UPAYA MENINGKATKAN KINERJA GURU DALAM PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI EDUKATIF KOLABORATIF SECARA PERIODIK DI SMK NEGERI 1 SOREANG SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2017 � 2018
Tatang
SMKN 1 Soreang
|
Riwayat Artikel: Received: 12-10-2022 Revised: 17-10-2022 Accepted: 29-10-2022 Keywords:
Collaborative Educational Supervision, Teacher Performance, Periodic Kata
Kunci: Supervisi Edukatif
Kolaboratif, Kinerja Guru, Periodik. |
|
Abstract The problem of this research is that collaborative educational
supervision can improve teacher performance periodically on the four
components of learning management competence. This research was conducted at
SMK Negeri 1 Soreang, Bandung Regency. This research is a school action
research and carried out in two cycles with the stages of action preparation,
action implementation, monitoring and evaluation, and reflection. Data
collection techniques in this study consisted of four main activities, namely
initial data collection, data analysis results at the end of each cycle, both
cycle I and cycle II, as well as other responses from teachers to the
implementation of educational supervision with a collaborative model. Data
analysis technique using qualitative and quantitative analysis. The results
showed that there was an increase in teacher performance with peer
supervision and collaborative educative both in preparing learning plans,
especially learning tools, carrying out learning, especially the learning
process carried out by teachers, assessing learning achievement, especially
the evaluation results used as an evaluation of the next learning process and
follow-up on the results of the achievement assessment. student learning. |
|
|
Abstrak
Masalah penelitian ini adalah dengan supervisi edukatif kolaboratif
dapat meningkatkan kinerja guru secara periodic pada empat komponen
kompetensi pengelolaan pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Soreang Kabupaten Bandung. Penelitian ini merupakan
penelitian tindakan sekolah dan dilaksanakan dua siklus dengan tahapan
persiapan tindakan, pelaksanaan tindakan, pemantauan dan evaluasi, serta
refleksi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini terdiri atas empat
kegiatan pokok yakni pengumpulan data awal, data hasil analisis setiap akhir
siklus baik siklus I dan siklus II, serta tanggapan lain dari guru terhadap
pelaksanaan supervisi edukatif dengan model kolaboratif. Teknik Analisis data
dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitafif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ada peningkatan kinerja guru dengan adanya supervisi teman
sejawat dan edukatif kolaboratif baik menyusun rencana pembelajaran terutama
perangkat pembelajaran, melaksanakan pembelajaran terutama proses
pembelajaran yang dilakukan guru, menilai prestasi belajar terutama hasil
evaluasi dijadikan evaluasi proses pembelajaran selanjutnya dan tindak lanjut
hasil penilaian prestasi belajar siswa. |
Corresponding Author:
Tatang�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Supervisi pendidikan adalah hal yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mutu pendidikan sangat berkaitan erat dengan keprofesionalan
guru dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada
didunia pendidikan baik pada masa saat ini atau masa yang akan datang. Berdasarkan
hal tersebut pendidikan merupakan faktor yang penting karena pendidikan salah satu penentu mutu
SDM (Sumber Daya Manusia), dimana manusia dapat membina
kepribadiannya dengan jalan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki sesuai dengan nilai-nilai
yang ada di dalam masyarakat.
Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia
yang harus dibina dan dikembangkan terus menerus. Guru adalah tugasnya yang terkait dengan upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa dalam semua aspeknya,
baik spiritual dan emosional,
intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya
(Suparlan, 2005: 12. Potensi
sumber daya guru itu perlu terus
bertumbuh dan berkembang
agar dapat melakukan fungsinya secara potensial. Selain itu pengaruh perubahan
yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus menerus belajar
menyesuaikan diri dengan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Guru membutuhkan bantuan dari sesama rekan
guru yang memiliki kelebihan
atau guru yang sudah berpengalaman untuk saling bertukar ilmu pengetahuan dalam meningkatkan potensi peserta didik. Guru juga membutuhkan bantuan kepala sekolah sebagai pembina pembimbing guru agar bekerja dengan benar dalam proses pembelajaran siswanya. Oleh karena itu, dalam
suatu lembaga pendidikan perlu adanya pelaksanaan supervisi.�Supervision also can be interpreted as a two
ways interactional process that requires both the student and the supervisor to
consciously engage each other within the spirit of professionalism, respect,
collegiality and open-mindedness�, Abiddin (2011:
207) yang berarti pengawasan
juga dapat diartikan sebagai dua cara
interaksi proses yang memerlukan
siswa dan supervisor untuk secara sadar terlibat
satu sama lain dalam semangat profesionalisme, rasa hormat, kebersamaan dan pikiran yang terbuka. Kepala sekolah dalam melaksanakan
tugasnya harus melibatkan seluruh masyarakat sekolah yang dipimpinnya. Salah satu upaya peningkatan pembelajaran efektif di sekolah adalah peran kepala sekolah
dalam mensupervisi pembelajaran, karena berhasil tidaknya program pengajaran di sekolah banyak ditentukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin. Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi prestasi kerja organisasi, karena kepemimpinan merupakan aktivitas utama dimana tujuan organisasi
dapat dicapai (Nuchiyah: 2007).
