UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN HASIL
BELAJAR KIMIA PADA MATERI SEL VOLTA DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI
TERBIMBING DI KELAS XII MIPA 5 / SEMESTER 1 SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN
2019/2020
Tiktik Mustika
Budhi
SMA Negeri 4 Bandung
|
Riwayat Artikel: Received: 10-10-2022 Revised: 18-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords:
analytical ability, guided
inquiry Kata
Kunci: kemampuan analitis, inkuiri terbimbing |
|
Abstract This study aims to determine
the effect of the guided inquiry learning model that is taught to students
which is operationally seen in significant differences between student
learning outcomes. The purpose of the study was to improve the analytical
thinking skills of students in class XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung for the
2019/2020 academic year through the application of guided inquiry. The method used in this study is a questionnaire
(questionnaire), documentation and observation. The collected data were
analyzed by descriptive percentage techniques and simple linear analysis. The
results showed that the application of the Guided Inquiry learning method
could improve learning outcomes and understanding of subject matter in class
XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung. Based on the data on the results of scores in working
on the LKS in the implementation of this first action, it turns out that
students who can do LKS correctly are still below 60.0%, students who get the
highest score only reach 70 and the lowest score is 60 with the average class
reaching 65. %, in this action research activity II, many students have
achieved good grades, namely the acquisition of the highest score reaching 90
and the lowest score only 75 and even then it has reached the minimum limit
that must be obtained by students, the class average value reaches 81.94%.
Improvement occurred in every indicator of analytical thinking ability. Based on the results of the study, it was concluded
that the application of the guided inquiry learning model improved the
analytical thinking skills of class XII MIPA 5 students at SMA Negeri 4
Bandung for the 2019/2020 academic year. |
|
|
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing yang dibelajarkan pada peserta ddik yang secara operasionalnya dilihat pada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas XII MIPA 5 SMA
Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran
2019/2020 melalui penerapan
inkuiri terbimbing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
(kuesioner), dokumentasi
dan observasi.data yang dikumpulkan
dianalisis dengan tekhnik deskriftif presentase dan analisis linier sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran Inkuiri Terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman materi pelajaran pada siswa kelas XII MIPA 5 SMA
Negeri 4 Bandung. Berdasarkan data hasil nilai dalam
mengerjakan LKS pada pelaksanaan
tindakan pertama ini ternyata bahwa siswa� yang dapat mengerjakan LKS dengan benar adalah masih dibawah 60,0%, siswa yang memperoleh nilai tertinggi hanya mencapai nilai 70 dan nilai terendah adalah 60 dengan rata � rata kelas mencapai 65 %, pada kegiatan penelitian tindakan II ini, siswa sudah
banyak yang mencapai hasil nilai yang baik yaitu perolehan
nilai tertinggi mencapai 90 dan nilai terendah hanya 75 itupun sudah sampai pada batas minimum yang harus diperoleh siswa,� nilai rata � rata kelas mencapai 81.94 %. Peningkatan terjadi pada setiap indikator kemampuan berpikir analitis. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing meningkatkan kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas XII MIPA 5 SMA
Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran
2019/2020 |
Corresponding Author: Tiktik Mustika Budhi�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul
gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Oleh karena itu, dalam sejarah
pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka
memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntunan masyarakat.
Pendidikan merupakan
suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi
belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan
ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk
kurikulum.
Pembelajaran merupakan
suatu proses yang mengandung
serangkaian kegiatan belajar dan mengajar antara pendidik dan peserta didik.
Pendidikan merupakan
suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu tindakan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran.
Dalam kegiatan
belajar mengajar tidak semua anak
didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak
didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak
didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap
bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.
Kimia adalah
salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa di Sekolah Menengah Atas, karena mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu kimia, sebagai bagian ilmu pengetahuan
alam, mempelajari komposisi dan struktur zat kimia, serta
hubungan keduanya dengan sifat zat
tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada zaman sekarang ini tidak terlepas
dari penguasaan terhadap ilmu kimia
sebagai ilmu dasar. Mempelajari ilmu kimia merupakan
salah satu sarana berpikir ilmiah, kritis dan sistematis yang berguna untuk mengembangkan
kemampuan berpikir
Pelajaran kimia
yang diajarkan kepada siswa bertujuan untuk dapat menguasai
konsep-konsep kimia yang saling berkaitan serta penerapannya baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun untuk kemajuan teknologi, kelestarian lingkungan dan dapat bersikap ilmiah dan menyadari akan kebesaran dan kekuasaan Sang PenciptaNya. Untuk dapat terwujudnya apa yang diharapkan di atas tidak terlepas
dari pendidikan yang berkualitas yang sangat erat hubungannya dengan meningkatnya kualitas proses pembelajaran yang ditunjang dengan adanya motivasi
siswa. Banyak langkah-langkah
yang dilakukan untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya penambahan waktu belajar dengan mengadakan kelas-kelas belajar sore, namun perolehan nilai siswa masih belum
mencapai target yang diharapkan.
Kemungkinan besar hal tersebut di atas dapat diperbaiki
dengan penggunaan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, yaitu pembelajaran yang berpusat pada murid (student centered).
