PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SIFAT KOLIGATIF LARUTAN DI KELAS XII MIPA SEMESTER 1 SMA NEGERI 6 BANDUNG TAHUN AJARAN 2018/2019

����������������������

Teti Ismayati

SMA Negeri 4 Bandung

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 10-10-2022

Revised: 18-10-2022

Accepted: 30-10-2022

 

Keywords: Student Learning Motivation, Team Assisted Individualization (TAI) Learning Model

 

 

Kata Kunci: Motivasi Belajar Siswa, Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI)

 

Abstract

The method used in this study is a questionnaire (questionnaire), documentation and observation. The collected data were analyzed by descriptive percentage techniques and simple linear analysis. The purpose of this study was to determine the improvement of chemistry learning outcomes in class XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung Semester I for the 2018/2019 academic year by using the Team Assisted Individualization (TAI) learning method. The number of students who get low scores in Chemistry subjects below minimum completeness is due to one of them because the learning process so far has not involved students actively, therefore this study aims to determine the increase in student learning outcomes, especially on the subject matter of the Colligative Properties of Solutions. This research is a Classroom Action Research which involves four components, namely: Planning (plans), Action (action), Observation (observation), Reflection (reflection). The subjects in this study were students of class XII MIPA 4, totaling 31 students. From the research results obtained: Pre-cycle test results (cognitive domain) with an average value of 66.09% then in the first cycle the class average value is 73.58% with 41% class completeness, in the second cycle there is an increase with an average value � an average of 83.67% with a learning completeness of 96.77%. In the second cycle the learning process increases because the teacher can understand the obstacles he faces in the previous action display. Students are more active and creative in completing tasks. Through the results of this research, it shows that the teaching of the learning model approach that is delivered has a positive impact on improving student learning achievement. This can be seen from the more solid understanding and mastery of students on the material that has been delivered by the teacher so far (mastery learning has increased from cycles I and II) classical student learning has been achieved.

 

 

Abstrak

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kuesioner), dokumentasi dan observasi.data yang dikumpulkan dianalisis dengan tekhnik deskriftif presentase dan analisis linier sederhana.� Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan hasil belajar Kimia pada siswa kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6Bandung Semester I Tahun Ajaran 2018/2019 dengan menggunakan metode pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Banyaknya siswa yang memperoleh nilai rendah pada mata pelajaran Kimia di bawah ketuntasan minimal disebabkan salah satunya karena proses pembelajaran selama ini belum melibatkan siswa secara aktif oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa terutama pada materi pokok sifat Koligatif Larutan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII MIPA 4yang berjumlah 31 siswa. Dari hasil penelitian diperoleh: Hasil tes (ranah kognitif) Pra Siklus dengan nilai rata � rata 66,09 % lalu pada siklus I nilai rata-rata kelas 73,58 % dengan ketuntasan belajar kelas 41 %, pada siklus II mengalami peningkatan dengan nilai rata � rata 83,67% dengan ketuntasan belajar 96,77 %. Pada tampilan siklus II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh� karena guru dapat memahami� kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan� sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pengajaran pendekatan model pembelajaran yang disampaikan memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I dan II) belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

 

Corresponding Author: Teti Ismayati�

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran tidak terlepas dari perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan media atau sarana yang digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas, serangkaian perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan seorang guru dalam menghadapi pembelajaran di kelas (Suhardi, 2007:24). Faktor-faktor keberhasilan pembelajaran kimia meliputi guru, murid, buku-buku penunjang, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), handout, powerpoint, silabus, standar kompetensi dan kompentensi dasar. Proses belajar mengajar juga tidak terlepas dari sarana prasarana seperti meja, kursi, dan laboratorium yang mendukung berjalannya belajar mengajar dengan baik (Zainal Aqib, 2002:32).

Pendidik lebih sering menyampaikan ilmu sebagai fakta bukannya sebagai peristiwa atau gejala yang harus diamati, diukur dan didiskusikan, sehingga proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan pada kemampuan peserta didik untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk menghafal informasi, peserta didik dipaksa untuk mengingat dan menimbun informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu apalagi menghubungkan informasi yang di peroleh dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika peserta didik lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis tetapi miskin aplikasi. Kenyataan ini juga berlaku untuk kelompok mata pelajaran IPA dimana proses pembelajaran yang dilakukan selama ini tidak dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan sistematis, karena strategi pembelajaran berpikir tidak digunakan secara baik dalam setiap proses pembelajaran di dalam kelas, (Wina Sanjaya, 2009:1-2).

Dalam proses belajar mengajar aktivitas dan keterlibatan siswa secara utuh sangat penting terwujud agar kegiatan pembelajaran dapat berhasil dengan optimal. Pembelajaran kimia merupakan pembelajaran yang menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh sebab itu, rancangan pembelajaran kimia harus dapat memuat pengembangan ketiga aspek tersebut. Untuk mengembangkan aspek afektif dan psikomotor dapat dilakukan melalui kegiatan praktikum di laboratorium. Kegiatan praktikum merupakan salah satu bentuk pendekatan keterampilan proses.

