PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS
DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SIFAT KOLIGATIF LARUTAN DI KELAS XII MIPA
SEMESTER 1 SMA NEGERI 6 BANDUNG TAHUN AJARAN 2018/2019
����������������������
Teti Ismayati
SMA Negeri 4 Bandung
|
Riwayat Artikel: Received: 10-10-2022 Revised: 18-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords:
Student Learning Motivation, Team Assisted
Individualization (TAI) Learning Model Kata Kunci: Motivasi Belajar
Siswa, Model Pembelajaran
Team Assisted Individualization (TAI) |
|
Abstract The method used in this
study is a questionnaire (questionnaire), documentation and observation. The
collected data were analyzed by descriptive percentage techniques and simple
linear analysis. The purpose of this study was to determine the improvement
of chemistry learning outcomes in class XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung
Semester I for the 2018/2019 academic year by using the Team Assisted
Individualization (TAI) learning method. The number of students who get low
scores in Chemistry subjects below minimum completeness is due to one of them
because the learning process so far has not involved students actively,
therefore this study aims to determine the increase in student learning
outcomes, especially on the subject matter of the Colligative Properties of
Solutions. This research is a Classroom Action Research which involves four
components, namely: Planning (plans), Action (action), Observation
(observation), Reflection (reflection). The subjects in this study were
students of class XII MIPA 4, totaling 31 students. From the research results
obtained: Pre-cycle test results (cognitive domain) with an average value of
66.09% then in the first cycle the class average value is 73.58% with 41%
class completeness, in the second cycle there is an increase with an average
value � an average of 83.67% with a learning completeness of 96.77%. In the
second cycle the learning process increases because the teacher can understand
the obstacles he faces in the previous action display. Students are more
active and creative in completing tasks. Through the results of this
research, it shows that the teaching of the learning model approach that is
delivered has a positive impact on improving student learning achievement.
This can be seen from the more solid understanding and mastery of students on
the material that has been delivered by the teacher so far (mastery learning
has increased from cycles I and II) classical student learning has been
achieved. |
|
|
Abstrak
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
(kuesioner), dokumentasi
dan observasi.data yang dikumpulkan
dianalisis dengan tekhnik deskriftif presentase dan analisis linier sederhana.� Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
peningkatan hasil belajar Kimia pada siswa kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6Bandung Semester I Tahun Ajaran 2018/2019 dengan menggunakan metode pembelajaran Team
Assisted Individualization (TAI). Banyaknya siswa yang memperoleh nilai rendah pada mata pelajaran Kimia di bawah ketuntasan minimal disebabkan salah satunya karena proses pembelajaran selama ini belum
melibatkan siswa secara aktif oleh karena itu penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa terutama pada materi pokok sifat Koligatif
Larutan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation
(pengamatan), Reflection (refleksi).
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII MIPA 4yang berjumlah
31 siswa. Dari hasil penelitian diperoleh: Hasil tes (ranah kognitif)
Pra Siklus dengan nilai rata � rata 66,09
% lalu pada siklus I nilai rata-rata kelas 73,58 % dengan ketuntasan belajar kelas 41 %, pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai rata � rata 83,67% dengan
ketuntasan belajar 96,77
%. Pada tampilan siklus
II proses pembelajaran meningkat
disebabkan oleh� karena
guru dapat memahami� kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan� sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pengajaran pendekatan model pembelajaran yang disampaikan memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat
dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan
belajar meningkat dari sklus I dan II) belajar siswa secara klasikal telah tercapai. |
Corresponding Author: Teti Ismayati�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pembelajaran tidak terlepas dari perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan media atau sarana yang digunakan oleh guru
dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas, serangkaian perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan seorang guru dalam menghadapi pembelajaran di kelas (Suhardi, 2007:24). Faktor-faktor keberhasilan pembelajaran kimia meliputi guru, murid, buku-buku penunjang, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), handout, powerpoint, silabus, standar kompetensi dan kompentensi dasar. Proses belajar mengajar juga tidak terlepas dari sarana prasarana
seperti meja, kursi, dan laboratorium yang mendukung berjalannya belajar mengajar dengan baik (Zainal Aqib,
2002:32).
Pendidik lebih sering menyampaikan
ilmu sebagai fakta bukannya sebagai peristiwa atau gejala yang harus diamati, diukur dan didiskusikan, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas hanya
diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk
menghafal informasi tanpa dituntut untuk menghafal informasi, peserta didik dipaksa untuk
mengingat dan menimbun informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu apalagi menghubungkan informasi yang di peroleh dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika peserta didik lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis
tetapi miskin aplikasi. Kenyataan ini juga berlaku untuk kelompok
mata pelajaran IPA dimana proses pembelajaran yang dilakukan selama ini tidak dapat
mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
berpikir kritis dan sistematis, karena strategi pembelajaran berpikir tidak digunakan secara baik dalam
setiap proses pembelajaran
di dalam kelas, (Wina Sanjaya, 2009:1-2).
Dalam proses belajar mengajar aktivitas dan keterlibatan siswa secara utuh
sangat penting terwujud
agar kegiatan pembelajaran dapat berhasil dengan optimal. Pembelajaran kimia merupakan pembelajaran yang menekankan pada
pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh sebab itu, rancangan pembelajaran kimia harus dapat memuat
pengembangan ketiga aspek tersebut. Untuk mengembangkan aspek afektif dan psikomotor dapat dilakukan melalui kegiatan praktikum di laboratorium. Kegiatan praktikum merupakan salah satu bentuk pendekatan
keterampilan proses.
Mengajar adalah
bukan suatu kegiatan yang statis, tetapi merupakan interaksi dinamis antara kondisi sosial, tujuan pengembangan berpikir, teori-teori belajar, dan teknologi pendukung terutama dengan aspek personal dan intelektual siswa. Guru harus bisa mengintegrasikan
semua faktor tersebut sehingga diperoleh hasil pembelajaran sebaik mungkin, artinya bahwa metode pembelajaran
yang diterapkan oleh guru dapat
memberikan peluang kepada siswa untuk
mengembangkan kemampuan intelektualnya dan bermakna bagi diri siswa.