Dilihat dari kondisi saat ini,
masih banyak siswa yang tidak memahami ilmu kimia
dengan baik. Kimia merupakan salah satu mata pelajaran bidang sains yang relatif sangat sulit bagi siswa. Sulitnya
memahami konsep dan menerapkan banyak rumus dalam perhitungan
kimia membuat siswa menjadi bingung
dan lamban dalam mempelajari ilmu kimia. Kurangnya pemahaman siswa tersebut dapat dilihat pada rendahnya prestasi yang diperoleh siswa pada pelajaran kimia
Untuk� dapat menentukan� teknik� pembelajaran
yang� sesuai itu tentu saja
terlebih dahulu� harus dilakukan� observasi� terhadap peserta didik. Dari observasi itu akan didapatkan
permasalahan penting dan utama yang dapat digunakan sebagai modal untuk menentukan pemecahan masalah itu.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan guru kimia, diperoleh informasi bahwa prestasi belajar kimia siswa
umumnya masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari
hasil belajar siswa yang sebagian diantaranya belum mencapai nilai tinggi seperti yang diharapkan oleh guru tersebut.
Nilai rata-rata ulangan siswa
adalah 70, sedangkan nilai yang diharapkan oleh guru kimia di sekolah tersebut adalah minimal 80 atau bahkan lebih
besar dari 80. Rendahnya prestasi belajar kimia siswa
tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru saja tanpa berusaha untuk mengembangkan dan mencari ide-ide yang berkaitan dengan topik yang disajikan, rendahnya motivasi dan semangat belajar siswa, dan siswa seringkali berinteraksi dengan teman-temannya bukan untuk membahas materi pelajaran melainkan hanya untuk mengobrol hal selain materi
pelajaran, sehingga membuat mereka tidak fokus. Bila
dilihat dari segi pengajaran, penerapan dari model pembelajaran yang digunakan guru masih kurang mengaktifkan
siswa sehingga pembelajaran cenderung hanya berlangsung dari satu arah
(pihak guru).
SMA Negeri 4 Bandung, yang menjadi obyek dari
penelitian ini mempunyai kondisi yang cukup unik, dari
observasi kelas ditemukan kenyataan pula bahwa sebagian besar siswa kelas
XII mempunyai sifat
individual yang cukup tinggi.
Sifat individualis ini tentu saja akan
menghambat interaksi antara siswa satu
dengan siswa yang lainnya yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini
tentu diperlukan suatu cara khusus
yang berupa optimalisasi diskusi di dalam kelas melalui cara-cara
tertentu yang dapat mendukung jalannya proses pembelajaran.
Dengan memperhatikan
kondisi di atas, maka perlu adanya
perubahan dan perbaikan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu dengan
suatu teknik pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan hasil yang baik jika pembelajaran
tidak hanya berlangsung dari pihak guru saja, namun keterlibatan siswa secara aktif
dalam merespon pembelajaran dari guru dan didukung oleh suasana belajar yang menyenangkan sangat mempengaruhi keberhasilan suatu pembelajaran. Ketika peserta didik mendapat
rangsangan menyenangkan dari lingkungannya, akan terjadi berbagai
�sentuhan tingkat tinggi� pada diri peserta yang membuat mereka lebih aktif
dan kreatif secara mental
dan fisik
Proses pembelajaran
yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung
pada pencapaian target materi
kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari
kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk
bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Upaya peningkatan
prestasi belajar siswa tidak terlepas
dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini,
diperlukan guru kreatif
yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan
dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan
model pembelajaran yang tepat
agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.
Model pembelajaran
inquiry merupakan salah satu
model pembelajaran yang berperan
penting dalam membangun paradigma pembalajaran yang menekankan pada
keaktifan belajar siswa. Menurut Jauhar (2011),
�inquiry berasal dari kata
to inquiry yang berarti ikut
serta atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
mencari informasi dan melakukan penyelidikan�. Dimana
inquiry juga dapat diartikan
sebagai suatu proses bertanya dan mencari tahu jawaban yang dipertanyakan. Pembelajaran
inquiry bertujuan memberikan
cara bagi siswa untuk membangun
kecakapan-kecakapan intelektual
dan keterampilan proses sains
siswa.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan
yang teridentifikasi adalah
sebagai berikut:
a. Masih banyak
siswa yang kurang memahami ilmu kimia
dengan baik.
b. Siswa kurang serius dalam mengikuti
proses pembelajaran.
c. Siswa beranggapan
bahwa kimia merupakan pelajaran yang cukup sulit.
d. Siswa kurang termotivasi untuk belajar sehingga membuat mereka menjadi kurang aktif dan tidak fokus dalam kegiatan
pembelajaran.
e. Prestasi belajar kimia siswa masih
relatif rendah, karena sebagian siswa belum mendapatkan
hasil belajar dengan nilai tinggi
seperti yang diharapkan
oleh guru.
f. Strategi/model pembelajaran
yang digunakan guru masih belum bisa meningkatkan
prestasi belajar kimia siswa
METODA
PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat kualitatif ,� (PTK) atau dalam bahasa inggrisnya
Classroom Action Reset. Penelitian merupakan� suatu� pencermatan� terhadap� kegiatan� belajar� berupa� sebuah� tindakan yang� sengaja dimunculkan� dan� terjadi dalam sebuah
kelas secara bersama. Penelitian Tindakan Kelas merupakan tindakan pemecahan masalah yang dimulai dari: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi, 5) Evaluasi yang telah disusun, dilakukan observasi dan� evaluasi� yang� hasilnya digunakan sebagai� masukan� untuk� melakukan� refleksi yang dijadikan pertimbangan pada rencana tindakan selanjutnya.
a.
Prosedur Penelitian
Menurut Arikunto
(2006:16), model penelitian tindakan
kelas adalah secara garis besar terdapat 4 tahapan� yang lazim untuk diketahui,
yaitu: 1) Perencanaan, 2)
Pelaksanaan,3) Pengamatan, 4) Refleksi.
