PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) UNTUK MENINGKATKAN
KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN TIK MATERI DESAIN GRAFIS DI
KELAS XI IPS 2 / SMTR 1 DI SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2021 / 2022
Firmansyah
SMA Negeri 4 Bandung
|
Riwayat
Artikel: Received: 15-10-2022 Revised: 23-10-2022 Accepted: 29-10-2022 Keywords:
Application of Problem Based
Instruction (PBI) Learning Model, Information and Communication Technology
(ICT) Kata Kunci: Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI), Teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) |
|
Abstract The problem in this study is the limited media,
passive and few students are active, students get bored easily, teachers use conventional
methods a lot. The purpose of this study was to determine whether there was
an effect on the application of the PBI Learning Model, considering that
learning is a process for students in building their own understanding or
ideas, learning activities should provide opportunities for students to do it
smoothly and motivated. The application of the Problem Based Instruction
(PBI) learning model is a learning activity that involves maximally all
students' abilities to search for and investigate something systematically,
critically, logically, analytically so that they can formulate their own
findings with confidence. In this study, the researcher tried to apply the
Problem Based Instruction (PBI) learning model to improve students'
understanding in learning. The strategy in this classroom action research is
carried out through 2 cycles and in each cycle includes planning,
implementation, observation and reflection activities. From the test results
showed an increase in learning outcomes. in the first cycle with the number
of students who finished learning as many as 11 people or 28.94% this means
that it still needs to be improved so that the achievement of student
learning mastery can reach more or above 85%, the expected success indicator
is 75 of the KKM or a value above 75% . From 38 students, there are 13
students who fall into the very good category or 34.21%, and students who
score in the good category are 17 students or 44.73% while students who fall
into the fairly good category are only 8 students or 21.05%, and students
which in the poor category no longer exists as in cycle I. The implementation
of the Problem Based Instruction (PBI) learning model was declared successful
and acceptable, as evidenced by using the Problem Based Instruction (PBI)
learning model to improve learning outcomes in class XI IPS 2 students at SMA
Negeri 4 Bandung in the 2021/2022 academic year. |
|
|
Abstrak
Masalah dalam penelitian ini
adalah terbatasnya media, siswa pasif dan sedikit yang aktif, siswa mudah bosan,
guru-guru banyak menggunakan metode Konvensional. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh Penerapan Model Pembelajaran
PBI, mengingat belajar merupakan proses bagi siswa dalam membangun
pemahaman atau gagasan sendiri, maka kegiatan pembelajaran hendaknya
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal itu secara lancar dan
termotivasi. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based
Instruction (PBI) merupakan
kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa
untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis, kritis, logis,
analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh
percaya diri. Dalam Penelitian ini Peneliti Mencoba menerapkan Model Pembelajaran
Problem Based Instruction (PBI) untuk
meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran. Strategi dalam penelitian
tindakan kelas ini dilakukan melalui 2 siklus dan pada setiap siklus meliputi
kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dari
hasil test menunjukan adanya peningkatan hasil belajar. pada siklus I dengan
jumlah siswa tuntas belajar sebanyak 11 orang atau sebesar 28.94%
ini berarti masih perlu ditingkatkan lagi agar pencapaian ketuntasan belajar
siswa bisa mencapai lebih atau di atas 85%, indikator keberhasilan
yang diharapkan yaitu ≥ 75 dari KKM atau nilai di atas 75%. Dari 38
siswa, terdapat 13 siswa yang masuk pada kategori baik sekali atau sebesar 34.21%
, dan siswa yang mendapat nilai kategori baik terdapat 17
siswa atau sebesar 44.73% sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik tinggal 8
siswa atau sebesar 21.05%, dan siswa yang pada kategori kurang baik sudah tidak ada lagi
sebagaimana pada siklus I. Penerapan
Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dinyatakan berhasil dan dapat diterima , Terbukti
dengan menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)
�dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa
kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 4 Bandung
Tahun Ajaran 2021 / 2022. |
Corresponding Author:
Firmansyah�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sarana untuk
meningkatkan dan mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu
upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan cara memperbaiki proses
belajar mengajar. Belajar mengajar pada dasarnya adalah hubungan timbal balik
antara guru dan siswa. Guru dituntut untuk bisa sabar dan mempunyai sikap
terbuka disamping kemampuan dalam situasi belajar mengajar yang lebih aktif.
Tugas seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa tidaklah
mudah. Guru harus memiliki berbagai kemampuan yang dapat menunjang tugasnya
agar tujuan pendidikan dapat dicapai. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki
oleh seorang guru dalam meningkatkan kompetensi profesinya ialah kemampuan
mengembangkan model pembelajaran. Dalam mengembangkan model pembelajaran
seorang guru harus dapat menyesuaikan antara model yang dipilihnya dengan
kondisi siswa, materi pelajaran, dan sarana yang ada. Oleh karena itu, guru
harus menguasai beberapa jenis model pembelajaran agar proses belajar mengajar
berjalan lancar dan tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.
Sampai sekarang pendidikan kita masih
didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang
harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan,
kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan
sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi
belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah
strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan di benak mereka sendiri. Dalam
proses belajar, anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi
pengetahuan kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Melalui proses
belajar yang mengalami sendiri, menemukan sendiri, secara berkelompok seperti
bermain, maka anak menjadi senang, sehingga tumbuhlah minat untuk belajar,
khususnya belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Mata Pelajaran TIK sekarang ini sudah
masuk kurikulum resmi dari Depdiknas.
