 � 75�� =cukup (C) belum berhasil

d.       Nilai 0 � 54 ����� =kurang (D) belum berhasil

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan yang dicapai oleh peneliti dalam penelitian iniialah apabila persentasi rata � rata keberhasilan dari keseluruhan guru kelas meningkat. Sedangkan tolak ukur nilai keberhasilan dari seorang guru sebesar> 75. Aspek � aspek kinerja guru yang ditujukan sebagai indikator keberhasilan, diantaranya : kinerja guru dalammenyusun rencana pembelajaran, kinerja guru dalammelaksanakan pembelajaran, kinerja guru dalam menilai prestasi belajar siswa, kinerja guru dalam melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa. Dengan meningkatnya kinerja guru maka dapat berakibat terjadinya pembelajaranefektif yang mampumemotivasibelajar siswa dengan meningkatnya hasil belajar terutama nilai ujian semester.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Awalnya Guru guru di SMP Pasundan I Bandung kurang lebih 75 % dalam proses kegiatan pembelajaranmasih menggunakan model pembelajaran konvensional (teacher centre) diharapkan setelah dilakukan tindakan ada peningkatan mencapai target 15% dan penelitian berhasil bila mencapai target 85 %.

Penelitian Siklus I

a. PerencanaanSupervisiSiklus I

Peneliti bersama guru membuat perencanaan yang berkaitan dengan pembuatan instrumen penelitian. Instrumen tersebut dibuat berdasarkan padaindikatoryang dibuat olehDepartemen PendidikanNasional.Hasil pemantauan sebagai berikut.

Pembuatan format penilaian pra-KBM sebagai berikut.

1.       Mendeskripsikan tujuan pembelajaran

2.       Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan

3.       Mengorganisasikan materi berdasarkanurutan dan kelompok

4.       Mengalokasikan waktu

5.       Menentukan metode pembelajaran yang sesuai

6.       Merancang prosedur pembelajaran

7.       Menentukan mediapembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan

8.       Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya)

9.       Menentukan teknik penilaian

Berdasarkan instrumen tersebut, guru akhirnya membuat perencanaan pembelajaran yang alurnya sama dengan instrumen supervisi tersbut. Berdasarkan data yang dikumpulkan, ternyata hampirsemua guru dapat membuat perencanaan tersebut, tetapi hasilnya jika kita ukur dengan indikator yang telah ditetapkan masih ada yang kurang.Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel I

b.       Pelaksanaan Supervisi Siklus I

Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen yang sesuai dengan indikator yang dibuat oleh Depdiknas, yakni:

1.       Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai

2.       Menyajikanmateri pelajaran secara otomatis

3.       Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan

4.       Mengatur kegiatan siswa di kelas

5.       Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang telah ditentukan

6.       Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya)

7.       Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif

8.       Melakukan interaksi dengan siswamenggunakan bahasa yang komunikatif

9.       Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuat penerimaan siswa dalam proses belajar

10.   Menyimpulkanpembelajaran

11.   Menggunakan waktu secara efektif dan efisien

c.        Penilaian Supervisi Siklus I

Instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian tindakan berupa instrumen yang sesuai dengan indikator yang dibuat oleh Depdiknas, yakni:

1.       Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan

2.       Melaksanakan penilaian

3.       Memeriksajawaban/memberikan skor tes hasil belajarberdasarkanindikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan

4.       Menilai hasil belajar

5.       Mengolah hasil penilaian

6.       Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas)

7.       Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis (misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa, dll.)

8.       Menyusun laporan hasil penilaian

9.       Memperbaikisoal/perangkat penilaian

d.       Refleksi Siklus I

Refleksi PerencanaanSupervisi Siklus I

Setelahdilaksanakan diskusi dengan guru kelas makapenelitimenulis hasil refleksi sebagai berikut.

1.       Mendeskripsikan tujuan pembelajaran 5 Guru dengan presentasi 50 %, berdasarkan data tersebut kegiatan guru sudahcukup. Namun kegiatan seperti harus lebih ditingkatkan lagi, juga ada beberapa guru yang perlu dimotivasi.

2.       Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan sebanyak 5 Guru dengan presentasi 50 %, berdasarkan data itu�� kegiatan guru tersebut harus ditingkatkan lagi.

3.       Mengorganisasikan materi berdasarkanurutan dan kelompok sebanyak 4 Guru dengan presentasi 40 %. Pada bagian ini guru perludiberi bimbingan lagi tentang bagaimana mengorganisasikan matariberdasarkan urutannya.

4.       Mengalokasikan waktu sebanyak 6 Guru dengan presentasi 60 %. Kegiatan pada bagian ini guru perlu lebih menentukan alokasi waktu melalui workshop guru mata pelajaran di sekolah dengan dipandu peneliti.

5.       Menentukan metode pembelajaran yang sesuai sebanyak 3 guru dengan presentasi 30 %,berdasarkan catatandan hasil pelaksanaanternyata pada bagian ini guru perlu diberi bimbingan, pengarahan dengan cara berdiskusi dengan peneliti untuk menetapkan metode yang berkaitan dengan kontekstual.

6.       Merancang prosedur pembelajaran sebanyak 4 Guru dengan presentasi 40 %. Pada penentuan prosedur sangat berkaitan dengan metode pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu ada perbaikan di bidang ini. Guru masih terpancang dengan prosedur-prosedur yang sifatnya mengancam siswa jikakurang mampu atau melanggar pembelajaran.

7.       Menentukan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan sebanyak 4 Guru dengan presentasi 40 %. Guru pada bagian ini masih terfokus padamedia yang dibeli atau dibuat oleh perusahaan padahal di sekitar kelas banyak media alami yang bisa digunakan sebagai media. Bagian ini, masih perlu diperbaiki.

8.       Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) sebanyak 4 Guru dengan presentasi 40 %,

9.       Menentukan teknik penilaian sebanyak 4guru dengan presentasi 40 %. Teknik-teknik yang dibuat guru dalam menyusun penilaian masih kurang beragam. Guru masih terfokus pada teknik tradisional yakni penilaian hasil saja, padahal kita juga perlupenilaian proses.

