UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN GURU DALAM KEHADIRAN MENGAJAR DIKELAS MELALUI PENERAPAN REWARD AND PUNISHMENT DI LINGKUNGAN SMK NEGERI 1 CIPONGKOR KAB. BANDUNG BARAT TAHUN PELAJARAN 2018 - 2019
Heris Herdiyana
SMKN 1 Cipongkor
|
Riwayat Artikel: Received: 05-10-2022 Revised: 21-10-2022 Accepted: 30-10-2022 Keywords:
Teacher Discipline, Reward and Punishment Kata Kunci: Disiplin Guru, Reward and Punishment. |
|
Abstract Improving the quality of learning
in schools is very dependent on several factors. A very important factor,
among others, is the application of school culture towards quality
improvement. School culture is a positive thing that must be maintained and
implemented by all school members without feeling forced. One of the school
cultures that must be maintained is the issue of discipline, including the
discipline of teachers in class attendance in the teaching and learning
process. To improve the discipline of teachers can be pursued in various
ways. In this School Action Research (PTS), an action was tried in the form
of applying Reward and Punishment for teachers at SMK Negeri 1 Cipongkor,
Bandung Regency. This research was carried out in two cycles, because from
the results of research and data analysis, it turned out that in the second
cycle, teacher discipline in class attendance in the teaching and learning
process increased and met the predetermined indicators of 75%. From the
results of this study, it can be concluded that to improve teacher discipline
in class attendance in teaching and learning activities can be done by
applying Reward and Punishment to teachers. |
|
|
Abstrak
Peningkatan
mutu pembelajaran disekolah sangat tergantung dari beberapa faktor. Faktor
yang sangat penting antara lain adalah penerapan budaya sekolah kearah
peningkatan mutu. Budaya sekolah merupakan hal yang positif yang harus
dipertahankan dan dilaksanakan oleh semua warga sekolah tanpa merasa
terpaksa. Budaya sekolah yang harus
dipertahankan salah satunya adalah masalah kedisiplinan, termasuk disiplin
para guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar. Untuk meningkatkan
disiplin para guru dapat diupayakan melalui bermacam-macam cara. Dalam Penelitian Tindakan
Sekolah (PTS) ini, dicobakan tindakan berupa penerapan Reward and Punishment
untuk para guru di SMK Negeri 1 Cipongkor, Kabupaten Bandung. Penelitian ini
dilaksanakan dalam dua siklus, karena dari hasil penelitian dan analisa data,
ternyata pada siklus kedua, kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada
proses belajar mengajar meningkat dan memenuhi indikator yang telah
ditetapkan sebesar 75%. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan
disiplin guru dalam kehadiran dikelas pada kegiatan belajar mengajar dapat
dilakukan dengan penerapan Reward and Punishment kepada guru. |
Corresponding Author: Heris
Herdiyana�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan saat
ini merupakan suatu kebutuhan yang wajib dalam kehidupan,
dan sasaran pendidikan adalah manusia. Hal ini memberi isyarat
bahwa manusia adalah makhluk berpotensi untuk di didik. Menurut Eko Supriyanto (2004:5) menyatakan bahwa �manusia merupakan makhluk yang mampu mengembangkan diri sejalan dengan potensi yang dimilikinya�. Menurut Rubino Rubiyanto (2004:1) menyatakan bahwa �pendidikan bertujuan menumbuhkan potensi manusia agar menjadi manusia dewasa, beradab dan bermoral�. Potensi � potensi tersebut pasti ada ketika
manusia sejak lahir dan tugas pendidik adalah mengembangkan potensi yang dimiliki tersebut.
Pada era globalisasi
dan modern saat ini pendidikan sangat penting dan dibutuhkan semua manusia. Di negara Indonesia saat
ini bawasannya membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memenuhi beberapa syarat dan kriteria untuk memajukan negara Indonesia serta bisa membawa
nama baik Indonesia di kancah internasional. Dengan upaya peningkatan
SDM tidak hanya dilihat dari segi
formal pendidikan namun
juga harus diimbangi dengan nilai agama serta kebudayaan ketimur � timuran yang memang menggambarkan rakyat Indonesia.