Cara mengajar atau lebih dikenal
dengan metode pembelajaran menyangkut pada permasalahan kegiatan fisik apa yang harus diberikan kepada siswa sehingga
kemampuan intelektualnya dapat berkembang, dan belajar dapat berjalan
secara efisien serta bermakna (Mulyati Arifin, 2000: 118).
Proses pembelajarannya
menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu menjelajahi
dan memahami secara ilmiah. Proses Pendidikan diarahkan
untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh
pemahaman yang lebih mendalam tentang pembelajaran yang didapatnya.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran
didalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk
mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya
dengan kehidupan sehari-hari. Komponen yang selama ini dianggap
sangat mempengaruhi proses pendidikan
adalah komponen guru. Hal ini memang wajar,
sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai
subjek dan objek belajar. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa
yang diajarnya, tetapi juga
sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning).
Berdasarkan temuan
diatas, dapat dikatakan bahwa sampai saat ini
pembelajaran IPA Kimia masih
bermasalah dan masih memerlukan inovasi-inovasi tertentu untuk memperbaikinya. Proses belajar mengajar yang masih sebatas sebagai proses transfer of knowledge bersifat verbalistik dan hanya berpusat pada aktivitas guru, hendaknya segara diubah. Polamato (2005) menemukan adanya alasan logis
yang dapat dikemukakan mengapa adanya model pembelajaran menjadi hal yang ditekankan dengan mengembangkan kreatifitas siswa dalam pembelajaran, diantaranya:
1.
Model pembelajaran merupakan
model manipulatif, yang mana setiap
guru memiliki kebebasan untuk memilih dan menggunakan berbagai model pengajaran sesuai karakteristik materi pengajarannya
2.
Materi pembelajaran memiliki fungsi sebagai instrument yang membantu atau memudahkan siswa dalam memperoleh
sejumlah pengalaman belajar.
3.
Pengembangan model pembelajaran dalam konteks peningkatan
mutu perolehan hasil belajar siswa
perlu diupayakan secara terus menerus
dan bersifat komprenshif.
Berdasarkan data diatas,
guru hendaknya melaksanakan
model pembelajaran yang bisa
menumbuhkan pembelajaran siswa, menjadikan lebih bermakna. Pomalato (2005) menuliskan beberapa alternatif dalam mengembangkan kemampuan berfikir kreatif. Salah satunya adalah model pembelajaran Team Assisted Individualization. Model pembelajaran
Team Assisted
Individualization adalah metode pembelajaran yang berbentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang
cara berfikir yang berbeda untuk saling
membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan. Dalam metode ini, diterapkan
bimbingan dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu
menyelesaikan permasalahan
yang dihadapi. Selain itu terdapat pula bantuan individu dari guru kepada siswa yang membutuhkan. Berdasarkan
latar belakang diatas,penulis merasa
tertarik untuk mengetahui sejauh mana Penerapan Model Pembelajaran Team Assisted Individualization dapat Meningkatkan
Hasil Belajar KIMIA�
Siswa kelas XII �
SMA Negeri 6 Bandung.
Berdasarkan latar
belakang masalah diatas maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
a.
Bagaimanakah aktivitas siswa kelas XII MIPA di SMA
Negeri 6 Bandung setelah diterapkannya
model pembelajaran Team Assisted Individualization?
b.
Bagaimanakah hasil belajar
siswa kelas XII MIPA 1 SMA
Negeri 6 Bandung setelah diterapkannya
model pembelajaran Team Assisted Individualization?
c.
Bagaimanakah perubahan dalam pembelajaran IPA Kimia�� kelas XII MIPA SMA
Negeri 6 Bandung setelah diterapkannya
model pembelajaran Team Assisted Individualization?
Sesuai dengaan rumusan �masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:
a.
Untuk meningkatkan aktivitas belajar Kimia melalui metode pembelajaran� Team Assisted Individualization
b.
Untuk meningkatkan �pemahaman dan daya serap belajar siswa kelas
XII MIPA� SMA Negeri 6 Bandung
c.
Mengetahui perubahan sikap siswa dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas XII
MIPA� SMA Negeri 6 Bandung setelah menggunakan model pembelajaran Team
Assisted Individualization
d.
Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam
pembelajaran, yang ditandai
dengan keaktifan siswa secara menyeluruh
dalam pembelajaran.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini
merupakan penelitian tindakan (action research), karena
penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Ada 4 macam bentuk penelitian
tindakan, yaitu :
a.
penelitian tindakan guru sebagai peneliti,
b.
penelitian tindakan kolaboratif,
c.
penelitian tindakan simultan terintegratif, dan
d.
penelitian tindakan sosial eksperimental.
Keempat bentuk
penelitian tindakan di atas, ada persamaan
dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada :
a.
tujuan utamanya atau pada tekanannya,
b.
tingkat kolaborasi antara pelaku peneliti
dan peneliti dari luar,
c.
proses yang digunakan dalam
melakukan penelitian, dan
d.
hubungan dengan sekolah.
Dalam penelitian
ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas, sedangkan aktivitas pengamatan dilakukan oleh guru
lain sebagai observer / pengamat.
Tujuan utama penelitian tindakan kelas ini ialah
untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan
ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.
Penelitian ini
merupakan penelitian tindakan (action research), karena
penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Penjelasan alur di atas adalah:
1. Rancangan/perencana
awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.�
2. Pelaksanaan dan pengamatan,
meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun
pemahaman konsep siswa serta mengamati
hasil atau dampak dari diterapkannya
metode pembelajaran dengan pemberian balikan.
3. Refleksi, peneliti
mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari
tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4. Rancangan/rencana
yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan membuat rangcangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Tempat penelitian
adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di Kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung pada mata pelajaran Kimia. Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu mulai
bulan September s/d November 2019 (Semester I tahun ajaran 2018/2019). Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung pada mata pelajaran Kimia Tahun Ajaran 2018/2019.
Untuk mengetahui
keefektivan suatu metode dalam kegiatan
pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian
yang bersifat menggambarkan
kenyataan atau fakta sesuai dengan
data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui
prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap
kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis
tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan
evaluasi berupa soal tes tertulis
pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan
menggunakan statistik sederhana yaitu:
1.
