UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN DAN HASIL BELAJAR KIMIA PADA MATERI SEL VOLTA DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI TERBIMBING DI KELAS XII MIPA 5 / SEMESTER 1 SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2019/2020

 

Tiktik Mustika Budhi

SMA Negeri 4 Bandung

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 10-10-2022

Revised: 18-10-2022

Accepted: 30-10-2022

 

Keywords: analytical ability, guided inquiry

 

 

Kata Kunci: kemampuan analitis, inkuiri terbimbing

 

 

Abstract

This study aims to determine the effect of the guided inquiry learning model that is taught to students which is operationally seen in significant differences between student learning outcomes. The purpose of the study was to improve the analytical thinking skills of students in class XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung for the 2019/2020 academic year through the application of guided inquiry. The method used in this study is a questionnaire (questionnaire), documentation and observation. The collected data were analyzed by descriptive percentage techniques and simple linear analysis. The results showed that the application of the Guided Inquiry learning method could improve learning outcomes and understanding of subject matter in class XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung. Based on the data on the results of scores in working on the LKS in the implementation of this first action, it turns out that students who can do LKS correctly are still below 60.0%, students who get the highest score only reach 70 and the lowest score is 60 with the average class reaching 65. %, in this action research activity II, many students have achieved good grades, namely the acquisition of the highest score reaching 90 and the lowest score only 75 and even then it has reached the minimum limit that must be obtained by students, the class average value reaches 81.94%. Improvement occurred in every indicator of analytical thinking ability. Based on the results of the study, it was concluded that the application of the guided inquiry learning model improved the analytical thinking skills of class XII MIPA 5 students at SMA Negeri 4 Bandung for the 2019/2020 academic year.

 

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing yang dibelajarkan pada peserta ddik yang secara operasionalnya dilihat pada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar peserta didik. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2019/2020 melalui penerapan inkuiri terbimbing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kuesioner), dokumentasi dan observasi.data yang dikumpulkan dianalisis dengan tekhnik deskriftif presentase dan analisis linier sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan metode pembelajaran Inkuiri Terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman materi pelajaran pada siswa kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung. Berdasarkan data hasil nilai dalam mengerjakan LKS pada pelaksanaan tindakan pertama ini ternyata bahwa siswa� yang dapat mengerjakan LKS dengan benar adalah masih dibawah 60,0%, siswa yang memperoleh nilai tertinggi hanya mencapai nilai 70 dan nilai terendah adalah 60 dengan rata � rata kelas mencapai 65 %, pada kegiatan penelitian tindakan II ini, siswa sudah banyak yang mencapai hasil nilai yang baik yaitu perolehan nilai tertinggi mencapai 90 dan nilai terendah hanya 75 itupun sudah sampai pada batas minimum yang harus diperoleh siswa,� nilai rata � rata kelas mencapai 81.94 %. Peningkatan terjadi pada setiap indikator kemampuan berpikir analitis. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing meningkatkan kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2019/2020

 

Corresponding Author: Tiktik Mustika Budhi�

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Oleh karena itu, dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntunan masyarakat.

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. Dalam konteks penyelenggaraan ini, guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dan berpedoman pada seperangkatn aturan dan rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan belajar dan mengajar antara pendidik dan peserta didik.

Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu tindakan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran.

Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.

Kimia adalah salah satu mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa di Sekolah Menengah Atas, karena mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu kimia, sebagai bagian ilmu pengetahuan alam, mempelajari komposisi dan struktur zat kimia, serta hubungan keduanya dengan sifat zat tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada zaman sekarang ini tidak terlepas dari penguasaan terhadap ilmu kimia sebagai ilmu dasar. Mempelajari ilmu kimia merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah, kritis dan sistematis yang berguna untuk mengembangkan kemampuan berpikir

Pelajaran kimia yang diajarkan kepada siswa bertujuan untuk dapat menguasai konsep-konsep kimia yang saling berkaitan serta penerapannya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk kemajuan teknologi, kelestarian lingkungan dan dapat bersikap ilmiah dan menyadari akan kebesaran dan kekuasaan Sang PenciptaNya. Untuk dapat terwujudnya apa yang diharapkan di atas tidak terlepas dari pendidikan yang berkualitas yang sangat erat hubungannya dengan meningkatnya kualitas proses pembelajaran yang ditunjang dengan adanya motivasi siswa. Banyak langkah-langkah yang dilakukan untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya penambahan waktu belajar dengan mengadakan kelas-kelas belajar sore, namun perolehan nilai siswa masih belum mencapai target yang diharapkan. Kemungkinan besar hal tersebut di atas dapat diperbaiki dengan penggunaan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, yaitu pembelajaran yang berpusat pada murid (student centered).

