PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PAIR CHECK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII PADA MATERI PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL TAHUN PELAJARAN 2017- 2018

 

Dini Fitrohoerani

SMP Pasundan 1

[email protected]

 

Riwayat Artikel:

Received: 01-09-2022

Revised: 07-09-2022

Accepted: 15-09-2022

 

Keywords: : learning outcomes, cooperative learning model, pair check type

 

 

Kata Kunci: hasil belajar, cooperative learning model, pair check type

 

 

Abstract

This study aims to (1) build students' productive questioning skills in mathematics and (2) develop students' thinking skills so that they are productively skilled. This research was carried out according to the classroom action research (CAR) procedures that have been determined, starting with planning, implementing actions, observing to reflecting. Data collection techniques used participatory monitoring, questionnaires, and documentation studies. Data from observations, interviews, discussions with collaborators and documents were analyzed descriptively, identification, interpretation, validation and inference. Based on the data analysis, the implementation of the action in the first cycle showed that the average value of the class was 60%. and the percentage of classical completeness is 35%. This result has not reached the classical completeness of 65% or more. Because the mastery of learning in the first cycle has not been achieved, then the implementation of the action is continued to the second cycle by making improvements and perfecting the shortcomings of cooperative learning in the first cycle. After making improvements in the learning process, from the results of the analysis in the second cycle, the average value of the class was 80 and the percentage of classical completeness was 90%. From the results obtained in the Think Pair Check learning, it can be seen that this learning can increase students' activities and learning achievements. Because in cooperative learning students can help each other understand learning and improve friends' answers and other activities by achieving learning goals together. Thus, the application of the Pair Check Type Cooperative Learning Model can improve mathematics learning achievement in grade VII-A students of SMP Pasundan 1 Bandung in the 2017 � 2018 academic year.

 

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk (1) membangun keterampilan bertanya produktif siswa pada mata pelajaran matematika dan (2) mengembangkan cara berpikir siswa agar terampil secara produktifPenelitian ini dilaksanakan sesuai prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah ditetapkan dengan diawali pada perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi sampai refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan pemantauan partisipatif, kuisioner, dan studi dokumentasi. Data hasil pengamatan, wawancara, diskusi dengan kolaborator dan dokumen dianalisis secara deskriptif, identifikasi, interprestasi, validasi dan inferensi.

Berdasarkan analisis data, pelaksanaan tindakan pada siklus I menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas sebesar 60%. dan persentase ketuntasan klasikal adalah 35%. Hasil ini belum mencapaiketuntasan klasikal yaitu 65% atau lebih. Karna ketuntasan belajar pada siklus I belum tercapai, maka pelaksanaan tindakan dilanjutkan ke siklus II dengan melakukan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan pembelajaran kooperatif padasiklus I. Setelah melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran, dari hasil analisa pada siklus II diperoleh nilai rata � rata kelas sebesar 80 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 90 %. Dari hasil yang diperoleh dalam pembelajaran Pair Check dapat dilihat bahwa pembelajaran ini dapat meningkatkan aktifitas serta prestasi belajar siswa. Karena dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat saling membantu memahami pembelajaran dan memperbaiki jawaban teman serta kegiatan lainnya dengan mencapai tujuan belajar bersama. Dengan demikian, penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Pair Check dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung Tahun Pelajaran 2017 � 2018.

 

Corresponding Author: Dini Fitrohoerani

E-mail: [email protected]

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Pelajaran matematika cenderung dipandang sebagai mata pelajaran yang kurang diminati atau kalau bisa dihindari oleh sebagian siswa (Ahmad Rohani, 2004:6).

Matematika sebagai ilmu dasar telah berkembang cukup pesat baik materi maupun kegunaannya, oleh karena itulah maka konsep-konsep dasar matematika harus dikuasai siswa sejak dini. Mata pelajaran matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Matematika merupakan ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari manusia, tetapi masih banyak orang yang belum bisa merasakan manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari mereka. Adapun salah satu manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari yakni memberikan pengetahuan dan ketrampilan praktis seperti berhitung dan statistika.