Untuk menilai Hasil Ulangan/ tes formatif
Peneliti melakukan
penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa
yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
Dengan :� � X =
Nilai rata-rata
�� ���� ��������Σ X� �= Jumlah semua nilai siswa
�� Σ N�� = �Jumlah
siswa
������ Σ N
Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara
perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994),
yaitu seorang siswa telah tuntas
belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai
65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut
terdapat 85% yang telah mencapai daya serap
lebih dari atau sama dengan
65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
P = Σ siswa yang tuntas�� x 100 %
2.
Analisis data dalam penelitian
Penelitian tindakan
kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan� kualitatif (Supardi, 2006:131). Terhadap perolehan hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus
satu dan siklus dua untuk dibandingkan
dengan teknik deskriptif presentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria
deskriptif� prosentase, yang� dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik,
cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut:
Tabel 1. Klasifikasi
Kategori Tingkatan dan Prosentase
|
No. |
Kriteria Nilai Penafsiran |
Hasil belajar |
|
1 |
86 - 100 |
Baik Sekali |
|
2 |
71 - 85 |
Baik |
|
3 |
56 - 70 |
Cukup |
|
4 |
41 - 55 |
kurang |
|
5 |
Kurang < 40 |
sangat kurang |
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal / Pra Siklus
Tahap pra siklus adalah tahap dimana
belum diterapkannya model pembelajaran yang baru. Pelaksanaan pembelajaran pada pra siklus ini
bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh keaktifan dan kemampuan peserta didik dalam pembelajaran
di kelas sebelum diterapkannya model pembelajaran.
Pada prasiklus ini, didapatkan informasi mengenai keaktifan dan hasil belajar peserta
didik kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6
Bandung. Pengetahuan awal ini perlu
diketahui agar kiranya penelitian ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
peneliti,� apakah benar kiranya kelas ini
perlu diberi tindakan yang sesuai dengan apa yang akan diteliti yaitu penerapan
strategi pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil nilai siswa. Untuk
mengungkap kondisi awal dari kelas yang menjadi objek tindakan� kelas ini maka peneliti melakukan langkah �
langkah sebagai berikut :
a.
Tahap Perencanaan.
Untuk mengetahui kondisi awal dari kelas XII MIPA 4 Semester 1 SMA Negeri 6 Bandung Tahun
Ajaran 2018/2019, maka peneliti merencanakan observasi langsung, kegiatan
yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Observasi langsung yang
dilakukan untuk mengetahui strategi pembelajaran yang digunakan sebelumnya.
Guru / Peneliti� dibantu guru pengajar lainnya yang bertindak sebagai
observer sebagai pengamat serta menyiapkan alat tes yang akan digunakan sebagai
alat untuk mengukur kemampuan penguasaan awal
materi dari siswa.
b.
Tahap Pelaksanaan.
Pelaksanaan untuk mengukur� kemampuan�
awal siswa dilaksanakan di awali dengan menggunakan metode ceramah. Pada
pembelajaran� ini guru / peneliti� mengamati�
kejadian � kejadian� yang terjadi
secara rinci pada saat memaparkan materi pembelajaran, dalam menyampaikan
materi memerlukan waktu 1 jam pelajaran dan 15 menit untuk pemberian contoh,
selanjutnya guru / peneliti memberikan posttest�
dengan menggunakan soal yang telah dirancang sebelumnya
Pada pelaksanaan ini peneliti / guru bersama dengan
observer mengawasi kerja siswa dalam mengerjakan soal yang diberikan , sehingga
keakuratan dari hasil pengawasan dapat dipertanggung jawabkan.
c.
Hasil Pengamatan /
Observasi
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti
didapatkan bahwa pada pengajaran yang dilakukan, guru / peneliti masih
menggunakan cara pengajaran yang�
tradisional yaitu guru sebagai pusat pembelajaran dan� pengajaran materi tersebut diajarkan dengan
menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran berlangsung terlihat siswa asyik
dengan kegiatannya sendiri yang tidak ada kaitannya dengan apa yang disampaikan
guru. Justru masih terlihat anak � anak yang bermain � main dengan temannya
tanpa mempedulikan apa yang disampaikan oleh guru pengajar. Dan dari hasil pengerjaan siswa pada alat tes yang telah
dirancang oleh guru setelah diadakan koreksi maka didapatkan hasil yang kurang
memuaskan.
d.
Tahap Refleksi.
Dari kondisi awal yang ada tersebut maka perlu diadakan
suatu tindakan untuk mengangkat kemampuan penguasaan materi. Berdasarkan tanya
jawab yang dilakukan peneliti terhadap siswa, terungkap bahwa siswa mempunyai
kelemahan pada pengembangan skill pengerjaan suatu masalah karena kurangnya
siswa diberi kesempatan untuk berlatih dalam�
menyelesaikan masalah � masalah, sehingga siswa minta untuk diberi
kesempatan untuk menyelesaikan masalah sebelum guru pengajar menyelesaikannya.
Bertolak dari kondisi awal tersebut maka peneliti merencanakan
tindakan penelitian dengan menerapkan strategi pembelajaran dengan
memperlakukan pembelajaran aktif pada kelompok
besar. Informasi mengenai keaktifan dan hasil belajar peserta didik didapatkan dari hasil wawancara
peneliti dengan Observer / rekan
sejawat.
