PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN RESITASI (PENUGASAN) DALAM UPAYA MENINGKATKAN BERFIKIR KRITIS SISWA DALAM MEMAHAMI PELAJARAN FISIKA MATERI LISTRIK STATIS DIKELAS XII MIPA 6 / SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2018/2019
SMA Negeri 4 Bandung
|
Riwayat Artikel: Received: 10-10-2022 Revised: 21-10-2022 Accepted: 29-10-2022 Keywords:
Student Learning Ability,
Resistance Method Kata
Kunci: Kemampuan Belajar Siswa, Metode
Resistasi. |
|
Abstract This study aims to improve students' ability to understand the subject
matter presented and improve student learning outcomes through the recitation
learning method. The type of data in this study is quantitative data obtained
from learning outcomes tests and qualitative data obtained through
observation sheets. The results showed that the percentage of students'
learning completeness obtained, increased ability by using learning models
supported by the results of teacher and student observations. After an
evaluation in the pre-cycle, the researcher tried to use the Recitation
learning method (assignment) so that it could get results in the first cycle,
it can be seen that the percentage of students achieved the indicator value
of success with the average value only reaching 75.65 Out of 35 students, 9
children were included in the category very good or 25.71% and children
included in the good category or as many as 21 students or 60%, while
students who entered the fairly good category there were 5 children or
14.28%. Of the 35 students there are still 5 students who did not complete
the KKM. However, in the second cycle, the percentage of students who
achieved the score according to the success indicator was 84.65%. Of the 35
students, there are 32 students who fall into the very good category or
91.42%, and students who get a good category score are 3 students or 8.57% of
students who fall into the fairly good category and children who are in the
poor category are no longer there . Seeing these results, it can be concluded
that student learning outcomes show average results and classical learning
completeness of 85%. This shows that the learning outcomes have met the
minimum completeness criteria, namely the average value of 85 and
completeness of 85% so that the learning improvement process is declared
successful and complete in cycle II. The recitation learning method provides
opportunities for students to participate actively and utilize learning
resources optimally. Students who are given the recitation method after the
teaching and learning process will know the goals they will achieve, so that
they can direct them in their learning. It is different with students who are
not given a recitation method, they do not know what goals are expected to be
achieved in the learning process. The Recitation learning method (assignment)
is acceptable and has proven successful in improving physics learning
outcomes in Class XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung in the 2018/2019 academic
year. |
|
|
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan dan
meningkatkan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran resitasi. Jenis
data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang diperoleh dari tes
hasil belajar dan data kualitatif diperoleh melalui lembar observasi. Hasil
penelitian menunjukan persentase ketuntasan belajar siswa yang diperoleh,
peningkatan kemampuan dengan penggunaan model pembelajaran ditunjang dengan
hasil observasi guru dan siswa. Setelah dilakukan evaluasi pada pra siklus
peneliti mencoba menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan)
sehingga dapat memperoleh hasil pada siklus I dapat diketahui bahwa
persentase siswa mencapai nilai indikator keberhasilan dengan nilai nilai
rata � rata baru mencapai 75.65 Dari 35 siswa, 9 anak yang masuk pada
kategori baik sekali atau sebesar 25.71 % dan anak yang termasuk pada
kategori baik atau seanyak 21siswa atau 60 %, sedangkan siswa yang masuk pada
kategori cukup baik ada 5 anak atau sebesar 14.28%. Dari 35 siswa masih ada 5
siswa yang tidak tuntas KKM. Namun pada siklus II persentasi siswa yang
mencapai nilai sesuai dengan indikator keberhasilan adalah 84,65 %. Dari 35
siswa, terdapat 32 siswa yang masuk pada kategori baik sekali atau sebesar
91.42 %, dan siswa yang mendapat nilai kategori baik terdapat 3 siswa atau
