PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PAIR CHECK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII PADA MATERI PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL TAHUN PELAJARAN 2017- 2018
SMP Pasundan 1
|
Riwayat Artikel: Received: 01-09-2022 Revised: 07-09-2022 Accepted: 15-09-2022 Keywords: : learning outcomes, cooperative learning model,
pair check type Kata
Kunci: hasil belajar, cooperative
learning model, pair check type |
|
Abstract This study aims to (1) build students' productive
questioning skills in mathematics and (2) develop students' thinking skills
so that they are productively skilled. This research was carried out
according to the classroom action research (CAR) procedures that have been
determined, starting with planning, implementing actions, observing to
reflecting. Data collection techniques used participatory monitoring,
questionnaires, and documentation studies. Data from observations,
interviews, discussions with collaborators and documents were analyzed
descriptively, identification, interpretation, validation and inference. Based
on the data analysis, the implementation of the action in the first cycle
showed that the average value of the class was 60%. and the percentage of
classical completeness is 35%. This result has not reached the classical completeness
of 65% or more. Because the mastery of learning in the first cycle has not
been achieved, then the implementation of the action is continued to the
second cycle by making improvements and perfecting the shortcomings of
cooperative learning in the first cycle. After making improvements in the
learning process, from the results of the analysis in the second cycle, the
average value of the class was 80 and the percentage of classical
completeness was 90%. From the results obtained in the Think Pair Check
learning, it can be seen that this learning can increase students' activities
and learning achievements. Because in cooperative learning students can help
each other understand learning and improve friends' answers and other
activities by achieving learning goals together. Thus, the application of the
Pair Check Type Cooperative Learning Model can improve mathematics learning
achievement in grade VII-A students of SMP Pasundan 1 Bandung in the 2017 �
2018 academic year. |
|
|
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) membangun keterampilan bertanya produktif siswa pada mata pelajaran matematika dan (2) mengembangkan
cara berpikir siswa agar terampil secara produktif. Penelitian
ini dilaksanakan sesuai prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah
ditetapkan dengan diawali pada perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi
sampai refleksi. Teknik pengumpulan
data menggunakan pemantauan
partisipatif, kuisioner,
dan studi dokumentasi.
Data hasil pengamatan, wawancara, diskusi dengan kolaborator dan dokumen dianalisis secara deskriptif, identifikasi, interprestasi, validasi dan inferensi. Berdasarkan analisis data, pelaksanaan tindakan pada siklus I
menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas sebesar 60%. dan persentase ketuntasan klasikal adalah 35%. Hasil ini belum mencapai� ketuntasan klasikal yaitu 65% atau lebih. Karna ketuntasan belajar pada siklus I belum
tercapai, maka pelaksanaan tindakan dilanjutkan ke siklus II dengan melakukan
perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan pembelajaran
kooperatif pada� siklus I. Setelah melakukan perbaikan
dalam proses pembelajaran, dari hasil analisa pada siklus II diperoleh nilai
rata � rata kelas sebesar 80 dan
persentase ketuntasan klasikal
sebesar 90 %. Dari hasil yang diperoleh dalam pembelajaran Pair Check �dapat dilihat bahwa pembelajaran ini dapat
meningkatkan aktifitas serta prestasi belajar siswa. Karena dalam
pembelajaran kooperatif siswa dapat saling membantu memahami pembelajaran dan
memperbaiki jawaban teman serta kegiatan lainnya dengan mencapai tujuan
belajar bersama. Dengan demikian, penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Pair Check dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung Tahun Pelajaran 2017 � 2018. |
Corresponding Author: Dini Fitrohoerani�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu mata
pelajaran yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Pelajaran matematika
cenderung dipandang sebagai mata pelajaran yang kurang diminati atau kalau bisa
dihindari oleh sebagian siswa (Ahmad Rohani, 2004:6).