Adapun model dan penjelasan untuk
masing masing tahapan adalah sebagai berikut :
Sumber data yang diperlukan penelitian yaitu informan, tempat berlangsungnya penelitian, dan dokumen dokumen atau arsip
yang menyangkut keberhasilan
penelitian. Dalam penelitian ini informan yaitu yang memberikan keterangan dan
data-data yang diperlukan diantaranya
adalah:
1.
Siswa kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung.
2.
Guru mata
pelajaran Kimia
b.
Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui
keefektivan suatu metode dalam kegiatan
pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian
yang bersifat menggambarkan
kenyataan atau fakta sesuai dengan
data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui
prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap
kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis
tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan
evaluasi berupa soal tes tertulis
pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan
menggunakan statistik sederhana yaitu:
1.
Untuk menilai Hasil Ulangan/
tes formatif
Peneliti melakukan
penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa
yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
Dengan :���������� X = Nilai rata-rata
Σ
X�� = Jumlah semua nilai siswa
����������� ��
�������� ����������� Σ N�� =� Jumlah
siswa
������
Σ
N
2.
Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara
perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994),
yaitu seorang siswa telah tuntas
belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai
65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut
terdapat 85% yang telah mencapai daya serap
lebih dari atau sama dengan
65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
������������ Σ siswa
Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif (Supardi, 2006:131). Terhadap perolehan hasil belajar dianalisis
secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus
satu dan siklus dua untuk dibandingkan
dengan teknik deskriptif presentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria
deskriptif� prosentase, yang� dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik,
cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut:
Klasifikasi Kategori Tingkatan dan Prosentase
|
No. |
Kriteria
Nilai Penafsiran |
Hasil belajar |
|
1 |
86 - 100 |
Baik Sekali |
|
2 |
71 - 85 |
Baik |
|
3 |
56 - 70 |
Cukup |
|
4 |
41 - 55 |
kurang |
|
5 |
Kurang < 40 |
sangat kurang |
c. Indikator pencapaian.
Berkaitan�
dengan� indikator� kinerja Suwandi dan Madyo Eko Susilo
(2007:36) menyatakan bahwa� �Indikator
kinerja merupakan rumusan� kinerja yang
akan dijadikan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian, �Diharapkan dengan penerapan� metode pembelajaran Inkuiri Terbimbing dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran Kimia� pada siswa
kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 BandungTahun�
Ajaran 2019/2020 dapat meningkat minimal 85 %.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini mudah
dilakukan oleh guru karena tidak memerlukan perbandingan terhadap model-model
pembelajaran serta sambil melaksanakan proses belajar mengajar guru juga bisa
sekalian melakukan penelitian terhadap permasalahan yang ada di kelas.
Penelitian dengan penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk meningkatkan pemahaman
dan hasil
belajar Kimia kelas XII Mipa 5 SMA Negeri 4
Bandung .
Berikut paparan mengenai jadwal penelitian;
Berdasarkan hasil observasi bahwa guru kimia
ketika menjelaskan materi mata pelajaran�
ke siswanya mudah dipahami dan guru peduli terhadap siswanya yang
mengalami kesulitan. Akan tetapi guru terkadang menjelaskan materi belum
keseluruhan yang terdapat pada bab mata
pelajaran kimia. Setelah memberikan beberapa latihan soal terhadap siswanya
tanpa adanya pengulangan kembali ataupun meninjau apakah siswanya sudah
memahami materi. Materi pelajaran kimia yang seharusnya di laksanakan praktikum
terkadang tidak terlaksanakan hanya pembelajaran seperti biasa di kelas.
Hasil observasi yang diperoleh pada saat kegiatan
pembelajaran berlangsung adalah siswa terlihat minat serta motivasi dalam
belajar masih kurang, dan ada beberapa siswa yang membahas pelajaran.
Berbeda dengan saat jam pelajaran sedang berlangsung, rata-rata siswa kurang aktif
dan cenderung diam. Ketika diminta untuk mengerjakan soal nampak sekali
siswa-siswa kesulitan untuk menyelesaikan
soal. Jika minat dan keaktifan siswa ini tinggi dan diberdayakan, maka akan
berdampak pada prestasi belajarnya.
Berdasarkan hasil penjajagan dan observasi
diperoleh hal-hal sebagai berikut :
�
Banyak siswa kurang memperhatikan dan memiliki motivasi
terhadap mata pelajaran kimia
�
Banyak siswa yang bercakap-cakap dengan temannya ketika
guru sedang mengajar
�
Keterbukaan, kreatifitas dan rasa ingin tahu siswa dengan
materi ajar belum muncul
�
Kerjasama siswa dalam belajar secara berkelompok sangat
kurang
�
Saling menghargai sesama teman dalam belajar masih sangat
belum tampak
�
Saling hormat menghormati dan toleransi kepada teman
ketika belajar juga masih rendah
�
Aktivitas dan pertisipasi siswa dalam kegiatan belajar
mengajar masih sangat kurang
�
Komukasi yang terjalin masih bersifat satu arah yaitu
dari guru kepada murid, sedangkan komunikasi dari murid kepada guru masing
kurang
�
Banyak siswa yang duduk, dengar dan sesekali mencatat
ketika guru sedang mengajar. Dominasi guru dalam belajar mengajar IPS masih
sangat menonjol.
a.