Adapun daftar nilai keaktifan
peserta didik pada pra siklus adalah
sebagai berikut:
Tabel 2. Daftar Nilai Keaktifan Pra Siklus
|
NO. |
ASPEK
PENILAIAN |
JML SISWA |
% |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan guru dan temannya |
10 |
32,25 |
|
2 |
Kerjasama dalam kelompok/diskusi |
14 |
45,16 |
|
3 |
Kemampuan dalam bertanya |
11 |
35,48 |
|
4 |
Kemampuan dalam menjawab pertanyaan |
8 |
25,8 |
|
5 |
Kemampuan memberi gagasan |
12 |
38,7 |
|
6 |
Kemampuan dalam berpendapat |
17 |
54,83 |
|
7 |
Memberi kesempatan teman berpendapat |
15 |
48,38 |
|
8 |
Kemampuan dalam membuat keputusan |
10 |
32,25 |
|
9 |
Kemampuan dalam menyelesaikan
masalah |
12 |
38,7 |
|
10 |
Melaksanakan pameran |
19 |
61,29 |
|
Rata - rata prosentase keaktifan |
41,28 |
||
Berikut hasil nilai siswa pada saat sebelum dilakukan penerapan model pembelajaran dapat dilihat dari
tabel dibawah ini:
Tabel 3. Daftar Nilai Siswa Pra
Siklus
|
NO. |
NAMA |
NILAI |
|
1 |
ALIFA NURUL
AZMI |
60 |
|
2 |
ANDIEN SRI
WAHYUNI |
70 |
|
3 |
APRILIA
SALSABILLA DINDA |
59 |
|
4 |
DINAN INSANI |
68 |
|
5 |
FADHIL
MUHAMMAD IQLAL |
72 |
|
6 |
FARIDA ALIFIA |
65 |
|
7 |
FAUZAN ALMA
AZIZ |
75 |
|
8 |
FRANSISCUS
ROY HOTLAN MARPAUNG |
78 |
|
9 |
FRISKYA
AMEITHA |
60 |
|
10 |
KINTANA
SHAKIRA |
74 |
|
11 |
LATIFAH
DURRUNNULLAH |
56 |
|
12 |
MERSHIVA
RAMADHISHA |
54 |
|
13 |
MUHAMMAD
LUTHFI RAMDHANI |
55 |
|
14 |
MUHAMMAD
REJKA PERMANA |
50 |
|
15 |
MUHAMMAD ZAKY
RAMDHANI |
75 |
|
16 |
NABILA KHAERUNNISA |
59 |
|
17 |
NABILAH
NURFAIDAH |
68 |
|
18 |
NUZUL PUTRI
DELIANI |
72 |
|
19 |
RADEN YUNNI
SURYANI |
65 |
|
20 |
REGINA KANYA
ZULKAFIA |
75 |
|
21 |
SALSA KAMILAH
INSANI |
78 |
|
22 |
SILVIA
MAELANI |
60 |
|
23 |
SISKA APRILIA |
74 |
|
24 |
SONIA NATASJA
ADRIANA |
56 |
|
25 |
SYAHANDRA
RAMADHAN |
54 |
|
26 |
VENSKA
SALSABILAH SUWANDI |
78 |
|
27 |
VIDIA
ANGGRIANI |
75 |
|
28 |
YEMIMA
ANDARNI PERMATA |
65 |
|
29 |
YUDA DWI
UTOMO |
60 |
|
30 |
ZAHRA QOLBINA
AWALIYAH |
79 |
|
31 |
ZALDIE
PRADANA HIJRAH NURDIANTARA |
60 |
|
NILAI RATA -
RATA |
66,09 |
|
Tabel 4. Rekapitulasi
Hasil Tes Formatif Siswa Pra Siklus
|
No |
Uraian |
Pra Siklus |
|
1 |
Nilai
rata-rata tes formatif |
66,09 |
|
2 |
Jumlah siswa yang tuntas
belajar |
5 |
|
3 |
Persentase ketuntasan belajar |
16,12 |
Setelah mengamati secara langsung pada proses pembelajaran
dan melihat hasil belajar peserta didik pada tahap pra siklus, kemudian
peneliti melakukan diskusi dengan guru mitra untuk melangkah
ke tahap berikutnya yaitu pada tahap siklus I. Sebelum melaksanakan
siklus berikutnya ada beberapa hal
yang dapat diidentifikasi untuk pelaksanaan tindakan pada siklus I, yaitu :
a.
Pelaksanaan pembelajaran masih pada komunikasi satu arah (guru ke peserta
didik).
b.
metode pembelajaran yang digunakan belum mampu mengaktifkan
keterlibatan peserta didik secara optimal.
c.
pembelajaran yang ada di kelas berkaitan
dengan sumber pembelajaran masih bergantung pada LKS (Lembar Kerja
Siswa).
d.
Peserta didik belum mempunyai
keberanian dalam bertanya mengenai kesulitan yang dihadapinya.
e.
Guru cenderung memberikan pertanyaan yang memungkinkan dijawab secara bersama-sama.
1.
Deskripsi
Tindakan Siklus I
Berdasarkan temuan masalah
pada awal kegiatan sebagai dasar / pra siklus sebelum
masuk pada kegiatan pembelajaran Siklus I, maka diadakan pelaksanaan
pembelajaran siklus I. Pada
tahap ini guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan
soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar siswa (soal terlampir). Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi tentang hasil kinerja
guru. Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam penelitian ini antara lain:
� Kemampuan awal siswa
� Prestasi belajar siswa untuk kelompok
Pada kegiatan pelaksanaan pembelajaran
siklus I juga diperlukan Informasi mengenai
keaktifan dan hasil belajar peserta didik, dari hasil
wawancara peneliti dengan Observer / rekan
sejawat. Adapun daftar nilai
keaktifan peserta didik pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel
5. daftar nilai keaktifan peserta didik
|
NO. |
ASPEK PENILAIAN |
JML SISWA |
% |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan guru dan temannya |
20 |
64,51 |
|
2 |
Kerjasama dalam kelompok/diskusi |
22 |
70,96 |
|
3 |
Kemampuan dalam bertanya |
18 |
58,06 |
|
4 |
Kemampuan dalam menjawab
pertanyaan |
17 |
54,83 |
|
5 |
Kemampuan memberi gagasan |
20 |
64,51 |
|
6 |
Kemampuan dalam berpendapat |
22 |
70,96 |
|
7 |
Memberi kesempatan teman berpendapat |
20 |
64,51 |
|
8 |
Kemampuan dalam membuat
keputusan |
18 |
58,06 |
|
9 |
Kemampuan dalam menyelesaikan
masalah |
20 |
64,51 |
|
10 |
Melaksanakan pameran |
27 |
87,09 |
|
Rata - rata prosentase keaktifan |
65,8 |
||
Pada pelaksanaan kegiatan penerapan pembelajaran Siklus I ini dilakukan beberapa
tahapan, diantaranya :
a.