Matematika sebagai ilmu dasar telah
berkembang cukup pesat baik materi maupun kegunaannya, oleh karena itulah maka
konsep-konsep dasar matematika harus dikuasai siswa sejak dini. Mata pelajaran
matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan
menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat
membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Matematika merupakan ilmu yang sangat
berguna bagi kehidupan sehari-hari manusia, tetapi masih banyak orang yang
belum bisa merasakan manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Adapun salah satu manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari yakni
memberikan pengetahuan dan ketrampilan praktis seperti berhitung dan
statistika.
Sampai sekarang pelajaran matematika di
sekolah masih merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa, terasa
sukar dan tidak menarik sehingga banyak siswa menjadi kurang termotivasi dalam
mempelajari matematika.
Ada beberapa kemungkinan masalah-masalah
yang dihadapi siswa dalam belajar matematika yakni kemungkinan bersumber dari
porsi materi matematikanya yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual
siswa, selain itu kemungkinan juga bersumber dari strategi pembelajaran yang
kurang tepat dan kurang efektif. Namun menurut guru matematika dari
kemungkinan-kemungkinan yang sering terjadi adalah pemilihan strategi
pembelajaran yang kurang tepat. Jika guru tidak tepat dalam memilih strategi
pembelajaran, maka siswa akan kesulitan dalam memahami materi yang telah
diajarkan oleh guru. Jadi sebelum guru melakukan proses pembelajaran, guru
harus pandai memilih dahulu strategi pembelajaran yang tepat dan efektif
terhadap materi yang akan diajarkan.
Hal tersebut juga dialami oleh sebagaian
siswa SMP Pasundan I khususya kelas
VII A yang memandang bahwa pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sulit,
sehingga sedikit siswa yang memiliki ketertarikkan pada mata pelajaran
matematika. Anggapan ini membuat hasil belajar siswa masih rendah pada
pelajaran matematika.
Sebelum peneliti mengadakan penelitian
tindakan kelas, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu di kelas VII
Selama proses pembelajaran siswa kurang aktif, pemahaman konsep oleh siswa
masih rendah. Selain itu keterlibatan siswa selama proses pembelajaran juga
masih kurang. Sehingga nilai ulangan matematika siswa masih banyak yang tidak
memenuhi nilai standar batas tuntas yaitu mencapai 75% siswa yang tidak tuntas
belajar. Bagi siswa yang belum tuntas belajar akan diadakan remidial maksimal
dua kali.
Setelah peneliti melakukkan observasi
pendahuluan ditemukan permasalahan antara lain :
1.
Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran
matematika kurang tampak. Para siswa jarang mengajukkan ide/pertanyaan,
walaupun guru berulang kali meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang
siswa belum paham.
2.
Guru dalam penyampain materi kurang
menarik, sehingga membuat siswa menjadi bosan dengan pembelajaran matematika.
3.
Kurangnya minat siswa dalam menjawab
pertanyaan dari guru maupun mengerjakan soal di depan kelas.
4.
Hasil belajar matematika yang masih
rendah.
5.
Model pembelajaran yang diterapkan oleh
guru kurang bervariasi.
Permasalahan-permasalahan tersebut akan
berpengaruh pada hasil belajar matematika siswa. Dari
hasil perbincangan dengan guru mata pelajaran matematika kelas VII- di SMP Pasundan 1 Bandung, nilai ulangan matematika siswa
memiliki nilai standar batas tuntas 61 artinya siswa dikatakan tuntas belajar
matematika jika nilai ulangan matematika siswa minimal mencapai 61. Selain itu
siswa juga kurang dalam menangkap materi yang diajarkan sehingga banyak siswa
yang tidak bisa dalam mengerjakan soal � soal ulangan matematika.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa,
maka perlu model pembelajaran yang tepat dan variasi belajar yang menarik agar
proses pembelajaran tidak berlangsung monoton dan siswa memperoleh pengalaman
baru. Untuk itu peneliti menerapkan model pembelajaran yang diharapkan mampu
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP PASUNDAN I Bandung.