sebesar 8.57 % siswa yang masuk pada kategori cukup baik dan anak yang pada
kategori kurang baik sudah tidak ada lagi. �Melihat hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar siswa menunjukkan hasil rata-rata dan ketuntasan belajar
secara klasikal sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar tersebut
telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu nilai rata-rata 85 dan
ketuntasan 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan
tuntas pada siklus II. Metode pembelajaran resitasi memberi peluang kepada
siswa untuk berpartisipasi secara aktif dan pemanfaatan sumber daya
pembelajaran secara optimal. Siswa yang diberikan metode resitasi setelah
proses belajar mengajar akan tahu sasaran yang akan mereka capai, sehingga
dapat mengarahkan mereka dalam belajarnya. Lain halnya dengan siswa yang
tidak diberikan metode resitasi, mereka tidak tahu tujuan apa yang diharapkan
dicapai dalam proses belajarnya. metode pembelajaran Resitasi (penugasan)
dapat diterima dan terbukti berhasil dalam meningkatkan hasil belajar Fisika
Dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung Tahun Pelajaran 2018/2019. |
Corresponding Author:
Atti Suharyati�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah sebagai pendewasaan peserta
didik yang menempatkan proses belajar mengajar sebagai inti permasaalahan
sekaligus kunci keberhasilan pendidikan. Salah satu diantara masalah besar dalam
bidang pendidikan yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan.
Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah pendekatan dalam
pembelajaran yang masih didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih
banyak menempatkan perserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik.
Siswa kurang di berikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan
berpikir holistic (menyeluruh), kreatif, objektiv, dan logis sehingga dalam
proses pembelajaran siswa menjadi pasif dan mengakibatkan rendahnya hasil
belajar. Dalam pembenahan proses belajar mengajar diharapkan dapat meningkatkan
hasil belajar dan peningkatan kualiatis pembelajaran akan terlihat dalam hasil
belajar yang diperoleh siswa.
Proses belajar mengajar yang baik menuntut siswa untuk
lebih aktif sehingga proses belajar mengajar mencerminkan komunikasi dua arah,
tidak semata-mata merupakan pemberian informasi searah dari guru mengembangkan
mental siswa. Untuk meningkatkan proses pembelajaran disekolah guru harus dapat
memilih metode yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Ada beberapa macam
metode pembelajaran yang dapat digunakan antara lain: Tanya jawab, diskusi, dan
model pembelajaran inovatif.
Dengan demikian ada dua pihak yang berinteraksi
secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu antara guru dengan siswa. Guru
berperan membantu siswa dalam proses belajar yaitu proses pengalihan
pengetahuan dan perubahan terhadap tingkah laku. Di dalam proses belajar
mengajar interaksi antara guru dengan siswa sangatlah penting, karena interaksi
yang terjadi ini akan mempengaruhi output dalam kegiatan belajar mengajar.
Keberhasilan pendidikan banyak dipengaruhi oleh
berbagai faktor termasuk guru. Guru yang profesional akan selalu berupaya untuk
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dalam upaya
meningkatkan proses belajar, guru harus berupaya menciptakan strategi yang
cocok, sebab dalam proses belajar mengajar yang bermakna, keterlibatan siswa
sangatlah penting, hal ini sesuai dengan pendapat Muhamad Ali, (1983: 12) yang
menyebutkan bahwa kadar pembelajaran akan bermakna apabila :
1. Adanya keterlibatan siswa dalam
proses belajar mengajar.
2. Adanya keterlibatan
intelektual-emosional siswa baik melalui kegiatan menganalisa, berbuat dan
pembentukan sikap.
3. Adanya keikutsertaan siswa secara
kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses
belajar mengajar.
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang
pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Fisika merupakan mata pelajaran yang dapat
menumbuhkan kemampuan berpikir peserta didik yang berguna untuk memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari. Fisika juga merupakan bagian dari sains
yang mempelajari fenomena dan gejala alam pada benda-benda mati secara empiris,
logis, sistematis, dan rasional yang melibatkan proses dan sikap ilmiah.