Tahap Perencanaan Siklus
I
������� Pada tahap ini peneliti mempersiapkan
perangkat pembelajaran yang
terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pelajaran
(RPP) 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Proses
pembelajaran diikuti oleh
para siswa, dimulai dengan menginformasikan materi yang akan dibahas, tujuan pembelajaran dan penerapan metode pembelajaran yang akan digunakan. Siswa diharapkan bisa mencari informasi
dan menuliskan temuannya mengenai materi yang akan dibahas. Pada kegiatan awal pembelajaran
guru terlebih dahulu melakukan apersepsi terhadap materi yang telah lalu dengan
melakukan tanya jawab dan menghubungkan materi yang telah lalu dengan materi
yang akan dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi.
Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan� evaluasi
untuk mengukur keberhasilan� mengajar� siswa ( soal terlampir
) dengan memberikan kesempatan berlatih secara mandiri bagi siswa. Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi
tentang hasil kinerja guru. Pada tahap
ini merupakan pertemuan pertama penerapan model pembelajaran kooperatif dengan menerapkan model pembelajaran tipe Team
Assisted Individualization Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam� penelitian ini antara lain:
�
Kemampuan awal siswa
�
Prestasi belajar siswa
b.
Tahap Pelaksanaan Siklus
I
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dalam hal ini peneliti
bertindak sebagai guru.
Adapun proses belajar mengajar
mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan sesuai dengan tahapan � tahapan yang sudah direncanakan sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran yang telah dipersiapkan. Siklus I dilaksanakan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit sebagai tindak
lanjut kegiatan Pra-Siklus. Adapun langkah-langkah
pembelajaran pada siklus I ini secara garis besar adalah sebagai
berikut:
�
Guru menginformasikan
kepada siswa tentang model pembelajaran yang akan diterapkan yaitu model pembelajaran Team Assisted Individualization
�
Guru menginformasikan
kepada siswa tentang tujuan pembelajaran yaitu siswa memperoleh metode baru
�
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan indikator
pembelajaran
�
Guru memberikan apersepsi
�
Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari.
�
Guru membagi kelompok Peserta didik dibagi secara
heterogen berdasarkan
rata-rata nilai ulangan sebelumnya, tiap kelompok terdiri dari 5-6 anggota.
�
Guru meminta kepada masing-masing kelompok untuk membentuk ketua kelompok sebagai pemimpin dalam jalannya diskusi kelompok.
�
Guru memberikan 2 kertas plano (kertas
pertama untuk menguraikan hasil diskusi, sedangkan kertas kedua digunakan
untuk membuat alat peraga agar peserta didik menemukan
konsep sendiri
�
Guru memberikan
Lembar kerja siswa (LKS) kepada masing-masing kelompok.
�
Guru menjelaskan tentang cara kerja
kelompok dalam model pembelajaran Guru memberi tugas pada masing�masing kelompok.
Setiap kelompok mendapat tugas untuk mendiskusikan materi yang ditentukan oleh guru
c. Tahap Pengamatan (observasi) Siklus I
Kegiatan ini dilaksanakan
bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar, pengamatan yang dilakukan sangat bervariasi. Guru
/ peneliti menggunakan guru
/ teman sejawat untuk ikut masuk
kelas mengamati kebenaran pelaksanaan pembelajaran. Data yang diperoleh
dari kegiatan observasi yang dilakukan guru akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran, mengingat semua kelemahan peneliti akan teramati dengan
baik.�
Pengamatan oleh teman
sejawat seperti yang dipaparkan di atas sangat perlu dilakukan demi keberhasilan peningkatan mutu dan kebenaran pembelajaran. Hal tersebut dilakukan demi adanya upaya inovasi agar penelitian ini lebih berdaya guna
dan berhasil guna.
Selain pengamatan yang dilakukan oleh teman sejawat, upaya lain yang dilakukan adalah menyuruh salah satu siswa yang pandai untuk mengecek apakah pelaksanaan pembelajaran di kelas sudah berjalan sesuai harapan atau belum. Baik
guru yang mengamati, maupun
siswa yang disuruh mengamati kegiatan teman-temannya, dan diberi penjelasan tentang kebenaran pelaksanaan pembelajaran yang menuntut kreativitas; penemuan sendiri oleh siswa; penekanan pada kegiatan intelektual; memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata; membiasakan siswa lebih produktif, analitis, kritis; penggunaan metode, teknik, dan strategi yang memungkinkan
siswa mencari dan menemukan jawaban sendiri secara optimal. Selain itu, model ini menuntut kemampuan
pemecahan masalah untuk peningkatan kepuasan intelektual, mempertajam proses ingatan untuk penguasan lebih lama, pembelajaran lebih terpusat pada siswa, pengembangan konsep diri dan bakat akademik, menghindarkan diri dari belajar dengan
hafalan, menumbuhkan kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Pada akhir proses belajar
mengajar siswa diberi tes formatif
I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil nilai siswa
pada penelitian siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 6. Daftar Nilai Siswa Siklus I
|
NO. |
NAMA |
NILAI |
|
1 |
ALIFA NURUL AZMI |
68 |
|
2 |
ANDIEN SRI WAHYUNI |
75 |
|
3 |
APRILIA SALSABILLA DINDA |
65 |
|
4 |
DINAN INSANI |
75 |
|
5 |
FADHIL MUHAMMAD IQLAL |
80 |
|
6 |
FARIDA ALIFIA |
70 |
|
7 |
FAUZAN ALMA AZIZ |
79 |
|
8 |
FRANSISCUS ROY HOTLAN MARPAUNG |
84 |
|
9 |
FRISKYA AMEITHA |
70 |
|
10 |
KINTANA SHAKIRA |
77 |
|
11 |
LATIFAH DURRUNNULLAH |
60 |
|
12 |
MERSHIVA RAMADHISHA |
65 |
|
13 |
MUHAMMAD LUTHFI RAMDHANI |
66 |
|
14 |
MUHAMMAD REJKA PERMANA |
82 |
|
15 |
MUHAMMAD ZAKY RAMDHANI |
80 |
|
16 |
NABILA KHAERUNNISA |
66 |
|
17 |
NABILAH NURFAIDAH |
75 |
|
18 |
NUZUL PUTRI DELIANI |
85 |
|
19 |
RADEN YUNNI SURYANI |
75 |
|
20 |
REGINA KANYA ZULKAFIA |
65 |
|
21 |
SALSA KAMILAH INSANI |
80 |
|
22 |
SILVIA MAELANI |
66 |
|
23 |
SISKA APRILIA |
77 |
|
24 |
SONIA NATASJA ADRIANA |
60 |
|
25 |
SYAHANDRA RAMADHAN |
66 |
|
26 |
VENSKA SALSABILAH SUWANDI |
80 |
|
27 |
VIDIA ANGGRIANI |
80 |
|
28 |
YEMIMA ANDARNI PERMATA |
75 |
|
29 |
YUDA DWI UTOMO |
75 |
|
30 |
ZAHRA QOLBINA AWALIYAH |
84 |
|
31 |
ZALDIE PRADANA HIJRAH NURDIANTARA |
76 |
|
NILAI RATA - RATA |
73,58 |
|
Tabel
7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus I |
|
1 |
Nilai rata-rata tes formatif |
73,58 |
|
2 |
Jumlah siswa
yang tuntas belajar |
13 |
|
3 |
Persentase ketuntasan
belajar |
41,93 |
Dari tabel
di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pengajaran melalui model pembelajaran ini
dapat diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah
73,58 dan ketuntasan belajar
mencapai 41 % atau ada 13 siswa� dari 31 siswa sudah
tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I secara klasikal siswa belum tuntas
belajar, karena masih banyak siswa
yang memperoleh nilai
≤ 65 lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.