Metode berbasis pasangan atau dua
partner merupakan startegi mengajar untuk memaksimalkan kemampuan
berkomunikasi, berdialog dan bertukar pendapat secara personal. Siswa yang
pasif, pendiam dan pemalu bisa tergerak untuk mengungkapkan gagasan dan
dikondisikan agar selalu aktif belajar, bekerja dan pada akhirnya terbiasa
untuk proaktif dalam setiap diskusi atau pembelajaran. Keunggulan posisi
berpasangan yaitu semua siswa diupayakan dapat belajar secara tutorial dan
interaktif satu sama lain, karena dalam pasangan mustahil tidak terjadi
interaksi atau komunikasi dua arah yang dibanding dengan kelompok. Berikut ini
metode mengajar yang dapat melatih kemampuan berbicara siswa dan bertindak
dalam melakukan tugas belajar.
Pair Check adalah metode pembelajaran
berkelompok antar dua orang atau berpasangan. Metode pair
check atau cek pasangan merupakan model yang pertama kali dikembangkan oleh
Spencer Kagan pada 1990 untuk melatih setiap pasangan untuk berlomba-lomba
memenangkan tugas atau permainan secara kelompok dan cerdas. Metode ini
menerapkan pembelajaran kooperatif yang menuntut kemandirian dan kemampuan
siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Model pembelajaran siswa
yaitu pair check ini juga melatih tanggung jawab sosial siswa, kerja sama, dan
kemampuan memberi penilaian.
METODA PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk
meningkatkan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dengan menggunakan
tindakan�tindakan sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam
mempelajari Matematika dan untuk mengujicobakan hal�hal baru dalam
pembelajaran.
Penelitian
tindakan kelas bercirikan perbaikan secara terus menerus sehingga kepuasan
peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya siklus�siklus tersebut dalam proses
penelitian ini. Setelah dilakukan refleksi biasanya muncul permasalahan yang
perlu diperhatikan sehingga perlu merumuskan kembali rencana berdasarkan
informasi yang lebih lengkap dan kritis.
Lokasi Penelitian dan Objek Penelitian
Penelitian
tindakan kelas akan dilaksanakan di kelas VII-A SMP Pasundan 1 �Bandung tahun pelajaran 2017 � 2018, yang menjadi Objek penelitian
ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan persamaan linier
satu variabel menggunakan model pembelajaran problem solving di kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung tahun pelajaran 2017 � 2018
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian merupakan hasil yang diperoleh pada
tahap pra siklus, pelaksanaan tindakan siklus pertama, dan pelaksanaan tindakan
siklus ke dua.� Hasil penelitian berupa hasil ulangan harian siswa dan sikap atau perilaku siswa selama diskusi kelompok dan diskusi kelas dan hasil pengamatan dari observer atau rekan sejawat saat
mengamati guru / peneliti
pada saat melaksanakan
proses penelitian.
Hasil Observasi Aktivitas guru dikatakan berhasil jika mencapai skor
36 - 50 dengan kategori baik. Aktivitas siswa dikatakan berhasil jika mencapai
skor 36 - 50 denga kategori
baik. Hasil Belajar belajar dikatakan berhasil jika rata-rata kelas mencapai ≥ 70 Dan ketuntasan belajar siswa mencapai ≥ 85 %.
Analisis data penelitian siklus I
v Data obsevasi aktivitas
guru.
Data observasi guru/ peneliti diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh observer
dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti yang
bertujuan untuk merekam jalannya proses belajar mengajar. Observasi terhadap
aktivitas guru dilakukan dengan mengamati�
prilaku guru pada saat proses belajar mengajar. Semua aktivitas guru
yang tampak diberi tanda dalam lembar observasi yang sesuai dengan item yang
tersedia.
v
Data observasi aktivitas siswa.