Fisika adalah proses yang membawa kita pada prinsip-prinsip umum yang
mendeskripsikan bagaimana perilaku dunia fisik terjadi. Saat ini, pengajaran
fisika di sekolah masih menekankan konsep-konsep fisika yang identik dengan
persamaan dan rumus matematis. Banyaknya rumus dalam fisika menyebabkan banyak
peserta didik yang menganggap bahwa fisika adalah mata pelajaran yang sulit
untuk dipelajari. Hal ini juga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa
untuk pelajaran fisika. Hingga saat ini, permasalahan ini merupakan masalah
klasik yang sering dijumpai para guru fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan pengajaran dalam proses pembelajaran, sehingga guru sebagai tenaga
professional harus memiliki kemampuan untuk mengubah mindset peserta didik
dengan menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan tidak membosankan,
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hasil belajarnya dan meningkatkan
kemampuan memecahkan masalah.Menurut Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang
standar proses diamanatkan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran harus
dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi peserta didik
dalam memahami dan mendalami suatu materi pembelajaran dengan menciptakan
kondisi yang interaktif dan menyenangkan.
Sekolah merupakan bagian integral dari pelajaran IPA yang mendasari
perkembangan teknologi dewasa ini, Perkembangan sains dan teknologi� tentu tidak dapat terlaksana tanpa dilandasi
oleh ilmu �ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi,� Oleh karena itu seiring dengan semakin
berkembangnya teknologi maka idealnya kualitas pembelajaran dikelas� semakin baik sehingga guru mampu membawa
peserta didik kepada keberhasilan belajar, dengan kata lain kualitas
pembelajaran di kelas dan� hasil� belajar peserta didik berbanding lurus dengan
kemajuan teknologi. Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19
tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/ madrasah
mengembangkan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan berdasarkan standart
Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standart Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan
yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Implementasi
dari PP No. 19 membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk teknik dan
prosedur penilaian yang dilaksanakan di kelas.
Guru mempunyai peranan yang penting yaitu membimbing dan mengarahkan
siswa untuk melakukan pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang diharapkan.
Seorang guru harus peka terhadap kondisi dan keadaan siswa karena setiap siswa
memiliki daya serap, kondisi dan minat yang berbeda. Guru harus memiliki metode
mengajar yang baik dan tepat sesuai dengan materi yang disampaikan.
Berkenaan dengan hal itu maka perlu diupayakan model pembelajaran yang
mendorong munculnya belajar bermakna pada para peserta didik, yakni bagaimana
mereka mampu melibatkan diri secara fisik, mental dan intelektual dalam
aktivitas belajar. Salah satu model yang dipilih adalah pembelajaran
kooperatif. Ada banyak variasi yang dapat dilakukan guru dalam model
pembelajaran kooperatif. Salah satu diantaranya adalah Pendekatan Konstektual
dengan variasi metode berbasis masalah.
Penggunaan metode pembelajaran dalam pelajaran di kelas dapat menarik
perhatian siswa karena metode pembelajaran ini memiliki berbagai komponen
sehingga pembelajaran tidak membosankan. Menurut Suyanto (2003:1) metode
pembelajaran ini dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan yang bermakna yang
diharapkan dapat membantu mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh
di kelas dengan konteks situasi kehidupan nyata. Pembelajaran dengan peran
serta lingkungan secara alami akan memantapkan pengetahuan yang dimiliki siswa.
Belajar akan lebih bermanfaat dan bermakna jika seorang siswa mengalami apa
yang dipelajarinya bukan hanya sekedar mengetahui.
Belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus dapat
mengonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan cara mengaplikasikan pengetahuan
yang dimiliki pada realita kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pengembangan
metode pembelajaran ini dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada aspek
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik dari segi berbahasa maupun
akan membuat pembelajaran lebih bervariasi.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara agar siswa mampu
berfikir kritis dan meningkatkan dan hasil belajar siswa di SMA Negeri 4
Bandung yang masih rendah.