Deskripsi Tes Awal / Pra Siklus
Bertolak
dari kondisi awal kelas dan alasan-alasan yang dikemukakan di atas peneliti memandang
perlu diadakan suatu perbaikan untuk sedikit mengatasi persoalan dan keadaan
belajar mengajar ke arah pembelajaran lebih baik dengan berupaya melibatkan
siswa dengan kegiatan belajar mengajar supaya peningkatan aktivitas belajar
yang diperoleh selama kegiatan belajar mengajar terus berlangsung. Hal ini
dapat dilihat dari tabel aktivitas siswa berikut ini:
Tabel 1. Tabel Aktivitas Siswa
Pra Siklus
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah |
F |
|
1 |
Ketepatan dalam mencari pasangan. |
10 |
27,77% |
|
2 |
Siswa yang bertanya baik kepada guru maupun kepada siswa lain |
8 |
22,22% |
|
3 |
Diskusi kelompok |
15 |
41,66% |
|
4 |
Menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat |
11 |
30,55% |
|
5 |
Mengerjakan soal latihan di depan kelas. |
7 |
19,44% |
|
6 |
Mengerjakan soal diskusi di buku catatan. |
12 |
33,33% |
Dari tabel diatas diketahui aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran belum maximal, masih rendahnya aktivitas belajar kimia menunjukkan
bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep kimia. Hal ini
dikarenakan beberapa konsep yang ada dalam kimia bersifat abstrak. Selain itu
juga disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan guru bersifat monoton
dan kurang bervariasi. Dikatakan kurang bervariasi, karena guru mendominasi
pembelajaran dengan metode ceramah dan tidak melibatkan siswa secara aktif.
Dengan keadaan seperti itu, maka perlu diterapkan metode pembelajaran yang
dapat mengaktifkan siswa serta menarik minat siswa.
A.
Siklus I
a.
Perencanaan Tindakan I
Berpijak dari kondisi dan keadaan kelas serta temuan data tentang
kendala-kendala dan permasalahan yang ada yang dapat menghambat situasi belajar
mengajar yang lebih baik supaya terjadi peningkatan aktivitas belajar siswanya,
peneliti berusaha untuk dapat mengatasi kendala-kendala dan persoalan tersebut
dengan menganalisis untuk dimaknai selanjutnya dituangkan ke dalam perencanaan
tindakan.
Perencanaan atau persiapan tindakan adalah berupa pembelajaran kimia dengan menerapkan metoda pembelajaran
yang baru yaitu Metode Inkuiri Terbimbing. Dengan menerapkan metoda ini diharapkan akan terjadi
peningkatan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia sebagai upaya perbaikan pembelajaran yang biasa dilakukan
oleh guru dengan metoda ceramah atau pemberian tugas.
Tahapan perencanaan tindakan yang dilakukan peneliti secara kongkret antara
lain adalah sebagai berikut :
1. Menyusun rencana atau
persiapan pengajaran untuk siklus I dan dengan menerapkan metoda pembelajaran� yang divariasi dengan diskusi secara
berkelompok.
2. Menyusun dan menyiapkan Lembar
Kerja Siswa (LKS) untuk masing-masing rencana pengajaran yang digunakan pada
siklus I, dibahas dan diselesaikan oleh masing-masing kelompok belajar siswa.
3. Menyusun dan menyiapkan
instrumen Observasi Belajar Siswa untuk mengamati aktivitas belajar siswa
selama menerapkan metoda belajar secara berkelompok dalam mata pelajaran kimia.
4. Menyusun dan menyiapkan
Lembar Evaluasi (tes) untuk masing-masing rencana pengajaran yang digunakan
untuk mengetahui dan mengukur hasil belajar siswa dari setiap tindakan yang
telah dilakukan
5. Menyusun dan menyiapkan
daftar cek sebagai refleksi dari kegiatan belajar mengajar untuk masing-masing
tindakan yang digunakan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan didasarkan atas
pendapat dan pandangan siswa tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
dengan menerapkan metoda diskusi secara berkelompok.
b.
Pelaksanaan Tindakan I
Pelaksanaan tindakan penelitian merupakan pelaksanaan dari perencanaan
tindakan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pada pelaksanaan tindakan ini
memungkinkan guru untuk melakukan intervensi terhadap rencana yang telah
dibuat. Pelaksanaan tindakan penelitian
ini menekankan pada penerapan metoda pembelajaran yang telah dirancang dengan variasi belajar secara berkelompok dalam upaya untuk
meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia. Pelaksanaan tindakan penelitian
dilakukan tanpa memberitahukan kepada siswa.
Pelaksanaan tindakan pertama merupakan aktualisasi dari rencana pengajaran
yang telah dirumuskan dan disiapkan sebelumnya. Pada pelaksanaan tindakan
pertama langkah-langkah yang ditempuh disesuaikan dengan apa yang tercantum
dalam rencana pengajaran yang telah dibuat sebelumnya.
Pelaksanaan tindakan pertama dengan menerapkan metoda diskusi secara
berkelompok untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia secara umum dapat disimpulkan
sebagai berikut :
�
Siswa berdo'a dan memberi salam kepada guru, guru
mengabsen siswa.
�
Guru memberikan arahan dan penjelasan kepada siswa untuk
membentuk kelompok yang setiap kelompoknya tidak lebih dari 4 orang siswa. Dalam pengarahan tersebut siswa diberi
kebebasan untuk memilih teman kelompoknya.
�
Dalam memilih dan menentukan teman untuk belajar secara
kelompok, kebanyakan siswa memilih berdasarkan tempat duduk yang berdekatan
dengan dirinya, sehingga teman sebangkunya menjadi teman kelompoknya.
�
Setelah seluruh siswa yang hadir dengan jumlah 36 orang siswa tersebut, maka terbentuklah kelompok. Mereka
terlihat senang dengan raut muka yang berseri-seri karena mendapatkan teman
untuk belajar secara berkelompok.