Mata pelajaran ini mempunyai dua aspek
sasaran yang ingin dicapai yaitu pengetahuan
tentang kognitip dan psikomorik.
Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK) menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Beberapa aspek kehidupan mulai dijamah oleh teknologi. Teknologi informasi dan
komunikasi telah masuk ke segala bidang dan ke berbagai lapisan masyarakat
contohnya dengan adanya handphone yang
biasa dipakai setiap orang dalam berkomunikasi mampu menjadikan jarak seperti
tak terasa, mulai terbiasanya masyarakat dengan surat elektronik (e- mail) dan mulai menjauhi penggunaan
surat konvensional yang menggunakan kertas dan orang lebih suka menggunakan
program-program pengolah kata yang terdapat di komputer untuk membuat dokumen
daripada mesin ketik biasa. Perkembangan teknologi di dalam dunia pendidikan
pun semakin pesat, salah satunya terlihat dari munculnya e-Learning yaitu pembelajaran online
dan penggunaan komputer sebagai media perantara di kelas.
Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi telah mendorong terjadinya banyak perubahan, hal tersebut banyak
menuntut kesiapan sumberdaya manusia yang kompetitif dan berkualitas. Hal tersebut tentu memberikan persepsi perlunya kemajuan dan pengembangan disegala bidang termasuk dalam bidang pendidikan.
Dunia pendidikan sangat penting
dan tidak dapat terlepas dari kebutuhan
manusia itu sendiri.
Pada penelitian tindakan kelas ini
dipilih Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Instruction Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran TIK materi Design Grafis. Pengertian Desain Grafis adalah aktivitas
perancangan ide dan pembuatan
informasi melalui sebuah media dengan menggunakan elemen-elemen visual,
seperti titik, garis, huruf, bidang, tekstur, ruang, dan warna. Melaksanakan proses belajar mengajar
diperlukan langkah-langkah sistematis untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan.hal yang harus dilakukan dengan menggunakan model yang cocok dengan
kondisi peserta didik agar peserta didik dapat berpikir kritis, logis, dan
dapat memecahkan masalah dengan sikap terbuka, kreatif, dan inovatif
Desain grafis
adalah bagian dari ilmu seni
visual. Secara bahasa desain grafis terdiri
dari dua kata. Yaitu desain yang berarti kerangka bentuk atau rancangan.
Dan grafis yang merupakan paduan titik, garis, bidang, atau huruf
visual untuk mengomunikasikan
pesan tertentu.
Berdasarkan hasil pra penelitian yang
dilakukan peneliti di SMA Negeri 4 Bandung, dalam proses
belajar masih menggunakan metode pembelajaran konvensional, dimana pendidik
lebih suka menerangkan dengan metode ceramah murni. Hal ini
mengakibatkan kegiatan belajar mengajar masih terfokus pada pendidik dan kurang
melibatkan peran serta peserta didik, disamping itu terdapat beberapa
kelemahan-kelemahan yaitu: (1) peserta didik ramai pada saat pembelajaran
sedang berlangsung (membicarakan masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan
pembelajaran yang dibahas) sehingga konsentrasi peserta didik tidak terfokus
bahkan cenderung jenuh. (2) peserta didik kurang tertarik dengan cara pendidik
menyampaikan materi metode ceramah (pendidik lebih banyak membahas masalah
pribadi) , (3) rasa percaya diri peserta didik dalam menjawab pertanyaan pertanyaan
yang diajukan pendidik masih kurang (dimana peserta didik tertentu saja yang
aktif dan akhirrnya mampu mencapai kompetensi tinggi) , sedangkan sebagian yang
lain cenderung pasif, hanya menerima pengetahuan yang datang padanya sehingga
memiliki pencapaian kompetensi yang rendah.
����������� Mata
pelajaran ini merupakan pelajaran yang materinya dikerjakan secara berdiskusi
dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran Problem Based Instruction ini
merupakan inovasi dalam pembelajaran, hal ini karena dalam penerapannya
kemampuan berpikir siswa dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau tim
yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan
mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Namun, data di
lapangan menunjukkan hasil yang berbeda. Nilai siswa dalam mata pelajaran TIK ini kurang memuaskan. Hal ini dikarenakan kurangnya
kemampuan siswa dalam berkreasi.
Dengan pertimbangan
di atas, maka kondisi yang dapat disimpulkan untuk saat ini adalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut
di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: �apakah
Pembelajaran Problem Based Instruction
(PBI) dapat Meningkatkan Keaktifan dan hasil belajar siswa Pada Pelajaran TIK Materi Desain Grafis Di Kelas XI / Smtr 1 Di SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2021 / 2022.
METODA PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas (classroom action research) �yang bertujuan untuk meningkatkan situasi
pembelajaran menjadi lebih baik dengan menggunakan tindakan�tindakan sebagai
usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mempelajari materi
pembelajaran dan untuk mengujicobakan hal�hal baru dalam pembelajaran dan memperbaiki proses pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dalam
memecahkan masalah dengan menggunakan model pembelajaran
Penelitian tindakan kelas
bercirikan perbaikan secara terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi
tolak ukur berhasilnya siklus�siklus tersebut dalam proses penelitian ini.
Setelah dilakukan refleksi biasanya muncul permasalahan yang perlu diperhatikan
sehingga perlu merumuskan kembali rencana berdasarkan informasi yang lebih
lengkap dan kritis.