Pendidikan bukan hanya sekedar
mengawetkan kebudayaan dan meneruskannya dari generasi ke generasi, akan tetapi
juga diharapkan pendidikan ini dapat mengubah dan mengembangkan suatu
pengetahuan. Pendidikan bukan hanya menyampaikan keterampilan yang sudah
dikenal, namun harus dapat meramalkan berbagai jenis keterampilan dan kemahiran
yang akan datang, dan sekaligus menemukan cara yang tepat dan cepat dikuasai
oleh anak didik.(Budiningsih,2005).
Guru merupakan
ujung tombak dari pelaksanaan pencapaian tujuan pendidikan. di pundak guru kualitas pendidikan dipertaruhkan. Kualitas pendidikan sangat tergantung dari kualitas guru. Semakin tinggi kualitas guru, semakin tinggi pula kualitas pendidikan. Guru selalu dituntut memenuhi permintaan baik dari atas maupun
dari bawah. Dari atas guru menjadi pelaksana kebijakan kurikulum dari pemerintah, dan dari bawah guru sebagai sosok yang paling dekat dengan subyek pendidikan
yaitu peserta didik (Srihartati, 2019:1).
Guru mempunyai
fungsi yang sangat penting serta sangat menentukan di dalam proses pembelajaran. Guru
yang profesional dituntut
agar dapat menyampaikan materi pelajaran dengan baik, efektif
dan efisien sehingga siswa sebagai peserta
didik dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran. Guru
juga dituntut untuk menguasai strategi pembelajaran
agar proses pembelajaran didalam
kelas bergairah dan menyenangkan, selain itu guru juga diharapkan disiplin dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Disiplin merupakan sikap yang harus dimiliki oleh guru karena dengan disiplin
kerja yang tinggi diharapkan tujuan dari pendidikan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan oleh suatu sekolah. Dengan adanya disiplin yang diterapkan disuatu sekolah diharapkan semua komponen sekolah (guru, karyawan, dan
murid mampu berperan sesuai dengan tugastugasnya.
Misalnya guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar harus tercermin dalam tingkah laku dan gaya hidupnya yang sederhana dan sopan dalam mengajar maupun disiplin waktu hadirnya. Disiplin sangat penting bagi guru karena itu ia harus
ditanam terus menerus kepada mereka. Dengan penanaman yang terus menerus, maka ia
akan menjadi kebiasaan bagi mereka. Orang yang berhasil dalam bidangnya masing-masing umumnya mempunyai kedisiplinan yang tinggi. Sebaliknya orang yang gagal umumnya tidak disiplin.
Menurut Siswanto Sastrohadiwiyo disiplin adalah suatu sikap
menghormati, menghargai, patuh dan taat kepada peraturan-peraturan yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya
dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya bila ia melanggar tugas
dan wewenang yang diberikan
kepadanya.
Dari pengertian
diatas dapat dikatakan bahwa kedisiplinan guru bukan sekedar yang bersangkutan datang mengajar dan pulang tepat waktu,
tetapi lebih dari itu dituntut
juga prilaku, sikap dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan yang tertulis maupun tidak tertulis serta mampu untuk
bertanggung jawab dengan tugas dan perannya sebagai seorang guru yang memberikan contoh kepada siswanya.
Dengan cara demikian siswa secara perlahan-lahan dalam pribadinya akan tumbuh dorongan
(motivasi) untuk mengikuti jejak gurunya yang tepat waktu masuk. Karena itu siswa pun akan
tepat waktu datang dan masuk kelas serta bersemangat
dan termotivasi dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Motivasi dalam hal ini adalah�
kekuatan yang tersembunyi dalam diri yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas. Menurut M. Utsman Najati, motivasi adalah �kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta
mengarahkannya menuju tujuan tertentu�
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa guru sebagai pendidik diharapkan dapat menjadi panutan
dengan menjadi guru yang disiplin agar dapat menjadi contoh bagi anak didiknya
sehingga anak didik memiliki motivasi yang tinggi dalam proses pembelajaran dan mencapai tujuan yang diharapkan.