2. Agar para peserta didik aktif
bekerjasama dengan teman belajarnya dalam mempelajari pengetahuan dan
ketrampilan yang dibutuhkan tanpa menunggu sajian dari guru.
3. Bagaimana cara mengembangkan proses
pembelajaran dengan model��� pembelajaran
konstektual dengan variasi metode berbasis masalah
4. Model pembelajaran konstektual
diterapkan untuk konsep pembelajaran
5. Cara memotivasi peserta didik pada
pembelajaran IPA FISIKA yang mayoritas tergolong rendah.
Untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan
masalah diperinci sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran
menggunakan metode resitasi (penugasan) untuk meningkatkan kemampuan siswa
tentang materi Listrik Statis
2. Bagaimanakah kemampuan siswa dalam
pembelajaran tentang materi Listrik Statis melalui metode resitasi (penugasan)
METODA PENELITIAN
Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang
dilakukan oleh peneliti berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu suatu
kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas dalam arti luas. Suharsimi
Harikunto (2006: 2) memandang Penelitian Tindakan Kelas sebagai bentuk
penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga
penelitian harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran.
Penelitian Tindakan Kelas selain bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar, juga untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen dalam proses
pembelajaran. Dengan kata lain, PTK bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan
penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, tetapi yang lebih penting
adalah memberikan pemecahan berupa tindakan untuk mengatasi masalah. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu
penelitian yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses
pembelajaran dan upaya meningkatkan proses serta hasil belajar.
Metode penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau sering
disebut dengan istilah dalam bahasa Inggris Classroom Action Research.
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif
oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dan
tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam terhadap
tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik
pembelajaran tersebut dilakukan.
����������� �Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
penelitian tindakan terhadap kegiatan belajar, yang sengaja dimunculkan dan
terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Dalam buku Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas terdiri
dari tiga kata yaitu penelitian, tindakan dan kelas. Adapun penjelasannya
adalah sebagai berikut:
1.
Penelitian, menunjuk pada
suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan
metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam
meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2.
Tindakan, menunjuk pada
sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam
penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
3.
Kelas, dalam hal ini tidak
terkait pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih
spesifik. Yang dimaksud kelas di sini adalah sekelompok siswa yang dalam waktu
yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
Penelitian Tindakan
Kelas selain bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, juga untuk
meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK
bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan
yang dihadapi, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemecahan berupa
tindakan untuk mengatasi masalah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk
mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran dan upaya
meningkatkan proses serta hasil belajar. dapat diartikan sebagai kegiatan yang
dilakukan oleh guru di dalam kelas pada suatu objek yang dengan menggunakan
rangkaian siklus kegiatan.
Desain atau rancangan
Penelitian Tindakan Kelas secara umum mencakup empat langkah, yaitu: 1)
perencanaan, 2) tindakan atau pelaksanaan, 3) observasi atau pengamatan, dan 4)
refleksi. Keempat langkah ini dilakukan secara berurutan dan diidentifikasi
menjadi sebuah siklus. Siklus dilakukan secara berulang dengan langkah yang
sama mulai dari siklus 1, siklus 2, siklus 3, dan seterusnya. Proses
pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat dirujuk dari beberapa model, tetapi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model siklus yang
dikemukakan oleh Kemmis & Taggart yang terdiri atas: planning (menyusun
perencanaan), acting (melaksanakan tindakan), observing (melaksanakan
pengamatan), dan reflecting (melakukan refleksi), hasil refleksi ini kemudian
dipergunakan untuk memperbaiki perencanaan (revise plan) berikutnya. Secara
sederhana alur pelaksanaan tindakan kelas disajikan sebagai berikut:
Tempat / Waktu dan Subjek Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SMA Negeri
4 Bandung yang beralamat di Jl. Gardujati No.20, Kb. Jeruk, Kec. Andir, Kota
Bandung, Jawa Barat 40181 dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada semester 5
(ganjil) di bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2018 dikelas XII MIPA 6
Tahun Ajaran 2018 / 2019.