Mengajar adalah bukan suatu kegiatan yang statis, tetapi merupakan interaksi dinamis antara kondisi sosial, tujuan pengembangan berpikir, teori-teori belajar, dan teknologi pendukung terutama dengan aspek personal dan intelektual siswa. Guru harus bisa mengintegrasikan semua faktor tersebut sehingga diperoleh hasil pembelajaran sebaik mungkin, artinya bahwa metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru dapat memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya dan bermakna bagi diri siswa.

Cara mengajar atau lebih dikenal dengan metode pembelajaran menyangkut pada permasalahan kegiatan fisik apa yang harus diberikan kepada siswa sehingga kemampuan intelektualnya dapat berkembang, dan belajar dapat berjalan secara efisien serta bermakna (Mulyati Arifin, 2000: 118).

Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu menjelajahi dan memahami secara ilmiah. Proses Pendidikan diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pembelajaran yang didapatnya.

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Komponen yang selama ini dianggap sangat mempengaruhi proses pendidikan adalah komponen guru. Hal ini memang wajar, sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning).

Berdasarkan temuan diatas, dapat dikatakan bahwa sampai saat ini pembelajaran IPA Kimia masih bermasalah dan masih memerlukan inovasi-inovasi tertentu untuk memperbaikinya. Proses belajar mengajar yang masih sebatas sebagai proses transfer of knowledge bersifat verbalistik dan hanya berpusat pada aktivitas guru, hendaknya segara diubah. Polamato (2005) menemukan adanya alasan logis yang dapat dikemukakan mengapa adanya model pembelajaran menjadi hal yang ditekankan dengan mengembangkan kreatifitas siswa dalam pembelajaran, diantaranya:

1.    Model pembelajaran merupakan model manipulatif, yang mana setiap guru memiliki kebebasan untuk memilih dan menggunakan berbagai model pengajaran sesuai karakteristik materi pengajarannya

2.    Materi pembelajaran memiliki fungsi sebagai instrument yang membantu atau memudahkan siswa dalam memperoleh sejumlah pengalaman belajar.

3.    Pengembangan model pembelajaran dalam konteks peningkatan mutu perolehan hasil belajar siswa perlu diupayakan secara terus menerus dan bersifat komprenshif.

 

Berdasarkan data diatas, guru hendaknya melaksanakan model pembelajaran yang bisa menumbuhkan pembelajaran siswa, menjadikan lebih bermakna. Pomalato (2005) menuliskan beberapa alternatif dalam mengembangkan kemampuan berfikir kreatif. Salah satunya adalah model pembelajaran Team Assisted Individualization. Model pembelajaran Team Assisted Individualization adalah metode pembelajaran yang berbentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan. Dalam metode ini, diterapkan bimbingan dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Selain itu terdapat pula bantuan individu dari guru kepada siswa yang membutuhkan. Berdasarkan latar belakang diatas,penulis merasa tertarik untuk mengetahui sejauh mana Penerapan Model Pembelajaran Team Assisted Individualization dapat Meningkatkan Hasil Belajar KIMIA� Siswa kelas XII � SMA Negeri 6 Bandung.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a.         Bagaimanakah aktivitas siswa kelas XII MIPA di SMA Negeri 6 Bandung setelah diterapkannya model pembelajaran Team Assisted Individualization?

b.         Bagaimanakah hasil belajar siswa kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 6 Bandung setelah diterapkannya model pembelajaran Team Assisted Individualization?

c.         Bagaimanakah perubahan dalam pembelajaran IPA Kimia�� kelas XII MIPA SMA Negeri 6 Bandung setelah diterapkannya model pembelajaran Team Assisted Individualization?

 

Sesuai dengaan rumusan �masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah:

a.         Untuk meningkatkan aktivitas belajar Kimia melalui metode pembelajaran� Team Assisted Individualization

b.         Untuk meningkatkan �pemahaman dan daya serap belajar siswa kelas XII MIPA� SMA Negeri 6 Bandung

c.         Mengetahui perubahan sikap siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas XII MIPA� SMA Negeri 6 Bandung setelah menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization

d.         Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran, yang ditandai dengan keaktifan siswa secara menyeluruh dalam pembelajaran.

 

METODA PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Ada 4 macam bentuk penelitian tindakan, yaitu :

a.     penelitian tindakan guru sebagai peneliti,

b.    penelitian tindakan kolaboratif,

c.     penelitian tindakan simultan terintegratif, dan

d.    penelitian tindakan sosial eksperimental.

 

Keempat bentuk penelitian tindakan di atas, ada persamaan dan perbedaannya. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada :

a.     tujuan utamanya atau pada tekanannya,

b.    tingkat kolaborasi antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar,

c.     proses yang digunakan dalam melakukan penelitian, dan

d.    hubungan dengan sekolah.

 

Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan sekali dalam proses penelitian tindakan kelas, sedangkan aktivitas pengamatan dilakukan oleh guru lain sebagai observer / pengamat. Tujuan utama penelitian tindakan kelas ini ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini peranannya tidak dominan dan sangat kecil.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan alur di atas adalah:

1.    Rancangan/perencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.�

2.    Pelaksanaan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran dengan pemberian balikan.

3.    Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.

4.    Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan membuat rangcangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

 

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di Kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung pada mata pelajaran Kimia. Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan yaitu mulai bulan September s/d November 2019 (Semester I tahun ajaran 2018/2019). Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung pada mata pelajaran Kimia Tahun Ajaran 2018/2019.