Prosedur� penelitian yang digunakan berbentuk� siklus yang mengacu pada model penelitian
dari sistem spiral refleksi model Kemmis dan Mc Taggart dikutip Sukidin dkk (
2002 ). Siklus Penelitian ini berlangsung dalam beberapa kali sampai tujuan
yang diinginkan tercapai yaitu pengembangan model pembelajaran dengan
mengerjakan Lembar Kerja Siswa atau LKS pada kegiatan pembelajaran. Secara
garis besar, prosedur tindakan dilakukan melalui kegiatan perencanaan (plan),
tindakan ( act), observasi (observe), dan refleksi (reflec).
Prosedur Penelitian Tiap
Siklus
Sebelum mengadakan tindakan pada penelitian ini ,maka peneliti mengadakan
observasi cara mengajar guru dalam kelas serta mencari data kemampuan awal
penguasaan materi pelajaran dari siswa.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwasannya pada penelitian tindakan
kelas ini dilakukan dalam 2 siklus namun bila dari dari dua siklus yang
direncanakan masih terdapat masalah yang harus dipecahkan maka dapat
dilanjutkan dengan siklus berikutnya.
Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan
mengambil lokasi di Kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung Tahun Pelajaran
2021 - 2022
Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan bulan Agustus
sampai dengan bulan Oktober tahun 2021.
Subyek Penelitian
Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2021 / 2022 dengan� jumlah siswa�� sebanyak 36 orang siswa yang terdiri dari 21 orang siswa laki � laki dan 16 orang siswa perempuan. Pengambilan subyek
penelitian ini didasarkan pada kondisi kelas yang mampu mewakili siswa kelas XI
secara keseluruhan, peneliti ingin mencari suatu strategi pembelajaran yang
efektif untuk meningkatkan penguasaan materi pembelajaran bagi para siswa yang
dalam belajarnya menggunakan program percepatan.
Teknik dan alat pengumpul� Data
Dalam penelitian tindakan kelas ini dalam pengumpulan
data digunakan berbagai tehnik antara lain :
1. Tes Tertulis
Tes tertulis disini digunakan untuk mengumpulkan data siswa berkenaan hasil
pengusaan materi yang dikuasai siswa , setelah siswa mengikuti suatu proses
perlakuan� yang dilakukan oleh peneliti,
sehingga didapatkan hasil yang akurat dan dapat menggambarkan secara jelas
kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut.
1. Alat Pengumpul Data.
Untuk mengetahui kemampuan yang dikuasai siswa dalam penguasaan materi yang
dijadikan obejek penelitian ini,�
peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang telah dirancang
oleh peneliti sesuai dengan tujuan yang telah tertuang didalam kisi � kisi soal
.
2. Deskripsi perilaku
ekologis
Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan
perilaku� siswa dengan lengkap meliputi :
a. suasana kelas
b. perilaku masing � masing
siswa saat mengikuti pembelajaran di dalam kelas, pada penggunaan metode ini
peneliti hanya untuk mengumpulkan data dan bukan untuk menafsirkan data.
Validasi Data
Penelitian ini dipergunakan untuk mencari suatu strategi pembelajaran yang
tepat untuk meningkatkan penguasaan materi pembelajaran secara efektif dan
efisien, sehingga arah penelitian ini yaitu mengaktifkan dan memberi kefahaman
pada siswa dalam penguasaan materi dengan efektif, dan untuk pengukuran masalah
tersebut peneliti menggunakan alat pengumpul data yang berupa tes tertulis yang
berupa soal dan dilengkapi dengan kisi � kisi soal secara lengkap.
Pada penelitian tindakan kelas ini proses validasi data dilakukan dengan
meminta penilaian terhadap para ahli dan praktisi berkenaan dengan isi dan kisi
� kisi dari tes tertulis yang digunakan sebagai alat pengumpul data, sehingga
alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam penelitian ini
kevalidannya benar-benar dapat dipertanggung jawabkan.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian
hasil belajar.
2. Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.
Masing-masing RPP berisi standar
kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, dan kegiatan belajar mengajar. RPP yang direncanakan sebagaimana dalam lampiran proposal ini.
3. Lembar Kegiatan
Siswa
Lembar
kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.
4. Lembar Observasi
Kegiatan Belajar Mengajar
a)
Lembar observasi penerapan
metode pembelajaran, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
b)
Lembar observasi aktivitas
siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Pedoman Observasi keaktivan siswa, digunakan untuk membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa
5. Tes formatif
Tes ini disusun
berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep. Tes formatif
ini diberikan setiap akhir putaran.
Bentuk soal yang diberikan adalah uraian.
6. Format keaktivan
siswa
7. Angket respon
digunakan untuk mengukur respon dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti.
Indikator Keberhasilan
Hasil penelitian tindakan kelas ini tercapai sesuai dengan harapan bila
dalam penelitian ini :
1.
Penguasaan materi pembelajaran di kelas pada akhir
penelitian ini meningkat hingga mencapai 85 % siswa telah mencapai nilai diatas batas ketuntasan
minimal.
2.
Penggunaan strategi pembelajaran ini merupakan strategi
yang� efektif untuk mengajarkan materi pelajaran,
dalam hal ini ditandai dengan peningkatan hasil nilai yang didapatkan masing �
masing siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi
Kondisi Awal
Dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini mengingat kondisi
peserta didik pada mata pelajaran Teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
prestasinya masih jauh dari yang diharapkan. Siswa pada umumnya sering mengalami kesulitan dalam melaksanakan latihan-latihan
secara teori ataupun praktek. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya kesalahan yang dibuat siswa pada saat mengerjakan ulangan harian. Hal tersebut mengakibatkan prestasi belajar siswa di sekolah masih rendah.