Berdasarkan banyaknya siswa dan banyaknya deskriptor pada
setiap indikator maka jumlah skor ideal untuk tiap-tiap indikator adalah 4 sehingga kriteria penggolongan aktivitas belajar
siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel Data� hasil
observasi komponen siswa siklus I
|
Banyak Siswa |
Total Skor |
Kategori |
|
31 |
27 |
Kurang aktif |
Dari� tabel di atas
dapat dilihat bahwa total skor aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 27 yang berarti bahwa
aktivitas belajar siswa berkategori kurang aktif, sehingga pada siklus selanjutnya
perlu ditingkatkan lagi.
v
Data prestasi belajar
Data prestasi belajar siswa siklus I
adalah membahas persamaan linier satu variabel. Data lengkap prestasi belajar
siswa siklus I, kemudian dianalisis sehingga diperoleh data seperti berikut:
Tabel Data hasil evaluasi belajar
siklus I
|
No |
NAMA SISWA |
NILAI |
T |
TT |
KET |
|
||||
|
1 |
Aina Fattihadesiana Purwanjaya |
45 |
√ |
|
||||||
|
2 |
Alfatio
Muhammad Rayyan |
55 |
√ |
|
||||||
|
3 |
Calvin Syahtiaji Sastrawijaya |
45 |
√ |
|
||||||
|
4 |
David Juliansyah Saputra |
45 |
√ |
|
||||||
|
5 |
Della Amelia |
55 |
√ |
|
||||||
|
6 |
Devira Aina Maharani |
50 |
√ |
|
||||||
|
7 |
Dhiya Dhaniar Ramdhani |
65 |
√ |
|
||||||
|
8 |
Diva Nirwana Salshabila |
55 |
√ |
|
||||||
|
9 |
Emiru'din |
50 |
√ |
|
||||||
|
10 |
Fajar
Ramadhan Saputra |
55 |
√ |
|
||||||
|
11 |
Firas Fauzan Al Birran |
60 |
√ |
|
||||||
|
12 |
Kintani Syahla Aprilia |
65 |
√ |
|
||||||
|
13 |
Mochammad
Dimas Reksa B |
60 |
√ |
|
||||||
|
14 |
Muhamad Azis Ramdani |
65 |
√ |
|
||||||
|
15 |
Muhamad Sabil Thoriq Rinaldi |
55 |
√ |
|
||||||
|
16 |
Muhammad Faza Firmansyah |
70 |
√ |
|
||||||
|
17 |
Muhammad Pasya Hermansyah |
60 |
√ |
|
||||||
|
18 |
Muhammad Rhevan Hardiansyah |
60 |
√ |
|
||||||
|
19 |
Nabila Rahmawati |
75 |
√ |
|
||||||
|
20 |
Najmi Fajriatul Rahadiani |
60 |
√ |
|
||||||
|
21 |
Naufal Ruliff Favian Rafif |
55 |
√ |
|
||||||
|
22 |
Nazwa Aurelia
Rafael |
65 |
√ |
|
||||||
|
23 |
Nicky Nalendra Dwi Putra |
70 |
√ |
|
||||||
|
24 |
Nur Aini
Nirmala Fitri |
60 |
√ |
|
||||||
|
25 |
Nur Hafizah |
70 |
√ |
|
||||||
|
26 |
Perlita Vania |
55 |
√ |
|
||||||
|
27 |
Raiza
Fathia Azzahra |
75 |
√ |
|
||||||
|
28 |
Reyssa Septyan Ibrahim |
60 |
√ |
|
||||||
|
29 |
Ridwan Ramadhan |
65 |
√ |
|
||||||
|
30 |
Yusniar Nisa Nurlillah |
60 |
√ |
|
||||||
|
31 |
Yusup Al
Muzammil |
75 |
√ |
|
||||||
|
NILAI RATA - RATA |
60 |
11 |
20 |
|||||||
|
Banyak Siswa |
Total Nilai |
Nilai Rata-Rata |
Banyak Siswa Yang Tidak
Tuntas |
Persentase Ketuntasan |
|
31 |
1860 |
60 |
20 |
35% |
Dari data di atas, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata
siswa adalah 60 Dari 31 siswa yang mengikuti tes evaluasi terdapat 11 siswa yang tuntas belajar, persentase ketuntasan
belajar adalah 35 %. Nilai masih kurang
dari ketuntasan belajar secara klasikal.�
Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa belum mencapai target
dari prestasi belajar yang diinginkan yaitu ketuntasan belajar klasikal yang > ,65 %. Dan untuk mengetahui dapat meningkat atau tidaknya
prestasi belajar siswa, maka akan dilanjutkan ke siklus II.