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1.         Untuk menilai Hasil Ulangan/ tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan :� � X = Nilai rata-rata

�� ���� ��������Σ X� �= Jumlah semua nilai siswa

�� Σ N�� = �Jumlah siswa

X = Σ X

������ Σ N

 

Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

P = Σ siswa yang tuntas�� x 100 %

������������ Σ siswa

 

2.         Analisis data dalam penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan� kualitatif (Supardi, 2006:131). Terhadap perolehan hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus satu dan siklus dua untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif presentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptif� prosentase, yang� dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut:

Tabel 1. Klasifikasi Kategori Tingkatan dan Prosentase

No.

Kriteria Nilai Penafsiran

Hasil belajar

1

86 - 100

Baik Sekali

2

71 - 85

Baik

3

56 - 70

Cukup

4

41 - 55

kurang

5

Kurang < 40

sangat kurang

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.       Deskripsi Kondisi Awal / Pra Siklus

Tahap pra siklus adalah tahap dimana belum diterapkannya model pembelajaran yang baru. Pelaksanaan pembelajaran pada pra siklus ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh keaktifan dan kemampuan peserta didik dalam pembelajaran di kelas sebelum diterapkannya model pembelajaran. Pada prasiklus ini, didapatkan informasi mengenai keaktifan dan hasil belajar peserta didik kelas XII MIPA 4 SMA Negeri 6 Bandung. Pengetahuan awal ini perlu diketahui agar kiranya penelitian ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peneliti,� apakah benar kiranya kelas ini perlu diberi tindakan yang sesuai dengan apa yang akan diteliti yaitu penerapan strategi pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil nilai siswa. Untuk mengungkap kondisi awal dari kelas yang menjadi objek tindakan� kelas ini maka peneliti melakukan langkah � langkah sebagai berikut :

a.    Tahap Perencanaan.

Untuk mengetahui kondisi awal dari kelas XII MIPA 4 Semester 1 SMA Negeri 6 Bandung Tahun Ajaran 2018/2019, maka peneliti merencanakan observasi langsung, kegiatan yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Observasi langsung yang dilakukan untuk mengetahui strategi pembelajaran yang digunakan sebelumnya. Guru / Peneliti� dibantu guru pengajar lainnya yang bertindak sebagai observer sebagai pengamat serta menyiapkan alat tes yang akan digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan penguasaan awal materi dari siswa.

b.    Tahap Pelaksanaan.

Pelaksanaan untuk mengukur� kemampuan� awal siswa dilaksanakan di awali dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran� ini guru / peneliti� mengamati� kejadian � kejadian� yang terjadi secara rinci pada saat memaparkan materi pembelajaran, dalam menyampaikan materi memerlukan waktu 1 jam pelajaran dan 15 menit untuk pemberian contoh, selanjutnya guru / peneliti memberikan posttest� dengan menggunakan soal yang telah dirancang sebelumnya

Pada pelaksanaan ini peneliti / guru bersama dengan observer mengawasi kerja siswa dalam mengerjakan soal yang diberikan , sehingga keakuratan dari hasil pengawasan dapat dipertanggung jawabkan.

c.     Hasil Pengamatan / Observasi

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa pada pengajaran yang dilakukan, guru / peneliti masih menggunakan cara pengajaran yang� tradisional yaitu guru sebagai pusat pembelajaran dan� pengajaran materi tersebut diajarkan dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran berlangsung terlihat siswa asyik dengan kegiatannya sendiri yang tidak ada kaitannya dengan apa yang disampaikan guru. Justru masih terlihat anak � anak yang bermain � main dengan temannya tanpa mempedulikan apa yang disampaikan oleh guru pengajar. Dan dari hasil pengerjaan siswa pada alat tes yang telah dirancang oleh guru setelah diadakan koreksi maka didapatkan hasil yang kurang memuaskan.

d.    Tahap Refleksi.

Dari kondisi awal yang ada tersebut maka perlu diadakan suatu tindakan untuk mengangkat kemampuan penguasaan materi. Berdasarkan tanya jawab yang dilakukan peneliti terhadap siswa, terungkap bahwa siswa mempunyai kelemahan pada pengembangan skill pengerjaan suatu masalah karena kurangnya siswa diberi kesempatan untuk berlatih dalam� menyelesaikan masalah � masalah, sehingga siswa minta untuk diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah sebelum guru pengajar menyelesaikannya.

Bertolak dari kondisi awal tersebut maka peneliti merencanakan tindakan penelitian dengan menerapkan strategi pembelajaran dengan memperlakukan pembelajaran aktif pada kelompok besar. Informasi mengenai keaktifan dan hasil belajar peserta didik didapatkan dari hasil wawancara peneliti dengan Observer / rekan sejawat. Adapun daftar nilai keaktifan peserta didik pada pra siklus adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Daftar Nilai Keaktifan Pra Siklus

NO.