Berdasarkan hasil tes
awal didapat bahwa rata-rata hasil belajar siswa masih
di bawah kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Faktor dari guru berupa terlalu monotonnya pemakaian metode ceramah sehingga siswa merasa bosan
dan tidak aktif dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajarnya masih kurang memuaskan.
Pada
pelaksanaan prasiklus hasil evaluasi menunjukkan bahwa masih banyak siswa
yang belum tuntas belajarnya, hal tersebut dikarenakan oleh:
a.
Metode yang monoton sehingga
banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru.
b.
Siswa kurang aktif, karena siswa hanya
mendengarkan penjelasan dari guru, karena guru pada pra siklus ini
menggunakan metode ceramah sehingga siswa banyak yang bosan.
c.
Siswa tidak percaya diri untuk mengungkapkan
pendapat mereka tentang pengetahuan yang mereka dapatkan selama proses pembelajaran.
d.
Tidak muncul antusias siswa terhadap
pembelajaran
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut maka peneliti perlu
melakukan kegiatan
pembelajaran pada siklus I. Bentuk perbaikan pembelajaran pada siklus I akan dilaksanakan
dengan menggunakan Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Instruction (PBI) dengan penjelasan yang lebih
diperjelas agar siswa dapat memahami inti dari kegiatan pembelajaran
dan dapat mencapai tujuan dari pembelajaran.
Alokasi waktu dan proses
pengamatan pada penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai
berikut:
1.
Pengamatan langsung yang dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran dengan Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI).
2.
Pengamatan partisipatif yang dilakukan oleh guru sejawat untuk mengamati kegiatan pembelajaran sesuai dengan sistematika
dan tahap-tahap pembelajaran
di kelas.
Tindakan Pra
Siklus
����������� Dari
hasil wawancara peneliti mendapat informasi bahwa pembelajaran sebelumnya dilaksanakan dengan konvensional. Peserta didik tidak berperan
aktif dalam pembelajaran. Selain itu dari dokumentasi
dapat dilihat hasil belajar peserta
didik yang pelaksanaannya belum menggunakan model pembelajaran masih dibawah KKM 70.
Siklus I
Untuk pelaksanaan siklus 1 Langkah-langkah ini dimulai dari
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi yang akan dijelaskan sebagai berikut:
a. �������� Tahap Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana
pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Berdasarkan pengamatan aktivitas dan hasil belajar yang diperoleh peserta didik, peneliti bersama guru / rekan sejawat yang bertindak sebagai observer merencanakan pembelajaran dengan menerapkan Model
Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) menggunakan LKS pada siklus
1, dengan tujuan hasil belajar peserta
didik menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Adapun perencanaan
secara rinci adalah sebagai berikut:
�
Meninjau kembali rancangan
pembelajaran yang disesuaikan
dengan tindak lanjut dari pra
siklus dan menyiapkan peserta didik benar-benar
pada suasana penyadaran diri untuk melakukan
pembelajaran menggunakan
LKS.
�
Pada siklus 1 ini membahas materi pelajaran yang sudah disesuaikan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
�
�Menyusun skenario
pembelajaran menggunakan
LKS, menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), LKS (Lembar Kerja Siswa) serta latihan
soal dan pengembangan. RPP,
LKS, dan soal latihan bisa dilihat pada lampiran.
�
Menyiapkan alat evaluasi
berupa tes tertulis berbentuk pilihan ganda dan uraian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta
didik. Soal tes siklus 1 bisa
dilihat pada lampiran.
b. ������� Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar untuk siklus I dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar
mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar.
Pembelajaran dimulai
dari mengajak peserta didik untuk
membuka dan mengingat kembali materi yang telah disampaikan pada kegiatan pembelajaran sebelumnya. Untuk membuat pembelajaran lebih efektif, guru memberikan sebuah ringkasan materi yang dibuat oleh peneliti. siswa diberi waktu
untuk membaca materi tersebut dan menanyakan pada guru tentang materi yang telah dibaca kepada guru, disini Guru sebagai fasilitator menjelaskan masalah yang belum difahami siswa secara individu maupun klasikal. Setelah dirasa penyampaian materi cukup, Guru membagikan LKS yang berisi langkah-langkah penyelesaian soal dan penemuan konsep.