SMK Negeri 1 Cipongkor
adalah salah satu lembaga pendidikan yang berada Kabupaten Bandung Barat,
di sekolah ini telah ada peraturan
atau tata tertib yang mengatur tingkah laku baik siswa
maupun guru. Dengan adanya aturan tersebut
diharapkan baik siswa maupun guru dapat mentaatinya. Apabila guru mampu mentaati peraturan yang ada maka guru akan
dinilai sebagai sosok pribadi yang disiplin. Dengan kedisiplinan guru tersebut diharapkan pula siswa-siswanya akan termotivasi dalam belajar.
Masalah-masalah yang mendasari dari penelitian ini
adalah :
a. Masih
banyak guru yang datang terlambat ke sekolah.
b. Ada
sebagian guru tidak mengikuti upacara bendera
c. Masih
kurangnya disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas.
d. Guru
masih sering terlambat masuk kelas.
e. Pada
hari-hari tertentu ditemukan ada sebagian
guru tidak berpakaian rapi (seragam) sebagaimana yang ditentukan pihak sekolah
f.
Adanya sebagian siswa terlambat datang kesekolah
g. Adanya sebagian
siswa yang rajin membuat PR ada pula yang mengabaikan tugas atau PR yang telah ditentukan
Masalah-masalah
yang memerlukan jawaban penelitian dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a. Kedisiplinan guru dalam proses belajar mengajar masih rendah.
b. Motivasi belajar siswa rendah.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa belum
teridentifikasi
Pembatasan
Masalah
Mengingat terbatasnya kemampuan dan kesanggupan penulis untuk meneliti masalah-masalah yang dibeberkan diatas, maka perlu
penulis batasi masalah yang akan diteliti, yaitu hanya pada masalah pengaruh kedisiplinan guru terhadap motivasi belajar siswa. Kedisiplinan guru juga penulis batasi hanya kedisiplinan
dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas. Penelitian
ini dibatasi pada upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran mengajar
dikelas melalui penerapan Reward and Punishment.
METODA PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode Penelitian
Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan
suatu prosedur penelitian yang diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Panitia Pelaksana Pendidikan dan Latihan Profesi
Guru Rayon 10 Jawa Barat, 2009 :
73). Penelitian tindakan sekolah merupakan �(1) penelitian partisipatoris yang menekankan pada tindakan dan refleksi berdasarkan pertimbangan rasional dan logis untuk melakukan
perbaikan terhadap suatu kondisi nyata;
(2) memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan; dan (3) memperbaiki situasi dan kondisi sekolah / pembelajaran secara praktis� (Depdiknas, 2008 : 11-12).
Secara singkat, PTS bertujuan
untuk mencari pemecahan permasalahan nyata yang terjadi di sekolah-sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah-masalah tersebut bisa dipecahkan melalui suatu tindakan
perbaikan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan ini ialah
pendekatan kualitatif. Artinya, penelitian ini dilakukan karena
ditemukan permasalahan rendahnya tingkat kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses kegiatan belajar mengajar. Permasalahan ini ditindaklanjuti dengan cara menerapkan
sebuah model pembinaan kepada guru berupa penerapan Reward dan Punishment yang dilakukan
oleh kepala sekolah, kegiatan tersebut diamati kemudian dianalisis dan direfleksi. Hasil revisi kemudian diterapkan kembali pada siklus-siklus berikutnya.
Peneliti menggunakan model ini karena dianggap paling
praktis dan aktual.
Kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, terdiri atas
beberapa tahap, yaitu :
1.
Perencanaan
2.
Pelaksanaan
3.
Pengamatan
4.
Refleksi
Langkah-langkah penelitian
Langkah-langkah dalam alur
penelitian tindakan sekolah yaitu:
a.
Perencanaan (planning) Dalam tahap ini peneliti
menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan,
dimana, siapa, bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
b.
Melakukan tindakan (action) Pelaksanaan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan dan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empirik agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang
optimal.
c.
Melaksanakan pengamatan (observing) Kegiatan observasi dapat disetarakan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegviatan ini peneliti
mengamati hasil atau dampak dari
tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap peserta didik. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
d.
Refleksi (reflektion) Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji,
melihat, dan mempertimbangkan
hasilhasil atau dampak dari tindakan.
Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitannya dengan teori atau
hasil peneliti yang telah ada dan relevan.
Melaui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang signifikan.
Setting Penelitian
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMKN 1 CIPONGKOR beralamat di JL. PLTA SAGULING, KP. PASARLAMA, RT 001 / RW
005, Citalem, Kec. Cipongkor, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, dengan kode pos 40564. Provinsi Jawa Barat. Peneliti mengambil tempat
penelitian� di� SMK Negeri 1 Cipongkor itu� adalah sebagai Kepala Sekolah. Guru-guru di
SMK Negeri 1 Cipongkor ada yang GTT, GB, PNS, dan ijazahnya pun beragam,
yakni� ada yang berijazah diploma,
sarjana, dan pascasarjana. Waktu� penelitian
adalah pada awal semester 1 bulan Juli sampai dengan November tahun pelajaran
2018 - 2019. Selama penelitian tersebut peneliti� mengumpulkan data awal, menyusun program
supervisi, pelaksanaan supervisi, analisis, dan tindak lanjut.
Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian tindakan sekolah ini
adalah guru-guru di di SMKN 1
CIPONGKOR Kab. Bandung Barat, Jawa
Barat,
sejumlah 15 orang guru PNS.
Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
pemberian reward dan punishment kepada guru mengenai
kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas dalam proses pembelajaran oleh kepala
sekolah. Diharapkan dengan pemberian reward
dan punishment yang diberikan
oleh kepala sekolah akan terjadi perubahan atau peningkatan kedisiplinan guru
dalam kehadiran dikelas dalam proses pembelajaran. Karena keterbatasan waktu,
penelitian tindakan sekolah ini hanya dilaksanakan sebanyak dua siklus.
Jenis penelitian yang digunakan
adalah penelitian yang bersifat kuantitatif deskriptif. Jenis penelitian yang dimaksud yaitu penelitian yang berupaya untuk menggambarkan ada tidaknya hubungan dari variabel satu
(variabel terikat) terhadap variabel yang lain (variabel bebas). Maka penelitian ini menggunakan statistik sebagai pengelohan data yang dikumpulkan melalui instrument pengumpulan
data penelitian. Ada dua variabel yang peneliti ukur dalam penelitian
ini: Variabel bebas (independen): Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah Hubungan Kinerja Guru.
Variabel terikat (dependen): Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah Motivasi Belajar Siswa.
1. Independent Variabel
(Variabel Bebas): Kinerja
Guru (Variabel X)
2. Dependent Variabel
(Variabel Terikat) : Motivasi Belajar
Siswa (Variabel Y)
Definisi Operasional dan Konseptual
Agar
pengukuran variabel dapat dilakukan secara kuantitatif maka semua variable dalam penelitian ini didefenisikan sebagai berikut:
1.
Variabel Kinerja Guru (X)
a.
Definisi Konseptual Kinerja
guru adalah hasil kerja atau prestasi
kerja dari suatu pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan dengan tujuan dan peraturan yang telah ditetapkan.
b.
Definisi Operasional
Kinerja guru dalam penelitian
ini adalah hasil kerja nyata
guru berupa kewajiban yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di dalam kelas. Beberapa
hal yang mencakup kinerja guru, di antaranya:
1)
Menjelaskan materi pembelajaran
2)
Menguasai metode pembelajaran
3)
Keterampilan menggunakan
media
4)
Tingkah laku dalam pembelajaran
5)
Penilaian pembelajaran
2.
