MENINGKATAN AsKTIVITAS SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP DAN TEKNIK BERKREASI MUSIK KONTEMPORER MELALUI METODE TUTOR SEBAYA KELAS XII MIPA 1 / SEMESTER GANJIL DI SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2019/2020

 

Rina Patriani

SMA Negeri 4 Bandung

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 08-10-2022

Revised: 15-10-2022

Accepted: 30-10-2022

 

Keywords: Student understanding of Peer Tutor Learning Method

 

 

Kata Kunci: Pemahaman siswa Metode Pembelajaran Tutor Sebaya.

 

 

Abstract

This research is classroom action research (CAR). Methods of data collection is done by means of observation, interviews and tests. The stages of the research procedure are problem recognition, preparation of actions, preparation of action plans, observations and preparation of reports. Actions are carried out in cycles where each cycle consists of four stages, namely (1) planning, (2) implementation, (3) observation, and (4) reflection for planning the next cycle. This research is a qualitative descriptive study, with the research subjects namely students of class XII MIPA 1 SMA Negeri 4 Bandung. The object of this research is the implementation of Peer Tutor learning strategies on student activities in understanding Cultural Arts learning materials, especially Music Arts. In Action Activity I the results achieved by students, there are still many students who get very low scores with the highest score achieving only 70 and the lowest score being 45 and the average result only reaching 50.42%, in Action II the learning process increases due to the teacher can understand the obstacles he faces in the previous action display.� Students are more active and creative in completing tasks. In addition, there was a proven increase in the achievement of the average pretest and posttest scores. The final data results from data processing and analysis showed a significant increase in students (75%) who were seen to be active in the learning process. Action II ends the learning action by giving assignments and indicators of student activity being above 65% and the minimum student score has achieved satisfactory results, the highest score is 90 and the lowest score is only 60 with an average score of 80.14%. This is in accordance with the maximum standard of completeness that must be achieved by students. In action II the learning process increases because the teacher can understand the obstacles he faces in the display of the previous action. Students are more active and creative in completing tasks. In addition, there was a proven increase in the achievement of the average pretest and posttest scores

 

 

Abstrak

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara obsevasi, wawancara dan tes. Tahap-tahap prosedur penelitian adalah pengenalan masalah, persiapan tindakan, penyusunan rencana tindakan, pengamatan dan penyusunan laporan. Tindakan dilakukan dalam siklus-siklus dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan subjek penelitian yaitu peserta didik kelas XII MIPA 1 SMA Negeri 4 Bandung. Objek dari penelitian ini yaitu implementasi strategi pembelajaran Tutor Sebaya terhadap aktivitas siswa dalam memahami materi pembelajaran Seni Budaya terutama Seni Musik. Pada Kegiatan Tindakan I hasil nilai yang dicapai oleh siswa, masih banyak siswa yang memperoleh nilai sangat rendah dengan pencapaian nilai teringgi hanya mencapai nilai 70 dan nilai terendah 45 serta hasil rata � rata hanya mencapai 50.42 %, pada tindakan II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Selain adanya peningkatan terbukti pada pencapaian nilai rata-rata pretest dan posttest. Data akhir hasil dari pengolahan data dan analisis menunjukkan peningkatan yang signifikan siswa (75%) terlihat aktif dalam proses pembelajaran. Tindakan II mengakhiri tindakan pembelajaran dengan pemberian tugas dan indikator keaktifan siswa telah diatas 65% dan skor hasil siswa minimal sudah mencapai hasil yang memuaskan perolehan hasil nilai tertinggi mencapai 90 dan nilai terendah hanya 60 dengan perolehan nilai rata � rata 80.14%. Hal ini sudah sesuai dengan standar ketuntasan maximal yang harus dicapai oleh siswa. Pada tindakan II proses� pembelajaran meningkat disebabkan oleh� karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan� sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Selain adanya peningkatan terbukti pada pencapaian nilai rata-rata pretest dan posttest

 

Corresponding Author: Rina Patriani�

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan pembelajaran adalah proses pokok yang harus dilalui oleh seorang pendidik atau guru. Berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan disajikan. Proses pembelajaran akan berimbas pada hasil belajar siswa. Proses pembelajaran yang baik akan menghasilkan hasil belajar yang baik dan sebaliknya, jika proses pembelajaran kurang berjalan dengan baik maka hasil belajar siswapun kurang baik.