Kemudian masing-masing peserta didik melengkapi
LKS dengan teman sebangkunya. Peserta didik terlihat antusias ketika mendiskusikan jawaban apa yang harus ditulis guna melengkapi
LKS yang telah dibagikan tersebut. Dengan sabar guru keliling kelas untuk membantu
peserta didik yang merasa kesulitan. Peserta didikpun masih merasa malu
jika disuruh angkat tangan dan bertanya ketika tidak bisa. Ada sekitar beberapa anak yang mau mengangkat
tangannya untuk bertanya dan menanggapi. Setelah semua peserta
selesai melengkapi LKS, pembelajaran dilanjutkan dengan penyajian materi, yaitu dengan
cara latihan soal-soal yang sudah ada di ringkasan materi. Disini penyajian materi dilakukan siswa dengan teman sebangku.Guru dan peneliti tetap selalu mengamati
aktivitas peserta didik. Setelah 10 menit, guru meminta peserta didik untuk
menulis jawaban hasil pekerjaannya di depan kelas kemudian
mempresentasikan hasil kerjaannya. Dalam kegiatan ini siswa
dengan malu-malu maju ke depan
kelas untuk menuliskan hasil pekerjaannya dan menjelaskan kepada peserta didik yang lain. Sedangkan yang
lain ada juga yang menertawakan
ketika penjelasannya kurang tepat. Sedangkan
peserta didik lainnya, menanggapi hasil temannya itu. Ada yang setuju, ada yang mempunyai jawaban lain, dan ada pula yang tidak paham sama sekali
maksud soalnya. Walaupun tidak semua mau berpartisipasi,
setidaknya mereka sudah ada yang berani mengungkapkan pendapat, tidak seperti pada pra siklus yang hanya duduk diam di tempat. Selanjutnya guru mengklarifikasi hasil diskusi tersebut. Pertemuan kedua adalah evaluasi siklus 1, evaluasi dilaksanakan secara individu dengan hati-hati peserta didik mengerjakan soal yang diberikan.
c. Observasi
Observasi atau pengamatan
ditunjukan pada subyek penelitian yaitu siswa sebagai responden.
Adapun aspek yang diamati adalah keaktifan siswa, perhatian siswa, kedisiplinan dan penugasan. Kegiatan pengamatan ini dilaksanakan selama kegiatan perbaikan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.
Tabel 1
DAFTAR
NILAI SISWA SIKLUS I
|
NO |
NAMA SISWA |
NILAI |
T / TT |
|
1 |
Ahmad Jiki Agisdi |
60 |
|
|
2 |
Alexsandro Fredynan |
65 |
|
|
3 |
Alika Adelia |
50 |
|
|
4 |
Ardhi Nugraha |
60 |
|
|
5 |
Arlen Elena |
70 |
T |
|
6 |
Bagas Ardiansyah |
75 |
T |
|
7 |
Chika Aulya Noviandari |
70 |
T |
|
8 |
Deris Muhamad Ramdan |
65 |
|
|
9 |
Dhava Aldilla
Chaerunissa |
60 |
|
|
10 |
Doni Najmi
Putra Santoso |
65 |
|
|
11 |
Fadhil Rabbani Sheva Kustiawan |
75 |
T |
|
12 |
Farrel Ayala Albansyah |
60 |
|
|
13 |
Febby Nur Anjani |
60 |
|
|
14 |
Ferdy Nazril
Febrilian |
65 |
|
|
15 |
Haikal Azka Pradana |
70 |
T |
|
16 |
Intan Budiman |
65 |
|
|
17 |
Kalisha Sahda Amanta |
60 |
|
|
18 |
Keysha Naysilla
Destria |
70 |
T |
|
19 |
Maydie Argya
Javier G |
65 |
|
|
20 |
Mesya Maulia
Sari |
50 |
|
|
21 |
Mochamad Rifki
Firmansyah |
60 |
|
|
22 |
Muhammad Askha Alghifary
Gunawan |
75 |
T |
|
23 |
Muhammad Irham Fadhlan |
55 |
|
|
24 |
Muhammad Rizki Akbar Hidayat |
65 |
|
|
25 |
Nabil Maulana |
55 |
|
|
26 |
Naysila Ramadani |
65 |
|
|
27 |
Pira Widiawati |
65 |
|
|
28 |
Rafly Zacky
Hidayah |
60 |
|
|
29 |
Ragil Gustyana
Putra |
65 |
|
|
30 |
Rangga Pratama
Akbari |
65 |
|
|
31 |
Reva Adelia Zahra |
75 |
T |
|
32 |
Rido Fadilah |
50 |
|
|
33 |
Sakila Rahmawani |
60 |
|
|
34 |
Sridwi Maldina
Subekti |
70 |
T |
|
35 |
Tasya Nabila |
75 |
T |
|
36 |
Valerie Geraldine Gunawan |
70 |
T |
|
37 |
Zacky Hauzan |
65 |
|
|
38 |
Zalfa Alya
Putri Wiguna |
60 |
|
|
NILAI RATA - RATA |
64,07 |
|
|
TT=Tidak
Tuntas
Tabel 2 Klasifikasi
Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I
|
No |
Skor |
Kriteria |
Jumlah siswa |
Presentasi (%) |
|
1 |
80-100 |
Baik Sekali |
11 |
28,94% |
|
2 |
70-79 |
Baik |
22 |
57,89% |
|
3 |
60-69 |
Cukup Baik |
||
|
4 |
≤ 50-59 |
Kurang Baik |
5 |
13,15% |
|
Jumlah |
38 |
|
||
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat diketahui
bahwa persentase siswa mencapai nilai sesuai dengan
indikator keberhasilan yang
diharapkan yaitu ≥ 75
dari kriteria ketuntasan minimal atau nilai di atas 75. Dari 38 siswa, baru
ada 11 siswa
yang masuk pada kategori baik sekali atau
sebesar 28.94% , dan sudah terdapat
22 siswa masuk pada kategori baik atau sebesar
57.89% , sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik tidak ada dan hanya tertinggal
5 siswa yang masih berada pada kategori kurang baik atau sebesar
13.15% dari berbagai siklus belum dinyatakan berhasil apabila belum mencapai ketuntasan minimal 85% dan siklus
harus dilanjutkan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil perbaikan
pembelajaran TIK menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) bagi siswa kelas
XI IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa meskipun
belum sempurna. Hasil yang diperoleh pada siklus I belum mencapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan, maka masih perlu
dilaksanakan siklus selanjutnya yaitu siklus II.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan
dan hasil tes selama berlangsung pembelajaran terhadap situasi kelas dan prestasi siswa pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus I ini masih terdapat
kekurangan, peneliti dapat menemukan kelemahan pembelajaran sebagai berikut :
� Siswa yang berkemampuan
rendah masih kurang aktif dalam
memahami materi pelajaran dan dalam kelompok terlihat banyak diam selama
kegiatan berlangsung.