Variabel Motivasi Belajar Siswa (Y)
a) Definisi Konseptual Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu. Motivasi diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa untuk
melakukan serangkaian kegiatan belajar guna mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
b) Definisi Operasional Motivasi dalam penelitian ini adalah dorongan keinginan pada diri seseorang dengan orang lain yang berbeda sehingga perilaku manusia cenderung beragam di dalam bekerja. Indikator motivasi belajar siswa dalam
penelitian ini adalah:
1)
Ketekunan dalam menghadapi tugas
2)
Dorongan dan kebutuhan dalam pembelajaran
3)
Keinginan pembelajaran yang
menarik
4)
Lingkungan belajar yang kondusif
|
Alat pengumpulan data |
|||
|
Kinerja Guru (X) |
Motivasi Belajar Siswa (Y) |
||
|
Angket |
Bobot |
Angket |
Bobot |
|
Sangat
Sering (SS) |
4 |
Sangat Sering (SS) |
4 |
|
Sering (S) |
3 |
Sering (S) |
3 |
|
Jarang (JR) |
2 |
Jarang (JR) |
2 |
|
Tidak Pernah (TP) |
1 |
Tidak Pernah (TP) |
1 |
Kisi-kisi angket kinerja
guru
|
No. |
Variabel |
Indikator |
No. Item |
Jml Item |
|
1 |
Kinerja
Guru X |
Menjelaskan materi pembelajaran |
1,2,3,4 |
4 |
|
2 |
Menguasai metode pembelajaran |
5,6,7,8, |
4 |
|
|
3 |
Keterampilan menggunakan media |
9,10,11,12 |
4 |
|
|
4 |
Tingkah laku dalam pembelajaran |
13,14,15,16, |
4 |
|
|
5 |
Penilaian pembelajaran |
17,18,19,20 |
4 |
|
|
Jumlah |
20 |
20 |
||
Kisi-kisi angket motivasi
belajar siswa
|
No. |
Variabel |
Indikator |
No. Item |
Jm Item |
|
1 |
Motivasi Belajar Siswa Y |
Ketekunan dalam menghadapi tugas |
1,2,3,4 |
4 |
|
2 |
Dorongan dan kebutuhan dalam pembelajaran |
5,6,7,8, |
4 |
|
|
3 |
Keinginan siswa untuk berhasil dan belajar |
9,10,11,12 |
4 |
|
|
4 |
Kegiatan Pembelajaran
yang menarik |
13,14,15,16, |
4 |
|
|
5 |
Lingkungan belajar yang kondusif |
17,18,19,20 |
4 |
|
|
Jumlah |
20 |
20 |
||
Penelitian ini di anggap
berhasil apabila sudah mencapai total skor motivasi kerja
guru rata-rata, 85%. Yaitu terdiri
dari perencanaan program kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan evaluasi atau penilaian pembelajaran (Depdiknas, 2008:
22-25). Dengan persentase skor motivasi kerja
tiap item atau soal yang dapat dihitung menggunakan perhitungan berdasarkan penjelasan Riduwan (2013:89), sebagai berikut:
Persentase = Jumlah Keseluruhan Skor Yang Diperoleh X
100% Skor Ideal
(Skor
Maksimal)
Kriteria keberhasilan motiviasi kerja guru dalam % (Agip, et. al.,2009:41) sebagai berikut:
|
No |
Tingkat keberhasilan |
Predikat keberhasilan |
|
1 |
86 - 100 % |
sangat tinggi |
|
2 |
71 - 85 % |
tinggi |
|
3 |
56 - 70 % |
sedang |
|
4 |
41 - 55 % |
rendah |
|
5 |
< 40 % |
sangat rendah |
|
|
rentang 15 % |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini dilaksanakan
dalam dua siklus. Hal ini
dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia, serta dengan dua siklus sudah
penulis anggap cukup untuk peningkatan disiplin guru dalam kehadiran dikelas
pada kegiatan belajar mengajar.
SIKLUS
I
Siklus 1 terdiri atas beberapa tahap, yaitu : (1) Perencanaan, (2)
Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.
1. Perencanaan
Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan oleh penulis saat akan
memulai tindakan. Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh penulis
yang akan melakukan tindakan, maka penulis membuat rencana tindakan sebagai
berikut :
(a) Merumusan masalah yang
akan dicari solusinya. Dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya
adalah masih banyaknya guru yang kurang disiplin dalam kehadiran dikelas pada
proses belajar mengajar.
(b) Merumusan tujuan
penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan �������melakukan inovasi/tindakan. Dalam penelitian
ini penulis mengambil rencana untuk melakukan tindakan memberikan Reward dan Punishment kepada guru- guru untuk meningkatkan kedisiplinan guru
dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar.
(c) Merumusan indikator keberhasilan penerapan Reward dan
Punishment dalam meningkatkan
disiplin guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini penulis tetapkan
sebesar 75%, artinya tindakan ini dinyatakan
berhasil bila 75% guru tidak terlambat masuk kelas dalam
proses pembelajaran.