Dilihat dari kondisi saat ini, masih banyak siswa yang tidak memahami ilmu kimia dengan baik. Kimia merupakan salah satu mata pelajaran bidang sains yang relatif sangat sulit bagi siswa. Sulitnya memahami konsep dan menerapkan banyak rumus dalam perhitungan kimia membuat siswa menjadi bingung dan lamban dalam mempelajari ilmu kimia. Kurangnya pemahaman siswa tersebut dapat dilihat pada rendahnya prestasi yang diperoleh siswa pada pelajaran kimia

Untuk� dapat menentukan� teknik� pembelajaran yang� sesuai itu tentu saja terlebih dahulu� harus dilakukan� observasi� terhadap peserta didik. Dari observasi itu akan didapatkan permasalahan penting dan utama yang dapat digunakan sebagai modal untuk menentukan pemecahan masalah itu.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan guru kimia, diperoleh informasi bahwa prestasi belajar kimia siswa umumnya masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang sebagian diantaranya belum mencapai nilai tinggi seperti yang diharapkan oleh guru tersebut. Nilai rata-rata ulangan siswa adalah 70, sedangkan nilai yang diharapkan oleh guru kimia di sekolah tersebut adalah minimal 80 atau bahkan lebih besar dari 80. Rendahnya prestasi belajar kimia siswa tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru saja tanpa berusaha untuk mengembangkan dan mencari ide-ide yang berkaitan dengan topik yang disajikan, rendahnya motivasi dan semangat belajar siswa, dan siswa seringkali berinteraksi dengan teman-temannya bukan untuk membahas materi pelajaran melainkan hanya untuk mengobrol hal selain materi pelajaran, sehingga membuat mereka tidak fokus. Bila dilihat dari segi pengajaran, penerapan dari model pembelajaran yang digunakan guru masih kurang mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran cenderung hanya berlangsung dari satu arah (pihak guru).

SMA Negeri 4 Bandung, yang menjadi obyek dari penelitian ini mempunyai kondisi yang cukup unik, dari observasi kelas ditemukan kenyataan pula bahwa sebagian besar siswa kelas XII mempunyai sifat individual yang cukup tinggi. Sifat individualis ini tentu saja akan menghambat interaksi antara siswa satu dengan siswa yang lainnya yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini tentu diperlukan suatu cara khusus yang berupa optimalisasi diskusi di dalam kelas melalui cara-cara tertentu yang dapat mendukung jalannya proses pembelajaran.

Dengan memperhatikan kondisi di atas, maka perlu adanya perubahan dan perbaikan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu dengan suatu teknik pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan hasil yang baik jika pembelajaran tidak hanya berlangsung dari pihak guru saja, namun keterlibatan siswa secara aktif dalam merespon pembelajaran dari guru dan didukung oleh suasana belajar yang menyenangkan sangat mempengaruhi keberhasilan suatu pembelajaran. Ketika peserta didik mendapat rangsangan menyenangkan dari lingkungannya, akan terjadi berbagai �sentuhan tingkat tinggi� pada diri peserta yang membuat mereka lebih aktif dan kreatif secara mental dan fisik

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.

Upaya peningkatan prestasi belajar siswa tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, diperlukan guru kreatif yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan disukai oleh peserta didik. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.

Model pembelajaran inquiry merupakan salah satu model pembelajaran yang berperan penting dalam membangun paradigma pembalajaran yang menekankan pada keaktifan belajar siswa. Menurut Jauhar (2011), �inquiry berasal dari kata to inquiry yang berarti ikut serta atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi dan melakukan penyelidikan�. Dimana inquiry juga dapat diartikan sebagai suatu proses bertanya dan mencari tahu jawaban yang dipertanyakan. Pembelajaran inquiry bertujuan memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual dan keterampilan proses sains siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:

a.     Masih banyak siswa yang kurang memahami ilmu kimia dengan baik.

b.    Siswa kurang serius dalam mengikuti proses pembelajaran.

c.     Siswa beranggapan bahwa kimia merupakan pelajaran yang cukup sulit.

d.    Siswa kurang termotivasi untuk belajar sehingga membuat mereka menjadi kurang aktif dan tidak fokus dalam kegiatan pembelajaran.

e.     Prestasi belajar kimia siswa masih relatif rendah, karena sebagian siswa belum mendapatkan hasil belajar dengan nilai tinggi seperti yang diharapkan oleh guru.

f.     Strategi/model pembelajaran yang digunakan guru masih belum bisa meningkatkan prestasi belajar kimia siswa

 

METODA PENELITIAN

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat kualitatif ,� (PTK) atau dalam bahasa inggrisnya Classroom Action Reset. Penelitian merupakan� suatu� pencermatan� terhadap� kegiatan� belajar� berupa� sebuah� tindakan yang� sengaja dimunculkan� dan� terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Penelitian Tindakan Kelas merupakan tindakan pemecahan masalah yang dimulai dari: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi, 5) Evaluasi yang telah disusun, dilakukan observasi dan� evaluasi� yang� hasilnya digunakan sebagai� masukan� untuk� melakukan� refleksi yang dijadikan pertimbangan pada rencana tindakan selanjutnya.