�
Karena tak seperti biasa, mereka tampak antusias dan
bersemangat untuk memulai pelajaran ketika guru memberi penjelasan tentang
materi kimia yang akan dipelajari.
�
Dalam menyelesaikan dan menjawab latihan soal, mereka betul-betul bekerja sama
dan serius dalam kelompoknya. Dan tidak mau ketinggalan dengan kelompok
lainnya.
�
Guru berkeliling ke kelompok-kelompok, sambil membimbing,
mengarahkan dan membantu siswa (kelompok) yang kesulitan menyelesaikan LKS-nya.
�
Guru mengumpulkan LKS dari setiap kelompok. Kemudian
membagikan lembar evaluasi (tes) kepada setiap siswa untuk mengukur sejauh mana
siswa dapat memahami materi yang telah dipelajari secara berkelompok.
�
Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan lembar
evaluasi (tes), guru mengumpulkannya, kemudian membagikan daftar cek kepada
siswa untuk melihal persepsi siswa tentang kegiatan belajar mengajar yang telah
mereka alami.
c.
Observasi / pengamatan Tindakan I
Setelah guru melakukan tindakan penerapan metode belajar untuk meningkatkan
aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia �di kelas XII, guru melakukan analisis dan refleksi terhadap
pelaksanaan tindakan petama tersebut berdasarkan data dan informasi yang
berhasil dihimpun selama kegiatan belajar mengajar melalui pengamatan. Data dan
informasi yang diperoleh adalah hasil belajar
siswa dalam
mengerjakan LKS serta
aktivitas siswa dalam mangikuti kegiatan pembelajaran pada tindakan pertama
adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Observasi Keaktivan Siswa Siklus I
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah |
F |
|
1 |
Ketepatan dalam mencari pasangan. |
20 |
55,55% |
|
2 |
Siswa yang bertanya baik
kepada guru maupun kepada siswa lain |
18 |
50,00% |
|
3 |
Diskusi kelompok |
24 |
66,66% |
|
4 |
Menjawab pertanyaan dan memberikan
pendapat |
17 |
47,22% |
|
5 |
Mengerjakan soal latihan di depan kelas. |
15 |
41,66% |
|
6 |
Mengerjakan soal diskusi di buku catatan. |
20 |
55,55% |
Dari tabel
diatas diketahui aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada
tindakan siklus I ini sudah ada peningkatan yang sangat baik, hal ini
dikarenakan siswa sudah mulai memahami kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
penerapan model pembelajaran Inkuiri terbimbing, namun masih ada beberapa siswa
yang belum aktif dan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran karena model
pembelajaran ini masih dianggap hal yang baru dan perlu waktu dalam
penerapannya, terbukti dari hasil nilai yang dicapai siswa pada tindakan Siklus
I ini masih belum mencapai nilai KKM yang ditentukan, hal ini dapat dilihat
dari tabel hasil nilai siklus I berikut ini
Tabel 3. Hasil Test Siklus I
|
NO |
NAMA SISWA |
NILAI TEST |
|
1 |
Adrian Ferdinand Jotham |
60 |
|
2 |
Ahnaf Yemina Putri |
60 |
|
3 |
Akmal Lutfi Muzzaki |
65 |
|
4 |
Alif Muhammad Abdillah |
65 |
|
5 |
Amanda Tri Kartika |
65 |
|
6 |
Ananda Suherlan |
70 |
|
7 |
Dania Nur Lathifah Yuliani |
70 |
|
8 |
Difa Zahrah Fitriani |
60 |
|
9 |
Dininta Nur Ayunanto |
65 |
|
10 |
Dio Vitto Namora |
60 |
|
11 |
Ernamawati Putri Saleha |
70 |
|
12 |
Gathan Rasendriya Khumar |
65 |
|
13 |
Gita Amelia Marianto Limbong |
65 |
|
14 |
Hilmi Fadhiila Irawan |
60 |
|
15 |
Janetha Syawalina |
60 |
|
16 |
Jessica Vera Priscilla |
65 |
|
17 |
Joshua Samuel |
65 |
|
18 |
Karina Aprillia |
65 |
|
19 |
Larissa Adwitya
Laili |
70 |
|
20 |
Maria Sandikania
Mulya |
70 |
|
21 |
Muhamad Ramdhani
Husaini Fikri |
60 |
|
22 |
Muhammad Imam Muttaqin |
65 |
|
23 |
Nurul Izzati
Fauzia |
60 |
|
24 |
Onni Angelica Rheinilan |
70 |
|
25 |
Reihan Mouzan Erlangga |
65 |
|
26 |
Reza Sylan
Supratman |
65 |
|
27 |
Rizki Fitriyani |
65 |
|
28 |
Sahara E. Harman |
70 |
|
29 |
Salma Shabira
Rahmadanti |
70 |
|
30 |
Salsabila Nur Fadilah Kusumah |
60 |
|
31 |
Sisil Safitri |
65 |
|
32 |
Syifa Destiana |
65 |
|
33 |
Triyana Arfan Azhar |
70 |
|
34 |
Viko Musadad |
70 |
|
35 |
Yoga Bagus
Pambudi |
60 |
|
36 |
Yubi Wilisetya |
65 |
|
NILAI RATA - RATA |
65 |
|
Berdasarkan data hasil nilai dalam mengerjakan LKS pada
pelaksanaan tindakan pertama ini ternyata bahwa siswa �yang dapat mengerjakan LKS dengan benar adalah
masih� 60,0%, siswa yang
memperoleh nilai tertinggi hanya mencapai nilai 70 dan nilai terendah adalah 60 dengan rata � rata kelas mencapai 65 % hal ini masih dibawah
nilai ketuntasan yang telah ditentukan, �Sementara aktivitas
belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan dari tindakan sebelum
diterapkannya model pembelajaran.
d.