� Siswa yang aktif mencatat dan memahami pembelajaran pun belum maksimal dan masih banyak yang belum bisa terfokus pada materi pembelajaran.
� Siswa belum sepenuhnya antusias dalam mengikuti pembelajaran dan masih banyak yang ribut sendiri sehingga materi yang dia dapatkan tidak sepenuhnya dapat dipahami.
� Siswa masih belum bisa mengerjakan
tugas sesuai dengan perintah yang disampaikan, karena kurang memperhatikan.
Refleksi terhadap hasil belajar siswa
dilihat dari hasil test menunjukan adanya peningkatan hasil belajar. pada siklus I dengan jumlah siswa tuntas
belajar sebanyak 11 orang atau sebesar 28.94% ini berarti masih
perlu ditingkatkan lagi agar pencapaian ketuntasan belajar siswa bisa mencapai
lebih atau di atas 85%. Hasil yang diperoleh
pada siklus I ini belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang diharapkan sebesar 85% siswa tuntas belajar,
untuk itu masih perlu diadakan
perbaikan terhadap pembelajaran yang dilaksanakan
pada tahap berikutnya yaitu siklus yang kedua.
Siklus II
Berdasarkan refleksi pada siklus 1, penerapan model pembelajaran Metode Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) menggunakan LKS perlu
adanya perbaikan tindakan
a. �������� Tahap perencanaan
Peneliti bersama guru / rekan sejawat berdiskusi
mengenai perbaikan pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran menggunakan LKS. Hal
ini bertujuan agar peserta didik lebih
aktif mengikuti proses pembelajaran, sehingga memperoleh hasil belajar lebih aktif
pula. Adapun perencanaan secara
rinci adalah sebagai berikut:
�
Meninjau kembali rancangan
pembelajaran yang disesuaikan
dengan tindak lanjut dari siklus
1 dan menyiapkan peserta didik benar-benar pada suasana penyadaran diri untuk melakukan
pembelajaran menggunakan
LKS. Pada siklus 2 ini peserta didik dituntut
lebih aktif tidak menggantungkan diri pada teman.
�
Menyusun skenario pembelajaran
menggunakan LKS, menyusun perangkat pembelajaran seperti RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), LKS
(Lembar Kerja Siswa).
�
Menyiapkan alat evaluasi
berupa tes tertulis berbentuk pilihan ganda dan uraian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta
didik.
b. ������� Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II, dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau
kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif
II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II.
c. Observasi
Sesuai dengan tujuan dari penelitian
ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar TIK , maka penelitian
difokuskan pada upaya peningkatan hasil belajar. Seperti pada siklus sebelumnya untuk melakukan pengamatan terhadap situasi kelas pada saat pembelajaran, peneliti mengamati selama pembelajaran berlangsung. Proses berjalannya pembelajaran pada siklus yang ke II ini siswa
merasa sangat senang dengan menggunakan Metode Pembelajaran Problem Based
Instruction (PBI) �karena mereka terlihat menikmati pembelajaran tersebut dengan aktif dalam
pembelajaran dan mereka
juga memperoleh nilai yang maksimal. Hasil nilai dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 3
DAFTAR
NILAI SISWA SIKLUS II
|
NO |
NAMA SISWA |
NILAI |
T / TT |
|
1 |
Ahmad Jiki Agisdi |
95 |
|
|
2 |
Alexsandro Fredynan |
80 |
|
|
3 |
Alika Adelia |
90 |
|
|
4 |
Ardhi Nugraha |
75 |
|
|
5 |
Arlen Elena |
80 |
|
|
6 |
Bagas Ardiansyah |
85 |
|
|
7 |
Chika Aulya Noviandari |
85 |
|
|
8 |
Deris Muhamad Ramdan |
80 |
|
|
9 |
Dhava Aldilla
Chaerunissa |
75 |
|
|
10 |
Doni Najmi
Putra Santoso |
80 |
|
|
11 |
Fadhil Rabbani Sheva Kustiawan |
95 |
|
|
12 |
Farrel Ayala Albansyah |
75 |
|
|
13 |
Febby Nur Anjani |
75 |
|
|
14 |
Ferdy Nazril
Febrilian |
90 |
|
|
15 |
Haikal Azka Pradana |
85 |
|
|
16 |
Intan Budiman |
80 |
|
|
17 |
Kalisha Sahda Amanta |
75 |
|
|
18 |
Keysha Naysilla
Destria |
90 |
|
|
19 |
Maydie Argya
Javier G |
85 |
|
|
20 |
Mesya Maulia
Sari |
80 |
|
|
21 |
Mochamad Rifki
Firmansyah |
75 |
|
|
22 |
Muhammad Askha Alghifary
Gunawan |
90 |
|
|
23 |
Muhammad Irham Fadhlan |
95 |
|
|
24 |
Muhammad Rizki Akbar Hidayat |
85 |
|
|
25 |
Nabil Maulana |
95 |
|
|
26 |
Naysila Ramadani |
80 |
|
|
27 |
Pira Widiawati |
90 |
|
|
28 |
Rafly Zacky
Hidayah |
85 |
|
|
29 |
Ragil Gustyana
Putra |
80 |
|
|
30 |
Rangga Pratama
Akbari |
75 |
|
|
31 |
Reva Adelia Zahra |
85 |
|
|
32 |
Rido Fadilah |
90 |
|
|
33 |
Sakila Rahmawani |
85 |
|
|
34 |
Sridwi Maldina
Subekti |
90 |
|
|
35 |
Tasya Nabila |
85 |
|
|
36 |
Valerie Geraldine Gunawan |
75 |
|
|
37 |
Zacky Hauzan |
90 |