a.     Prosedur Penelitian

Menurut Arikunto (2006:16), model penelitian tindakan kelas adalah secara garis besar terdapat 4 tahapan� yang lazim untuk diketahui, yaitu: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan,3) Pengamatan, 4) Refleksi. Adapun model dan penjelasan untuk masing masing tahapan adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber data yang diperlukan penelitian yaitu informan, tempat berlangsungnya penelitian, dan dokumen dokumen atau arsip yang menyangkut keberhasilan penelitian. Dalam penelitian ini informan yaitu yang memberikan keterangan dan data-data yang diperlukan diantaranya adalah:

1.    Siswa kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung.

2.    Guru mata pelajaran Kimia

b.    Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1.       Untuk menilai Hasil Ulangan/ tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan :���������� X = Nilai rata-rata

Σ X�� = Jumlah semua nilai siswa

����������� �� �������� ����������� Σ N�� =� Jumlah siswa

X = Σ X

������ Σ N

2.       Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

P = Σ siswa yang tuntas�� x 100 %

������������ Σ siswa

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif (Supardi, 2006:131). Terhadap perolehan hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus satu dan siklus dua untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif presentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif� prosentase, yang� dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut:

Klasifikasi Kategori Tingkatan dan Prosentase

No.

Kriteria Nilai Penafsiran

Hasil belajar

1

86 - 100

Baik Sekali

2

71 - 85

Baik

3

56 - 70

Cukup

4

41 - 55

kurang

5

Kurang < 40

sangat kurang

 

c.     Indikator pencapaian.

Berkaitan� dengan� indikator� kinerja Suwandi dan Madyo Eko Susilo (2007:36) menyatakan bahwa� �Indikator kinerja merupakan rumusan� kinerja yang akan dijadikan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian, �Diharapkan dengan penerapan� metode pembelajaran Inkuiri Terbimbing dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran Kimia� pada siswa kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 BandungTahun� Ajaran 2019/2020 dapat meningkat minimal 85 %.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini mudah dilakukan oleh guru karena tidak memerlukan perbandingan terhadap model-model pembelajaran serta sambil melaksanakan proses belajar mengajar guru juga bisa sekalian melakukan penelitian terhadap permasalahan yang ada di kelas. Penelitian dengan penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar Kimia kelas XII Mipa 5 SMA Negeri 4 Bandung . Berikut paparan mengenai jadwal penelitian;

Berdasarkan hasil observasi bahwa guru kimia ketika menjelaskan materi mata pelajaran� ke siswanya mudah dipahami dan guru peduli terhadap siswanya yang mengalami kesulitan. Akan tetapi guru terkadang menjelaskan materi belum keseluruhan yang terdapat pada bab mata pelajaran kimia. Setelah memberikan beberapa latihan soal terhadap siswanya tanpa adanya pengulangan kembali ataupun meninjau apakah siswanya sudah memahami materi. Materi pelajaran kimia yang seharusnya di laksanakan praktikum terkadang tidak terlaksanakan hanya pembelajaran seperti biasa di kelas.

Hasil observasi yang diperoleh pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung adalah siswa terlihat minat serta motivasi dalam belajar masih kurang, dan ada beberapa siswa yang membahas pelajaran. Berbeda dengan saat jam pelajaran sedang berlangsung, rata-rata siswa kurang aktif dan cenderung diam. Ketika diminta untuk mengerjakan soal nampak sekali siswa-siswa kesulitan untuk menyelesaikan soal. Jika minat dan keaktifan siswa ini tinggi dan diberdayakan, maka akan berdampak pada prestasi belajarnya.

Berdasarkan hasil penjajagan dan observasi diperoleh hal-hal sebagai berikut :

�      Banyak siswa kurang memperhatikan dan memiliki motivasi terhadap mata pelajaran kimia

�      Banyak siswa yang bercakap-cakap dengan temannya ketika guru sedang mengajar

�      Keterbukaan, kreatifitas dan rasa ingin tahu siswa dengan materi ajar belum muncul

�      Kerjasama siswa dalam belajar secara berkelompok sangat kurang

�      Saling menghargai sesama teman dalam belajar masih sangat belum tampak

�      Saling hormat menghormati dan toleransi kepada teman ketika belajar juga masih rendah

�      Aktivitas dan pertisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar masih sangat kurang

�      Komukasi yang terjalin masih bersifat satu arah yaitu dari guru kepada murid, sedangkan komunikasi dari murid kepada guru masing kurang

�      Banyak siswa yang duduk, dengar dan sesekali mencatat ketika guru sedang mengajar. Dominasi guru dalam belajar mengajar IPS masih sangat menonjol.

a.         Deskripsi Tes Awal / Pra Siklus

Bertolak dari kondisi awal kelas dan alasan-alasan yang dikemukakan di atas peneliti memandang perlu diadakan suatu perbaikan untuk sedikit mengatasi persoalan dan keadaan belajar mengajar ke arah pembelajaran lebih baik dengan berupaya melibatkan siswa dengan kegiatan belajar mengajar supaya peningkatan aktivitas belajar yang diperoleh selama kegiatan belajar mengajar terus berlangsung. Hal ini dapat dilihat dari tabel aktivitas siswa berikut ini:

Tabel 1. Tabel Aktivitas Siswa Pra Siklus

No

Aspek yang diamati

Jumlah

F

1

Ketepatan dalam mencari pasangan.