Sekolah juga berfungsi untuk membentuk pribadi sosial yang akan memerlukan satu dengan yang lainnya, dengan sekolah siswa/peserta didik
dapat tercipta menjadi pribadi yang bisa menjalin hubungan
dan berteman dengan sesamanya tanpa terhalang akibat konflik perbedaan. Didikan yang diperoleh dalam sekolah dapat
meghasilkan beragam ilmu pengetahuan pada manusia. Pengetahuan yang luas akan menghasilkan
sumber daya manusia yang bertaraf.
Salah satu upaya untuk meningkatkan
mutu pendidikan adalah dengan mengatasi
masalah-masalah dalam
proses belajar mengajar
(PBM) yang pada umumnya terjadi
dikelas dimana segala kegiatan secara formal dilakukan.
Guru merupakan
figur sentral bagi pelaksanaan pendidikan di sekolah, sebab guru memiliki peran, fungsi, dan kedudukan dalam menghantarkan keberhasilan suatu pendidikan. Ketiadaan guru, tentu tidak ada yang mendidik anak-anak agar menjadi generasi muda yang berpendidikan. Selain itu, guru merupakan pihak yang selalu berhubungan dengan siswa secara
langsung sehingga ia memiliki kesempatan
lebih banyak untuk mendidik siswa agar menjadi generasi muda yang berpendidikan, bermoral baik, serta mencintai
budaya Indonesia. Kinerja guru merupakan
gambaran tentang sikap, keterampilan, nilai, dan pengetahuan guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, yang ditunjukkan dalam penampilan, perbuatan, dan prestasi kerjanya (Mulyasa, 2013).
Guru sebagai
peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan
keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan
apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan
sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru
pula.
Dalam
proses pendidikan, guru memiliki
peran sangat penting dan strategis dalam membimbing peserta didik ke arah
kedewasaan, kematangan dan kemandirian, sehingga guru sering dikatakan sebagai ujung tombak
pendidikan. Kedudukan dan peran guru semakin bermakna strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia
yang berkualitas dalam menghadapi era global. Secara sederhana mudah dikatakan, bahwa peran guru menyelenggarakan
proses belajar mengajar, yaitu membantu dan memfasilitasi peserta didik agar mengalami dan melaksanakan proses pembelajaran
yang berkualitas.
Kinerja guru adalah
suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya di sekolah serta menggambarkan
adanya suatu perbuatan yang ditampilkan guru selama melakukan aktivitas pembelajaran (Supardi, 2013). Kinerja guru merupakan
faktor atau kunci utama yang harus di miliki agar dapat mencapai tujuan pendidikan secara komprehensif, sebab itulah yang menjadi alasan pemerintah menyelenggarakan penilaian kinerja guru. Yamin & Maisah (2010:87) mengatakan kinerja guru berkaitan dengan aktitivas menyeluruh guru dalam tanggung jawabnya sebagai seseorang yang mengemban amanah dan tanggung jawab dalam mengajar,
mendidik, membina, dan mengembangan para peserta didik ke arah
kesuksesan yang dituju.
