PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN PROBING PROMTING DAN MODEL PEMBELAJARAN CIRCUIT
LEARNING TERHADAP HASIL �BELAJAR
SARANA DAN PRASARANA SISWA KELAS XI AP SMKS TUNAS KARYA BATANG KUIS T.A
2022/2023
Karen
Nathasiah Hasibuan1, Hasyim2
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Medan
[email protected]1, [email protected]2
|
Riwayat Artikel: Received: 11-10-2022 Revised: 21-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords: Probing Promting Learning Model, Circuit Learning Model, Learning
Outcomes Kata
Kunci: Model Pembelajaran Probing Promting,
Model Pembelajaran Circuit Learning, Hasil Belajar |
|
Abstract The problem in this study is the low learning outcomes of students in
the subject of facilities and infrastructure for class XI-AP 1 and 2 at SMKS
Tunas Karya Batang Kuis for the academic year 2022/2023. The purpose of this
study was to determine whether applying the Probing Promting and Circuit
Learning learning models could improve learning outcomes for students in
class XI AP SMKS Tunas Karya Batang Quiz for the 2022/2023 academic year. The
population in this study were all students of class XI AP SMKS Tunas Karya
Batang Kuis totaling 63 people and the sampling method in this study was
total sampling technique. Data collection techniques in this study were
instrument questions, observations, interviews, and documentation. The data
analysis technique used is calculating the average value and standard
deviation, normality test, homogeneity test and hypothesis testing. Based on
the t test, it was found that thitung > ttable (10,152>1,670) at a
significant level of 95%. So the hypothesis is accepted, meaning that there
is a positive and significant influence between the Probing Promting (X1)
learning model and the Circuit Learning (X2) learning model on Learning
Outcomes (Y). Both models do improve student learning outcomes, but the
Circuit Learning learning model further improves learning outcomes from the
Probing Promting learning model. |
|
|
Abstrak Masalah dalam
penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran sarana dan prasarana kelas XI-AP 1 dan 2
di SMKS Tunas Karya Batang
Kuis tahun ajaran 2022/2023. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model pembelajaran Probing Promting
dan Circuit Learning dapat meningkatkan
hasil belajar sarana dan prasarana siswa kelas XI AP SMKS Tunas Karya Batang Kuis Tahun ajaran
2022/2023. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI AP SMKS Tunas Karya Batang Kuis yang berjumlah 63 orang
dan cara pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu Teknik total sampling. Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini adalah instrument soal, observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Teknik analisis data yang digunakan
adalah menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi, uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis. Berdasarkan uji t diperoleh bahwa thitung > ttabel
(10,152>1,670) pada taraf signifikan |
Corresponding Author:
Karen Nathasiah
Hasibuan�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan
proses perubahan sikap dan
tata laku seseorang atau kelompok dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan merupakan upaya dalam meningkatkan
kualitas setiap individu baik secara
langsung maupun tidak langsung. (Elfachmi 2016:15) unsur-unsur
Pendidikan terdiri atas tujuan Pendidikan, alat dan metode Pendidikan. Pembelajaran adalah suatu komunikasi
dua arah, mengajar yang dilakukan oleh pihak guru sebagai penidik, sementara belajar dilakukan oleh peserta didik (Huda, 2017:61). Pembelajaran
sebagai proses belajar yang
dibangun guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan baru sebagai upaya
meningkatkan penguasaan
yang baik terhadap materi pembelajaran. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa dapat
mencapai kompetensi yang
optimal. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan
guru dalam menerapkan model
pembelajaran yang tepat dan
efektif. Bila model pembelajaran yang digunakan guru tidak tepat dan tidak efektif maka
pencapaian hasil belajar menjadi rendah. Hasil belajar adalah tingkat kepuasan yang dicapai dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan
Pendidikan yang telah ditetapkan.
Salah satu yang mengukur hasil belajar siswa
dapat dilihat dari kemampuan-kemampuan yang dicapai oleh setiap peserta didik setelah
menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2017:22). Selain
kemampuan siswa yang dapat digunakan untuk melihat hasil
belajar siswa dapat dilihat berdasarkan
nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang telah ditetapkan sekolah. Hasil belajar akan optimal apabila proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan siswa mengikuti pembelajaran dengan efektif.