10

27,77%

2

Siswa yang bertanya baik kepada guru maupun kepada siswa lain

8

22,22%

3

Diskusi kelompok

15

41,66%

4

Menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat

11

30,55%

5

Mengerjakan soal latihan di depan kelas.

7

19,44%

6

Mengerjakan soal diskusi di buku catatan.

12

33,33%

 

Dari tabel diatas diketahui aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran belum maximal, masih rendahnya aktivitas belajar kimia menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep kimia. Hal ini dikarenakan beberapa konsep yang ada dalam kimia bersifat abstrak. Selain itu juga disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan guru bersifat monoton dan kurang bervariasi. Dikatakan kurang bervariasi, karena guru mendominasi pembelajaran dengan metode ceramah dan tidak melibatkan siswa secara aktif. Dengan keadaan seperti itu, maka perlu diterapkan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa serta menarik minat siswa.

A.   Siklus I

a.    Perencanaan Tindakan I

Berpijak dari kondisi dan keadaan kelas serta temuan data tentang kendala-kendala dan permasalahan yang ada yang dapat menghambat situasi belajar mengajar yang lebih baik supaya terjadi peningkatan aktivitas belajar siswanya, peneliti berusaha untuk dapat mengatasi kendala-kendala dan persoalan tersebut dengan menganalisis untuk dimaknai selanjutnya dituangkan ke dalam perencanaan tindakan.

Perencanaan atau persiapan tindakan adalah berupa pembelajaran kimia dengan menerapkan metoda pembelajaran yang baru yaitu Metode Inkuiri Terbimbing. Dengan menerapkan metoda ini diharapkan akan terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia sebagai upaya perbaikan pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru dengan metoda ceramah atau pemberian tugas.

Tahapan perencanaan tindakan yang dilakukan peneliti secara kongkret antara lain adalah sebagai berikut :

1.    Menyusun rencana atau persiapan pengajaran untuk siklus I dan dengan menerapkan metoda pembelajaran� yang divariasi dengan diskusi secara berkelompok.

2.    Menyusun dan menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk masing-masing rencana pengajaran yang digunakan pada siklus I, dibahas dan diselesaikan oleh masing-masing kelompok belajar siswa.

3.    Menyusun dan menyiapkan instrumen Observasi Belajar Siswa untuk mengamati aktivitas belajar siswa selama menerapkan metoda belajar secara berkelompok dalam mata pelajaran kimia.

4.    Menyusun dan menyiapkan Lembar Evaluasi (tes) untuk masing-masing rencana pengajaran yang digunakan untuk mengetahui dan mengukur hasil belajar siswa dari setiap tindakan yang telah dilakukan

5.    Menyusun dan menyiapkan daftar cek sebagai refleksi dari kegiatan belajar mengajar untuk masing-masing tindakan yang digunakan pada setiap akhir pelaksanaan tindakan didasarkan atas pendapat dan pandangan siswa tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metoda diskusi secara berkelompok.

b.    Pelaksanaan Tindakan I

Pelaksanaan tindakan penelitian merupakan pelaksanaan dari perencanaan tindakan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pada pelaksanaan tindakan ini memungkinkan guru untuk melakukan intervensi terhadap rencana yang telah dibuat. Pelaksanaan tindakan penelitian ini menekankan pada penerapan metoda pembelajaran yang telah dirancang dengan variasi belajar secara berkelompok dalam upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia. Pelaksanaan tindakan penelitian dilakukan tanpa memberitahukan kepada siswa.

Pelaksanaan tindakan pertama merupakan aktualisasi dari rencana pengajaran yang telah dirumuskan dan disiapkan sebelumnya. Pada pelaksanaan tindakan pertama langkah-langkah yang ditempuh disesuaikan dengan apa yang tercantum dalam rencana pengajaran yang telah dibuat sebelumnya.

Pelaksanaan tindakan pertama dengan menerapkan metoda diskusi secara berkelompok untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut :

�      Siswa berdo'a dan memberi salam kepada guru, guru mengabsen siswa.

�      Guru memberikan arahan dan penjelasan kepada siswa untuk membentuk kelompok yang setiap kelompoknya tidak lebih dari 4 orang siswa. Dalam pengarahan tersebut siswa diberi kebebasan untuk memilih teman kelompoknya.

�      Dalam memilih dan menentukan teman untuk belajar secara kelompok, kebanyakan siswa memilih berdasarkan tempat duduk yang berdekatan dengan dirinya, sehingga teman sebangkunya menjadi teman kelompoknya.