d. Tahap Refleksi
dan Revisi Siklus I
��������� Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan kognitif peserta didik pada siklus I peneliti juga melaksanakan evaluasi pada akhir pembelajaran. Dari
data diatas diperoleh
rata-rata hasil belajar di siklus I ini belum
mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan. Hal
ini terbukti dengan perolehan rata-rata hasil belajar sebesar
dengan ketuntasan belajar hanya mencapai
41 %. Oleh karena itu, agar penerapan model pembelajaran pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan keaktivan
dan hasil belajar peserta didik harus
dilaksanakan pembelajaran lagi pada siklus II. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I masih banyak kekurangan-kekurangan yang
harus diperbaiki. Berdasarkan data yang diperoleh, maka peneliti dan guru berdiskusi dan menyimpulkan hal-hal yang masih kurang dalam siklus
I dan perlu perbaikan adalah :
a.
Model pembelajaran Team Assisted
Individualization baru pertama kalinya diterapkan kepada peserta didik di SMA Negeri 6 Bandung dan menjadikan peserta didik sedikit
mengalami kebingungan dengan cara kerja
kelompok. Akibatnya pelaksanaan diskusi berlangsung dengan tidak cukup kondusif
karena peserta didik dari beberapa
kelompok mempertanyakan langkah yang harus dilakukan selanjutnya.
b.
Kerjasama
peserta didik dalam kelompok sudah berjalan dengan baik, namun
masih ada beberapa peserta didik yang gaduh dan memerlukan pengarahan.
c.
Pengkondisian waktu belum tertata
dengan baik, sehingga peserta didik merasa batas
waktu yang diberikan masih kurang.
d.
Peneliti menganalisis
hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, apakah ada yang perlu dipertahankan dan diperbaiki atau tidak.
e.
Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi
untuk tindakan berikutnya
f.
Membuat simpulan
sementara terhadap pelaksanaan siklus I.
Proses pembelajaran
pada siklus I menunjukan kelebihan dan kekurangan, Namun penerapan model Pembelajaran ini dapat memberikan peningkatan kepada siswa apa yang dipelajari, namun ternyata masih ada siswa yang belum sepenuhnya memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh peneliti, maka guru dan observer sepakat untuk mengadakan
perbaikan lagi pada siklus II agar semua siswa mendapat nilai yang baik. Berdasarkan kekurangan yang ada,
maka pelaksanaan pembelajaran pada siklus II perlu memperhatikan perbaikan-perbaikan.
2. Deskripsi
Tindakan Siklus
II
Proses pembelajaran
pada siklus II tidak jauh berbeda dari
pelaksanaan siklus sebelumnya, peneliti membagikan hasil
skor siswa serta memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya.
Guru� memberikan kesempatan kepada siswa
untuk bertanya tentang� materi� sebelumnya yang tidak dimengerti dan
menjelaskan garis besar materi sebelumnya.
Dari hasil pengamatan
dan latihan soal yang dilakukan pada kegiatan siklus I diketahui masih banyaknya siswa yang tidak mengalami ketuntasan ,� maka akan� diadakan�
perbaikan pada� siklus II. Pada tahap ini guru� merumuskan skenario pembelajaran� dengan memberikan contoh� atau mempresentasikan ulang tentang materi
pembelajaran selanjutnya. Adapun daftar nilai
keaktifan peserta didik pada siklus II adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Daftar Nilai Keaktifan Siklus II
|
NO. |
ASPEK PENILAIAN |
JML SISWA |
% |
|
1 |
Memperhatikan penjelasan
guru dan temannya |
25 |
80,64 |
|
2 |
Kerjasama dalam kelompok/diskusi |
28 |
90,32 |
|
3 |
Kemampuan dalam
bertanya |
22 |
70,96 |
|
4 |
Kemampuan dalam
menjawab pertanyaan |
20 |
64,51 |
|
5 |
Kemampuan memberi
gagasan |
25 |
80,64 |
|
6 |
Kemampuan dalam
berpendapat |
27 |
87,09 |
|
7 |
Memberi kesempatan
teman berpendapat |
25 |
80,64 |
|
8 |
Kemampuan dalam
membuat keputusan |
26 |
83,87 |
|
9 |
Kemampuan dalam
menyelesaikan masalah |
24 |
77,41 |
|
10 |
Melaksanakan pameran |
30 |
96,77 |
|
Rata - rata prosentase keaktifan |
81,285 |
||
Proisentase keaktivan
siswa pada siklus II mengalami banyak peningkatan, siswa sudah dengan baik
dalam memperhatikan penjelasan dari guru / peneliti, berani bertanya dan
memberikan jawaban serta pada kegiatan lainnya sangat baik, tingkat keaktifan peserta didik termasuk
dalam kategori Sangat Baik, sehingga proses kegiatan siklus II sudah berjalan dengan baik, hanya perlu
dilakukan evaluasi secara menyeluruh guna mempertahankan apa yang sudah diperoleh dengan baik.