Refleksi Pelaksanaan Supervisi Siklus I

Hasil refleksi pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru kelas sebagai berikut.

1.       Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai. Gururata-rata sudahmampu membuka pelajaran dengan metode yang tepat. Guru yang dianggap mampu membuka pelajaran dengan tepat sebanyak 5 orang ataudengan persentasi50 %. Berdasarkan persentasi di atas, guru perlu meningkatkan lagicara tersebut. Adapun satu guru yang belum sesuaiperlu diajak diskusi bersama dengan peneliti.

2.       Menyajikanmateri pelajaran. Dalam menyajikan materi pelajaran, guru rata-rata sudah baik dan berdasarkan pengamatan ada 4 guru yang dikategorikan kurang. Jika hal itu dipersentasi maka sudah mencapai40 %. Guru-guru dalam menyajikanmateri perlu ada persiapankarenasebagian guru masih kurang menguasai materi yang diberikan akibatnya murid sulit memahaminya.

3.       Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan berjumlah 4 guru dengan persentasi40 %. Guru dalam menggunakan metode masih terfokus pada metode tradisional secara otomasis pelaksanaannya guru seakan-akan mentransfer ilmunya.Sebagai perbaikan guru-guru yang masih belum paham dalam menggunakan metode pembelajaran yang moderndiwajibkan membaca buku-buku yang berkaitan metode pembelajaran modern, terutama buku CTL, dan diberi contoh pembelajaran modern

4.       Mengatur kegiatan siswa di kelas berjumlah 5 Guru dengan persentasi50 %. Berdasarkan data tersebut guru hanya sebagian yang mampu mengelola kelas. Guru yang belum berhasil mengelola kelas dengan baik diajak diskusi pada pasca supervisi.

5.       Menggunakan media pembelajaran/ peralatan praktikum (dan bahan) yang telah ditentukan berjumlah 4 guru dengan persentasi40 %. Guru masih jarang menggunakan alat-alat yang bisa menguatkan pembelajaran. Hal itu, dikarenakan bulum paham pembelajaran CTL.

6.       Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) berjumlah 4 Guru dengan persentasi40 %. Untuk itu guru masih perlu dibimbing oleh peneliti.

7.       Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif,berjumlah 5 Guru dengan persentasi50 %. Guru sudah banyak yang memotivasi siswa, yangjarang memberi motivasi pada siswa rata-rata gurusenior. Hal ini terjadi karena masih terpengaruh pada pendidikan lama. Guru seperti itu perlu diajak diskusi tentang keunggulan memberi motivasi kepada siswa.

8.       Melakukan interaksi dengan siswamenggunakan bahasa yang komunikatif berjumlah 5 Guru dengan persentasi50 %. Adasatu guru yang masih menggunakan bahasa yang sulit dipahami siswa. Hal itu terjadi pada guru yunior.

9.       Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui penerimaan siswa dalam proses belajar berjumlah 6 guru dengan persentasi60 %. Guru sudah dapat memberikan umpan balik padasiswa. Rata-rata hanya mengerjakan soal-soal di LKS sampai waktunya habis.

10.    Menyimpulkanpembelajaran berjumlah 4 Guru dengan persentasi40 %. Guru masih banyak yang belum menyimpulkan pembelajaran. Hal ini terjadi karena waktunya habis digunakan mengerjakan LKS saja. Untuk itu perlu disesuaikan soal-soal yang dikerjakan dalam LKS itu.

11.    Menggunakan waktu secara efektif dan efisien berjumlah 4 guru dengan persentasi40 %. Guru kurang efektifdalam menggunakan waktu pembelajaran jika dikaitkan denganlangkah-langkah yang ada dalam indikator tersebut karena waktunya hanya tersita pada mengerjakan LKS saja. Untuk itu, perlu direncanakan dengan baik

Refleksi PenilaianSupervisi Siklus I

Hasil refleksi pada bagian penilaian supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai berikut.

1.       Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 5 Guru dengan persentasi50 %. Masih ada satu guru yang belum mampu menyusun soal penilaian karena masih tidak sesuai dengan indikatornya. Berdasarkan pengamatan/analisis ternyata guru tersebut belum paham betul pada kata kerja yang ada dalam indikator tersebut. Oleh sebab itu, guru itu masih perlu belajar bersama tentang indikator tersebut.

2.       Melaksanakan penilaian berjumlah 6 Guru dengan persentasi60 %. Masih ada guru yang membiarkan siswanya membuka buka dalam ulangan tersebut. Hal seperti ini akan merugikan anak. Bahkan penilaian itu tidak bisa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Guru seperti ini perlu diberi bimbingan secara khusus tentang pentingnya penilaian.

3.       Memeriksajawaban/ memberikan skor tes hasil belajarberdasarkanindikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 6 Guru dengan persentasi60 %. Guru yang belum mampumemberikan skor ialah guru yang belum pernah mengikuti pelatihan. Skor dianggap sama dengan bobot. Untuk mengatasi seperti itu, guru-guru tersebut diikutkan MGMP kota atau diberi bimbingan secara khusus.

4.       Menilai hasil belajar siswa berjumlah 6 Guru dengan persentasi 60 %. Hanya sebagian guru yang mampu pada indikator ini

5.       Mengolah hasil penilaian berjumlah 5 guru dengan persentasi50 %. Guru yang belum mampu mengolah nilai sebagian besar sama dengan guruyang tidak paham terhadap penyekoran pembobotan nilai.

6.       Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas) berjumlah 4 Guru dengan persentasi40 %. Guru yang tidak bisa menganalisissoal rata-rata guru yang enggan menganalisis atau tidak mau menganalisis sehingga lupa cara menganalisis. Untuk mengatasi hal itu, guru tersebut diajak diskusi atau diajak mengikuti workshop di sekolah.

7.       Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis (misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa, dll.) berjumlah 5 Guru dengan persentasi50 %. Karena tidak bisa menganalisis butir soal akibatnya guru tersebut tidak bisa menyimpulkan penilaian secara logis dan jelas. Untuk mengatasi hal itu, guru tersebut diajak diskusi atau diajak mengikuti workshop di sekolah.