Memperhatikan data pada tabel nilai tersebut, maka kekurangan yang
terdapat pada siklus 1 adalah :
1.
Komunikasi dua arah antara guru dan siswa masih kurang
2. Komunikasi dan kerja sama
siswa dalam kelompok nampak kurang. Demikian
siswa yang berkemampuan rendah, enggan bertanya pada temanya yang
berkemampuan� tinggi.
3. Guru kurang membimbing
siswa dalam diskusi.
4. Guru kurang mengatur
alokasi waktu, sehingga waktu untuk pengerjaan yang tidak cukup
5. Guru kurang memotivasi
siswa dalam membangkitkan minat pada awal pelajaran
Memperhatikan kekurangan di atas, maka rencana perbaikan
yang akan dilakukan pada siklus II adalah:
1.
Guru memberikan beberapa pertanyaan dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bertanya, sehingga komunikasi antara guru dan
siswa tercipta.
2.
Guru mentukan tutor sebaya untuk tiap-tiap kelompok agar
mau membantu atau mengajari temenya yang belum bisa. Guru menekankan kepada
siswa bahwa kelompok yang dikatakan berhasil apabila tiap anggota kelompoknya
mengerti atau bias menjawab pertanyaan yang diberikan
3.
Guru lebih aktif memberikan bimbingan kepada tiap
kelompok dengan terus mengoreksi kelompok tiap pelajaran berlangsung
4.
Guru mengatur kembali alokasi waktu pengerjaan LKS serta
menentukan jumlah soal dan tingkat kesulitan soal sesuai dengan waktu yang
tersedia.
5. Guru memberikan motivasi
kepada siswa untuk membangkitkan minat pada pelajaran yaitu dengan memberikan
gambaran tentang kegunaan materi yang sedang dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
Analisis
data penelitian siklus II
Data Observasi Kegiatan Guru
Observasi terhadap aktivitas guru dilakukan dengan mengamati prilaku guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Data lengkap tentang aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran Think Pair Check pada siklus
II
v Data Observasi Aktivitas
Siswa
Data lengkap tentang aktivitas siswa selama pelajaran dengan menerapkan
pembelajaran Think Pair Check �pada siklus II dapat
dilihat berdasarkan hasil observasi dari
skor rata-rata siswa dapat dilihat� pada
tabel� berikut:
Tabel Data hasil observasi komponen belajar siswa siklus II
|
Banyak Siswa |
Total Skor |
Kategori |
|
31 |
46 |
aktif |
Dari� tabel di atas terlihat bahwa
total skor aktivitas belajar siswa pada siklus II sebesar 46
yang berarti
bahwa aktivitas belajar siswa sudah berkategori aktif.