Refleksi Tindakan I
Data yang diperoleh melalui instrumen observasi aktivitas belajar siswa
yang telah disiapkan dalam upaya untuk mengungkap dan mengetahui aktivitas
belajar siswa selama mengikuti kegiatan belajar yang menerapkan model pembelajaran ini pada pelaksanaan tindakan I, Bila menunjuk pada tabel� di atas penerapan metoda belajar ini sudah mengalami
peningkatan, siswa mulai mengalami
perubahan sikap dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, namun hasil nilai
yang dicapai saat mengerjakan Lembar kerja siswa masih perlu
diadakan perbaikan lagi hal ini
dikarenakan siswa masih bingung dan belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan, guru / peneliti juga belum sepenuhnya menguasai metode yang diberikan kepada siswa, masih perlu
pemahaman lebih lanjut agar tercapai tujuan dari kegiatan
penelitian ini. Untuk itu
dilakukan lagi penelitian selanjutnta pada siklus II.
B.
Siklus �II
a.
Perencanaan Tindakan II
Berdasarkan data hasil belajar siswa pada pelaksanaan siklus I, menunjukkan
persentasi hasil belajar yang belum maksimal suntuk jumlah siswa yang
mendapatkan nilai standar minimal ke atas. Dari hasil tersebut, pelaksanaan
siklus I belum memenuhi standar minimal, maka perlu diadakan perbaikan untuk
mencapai hasil yang diharapkan sehingga kegiatan penelitian dilanjutkan dengan
pelaksanaan siklus II, menunjukkan persentasi hasil belajar yang belum
maksimal.
Data hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa kemampuan siswa
masih rendah. Oleh karena itu, pelaksanaan Siklus II, kegiatan pembelajaran
lebih ditekankan pada penajaman serta menghilangkan kebiasaan-kebiasan yang
jelek terutama kurang konsentrasi, sekaligus pemahaman terhadap teknik
pembelajaran yang konsentratif dan berdampak pada upaya komunikasi yang
berkomunikatif.
Berdasarkan uraian di atas, maka alternatif tindakan untuk lebih
meningkatkan kemampuan siswa pada pelaksanaan Siklus II dapat ditempuh dengan
cara sebagai berikut:
a. Menyusun� rencana pelaksanaan pembelajaran yang efektif
dan lebih menyenangkan siswa yang berorientasi pada pemahaman yang baik dan benar.
b. Lebih memotivasi dan
mengadakan pendekatan-pendekatan baru yang tidak saja menyenangkan akan� tetapi berdaya guna dan berhasil guna sehingga
apa yang diharapkan siswa tercapai dengan memuaskan.
c. Bahan ajar tentang materi pelajaran diperbanyak dan diminta
kepada siswa untuk memahaminya dan mencoba melakukan pelatihan sendiri di
rumah.
d. Menggunakan media
pembelajaran yang cocok dengan karakteristik materi, dan
e.
Anak-anak yang memiliki kemampuan kurang diberikan
perhatian yang lebih sehingga anak-anak tersebut termotivasi untuk melakukan
kegiatan
b.
Pelaksanaan Tindakan II
Pelaksanaan tindakan kedua juga merupakan aktualisasi dari rencana
pengajaran yang telah dirumuskan dan disiapkan sebelumnya berdasarkan hasil
analisis dan refleksi dari pelaksanaan tindakan pertama. Pada pelaksanaan
tindakan kedua kegiatan yang dilakukan berdasarkan dengan apa yang telah
tercantum dalam pengajaran yang telah dibuat sebelumnya untuk tindakan kedua
ini adalah sebagai berikut :
�
Siswa berdo'a dan memberi salam kepada guru, kemudian
guru mengabsen, sama halnya dengan tindakan pertama
�
Guru memberikan pengarahan untuk setiap kelompok tidak
lebih dari 4 orang. Pemilihan teman untuk
kelompok diserahkan sepenuhnya kepada siswa, dan apabila memungkinkan dalam
kelompok itu ada teman dari jenis kelamin yang berbeda. �Namun nampaknya dalam
memilih teman kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda para siswa belum siap.
�
Seperti halnya pada tindakan pertama, para siswa memilih
teman kelompok berdasarkan tempat duduk yang berdekatan. Dengan bantuan guru
akhirnya seluruh siswa dapat tertampung di dalam kelompok belajar walaupun
tidak ada satu kelompok pun yang anggotanya berlainan jenis kelamin.
�
Kemudian guru memberikan LKS yang berupa soal untuk
pelaksanaan tindakan kedua ini. Setiap kelompok ditugasi untuk membahas dan
menyelesaikan LKS berkenaan dengan materi yang disampaikan
�
Dalam menyelesaikan dan menjawab LKS, siswa dalam
kelompok betul-betul bekerja satu sama lain bahu membahu dan serius untuk bisa
menjawab dan mengisi LKS.
�
Seperti halnya pada tindakan pertama, guru berkeliling
sambil membimbing, mengarahkan dan membantu siswa yang mengalami kesulitan
dalam mengerjakan dan meyelesaikan LKS.