ASPEK PENILAIAN

JML SISWA

%

1

Memperhatikan penjelasan guru dan temannya

10

32,25

2

Kerjasama dalam kelompok/diskusi

14

45,16

3

Kemampuan dalam bertanya

11

35,48

4

Kemampuan dalam menjawab pertanyaan

8

25,8

5

Kemampuan memberi gagasan

12

38,7

6

Kemampuan dalam berpendapat

17

54,83

7

Memberi kesempatan teman berpendapat

15

48,38

8

Kemampuan dalam membuat keputusan

10

32,25

9

Kemampuan dalam menyelesaikan masalah

12

38,7

10

Melaksanakan pameran

19

61,29

Rata - rata prosentase keaktifan

41,28

 

Berikut hasil nilai siswa pada saat sebelum dilakukan penerapan model pembelajaran dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 3. Daftar Nilai Siswa Pra Siklus

NO.

NAMA

NILAI

1

ALIFA NURUL AZMI

60

2

ANDIEN SRI WAHYUNI

70

3

APRILIA SALSABILLA DINDA

59

4

DINAN INSANI

68

5

FADHIL MUHAMMAD IQLAL

72

6

FARIDA ALIFIA

65

7

FAUZAN ALMA AZIZ

75

8

FRANSISCUS ROY HOTLAN MARPAUNG

78

9

FRISKYA AMEITHA

60

10

KINTANA SHAKIRA

74

11

LATIFAH DURRUNNULLAH

56

12

MERSHIVA RAMADHISHA

54

13

MUHAMMAD LUTHFI RAMDHANI

55

14

MUHAMMAD REJKA PERMANA

50

15

MUHAMMAD ZAKY RAMDHANI

75

16

NABILA KHAERUNNISA

59

17

NABILAH NURFAIDAH

68

18

NUZUL PUTRI DELIANI

72

19

RADEN YUNNI SURYANI

65

20

REGINA KANYA ZULKAFIA

75

21

SALSA KAMILAH INSANI

78

22

SILVIA MAELANI

60

23

SISKA APRILIA

74

24

SONIA NATASJA ADRIANA

56

25

SYAHANDRA RAMADHAN

54

26

VENSKA SALSABILAH SUWANDI

78

27

VIDIA ANGGRIANI

75

28

YEMIMA ANDARNI PERMATA

65

29

YUDA DWI UTOMO

60

30

ZAHRA QOLBINA AWALIYAH

79

31

ZALDIE PRADANA HIJRAH NURDIANTARA

60

NILAI RATA - RATA

66,09

 

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pra Siklus

No

Uraian

Pra Siklus

1

Nilai rata-rata tes formatif

66,09

2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

5

3

Persentase ketuntasan belajar

16,12

 

Setelah mengamati secara langsung pada proses pembelajaran dan melihat hasil belajar peserta didik pada tahap pra siklus, kemudian peneliti melakukan diskusi dengan guru mitra untuk melangkah ke tahap berikutnya yaitu pada tahap siklus I. Sebelum melaksanakan siklus berikutnya ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi untuk pelaksanaan tindakan pada siklus I, yaitu :

a.       Pelaksanaan pembelajaran masih pada komunikasi satu arah (guru ke peserta didik).

b.       metode pembelajaran yang digunakan belum mampu mengaktifkan keterlibatan peserta didik secara optimal.

c.       pembelajaran yang ada di kelas berkaitan dengan sumber pembelajaran masih bergantung pada LKS (Lembar Kerja Siswa).

d.       Peserta didik belum mempunyai keberanian dalam bertanya mengenai kesulitan yang dihadapinya.

e.       Guru cenderung memberikan pertanyaan yang memungkinkan dijawab secara bersama-sama.

 

1.       Deskripsi Tindakan Siklus I

Berdasarkan temuan masalah pada awal kegiatan sebagai dasar / pra siklus sebelum masuk pada kegiatan pembelajaran Siklus I, maka diadakan pelaksanaan pembelajaran siklus I. Pada tahap ini guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar siswa (soal terlampir). Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi tentang hasil kinerja guru. Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam penelitian ini antara lain:

�       Kemampuan awal siswa

�       Prestasi belajar siswa untuk kelompok

Pada kegiatan pelaksanaan pembelajaran siklus I juga diperlukan Informasi mengenai keaktifan dan hasil belajar peserta didik, dari hasil wawancara peneliti dengan Observer / rekan sejawat. Adapun daftar nilai keaktifan peserta didik pada siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 5. daftar nilai keaktifan peserta didik

NO.

ASPEK PENILAIAN

JML SISWA

%

1

Memperhatikan penjelasan guru dan temannya

20

64,51

2

Kerjasama dalam kelompok/diskusi

22

70,96

3

Kemampuan dalam bertanya

18

58,06

4

Kemampuan dalam menjawab pertanyaan

17

54,83

5

Kemampuan memberi gagasan

20

64,51

6

Kemampuan dalam berpendapat

22

70,96

7

Memberi kesempatan teman berpendapat

20

64,51

8

Kemampuan dalam membuat keputusan

18

58,06

9

Kemampuan dalam menyelesaikan masalah

20

64,51

10

Melaksanakan pameran

27

87,09

Rata - rata prosentase keaktifan

65,8

 

Pada pelaksanaan kegiatan penerapan pembelajaran Siklus I ini dilakukan beberapa tahapan, diantaranya :

a.    Tahap Perencanaan Siklus I

������� Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pelajaran (RPP) 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Proses pembelajaran diikuti oleh para siswa, dimulai dengan menginformasikan materi yang akan dibahas, tujuan pembelajaran dan penerapan metode pembelajaran yang akan digunakan. Siswa diharapkan bisa mencari informasi dan menuliskan temuannya mengenai materi yang akan dibahas. Pada kegiatan awal pembelajaran guru terlebih dahulu melakukan apersepsi terhadap materi yang telah lalu dengan melakukan tanya jawab dan menghubungkan materi yang telah lalu dengan materi yang akan dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi.

Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan� evaluasi untuk mengukur keberhasilan� mengajar� siswa ( soal terlampir ) dengan memberikan kesempatan berlatih secara mandiri bagi siswa. Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi tentang hasil kinerja guru. Pada tahap ini merupakan pertemuan pertama penerapan model pembelajaran kooperatif dengan menerapkan model pembelajaran tipe Team Assisted Individualization Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam� penelitian ini antara lain:

�      Kemampuan awal siswa

�      Prestasi belajar siswa

b.    Tahap Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan sesuai dengan tahapan � tahapan yang sudah direncanakan sebelumnya dengan menggunakan model pembelajaran yang telah dipersiapkan. Siklus I dilaksanakan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit sebagai tindak lanjut kegiatan Pra-Siklus. Adapun langkah-langkah pembelajaran pada siklus I ini secara garis besar adalah sebagai berikut:

�      Guru menginformasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang akan diterapkan yaitu model pembelajaran Team Assisted Individualization

�      Guru menginformasikan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran yaitu siswa memperoleh metode baru

�      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan indikator pembelajaran

�      Guru memberikan apersepsi

�      Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari.

�      Guru membagi kelompok Peserta didik dibagi secara heterogen berdasarkan rata-rata nilai ulangan sebelumnya, tiap kelompok terdiri dari 5-6 anggota.

�      Guru meminta kepada masing-masing kelompok untuk membentuk ketua kelompok sebagai pemimpin dalam jalannya diskusi kelompok.

�      Guru memberikan 2 kertas plano (kertas pertama untuk menguraikan hasil diskusi, sedangkan kertas kedua digunakan untuk membuat alat peraga agar peserta didik menemukan konsep sendiri

�      Guru memberikan Lembar kerja siswa (LKS) kepada masing-masing kelompok.

�      Guru menjelaskan tentang cara kerja kelompok dalam model pembelajaran Guru memberi tugas pada masing�masing kelompok. Setiap kelompok mendapat tugas untuk mendiskusikan materi yang ditentukan oleh guru

c.     Tahap Pengamatan (observasi) Siklus I

Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar, pengamatan yang dilakukan sangat bervariasi. Guru / peneliti menggunakan guru / teman sejawat untuk ikut masuk kelas mengamati kebenaran pelaksanaan pembelajaran. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi yang dilakukan guru akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran, mengingat semua kelemahan peneliti akan teramati dengan baik.�

Pengamatan oleh teman sejawat seperti yang dipaparkan di atas sangat perlu dilakukan demi keberhasilan peningkatan mutu dan kebenaran pembelajaran. Hal tersebut dilakukan demi adanya upaya inovasi agar penelitian ini lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Selain pengamatan yang dilakukan oleh teman sejawat, upaya lain yang dilakukan adalah menyuruh salah satu siswa yang pandai untuk mengecek apakah pelaksanaan pembelajaran di kelas sudah berjalan sesuai harapan atau belum. Baik guru yang mengamati, maupun siswa yang disuruh mengamati kegiatan teman-temannya, dan diberi penjelasan tentang kebenaran pelaksanaan pembelajaran yang menuntut kreativitas; penemuan sendiri oleh siswa; penekanan pada kegiatan intelektual; memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata; membiasakan siswa lebih produktif, analitis, kritis; penggunaan metode, teknik, dan strategi yang memungkinkan siswa mencari dan menemukan jawaban sendiri secara optimal. Selain itu, model ini menuntut kemampuan pemecahan masalah untuk peningkatan kepuasan intelektual, mempertajam proses ingatan untuk penguasan lebih lama, pembelajaran lebih terpusat pada siswa, pengembangan konsep diri dan bakat akademik, menghindarkan diri dari belajar dengan hafalan, menumbuhkan kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil nilai siswa pada penelitian siklus I adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Daftar Nilai Siswa Siklus I

NO.

NAMA

NILAI

1

ALIFA NURUL AZMI

68

2

ANDIEN SRI WAHYUNI

75

3

APRILIA SALSABILLA DINDA

65

4

DINAN INSANI

75

5

FADHIL MUHAMMAD IQLAL

80

6

FARIDA ALIFIA

70

7

FAUZAN ALMA AZIZ

79

8

FRANSISCUS ROY HOTLAN MARPAUNG

84

9

FRISKYA AMEITHA

70

10

KINTANA SHAKIRA

77

11

LATIFAH DURRUNNULLAH

60

12

MERSHIVA RAMADHISHA

65

13

MUHAMMAD LUTHFI RAMDHANI

66

14

MUHAMMAD REJKA PERMANA

82

15

MUHAMMAD ZAKY RAMDHANI

80

16

NABILA KHAERUNNISA

66

17

NABILAH NURFAIDAH

75

18

NUZUL PUTRI DELIANI

85

19

RADEN YUNNI SURYANI

75

20

REGINA KANYA ZULKAFIA

65

21

SALSA KAMILAH INSANI

80

22

SILVIA MAELANI

66

23

SISKA APRILIA

77

24

SONIA NATASJA ADRIANA

60

25

SYAHANDRA RAMADHAN

66

26

VENSKA SALSABILAH SUWANDI

80

27

VIDIA ANGGRIANI

80

28

YEMIMA ANDARNI PERMATA

75

29

YUDA DWI UTOMO

75

30

ZAHRA QOLBINA AWALIYAH

84

31

ZALDIE PRADANA HIJRAH NURDIANTARA

76

NILAI RATA - RATA

73,58

 

Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I

No

Uraian

Hasil Siklus I

1

Nilai rata-rata tes formatif

73,58

2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

13

3

Persentase ketuntasan belajar

41,93

 

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pengajaran melalui model pembelajaran ini dapat diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 73,58 dan ketuntasan belajar mencapai 41 % atau ada 13 siswa� dari 31 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena masih banyak siswa yang memperoleh nilai ≤ 65 lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.

d.    Tahap Refleksi dan Revisi Siklus I

��������� Untuk mengukur seberapa jauh kemampuan kognitif peserta didik pada siklus I peneliti juga melaksanakan evaluasi pada akhir pembelajaran. Dari data diatas diperoleh rata-rata hasil belajar di siklus I ini belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan. Hal ini terbukti dengan perolehan rata-rata hasil belajar sebesar dengan ketuntasan belajar hanya mencapai 41 %. Oleh karena itu, agar penerapan model pembelajaran pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan keaktivan dan hasil belajar peserta didik harus dilaksanakan pembelajaran lagi pada siklus II. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I masih banyak kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Berdasarkan data yang diperoleh, maka peneliti dan guru berdiskusi dan menyimpulkan hal-hal yang masih kurang dalam siklus I dan perlu perbaikan adalah :

a.     Model pembelajaran Team Assisted Individualization baru pertama kalinya diterapkan kepada peserta didik di SMA Negeri 6 Bandung dan menjadikan peserta didik sedikit mengalami kebingungan dengan cara kerja kelompok. Akibatnya pelaksanaan diskusi berlangsung dengan tidak cukup kondusif karena peserta didik dari beberapa kelompok mempertanyakan langkah yang harus dilakukan selanjutnya.

b.    Kerjasama peserta didik dalam kelompok sudah berjalan dengan baik, namun masih ada beberapa peserta didik yang gaduh dan memerlukan pengarahan.

c.     Pengkondisian waktu belum tertata dengan baik, sehingga peserta didik merasa batas waktu yang diberikan masih kurang.

d.    Peneliti menganalisis hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, apakah ada yang perlu dipertahankan dan diperbaiki atau tidak.

e.     Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk tindakan berikutnya

f.     Membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan siklus I.

 

Proses pembelajaran pada siklus I menunjukan kelebihan dan kekurangan, Namun penerapan model Pembelajaran ini dapat memberikan peningkatan kepada siswa apa yang dipelajari, namun ternyata masih ada siswa yang belum sepenuhnya memahami materi pembelajaran yang diberikan oleh peneliti, maka guru dan observer sepakat untuk mengadakan perbaikan lagi pada siklus II agar semua siswa mendapat nilai yang baik. Berdasarkan kekurangan yang ada, maka pelaksanaan pembelajaran pada siklus II perlu memperhatikan perbaikan-perbaikan.

2.       Deskripsi Tindakan Siklus II

Proses pembelajaran pada siklus II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan siklus sebelumnya, peneliti membagikan hasil skor siswa serta memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya. Guru� memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang� materi� sebelumnya yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya.

Dari hasil pengamatan dan latihan soal yang dilakukan pada kegiatan siklus I diketahui masih banyaknya siswa yang tidak mengalami ketuntasan ,� maka akan� diadakan� perbaikan pada� siklus II. Pada tahap ini guru� merumuskan skenario pembelajaran� dengan memberikan contoh� atau mempresentasikan ulang tentang materi pembelajaran selanjutnya. Adapun daftar nilai keaktifan peserta didik pada siklus II adalah sebagai berikut:

 

Tabel 7. Daftar Nilai Keaktifan Siklus II

NO.

ASPEK PENILAIAN

JML SISWA

%

1

Memperhatikan penjelasan guru dan temannya

25

80,64

2

Kerjasama dalam kelompok/diskusi

28

90,32

3

Kemampuan dalam bertanya

22

70,96

4

Kemampuan dalam menjawab pertanyaan

20

64,51

5

Kemampuan memberi gagasan

25

80,64

6

Kemampuan dalam berpendapat

27

87,09

7

Memberi kesempatan teman berpendapat

25

80,64

8

Kemampuan dalam membuat keputusan

26

83,87

9

Kemampuan dalam menyelesaikan masalah

24

77,41

10

Melaksanakan pameran

30

96,77

Rata - rata prosentase keaktifan

81,285

Proisentase keaktivan siswa pada siklus II mengalami banyak peningkatan, siswa sudah dengan baik dalam memperhatikan penjelasan dari guru / peneliti, berani bertanya dan memberikan jawaban serta pada kegiatan lainnya sangat baik, tingkat keaktifan peserta didik termasuk dalam kategori Sangat Baik, sehingga proses kegiatan siklus II sudah berjalan dengan baik, hanya perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh guna mempertahankan apa yang sudah diperoleh dengan baik.