Pendidikan merupakan usaha untuk mengembangkan dan membina potensi sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan. Sekolah adalah salah satu sarana belajar formal dimana di dalamnya terdapat kurikulum yang terdiri dari kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstra kurikuler. �Pendidikan di sekolah mempunyai tujuan untuk mengubah agar dapat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap belajar sebagai bentuk perubahan perilaku stabil belajar� (Hamalik, 2001: 18). Peningkatkan kualitas sumber daya manusia agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap belajar melalui pembelajaran di sekolah yang berarti meningkatkan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil dari pembelajaran tersebut akan tercermin pada prestasi belajar.

Aktivitas belajar merupakan semua kegiatan yang dilakukan oleh seorang siswa dalam konteks belajar untuk mencapai suatutujuan. Tanpa ada aktivitas maka proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik. Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar tidak hanya mendengar dan mencatat saja. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar, maka proses pembelajaran yang terjadi akan semakin baik. Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi dalam proses belajar mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya pada guru atau siswa lain mengajukan pendapat, mau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dapat dijawab pertanyaan guru dan bisa bekerja sama dengan siswa lain, serta senang dan tanggug jawab terhadap tugas yang diberikan, semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari segi proses dan segi hasil.

Dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan peserta didik akan mempelajari pelajaran bidang-bidang seni namun yang dipelajari dari tiap-tiap bidang seni pada tiap tingkatan pendidikan formal berbeda-beda. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006. materi pembelajaran seni budaya dan keterampilan di Sekolah Dasar adalah :

1.    Seni Rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan karya seni

2.    Seni Musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan alat musik, apresiasi karya musik

3.    Seni Tari, keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan dan tanpa rangsangan buyi, apresiasi terhadap gerak tari

4.    Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan memadukan seni musik, seni tari dan peran

5.    Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills)

 

Semua cakupan materi pembelajaran tersebut tentunya harus dipelajari tetapi pada kenyataannya tidak semua dapat dipelajari karena salah satu faktornya adalah kompetensi guru yang hanya berkompeten dalam satu bidang saja. Sobandi (2007: 29) menyatakan bahwa kondisi ini memerlukan pengajar yang ahli dalam bidang ini. Cakupan materi dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan dapat dilakukan dengan membagi ke dalam beberapa kelas dengan dipegang oleh guru yang kompeten di dalam bidangnya seperti materi seni rupa dipegang oleh guru seni rupa.

Melihat dari tiap tingkatan pendidikan formal selalu terdapat mata pelajaran seni budaya dan keterampilan, hal ini dapat dikatakan mata pelajaran seni budaya dan keterampilan memang wajib ada pada setiap tingkatan pendidikan formal. Alasan mata pelajaran ada pada setiap tingkatan pendidikan formal dapat dilihat dari tujuan mata pelajaran tersebut yaitu meningkatkan sikap apresiasi kepada seni budaya, dan keterampilan, menumbuhkan sikap kreatif, menampilkan peran serta seni budaya dan keterampilan, memahami konsep pentingnya seni budaya dan keterampilan. Mata pelajaran seni budaya juga diperlukan karena dapat turut membantu dalam pengembangan otak secara utuh, hal tersebut dinyatakan oleh Hume (ed. Prayitno, 2011: 1) bahwa: siswa yang berpartisipasi dalam kesenian menunjukan prestasi yang lebih baik dibidang- bidang lainnya.

Tujuan pendidikan seni budaya di SMA untuk mengembangkan kepekaan rasa; kreativitas; cita rasa estetis; etika; kesadaran sosial; kesadaran kultural; rasa cinta terhadap kebudayaan Indonesia. Penyelenggaraan pendidikan seni harus berkualitas. Siswa harus merasa bahwa dari kegiatan-kegiatan seni di sekolah ada hasil nyata yang dia peroleh serta rincian peningkatan atau kemajuan yang siswa capai, dari tidak tahu menjadi tahu.

Seni musik merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Seni Budaya yang diterapkan di sekolah dengan tujuan mengapresiasikan karya seni musik dan mengekspresikannya melalui karya-karya yang dihasilkan dari pengembangan kemampuan dasar dan kreativitas musik. Pelaksanaan pelajaran seni musik di sekolah dapat dipraktikkan melalui aspek-aspek penilaian khusus, yaitu apresiasi dan ekspresi.

Di SMA Negeri 4 Kota Bandung, guru dalam mengelola kelas di tuntut untuk mampu menyampaikan materi pelajaran dan menguasai kelas, hal ini diterapkan dengan harapan siswa mempunyai aktivitas belajar yang tinggi atau penguasaan materi yang pembelajaran yang telah di tetapkan, dan tidak lepas pula dari peran guru dalam mengelola kelas dalam proses belajar mengajar. Kenyataannya dalam proses belajar mengajar masih terdapat hal-hal yang terjadi seperti guru tidak mengendalikan situasi dan kondisi di saat pembelajaran berlangsung.