Kinerja guru dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Adakalanya faktor tersebut bisa berasal dari
diri sendiri berupa masih rendahnya
motivasi kerja, pengetahuan, dan wawasan. Dapat pula berasal dari diri berupa
rekan kerja, pimpinan, dan lingkungan di sekitar tempat kerja. Biasanya guru dapat terpengaruh oleh semangat kerja rekan kerjanya, lingkungan kerja yang nyaman juga akan sangat berpengaruh terhadap semangat kerja guru, lingkungan kerja yang kotor dan tidak menarik juga akan berpengaruh terhadap semangat kerja. Kemimpinan kepala sekolah juga sangat berpengaruh terhadap kinerja guru, karena kepala sekolah
merupakan orang yang mengatur,
mempengaruhi, dan memberikan
motivasi terhadap kinerja guru. Oleh karenanya kinerja guru yang baik tidak terlepas dari peran strategis
kepala sekolah selaku pemimpin tertinggi di sekolah, kepala sekolah harus dapat menuntun
guru, memberikan motivasi, mengenal lebih dekat, menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman untuk
mencapai tujuan sesuai dengan visi
dan misi yang telah ditetapkan.
Guru sebagai
tenaga pendidik merupakan komponen yang paling menentukan, karena di tangan gurulah kurikulum, sumber belajar, sarana dan prasarana, dan iklim pembelajaran menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan peserta didik. Disinilah, antara lain pentingnya guru. Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan
secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa
menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem
pendidikan.
Dalam
proses pendidikan, guru memiliki
peran sangat penting dan strategis dalam membimbing peserta didik ke arah
kedewasaan, kematangan dan kemandirian, sehingga guru sering dikatakan sebagai ujung tombak
pendidikan. Kedudukan dan peran guru semakin bermakna strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia
yang berkualitas dalam menghadapi era global. Secara sederhana mudah dikatakan, bahwa peran guru menyelenggarakan
proses belajar mengajar, yaitu membantu dan memfasilitasi peserta didik agar mengalami dan melaksanakan proses pembelajaran
yang berkualitas.
Tujuan Penelitian ini adalah: 1. Ingin mendeskripsikan langkah-langkah
supervisi edukatif kolaboratif secara periodik dalam melaksanakan pembelajaran.
2. Ingin� mendeskripsikan langkah-langkah
supervisi edukatif kolaboratif secara periodik dalam menilai prestasi belajar.
3. Ingin� mendeskripsikan langkah-langkah
supervisi edukatif kolaboratif secara periodik dalam melaksanakan tindak lanjut
penilaian prestasi belajar siswa. 4. Ingin�
mendeskripsikan langkah-langkah supervisi edukatif kolaboratif secara
periodik� dalam menyusun� rencana pembelajaran.
METODA PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan
penelitian tindakan sekolah yang hampir mirip dengan penelitian tindakan
kelas,namun dilaksanakan oleh kepala sekolah sebagai kepala sekolah, terhadap
proses belajar mengajar guru di dalam kelas.
�Supervision is a well-defined term in the interpersonal
relationship between thesissupervisors and teachers�
(Bazrafkan, Yousefy, Amini, & Yamani, 2019).
Penelitian tindakan sekolah ini direncanakan dalam dua (2) siklus.Tahapan dalam
setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,
observasi(pengamatan) dan refleksi. Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Penelitian tindakan berurusan langsung dengan praktik di lapangan dalam situasi alami. Penelitinya adalah pelaku praktik itu sendiri dan pengguna langsung hasil penelitiannya. Yang paling menonjol adalah penelitian tindakan ditujukan untuk melakukan perubahan pada semua diri pesertanya
dan perubahan situasi tempat penelitian dilakukan guna mencapai perbaikan praktik secara perlahan dan berkelanjutan. Dapat disimpulkan ciri utama dari
penelitian tindakan adalah adanya intervensi
atau perlakuan tertentu untuk perbaikan kinerja dalam dunia nyata.
Jenis dan Pendekatan
Penelitian
Penelitian ini merupakan
Penelitian Tindakan Sekolah
(PTS) merupakan bentuk kajian kelas yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan (guru atau pendidik) untuk meningkatkan kemantapan rasional dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.
Dapat dikatakan penelitian ini adalah penelitian tentang proses dan praktik mengajar yang dilakukan untuk meningkatkan pengajaran, untuk menguji asumsi-asumsi teoritis praktek pedagogis, atau untuk mengevaluasi dan menerapkan prioritasprioritas sekolah secara keseluruhan.
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan
analisis deskriptif yaitu pendekatan dengan menggunakan analisis yang bersifat menggambarkan, menjelaskan, menghubungkan, menggolongkan, membedakan dan menafsirkan tentang sesuatu gejala atau peristiwa
perilaku.
Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Soreang yang beralamat di Jl. Nyalindung
No. 1 RT 02/RW.18, Soreang, Kec.
Soreang, Kab. Bandung, Jawa Barat, dengan kode pos 40911. Peneliti mengambil tempat
penelitian di� SMK Negeri 1 Soreang
itu� adalah sebagai Kepala Sekolah.
Guru-guru di SMK Negeri 1 Soreang ada yang GTT, GB, PNS, dan ijazahnya pun
beragam, yakni� ada yang berijazah
diploma, sarjana, dan pascasarjana.
Waktu� penelitian
adalah pada tahun pelajaran 2017 - 2018. Selama penelitian tersebut
peneliti� mengumpulkan data awal,
menyusun program supervisi, pelaksanaan supervisi, analisis, dan tindak lanjut.
Faktor yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan, ada beberapa faktor� yang diselidiki sebagai berikut.
a.
Kepala Sekolah, melihat belum adanya peningkatan
kemampuan guru� dalam melaksanakan
pembelajaran yang lebih efektif di kelas
b.
Kepala Sekolah, melihat peningkatan kemampuan guru dalam
membuat rencana pembelajaran, melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian
prestasi belajar siswa sebelum penelitian dan dalam penelitian tindakan.
c.
Pembelajaran, memperhatikan keefektifan pembelajaran
dikelas yang dikelola oleh guru dengan menerapkan strategi pembelajaran yang
sesuai dengan materi pembelajaran.
d.
Guru, memperhatikan motivasi belajar siswa, hasil belajar
yang dilihat, dan hasil nilai ujian akhir nasional,
e.
Peneliti, memperhatikan tindakan selama melakukan
supervisi edukatif.
i.
Pembelajaran, memperhatikan keefektifan� pembelajaran di kelas yang dikelola oleh
guru� dengan menerapkan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.
f.
Kepala Sekolah�
memperhatikan motivasi belajar siswa dan hasil belajar, yang dicapai
oleh siswa
g.
Peneliti, memperhatikan tindakan Guru selama melakukan
supervisi indvidual.
Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Metode Observasi
Metode Observasi yaitu teknik pengumpulan
data melalui pengamatan dan
pencatatan dengan sistematika fenomena-fenomena
yang diselidiki. Metode Observasi digunakan untuk mengamati peningkatan keterampilan siswa dalam pelajaran.
2.
Metode Wawancara
Metode wawancara yaitu teknik pengumpulan
data dengan cara resitasi sepihak yang dikerjakan secara sistematis berdasarkan pada tujuan peneliti. Metode wawancara ini digunakan untuk
memohon ijin penelitian, kemudian wawancara kepada guru kelas untuk mengetahui
keterampilan siswa dalam pembelajaran
3.
Metode Dokumentasi Teknik dokumentasi
yaitu teknik pengambilan data
dengan jalan pengambilan keterangan secara tertulis tentang inventarisasi, catatan, transkip nilai, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data atau dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas.
Teknik Analisis Data
Penelitian Untuk mengkaji
secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan maka teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis data secara deskriptif dimana langkah yang dilakukan adalah mengumpulkan data melalui catatan lapangan baik itu berupa
pengamatan, rekaman maupun video, atau bentuk-bentuk lain untuk menggambarkan adanya peningkatan pencapaian indikator keberhasilan tiap siklus. Penentuan
model analisis yang dipilih
harus benar-benar sesuai dengan jenis
data yang diperoleh. Data kuantitatif
dapat dianalisis secara deskriptif seperti prosentase, mean, median,
frekuensi, table, grafik,
chart, dsb.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri
atas empat kegiatan dari pengumpulan data awal, data hasil analisis setiap
akhir siklus, serta tanggapan lain dari guru terhadap pelaksanaan supervisi
edukatif model kolaboratif. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis
dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitafif.
Analisis kualitatif digunakan untuk menjelaskan
perubahan perilaku guru dalam pembelajaran dan perilaku supervisor dalam
melaksanakan supervisi guru. Adapun analisis kuantitatif digunakan untuk
mengetahui keberhasilan guru dan siswa berdasarkan standar kompetensi guru yang
telah ditetapkan oleh Depdiknas. Keseluruhan data yang terkumpul, selanjutnya
dipergunakan untuk menilai keberhasilan tindakan yang diberikan dengan
indicator keberhasilan sebagai berikut:
1.