Secara garis besar, prosedur tindakan
dilakukan melalui kegiatan perencanaan (plan), tindakan (act), observasi
(observe) dan refleksi (reflect). Adapun prosedur pengembangan model tindakan
yang dilaksanakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan I dibawah ini:
Prosedur Penelitian tersebut dilaksanakan
dalam lima tahapan yaitu:
1.
Rencana tindakan yaitu
merumuskan perencanaan pengajaran setiap kali akan melaksanakan tindakan serta
focus yang akan diamati selama pelaksanaan siklus terdiri dari aspek-aspek
berikut:
� Mengembangkan model pembelajaran pada
pelajaran Fisika dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung disesuaikan dengan
silabus dan rencana pengajaran yang telah disepakati dengan observer.
� Perubahan-perubahan yang terjadi pada
hasil belajar dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung, hasil belajar yang
diamati antara lain aktivitas siswa dalam�
menyimak, bertanya dan mengerjakan tugas secara mandiri, menjawab
pertanyaan dari guru ataupun dari siswa lain.
� Tanggapan observer dan siswa tentang
kendala-kendala yang dihadapi selama mengembangkan model pembelajaran ini.
2.
Pelaksanaan tindakan�� yaitu praktek pembelajaranyang nyata
dilakukan oleh guru/peneliti dan siswa berdasarkan rencana tindakan yang telah
disusun sebelumnya.
3.
Observasi Pelaksanaan
adalah proses mendokumentasi pengaruh, kendala, tindakan serta persoalan yang
mungkin ada pada saat pembelajaran berlangsung, observer mengamati proses
pembelajaran dengan mencatat kegiatan yang dilaksanakan oleh peneliti dan siswa
serta mencatat kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti dalam mengembangkan
model pembelajaran ini. Hasil observasi itu mendasari refleksi untuk siklus
yang telah dilakukan dan dijadikan pertimbangan untuk menyusun rencana tindakan
selanjutnya
4.
Refleksi yaitu menjelaskan
setiap efek-efeknya dan kegagalan pelaksanaan. Rekomendasi ini hasil kolaborasi
antara guru/peneliti dan observer dengan mendiskusikan kelebihan dan kekurangan
serta pengaruhnya dalam kegiatan mengajar pada setiap siklus selama penelitian
dilaksanakan
5.
Diskusi balikan dilakukan
antara peneliti dan observer terhadap hasil observasi. Peneliti dan observer
juga mendiskusikan dengan siswa dimana siswa diminta mengisi angket untuk
mengetahui kesulitan siswa dalam mengerjakan tugas pada setiap siklus. Hasil diskusi
balikan merupakan refleksi dari hasil observasi yang kemudian di
interprestasikan dan dijadikan rencana untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan
yang ada pada siklus yang telah dilaksanakan, untuk diterapkan pada siklus
selanjutnya.
Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data yang diinginkan, maka dalam penelitian ini
digunakan instrumen sebagai berikut:
a. Tes dalam bentuk LKS
Hasil laporan dalam pengerjaan LKS digunakan untuk menentukan tingkat
penguasaan dan daya serap siswa terhadap materi yang telah dipelajari dan
ketuntasan belajarnya, sebagai diagnosa dan sebagai input balikan bagi
peneliti, sedangkan LKS digunakan sebagai materi untuk melaksanakan diskusi
secara berkelompok, soal LKS sama dengan soal pilihan ganda dan essay hanya
urutan nomor soal dirubah.
b. Pedoman Observasi keaktifan siswa,
digunakan untuk membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa
c. Daftar Chek adalah posisi tempat
duduk siswa pada saat melaksanakan proses pembelajaran dan membantu observer
dalam menentukan keaktifan siswa
d. Format keaktifan siswa
e. Angket respon siswa digunakan untuk
mengukur respon dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan
oleh peneliti
f. Diskusi balikan antara observer
dengan peneliti
Prosedur Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh pada saat tahapan tindakan diolah dan dianalisis
melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Kategori Data, dalam penelitian ini
adalah tingkat penguasaan siswa dan daya serap kelas setelah mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
b. Interprestasi Data, indikator
keberhasilan penelitian siklus ini adalah ketuntasan belajar dan daya serap
klasikal (DSK). Suatu kelas disebut telah tuntas belajarnya bila kelas tersebut
telah mencapai 85%, siswa mencapai daya serap > 65% (Depdikbud RI,1994).