Hasil observasi awal yang dilakukan di SMKS Tunas
Karya Batang Kuis kelas XI OTKP 1 dan 2
Semester Ganjil Tahun Ajaran 2022/2023 mendapatkan bahwasanya masih ada beberapa siswa
yang belum mampu mencapai hasil belajar yang baik, dimana masih ada
siswa yang belum mencapai Kritesia Ketuntasan Minimum (KKM) pada mata
pelajaran sarana dan prasarana yaitu 75 dari 2 Kelas, maka
dapat dilihat perbedaan tingkat ketuntasan KKM. Terlihat dari tabel dibawah
ini:
Tabel 1
Daftar Hasil Belajar Sarana dan Prasarana Siswa Kelas XI OTKP
|
Kelas |
Jumlah Siswa |
KKM |
Tuntas (%) |
Tidak Tuntas (%) |
|
XI OTKP 1 |
33 Siswa |
75 |
15 (45,45%) |
18 (54,54%) |
|
XI OTKP 2 |
30 Siswa |
75 |
13 (43,33%) |
17 (56,66%) |
Dari table diatas memperoleh data yang menunjukan bahwa hasil belajar
siswa dari kelas XI-OTKP 1 yang jumlah keseluruhan siswa nya 33 siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 45% (15 orang) orang sedangkan
yang tidak mencapai ketuntasan KKM sejumlah 54% (18
orang)� hal ini berarti lebih
dominan yang tidak� mencapai ketuntasan KKM, begitu juga dengan hasil di kelas XII-OTKP dengan jumlah seluruh siswa 30 orang yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 43% (13
orang) dan yang tidak mencapai
KKM sejumlah 56%�
(17 orang)� berarti
lebih dominan yang tidak tuntas KKM. Dari hasil diatas melihatkan
bahwa hasil belajar pada mata pelajaran Sarana dan Prasarana masih rendah.
Salah satu faktor yang diduga menyebabkan rendahnya hasil belajar diatas karena siswa belum
sepenuhnya dapat memahami dan menguasai pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, peneliti mencoba menawarkan solusi dengan menerapkan
model pembelajaran yang bervariasi
yaitu model pembelajaran Probing
Promting dan model pembelajaran
Circuit Learning. Dimana kedua model pembelajaran tersebut menjadi salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk lebih mengakitfkan
dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Model pembelajaran Probing
Promting merupakan
salah satu model pembelajaran
kooperatif. Model pembelajaran
Probing Promting adalah
pembelajaran dengan menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajarinya (Huda, 2014:281). Pembelajaran
Probing Promting sangat erat
kaitannya dengan pertanyaan. Dengan adanya pertanyaan guru dapat mengetahui seberapa jauh pemahaman
siswa tentang materi yang sedang diajarkan. Hal ini sependapat dengan (Huda, 2014:181) bahwa
pertanyaan - pertanyaan
yang dilontarkan pada saat pembelajaran. Serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menuntun
dan menggali pengetahuan siswa dapat dilakukan
dengan Langkah yang pertama
yaitu guru menghadapkan siswa dengan sebuah
situasi, siswa diberikan waktu untuk mengamati dan merumuskan masalah, guru memberikan pertanyaan kepada siswa, memberikan
kesempatan kepada siswa bagi siswa
yang ingin memberikan jawaban, jika jawaban
yang disampaikan oleh siswa
tepat guru meminta siswa lain untuk memberikan tanggapan (Istarani 2014:66-67). Model pembelajaran
Probing Promting memiliki
kelemahan dan kelebihan menurut (Istarani, 2017:100) ,kelebihan
model pembelajaran Probing Promting
yaitu, 1) setiap siswa dituntut untuk aktif; 2) siswa tidak bisa
menghindar dari proses pembelajaran; 3) setiap siswa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Sedangkan kelemahan model Probing Promting
yaitu, 1) kemungkinan akan terjadi suasana
yang tegang karena takut untuk diajukan
pertanyaan; 2) membuat pertanyaan yang valid atau sesuai kemampuan siswa yang sulit; 3) siswa merasa ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan.
Selanjutnya adalah model pembelajaran Circuit
Learning. Menurut (Huda, 2014:331) �Model pembelajaran
Circuit Learning adalah pembelajaran
yang memaksimalkan pemberdayaan
pikiran dan perasaan melalui pola penambahan
(adding) dan pengulangan (repetition).strategi
dari pembelajaran ini dimulai dari
tanya jawab seputaran topik pembelajaran, penyajian peta konsep, penjelasan
mengenai peta konsep, pembagian dalam beberapa kelompok, pengisian lembar kerja siswa
disertai dengan peta konsep, pelaksanaan
presentasi kelompok, dan pemberian reward atau pujian (Sudjana, 2018:35). Kelebihan
model pembelajaran Circuit Learning menurut (Huda, 2018:35)yaitu
�konsentrasi yang terbangun
membuat siswa fokus dalam pembelajaran�.