Di samping itu, masih kurangnya proses bertanya,maupun menjawab pertanyaan. Selain itu masih ada siswa yang malas mencatat materi pelajaran dan hanya keluar masuk kelas di saat guru sedang mengajar di kelas sehingga membuat proses belajar mengajar tersebut menjadi tidak optimal. Hal ini tidak lepas dari bagaimana keterampilan guru dalam mengelola kelas yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi yang optimal. Pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai.Masalah pokok yang dihadapi oleh guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Aspek yang paling sering didiskusikan oleh penulis profesional dan oleh para pengajar adalah juga pengelolaan kelas.

�Karena pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif. Tugas utama yang paling sulit bagi guru adalah pengelolaan kelas, lebih-lebih tidak satupun pendekatan yang dikatakan paling baik.

Tutor sebaya merupakan metode dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam pembelajaran, setiap siswa harus bekerja sama dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.

Tutor sebaya dilakukan atas dasar bahwa ada sekelompok siswa yang lebih mudah bertanya, lebih terbuka dengan teman sendiri dibandingkan dengan gurunya. Selanjutnya, siswa termotivasi dalam menyelesaikan tugas dan motivasi itu diharapkan tumbuh dari terciptanya hubungan yang saling menentukan dan membutuhkan antara guru, siswa yang prestasinya tergolong tinggi, dan siswa yang prestasinya rendah.

Pembelajaran tutor sebaya merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemamapuannya berbeda. Dalam pembelajaran, setiap siswa harus bekerja sama dan saling membantu dalam memahami matei pelajaran. Sehingga pada pembelajaran tutor sebaya ini belajar dikatakan belum selesai apabila salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai materi pelajaran

 

 

METODA PENELITIAN

Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan kualitatif, sebab penelitian ini dilakukan karena terjadi permasalahan pembelajaran di kelas. Permasalahan ini ditindak lanjuti dengan cara menerapkan sebuah model pembelajaran yang diamati kemudian dianalisis dan direfleksi. Hasil revisi kemudian diterapkan kembali pada siklus-siklus berikutnya.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research. Rancangan penelitian tindakan kelas dipilih karena masalah yang akan dipecahkan berasal dari praktik pembelajaran di kelas sebagai upaya untuk memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan kemampuan siswa. Hal ini sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas. Menurut Kemmis yang dikutip oleh Rochiati Wiriaatmajda, penelitian tindakan adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari a).kegiatan praktek sosial atau pendidikan mereka, b).pemahaman mereka mengenai kegiatan-kegiatan praktik pendidikan, c). situasi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan praktek ini.

Subyek dari penelitian tindakan� kelas� ini adalah siswa kelas XII MIPA 1 / Semester Ganjil SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2019/2020. Pengambilan subyek penelitian ini didasarkan pada kondisi kelas yang mampu mewakili siswa kelas XII secara keseluruhan,

Model penelitian yang digunakan adalah metode action receach atau tindakan yang dilakukan dalam bentuk spiral, rancangan penelitian yang digunakan sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian dan tindakan dan disesuaikan dengan kondisi spesifik subjek penelitian serta kebutuhan pengukuran parameter penelitian. Penelitian tindakan ini dilakukan sebagai upaya perbaikan suatu praktik pendidikan melalui pemberian tindakan pada penelitian ini yaitu dengan memberikan sesuatu tindakan kepada subjek yang diteliti dengan Penerapan Teori Bruner untuk diketahui pengaruhnya terhadap peningkatan pemahaman siswa.

Desain penelitian yang digunakan adalah model dari Kemmis dan Taggart berupa suatu siklus spiral. Pengertian siklus disini adalah suatu putaran kegiatan yang meliputi tahapan-tahapan rancangan pada setiap putarannya, yaitu: (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) observasi (observation), (4) refleksi (reflection).

siklus spiral dari tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan alur diatas adalah:

1.    Rancangan/perencanaan awal, sebelum mengdakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah tujuan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.

2.    Pelaksanaan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya pembangunan pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkankanya model pembelajaran penemuam pembimbing.

3.    Refleksi, penelitian mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdaserkan lembar pengamatan yang di isi oleh pengamat.