Sampai sekarang pelajaran matematika di sekolah masih merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa, terasa sukar dan tidak menarik sehingga banyak siswa menjadi kurang termotivasi dalam mempelajari matematika.

Ada beberapa kemungkinan masalah-masalah yang dihadapi siswa dalam belajar matematika yakni kemungkinan bersumber dari porsi materi matematikanya yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, selain itu kemungkinan juga bersumber dari strategi pembelajaran yang kurang tepat dan kurang efektif. Namun menurut guru matematika dari kemungkinan-kemungkinan yang sering terjadi adalah pemilihan strategi pembelajaran yang kurang tepat. Jika guru tidak tepat dalam memilih strategi pembelajaran, maka siswa akan kesulitan dalam memahami materi yang telah diajarkan oleh guru. Jadi sebelum guru melakukan proses pembelajaran, guru harus pandai memilih dahulu strategi pembelajaran yang tepat dan efektif terhadap materi yang akan diajarkan.

Hal tersebut juga dialami oleh sebagaian siswa SMP Pasundan I khususya kelas VII A yang memandang bahwa pelajaran matematika sebagai pelajaran yang sulit, sehingga sedikit siswa yang memiliki ketertarikkan pada mata pelajaran matematika. Anggapan ini membuat hasil belajar siswa masih rendah pada pelajaran matematika.

Sebelum peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas, peneliti melakukan observasi terlebih dahulu di kelas VII Selama proses pembelajaran siswa kurang aktif, pemahaman konsep oleh siswa masih rendah. Selain itu keterlibatan siswa selama proses pembelajaran juga masih kurang. Sehingga nilai ulangan matematika siswa masih banyak yang tidak memenuhi nilai standar batas tuntas yaitu mencapai 75% siswa yang tidak tuntas belajar. Bagi siswa yang belum tuntas belajar akan diadakan remidial maksimal dua kali.

Setelah peneliti melakukkan observasi pendahuluan ditemukan permasalahan antara lain :

1.       Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika kurang tampak. Para siswa jarang mengajukkan ide/pertanyaan, walaupun guru berulang kali meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang siswa belum paham.

2.       Guru dalam penyampain materi kurang menarik, sehingga membuat siswa menjadi bosan dengan pembelajaran matematika.

3.       Kurangnya minat siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru maupun mengerjakan soal di depan kelas.

4.       Hasil belajar matematika yang masih rendah.

5.       Model pembelajaran yang diterapkan oleh guru kurang bervariasi.

Permasalahan-permasalahan tersebut akan berpengaruh pada hasil belajar matematika siswa. Dari hasil perbincangan dengan guru mata pelajaran matematika kelas VII- di SMP Pasundan 1 Bandung, nilai ulangan matematika siswa memiliki nilai standar batas tuntas 61 artinya siswa dikatakan tuntas belajar matematika jika nilai ulangan matematika siswa minimal mencapai 61. Selain itu siswa juga kurang dalam menangkap materi yang diajarkan sehingga banyak siswa yang tidak bisa dalam mengerjakan soal � soal ulangan matematika.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka perlu model pembelajaran yang tepat dan variasi belajar yang menarik agar proses pembelajaran tidak berlangsung monoton dan siswa memperoleh pengalaman baru. Untuk itu peneliti menerapkan model pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP PASUNDAN I Bandung.

Metode berbasis pasangan atau dua partner merupakan startegi mengajar untuk memaksimalkan kemampuan berkomunikasi, berdialog dan bertukar pendapat secara personal. Siswa yang pasif, pendiam dan pemalu bisa tergerak untuk mengungkapkan gagasan dan dikondisikan agar selalu aktif belajar, bekerja dan pada akhirnya terbiasa untuk proaktif dalam setiap diskusi atau pembelajaran. Keunggulan posisi berpasangan yaitu semua siswa diupayakan dapat belajar secara tutorial dan interaktif satu sama lain, karena dalam pasangan mustahil tidak terjadi interaksi atau komunikasi dua arah yang dibanding dengan kelompok. Berikut ini metode mengajar yang dapat melatih kemampuan berbicara siswa dan bertindak dalam melakukan tugas belajar.