|
|
38 |
Zalfa Alya
Putri Wiguna |
90 |
|
|
NILAI RATA - RATA |
84,07 |
|
|
Keterangan: T= Tuntas,
TT=Tidak Tuntas
Tabel 4
Klasifikasi Nilai Hasil Belajar
Siswa Siklus II
|
No |
Skor |
Kriteria |
Jumlah siswa |
Presentasi (%) |
|
|
1 |
90-100 |
Baik Sekali |
13 |
34,21% |
|
|
2 |
80-90 |
Baik |
17 |
44,73% |
|
|
3 |
70-79 |
Cukup Baik |
8 |
21,05% |
|
|
4 |
60-69 |
Kurang Baik |
|||
|
Jumlah |
38 |
|
|||
Berdasarkan tabel� di atas dapat diketahui
bahwa persentasi siswa yang mencapai nilai sesuai dengan
indikator keberhasilan yang
diharapkan yaitu ≥ 75
dari KKM atau nilai di atas 75%. Dari 38 siswa, terdapat
13 siswa yang masuk pada kategori baik sekali atau
sebesar 34.21% , dan siswa yang mendapat
nilai kategori baik terdapat 17 siswa atau
sebesar 44.73%
sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik tinggal
8 siswa atau sebesar 21.05%, dan siswa yang pada kategori kurang baik sudah tidak
ada lagi sebagaimana pada siklus I.
Melihat hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
siswa menunjukkan mencapai hasil rata-rata yang diinginkan dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 84.07% . Hal ini menunjukkan
bahwa hasil belajar tersebut telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal dan ketuntasan 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus II.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan,
selama berlangsung pembelajaran terhadap situasi kelas dan hasil belajar siswa
pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus II, peneliti menemukan perbedaan dari mulai pra siklus
sampai dengan siklus yang ke II ini.
Adapun berbagai keunggulan dengan menggunakan Metode Pembelajaran
Problem Based Instruction (PBI) antara lain:
1.
Membantu dalam menggunakan
ingatan dan transfer pada situasi
proses belajar yang baru.
2.
Mendorong siswa untuk
berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
3.
Mendorong siswa untuk
berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
4.
Dapat mengembangkan bakat
atau kecakapan individu.
5.
Dapat memberikan waktu
pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Hasil
dari pengamatan siklus II dianalisis oleh peneliti untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang juga diambil dari siklus sebelumnya.
Diharapkan refleksi ini membenarkan hipotesis yang peneliti ajukan. Adapun hasil dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus II telah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa
dibandingkan dengan pelaksanaan pada siklus I dan hasil pada siklus II juga telah memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal ataupun indikator keberhasilan yang telah ditentukan.
Pada
siklus II guru telah menggunakan Metode Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) �dengan baik
dilihat dari aktivitas siswa, perhatian serta keaktifan terhadap pembelajaran sudah mengalami peningkatan. Untuk itu penelitian
tindakan dinyatakan berhasil karena siswa yang berjumlah 38 siswa dinyatakan
tuntas belajarnya sebesar 84.07%. dengan nilai rata-rata sebesar 75. Maka tidak perlu dilakukan
revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan
agar pelaksanaan proses pembelajaran
selanjutnya dengan menggunakan Metode Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pembahasan
Setelah dilakukan refleksi dan dianalisis maka peneliti mengadakan
pembahasan antar siklus yang membahas tentang perolehan nilai post test yang diperoleh selama proses pembelajaran. Dilihat dari ketuntasan belajar siswa sebelum
menggunakan Metode Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan masih menggunakan metode ceramah untuk mengawali
penelitian sehingga guru mengetahui hasil belajar siswa. Setelah dilakukan evaluasi pada pra siklus peneliti mencoba menggunakan Metode Pembelajaran
Problem Based Instruction (PBI). Pada siklus I masih banyak siswa
yang bermain sendiri dan masih gaduh ketika
teman-teman yang lain mencoba
untuk menjelaskan materi yang mereka pahami. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus diperbaiki dan dilanjut dengan pembelajaran siklus II. Sedangkan dari hasil evaluasi
perbaikan Siklus II, hasil pembelajaran dan nilai rata-rata siswa menunjukkan adanya peningkatan. Hal tersebut dibuktikan dengan tercapainya hasil ketuntasan belajar siswa secara klasikal
sebesar 84.07%.
Dari proses peningkatan hasil
belajar tersebut tentunya guru harus ekstra keras memunculkan
variasi di dalam proses pembelajaran maupun motivasi untuk siswa agar mereka tidak jenuh dan tidak malas-malasan.