8.       Menyusun laporan hasil penilaian berjumlah 7 Guru dengan persentasi70 %. Karena semua guru sudah mampu pada indikator ini dipertahankan.

9.       Memperbaikisoal/perangkat penilaian berjumlah 6 Guru dengan persentasi60 %. Karena semua guru sudah mampu pada indikator ini dipertahankan.

Refleksi Pelaksanaan Tindak Lanjut Penilaian Siklus I

Refleksi pada bagian tindak lanjut ini dilakukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan oleh Peneliti dan dianalisis lalu dicarikan solusinya. Hasil refleksinya sebagai berikut.

1.       Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian berjumlah 4guru, dengan persentasi 40%. Pada bagian ini masih banyak guru yang belum mampu mengidentifikasikan kebutuhan tindak lanjut. Oleh sebab itu, pada siklus berikutnya guru tersebut diajak berdiskusi betapa pentingnya pelaksanaan tindak lanjut tersebut.

2.       Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian berjumlah 5 Guru, dengan persentasi 50 %. Guru yang belum mampu menyusun program tindak lanjut perlu melaksanakan workshop sekolah atau dengan dibimbing oleh peneliti, guru tersebut menyusun program tindak lanjut.

3.       Melaksanakan tindak lanjut berjumlah 6 Guru, dengan persentasi 60 %. Karena guru banyak yang terbiasa menyusun program, peneliti memotivasi kepada guru tersebut supaya melaksanakan tindak lanjut.

4.       Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian berjumlah5 Guru, dengan persentasi 50 %. Pelaksanaan ini belum dilakukan guru karena belum bisa membuat program makanya perlu motivasi pada guru tersebut.

5.       Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian berjumlah 4 guru, dengan persentasi 40 %. Hasil analisis yang dilakukan guru masih sedikit. Untuk meningkatkan guru agar mau menganalisis maka peneliti selalu memotivasi guru tersebut.

Refleksi Tindakan Peneliti

Hasil refleksi pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai berikut.

1.       Peneliti memberikan indikator yangharus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi,

2.       Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum pelaksanaan supervisi,

3.       Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang akan disupervisi,

4.       Peneliti mengamati guru pada saat supervisi,

5.       Peneliti berdiskusi dengan guru setelah melaksanakan supervisi,

6.       Guru dan Peneliti membuat perencanaan kembali kegiatan berikutnya yang akan disupervisi

Tindak Lanjut Hasil Siklus I

Pelaksanakan Penilaian Siklus I

Kegiatan ini dilaksanakan oleh guru pada bagian terakhir setelah melaksanakan penilaian dengan tujuan menganalisis program penilaian dan perbaikan hasil penilaian. Adapun instrumen yang digunakan untuk menjaring data berupa indikator yang dibuat oleh depdiknas (2004:12) yaitu:

1.       Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian

2.       Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian

3.       Melaksanakan tindak lanjut

4.       Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian

5.       Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian

Tindakan Peneliti Siklus I

Tindakan Peneliti pada pelaksanaan supervisi siklus pertama sebagai berikut. (1) Peneliti memberikan indikator yangharus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi, (2) Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian serta membuat perencanaan kembali kegiatan berikut yang akan disupervisi

Pelaksanaan Tindak Lanjut Siklus I

Berdasarkan deskripsidan refleksi di atas, peneliti, guru dan Peneliti melakukan tindak lanjut yang berkaitan dengan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan pada siklus kedua, baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian.

a.Tindak Lanjut PerencanaanSupervisi Siklus I

Guru yang disupervisi dibantu oleh Peneliti membuat perencanaanpembelajaran yang kriterianya berdasarkan pada indikator yang telah dibuat oleh DirjenDikmenum dengan memperhatikan:

1.       Memperjelas tujuan pembelajaran yang ada dalam Kurikulum yang berlaku dengan membuat tujuan khusus pembelajaran

2.       Materi pembelajaran dibuat sesederhana mungkin dan urut dari yang sederhana ke yang sulit. Materi itu ditulis di RPP guru.

3.       Menentukan pembagian alokasi waktu secara spisifik dan berdasarkan pada langkah-langkah pembelajaran dan metodenya.

4.       Menentukan media pembelajaran secara kontekstual dan berdasarkan pada materi yang dipelajari siswa.

5.       Teknik penilaian didasarkan padaketerampilan atau materi yang diberikan.

b. Tindak Lanjut Pelaksanaan Supervisi Siklus I

Pada siklus I pelaksanaan supervisi difokuskan pada kerja sama dalam pembelajaran di kelas. Guru senior atau guru yang sudah mampu membantu pada guru yunior atau guru yang belum mampu dalam pelaksanaan pembelajaran. Contoh-contoh pembelajaran perlu diperhatikan oleh guru yang belum mampu tersebut, terutama melakukan hal-hal berikut.

1.       Guru senior atau yang sudah mampu melaksanakan pembelajaran memberi contohpada guru yunior (guru yang belum mampu) dalammembuka pelajaran dengancara apersepsi dan menggali skemata siswa yang berkaitan dengan materi sebelumnya.

2.       Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat bersama dengan memperhatikan langkah-langkah yang ada dalam RPP.

3.       Penggunaan media difokuskan pada benda-benda yang ada di lingkungan sekolah. Tentu saja disesuaikan dengan materi yang dipelajari siswa.

4.       Gurumembagi papan tulis menjadi tiga bagian, yakni bagian pertama digunakanuntuk menulis tujuan yang ingin dicapai. Bagian kedua untuk tanya jawab atau tulisan yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Bagian ketiga digunakan untuk kesimpulan.

c.        Tindak Lanjut Penilaian Pembelajaran Siklus I

Pada bagian penilaian ini guruberdiskusi dengan guru lain untuk menentukan penilaianyang cocokuntuk pokok bahasan atau KD yangakan disampaikan pada siswa.Hal yang perlu dilaksanakan sebagai perbaikan siklus I adalah:

1.       Pembuatan kisi-kisi ulangan dititikberatkan pada ulangan uraian objektif dan satu uraian non objektif.

2.       Pelaksanaan penilaian dikelompokkan menjadi dua, yakni dalam proses, yang soalnya berupa pertanyaan yang dijawab secara langsung oleh siswa, kedua soal-soal yang dibuat untuk dikerjakan setelah proses pembelajaran.