�      Setelah seluruh siswa yang hadir dengan jumlah 36 orang siswa tersebut, maka terbentuklah kelompok. Mereka terlihat senang dengan raut muka yang berseri-seri karena mendapatkan teman untuk belajar secara berkelompok.

�      Karena tak seperti biasa, mereka tampak antusias dan bersemangat untuk memulai pelajaran ketika guru memberi penjelasan tentang materi kimia yang akan dipelajari.

�      Dalam menyelesaikan dan menjawab latihan soal, mereka betul-betul bekerja sama dan serius dalam kelompoknya. Dan tidak mau ketinggalan dengan kelompok lainnya.

�      Guru berkeliling ke kelompok-kelompok, sambil membimbing, mengarahkan dan membantu siswa (kelompok) yang kesulitan menyelesaikan LKS-nya.

�      Guru mengumpulkan LKS dari setiap kelompok. Kemudian membagikan lembar evaluasi (tes) kepada setiap siswa untuk mengukur sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah dipelajari secara berkelompok.

�      Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan lembar evaluasi (tes), guru mengumpulkannya, kemudian membagikan daftar cek kepada siswa untuk melihal persepsi siswa tentang kegiatan belajar mengajar yang telah mereka alami.

c.     Observasi / pengamatan Tindakan I

Setelah guru melakukan tindakan penerapan metode belajar untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran kimia �di kelas XII, guru melakukan analisis dan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan petama tersebut berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun selama kegiatan belajar mengajar melalui pengamatan. Data dan informasi yang diperoleh adalah hasil belajar siswa dalam mengerjakan LKS serta aktivitas siswa dalam mangikuti kegiatan pembelajaran pada tindakan pertama adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Observasi Keaktivan Siswa Siklus I

No

Aspek yang diamati

Jumlah

F

1

Ketepatan dalam mencari pasangan.

20

55,55%

2

Siswa yang bertanya baik kepada guru maupun kepada siswa lain

18

50,00%

3

Diskusi kelompok

24

66,66%

4

Menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat

17

47,22%

5

Mengerjakan soal latihan di depan kelas.

15

41,66%

6

Mengerjakan soal diskusi di buku catatan.

20

55,55%

 

Dari tabel diatas diketahui aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada tindakan siklus I ini sudah ada peningkatan yang sangat baik, hal ini dikarenakan siswa sudah mulai memahami kegiatan pembelajaran dengan menggunakan penerapan model pembelajaran Inkuiri terbimbing, namun masih ada beberapa siswa yang belum aktif dan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran karena model pembelajaran ini masih dianggap hal yang baru dan perlu waktu dalam penerapannya, terbukti dari hasil nilai yang dicapai siswa pada tindakan Siklus I ini masih belum mencapai nilai KKM yang ditentukan, hal ini dapat dilihat dari tabel hasil nilai siklus I berikut ini

Tabel 3. Hasil Test Siklus I

NO

NAMA SISWA

NILAI TEST

1

Adrian Ferdinand Jotham

60

2

Ahnaf Yemina Putri

60

3

Akmal Lutfi Muzzaki

65

4

Alif Muhammad Abdillah

65

5

Amanda Tri Kartika

65

6

Ananda Suherlan

70

7

Dania Nur Lathifah Yuliani

70

8

Difa Zahrah Fitriani

60

9

Dininta Nur Ayunanto

65

10

Dio Vitto Namora

60

11

Ernamawati Putri Saleha

70

12

Gathan Rasendriya Khumar

65

13

Gita Amelia Marianto Limbong

65

14

Hilmi Fadhiila Irawan

60

15

Janetha Syawalina

60

16

Jessica Vera Priscilla

65

17

Joshua Samuel

65

18

Karina Aprillia

65

19

Larissa Adwitya Laili

70

20

Maria Sandikania Mulya

70

21

Muhamad Ramdhani Husaini Fikri

60

22

Muhammad Imam Muttaqin

65

23

Nurul Izzati Fauzia

60

24

Onni Angelica Rheinilan

70

25

Reihan Mouzan Erlangga

65

26

Reza Sylan Supratman

65

27

Rizki Fitriyani

65

28

Sahara E. Harman

70

29

Salma Shabira Rahmadanti

70

30

Salsabila Nur Fadilah Kusumah

60

31

Sisil Safitri

65

32

Syifa Destiana

65

33

Triyana Arfan Azhar

70

34

Viko Musadad

70

35

Yoga Bagus Pambudi

60

36

Yubi Wilisetya

65

NILAI RATA - RATA

65

 

Berdasarkan data hasil nilai dalam mengerjakan LKS pada pelaksanaan tindakan pertama ini ternyata bahwa siswa �yang dapat mengerjakan LKS dengan benar adalah masih� 60,0%, siswa yang memperoleh nilai tertinggi hanya mencapai nilai 70 dan nilai terendah adalah 60 dengan rata � rata kelas mencapai 65 % hal ini masih dibawah nilai ketuntasan yang telah ditentukan, �Sementara aktivitas belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan dari tindakan sebelum diterapkannya model pembelajaran.