Terjadi peningkatan kinerja guru dalam menyusun
rencana pembelajaran
2.
Terjadinya peningkatan kinerja guru dalam melaksanakan
pembelajaran.
3.
Terjadinya peningkatan kinerja guru dalam menilai
prestasi belajar siswa.
4.
Terjadinya peningkatan kinerja guru dalam melaksanakan
tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa.
Terjadinya pembelajaran efektif yang
mampu memotivasi belajar siswa dengan meningkatnya hasil belajar, terutama
nilai Ujian Akhir Sekolah (nilai UAS).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini tentang hasil penelitian
dan pembahasan, akan dikemukakan mengenai beberapa bagian pokok bahasan sebagai
berikut: 4.1. Gambaran Umum
Sekolah, 4.2. Hasil Penelitian,
4.3. Pembahasan Hasil Penelitian.
Hasil Penelitian
Siklus
I
Pendekatan supervisi kolaboratif pada siklus 1 dilaksanakan dengan menerapkan kesepuluh prinsip pendekatan supervisi kolaboratif yaitu prinsip kolaboratif,
kolegial, kemitraan, terbuka dan fleksibel melalui tahapan-tahapan spesifik.
Tabel 1.
Hasil Penentuan Perencanaan Pembelajaran Siklus I
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil
(Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Mendeskripsikan Tujuan Pembelajaran |
15 |
7 |
46,6 |
|
2 |
Menentukan materi sesuai dengan kompetensi |
15 |
7 |
46,6 |
|
3 |
Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan atau kelompok |
15 |
8 |
53,3 |
|
4 |
Mengalokasikan waktu |
15 |
6 |
40 |
|
5 |
Menentukan metode pembelajaran |
15 |
5 |
33,3 |
|
6 |
Merancang prosedur pembelajaran |
15 |
8 |
53,3 |
|
7 |
Menentukan media pembelajaran |
15 |
6 |
40 |
|
8 |
Menentukkan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul program
computer, dan sejenisnya) |
15 |
7 |
46,6 |
|
9 |
Menentukan teknik penilaian yang sesuai |
15 |
9 |
60 |
|
Rata-Rata Keberhasilan |
46,63% |
|||
Tahap pra-supervisi kolaboratif, peneliti bersama 15 guru menyusun instrument
penelitian. Berdasarkan data yang terkumpul, masih ada guru yang perencanaan
pembelajarannya masih kurang.
Tabel 2.
Hasil Melaksanakan Pembelajaran Tindakan Siklus I
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil
(Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Membuka pelajaran dengan metode yang tepat. |
15 |
9 |
60 |
|
2 |
Menyajikan materi pembelajaran secara
sistematis |
15 |
8 |
53,3 |
|
3 |
Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran
yang telah ditentukan |
15 |
8 |
53,3 |
|
4 |
Mengatur kegiatan siswa di kelas |
15 |
10 |
66,6 |
|
5 |
Menentukan media pembelajaran |
15 |
7 |
46,6 |
|
6 |
Menggunakan sumber belajar |
15 |
8 |
53,3 |
|
7 |
Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang
positif |
15 |
9 |
60 |
|
8 |
Melakukan interaksi dengn siswa menggunakan
bahasa yang komunikatif. |
15 |
10 |
66,6 |
|
9 |
Memberikan pertanyaan umpan balik |
15 |
8 |
53,3 |
|
10 |
Menyimpulkan pembelajaran |
15 |
9 |
60 |
|
11 |
Menggunakan waktu secara efektif |
15 |
10 |
66,6 |
|
Rata-Rata Keberhasilan |
58,14% |
|||
Tahap supervisi kolaboratif, kepala sekolah dan peneliti melaksanakan
supervisi kolaboratif bersama guru pada saat guru sedang melaksanakan kinerja profesionalnya����� dengan menerapkan���� kelima� prinsip pendekatan supervisi kolaboratif yaitu
prinsip kolaboratif, kolegial, kemitraan, terbuka dan fleksibel.
Tabel 3.