3.       Guru selalu mendiskusikan dengan teman guru atau dengan Peneliti untuk menentukan skor, bobot,analisis butir soal, dan perbaikan soal, menyimpulkan hasil dan melaporkan hasil penilaian.

d.       Pelaksanaan Tindak Lanjut Penilaian Siklus I

Pada bagian penilaian ini guruberdiskusi dengan guru lain untuk menentukan tindak lanjut penilaian karena banyak bagian yang belum dipahami oleh guru-guru. Untuk itu, ada beberapa rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti pada siklus II yaitu:

Para guruperlu work shop tentang tindak lanjut penilaian, untuk membicarakan:�� (a) identifikasi tindak lanjuthasil penilaian, (b) menyusun program tindak lanjut, (c) Melaksanakan tindak lanjut, (d) mengevaluasi hasil tindak lanjut, (e) menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian.

Penelitian Siklus II

Siklus II dilaksanakan berdasarkan temuan siklus I. Bagian yang sudah baik dipertahankan, sedangkan bagian yangpersentasi keberhasilannya kecil diperbaiki pada siklus II ini. Berdasarkan refleksi danpelaksanaan tindak lanjut siklus I, maka gambaranhasil dan temuan yang perlu ditindaklanjuti sebagai berikut.

a.     PerencanaanSupervisi Siklus II

Guru berdiskusi dengan peneliti sekolah untuk merumuskan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran. Tujuan itu bersumber pada KD / indikator atau pokok bahasan dan indikatorkompetensi guru yang telah dirumuskan Dirjen Dikmenum. Hasil pembuatan perangkat tersebut dipahami bersama sebelum diberikan pada siswa.

Pembuatan format penilaian pra-KBM sebagai berikut.

10.    Mendeskripsikan tujuan pembelajaran yang dimulai dari penentuan KD / Pokok Bahasan, Indikator sampai pada tujuan khusus pembelajaran

11.    Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan dengan cara mengelompokkan materi yang berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.

12.    Mengorganisasikan materi berdasarkanurutan dan kelompok

13.    Mengalokasikan waktu

14.    Menentukan metode pembelajaran yang sesuai dan diarahkan pada pembelajaran CTL dan CL

15.    Merancang prosedur pembelajaran

16.    Menentukan mediapembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan

17.    Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya)

18.    Menentukan teknik penilaian

Berdasarkan hasil yang dicapai ternyata hampirsemua guru dapat membuat perencanaan seperti terlihat pada tabel 5.

b.       Pelaksanaan Supervisi Siklus II

Instrumen penelitian pada siklus II tetap menggunakan instrumen yang dibuat oleh pemerintah. Menurut Dirjen (2004:8) instrumen tersebut berisi indikator sebagai berikut.

12.   Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai

13.   Menyajikanmateri pelajaran secara otomatis

14.   Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan

15.   Mengatur kegiatan siswa di kelas

16.   Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang telah ditentukan

17.   Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya)

18.   Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif

19.   Melakukan interaksi dengan siswamenggunakan bahasa yang komunikatif

20.   Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuan penerimaan siswa dalam proses belajar

21.   Menyimpulkanpembelajaran

22.   Menggunakan waktu secara efektif dan efisien

Berdasarkan hasil pengumpulan data secara langsung pada saat supervisi guru pada siklus II dapat dilihat pada tabel 6.

c.        Penilaian Supervisi Siklus II

Pada siklus II instrumen yang digunakan berdasarkan Dirjen (2004:11) yaitu:

10.   Menyusun soal/perangkan penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan

11.   Melaksanakan penilaian

12.   Memeriksajawaban/memberikan skor tes hasil belajarberdasarkanindikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan

13.   Mengolah hasil penilaian

14.   Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas)

15.   Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis (misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa, dll.)

16.   Menyusun laporan hasil penilaian

17.   Memperbaikisoal/perangkat penilaian

Hasil yang diperoleh pada siklus II dapat dilihat pada tabel 7.���

Tindak Lanjut Hasil Penilaian Siklus II

Kegiatan ini dilaksanakan oleh guru pada bagian terakhir setelah melaksanakan penilaian dengan tujuan menganalisis program penilaian dan perbaikan hasil penilaian. Adapun instrumen yang digunakan Dirjen Dikmenum (2004:12) yaitu:

6.       Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian

7.       Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian

8.       Melaksanakan tindak lanjut

9.       Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian

10.   Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian

Tindakan Peneliti Siklus II

Tindakan Peneliti pada pelaksanaan supervisi siklus pertama sebagai berikut. (1) Peneliti memeberikan indikator yangharus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi. Guru yang disupervisi diajak diskusi tentang format tersebut, (2) Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum pelaksanaan supervisi, (3) Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang akan disupervisi, (4) Peneliti mengamati guru pada saat supervisi dengan cara berkolaborasi secara langsung dalam PBM, (5) Peneliti berdiskusi dengan guru setelah melaksanakan supervisi, (6) Guru dan Peneliti menganalis hasil belajar siswa dan membuat laporan bersama tentang pembelajaran. (7) Guru dan Penelitimenganalisis program yang telah dibuat untuk diperbaiki jika kurang sesuasi.

d.       Refleksi Siklus II

Refleksi PerencanaanSupervisi Siklus II

Setelahdilaksanakan diskusi dengan guru danPeneliti makapenelitimenulis hasil refleksi sebagai berikut.

1.       Mendeskripsikan tujuan pembelajaran 8 Guru dengan presentasi 80 %, berdasarkan data tersebutsudah mampu mendeskripsikan tujuan pembelajaran. Untuk itu, model seperti ini tetap dipertahankan.