Pair Check adalah metode pembelajaran berkelompok antar dua orang atau berpasangan. Metode pair check atau cek pasangan merupakan model yang pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagan pada 1990 untuk melatih setiap pasangan untuk berlomba-lomba memenangkan tugas atau permainan secara kelompok dan cerdas. Metode ini menerapkan pembelajaran kooperatif yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Model pembelajaran siswa yaitu pair check ini juga melatih tanggung jawab sosial siswa, kerja sama, dan kemampuan memberi penilaian.

 

METODA PENELITIAN

 

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dengan menggunakan tindakan�tindakan sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mempelajari Matematika dan untuk mengujicobakan hal�hal baru dalam pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas bercirikan perbaikan secara terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya siklus�siklus tersebut dalam proses penelitian ini. Setelah dilakukan refleksi biasanya muncul permasalahan yang perlu diperhatikan sehingga perlu merumuskan kembali rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan kritis.

 

Lokasi Penelitian dan Objek Penelitian

Penelitian tindakan kelas akan dilaksanakan di kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung tahun pelajaran 2017 2018, yang menjadi Objek penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel menggunakan model pembelajaran problem solving di kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung tahun pelajaran 2017 2018

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian merupakan hasil yang diperoleh pada tahap pra siklus, pelaksanaan tindakan siklus pertama, dan pelaksanaan tindakan siklus ke dua.Hasil penelitian berupa hasil ulangan harian siswa dan sikap atau perilaku siswa selama diskusi kelompok dan diskusi kelas dan hasil pengamatan dari observer atau rekan sejawat saat mengamati guru / peneliti pada saat melaksanakan proses penelitian.

Hasil Observasi Aktivitas guru dikatakan berhasil jika mencapai skor 36 - 50 dengan kategori baik. Aktivitas siswa dikatakan berhasil jika mencapai skor 36 - 50 denga kategori baik. Hasil Belajar belajar dikatakan berhasil jika rata-rata kelas mencapai ≥ 70 Dan ketuntasan belajar siswa mencapai ≥ 85 %.

Analisis data penelitian siklus I

v  Data obsevasi aktivitas guru.

Data observasi guru/ peneliti diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh observer dengan mengisi lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh peneliti yang bertujuan untuk merekam jalannya proses belajar mengajar. Observasi terhadap aktivitas guru dilakukan dengan mengamatiprilaku guru pada saat proses belajar mengajar. Semua aktivitas guru yang tampak diberi tanda dalam lembar observasi yang sesuai dengan item yang tersedia.

v  Data observasi aktivitas siswa.

Berdasarkan banyaknya siswa dan banyaknya deskriptor pada setiap indikator maka jumlah skor ideal untuk tiap-tiap indikator adalah 4 sehingga kriteria penggolongan aktivitas belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Datahasil observasi komponen siswa siklus I

Banyak Siswa

Total Skor

Kategori

31

27

Kurang aktif

 

Daritabel di atas dapat dilihat bahwa total skor aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 27 yang berarti bahwa aktivitas belajar siswa berkategori kurang aktif, sehingga pada siklus selanjutnya perlu ditingkatkan lagi.

v  Data prestasi belajar

Data prestasi belajar siswa siklus I adalah membahas persamaan linier satu variabel. Data lengkap prestasi belajar siswa siklus I, kemudian dianalisis sehingga diperoleh data seperti berikut:

Tabel Data hasil evaluasi belajar siklus I

No

NAMA SISWA

NILAI

T

TT

KET

 

1

Aina Fattihadesiana Purwanjaya

45

 

2

Alfatio Muhammad Rayyan

55

 

3

Calvin Syahtiaji Sastrawijaya

45

 