Kekurangan Model pembelajaran
Circuit Learning menurut (Huda, 2017:35)yaitu
�memerlukan waktu yang
relative lama�.
Berdasarkan permasalaha yang telah diuraikan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul �Penerapan Model Pembelajaran Probing
Promting dan Model Pembelajaran
Circuit Learning Terhadap Hasil Belajar Sarana dan Prasarana Siswa Kelas XI AP SMKS TUNAS
KARYA BATANG KUIS T.A 2022/2023�.
METODA PENELITIAN
Jenis penelitian
ini yang digunakan adalah quasi eksperimen. Penelitian quasi eksperimen bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek yang diteliti dengan mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondsi yang terkendali (Sugiyono, 2012:109 )Penelitian ini terdapat perbandingan nilai preetest sebelum diberikan perlakuan dan nilai posttest setelah diberikan perlakuan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas XI AP SMKS
Tunas Karya Batang Kuis T.A 2022/2023. Sampel dalam penelitian ini diambil seluruh
dari populasi yaitu siswa kelas
XI yang berjumlah 63 orang dengan
Teknik sampling yang digunakan adalah
Total Sampling.�
Menurut (Arikunto,2013:19) �Jika subjeknya kurang
dari 100 orang sebaiknya diambil semuanya, jika subyeknya besar lebih dari
100 orang dapat diambil
10-15% atau 20-25% atau lebih�. Karena jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 63 orang siswa, maka penulis mengambil
sampel sebanyak 100% dari jumlah populasi
atau keseluruhan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui
observasi, yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung ke tempat penelitian
yaitu SMKS Tunas Karya Batang Kuis. Selanjutnya adalah dokumentasi, yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan memperoleh data hasil belajar dan yang terakhir adalah soal pilihan berganda yang dilakukan dengan
menyebar instrument soal kepada sample.
Sebelum menyebarkan instrument angket, maka angket diuji
coba diluar sampel kelas XI AP SMKS Tunas Karya Batang Kuis.
Setelah uji coba soal kemudian dianalisis
Validitas, Realibilitas,
Tingkat Kesukaran Soal, dan
Daya Pembeda Soal menggunakan program
Microsoft Excel.
�Teknik analisis data yang digunakan
adalah menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi, uji normalitas, homogenitas data, dan uji hipotesis
yang diajukan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas (X1, X2) terhadap variabel (Y).����
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian yang dilaksanakan di SMKS Tunas Karya Batang Kuis pada siswa kelas XI bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar sarana
dan prasarana yang diajarkan
dengan model pembelajaran Probing
Promting dan Circuit Learning dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini dapat terlihat
dari ppreetest dan
posttest. Penelitian ini tergolong dalam penelitian eksperimen yang melibatkan 2 kelas tang berbeda satu sama
lain. Dimana kelas XI AP 1 sebagai
eksperimen 1 yang diberikan
perlakuan model pembelajaran
Probing Promting dan kelas
XI AP 1 sebagai eksperimen
2 yang diberikan perlakuan
model pembelajaran Circuit Learning.
Sebelum dilakukannya penelitian, maka tes yang dijadikan
instrument terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap tes berupa
uji Validitas, Realibilitas,
Tingkat Kesukaran Soal dan
uji Daya Beda Tes kepada 30 orang siswa dikelas XI AP 1 yang dianggap memiliki kriteria yang sama dalam penelitian.
Instrument tes yang diuji sebanyak 25 soal, 20 soal dinyatakan valid dan 5 butir soal dinyatakan
tidak valid. Setelah dilakukan dilakukan uji coba diperoleh relibiltasnya 0,762 dengan rtabel 0,361 dengan demikian butir soal dinyatakan reliabel. Dari perhitungan tingkat kesukaran tes diketahui 8 butir soal termasuk
kategori sukar, 4 butir soal sedang
dan 13 butir tergolong mudah.
PEMBAHASAN
1.