Hasil Menilai Prestasi Belajar Siklus I
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil (Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Menyusun soal/perangkat penilaian |
15 |
8 |
53,3 |
|
2 |
Melaksanakan penilaian |
15 |
10 |
66,6 |
|
3 |
Memeriksa jawaban/member skor |
15 |
8 |
53,3 |
|
4 |
Menilai hasil belajar |
15 |
9 |
60 |
|
5 |
Mengolah hasil belajar |
15 |
7 |
46,6 |
|
6 |
Menganalisis hasil belajar |
15 |
7 |
46,6 |
|
7 |
Menyimpulkan hasil belajar |
15 |
10 |
66,6 |
|
8 |
Menyusun laporan hasil belajar |
15 |
8 |
53,3 |
|
9 |
Memperbaiki soal/perangkat penilaian |
15 |
9 |
60 |
|
Rata-Rata Keberhasilan |
56,25% |
|||
Tahap pasca-supervisi kolaboratif, kepala sekolah dan peneliti bersama 15 guru melaksanakan refleksi
pelaksanaan kinerja profesionalnya difasilitasi oleh kepala sekolah.
Tabel 4.
Hasil Melaksanakan Tindak Lanjut Hasil Penilaian
Siklus I
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil (Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil
penilaian |
15 |
7 |
46,6 |
|
2 |
Menyusun program tindak lanjut |
15 |
8 |
53,3 |
|
3 |
Melaksanakan tindak lanjut |
15 |
8 |
53,3 |
|
4 |
Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil
penilaian |
15 |
9 |
60 |
|
5 |
Menganalisis hasil tindak lanjut hasil
penilaian |
15 |
7 |
46,6 |
|
Rata-Rata
Keberhasilan |
51,96% |
|||
Grafik 2 Persentase Keberhasilan Siklus I
|
No |
Kegiatan |
f |
|
1 |
Perencanaan |
47 |
|
2 |
Pelaksanaan |
58 |
|
3 |
Penilaian |
56 |
|
4 |
Tindak Lanjut |
52 |
Temuan-temuan selama proses supervisi kolaboratif berlangsung
dikumpulkan menggunakan lembar observasi proses supervisi kolaboratif dan
catatan lapangan. Peneliti sebagai observer mengamati keterlaksanaan supervisi
dengan menerapkan pendekatan supervisi kolaboratif yang selanjutnya memberikan deskripsi
pada kolom yang telah disediakan pada lembar observasi proses supervisi kolaboratif.
Siklus II
Pendekatan supervisi kolaboratif pada siklus II dilaksanakan berdasarkan
temuan siklus I. Bagian yang sudah tinggi hasil persentase keberhasilan
dipertahankan, sedangkan yang masih rendah diperbaiki pada siklus II.
Berdasarkan hal tersebut, maka hasil dan temuan yang perlu ditindaklanjuti
sebagai berikut:
Tabel 5.
Hasil Penentuan
Perencanaan Pembelajaran Siklus II
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil
(Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Mendeskripsikan Tujuan Pembelajaran |
15 |
15 |
100 |
|
2 |
Menentukan materi sesuai dengan kompetensi |
15 |
13 |
86,66 |
|
3 |
Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan atau kelompok |
15 |
12 |
80 |
|
4 |
Mengalokasikan waktu |
15 |
15 |
100 |
|
5 |
Menentukan metode pembelajaran |
15 |
12 |
80 |
|
6 |
Merancang prosedur pembelajaran |
15 |
15 |
100 |
|
7 |
Menentukan media pembelajaran |
15 |
14 |
93,33 |
|
8 |
Menentukkan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul program
computer, dan sejenisnya) |
15 |
15 |
100 |
|
9 |
Menentukan teknik penilaian yang sesuai |
15 |
15 |
100 |
|
Rata-Rata Keberhasilan |
93,33% |
|||
Tabel 6.
Hasil Melaksanakan
Pembelajaran Tindakan Siklus II
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil
(Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Membuka pelajaran dengan metode yang tepat. |
15 |
15 |
100 |
|
2 |
Menyajikan materi pembelajaran secara sistematis |
15 |
13 |
86,66 |
|
3 |
Menerapkan metode dan prosedur pembelajaran yang telah ditentukan |
15 |
15 |
100 |
|
4 |
Mengatur kegiatan siswa di kelas |
15 |
15 |
100 |
|
5 |
Menentukan media pembelajaran |
15 |
14 |
93,33 |
|
6 |
Menggunakan sumber belajar |
15 |
14 |
93,33 |
|
7 |
Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif |
15 |
13 |
86,66 |
|
8 |
Melakukan interaksi dengan siswa menggunakan bahasa yang komunikatif. |
15 |
14 |
93,33 |
|
9 |
Memberikan pertanyaan umpan balik |
15 |
12 |
80 |
|
10 |
Menyimpulkan pembelajaran |
15 |
14 |
93,33 |
|
11 |
Menggunakan waktu secara efektif |
15 |
15 |
100 |
|
Rata-Rata Keberhasilan |
93,33% |
|||
Tabel 7.