v
Data Prestasi Belajar
Data lengkap tentang prestasi belajar siswa pada siklus II dapat dilihat data pada lampiran tersebut dianalisis sehingga
diperoleh hasil sebagai berikut:
Data hasil evaluasi belajar siklus II
|
No |
NAMA SISWA |
NILAI |
T |
TT |
KET |
|
1 |
Aina Fattihadesiana Purwanjaya |
85 |
√ |
||
|
2 |
Alfatio
Muhammad Rayyan |
70 |
√ |
||
|
3 |
Calvin Syahtiaji Sastrawijaya |
75 |
√ |
||
|
4 |
David Juliansyah Saputra |
65 |
√ |
||
|
5 |
Della Amelia |
85 |
√ |
||
|
6 |
Devira Aina Maharani |
80 |
√ |
||
|
7 |
Dhiya Dhaniar Ramdhani |
90 |
√ |
||
|
8 |
Diva Nirwana Salshabila |
75 |
√ |
||
|
9 |
Emiru'din |
80 |
√ |
||
|
10 |
Fajar
Ramadhan Saputra |
75 |
√ |
||
|
11 |
Firas Fauzan Al Birran |
85 |
√ |
||
|
12 |
Kintani Syahla Aprilia |
80 |
√ |
||
|
13 |
Mochammad
Dimas Reksa Baihaqi |
90 |
√ |
||
|
14 |
Muhamad Azis Ramdani |
80 |
√ |
||
|
15 |
Muhamad Sabil Thoriq Rinaldi |
65 |
√ |
||
|
16 |
Muhammad Faza Firmansyah |
95 |
√ |
||
|
17 |
Muhammad Pasya Hermansyah |
90 |
√ |
||
|
18 |
Muhammad Rhevan Hardiansyah P |
85 |
√ |
||
|
19 |
Nabila Rahmawati |
80 |
√ |
||
|
20 |
Najmi Fajriatul Rahadiani |
85 |
√ |
||
|
21 |
Naufal Ruliff Favian Rafif |
65 |
√ |
||
|
22 |
Nazwa Aurelia
Rafael |
85 |
√ |
||
|
23 |
Nicky Nalendra Dwi Putra |
80 |
√ |
||
|
24 |
Nur Aini
Nirmala Fitri |
85 |
√ |
||
|
25 |
Nur Hafizah |
75 |
√ |
||
|
26 |
Perlita Vania |
95 |
√ |
||
|
27 |
Raiza
Fathia Azzahra |
75 |
√ |
||
|
28 |
Reyssa Septyan Ibrahim |
85 |
√ |
||
|
29 |
Ridwan Ramadhan |
75 |
√ |
||
|
30 |
Yusniar Nisa Nurlillah |
85 |
√ |
||
|
31 |
Yusup Al
Muzammil |
75 |
√ |
||
|
NILAI RATA -
RATA |
80.483871 |
28 |
3 |
||
|
Banyak Siswa |
Total Nilai |
Nilai Rata-Rata |
Banyak Siswa Yang TidakTuntas |
Persentase Ketuntasan |
|
31 |
2495 |
80 |
3 |
90 % |
Dari data diatas menunjukkan bahwa persentase siswa yang
mendapat nilai minimal 3 siswa. (ketuntasan minimal) adalah� 90
%. Karena ketuntasan klasikal tercapai jika banyaknya siswa yang tuntas ≥
65.%, maka hasil penelitian pada
siklus II sudah tercapai ketuntasan belajar secara klasikal, ini berarti bahwa
proses pembelajaran pada siklus II sudah dapat dikatakan berhasil.
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa terdapat peningkatan yang
signifikan dari hasil prestasi belajar siswa yang kurang pada siklus I sudah
dapat ditingkatkan pada siklus II, dengan demikian ini menunjukkan bahwa tujuan
yang diharapkan yaitu meningkatkan prestasi�
belajar siswa tercapai.
Dari tindakan siklus II ternyata target yang ditetapkan
oleh kurikulum sudah tercapai. Dengan demikian, maka pada siklus berikutnya
dapat dihentikan karena telah diperoleh informasi �informasi yang cukup untuk
mengambil beberapa keputusan sehubungan dengan target penelitian ini. Walaupun
demikian namun masih ada beberapa siswa yang masih dibawah target, maka perlu
mendapat perhatian penanggulangan khusus dari guru bidang studi yang
bersangkutan.
Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan sesuai prosedur penelitian
tindakan kelas (PTK) yang telah ditetapkan dengan diawali pada perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi sampai refleksi. Berdasarkan analisis data, pelaksanaan tindakan pada
siklus I menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas sebesar 60
%. dan
persentase ketuntasan klasikal adalah 35%.
Hasil ini belum mencapai� ketuntasan
klasikal yaitu 65% atau lebih. Adapun
untuk hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I diperoleh bahwa skor rata-rata aktivitas
belajar siswa adalah 27 yang tergolong dalam
kategori kurang aktif. Hasil penelitian pada siklus I menunjukan bahwa prestasi
belajar siswa masih kurang dan aktivitas belajar siswa juga masih rendah.