4

David Juliansyah Saputra

45

 

5

Della Amelia

55

 

6

Devira Aina Maharani

50

 

7

Dhiya Dhaniar Ramdhani

65

 

8

Diva Nirwana Salshabila

55

 

9

Emiru'din

50

 

10

Fajar Ramadhan Saputra

55

 

11

Firas Fauzan Al Birran

60

 

12

Kintani Syahla Aprilia

65

 

13

Mochammad Dimas Reksa B

60

 

14

Muhamad Azis Ramdani

65

 

15

Muhamad Sabil Thoriq Rinaldi

55

 

16

Muhammad Faza Firmansyah

70

 

17

Muhammad Pasya Hermansyah

60

 

18

Muhammad Rhevan Hardiansyah

60

 

19

Nabila Rahmawati

75

 

20

Najmi Fajriatul Rahadiani

60

 

21

Naufal Ruliff Favian Rafif

55

 

22

Nazwa Aurelia Rafael

65

 

23

Nicky Nalendra Dwi Putra

70

 

24

Nur Aini Nirmala Fitri

60

 

25

Nur Hafizah

70

 

26

Perlita Vania

55

 

27

Raiza Fathia Azzahra

75

 

28

Reyssa Septyan Ibrahim

60

 

29

Ridwan Ramadhan

65

 

30

Yusniar Nisa Nurlillah

60

 

31

Yusup Al Muzammil

75

 

NILAI RATA - RATA

60

11

20

 

Banyak Siswa

Total Nilai

Nilai Rata-Rata

Banyak Siswa Yang Tidak Tuntas

Persentase Ketuntasan

31

1860

60

20

35%

 

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata siswa adalah 60 Dari 31 siswa yang mengikuti tes evaluasi terdapat 11 siswa yang tuntas belajar, persentase ketuntasan belajar adalah 35 %. Nilai masih kurang dari ketuntasan belajar secara klasikal.Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa belum mencapai target dari prestasi belajar yang diinginkan yaitu ketuntasan belajar klasikal yang > ,65 %. Dan untuk mengetahui dapat meningkat atau tidaknya prestasi belajar siswa, maka akan dilanjutkan ke siklus II.

Memperhatikan data pada tabel nilai tersebut, maka kekurangan yang terdapat pada siklus 1 adalah :

1.       Komunikasi dua arah antara guru dan siswa masih kurang

2.       Komunikasi dan kerja sama siswa dalam kelompok nampak kurang. Demikian siswa yang berkemampuan rendah, enggan bertanya pada temanya yang berkemampuantinggi.

3.       Guru kurang membimbing siswa dalam diskusi.

4.       Guru kurang mengatur alokasi waktu, sehingga waktu untuk pengerjaan yang tidak cukup

5.       Guru kurang memotivasi siswa dalam membangkitkan minat pada awal pelajaran

Memperhatikan kekurangan di atas, maka rencana perbaikan yang akan dilakukan pada siklus II adalah:

1.       Guru memberikan beberapa pertanyaan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, sehingga komunikasi antara guru dan siswa tercipta.

2.       Guru mentukan tutor sebaya untuk tiap-tiap kelompok agar mau membantu atau mengajari temenya yang belum bisa. Guru menekankan kepada siswa bahwa kelompok yang dikatakan berhasil apabila tiap anggota kelompoknya mengerti atau bias menjawab pertanyaan yang diberikan

3.       Guru lebih aktif memberikan bimbingan kepada tiap kelompok dengan terus mengoreksi kelompok tiap pelajaran berlangsung

4.       Guru mengatur kembali alokasi waktu pengerjaan LKS serta menentukan jumlah soal dan tingkat kesulitan soal sesuai dengan waktu yang tersedia.