4.    Rancangan/ rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

 

Dalam penelitian tindakan kelas ini dalam pengumpulan data digunakan berbagai tehnik antara lain :

1.    Tes Tertulis

Tes tertulis disini digunakan untuk mengumpulkan data siswa berkenaan hasil pengusaan materi yang dikuasai siswa , setelah siswa mengikuti suatu proses perlakuan� yang dilakukan oleh peneliti, sehingga didapatkan hasil yang akurat dan dapat menggambarkan secara jelas kemampuan siswa dalam� menguasai materi tersebut.

2.    Alat Pengumpul Data.

Untuk mengetahui kemampuan yang dikuasai siswa dalam penguasaan� materi� yang� dijadikan obejek� penelitian ini,� peneliti� menggunakan� alat� yang� berupa� tes� tertulis yang telah dirancang� oleh peneliti sesuai dengan tujuan yang telah tertuang� didalam kisi � kisi soal .

3.    Deskripsi perilaku ekologis

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku� siswa dengan lengkap meliputi :

a.       suasana kelas

b.       perilaku masing � masing siswa saat mengikuti pembelajaran di dalam kelas� pada penggunaan metode ini peneliti hanya untuk mengumpulkan data dan bukan untuk menafsirkan data.

 

Untuk memperoleh data yang diinginkan, maka dalam penelitian ini digunakan instrument sebagai berikut :

a.     Hasil laporan dalam pengerjaan LKS digunakan untuk menentukan tingkat penguasaan dan DSK siswa terhadap materi yang telah dipelajari dan ketuntasan belajarnya, sebagai diagnosa dan sebagai input balikan bagi peneliti

b.    Pedoman Observasi keaktivan siswa, digunakan untuk membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa

c.     Daftar Chek adalah posisi tempat duduk siswa pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran dan membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa

d.    Format keaktivan siswa

e.     Angket respon siswa digunakan untuk mengukur respond an tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti

f.     Lembar observasi digunakan pada saat mengamati pelaksanaan praktikum

g.    Diskusi balikan antara observer dengan peneliti

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Deskripsi Penelitian Pra Siklus

Hasil penelitian ini terbagi menjadi dua siklus, yang dimulai dari refleksi awal. Refleksi awal dilaksaanakaan dengan melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengetahui kondisi awal dilakukan oleh pengamat kelas, yakni rekan sejawat. Hasil refleksi awal dipergunakan untuk menetapkan dan merumuskan rencana tindakan yaitu menyusun strategi awal pembelajaran.

Berdasarkan hasil pengamatan pendahuluan ditemukan bahwa selama pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa cenderung kurang berminat menyelesaikan soal-soal latihan, dan guru harus selalu mengingatkan agar siswa mengerjakan latihan, kurang memperhatikan penjelasan guru, kurang bersemangat dan cenderung pasif, tidak aktif dalam mengemukakan pendapat atau bertanya dalam mengikuti proses pembelajaran.

Sebagai tindak lanjut untuk membantu memecahkan masalah atau kesulitan siswa dalam belajar, maka perlu melakukan perencanaan perbaikan pembelajaran dengan mendata penyebab kesulitan siswa dalam memahami dan mengerti, penyebab pembelajaran belum berhasil adalah:

1.    Sebagian besar siswa belum mengerti tentang materi pembelajaran

2.    Penggunaan media belum optimal

3.    Pembelajaran kurang memotivasi anak lebih aktif

4.    Siswa mempunyai rasa malas, jenuh dan bosan

Dengan demikian peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran ini.

1)    Kegiatan Tindakan Siklus I

a.    Persiapan Perencanaan Tindakan Siklus I

Pelaksanaan tindakan pada siklus ini mencakup perencanaan, implementasi tindakan observasi dan refleksi tindakan. Persiapan yang dilakukan untuk mengembangkan model pembelajaran� ini adalah menyusun rencana pelaksanaan tindakan. Proses pembelajaran diikuti oleh para siswa, dimulai dengan menginformasikan materi� yang� akan dibahas, tujuan� pembelajaran dan� metode pembelajaran yang akan digunakan. Siswa diharapkan bisa mencari informasi dan menuliskan temuannya mengenai materi yang akan dibahas.

b.      Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Selama siswa melaksanakan pembelajaran, peneliti terus berkeliling mengarahkan siswa, membimbing siswa yang kesulitan sampai siswa selesai melaksanakan percobaan. Pada langkah ini guru memulai pembelajaran dengan melakukan apersepsi dan tanya jawab dengan siswa tentang pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari dimana siswa sering melakukan latihan - latihan atau langkah-langkah untuk menjelaskan atau mengajak orang menyusun atau membuat sesuatu. Langkah selanjutnya merupakan kerja kelompok. Siswa diminta mengelompokkan diri pada kelompok yang telah dibuat sebelumnya. Tiap kelompok siswa terdiri dari 5 orang siswa.