Pengaruh Model Pembelajaran Probing Promting
(X1) terhadap Hasil
�Belajar (Y)
Nilai rata-rata sebelum
diterapkannya model Probing Promting
adalah 48,25 dan hasil setelah diberikan perlakuan yaitu 69,54. Dan pada uji
statistik menggunakan Microsoft Excel Uji t model
pembelajaran Probing Promting
terhadap Hasil Belajar diperoleh nilai thitung>ttabel (10,152>1,670) pada tingkat kepercayaan 95%
α=0,05 Maka berdasarkan
kriteria pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Probing Promting (X1)
model pembelajaran Probing Promting
memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muzdalifa Lubis (2017) dengan hasil penelitiannya
yang menemukan bahwa hasil belajar siswa
melalui penerapan model pembelajaran Probing Promting
meningkatkan hasil belajar
2. Pengaruh Model Pembelajaran
Circuit Learning (X2)
terhadap Hasil Belajar
(Y)
Berdasarkan hasil preetest dan posttest, sebelum penerapan diperoleh nilai yaitu 51,96 dan setelah diterapkan adalah 89,2. Pengolahan data dengan menggunakan program Microsoft Excel (Uji t) diperoleh nilai thitung>ttabel
(10,152>1,670) pada taraf tingkat
kepercayaan 95% α= 0,05%. Maka
berdasarkan kriteria pengujian hipotesis disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Circuit Learning (X2) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa
kelas XI AP pada mata pelajaran Sarana dan Prasarana
SMKS Tunas Karya Batang Kuis T.A 2022/2023.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Syahrial (2017) dengan penelitian mengatakan bahwa penerapan model pembelajaran Circuit Learning memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap hasil belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian ini sejalan dengan teori (Dewi, 2014) bahwa
dalam �model pembelajaran Circuit
Learning denganmemaksimalkan pemberdayaan
pikiran dan perasaan dengan pola bertambah
dan mengullang dimulai dari tanya jawab,
penyajian dan penjelaskan peta konsep. Hasil penelitian diatas menjelaskan bahwa model pembelajaran Circuit Learning memiliki
pengaruh yang positif terhadap peningkatakan hasil belajar siswa
dengan menerapkan model pembelajaran Circuit Learning
Kedua model pembelajaran tersebut memang dapat meningkatkan
hasil belajar siswa, namun hasil
belajar dengan menggunakan model pembelajaran
Circuit Learning lebih tinggi
dibandingkan model pembelajaran
Probing Promting yang dapat
dilihat dari perbedaan nilai rata-rata preetest dan posttest setelah memberikan perlakuan terhadap model pembelajaran di kelas eksperimen I dan eksperimen II. Hal ini dikarenakan model pembelajaran
Circuit Learning lebih mendorong
kemandirian siswa dalamm memaksimalkan pikiran dan pemberdayaan pikir melalui peta
konsep yang dijabarkan untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah melalui pola penambahan materi yang sama setiap proses
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan terhadap data hasil penelitian yang telah dikumpulkan mengenai Penerapan Model Pembelajaran Probing Promting dan
Model Pembelajaran Circuit Learning Terhadap Hasil Belajar Sarana dan
Prasarana Siswa Kelas XI AP SMKS Tunas Karya Batang Kuis T.A 2022/2023 yaitu:
1.
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari model pembelajaran Probing Promying dan
Circuit Learning terhadap hasil
belajar siswa. Hal ini dapat dilihat
dari uji t yang menunjukan bahwa nilai thitung>ttabel (10,152>1,670) pada taraf signifikan 95%=0,05
2.
Hasil belajar siswa dengan menggunakan
model pembelajaran Circuit Learning lebih tinggi daripada
hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran Probing Promting.
Hal tersebut diketahui dengan melihat peningkatan nilai rata-rata pada hasil belajar eksperimen
II dengan menggunakan model
Circuit Learning adalah 89,2 dan nilai
rata-rata hasil belajar kelas ekpserimen I yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran
Probing Promting.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto.
(2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (15th ed.).
Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Dewi, Dkk.
(2014). Pengaruh Model Pembelajaran Circuit Learning Berbantuan Vidio
AudiovisualTerhadap Hasil Belajar Siswa SD N 1 Pejejng T.A 2013/2014. Jurnal
Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, 2(1).
Elfachmi,
A. .. (2016). Pengantar Kependidikan ((1st ed)). Erlangga.
Huda
Miftahul. (2014). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Huda
Miftahul. (2017). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Malang:
Pustaka Belajar.
Istarani.
(2014). 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.
Istarani,
dkk. (2017). Strategi Pembelajaran Kooperatif (mengenal tipe strategi,model
dan teknik pembelajaran kooperatif). Medan: Media Persada.
Sudjana, N.
(2017). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (21 st ed).
Sugiyono.
(2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.