Adapun tahapan � tahapan yang akan dilakukan pada kegiatan siklus II ini mengacu
dari kesalahan pada siklus I sebagai perbaikan selanjutnya, adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a.
Tahap perencanaan
Siklus II
Pada tahap
ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran,
soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung, serta melalui tahapan
� tahapan model pembelajaran
yang telah direncanakan dan
dilaksanakan pada siklus sebelumnya, dengan mengacu pada kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada kegiatan sebelumnya berdasarkan dari observasi yang telah dilakukan oleh guru / peneliti bersama dengan observer / rekan sejawat.
Untuk pelaksanaan siklus II yang dilaksanakan di kelas yang sama adalah sebagai
tindak lanjut evaluasi dari pelaksanaan
siklus I. Langkah-langkah
yang dilakukan dalam siklus II dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
a.
Identifikasi masalah dan penetapan alternative
pemecahan masalah.
b.
Meninjau kembali
rencana pelaksanaan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus II dengan melakukan revisi sesuai hasil
refleksi siklus I. Siklus ini untuk
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta
didik.
c.
Menyiapkan lembar
kerja observasi yaitu pengamatan terhadap keaktifan belajar peserta didik di kelas
d.
Menyiapkan lembar
soal yang digunakan pada akhir pembelajaran sebagai tes formatif
yang berusaha mengaitkan materi yang didapat oleh peserta didik dengan
kehidupan sehari-hari.
Lembar soal digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa
dalam proses pembelajaran
pada siklus II.
e.
Mengorganisir peserta didik dan mengubah kelompok serta membagi peserta
didik menjadi 6 kelompok. masing-masing kelompok beranggotakan 5-6 orang secara heterogen. Pembagian kelompok dibagi berdasarkan nilai skor hasil belajar
pada siklus I.
b.
Tahap Pelaksanaan Siklus II
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II, dalam hal ini peneliti
bertindak sebagai guru.
Adapun proses belajar mengajar
mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Adapun langkahlangkah
pembelajaran pada siklus II
ini secara garis besar adalah sebagai
berikut :
a.
Guru menginformasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang akan diterapkan.
b.
Guru menginformasikan kepada siswa tentang tujuan
pembelajaran yaitu siswa memperoleh metode baru yang dapat melatih siswa
berkomunikasi serta bekerja sama dalam
kelompok.
c.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan indikator
d.
Guru memberikan apersepsi dengan melakukan tanya jawab secara
umum.
e.
Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari.
f.
Guru membagi kelompok. Peserta didik dibagi
secara heterogen berdasarkan nilai evaluasi Siklus I, tiap kelompok terdiri
dari 5-6 anggota.
g.
Guru meminta kepada masing-masing kelompok untuk membentuk ketua kelompok sebagai pemimpin dalam jalannya diskusi kelompok.
h.
Guru memberikan 2 kertas plano (kertas pertama
untuk menguraikan hasil diskusi, sedangkan kertas kedua digunakan untuk membuat alat
peraga agar peserta didik menemukan konsep sendiri
i.
Guru memberikan Lembar kerja Siswa �(LKS) kepada
masing-masing kelompok.
j.
Guru menjelaskan tentang cara kerja kelompok
dalam model pembelajaran
c.
Tahap Pengamatan
(observasi) Siklus II
Kegiatan pelaksanaan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif II dengan tujuan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Kemudian peneliti membagikan hasil skor siswa serta
memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya tentang materi sebelumnya yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya. Peran guru pada tahap ini
sebagai fasilitator dan
motivator, setelah materi pelajaran dipelajari dan dibahas secara tes untuk menjawab
soal dengan tujuan untuk mengetahui
sejauh mana keberhasilan
yang telah dicapainya.
Instrument yang digunakan adalah
tes formatif II. Adapun
data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut:
Tabel
8. Daftar Nilai Siswa Siklus
II
|
NO. |
NAMA |
NILAI |
|
1 |
ALIFA NURUL AZMI |
83 |
|
2 |
ANDIEN SRI WAHYUNI |
85 |
|
3 |
APRILIA SALSABILLA DINDA |
80 |
|
4 |
DINAN INSANI |
85 |
|
5 |
FADHIL MUHAMMAD IQLAL |
85 |
|
6 |
FARIDA ALIFIA |
80 |
|
7 |
FAUZAN ALMA AZIZ |
84 |
|
8 |
FRANSISCUS ROY HOTLAN
MARPAUNG |
85 |
|
9 |
FRISKYA AMEITHA |
80 |
|
10 |
KINTANA SHAKIRA |
85 |
|
11 |
LATIFAH DURRUNNULLAH |
78 |
|
12 |
MERSHIVA RAMADHISHA |
75 |
|
13 |
MUHAMMAD LUTHFI RAMDHANI |
84 |
|
14 |
MUHAMMAD REJKA PERMANA |
85 |
|
15 |
MUHAMMAD ZAKY RAMDHANI |
85 |
|
16 |
NABILA KHAERUNNISA |
84 |
|
17 |
NABILAH NURFAIDAH |
85 |
|
18 |
NUZUL PUTRI DELIANI |
87 |
|
19 |
RADEN YUNNI SURYANI |
85 |
|
20 |
REGINA KANYA ZULKAFIA |
85 |
|
21 |
SALSA KAMILAH INSANI |
85 |
|
22 |
SILVIA MAELANI |
83 |
|
23 |
SISKA APRILIA |
87 |
|
24 |
SONIA NATASJA ADRIANA |
85 |
|
25 |
SYAHANDRA RAMADHAN |
80 |
|
26 |
VENSKA SALSABILAH SUWANDI |
87 |
|
27 |
VIDIA ANGGRIANI |
85 |
|
28 |
YEMIMA ANDARNI PERMATA |
87 |
|
29 |
YUDA DWI UTOMO |
85 |
|
30 |
ZAHRA QOLBINA AWALIYAH |
85 |
|
31 |
ZALDIE PRADANA HIJRAH
NURDIANTARA |
80 |
|
NILAI RATA - RATA |
83,67 |
|
Tabel
9. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus II |
|
1 |
Nilai rata-rata tes formatif |
83,67 |
|
2 |
Jumlah siswa
yang tuntas belajar |
30 |
|
3 |
Persentase ketuntasan
belajar |
96,77 |
d. Refleksi
dan Revisi Tindakan II
Pada tampilan siklus II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif
dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Selain adanya peningkatan
terbukti pada pencapaian nilai rata-rata pretest dan posttest. Hasil nilai pretest siklus II berarti ada kenaikan
setelah melihat hasil posttest siklus II ternyata semua siswa nilainya
sudah diatas 70.