5.       Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk membangkitkan minat pada pelajaran yaitu dengan memberikan gambaran tentang kegunaan materi yang sedang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Analisis data penelitian siklus II

Data Observasi Kegiatan Guru

Observasi terhadap aktivitas guru dilakukan dengan mengamati prilaku guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Data lengkap tentang aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran Think Pair Check pada siklus II

v  Data Observasi Aktivitas Siswa

Data lengkap tentang aktivitas siswa selama pelajaran dengan menerapkan pembelajaran Think Pair Check pada siklus II dapat dilihat berdasarkan hasil observasi dari skor rata-rata siswa dapat dilihatpada tabelberikut:

Tabel Data hasil observasi komponen belajar siswa siklus II

Banyak Siswa

Total Skor

Kategori

31

46

aktif

Daritabel di atas terlihat bahwa total skor aktivitas belajar siswa pada siklus II sebesar 46 yang berarti bahwa aktivitas belajar siswa sudah berkategori aktif.

v  Data Prestasi Belajar

Data lengkap tentang prestasi belajar siswa pada siklus II dapat dilihat data pada lampiran tersebut dianalisis sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

Data hasil evaluasi belajar siklus II

 

No

NAMA SISWA

NILAI

T

TT

KET

1

Aina Fattihadesiana Purwanjaya

85

2

Alfatio Muhammad Rayyan

70

3

Calvin Syahtiaji Sastrawijaya

75

4

David Juliansyah Saputra

65

5

Della Amelia

85

6

Devira Aina Maharani

80

7

Dhiya Dhaniar Ramdhani

90

8

Diva Nirwana Salshabila

75

9

Emiru'din

80

10

Fajar Ramadhan Saputra

75

11

Firas Fauzan Al Birran

85

12

Kintani Syahla Aprilia

80

13

Mochammad Dimas Reksa Baihaqi

90

14

Muhamad Azis Ramdani

80

15

Muhamad Sabil Thoriq Rinaldi

65

16

Muhammad Faza Firmansyah

95

17

Muhammad Pasya Hermansyah

90

18

Muhammad Rhevan Hardiansyah P

85

19

Nabila Rahmawati

80

20

Najmi Fajriatul Rahadiani

85

21

Naufal Ruliff Favian Rafif

65

22

Nazwa Aurelia Rafael

85

23

Nicky Nalendra Dwi Putra

80

24

Nur Aini Nirmala Fitri

85

25

Nur Hafizah

75

26

Perlita Vania

95

27

Raiza Fathia Azzahra

75

28

Reyssa Septyan Ibrahim

85

29

Ridwan Ramadhan

75

30

Yusniar Nisa Nurlillah

85

31

Yusup Al Muzammil

75

NILAI RATA - RATA

80.483871

28

3

 

Banyak Siswa

Total Nilai

Nilai Rata-Rata

Banyak Siswa Yang TidakTuntas

Persentase Ketuntasan

31

2495

80

3

90 %

 

 

Dari data diatas menunjukkan bahwa persentase siswa yang mendapat nilai minimal 3 siswa. (ketuntasan minimal) adalah90 %. Karena ketuntasan klasikal tercapai jika banyaknya siswa yang tuntas ≥ 65.%, maka hasil penelitian pada siklus II sudah tercapai ketuntasan belajar secara klasikal, ini berarti bahwa proses pembelajaran pada siklus II sudah dapat dikatakan berhasil.

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dari hasil prestasi belajar siswa yang kurang pada siklus I sudah dapat ditingkatkan pada siklus II, dengan demikian ini menunjukkan bahwa tujuan yang diharapkan yaitu meningkatkan prestasibelajar siswa tercapai.

Dari tindakan siklus II ternyata target yang ditetapkan oleh kurikulum sudah tercapai. Dengan demikian, maka pada siklus berikutnya dapat dihentikan karena telah diperoleh informasi �informasi yang cukup untuk mengambil beberapa keputusan sehubungan dengan target penelitian ini. Walaupun demikian namun masih ada beberapa siswa yang masih dibawah target, maka perlu mendapat perhatian penanggulangan khusus dari guru bidang studi yang bersangkutan.