c. Validasi Data, agar data yang
diperoleh sahih dan handal, maka dilakukan teknik triangulasi yaitu dengan
melakukan beberapa siklus antara lain:
�
Melakukan pengecekan ulang
dari data yang telah terkumpul untuk kelengkapannya
�
Melakukan pengolahan dan analisis
dari data yang terkumpul
�
Membuat perangkat test
�
Pembuatan lembar observasi
untuk guru/peneliti dan siswa, pedoman wawancara dan angket serta instrumen
lainnya
d.
Pelaksanaan tindakan
�
Menerapakan model
pembelajaran
�
Mengobservasi aktivitas
siswa dan guru/peneliti selama berlangsungnya proses pembelajaran, dilakukan
oleh observer
�
Melakukan tes setelah
pembelajaran setiap kali pertemuan
�
Melakukan tes setelah
selesai setiap kali siklus dan menyebarkan angket untuk mengetahui tanggapan
siswa terhadap model ini.
e.
Evaluasi, digunakan untuk
mengukur respon dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang dilakukan
oleh peneliti dalam menentukan keaktifan siswa
f.
Analisis dan Refleksi,
yaitu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang sudah dan yang belum
terpecahkan selama siklus pembelajaran berlangsung, guna merinci siklus
pembelajaran yang telah dilakukan dan meninjau kembali efektifitas pembelajaran
berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti untuk menentukan siklus
selanjutnya berdasarkan hasil analisis refleksi yang dilakukan secara
kolaborasi antara observer dan peneliti.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Deskripsi Kondisi Awal / Pra Siklus
Kondisi awal
adalah tindakan awal pembelajaran sebelum dilakukan tindakan penelitian. Hasil belajar
atau tes pra siklus dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan awal hasil
belajar siswa. Hasil prasiklus diperoleh melalui tes sebelum menggunakan Metode
Pembelajaran Resitasi (Penugasan).
Berdasarkan
hasil tes awal didapat bahwa rata-rata hasil belajar siswa masih di bawah
kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 85. Faktor dari
guru berupa terlalu monotonnya pemakaian metode ceramah sehingga siswa merasa
bosan dan tidak aktif dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajarnya masih
kurang memuaskan. Dari 35 siswa yang tidak tuntas sebanyak 82.85 % atau 29
siswa, dan siswa yang tuntas sebanyak 17.13 % atau 6 siswa. Nilai tertinggi
yang diperoleh adalah 80 dan nilai yang terendah adalah 50. Nilai rata-rata
kelas yaitu 58.85%. Hal ini dapat dilihat dari table hasil nilai siswa pada
saat pelaksanaan kegiatan dan pengerjaan test yang diberikan juga tabel
distribusi frekuensi hasil belajar pra siklus adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Daftar Nilai Pra Siklus
|
NO |
NAMA |
NILAI |
|
1 |
Abdurrofi
Fadlurrochman |
70 |
|
2 |
Adinda
Rifda Fakhira Nadhifa |
60 |
|
3 |
Agnino
Muhammad Kevin |
55 |
|
4 |
Angel
Theresa |
74 |
|
5 |
Annisa
Verena Justicia |