Adapun tahapan � tahapan yang akan dilakukan pada kegiatan siklus II ini mengacu dari kesalahan pada siklus I sebagai perbaikan selanjutnya, adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a.    Tahap perencanaan Siklus II

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran, soal tes formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung, serta melalui tahapan � tahapan model pembelajaran yang telah direncanakan dan dilaksanakan pada siklus sebelumnya, dengan mengacu pada kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada kegiatan sebelumnya berdasarkan dari observasi yang telah dilakukan oleh guru / peneliti bersama dengan observer / rekan sejawat.

Untuk pelaksanaan siklus II yang dilaksanakan di kelas yang sama adalah sebagai tindak lanjut evaluasi dari pelaksanaan siklus I. Langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

a.     Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah.

b.    Meninjau kembali rencana pelaksanaan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus II dengan melakukan revisi sesuai hasil refleksi siklus I. Siklus ini untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik.

c.     Menyiapkan lembar kerja observasi yaitu pengamatan terhadap keaktifan belajar peserta didik di kelas

d.    Menyiapkan lembar soal yang digunakan pada akhir pembelajaran sebagai tes formatif yang berusaha mengaitkan materi yang didapat oleh peserta didik dengan kehidupan sehari-hari. Lembar soal digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran pada siklus II.

e.     Mengorganisir peserta didik dan mengubah kelompok serta membagi peserta didik menjadi 6 kelompok. masing-masing kelompok beranggotakan 5-6 orang secara heterogen. Pembagian kelompok dibagi berdasarkan nilai skor hasil belajar pada siklus I.

b.    Tahap Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II, dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Adapun langkahlangkah pembelajaran pada siklus II ini secara garis besar adalah sebagai berikut :

a.     Guru menginformasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang akan diterapkan.

b.    Guru menginformasikan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran yaitu siswa memperoleh metode baru yang dapat melatih siswa berkomunikasi serta bekerja sama dalam kelompok.

c.     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan indikator

d.    Guru memberikan apersepsi dengan melakukan tanya jawab secara umum.

e.     Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari.

f.     Guru membagi kelompok. Peserta didik dibagi secara heterogen berdasarkan nilai evaluasi Siklus I, tiap kelompok terdiri dari 5-6 anggota.

g.    Guru meminta kepada masing-masing kelompok untuk membentuk ketua kelompok sebagai pemimpin dalam jalannya diskusi kelompok.

h.    Guru memberikan 2 kertas plano (kertas pertama untuk menguraikan hasil diskusi, sedangkan kertas kedua digunakan untuk membuat alat peraga agar peserta didik menemukan konsep sendiri

i.      Guru memberikan Lembar kerja Siswa �(LKS) kepada masing-masing kelompok.

j.      Guru menjelaskan tentang cara kerja kelompok dalam model pembelajaran

c.     Tahap Pengamatan (observasi) Siklus II

Kegiatan pelaksanaan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Kemudian peneliti membagikan hasil skor siswa serta memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi sebelumnya yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya. Peran guru pada tahap ini sebagai fasilitator dan motivator, setelah materi pelajaran dipelajari dan dibahas secara tes untuk menjawab soal dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut:

Tabel 8. Daftar Nilai Siswa Siklus II

NO.

NAMA

NILAI

1

ALIFA NURUL AZMI

83

2

ANDIEN SRI WAHYUNI

85

3

APRILIA SALSABILLA DINDA

80

4

DINAN INSANI

85

5

FADHIL MUHAMMAD IQLAL

85

6

FARIDA ALIFIA

80

7

FAUZAN ALMA AZIZ

84

8

FRANSISCUS ROY HOTLAN MARPAUNG

85

9

FRISKYA AMEITHA

80

10

KINTANA SHAKIRA

85

11

LATIFAH DURRUNNULLAH

78

12

MERSHIVA RAMADHISHA

75

13

MUHAMMAD LUTHFI RAMDHANI

84

14

MUHAMMAD REJKA PERMANA

85

15

MUHAMMAD ZAKY RAMDHANI

85

16

NABILA KHAERUNNISA

84

17

NABILAH NURFAIDAH

85

18

NUZUL PUTRI DELIANI

87

19

RADEN YUNNI SURYANI

85

20

REGINA KANYA ZULKAFIA

85

21

SALSA KAMILAH INSANI

85

22

SILVIA MAELANI

83

23

SISKA APRILIA

87

24

SONIA NATASJA ADRIANA

85

25

SYAHANDRA RAMADHAN

80

26

VENSKA SALSABILAH SUWANDI

87

27

VIDIA ANGGRIANI

85

28

YEMIMA ANDARNI PERMATA

87

29

YUDA DWI UTOMO

85

30

ZAHRA QOLBINA AWALIYAH

85

31

ZALDIE PRADANA HIJRAH NURDIANTARA

80

NILAI RATA - RATA

83,67

 

Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II

No

Uraian

Hasil Siklus II

1

Nilai rata-rata tes formatif

83,67

2

Jumlah siswa yang tuntas belajar

30

3

Persentase ketuntasan belajar

96,77

 

d.    Refleksi dan Revisi Tindakan II

Pada tampilan siklus II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Selain adanya peningkatan terbukti pada pencapaian nilai rata-rata pretest dan posttest. Hasil nilai pretest siklus II berarti ada kenaikan setelah melihat hasil posttest siklus II ternyata semua siswa nilainya sudah diatas 70.