2.       Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Ternyata guru sudah mampu menentukan materi pembelajaranyang sesuai dengan kompetensinya. Guru lebih mudah menjalankan tugasnya jikasupervisi edukatif dilakukan secara kolaboratif dengan Peneliti.

3.       Mengorganisasikan materi berdasarkanurutan dan kelompok sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Pada bagian ini guru yang mampu mengorganisasikan materi baik yang berupa materi konsep, perinsip, prosedur, maupunfakta.

4.       Mengalokasikan waktu sebanyak 8 Guru dengan presentasi 80 %. Kegiatan pada bagian ini dipertahankan yakni menentukan alokasi waktu melalui workshop gurudi sekolah dengan dipandu���� peneliti.

5.       Menentukan metode pembelajaran yang sesuai sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Guru sudah banyak yang melaksanakan metode pembelajaran yang mengarah student center. Hal seperti ini perlu dipertahankan. Guru dan peneliti perlu berkolaborasi dalam mengajarnya lalu membahasnya melalui diskusi di MGMPsekolah.

6.       Merancang prosedur pembelajaran sebanyak 8 Guru dengan presentasi 80 %. Pada penentuan prosedur sangat berkaitan dengan metode pembelajaran. Oleh sebab itu, perlu ada perbaikan di bidang ini. Ada 2 guru masih terpancang dengan prosedur-prosedur yang sifatnya mengancam siswa jikakurang mampu atau melanggar pembelajaran.

7.       Menentukan mediapembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Ternyata padabagian ini sudah banyak guru yang menggunakan media yang ada di sekitar kelas. Hal ini bisa dilihat pada hasil di atas.

8.       Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Dalam menentukan sumber belajar, guru sudah bervariatif. Itu pun sudah bisa menyesuaikan dengan kompetensi dasar yangharus dikuasai siswa.

9.       Menentukan teknik penilaian sebanyak 7 Guru dengan presentasi 70 %. Teknik-teknik yang dibuat guru dalam menyusun penilaian sudah beragam. Ada yang menggunakan portofolio, kinerja, proyek, kuis, psikomotorik.

Refleksi Pelaksanaan Supervisi Siklus II

Hasil refleksi pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai berikut.

1.       Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai. Gururata-rata sudahmampu membuka pelajaran dengan metode yang tepat. Guru yang dianggap mampu membuka pekajaran dengan tepat sebanyak 8 orang ataudengan persentasi80 %. Berdasarkan persentasi di atas, guru perlu mempertahankancara tersebut.

2.       Menyajikanmateri pelajaran. Dalam menyajikan materi pelajaran, guru rata-rata sudah baik dan berdasarkan pengamatan ada 8 Guru yang dikategorikan baik. Jika hal itu dipersentasi maka sudah mencapai80 %. Pada siklus II ini guru banyak yang sudah mampu menyajikan materi dengan urutan yang tepat. Untuk itu, model penguasaan materi dalam supervisi kolaboratif perlu dipertahankan.

3.       Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan berjumlah 7 Guru dengan persentasi70 %. Guru dalam menggunakan metode pembelajaran sudah mengarah ke model CTL.

4.       Mengatur kegiatan siswa di kelas berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Berdasarkan data tersebut guru sudah mampu mengelola kelas. Kepala sekolah harus terus memotivasi guru-guru tersebut.

5.       Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang telah ditentukan berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Guru banyak yang menggunakan alat-alat yang bisa menguatkan pembelajaran.

6.       Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) berjumlah 7 Guru dengan persentasi70 %. Pada bagian ini guru sudah tidak masalah lagi. Tetapi, kepala sekolah harus terus memotivasi guru-guru tersebut.

7.       Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif,berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Guru sudah banyak yang memotivasi siswa. Kegiatan seperti ini perlu dipertahankan

8.       Melakukan interaksi dengan siswamenggunakan bahasa yang komunikatif berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Kegiatan seperti ini perlu dipertahankan

9.       Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuan penerimaan siswa dalam proses belajar berjumlah 7Guru dengan persentasi70 %.Guru yang memberikan pertanyaan-pertanyaan sebagai umpan balik ternyata sudah banyak. Hal ini dikarenakan ada kerja sama antara guru yang disupervisi dengan Penelitinya.

10.    Menyimpulkanpembelajaran berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Setelah siklus I dilaksanakan, kemudianguru dan Penelitiberdiskusi tentang cara menyimpulkan pembelajaran ternyata membawa hasil yang memuaskan. Ternyata semua guru sudah mempu menyimpulkan pembelajaran.

11.    Menggunakan waktu secara efektif dan efisien berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Pada siklus IIternyata sudah semua guru dapat memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Cara seperti ini perlu dipertahankan.

Refleksi PenilaianSupervisi Siklus II

Hasil refleksi pada bagian penilaian supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai berikut.

1.       Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Masih ada satu guru yang belum mampu menyusun soal penilaian karena masih tidak sesuai dengan indikatornya. Berdasarkan pengamatan/analisis ternyata guru tersebut pada pertemuan dengan Peneliti tidak masuk karena sakit. Karena demikian, guru yang belum berhasil perlu belajar sendiri dengan guru yang sudah mampu.

2.       Melaksanakan penilaian berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Hampir semua guru sudah melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan. Siswa tidak boleh membuka, bertanya kepada siswa lain. Hal seperti ini perlu dilakukan karena penilaian itu untuk mengukur anak yangsudah mampu atau yang belum mampu.

3.       Memeriksajawaban/memberikan skor tes hasil belajarberdasarkanindikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Guru sudah mampumemberikan skor soal. Cara seperti yang sudah dilakukan perlu dipertahankan.

4.       Menilai hasil belajar siswa berjumlah 9 Guru dengan persentasi 90 %. Karena semua guru sudah mampu pada indikator ini dipertahankan.������������

5.       Mengolah hasil penilaian berjumlah 9 Guru dengan persentasi90 %. Guru sudah mampu mengolah nilai mulai dari penskoran pembobotan sampai pada memberi nilai siswa.