Peran guru sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok. Setelah materi dipelajari dan dibahas secara berkelompok, siswa diberi tes untuk menjawab soal pada LKS dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya. Hasil tes digunakan nilai perkembangan individu untuk memperoleh skor kelompok.

Menjelang akhir pembelajaran peneliti dan siswa membahas kembali garis besar materi sebagai penguatan terhadap pendapat siswa. Aktivitas siswa selama pembelajaran dapat dilihat pada lembar obervasi begitu pula nilai LKS pada tabel nilai. Peneliti menutup pelajaran dengan memberi informasi kepada siswa untuk membaca materi dirumah untuk pertemuan selanjutnya.

c.       Hasil Pengamatan/ Observasi Siklus I

Hasil Pengamatan pada siklus ke-1 merupakan hasil pengamatan para observer pada proses pembelajaran yang dilakukan menggunakan metode pembelajaran sebelumnya yaitu metode pembelajaran secara konvensional.� Para observer yang merupakan guru / rekan sejawat melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi berbentuk form check list ( √ ). Indikator yang diamati selama proses pembelajaran meliputi tiga indikator, yaitu perhatian siswa terhadap materi pelcajaran, kerjasama kelompok, partisipasi. Aktivitas siswa selama pelaksanaan pembelajaran Tindakan I dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :

 

NO

Aktivitas yang diamati

Jumlah siswa

F

1

memperhatikan materi pelajaran yang diajarkan

18

51,42

2

aktivitas bertanya

15

42,85

3

mengajukan pendapat

12

34,28

4

menjawab pertanyaan guru

10

28,57

5

bekerja sama dengan siswa lain,

20

57,14

6

tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan

24

68,57

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan tabel� diatas, menunjukan bahwa siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran terlihat keaktifan siswa dengan pengembangan model pembelajaran ini relative belum memuaskan, siswa masih kurang apresiasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, kurang antusias dan masih sulit bertanya mengenai materi pelajaran yang belum difahaminya, apalagi dalam aktivitas menjawab pertanyaan guru hanya beberapa siswa saja yang mampu menjawab, hal ini disebabkan oleh karena siswa belum terbiasa dan belum memahami cara-cara pelaksanaannya. Kondisi tersebut disebabkan juga karena guru belum memberikan penjelasan penggunaan model pembelajaran yang disampaikan, masing-masing anggota kelompok belum kompak dan adanya perbedaan kebiasaan, juga dalam pemberian tugas yang� dikerjakan dirumah, sehingga pemberian tugas yang dikerjakan dikelas pada tindakan I ini membuat siswa belum terbiasa sehinnga proses pembelajaran tidak optimal. Hal itu juga dapat terlihat dari data hasil nilai yang dicapai oleh siswa, masih banyak siswa yang memperoleh nilai sangat rendah dengan pencapaian nilai teringgi hanya mencapai nilai 75 dan nilai terendah 45 serta hasil rata � rata hanya mencapai 50.42 % hasil yang dicapai ini jauh dari kriteria ketuntasan yang telah ditentukan

 

Nilai Siswa Siklus I

NO

NAMA SISWA

NILAI

1

Aa Rizal Suhendar

70

2

Alliya Maura Syahputri

50

3

Belinda Azkalina

45

4

Canira

60

5

Elizabeth Irene Bagariang

45

6

Fadla Abdillah

45

7

Fahman Syukur

50

8

Farrel Adhirajasa

45

9

Gheri Ghifari Mirza

45

10

Hasna Putri Ramadiani

60

11

Jessica Maria Rusjanto

45

12

Kurnia Jatiningtyas

45

13

Mahdiah Farizad

45

14

Mayrahma Lisdiantika

65

15

Moch Rasyid Gumilar

45

16

Muhammad Hafizh Muhsin Amin

45

17

Muhammad Raihan Suryaman

60

18

Muthia Nafiurrahmi Nurfauziah

45

19

Nesri Monika

45

20

Ni Nyoman Puspa Gayatri

45

21

Nisafaza Mirrah Suriawinata

60

22

Nugraha Ramadhan

45

23

Raden Guntur Agung Satria Putra

50

24

Rifki Muhammad Iqbal

45

25

Salma Mardiyah

45

26

Salsa Sabrina Aziz

65

27

Salsabil Alifia Qodriyyah

45

28

Septiana Aulia Nur Fadlina

50

29

Syelena Prima Putri

60

30

Tabito Tantarto

45

31

Tiara Delviana Hamdillah

45

32

Wildan Taufik

45

33

Yessa Nicke Fatmala

70

34

Yulia Wulandari

45

35

Yunita Patrika Permata Wibisono

50

NILAI RATA - RATA

50,42

 