Pada siklus II guru
telah menerapkan pengajaran dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil
belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak
diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan
tujuan agar pada pelaksanaan
proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pengajaran ini dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pembahasan
1. Ketuntasan
Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pengajaran pendekatan model pembelajaran
yang disampaikan memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari
semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I dan II) belajar siswa secara
klasikal telah tercapai.
2. Kemampuan
Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pengajaran dalam setiap siklus
mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif
terhadap proses mengingat kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat
ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3. Aktivitas
Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran ini yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa dengan
guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan
aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pengajaran dengan baik. Hal ini terlihat dari
aktivitas guru yang muncul
di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan
kegiatan, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan
balik/evaluasi/tanya jawab dimana
prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
a. Analisis
Hasil Tindakan
Nilai perkembangan
dihitung pada setiap siklus. Nilai perkembangan siklus I dihitung berdasarkan selisih skor dasar dengan
skor ulangan harian I, dan nilai perkembangan siklus II dihitung berdasarkan selisih skor ulangan
harian I dengan skor ulangan harian
II. Penyusunan kelompok
pada pembelajaran kooperatif
tipe Team Assisted Individualization siklus I berdasarkan skor sebelum tindakan,
dan penyusunan kelompok siklus II sama dengan kelompok pada siklus I. Nilai perkembangan
murid siklus I dan siklus
II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel
10. Hasil Pembelajaran Pra Siklus , Siklus I dan Siklus II
|
Uraian |
Pra Siklus |
Siklus I |
Siklus II |
|
Keaktifan peserta
didik |
41,28 |
65,8 |
81,28 |
|
Rata-rata hasil belajar |
66,09 |
73,58 |
83,67 |
|
Ketuntasan |
16,12 |
41,93 |
96,77 |
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Kimia yang
masing-masing terdiri dari
3 tindakan serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.
Prestasi belajar siswa sebelum
menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan.
2.
Aktifitas siswa selama proses pembelajaran Kimia menunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik
secara fisik, mental, emosional dan kemampuan intelektual.
3.
Pada
pembelajaran Kimia��
guru harus banyak memberikan contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakan siswa dalam proses penyelesaian soal-soal tersebut dengan menunjuk beberapa orang siswa untuk belajar menyelesaikannya
sesuai dengan kemampuannya masing-masing dengan
bimbingan guru.
4.
Selama
proses pembelajaran mulai dari kegiatan Pra
tindakan, Siklus I sampai Siklus II peneliti berusaha memotivasi setiap siswa pada semua kelompok dengan intensif dan adil supaya setiap siswa
berpartisipasi menyimak, menjawab, memberi sanggahan dan masukan selama diskusi berlangsung, selanjutnya menuliskan jawaban hasil diskusi tersebut
pada lembar jawaban secara mandiri.
5.
Guru
dapat menemukan berbagai metode pembelajaran yang menarik pada mata pelajaran Kimia dengan tujuan agar siswa lebih interaktif
dalam di masa sekarang dan
yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Suyitno. 2002. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor:
Ghalia Indonesia.
A. M, Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1996
Arifin, Mulyati.
(2000). Strategi Belajar Mengajar
Kimia. Bandung : JICA
Dimyati dan Mudjiono.
2002. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta dan Depdikbud.
Depdikbud. (1999). Penelitian
Tindakan (Action Research). Jakarta : Depdikbud.
Depdikbud. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
David Hopkins. (1993). A Teacher�s Guide to
Classroom Research. Philadelphia. Open University Press
Endang Sri Astuti,
(2010). Pengertian motivasi
belajar. Bandung: Nusa Media
Ervinna Juniawati
Widjaja. 2005. Studi Semiotika Pesan Moral Prososial dan Antisosial Dalam �The SpongeBob SquarePants Movie. Skripsi
Jurusan Komunikasi
Universitas Kristen Petra
Hamalik, Oemar.
2007. Proses Belajar Mengajar� Jakarta: Bumi
Aksara
Hamalik 2001 http://ppg-pgsd.blogspot.com/2012/04/pengertian-hasilbelajar.html
(di unduh pada hari minggu 17 Maret 2013 06.30)
Kemmis, S. & Mc. Taggart, R.
1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University Press.
Piaget, Jean, & Barbel Inhelder,
Psikologi Anak, Terj. Miftahul Jannah, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, Cet. 1, 2010.
Piaget, Jean, Antara Tindakan Dan Pikiran, disunting oleh Agus Cremers, PT. Gramedia,
Jakarta, 1988.
Sudjana, Nana. 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung :Sinar
Baru Algensido Offset.
Sudjana, D (2001) Metode
& Teknik Pembelajaran Partisipatif .Bandung:
Suparno, Paul, Filsafat
Konstruktivisme Dalam
Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius, 1997.
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 2009.�
Metode Penelitian Pendidikan,� Bandung:
PT Remaja Rosdakarya�
Suparno,
Paul. 1997.� Filsafat
Kontruktifis Dalam Pendidikan,� Jakarta: Konisius
Slavin,
Robert, E. 2008. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Bandung:
Nusa Media.
Shoimin,
Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
Solihatin, Etin, Cooperatif Learning,
Jakarta, Bumi Aksara, 2007.
Uno, Hamzah. 2012. Metode pembelajaran PAILKEM. Bandung : CV.Alfabeta
Warsono dan
Hariyanto. 2013. Pembelajaran
Aktif, Teori dan Asesmen. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahyudi. (2006). Menajemen Konflik dalam Organisasi. Bandung: Alfabeta, Anggota