6.       Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reabilitas) berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. Guru yang tidak bisamenganalisissoal berjumlah 2 orang dan guru yang enggan menganalisis atau tidak mau menganalisis sehingga lupa cara menganalisis. Untuk menghadapi seperti itu, sekolah perlu mengadakan diskusi dengan guru yang belum mampu tersebut dengan mendatangkan nara sumber.

7.       Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis (misalnya: interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa, dll.) berjumlah 10 Guru dengan persentasi100 %

8.       Menyusun laporan hasil penilaian berjumlah 10 Guru dengan persentasi100 %. Pada bagian ini perlu dipertahankan karena 100 persen berhasil dalam pembelajaran.

9.       Memperbaikisoal/perangkat penilaian berjumlah 8 Guru dengan persentasi80 %. pada siklus II inihanya 2 guru yang belum maximal dalammemperbaiki soal yang kurang valid. Makanya guru tetap mempertahankan cara memperbaiki soal tersebut.

 

Refleksi Pelaksanaan Tindak Lanjut Penilaian Siklus II

Refleksi pada bagian tindak lanjut ini dilakukan berdasarkan pada data yang dikumpulkan oleh Peneliti dan dianalisis lalu dicarikan solosinya. Hasil refleksinya sebagai berikut.

1.       Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian berjumlah 10guru, dengan persentasi 100%. Pada siklus II perkembangan guru pesat sekali. Untuk itu, guru perlu mempertahankanmodel mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut.

2.       Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian berjumlah 10 Guru, dengan persentasi 100 %. Dengan adanya supervisi individual berkolaboratif ternyata banyak guru yang sebelumnya tidak bisa menyusun program tindak lanjut ternyata pada siklus II ini berhasil menyusun dengan skor lebih dari 80. Berarti model ini perlu dipertahankan oleh sekolah.

3.       Melaksanakan tindak lanjut berjumlah 9 Guru,�� dengan�� persentasi 90 %. Guru sudah banyak melaksankan tindak lanjut penilaian. Ini terbukti 5 Guru telah melaksanakan dengan baik, sedangkan 1 guru sudah melaksanakan tindak lanjut tetapi skor yang dicapai masih di bawah80.

4.       Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian berjumlah10 Guru, dengan persentasi 100 %. Karena siklus II iniguru sudah mampu mengevaluasi hasil tindak lanjut makatindakan guru tersebut perlu dipertahankan.

5.       Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian berjumlah 8 guru, dengan persentasi 80%. Semua guru sudah menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut penilaianwalaupun masih ada dua guru yang hasil analisisnya kurang memadai.

 

Refleksi Tindakan Peneliti Siklus II

Hasil refleksi pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai berikut.

1.       Peneliti memeberikan indikator yangharus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi. Guru yang sudah diberi format penilaian perlu diisi dan dipahami.

2.       Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum pelaksanaan supervisi.

3.       Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang akan disupervisi,

4.       Peneliti mengamati guru pada saat supervisi,

5.       Peneliti berdiskusi dengan guru setelah melaksanakan supervisi,

6.       Guru dan Peneliti membuat tindak lanjut program penilaian

Hasil Tindakan Penelitian Siklus II

��������������� Berdasarkan deskripsidan refleksi di atas, peneliti, guru dan Peneliti menghentikan penelitian tindakan ini karena hasil yang diperoleh setelah tindakan, baik yang dilakukan oleh peneliti maupun guru sudah memuaskan. Tindakan-tindakan guru yang dapat meningkatkan hasil supervisi guru sebagai berikut.

a.        Perencanaan Supervisi

Tindakan guru dan Peneliti padaperencanaan supervisi individual kolaboratif yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah:

1.       Guru dan Peneliti selalu bekerja sama dalam membuat persiapan supervisi.Bekerja sama tersebut termasuk menentukan instrumen penilaian, pelaksanaan, dan penilaian hasil siswa.

2.       Setelah instrumen supervisi selesai, guru diberi format penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi danPeneliti selalu menanyakan kekurangmampuan dan kekurang jelasan format penilaian tersebut.

3.       Peneliti menanyakan perangkat pembelajaran seminggu sebelum pelaksanaan baik yang berkaitan dengan pembelajaran maupun penilaian.

b. Pelaksanaan Supervisi

1.       Guru dan Peneliti selalu bekerja sama melaksanakan pembelajaran. Peneliti membuka pelajaran dengan apersepsi dan menggunakan skemata siswa, kemudian dilanjutkan oleh guru yang disupervisi.

2.       Dalam pelaksanaan supervisi, guru merasa nyaman pada saat mengajarnya karena Peneliti dalam mensupervisi seperti rekanan guru yang mengajar bersama di kelas.

3.       Peneliti mengamati guru yang sedang mengajar dengan catatan-catatan khusus tentang kejadian positif dan negatif pada pembelajaran tersebut.

4.       Guru memberi penilaian proses dengan berdasarkan persiapan yangdikerjakan dengan peneliti.

5.       Peneliti dan guru mendiskusikan kelebihan dan kekurangan pembelajaran. Bagain yang kurang langsung dicarikan solosinya.

c. Penilaian Supervisi

1.       Guru melaksanakan penilaian berdasarkan program yang sudah dibuat.

2.       Penilaian difokuskan pada bentuk uraian objektif dan uraian non-objektif.

3.       Penyusunan soal dilaksanakan secara koaboratif dengan peneliti.

4.       Pengoreksian hasil evaluasi dilakukan secara langsung oleh guru setelah pembelajaran. Hal seperti itu dilakukan dengan peneliti.

5.       Guru menyimpulkan hasil belajar siswa dan melaporkan hasilnya kepada kepala sekolah.

d. Tindak Lanjut Hasil Penelitian

Guru dan Peneliti menindak lanjuti hasil penilaian dengan langkah-langkah:

1.       Guru mengumpulkan hasil penilaian

2.       Guru mendiskusikan tindak lanjut penilaian

3.       Guru merencanakan tindak lanjut hasil penilaian

4.       Guru bersama Peneliti mengevaluasi hasil tindak lanjut penilaiankemudian menganalisisnya .

e.        Hasil Tindakan Peneliti

Hasil refleksi pada bagian pelaksanaan supervisi dan setelah diadakan diskusi dengan guru sebagai berikut.