Hasil Menilai Prestasi
Belajar Siklus II
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil
(Skor> 75) |
% |
|
|
Keberhasilan |
|||||
|
1 |
Menyusun soal/perangkat penilaian |
15 |
13 |
86,66 |
|
|
2 |
Melaksanakan penilaian |
15 |
14 |
93,33 |
|
|
3 |
Memeriksa jawaban/member skor |
15 |
14 |
93,33 |
|
|
4 |
Menilai hasil belajar |
15 |
14 |
93,33 |
|
|
5 |
Mengolah hasil belajar |
15 |
13 |
86,66 |
|
|
6 |
Menganalisis hasil belajar |
15 |
12 |
80 |
|
|
7 |
Menyimpulkan hasil belajar |
15 |
15 |
100 |
|
|
8 |
Menyusun laporan hasil belajar |
15 |
12 |
80 |
|
|
9 |
Memperbaiki soal/perangkat penilaian |
15 |
14 |
93,33 |
|
|
Rata-Rata Keberhasilan |
89,62% |
|
|||
Tabel 8.
Hasil Melaksanakan Tindak
Lanjut Hasil Penilaian Siklus II
|
No |
Indikator |
Jumlah Guru |
Jumlah Guru Berhasil (Skor> 75) |
% |
|
Keberhasilan |
||||
|
1 |
Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian |
15 |
12 |
80 |
|
2 |
Menyusun program tindak lanjut |
15 |
12 |
80 |
|
3 |
Melaksanakan tindak lanjut |
15 |
14 |
93,33 |
|
4 |
Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian |
15 |
14 |
93,33 |
|
5 |
Menganalisis hasil tindak lanjut hasil penilaian |
15 |
15 |
100 |
|
Rata-Rata Keberhasilan |
89,33% |
|||
Grafik 2 Persentase
Keberhasilan Siklus II
|
No |
Kegiatan |
f |
|
1 |
Perencanaan |
93 |
|
2 |
Pelaksanaan |
93 |
|
3 |
Penilaian |
90 |
|
4 |
Tindak Lanjut |
89 |
Grafik 3. Perbandingan
Persentase Keberhasilan
|
No |
Kegiatan |
siklus I |
siklus II |
|
1 |
Perencanaan |
47 |
93 |
|
2 |
Pelaksanaan |
58 |
93 |
|
3 |
Penilaian |
56 |
90 |
|
4 |
Tindak Lanjut |
52 |
89 |
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti
dari siklus I s.d. siklus II diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Temuan pertama,
kinerja ���guru SMK Negeri 1 Soreang meningkat dalam
perencanaan pembelajaran. Hal ini terjadi karena adanya kerjasama antar guru,
guru yang sudah mampu dengan yang belum mampu, guru mata pelajaran dalam satu
MGMP, dan pengarahan dan ���������bimbingan yang dilakukan oleh
peneliti sebagai kepala sekolah.
2. Temuan kedua, kinerja
guru meningkat dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Dalam penelitian
tindakan ini awalnya hanya 58%
guru yang dapat melaksanakan pembelajaran meningkat menjadi 93%.
3. Temuan ketiga, kinerja
guru meningkat dalam menilai prestasi belajar siswa. Pada penelitian tindakan
yang dilakukan di SMK
Negeri 1 Soreang, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan
supervisi edukatif kolaboratif secara periodik memberikan dampak yang positif
terhadap guru dalam penyusunan instrumen penilaian, melaksanakan, memeriksa,
menilai, mengolah, menganalisis, menyimpulkan, menyusun laporan dan memperbaiki soal.
4. Temuan keempat,
kinerja guru dalam melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar
siswa meningkat setelah pelaksanaan supervisi edukatif kolaboratif.