�
Selesai mengerjakan LKS guru mengumpulkannya, guru
membagikan lembar evaluasi kepada siswa untuk mengetes kemampuan siswa dalam
memahami pelajaran yang sudah dipelajari. Guru membagikan daftar cek kepada
setiap siswa untuk melihat persepsi siswa tentang kegiatan belajar secara
berkelompok yang telah dilaksanakan
c.
Observasi / pengamatan Tindakan II
Setelah guru melakukan tindakan kedua dengan menerapkan metoda pembelajaran
dalam mata pelajaran kimia, guru melakukan analisis
dan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan kedua berdasarkan data dan informasi
yang berhasil dihimpun. Data dan informasi yang diperoleh dari hasil belajar
dan aktivitas siswa dalam mengerjakan LKS pada tindakan kedua
adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Observasi Keaktivan Siswa Siklus II
|
No |
Aspek yang diamati |
Jumlah |
F |
|
1 |
Ketepatan dalam mencari pasangan. |
30 |
83,33% |
|
2 |
Siswa yang bertanya baik kepada guru maupun kepada siswa lain |
27 |
75,00% |
|
3 |
Diskusi kelompok |
35 |
97,22% |
|
4 |
Menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat |
29 |
80,55% |
|
5 |
Mengerjakan soal latihan di depan kelas. |
21 |
58,33% |
|
6 |
Mengerjakan soal diskusi di buku catatan. |
33 |
91,66% |
Dari tabel keaktivan siswa pada tindakan siklus II diatas dapat diketahui adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan
pembelajaran, artinya dengan penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing ini dapat membantu meningkatkan aktivitas siswa yang akan berdampak pula pada hasil nilai yang dicapai oleh siswa, hal ini
dapat dilihat dari tabel hasil
nilai berikut ini,
Tabel 5. HASIL TEST SIKLUS
II
|
NO |
NAMA SISWA |
NILAI TEST |
|
1 |
Adrian Ferdinand Jotham |
75 |
|
2 |
Ahnaf Yemina Putri |
80 |
|
3 |
Akmal Lutfi Muzzaki |
90 |
|
4 |
Alif Muhammad Abdillah |
85 |
|
5 |
Amanda Tri Kartika |
90 |
|
6 |
Ananda Suherlan |
90 |
|
7 |
Dania Nur Lathifah Yuliani |
90 |
|
8 |
Difa Zahrah Fitriani |
80 |
|
9 |
Dininta Nur Ayunanto |
85 |
|
10 |
Dio Vitto Namora |
80 |
|
11 |
Ernamawati Putri Saleha |
90 |
|
12 |
Gathan Rasendriya Khumar |
85 |
|
13 |
Gita Amelia Marianto Limbong |
85 |
|
14 |
Hilmi Fadhiila Irawan |
80 |
|
15 |
Janetha Syawalina |
85 |
|
16 |
Jessica Vera Priscilla |
80 |
|
17 |
Joshua Samuel |
80 |
|
18 |
Karina Aprillia |
85 |
|
19 |
Larissa Adwitya
Laili |
80 |
|
20 |
Maria Sandikania
Mulya |
80 |
|
21 |
Muhamad Ramdhani
Husaini Fikri |
75 |
|
22 |
Muhammad Imam Muttaqin |
80 |
|
23 |
Nurul Izzati
Fauzia |
75 |
|
24 |
Onni Angelica Rheinilan |
80 |
|
25 |
Reihan Mouzan Erlangga |
80 |
|
26 |
Reza Sylan
Supratman |
75 |
|
27 |
Rizki Fitriyani |
80 |
|
28 |
Sahara E. Harman |
80 |
|
29 |
Salma Shabira
Rahmadanti |
80 |
|
30 |
Salsabila Nur Fadilah Kusumah |
75 |
|
31 |
Sisil Safitri |
90 |
|
32 |
Syifa Destiana |
80 |
|
33 |
Triyana Arfan Azhar |
90 |
|
34 |
Viko Musadad |
80 |
|
35 |
Yoga Bagus
Pambudi |
80 |
|
36 |
Yubi Wilisetya |
75 |
|
NILAI RATA - RATA |
81,94 |
|
Berdasarkan hasil observasi
dan pengamatan yang dilakukan
pada kegiatan penelitian tindakan II ini, siswa sudah banyak
yang mencapai hasil nilai yang baik yaitu perolehan nilai tertinggi mencapai 90 dan nilai terendah hanya 75 itupun sudah sampai
pada batas minimum yang harus
diperoleh siswa, nilai rata � rata kelas mencapai 81.94 %. Aktivitas siswa pun sudah sangat baik dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran.
d.
Refleksi Tindakan II
�� Bahwa penerapan metoda pembelajaran Inkuiri Terbimbing
ini dapat dikatakan cukup efektif untuk mencapai tujuan yang
ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar kimia. Terbukti dengan hasil
tes yang telah dicapai siswa. Berdasarkan hasil analisis data dalam pelaksanaan Siklus
II diperoleh jumlah siswa yang mendapat nilai standar minimal ke atas
mengalami peningkatan,� guru / peneliti
sudah bisa mengatasi hambatan � hambatan yang terjadi serta sudah menguasai
metode pembelajaran yang diterapkan, siswa sudah sangat antusias dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran.
Pembahasan Hasil Penelitian
1. Hasil Belajar Siswa
a. Hasil Belajar Kognitif
Penilaian
hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari tes pada tiap akhir siklus. Soal
tes siklus yang digunakan untuk mengukur penguasaan kompetensi dan tingkat
pemahaman siswa sebelum digunakan telah diujicobakan terlebih dahulu pada siswa
kelas tiga yang telah memperoleh materi pembelajaran.
b. Hasil Belajar Afektif
Penilaian
afektif siswa diperoleh dengan melakukan penyebaran angket pada tiap akhir
siklus. Dari hasil angket tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui
ketuntasan belajar afektif siswa. Penilaian afektif siswa diukur dari beberapa
aspek, meliputi aspek kesadaran diri, kecakapan berfikir rasional, kecakapan
social dan kecakapan akademik siswa.
c. Hasil Belajar
Psikomotorik
Penilaian
psikomotorik siswa diukur dari pengamatan langsung saat melakukan praktikum.