(d) Merumusan langkah-langkah
kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan
tindakan.
Langkah-langkah yang��
diambil penulis dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan
sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta
menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh penulis.
Kepada para guru disampaikan mengenai penerapan Reward dan Punishment yang
akan diterapkan dalam penelitian ini. Pada siklus pertama ini, akan
dipampang/ditempel diruang guru, maupun diruang TU, peringkat nama-nama guru
yang paling rendah tingkat keterlambatan masuk kelasnya sampai yang paling
tinggi tingkat keterlambatannya.
(e) Mengidentifikasi warga
sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian
masalah/menghadapi tantangan/melakukan tindakan. Penulis melakukan identifikasi
siapa saja yang dilibatkan dalam penelitian ini. Pihak-pihak yang dilibatkan
dalam penelitian ini adalah : guru, guru piket, TU, dan siswa.
(f) Mengidentifikasi
metode pengumpulan data yang akan digunakan.
Metode pengumpulan data yang diambil oleh penulis merupakan data
kualitatif melalui observasi, pengamatan serta wawancara kepada siswa mengenai
kehadiran guru dikelas pada kegiatan belajar mengajar.
(g) Penyusunan instrumen
pengamatan dan evaluasi.
Dalam pengambilan data, penulis menggunakan instrument berupa lembar
observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada
siswa, untuk mengetahui penilaian dari siswa mengenai tingkat kehadiran guru dikelas
dalam proses kegiatan belajar mengajar.
(h) Mengidenifikasi
fasilitas yang diperlukan.
Fasilitas atau alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini antara
lain : kertas (lembar pengamatan), alat tulis berupa balpoin, serta jam dinding
yang ada disetiap kelas, serta rekap jumlah kehadiran dari setiap guru.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui
beberapa kegiatan, antara lain :
(a) Menyebarkan lembar
pengamatan, dalam lembar pengamatan
itu, telah dibuat daftar guru yang mengajar dikelas itu setiap jam dan diberi
kolom jam masuk kelas serta jam keluar kelas. Lembar pengamatan dapat dilihat
pada lampiran.
(b) Berkoordinasi dengan
petugas piket yang setiap hari terdiri dari 2 orang petugas, yaitu dari guru
yang tidak mempunyai jam mengajar pada hari itu dan satu orang dari tata usaha.
Petugas piket akan mengedarkan daftar hadir guru dikelas yang telah dibuat agar
dapat melihat tingkat kehadiran guru disetiap kelas dan disetiap pergantian jam
pelajaran. Guru yang terlambat lebih dari 15 menit, dianggap tidak hadir dan
diberi tanda silang. Daftar hadir guru dapat dilihat dalam lampiran.
(c) Setelah selesai jam
pelajaran, dilakukan rekapitulasi dari hasil pengamatan, baik dari guru piket ,
dari siswa maupun dari penulis.
(d) Kegiatan tersebut
dilakukan terus setiap hari kepada setiap guru selama satu minggu (satu
siklus).
3.������ Pengamatan
dan Evaluasi
Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan
lembar observasi (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 15 orang. Selama pengamatan
peneliti dibantu atau berkolaborasi dengan guru piket. Pengamatan oleh peneliti
meliputi :
(a)������� Kehadiran guru dikelas
(b)������� Tingkat keterlambatan
guru masuk kelas
(c)������� Waktu meninggalkan kelas
setelah selesai pelajaran
Peneliti juga melakukan penilaian dari hasil lembar observasi yang
dibagikan kepada pengurus kelas untuk mengamati kehadiran guru dikelas.
Dari hasil pengamatan serta rekap dari tingkat kehadiran guru dikelas
pada proses belajar mengajar dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1
REKAPITULASI TINGKAT
KETERLAMBATAN GURU PADA KEHADIRAN DIKELAS
SIKLUS I
|
Waktu Keterlambatan/Jumlah/Prosentase |
||
|
Kurang dari 10 Menit |
10 Menit s.d. 15 Menit |
Lebih dari 15 Menit |
|
6 |
8 |
11 |
|
40,00% |
53,33% |
73,33% |
Dari hasil rekapitulasi tingkat keterlambatan guru
dikelas pada proses pembelajaran diperoleh data, sebanyak 6 orang guru terlambat masuk
kelas kurang dari 10 menit, 8
orang guru terlambat masuk kelas 10 menit sampai dengan 15 menit, dan 11 orang
guru terlambat masuk kelas lebih dari 15 menit.
Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan pada grafik dibawah ini :
Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
tingkat keterlambatan guru masuk kelas lebih dari 15 menit pada proses kegiatan
belajar mengajar masih tinggi yaitu 11 orang atau 73.33 %. Berdasarkan indicator yang
telah ditetapkan bahwa keberhasilan tindakan ini adalah 75%, atau bila 75% guru
tidak terlambat lebih dari 10 menit. Pada siklus pertama ini guru yang tidak
terlambat lebih dari 10 menit baru 53.33%, jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan
penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua.
4.Refleksi
Setelah selesai satu siklus maka diadakan refleksi
mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus
pertama.
Refleksi dilaksanakan bersama-sama kolaborator untuk
menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya.
Dari hasil refleksi dapat diambil suatu kesimpulan
bahwa perlu penerapan Reward dan Punishment yang lebih tegas lagi daripada
siklus pertama.
SIKLUS 2
Siklus 2 terdiri atas beberapa tahap, sama seperti siklus 1 yaitu : (1)
Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan dan Evaluasi, dan (4) Refleksi.
1.
Perencanaan
Dari hasil refleksi pada siklus pertama, peneliti merencanakan untuk
melakukan tindakan Reward dan Punishment yang lebih tegas dibandingkan
dengan siklus pertama.
Peneliti merencanakan untuk mengumumkan hasil observasi mengenai tingkat
keterlambatan guru masuk kelas dalam proses belajar mengajar, pada kegiatan
upacara bendera hari Senin. Hal ini terlebih dahulu disosialisasikan kepada
semua guru pada saat refleksi siklus pertama.
2.
Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah pada siklus yang kedua ini
dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :
(a) Menyebarkan lembar
pengamatan. Dalam lembar pengamatan itu, telah dibuat daftar guru yang mengajar
dikelas itu setiap jam dan diberi kolom jam masuk kelas serta jam keluar kelas.
Lembar pengamatan dapat dilihat pada lampiran.
(b) Berkoordinasi dengan
petugas piket yang setiap hari terdiri dari 2 orang petugas, yaitu dari guru
yang tidak mempunyai jam mengajar pada hari itu dan satu orang dari tata usaha.
Petugas piket akan mengedarkan daftar hadir guru dikelas yang telah dibuat agar
dapat melihat tingkat kehadiran guru disetiap kelas dan disetiap pergantian jam
pelajaran. Guru yang terlambat lebih dari 15 menit, dianggap tidak hadir dan
diberi tanda silang. Daftar hadir guru dapat dilihat dalam lampiran.
(c) Setelah selesai jam
pelajaran, dilakukan rekapitulasi dari hasil pengamatan, baik dari guru piket ,
dari siswa maupun dari penulis/ peneliti.
Kegiatan tersebut dilakukan terus setiap hari kepada setiap guru selama
(satu siklus) pada siklus kedua
3.
Pengamatan dan Evaluasi
Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan
lembar observasi selama (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 15 orang. Selama pengamatan
peneliti dibantu atau berkolaborasi dengan guru piket. Pengamatan oleh peneliti
meliputi :
(a) Kehadiran guru dikelas
(b) Tingkat keterlambatan
guru masuk kelas
(c) Waktu meninggalkan
kelas setelah selesai pelajaran
Peneliti juga melakukan penilaian dari hasil lembar observasi yang
dibagikan kepada pengurus kelas untuk mengamati kehadiran guru dikelas.