KESIMPULAN
Pelaksanaan supervisi edukatif kolaboratif yang dilakukan dapat meningkatkatkan kinerja guru, meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpengaruh
pada hasil belajar peserta didik yang juga meningkat, dan terjalin hubungan yang kooperatif dan kolegial antara peneliti sebagai supervisor/kepala sekolah dan guru SMK
Negeri 1 Soreang.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas,
E. (2017). Magnet Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Kinerja Guru, Jakarta:
Gramedia.
Achmad
Fatan, Wayan Dasna, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Surabaya: Jenggala
Pustaka Utama, 2009), hlm 40. 2
Abd.
Rahman A. Ghani, Metode Penelitian Tindakan Sekolah, (Jakarta: Rajawali Pers,
2014), hlm. 68.
Ambarita.
A. (2015). Kepemimpinan Kepala Sekolah. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Achmad
Hufad, Penelitian Tindakan Kelas, (Direktorat Jendral Pendidikan Islam
Departemen Agama Islam Republik Indonesia, 2009), hlm. 192.
Donni
Juni Priansa, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah,(Bandung;
Alfabeta,2014). 83
Departemen
Pendidikan Nasional. (2003). Undang-undang Nomor Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Atas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
(2017). Panduan Supervisi Akademik. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Dirjen
Dikmenum. (1884). Manajemen Berbasis
Sekolah. Jakarta: Depdiknas. Djazuli. (1996). Peningkatan Wawasan Guru Agama. Jakarta : Dirjen. Dikdas.
Kusmianto.
(1997). Panduan Penilaian Kinerja Guru
oleh Pengawas. Jakarta: Erlangga.
Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala
Sekolah/Madrasah. Jakarta.
Saondi,
Ondi dan Suherman, Aris. (2010). Etika
Profesi Keguruan. Bandung: Refika Aditama.
Syamsuddin.
(2005). Psikologi Pendidikan.
Bandung: Remaja Rosdakarya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tentang
Guru dan Dosen. (2005). Jakarta: Deputi Mensesneg Bidang
Perundang-undangan.
H.
E. Mulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosda Karya.
2010), hlm. 88. 4
Herabudin,
Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung; Pustaka Setia, 2009).195
7Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi, (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya,
2007). 88 8Herabudin, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. 195
Asmendri,
Manajemen Pendidika, (Batusangkar Sumatra Barat, STAIN Batusangkar, 2008). 106
Suharsimi
Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, (Jakarta; Rineka Cipta, 2004).116 11Donni Juni
Priansa, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. 106
Kemendiknas
tahun 2010 13 Donni Juni Priansa, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala
Sekolah. 107
Donni
Juni Priansa, Manajemen Supervisi dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. 108 15
Direktorat Jendral Tenaga Kependidikan, Supervisi Akademik, (Jakarta; Ditjen
PMPTP, 2010)
Piet
A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, PT Rineka Cipta,
Jakarta, 2008, hlm. 49-50. 9 Ibid, hlm. 51-52.
Kempa,
R. (2015). Kepemimpinan Kepala Sekolah Studi Tentang Hubungan Perilaku
Kepemimpinan, Keterampilan Manajerial, Manajemen Konflik, Daya Tahan Stres
Dengan Kinerja Guru. Yogyakarta:
Ombak
Kompri. (2017). Standarisasi Kompetensi Kepala Sekolah: Pendekatan Teori untuk
Praktek Profesional. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Mulyasa.
(2013). Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Musbikin,
I. (2013). Menjadi Kepala Sekolah Yang Hebat. Riau : Zanafa. Muspawi, Mohamad.
(2020). The Role Of Leaders In Increasing Motivation Teacher Work In Pondok Pesantren.
Ta�dib: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 9 No. 1 (2020) 20-30. ISSN 1411-8173 |
E-ISSN 2528-5092. DOI: https://doi.org/10.29313/tjpi.v9i1.5932
Muspawi,
Mohamad. (2020). Strategi Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Jurnal Ilmiah
Universitas Batanghari Jambi, 20 (2), Juli 2020, pp.402-409. DOI
10.33087/jiubj.v20i2.938. ISSN 1411-8939 (Online) | ISSN 2549-4236 (Print).
Nazir,
M. Metode Penelitian, Jakarta, Ghalia Indonesia, cet.ke-5, 2011.