Aspek yang diamati adalah keterampilan menyiapkan alat dan bahan, keterampiolan
melakukan percobaan, keterampilan membaca hasil percobaan dan keterampilan
mengkomunikasikan hasil pengamatan.
Rekapitulasi hasil nilai
siswa antar siklus dapat dilihat
dari tabel berikut ini:
Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Nilai Siswa antar Siklus
|
No. |
Keterangan |
Siklus I |
Siklus II |
|
1 |
Nilai Tertinggi |
70 |
90 |
|
2 |
Nilai Terendah |
60 |
75 |
|
3 |
Nilai Rata - rata |
65 |
81,94 |
|
4 |
Ketuntasan (%) |
27,77% |
100 |
Dari hasil
penelitian tindakan kelas tentang penerapan metoda pembelajaran
Inkuiri Terbimbing dalam mata pelajaran kimia di Kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 �Bandung diperoleh hasil temuan sebagai berikut
:
a. Sebagaimana terungkap
pada pelaksanaan tindakan I dan Tindakan II, guru sebelum memulai kegiatan
belajar mengajar dengan menerapkan metoda pembelajaran memberikan arahan dan penjelasan
kepada siswa. Dalam pengarahan yang diberikan guru, siswa diberi kebebasan dan
keleluasaan untuk memilih dan menentukan teman kelompoknya sendiri sesuai
dengannya.
b. Pada siklus I, Siswa yang
sudah mendapatkan teman kelompok belajar tampak raut muka yang berseri-seri,
gembira dan senang, sedangkan mereka yang belum mendapatkan teman kelompoknya
tampak bingung untuk memilih teman kelompoknya.
c. Pada siklus II, walaupun
guru memberikan pejelasan dan pengarahan bahwa dalam pemilihan dan pembentukan
kelompok belajar, siswa disarankan boleh untuk membentuk kelompok yang
anggotanya berlainan jenis kelamin. Akan tetapi siswa nampaknya tidak mau
memilih atau menentukan anggota kelompok yang berlainan jenis kelamin, sehingga
tak satupun kelompok yang anggotanya berlainan jenis kelamin.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh selama melakukan penelitian
tindakan kelas tentang penerapan metoda Inkuiri Terbimbing untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata
pelajaran Kimia Kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung, maka dapat diambil
kesimpulan : Pemilihan
atau penetuan teman dalam membentuk kelompok belajar adalah didasarkan atas
tempat duduk yang berdekatan. Teman yang duduk satu bangku dengan sendirinya
menjadi teman kelompok. Kemudian pemilihan teman anggota kelompok belajar dan
pemilihan satu orang teman lainnya lagi teman yang paling berdekatan dengan
siswa tersebut. Keterampilan-keterampilan yang dikembangkan ketika siswa belajar secara
bersama-sama dalam kelompok berdasarkan pendapat dan sikap siswa yang terungkap
dari daftar cek yang diisi oleh seluruh siswa berkenaan aspek-aspek. Aktivitas
belajar siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menerapkan metoda
pembelajaran menunjukan peningkatan. Perolehan hasil
belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang menerapkan metode belajar
menunjukan peningkatan yang signifikan berdasarkan hasil tes yang dilakukan
pada siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar
DAFTAR
PUSTAKA
Agus Suprijono. 2011.
Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Gramedia Pustaka
Jaya.
A.M. Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:CV.Rajawali
Anita
Lie.1994.Cooperative Learning. Jakarta : PT. Grasindo.
Arends.1997.http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/model
pengajaran langsung.html. di akses
12 nopember 20014.�
Arends 1997.
Model-Model Pembelajaran Inovatif
berorientasi Konstuktivitis,Jakarta:
Arikunto, Suharsimi.
2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.�
DePorter, Bobbi dan Hernacki,
Mike. 2013. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa
Learning.
Elliot (1991:78)
dan Rochiati (2006:121) dokumentasi
dapat membantu dalam mengumpulkan data
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, tahun 2009), hal. 4
Johnson. (1993).
Model Cooperative Learning Type Jigsaw. Jakarta: Erlangga.
McClelland, D.C.
1987. Human Motivation. New York : Cambridge
University
Press
Moleong, L.J. (2011). Metodologi
Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, tahun 2008), hal. 2
Muhammad Thobrani dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-ruzz
Media, tahun 2011), hal.
395.
Nasution. 1982. Metode
Research. Jakarta : Bumi Aksara.
Nana Syaodih Sukmadinata. 2007. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Prayitno. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Proyek Pengembangan
Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Patilima, 2005. Teknik Analisis
Data. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Roestiyah NK., Strategi Belajar
Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2001
Sardiman A.M.2011. Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
PT.RajaGrafindo Persada
Slavin.1994.
Model Pembelajaran Cooperatif
Script. Jakarta: Airlangga.
Slavin.1995. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta : Alvabeta.
Suwandi, Sarwiji dan Madyo Ekosusilo. 2007. Pendidikan
dan Latihan Profesi Guru (PLPG).
Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon
13.
Syukri S, Kimia Dasar 1, (Bandung: Penerbit ITB, tahun 1999), hal. 1.