d.    Refleksi Tindakan I

Data yang diperoleh melalui instrumen observasi aktivitas belajar siswa yang telah disiapkan dalam upaya untuk mengungkap dan mengetahui aktivitas belajar siswa selama mengikuti kegiatan belajar yang menerapkan model pembelajaran ini pada pelaksanaan tindakan I, Bila menunjuk pada tabel� di atas penerapan metoda belajar ini sudah mengalami peningkatan, siswa mulai mengalami perubahan sikap dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, namun hasil nilai yang dicapai saat mengerjakan Lembar kerja siswa masih perlu diadakan perbaikan lagi hal ini dikarenakan siswa masih bingung dan belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan, guru / peneliti juga belum sepenuhnya menguasai metode yang diberikan kepada siswa, masih perlu pemahaman lebih lanjut agar tercapai tujuan dari kegiatan penelitian ini. Untuk itu dilakukan lagi penelitian selanjutnta pada siklus II.

 

B.      Siklus �II

a.    Perencanaan Tindakan II

Berdasarkan data hasil belajar siswa pada pelaksanaan siklus I, menunjukkan persentasi hasil belajar yang belum maksimal suntuk jumlah siswa yang mendapatkan nilai standar minimal ke atas. Dari hasil tersebut, pelaksanaan siklus I belum memenuhi standar minimal, maka perlu diadakan perbaikan untuk mencapai hasil yang diharapkan sehingga kegiatan penelitian dilanjutkan dengan pelaksanaan siklus II, menunjukkan persentasi hasil belajar yang belum maksimal.

Data hasil belajar siswa pada siklus I menunjukkan bahwa kemampuan siswa masih rendah. Oleh karena itu, pelaksanaan Siklus II, kegiatan pembelajaran lebih ditekankan pada penajaman serta menghilangkan kebiasaan-kebiasan yang jelek terutama kurang konsentrasi, sekaligus pemahaman terhadap teknik pembelajaran yang konsentratif dan berdampak pada upaya komunikasi yang berkomunikatif.

Berdasarkan uraian di atas, maka alternatif tindakan untuk lebih meningkatkan kemampuan siswa pada pelaksanaan Siklus II dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

a.     Menyusun� rencana pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan lebih menyenangkan siswa yang berorientasi pada pemahaman yang baik dan benar.

b.    Lebih memotivasi dan mengadakan pendekatan-pendekatan baru yang tidak saja menyenangkan akan� tetapi berdaya guna dan berhasil guna sehingga apa yang diharapkan siswa tercapai dengan memuaskan.

c.     Bahan ajar tentang materi pelajaran diperbanyak dan diminta kepada siswa untuk memahaminya dan mencoba melakukan pelatihan sendiri di rumah.

d.    Menggunakan media pembelajaran yang cocok dengan karakteristik materi, dan

e.     Anak-anak yang memiliki kemampuan kurang diberikan perhatian yang lebih sehingga anak-anak tersebut termotivasi untuk melakukan kegiatan

b.    Pelaksanaan Tindakan II

Pelaksanaan tindakan kedua juga merupakan aktualisasi dari rencana pengajaran yang telah dirumuskan dan disiapkan sebelumnya berdasarkan hasil analisis dan refleksi dari pelaksanaan tindakan pertama. Pada pelaksanaan tindakan kedua kegiatan yang dilakukan berdasarkan dengan apa yang telah tercantum dalam pengajaran yang telah dibuat sebelumnya untuk tindakan kedua ini adalah sebagai berikut :

�      Siswa berdo'a dan memberi salam kepada guru, kemudian guru mengabsen, sama halnya dengan tindakan pertama

�      Guru memberikan pengarahan untuk setiap kelompok tidak lebih dari 4 orang. Pemilihan teman untuk kelompok diserahkan sepenuhnya kepada siswa, dan apabila memungkinkan dalam kelompok itu ada teman dari jenis kelamin yang berbeda. �Namun nampaknya dalam memilih teman kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda para siswa belum siap.

�      Seperti halnya pada tindakan pertama, para siswa memilih teman kelompok berdasarkan tempat duduk yang berdekatan. Dengan bantuan guru akhirnya seluruh siswa dapat tertampung di dalam kelompok belajar walaupun tidak ada satu kelompok pun yang anggotanya berlainan jenis kelamin.

�      Kemudian guru memberikan LKS yang berupa soal untuk pelaksanaan tindakan kedua ini. Setiap kelompok ditugasi untuk membahas dan menyelesaikan LKS berkenaan dengan materi yang disampaikan

�      Dalam menyelesaikan dan menjawab LKS, siswa dalam kelompok betul-betul bekerja satu sama lain bahu membahu dan serius untuk bisa menjawab dan mengisi LKS.

�      Seperti halnya pada tindakan pertama, guru berkeliling sambil membimbing, mengarahkan dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan dan meyelesaikan LKS.