Pada siklus II guru telah menerapkan pengajaran dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pengajaran ini dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

 

Pembahasan

1.    Ketuntasan Hasil belajar Siswa

Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pengajaran pendekatan model pembelajaran yang disampaikan memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I dan II) belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

2.    Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pengajaran dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap proses mengingat kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

3.    Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran ini yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah pengajaran dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

 

a.     Analisis Hasil Tindakan

Nilai perkembangan dihitung pada setiap siklus. Nilai perkembangan siklus I dihitung berdasarkan selisih skor dasar dengan skor ulangan harian I, dan nilai perkembangan siklus II dihitung berdasarkan selisih skor ulangan harian I dengan skor ulangan harian II. Penyusunan kelompok pada pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization siklus I berdasarkan skor sebelum tindakan, dan penyusunan kelompok siklus II sama dengan kelompok pada siklus I. Nilai perkembangan murid siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 10. Hasil Pembelajaran Pra Siklus , Siklus I dan Siklus II

Uraian

Pra Siklus

Siklus I

Siklus II

Keaktifan peserta didik

41,28

65,8

81,28

Rata-rata hasil belajar

66,09

73,58

83,67

Ketuntasan

16,12

41,93

96,77

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Kimia yang masing-masing terdiri dari 3 tindakan serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1.       Prestasi belajar siswa sebelum menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan.

2.       Aktifitas siswa selama proses pembelajaran Kimia menunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik secara fisik, mental, emosional dan kemampuan intelektual.

3.       Pada pembelajaran Kimia�� guru harus banyak memberikan contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakan siswa dalam proses penyelesaian soal-soal tersebut dengan menunjuk beberapa orang siswa untuk belajar menyelesaikannya sesuai dengan kemampuannya masing-masing dengan bimbingan guru.

4.       Selama proses pembelajaran mulai dari kegiatan Pra tindakan, Siklus I sampai Siklus II peneliti berusaha memotivasi setiap siswa pada semua kelompok dengan intensif dan adil supaya setiap siswa berpartisipasi menyimak, menjawab, memberi sanggahan dan masukan selama diskusi berlangsung, selanjutnya menuliskan jawaban hasil diskusi tersebut pada lembar jawaban secara mandiri.

5.       Guru dapat menemukan berbagai metode pembelajaran yang menarik pada mata pelajaran Kimia dengan tujuan agar siswa lebih interaktif dalam di masa sekarang dan yang akan datang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amin Suyitno. 2002. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.

 

A. M, Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996

 

Arifin, Mulyati. (2000). Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung : JICA

 

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta dan Depdikbud.

 

Depdikbud. (1999). Penelitian Tindakan (Action Research). Jakarta : Depdikbud.

 

Depdikbud. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

David Hopkins. (1993). A Teacher�s Guide to Classroom Research. Philadelphia. Open University Press

 

Endang Sri Astuti, (2010). Pengertian motivasi belajar. Bandung: Nusa Media

 

Ervinna Juniawati Widjaja. 2005. Studi Semiotika Pesan Moral Prososial dan Antisosial Dalam �The SpongeBob SquarePants Movie. Skripsi Jurusan Komunikasi Universitas Kristen Petra

 

Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar� Jakarta: Bumi Aksara

 

Hamalik 2001 http://ppg-pgsd.blogspot.com/2012/04/pengertian-hasilbelajar.html (di unduh pada hari minggu 17 Maret 2013 06.30)

 

Kemmis, S. & Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University Press.

 

Piaget, Jean, & Barbel Inhelder, Psikologi Anak, Terj. Miftahul Jannah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet. 1, 2010.

Piaget, Jean, Antara Tindakan Dan Pikiran, disunting oleh Agus Cremers, PT. Gramedia, Jakarta, 1988.

 

Sudjana, Nana. 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung :Sinar Baru Algensido Offset.

 

Sudjana, D (2001) Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif .Bandung:

 

Suparno, Paul, Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius, 1997.

 

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2009.� Metode Penelitian Pendidikan,� Bandung: PT Remaja Rosdakarya�

 

Suparno, Paul. 1997.� Filsafat Kontruktifis Dalam Pendidikan,� Jakarta: Konisius

 

Slavin, Robert, E. 2008. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

 

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Solihatin, Etin, Cooperatif Learning, Jakarta, Bumi Aksara, 2007.

 

Uno, Hamzah. 2012. Metode pembelajaran PAILKEM. Bandung : CV.Alfabeta

 

Warsono dan Hariyanto. 2013. Pembelajaran Aktif, Teori dan Asesmen. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Wahyudi. (2006). Menajemen Konflik dalam Organisasi. Bandung: Alfabeta, Anggota