73 |
|
6 |
Astrid
Kemala Dewi |
80 |
|
7 |
Asyfahani
Dini Reina |
67 |
|
8 |
Azka
Hafizha Hidayat |
50 |
|
9 |
Cut
Difa Aulya Oktaviani Yoesoef |
57 |
|
10 |
Daniar
Abdurrahman |
60 |
|
11 |
Danyanisa
Aslamiyah Avianda |
53 |
|
12 |
Dila
Nur Fadhilah |
75 |
|
13 |
Erlangga
Wicaksono |
50 |
|
14 |
Feby
Dita Pujianti |
55 |
|
15 |
Hellen
Wijaya |
50 |
|
16 |
Luthfia
Thahir |
58 |
|
17 |
Meidiva
Amanda |
64 |
|
18 |
Meyliani
Latifah |
50 |
|
19 |
Mochammad
Fajri Somantri |
80 |
|
20 |
Mochammad
Febrianto Ar Rafi |
50 |
|
21 |
Muhamad
Rafli Susanto |
53 |
|
22 |
Muhammad
Azka Fahreza |
53 |
|
23 |
Muhammad
Fauzan Nurhakim |
57 |
|
24 |
Muhammad
Samudra Anugrah |
50 |
|
25 |
Nabilla
Zalfa Adiba |
55 |
|
26 |
Putri
Aulia Pitaloka |
55 |
|
27 |
Rachmat
Fajar Fadillah |
55 |
|
28 |
Radilla
Lailatussalma Sayyidina |
50 |
|
29 |
Rifa
Aqila Saputri |
58 |
|
30 |
Rizky
Wahyu Nugroho |
53 |
|
31 |
Sarah
Azka Reviananda |
55 |
|
32 |
Satya
Yuqadirgha |
67 |
|
33 |
Shabrina
Putri Aprilia |
63 |
|
34 |
Shafa
Adinda Nurgina |
50 |
|
35 |
Tiara
Asyifa Setiawan |
55 |
|
NILAI
RATA - RATA |
58,85 |
|
Klasifikasi Nilai
Hasil Belajar
|
No |
Skor |
Kriteria |
Jumlah siswa |
Presentasi
(%) |
|
1 |
80 - 100 |
Baik Sekali |
2 |
5,71% |
|
2 |
70 - 79 |
Baik |
4 |
11,42% |
|
3 |
60 - 69 |
Cukup Baik |
6 |
17,14% |
|
4 |
50 - 59 |
Kurang Baik |
23 |
65,71% |
|
Jumlah |
35 |
|
||
Tingkat Ketuntasan
Belajar Pra Siklus
|
Rentang |
Kategori |
Pra Siklus |
Keterangan |
|
|
Frekuensi |
Persentase |
|||
|
80 - 100 |
Tinggi |
2 |
5,71% |
Tuntas |
|
70 - 79 |
Sedang |
4 |
11,42% |
|
|
60 - 69 |
Rendah |
6 |
17,14% |
Tidak Tuntas |
|
50 - 59 |
Sangat Rendah |
23 |
65,71% |
|
|
Total |
|
35 |
100% |
|
|
Nilai Max |
|
80 |
||
|
Nilai Min |
|
50 |
||
|
Rata-rata |
|
58,85 |
||
|
KKM |
|
75 |
||
Pada pelaksanaan prasiklus hasil
evaluasi menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum tuntas belajarnya, hal
tersebut dikarenakan oleh:
a.
Metode yang monoton sehingga banyak siswa yang tidak
memperhatikan penjelasan dari guru.
b.
Siswa kurang aktif, karena siswa hanya mendengarkan
penjelasan dari guru, karena guru pada pra siklus ini menggunakan metode
ceramah sehingga siswa banyak yang bosan.
c.
Siswa tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapat
mereka tentang pengetahuan yang mereka dapatkan selama proses pembelajaran.
d.
Masih banyak yang bermain sendiri dan masih banyak
yang pasif.
e.
Tidak mucul antusia siswa terhadap pembelajaran
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut maka
peneliti perlu memperbaiki pada siklus I. Bentuk perbaikan pembelajaran siklus
I akan dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran Resitasi dengan
penjelasan yang lebih diperjelas agar siswa dapat memahami inti dari kegiatan
pembelajaran dan dapat mencapai tujuan dari pembelajaran.