1.       Peneliti memeberikan indikator yangharus dicapai pada saat persiapan, pelaksanaan, dan penilaian seminggu sebelum pelaksanaan supervisi,

2.       Peneliti menyuruh guru mengisi format penilaian yang ingin dicapai, satu minggu sebelum pelaksanaan supervisi,

3.       Peneliti mendiskusikan persiapan dengan guru yang akan disupervisi,

4.       Peneliti mengamati guru pada saat supervisi,

5.       Peneliti berdiskusi dengan guru setelah melaksanakan supervisi,

6.       Guru dan Peneliti membuat perencanaan kembali kegiatan berikutnya yang akan disupervisi

 

Pembahasan Hasil Penelitian

��������������� Pembahasan didasarkan pada teori-teori yang sudah ada, baik berdasarkan pada referensi mapun dari ucapan ahli di bidang penelitian ini. Adapun pembahasan hasil penelitian ini sebagai berikut.

Temuan pertama, kinerja guru meningkat dalam membuat perencanaan pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya kerja sama antara guru kelas yang satu dengan lainnya serta diberi pengarahan oleh peneliti. Langkah-langkah yang dapat meningkatkan kinerja guru dalam membuat persiapan pembelajaran adalah: (1) Peneliti memberikan format supervisi dan jadwal supervisi pada awal tahun pelajaran atau awal semester. Pelaksanaan supervisi tidak hanya dilakukan sekali, (2) Peneliti selalu menanyakan perkembangan pembuatan perangkat pembelajaran (mengingatkan betapa pentingnya perangkat pembelajaran), (3) satu minggu sebelum pelaksanaan supervisi perangkat pembelajaran, Peneliti menanyakan format penilaian, jika format yang diberikan pada awal tahun pelajaran tersebut hilang, maka guru yang bersangkutan disuruh memfotokopi arsip sekolah. Jika di sekolah masih banyak format seperti itu maka guru tersebut diberi kembali. Bersamaan dengan memberi/menanyakan format, Peneliti meminta pengumpulan perangkat pembelajaran yang sudah dibuatnya untuk diteliti kelebihan dan kekurangannya, (4) Peneliti memberikan catatan-catatan khusus pada lembaran untuk diberikan kepada guru yang akan disupervisitersebut. (5) Peneliti dalam menilai perangkat pembelajaran penuh perhatian dan tidak mencerminkan sebagai penilai.

��������������� Peneliti bertindak sebagai kolaborasi. Peneliti membimbing, mengarahkan guru yang belum bisa, tetapi Peneliti juga menerimaargumen guru yang positif. Dengan adanya itu, terciptalah hubungan yang akrap antara guru dan Peneliti. Tentusaja ini akan membawa nilai positif dalam pelaksanaan pembelajaran.

Temuan kedua, kinerja guru meningkat dalam melaksanakan pembelajaran. Dalam penelitian tindakan ini ternyata dari 6 guru hampir semuanya mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik. Hal ini terbukti dari hasil supervisi. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaranberdasarkan penelitian tindakan ini adalah: (1) Peneliti yang mengamati guru mengajar tidak sebagai penilai tetapi sebagai rekan bekerja yang siap membantu guru tersebut, (2) Selama pelaksaaan supervisi di di kelas guru tidak menganggap Peneliti sebagai penilai karena sebelum pelaksanaan supervisi guru dan Peneliti telah berdiskusi permasalahan-permasalahan yang ada dalam pembelajaran tersebut, (3) Peneliti mencatat semua peristiwa yang terjadi di dalam pembelajaran baik yang positif maupun yang negatif, (4) Peneliti selalu memberi contoh pembelajaran yang berorientasi padaModern Learning. (5) Jika ada guru yang pembelajarannya kurang jelas tujuan, penyajian, umpan balik, Peneliti memberikan contoh bagaimana menjelaskan tujuan, menyajikan, memberi umpan balik kepada guru tersebut, (6) Setelah guru diberi contoh pembelajaran modern, Penelitisetiap dua atau tiga minggu mengunjungi atau mengikuti guru tersebut dalam proses pembelajaran.

Temuanketiga, kinerja guru meningkat dalam menilai prestasi belajar siswa. Pada penelitian tindakan yang dilakukan di�� SMP Pasundan I Bandung ini ternyata pelaksanaan supervisi individual kolaboratif secara periodik memberikan dampak positif terhadap guru dalam menyusun soal/perangkat penilaian, melaksanakan, memeriksa, menilai, mengolah, menganalisis, menyimpulkan, menyusun laporan dan memperbaiki soal. Sebelum diadakan supervisi individual secara kolaboratif, guru banyak yang mengalami kesulitan dalam melaksankan penilaian.

��������������� Langkah-langkahyang dilakukan dalam supervisi individual kolaboratif secara periodik yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah: (1) Peneliti berdiskusi dengan guru dalam pembuatan perangkat penilaiansebelum dilaksanakan supervisi, (2) Guru melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan bersama Peneliti yang sebagai kolaboratif dalam pembelajaran, (3)Gurumembuat kriteria penilaian yang berkaitan dengan penskoran, pembobotan, dan pengolahan nilai, yang sebelum pelaksanaan supervisi didiskusikan dengan peneliti, (4)Gurumenganalisishasil penilaian dan melaporkannya kepada urusan kurikulum.

Temuan keempat, Kinerja guru meningkat dalammelaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. Langkah-langkah yang dapat meningkatkan kinerja guru dalam supervisi individual kolaboratif adalah: (1)Peneliti dan guru bersama-sama membuat program tindak lanjut hasil penilaian, (2) Peneliti memberi contohpelaksanaan tindak lanjut, yang akhirnya dilanjutkan oleh guru dalam pelaksanaan yang sebenarnya, (3) Peneliti mengajak diskusipada guru yang telah membuat, melaksanakan, dan menganalis program tindak lanjut. Temuan kelima, Kinerja guru meningkat dalam menyusun program pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai prestasi belajar, danmelaksanakan tindak lanjut hasil prestasi belajar siswa.