Tercapainya indikator keberhasilan yang telah ditetapkan ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu diperbaikinya
proses belajar mengajar
yang dilaksanakan berdasarkan
hasil refleksi siklus I dan penyempurnaan penggunaan Metode Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Perbaikan dan penyempurnaan siklus II membantu siswa agar lebih aktif siswa
dan lebih mudah dalam mengungkapkan pendapat dalam berlangsungnya proses pembelajaran.
Dengan demikian siklus selanjutnya dapat dihentikan atau tidak perlu dilaksanakan.
Sehingga hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa Penerapan Metode Pembelajaran
Problem Based Instruction (PBI) berhasil dan dapat diterima ,
Terbukti dengan menggunakan Metode Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pada siswa kelas XI� IPS SMA Negeri 4 Bandung
Tahun Ajaran 2021 / 2022.
Analisis Kuantitatif
Berdasarkan data tes
hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II dalam bentuk tes pilihan
ganda dan essay menunjukkan
hasil yang meningkat. Hal ini dapat dilihat
berdasarkan tabel berikut ini.
Tabel 5
Distribusi, Frekuensi dan Persentase Kategori Ketuntasan Belajar
|
Skor |
Kategori |
Siklus I |
Siklus II |
|||
|
Frekuensi |
�(%) |
Frekuensi |
�(%) |
|||
|
0
- 75 |
Tidak tuntas |
5 |
13,15 |
|
|
|
|
76
- 100 |
Tuntas |
33 |
86,84 |
38 |
100 |
|
|
Jumlah |
38 |
|
38 |
|
||
Analisis kualitatif
Data hasil observasi aktivitas siswa kelas XI� IPS
SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2021 / 2022 selama proses
pembelajaran melalui penerapan metode pembelajaran pada siklus I dan siklus
II yang diperoleh melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6
Distribusi, Frekuensi dan Persentase Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran
|
No |
Aktivitas Siswa Yang Diamati |
Siklus |
Siklus |
|||
|
I |
II |
|||||
|
F |
% |
F |
% |
|||
|
1 |
Mendengarkan penjelasan
peneliti |
15 |
39,47 |
32 |
84,21 |
|
|
2 |
Mencatat/menyalin
pelajaran |
20 |
52,63 |
35 |
92,1 |
|
|
3 |
Bertanya |
8 |
21,05 |
22 |
57,89 |
|
|
4 |
Menjawab/menanggapi
pertanyaan |
10 |
26,31 |
20 |
52,63 |
|
|
5 |
Meminta bimbingan
kepada peneliti |
14 |
36,84 |
24 |
63,15 |
|
|
6 |
Mengumpulkan tugas |
25 |
65,78 |
30 |
79,94 |
|
|
7 |
Mempresentasikan tugas |
17 |
44,73 |
33 |
86,84 |
|
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tetang perbaikan pembelajaran
Teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) dengan Materi Design
Grafis terdiri
dari 2 tindakan serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
Hasil
pembelajaran dan nilai rata-rata siswa menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil belajar tersebut telah memenuhi kriteria ketuntasan
minimal sesuai dengan yang diharapkan, sehingga proses perbaikan pembelajaran
menggunakan Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) �dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus II.
Berdasarkan
Kesimpulan di atas, dalam rangka menentukan�
kualitas� pembelajaran sebaiknya
yang dilakukan oleh guru untuk mencapai�
tujuan mengaktifkan siswa dalam kelas dan� meningkatkan�
daya serap siswa pada� materi
pelajaran, diantaranya adalah:
1)
Memilih
Strategi pembelajaran sesuai topik yang disampaikan.
2)
Mengorganisasikan� siswa dalam pembelajaran.
3)
Mengadakan
latihan � latihan dan pemberian tugas.
Selain� daripada itu, berdasarkan� kesimpulan diatas, seyogyanya para guru
Sekolah memiliki kemampuan dalam�
meningkatkan� kualitas� pembelajaran�
untuk mencapai� keberhasilan yang
optimal.
Kepala Sekolah�
sebagai� pemimpin di Sekolah� juga harus�
mampu menyediakan alat-alat�
peraga dan� media� pembelajaran di sekolahnya sebagai� pendukung proses peningkatan prestasi belajar
siswa dan penunjang Guru dalam proses pembelajaran di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
B.
Suryosubroto. (2002). Proses belajar mengajar di Sekolah. Jakarta:PT Rineka
Cipta
E.
Mulyasa. (2008). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Syafrudin
Nurdin. (2002). Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: PT
Intermasa
Syaiful
bahri Djamarah dan Aswan Zain. (2006). Strategi belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta
W. Gulo.
(2004). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Grasindo
Muhibbin
Syah. (1997). Psikologi Pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT Remaja
Rosda Karya
J.
Drost. (1999). Proses Pembelajaran Sebagai Proses Pendidikan. Jakarta: PT
Gramedia
Sukmadinata,
Syaodih, Nana. 2005. Metode Penelitia., Bandung :
PT Remaja Rosdakarya.
Djamarah,
Bahri, Syaiful. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi
Edukatif. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Permana,
Budi. 2001. Seri Penuntun Praktis Microsoft Exel 2002. Jakarta :
PT Gramedia.Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta
:PT Bumi Aksara.
Sagala,
H.Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung :
CV Alfabeta
Suwanda,
Dodo. 2007. Diktat Belajar Komputer jilid 3 dan 4.
________.
Belajar Penelitian Tindakan. Alamat web :ardhana12.wordpress.com/2008/
01/25/belajar-penelitian-tindakan-kelas-yuuuk/. Diakses pada tanggal 25
Pebruari 2007