d.      Refleksi dan Revisi Tindakan I

Tahap refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Lewat refleksi penulis berusaha (1) memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategis, dengan mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelajaran di kelas, dan (2) memahami persoalan pembelajaran dan keadaan kelas di mana pembelajaran dilaksanakan. Observer yang hadir memberikan evaluasi berdasarkan catatan dan pendapatnya mengenai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Proses pembelajaran pada tindakan I menunjukan kelebihan dan kekurangan, kelebihannya yaitu telah dilaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kekurangan nya adalah pada saat pelaksanaan pembelajaran kondisi siswa dalam kelas belum tertib dan aktif, dalam� memulai kegiatan belajar mengajar guru kurang memberikan motivasi dan apresiasi, serta kurang tegas terhadap siswa yang tidak mengikuti pelajaran, guru / peneliti pun belum menguasai secara baik materi dan metode pembelajaran yang disampaikan. Berdasarkan kekurangan yang ada, maka pelaksanaan pembelajaran pada siklus I perlu dilakukan perbaikan.

2)    Kegiatan Tindakan Siklus II

a.    Persiapan Perencanaan Tindakan Siklus II

Rencana tindakan siklus ke 2 mengacu pada hasil refleksi yang dilakukan pada siklus pertama. Perencanaan tindakan dimulai dari tahap perencanaan program pengajaran yang dilakukan oleh peneliti berkonsultasi dengan guru sebagai observer dalam menjalankan skenario pembelajaran siklus kedua.

Proses pembelajaran pada tindakan II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan tindakan sebelumnya yaitu menyusun rencana, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa, daftar chek, dll.

b.    Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Berbeda dengan siklus ke 1, pada siklus kedua ini peneliti menggunakan metode atau teknik pembelajaran yag berbeda dengan metode yang sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya memperjelas materi sehingga diharapkan siswa dapat dengan mudah menangkap materi yang ditampilkan. Guru memulai pembelajaran dengan melakukan tegur sapa dan mengabsen siswa. Guru melakukan tanya jawab tentang materi yang akan dibahas sesuai tema. Penjelasan silabus dan indikator pembelajaran dijelaskan pula dalam tahap ini. Hal tersebut dilakukan agar siswa mempunyai batasan dan tujuan dalam pembelajaran. Pada tahap ini ada beberapa siswa yang dapat menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal ini membuat guru merasa terhibur dan termotivasi, guru dapat mengetahui seberapa besar siswa yang mempunyai kemampuan dasar materi yang akan dibahas dalam pertemuan kali ini. Pada langkah ini, siswa terlihat antusias dan fokus. Mereka terlihat sibuk dengan temannya mendiskusikan apa saja yang mereka lihat dan mereka membuat beberapa catatan kecil.

Peran guru sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok. Setelah materi dipelajari dan dibahas secara berkelompok, siswa diberi tes untuk menjawab soal pada LKS dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapainya.

Kemudian guru / peneliti membimbing dan mengarahkan setiap siswa untuk aktif bertanya tentang hal-hal yang belum difahami, mencari jawaban dari soal-soal LKS pada buku pegangan siswa atau sumber-sumber lainnya kemudian siswa diminta menuliskan semuanya. Selanjutnya guru / peneliti menyuruh siswa mengumpulkan lembar LKS dan membahas pertanyaan � pertanyaan yang ada pada lembar LKS dengan menunjuk beberapa siswa untuk menjawab pertanyaan � pertanyaan tersebut,� siswa� yang� lain� disuruh untuk menanggapi� jawaban sampai diperoleh� jawaban yang benar, kemudian dibahas kembali garis besar materi sebagai penguatan terhadap penjelasan siswa.

c.     Hasil Pengamatan / Observasi Siklus II�������

Pada tahap pengamatan, peneliti melakukan penilaian proses dengan cara berkeliling ke tiap kelompok dan mengamati aktifitas belajar siswa. Peneliti menggunakan form check list (√) untuk mengukur aktifitas siswa dalam pembelajaran. Penilaian proses ini terfokus pada indikator penilaian proses meliputi perhatian siswa terhadap materi, kerjasama siswa dalam kelompoknya dan partisifasi siswa dalam mengerjakan tugas. Penilaian proses ini berupa check list (√) yang berisi nama-nama siswa.