 

Hasil Penentuan Perencanaan Siklus I

No.

Indikator

Jml Guru

JML Guru Berhasil (Skor >75 )

% Keber-hasilan

1

Mendeskripsikan Tujuan Pembelajaran

10

5

50

2

Menentukan materi sesuai dengan kompetensi

10

5

50

3

Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan atau kelompok

10

4

40

4

Mengalokasikan waktu

10

6

60

5

Menentukan metode pembelajaran

10

3

30

6

Merancang prosedur pembelajaran

10

4

40

7

Menentukan media pembelajaran

10

4

40

8

Menentukansumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya)

10

4

40

9

Menentukan teknik penilaian yang sesuai

10

3

30

Rata - Rata Keberhasilan

4.22

42.22

 

Hasil Melaksanakan PembelajaranTindakan Siklus I

No

Indikator

Jml Guru

JML Guru Berhasil (Skor >75 )

% Keber-hasilan

1

Membuka pelajaran dengan metode yang tepat

10

5

50

2

Menyajikan materi pelajaran secara sistematis

10

4

40

3

Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan

10

4

40

4

Mengatur kegiatan siswa di kelas

10

5

50

5

Menentukan media pembelajaran

10

4

40

6

Menggunakan sumber belajar

10

4

40

7

Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif

10

5

50

8

Melakukan interaksi dengan siswa menggunakan bahasa yang komunikatif

10

5

50

9

Memberikan pertanyaan dan umpan balik

10

6

60

10

Menyimpulkan pembelajaran

10

4

40

11

Menggunakan waktu secara efektif

10

4

40

Rata - Rata Keberhasilan

4.54

45.45

 

 

Hasil Penentuan Perencanaan Siklus II

No.

Indikator

Jml Guru

Jml Guru Berhasil (Skor >75)

% Keber-hasilan

1

Mendeskripsikan Tujuan Pembelajaran

10

8

80

2

Menentukan materi sesuai dengan kompetensi

10

7

70

3

Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan atau kelompok

10

7

70

4

Mengalokasikan waktu

10

8

80

5

Menentukan metode pembelajaran

10

7

70

6

Merancang prosedur pembelajaran

10

8

80

7

Menentukan media pembelajaran

10

7

70

8

Menentukansumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya)

10

7

70

9

Menentukan teknik penilaian yang sesuai

10

7

70

Rata - Rata Keberhasilan

7.33

73.33

 

 

 

Hasil Melaksanakan PembelajaranTindakan Siklus II

No.

Indikator

Jml Guru

Jml Guru Berhasil (Skor >75)

% Keber-hasilan

1

Membuka pelajaran dengan metode yang tepat

10

8

80

2

Menyajikan materi pelajaran secara sistematis

10

8

80

3

Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan

10

7

70

4

Mengatur kegiatan siswa di kelas

10

8

80

5

Menentukan media pembelajaran

10

8

80

6

Menggunakan sumber belajar

10

7

70

7

Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif

10

8

80

8

Melakukan interaksi dengan siswa menggunakan bahasa yang komunikatif

10

8

80

9

Memberikan pertanyaan dan umpan balik

10

7

70

10

Menyimpulkan pembelajaran

10

8

80

11

Menggunakan waktu secara efektif

10

8

80

Rata - Rata Keberhasilan

7.727272727

77.27272727

 

 

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Peneliti berdiskusi dengan guru dalam pembuatan perangkat penilaiansebelum dilaksanakan supervisi, (2) Guru melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan bersama Peneliti yang sebagai kolaboratif dalam pembelajaran, (3)Gurumembuat kriteria penilaian yang berkaitan dengan penskoran, pembobotan, dan pengolahan nilai, yang sebelum pelaksanaan supervisi didiskusikan dengan peneliti, (4)Gurumenganalisishasil penilaian dan melaporkannya kepada urusan kurikulum.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 2004. Dasar-dasar Supervisi, Jakarta: Rineka Cipta

 

ickman, Stephen, Jovita. 2009. The Basic Guide to Supervision and Instructional Leadership, USA: Pearson

 

Maunah, Binti. �Hand Out Supervisi Pendidikan Islam,� dalam http://blog.iain-tulungagung.ac.id/uunbinti/2013/11/09/32/ diakses pada Jumat, 22 April 2016 pukul 20.20 WIB

 

Nazri, Ziria. �Pendekatan supervisi kolaboratif,� dalam http://zirya.mywap blog.com/pendekatan -supervisi-kolaboratif.xhtml diakses pada Jumat, 22 April 2016 pukul 20.30 WIB

 

Noname. Pendekatan Supervisi Kolaboratif, dalam http://makalahmanajemen pendidikan.blogspot.co.id/2013/11/pendekatan-supervisi-kolaboratif.html diakses pada Jumat, 22 April 2016 pukul 21.21 WIB

 

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 3

Binti Maunah, �Hand Out Supervisi Pendidikan Islam,� dikutip dari http://blog.iain-tulungagung.ac.id/uunbinti/2013/11/09/32/ diakses pada hari Jumat, 22 April 2016 jam 20.20 WIB

 

Ziria Nazri, �Pendekatan supervisi kolaboratif,� dikutip dari http://zirya.mywap blog.com/pendekatan -supervisi-kolaboratif.xhtml diakses pada hari Jumat, 22 April 2016 jam 20.30 WIB

 

Pendekatan Supervisi Kolaboratif, dikutip dari http://makalahmanajemen pendidikan.blogspot.co.id/2013/11/pendekatan-supervisi-kolaboratif.html diakses pada hari Jumat, 22 April 2016 jam 21.21 WIB

 

Carl D Glickman, Stephen P Gordon dan Jovita M Ross Gordon, The Basic Guide to Supervision and Instructional Leadership, (USA: Pearson, 2009), hlm 132 � 135