�      Selesai mengerjakan LKS guru mengumpulkannya, guru membagikan lembar evaluasi kepada siswa untuk mengetes kemampuan siswa dalam memahami pelajaran yang sudah dipelajari. Guru membagikan daftar cek kepada setiap siswa untuk melihat persepsi siswa tentang kegiatan belajar secara berkelompok yang telah dilaksanakan

c.     Observasi / pengamatan Tindakan II

Setelah guru melakukan tindakan kedua dengan menerapkan metoda pembelajaran dalam mata pelajaran kimia, guru melakukan analisis dan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan kedua berdasarkan data dan informasi yang berhasil dihimpun. Data dan informasi yang diperoleh dari hasil belajar dan aktivitas siswa dalam mengerjakan LKS pada tindakan kedua adalah sebagai berikut :

 

Tabel 4. Observasi Keaktivan Siswa Siklus II

No

Aspek yang diamati

Jumlah

F

1

Ketepatan dalam mencari pasangan.

30

83,33%

2

Siswa yang bertanya baik kepada guru maupun kepada siswa lain

27

75,00%

3

Diskusi kelompok

35

97,22%

4

Menjawab pertanyaan dan memberikan pendapat

29

80,55%

5

Mengerjakan soal latihan di depan kelas.

21

58,33%

6

Mengerjakan soal diskusi di buku catatan.

33

91,66%

 

Dari tabel keaktivan siswa pada tindakan siklus II diatas dapat diketahui adanya peningkatan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran, artinya dengan penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing ini dapat membantu meningkatkan aktivitas siswa yang akan berdampak pula pada hasil nilai yang dicapai oleh siswa, hal ini dapat dilihat dari tabel hasil nilai berikut ini,

Tabel 5. HASIL TEST SIKLUS II

NO

NAMA SISWA

NILAI TEST

1

Adrian Ferdinand Jotham

75

2

Ahnaf Yemina Putri

80

3

Akmal Lutfi Muzzaki

90

4

Alif Muhammad Abdillah

85

5

Amanda Tri Kartika

90

6

Ananda Suherlan

90

7

Dania Nur Lathifah Yuliani

90

8

Difa Zahrah Fitriani

80

9

Dininta Nur Ayunanto

85

10

Dio Vitto Namora

80

11

Ernamawati Putri Saleha

90

12

Gathan Rasendriya Khumar

85

13

Gita Amelia Marianto Limbong

85

14

Hilmi Fadhiila Irawan

80

15

Janetha Syawalina

85

16

Jessica Vera Priscilla

80

17

Joshua Samuel

80

18

Karina Aprillia

85

19

Larissa Adwitya Laili

80

20

Maria Sandikania Mulya

80

21

Muhamad Ramdhani Husaini Fikri

75

22

Muhammad Imam Muttaqin

80

23

Nurul Izzati Fauzia

75

24

Onni Angelica Rheinilan

80

25

Reihan Mouzan Erlangga

80

26

Reza Sylan Supratman

75

27

Rizki Fitriyani

80

28

Sahara E. Harman

80

29

Salma Shabira Rahmadanti

80

30

Salsabila Nur Fadilah Kusumah

75

31

Sisil Safitri

90

32

Syifa Destiana

80

33

Triyana Arfan Azhar

90

34

Viko Musadad

80

35

Yoga Bagus Pambudi

80

36

Yubi Wilisetya

75

NILAI RATA - RATA

81,94

 

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan yang dilakukan pada kegiatan penelitian tindakan II ini, siswa sudah banyak yang mencapai hasil nilai yang baik yaitu perolehan nilai tertinggi mencapai 90 dan nilai terendah hanya 75 itupun sudah sampai pada batas minimum yang harus diperoleh siswa, nilai rata � rata kelas mencapai 81.94 %. Aktivitas siswa pun sudah sangat baik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

d.    Refleksi Tindakan II

�� Bahwa penerapan metoda pembelajaran Inkuiri Terbimbing ini dapat dikatakan cukup efektif untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar kimia. Terbukti dengan hasil tes yang telah dicapai siswa. Berdasarkan hasil analisis data dalam pelaksanaan Siklus II diperoleh jumlah siswa yang mendapat nilai standar minimal ke atas mengalami peningkatan,� guru / peneliti sudah bisa mengatasi hambatan � hambatan yang terjadi serta sudah menguasai metode pembelajaran yang diterapkan, siswa sudah sangat antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

 

Pembahasan Hasil Penelitian

1.    Hasil Belajar Siswa

a.     Hasil Belajar Kognitif

Penilaian hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari tes pada tiap akhir siklus. Soal tes siklus yang digunakan untuk mengukur penguasaan kompetensi dan tingkat pemahaman siswa sebelum digunakan telah diujicobakan terlebih dahulu pada siswa kelas tiga yang telah memperoleh materi pembelajaran.

b.    Hasil Belajar Afektif

Penilaian afektif siswa diperoleh dengan melakukan penyebaran angket pada tiap akhir siklus. Dari hasil angket tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui ketuntasan belajar afektif siswa. Penilaian afektif siswa diukur dari beberapa aspek, meliputi aspek kesadaran diri, kecakapan berfikir rasional, kecakapan social dan kecakapan akademik siswa.

c.     Hasil Belajar Psikomotorik

Penilaian psikomotorik siswa diukur dari pengamatan langsung saat melakukan praktikum. Aspek yang diamati adalah keterampilan menyiapkan alat dan bahan, keterampiolan melakukan percobaan, keterampilan membaca hasil percobaan dan keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan.