Dari hasil pengamatan serta rekap dari tingkat kehadiran guru dikelas
pada proses belajar mengajar pada siklus kedua dapat dilihat pada tabel berikut
:
Tabel 2
REKAPITULASI TINGKAT KETERLAMBATAN GURU PADA KEHADIRAN
DIKELAS SIKLUS II
|
Waktu Keterlambatan/Jumlah/Prosentase |
||
|
Kurang dari 10 Menit |
10 Menit s.d. 15 Menit |
Lebih dari 15 Menit |
|
12 |
3 |
0 |
|
80,00% |
20,00% |
|
Dari hasil rekapitulasi tingkat keterlambatan guru dikelas pada proses
pembelajaran diperoleh data, sebanyak 12 orang guru terlambat masuk kelas kurang dari 10
menit, 3 orang guru terlambat
masuk kelas 10 menit sampai dengan 15 menit, dan tidak ada satu orangpun guru
yang terlambat masuk kelas lebih dari 15 menit.
Untuk lebih jelasnya, tingkat keterlambatan guru masuk kelas pada proses
belajar mengajar pada siklus kedua ini dapat digambarkan pada grafik dibawah
ini :
Dari hasil observasi pada siklus pertama dan siklus kedua dapat dilihat
ada penurunan tingkat keterlambatan guru dikelas pada kegiatan belajar
mengajar, atau terdapat peningkatan kehadiran guru dikelas.
4.
Refleksi
Setelah selesai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua maka diadakan
refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada
siklus kedua tersebut.
Dari hasil observasi dan data yang
diperoleh, peneliti mengambil kesimpulan bahwa tindakan yang dilaksanakan pada
siklus kedua dinyatakan berhasil, karena terdapat 80%
guru yang terlambat kurang dari 10 menit, atau melebihi target yang telah
ditentukan sebesar 75%.
KESIMPULAN
Berdasarkan
analisis data, dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan Reward dan Punishment efektif untuk meningkatkan disiplin kehadiran guru
dikelas pada kegiatan belajar mengajar.
Data yang diperoleh menunjukan bahwa setelah diadakan
penerapan tindakan berupa Reward dan Punishment, guru yang terlambat lebih
dari 15 menit adalah 0, dan guru yang terlambat kurang dari 10 menit sebanyak 12 orang guru. Penerapan Reward dan Punishment dapat meningkat disiplin guru hadir didalam kelas pada
kegiatan belajar mengajar di SMK Negeri 1 Cipongkor Kab. Bandung Barat.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad
Sudrajat, (2010) Manfaat Prinsip dan Asas Pengembangan Budaya Sekolah. [On
Line]. Tersedia :
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/03/04/manfaat- prinsip-dan-asas-pengembangan-budaya-sekolah/
[06 Oktober 2010]
Amstrong.
Michael, (1991). Manajemen Sumber Daya
Manusia. Jakrta:Ghalia Indonesia Anwar Prabu Mangkunegara. (1994). Psikologi Perusahaan. Bandung:PT.
TrigendaKarya ����� �(2000). Manajemen
Sumber Daya Manusia Perusahaan.Bandung : Penerbit Remaja Rosdakarya.
Arikunto,
S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta
Aunurrahman.
(2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung:Alfabeta
Bambang
Nugroho. (2006). Reward dan Punishment. Bulletin CiptaKarya
Departemen Pekerjaan Umum Edisi No. 6/IV/Juni 2006
Departemen
Pendidikan Nasional. (2003). Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta:Depdiknas
Hidayat,
Sucherli. (1986). Peningkatan Produktivitas
Organisasi dan Pegawai Negeri Sipil: Kasus Indonesia, Jakarta:Prisma
Megawangi,
Ratna. (2007). Membangun SDM Indonesia
Melalui Pendidikan Holistik Berbasis Karakter. Jakarta:Indonesian Heritage
Foundation
Sanjaya,
W. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran.
Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Kencana
Prenada Media Group
Subagio.
(2010) Kompetensi Guru dalam Meningkatkan
Mutu Pembelajaran [On Line]. Tersedia : http://subagio-subagio.blogspot.com/2010/03/kompetensi-guru-dalam- meningkatkan-mutu.html
Syamsul
Hadi, (2009). Kepemimpinan Pembelajaran,
Makalah Disampaikan pada Sosialisasi Akuntabilitas Kinerja Kepala Sekolah Dalam
Inovasi Pembelajaran. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal
Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Tenaga
Kependidikan