Berdasarkan data yang diperoleh pada sikus ke 2 dapat dilihat sejauh mana keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Ada peningkatan hasil pada proses pembelajaran dibandingkan dengan pelaksanaan tindakan siklus ke 1, Siswa mengalami peningkatan dalam hasil proses pembelajaran dimungkinkan oleh situasi pembelajaran yang asyik dan tidak kaku. Siswa senang dan enjoy dengan teknik atau metode pembelajaran yang disampaikan dimana siswa dapat dengan fokus mengikuti proses pembelajaran. Melalui model pembelajaran ini siswa tidak diberi kesempatan untuk melakukan hal yang lain diluar kerja kelompok dengan pembatasan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan efektif.

Aktivitas siswa pada tindakan II dapat dilihat pada tabel dibawah ini demikian juga hasil skor nilai siswa dapat dilihat pada tabel berikut. Peneliti menutup pelajaran dengan membagikan angket untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran ini.

c

Aktivitas yang diamati

Jumlah siswa

F

1

memperhatikan materi pelajaran yang diajarkan

28

80

2

aktivitas bertanya

22

62,85

3

mengajukan pendapat

24

68,57

4

menjawab pertanyaan guru

27

77,14

5

bekerja sama dengan siswa lain,

30

85,71

6

tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan

25

71,42

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

s

 

 

Berdasarkan tabel diatas bahwa siswa yang melakukan aktivitas menunjukan peningkatan selama pembelajaran dibandingkan dengan aktivitas tindakan I, perolehan hasil pengerjaan tes siswa dalam bentuk skor pada tindakan II memperlihatkan adanya peningkatan dibanding pada tindakan sebelumnya. Skor hasil pengerjaan LKS pada tindakan II ini lebih tinggi dibanding hasil pada tindakan I, peningkatan skor siswa disebabkan karena siswa aktif melaksanakan kegiatan pembelajaran dan instruksi yang diarahkan oleh guru / peneliti, kemudian guru / peneliti telah memberikan bimbingan lebih intensif dan adil pada setiap siswa. Hal itu juga dapat terlihat dari data hasil nilai yang dicapai oleh siswa, siswa yang memperoleh nilai sangat rendah dengan pencapaian nilai teringgi sudah mencapai peningkatan dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60 serta hasil rata � rata sudah mencapai 80.14 % hasil yang dicapai ini sudah mencapai kriteria ketuntasan yang telah ditentukan.

NO

NAMA SISWA

NILAI

1

Aa Rizal Suhendar

90

2

Alliya Maura Syahputri

85

3

Belinda Azkalina

60

4

Canira

85

5

Elizabeth Irene Bagariang

75

6

Fadla Abdillah

80

7

Fahman Syukur

75

8

Farrel Adhirajasa

80

9

Gheri Ghifari Mirza

80

10

Hasna Putri Ramadiani

75

11

Jessica Maria Rusjanto

85

12

Kurnia Jatiningtyas

60

13

Mahdiah Farizad

80

14

Mayrahma Lisdiantika

90

15

Moch Rasyid Gumilar

85

16

Muhammad Hafizh Muhsin Amin

85

17

Muhammad Raihan Suryaman

90

18

Muthia Nafiurrahmi Nurfauziah

75

19

Nesri Monika

75

20

Ni Nyoman Puspa Gayatri

80

21

Nisafaza Mirrah Suriawinata

90

22

Nugraha Ramadhan

75

23

Raden Guntur Agung Satria Putra

85

24

Rifki Muhammad Iqbal

80

25

Salma Mardiyah

80

26

Salsa Sabrina Aziz

90

27

Salsabil Alifia Qodriyyah

75

28

Septiana Aulia Nur Fadlina

85

29

Syelena Prima Putri

90

30

Tabito Tantarto

80

31

Tiara Delviana Hamdillah

75

32

Wildan Taufik

60

33

Yessa Nicke Fatmala

90

34

Yulia Wulandari

75

35

Yunita Patrika Permata Wibisono

85

NILAI RATA - RATA

80,14

 

d.    Refleksi dan Revisi Tindakan II

Setelah melakukan analisis data dari hasil observasi yang dilakukan melalui penilaian proses dan test, peneliti dan para obeserver melaksanakan refleksi.� Refleksi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti setelah melakukan tindakan siklus ke 2.

Pada tampilan tindakan II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tuga-tugas. Selain adanya peningkatan terbukti pada pencapaian nilai rata-rata pretest dan posttest. Data akhir hasil dari pengolahan data dan analisis menunjukkan peningkatan yang signifikan siswa (75%) terlihat aktif dalam proses pembelajaran.