 

Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan sesuai prosedur penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah ditetapkan dengan diawali pada perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi sampai refleksi. Berdasarkan analisis data, pelaksanaan tindakan pada siklus I menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas sebesar 60 %. dan persentase ketuntasan klasikal adalah 35%. Hasil ini belum mencapaiketuntasan klasikal yaitu 65% atau lebih. Adapun untuk hasil observasi aktivitas belajar siswa pada siklus I diperoleh bahwa skor rata-rata aktivitas belajar siswa adalah 27 yang tergolong dalam kategori kurang aktif. Hasil penelitian pada siklus I menunjukan bahwa prestasi belajar siswa masih kurang dan aktivitas belajar siswa juga masih rendah.

Karna ketuntasan belajar pada siklus I belum tercapai, maka pelaksanaan tindakan dilanjutkan ke siklus II dengan melakukan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan kekurangan-kekurangan pembelajaran kooperatif padasiklus I.

Setelah melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran, dari hasil analisa pada siklus II diperoleh nilai rata � rata kelas sebesar 80 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 90 %. Pada hasil observasi aktivitas belajar siswa diperoleh skor rata � rata aktifitas siswa adalah 46 yang tergolong aktif. Data ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan rata-rata skor pada aktivitas siswa dan peningkatan nilai prestasi belajar siswa jika dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Dan setelah dianalisis dengan menggunakan ketuntasan klasikal dan nilai rata-rata, maka prestasi belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan secara signifikan.

Dari hasil yang diperoleh dalam pembelajaran Think Pair Check dapat dilihat bahwa pembelajaran ini dapat meningkatkan aktifitas serta prestasi belajar siswa. Karena dalam pembelajaran kooperatif siswa dapat saling membantu memahami pembelajaran dan memperbaiki jawaban teman serta kegiatan lainnya dengan mencapai tujuan belajar bersama. Hal ini sesuai dengan pendapat Anita Lie (2002) yang menyebutkan bahwa �Suasana belajar kooperatif juga mampu menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, serta hubungan yang lebih positif dan penyesuaian psikologis yang lebih baik dari pada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisah � misahkan siswa�.

Terjadinya peningkatan ini pula disebabkan oleh model pembelajaran Problem Solving yang diterapkan dalam pembelajaran Matematika memiliki keuntungan � keuntungan sesuai pendapat Ibrahinm dkk (2000) diantaranya �Siswa berperan aktif sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatakan keberhasilan kelompok, interaksi antara siswa seiring kemampuan mereka dalam berpendapat�.

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran Think Pair Check dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung Tahun Pelajaran 2017 � 2018.

 

KESIMPULAN

Berdasarkanhasil pemelitian terlihat pada siklus I dan siklus II pada penilaian aktifitas siswa diperoleh nilai rata-ratadengan kriteria baik pada siklus I, sedang pada siklus II diperoleh nilai rata-rata dengan kriteria sangat baik. Pada aspek nilai pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 60 % dengan kriteria baik sedang pada siklus II diperoleh nilai80%dengan krieteria baik sekali.

Dengan hasil yang demikian dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan Metode Think Pair Check dapat meningkatkan peran serta aktif dan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar matematika, pada siswa kelas VII-A SMP Pasundan 1 Bandung.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anita Lie. 2002. Cooperative Learning. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

 

Achmad, Kuncoro, 2001, Cara Menggunakan dan Memaknai Analisis Asumsi Klasik, Cetakan Pertama. Bandung: ALFABETA.

 

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineke Cipta

 

Hamalik, Oemar.2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Herman Hudojo. (1988). Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : Proyek. Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

 

Ibrahim, Muhsin dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press. Isjoni. (2010). Pembelajaran Kooperatif.

 

Nurhadi, 2004. Pembelajaran Kontekstual dan penerapannya dalam KBK. Malang: UM Press

 

Nurkancana, Wayan. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional

 

Ruseffendi. 1997. Dasar-dasar Matematika ... Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta: Bina Aksara.

 

Tim PPPG Matematika, (2005:93), Pembelajaran pemecahan masalah .

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.