Rekapitulasi hasil nilai siswa antar siklus dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 6. Rekapitulasi Hasil Nilai Siswa antar Siklus

No.

Keterangan

Siklus I

Siklus II

1

Nilai Tertinggi

70

90

2

Nilai Terendah

60

75

3

Nilai Rata - rata

65

81,94

4

Ketuntasan (%)

27,77%

100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari hasil penelitian tindakan kelas tentang penerapan metoda pembelajaran Inkuiri Terbimbing dalam mata pelajaran kimia di Kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 �Bandung diperoleh hasil temuan sebagai berikut :

a.     Sebagaimana terungkap pada pelaksanaan tindakan I dan Tindakan II, guru sebelum memulai kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metoda pembelajaran memberikan arahan dan penjelasan kepada siswa. Dalam pengarahan yang diberikan guru, siswa diberi kebebasan dan keleluasaan untuk memilih dan menentukan teman kelompoknya sendiri sesuai dengannya.

b.    Pada siklus I, Siswa yang sudah mendapatkan teman kelompok belajar tampak raut muka yang berseri-seri, gembira dan senang, sedangkan mereka yang belum mendapatkan teman kelompoknya tampak bingung untuk memilih teman kelompoknya.

c.     Pada siklus II, walaupun guru memberikan pejelasan dan pengarahan bahwa dalam pemilihan dan pembentukan kelompok belajar, siswa disarankan boleh untuk membentuk kelompok yang anggotanya berlainan jenis kelamin. Akan tetapi siswa nampaknya tidak mau memilih atau menentukan anggota kelompok yang berlainan jenis kelamin, sehingga tak satupun kelompok yang anggotanya berlainan jenis kelamin.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh selama melakukan penelitian tindakan kelas tentang penerapan metoda Inkuiri Terbimbing untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam mata pelajaran Kimia Kelas XII MIPA 5 SMA Negeri 4 Bandung, maka dapat diambil kesimpulan : Pemilihan atau penetuan teman dalam membentuk kelompok belajar adalah didasarkan atas tempat duduk yang berdekatan. Teman yang duduk satu bangku dengan sendirinya menjadi teman kelompok. Kemudian pemilihan teman anggota kelompok belajar dan pemilihan satu orang teman lainnya lagi teman yang paling berdekatan dengan siswa tersebut. Keterampilan-keterampilan yang dikembangkan ketika siswa belajar secara bersama-sama dalam kelompok berdasarkan pendapat dan sikap siswa yang terungkap dari daftar cek yang diisi oleh seluruh siswa berkenaan aspek-aspek. Aktivitas belajar siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menerapkan metoda pembelajaran menunjukan peningkatan. Perolehan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang menerapkan metode belajar menunjukan peningkatan yang signifikan berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agus Suprijono. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya.

 

A.M. Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:CV.Rajawali

 

Anita Lie.1994.Cooperative Learning. Jakarta : PT. Grasindo.

 

Arends.1997.http://anwarholil.blogspot.com/2009/01/model pengajaran langsung.html. di akses 12 nopember 20014.�

Arends 1997. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstuktivitis,Jakarta:

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.�

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2013. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa Learning.

 

Elliot (1991:78) dan Rochiati (2006:121) dokumentasi dapat membantu dalam mengumpulkan data

 

Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, tahun 2009), hal. 4

 

Johnson. (1993). Model Cooperative Learning Type Jigsaw. Jakarta: Erlangga.

McClelland, D.C. 1987. Human Motivation. New York : Cambridge University

Press

 

Moleong, L.J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

 

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, tahun 2008), hal. 2

 

Muhammad Thobrani dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, tahun 2011), hal. 395.

 

Nasution. 1982. Metode Research. Jakarta : Bumi Aksara.

 

Nana Syaodih Sukmadinata. 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Prayitno. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Proyek Pengembangan

Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

 

Patilima, 2005. Teknik Analisis Data. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Roestiyah NK., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2001

 

Sardiman A.M.2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:

PT.RajaGrafindo Persada

 

Slavin.1994. Model Pembelajaran Cooperatif Script. Jakarta: Airlangga.

 

Slavin.1995. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta : Alvabeta.

 

Suwandi, Sarwiji dan Madyo Ekosusilo. 2007. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

 

Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.

 

Syukri S, Kimia Dasar 1, (Bandung: Penerbit ITB, tahun 1999), hal. 1.