Tindakan II mengakhiri tindakan pembelajaran dengan pemberian tugas dan indikator keaktifan siswa telah diatas 65% dan skor hasil siswa minimal sudah mencapai hasil yang memuaskan perolehan hasil nilai tertinggi mencapai 90 dan nilai terendah hanya 60 dengan perolehan nilai rata � rata 80%. Hal ini sudah sesuai dengan standar ketuntasan maximal yang harus dicapai oleh siswa.

 

Pembahasan

Hasil Observasi Tentang Persiapan Untuk Mengembangkan Model Pembelajaran, Untuk Tindakan I Telah Berjalan Dengan Baik, Peneliti Telah Mempersiapkan Instrument Dan Penunjang Kegiatan Mulai Dari Persiapan Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, LKS Siswa, Daftar Chek, Alat Observasi Keaktifan Siswa, Alat Observasi Pelaksanaan Kegiatan Guru Dan Format Diskusi Balikan. Sedangkan Instrument Dan Penunjang Kegiatan Pembelajaran Dikelas Untuk Tindakan II Merupakan Hasil Revisi, Refleksi Dan Masukan Dari Tindakan I Serta Diskusi Dengan Observer, Kegiatan Ini Menunjukan Bahwa Pembelajaran Telah Sesuai Dengan Silabus Dan Rencana Pengajaran Yang Telah Dibuat.

Observer dan peneliti dalam melakukan diskusi balikan selalu memperhatikan kekurangan�kekurangan yang ada sehingga disempurnakan pada tindakan selanjutnya. Catatan lapangan pada lembar observasi dan diskusi balikan telah mencatat perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi tidak hanya dari cara peneliti mengajar, tetapi dilihat juga aktivitas dan skor siswa selama mengikuti pembelajaran.� Aktivitas siswa dan perolehan skor pengerjaan LKS selama penerapan model ini dari tindakan I sampai II telah mengalami perbaikan dan peningkatan. Keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran mulai dari tindakan I sampai tindakan II menunjukan peningkatan

 

KESIMPULAN

Peningkatan aktivitas dan pemahaman siswa dalam belajar didukung dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Selain itu pemberian penghargaan dalam model pembelajaran ini juga mampu meningkatkan motivasi dan semangat siswa dalam pembelajaran. Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan mengimplementasikan pembelajaran dengan Konsep Metode Tutor Sebaya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dikelas Kelas Xii Mipa 1 / Semester Ganjil Di Sma Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2019/2020. Berdasarkan hasil penelitian tentang perbaikan pembelajaran yang masing-masing terdiri dari 2 tindakan serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Prestasi belajar siswa sebelum menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan. Aktifitas siswa selama proses pembelajaran menunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik secara fisik, mental, emosional dan kemampuan intelektual. Pada proses pembelajaran guru harus banyak memberikan contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakan siswa dalam proses penyelesaian soal-soal tersebut dengan menunjuk beberapa orang siswa untuk belajar menyelesaikannya sesuai dengan kemampuannya masing-masing dengan bimbingan guru.� Selama proses pembelajaran mulai tindakan I sampai II peneliti berusaha memotivasisetiap siswa pada semua kelompok dengan intensif dan adil supaya setiap siswa berpartisipasi menyimak, menjawab, memberi sanggahan dan masukan selama diskusi berlangsung, selanjutnya menuliskan jawaban hasil diskusi tersebut pada lembar jawaban secara mandiri. Guru dapat menemukan berbagai metode pembelajaran yang menarik pada berbagai mata pelajaran dengan tujuan agar siswa lebih interaktif di masa sekarang dan yang akan datang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nana Sujana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung:PT Sinar Baru Algensido, 2000), H 28

 

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar Untuk Fakultas Tarbiyah MKDK, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005)

 

Kemmis, S & Mc Taggart, R. 1992. The Action Research Planner. Australia:Deakin University Press.

 

M. Silberman, Active Learning:101 Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Yappendis (Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Pendidikan Islam), 2001),h. 74. 4

 

E. Suherman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: UPI, 2003)

 

Suharsini Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006), h.77.

 

Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h.31

 

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,(Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 118.

 

Eva Latipah, Psikologi Dasar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2017), Cet. I, h. 144.

 

Syafrudin Nurdin dan Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kirikulum, (Jakarta: Ciputit Pres, 2003), h.104-10

 

Sri Murton, Seni Budaya dan Keterampilan, (Bogor, yudhistira, 2010), H.

 

Sartiono, Seni Budaya dan Keterampilan ( Sukamaju Depok. Arya Duta,2016), H.