Karna ketuntasan belajar pada siklus I belum tercapai,
maka pelaksanaan tindakan dilanjutkan ke siklus II dengan melakukan
perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan pembelajaran
kooperatif pada� siklus I.
Setelah melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran, dari hasil analisa
pada siklus II diperoleh nilai rata � rata kelas sebesar 80 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 90 %. Pada hasil observasi aktivitas belajar siswa diperoleh
skor rata � rata aktifitas siswa adalah 46 yang tergolong aktif. Data ini menunjukan bahwa terjadi
peningkatan rata-rata skor pada aktivitas siswa dan peningkatan nilai prestasi
belajar siswa jika dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Dan setelah
dianalisis dengan menggunakan ketuntasan klasikal �dan nilai rata-rata, maka prestasi belajar
siswa pada siklus II mengalami peningkatan secara signifikan.
Dari hasil yang diperoleh dalam pembelajaran Think Pair Check �dapat dilihat bahwa
pembelajaran ini dapat meningkatkan aktifitas serta prestasi belajar siswa.
Karena dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat saling membantu memahami
pembelajaran dan memperbaiki jawaban teman serta kegiatan lainnya dengan
mencapai tujuan belajar bersama. Hal ini sesuai dengan pendapat Anita Lie
(2002) yang menyebutkan bahwa �Suasana belajar kooperatif juga mampu
menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, serta hubungan yang lebih positif dan
penyesuaian psikologis yang lebih baik dari pada suasana belajar yang penuh
dengan persaingan dan memisah � misahkan siswa�.
Terjadinya peningkatan ini pula disebabkan oleh model pembelajaran Problem
Solving yang diterapkan dalam pembelajaran Matematika memiliki keuntungan �
keuntungan sesuai pendapat Ibrahinm dkk (2000) diantaranya �Siswa berperan
aktif sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatakan keberhasilan kelompok,
interaksi antara siswa seiring kemampuan mereka dalam berpendapat�.
Dengan demikian, penerapan model
pembelajaran Think
Pair Check �dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung Tahun Pelajaran 2017 � 2018.
KESIMPULAN
Berdasarkan� hasil pemelitian terlihat pada siklus I dan
siklus II pada penilaian aktifitas siswa diperoleh nilai rata-rata� dengan kriteria baik pada siklus I, sedang �pada
siklus II diperoleh nilai rata-rata dengan kriteria
sangat �baik. �Pada
�aspek
nilai �pada siklus I
diperoleh nilai rata-rata 60 % dengan kriteria baik sedang pada siklus II diperoleh nilai� 80%� dengan
krieteria baik sekali.
Dengan �hasil yang
demikian dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan Metode Think Pair Check �dapat meningkatkan peran serta aktif dan prestasi belajar
siswa dalam kegiatan belajar matematika, pada siswa kelas VII-A SMP Pasundan
1 Bandung.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Lie. 2002. Cooperative Learning. Jakarta :
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Achmad, Kuncoro,
2001, Cara Menggunakan dan Memaknai
Analisis Asumsi Klasik, Cetakan Pertama. Bandung: ALFABETA.
Dimyati dan Mudjiono.
2006. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: PT Rineke Cipta
Hamalik, Oemar.2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.
Herman Hudojo. (1988). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : Proyek. Pengembangan Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan
Ibrahim, Muhsin dkk. (2000).
Pembelajaran Kooperatif.
Surabaya: University Press. Isjoni. (2010). Pembelajaran Kooperatif.
Nurhadi, 2004. Pembelajaran
Kontekstual dan penerapannya
dalam KBK. Malang: UM Press
Nurkancana, Wayan. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Ruseffendi. 1997. Dasar-dasar Matematika ... Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta: Bina Aksara.
Tim PPPG Matematika, (2005:93), Pembelajaran pemecahan
masalah .
Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.