Deskripsi Hasil Penelitian
Hasil
penelitian dikemukakan berdasarkan penilaian dari setiap siklus dengan
mengambil data tentang tingkat kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas. Sebagai
tindak lanjut untuk membantu memecahkan masalah atau kesulitan siswa dalam
belajar, maka perlu melakukan perencanaan perbaikan pembelajaran dengan mendata
penyebab kesulitan siswa dalam memahami dan mengerti, penyebab pembelajaran
belum berhasil adalah :
1.
Sebagaian besar siswa belum mengerti tentang materi
pembelajaran
2.
Penggunaan media belum optimal
3.
Pembelajaran kurang memotivasi anak lebih aktif
4.
Siswa mempunyai rasa malas, jenuh dan bosan
Dengan
demikian peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan Strategi
pembelajaran dengan model Resitasi (Penugasan). Pelaksanaan penelitian ini
dilakukan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Pada siklus I
dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan dan pada siklus II dilaksanakan dalam 4
kali pertemuan. Dari kedua siklus tersebut, maka dapat diketahui sejauh mana
tingkat keberhasilan peserta didik dalam pelaksanaan tindakan dalam
pembelajaran fisika melalui Metode Resitasi (Penugasan) Pada akhir tiap siklus
dilaksanakan evaluasi dan refleksi yang berkaitan dengan meningkatnya hasil
belajar fisika peserta didik.
Analisis Data Persiklus
Siklus I
a.
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran (RPP), soal tes formatif dan
alat-alat pengajaran yang mendukung, dan merumuskan scenario pembelajaran
dengan memberikan penjelasan mengenai rencana proses pembelajaran.
b.
Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Persiapan yang dilakukan untuk mengembangkan
model pembelajaran ini adalah menyusun rencana pelaksanaan tindakan. Proses
pembelajaran diikuti oleh para siswa, dimulai dengan menginformasikan materi
yang akan dibahas, tujuan pembelajaran dan metode pembelajaran yang akan
digunakan. Siswa diharapkan bisa mencari informasi dan menuliskan temuannya
mengenai materi yang akan dibahas.
DAFTAR NILAI
SIKLUS I
|
NO |
NAMA |
NILAI
|
|
1 |
Abdurrofi Fadlurrochman |
77 |
|
2 |
Adinda Rifda Fakhira Nadhifa |
70 |
|
3 |
Agnino Muhammad Kevin |
73 |
|
4 |
Angel Theresa |
80 |
|
5 |
Annisa Verena Justicia |
78 |
|
6 |
Astrid Kemala Dewi |
84 |
|
7 |
Asyfahani Dini Reina |
77 |
|
8 |
Azka Hafizha Hidayat |
65 |
|
9 |
Cut Difa Aulya Oktaviani Yoesoef |
65 |
|
10 |
Daniar Abdurrahman |
75 |
|
11 |
Danyanisa Aslamiyah Avianda |
70 |
|
12 |
Dila Nur Fadhilah |
80 |
|
13 |
Erlangga Wicaksono |
66 |
|
14 |
Feby Dita Pujianti |
76 |
|
15 |
Hellen Wijaya |
65 |
|
16 |
Luthfia Thahir |
70 |
|
17 |
Meidiva Amanda |
75 |
|
18 |
Meyliani Latifah |
75 |
|
19 |
Mochammad Fajri Somantri |
87 |
|
20 |
Mochammad Febrianto Ar Rafi |
78 |
|
21 |
Muhamad Rafli Susanto |
78 |
|
22 |
Muhammad Azka Fahreza |
83 |
|
23 |
Muhammad Fauzan Nurhakim |
76 |
|
24 |
Muhammad Samudra Anugrah |
75 |
|
25 |
Nabilla Zalfa Adiba |
75 |
|
26 |
Putri Aulia Pitaloka |
87 |
|
27 |
Rachmat Fajar Fadillah |
80 |
|
28 |
Radilla Lailatussalma Sayyidina |
78 |
|
29 |
Rifa Aqila Saputri |
83 |
|
30 |
Rizky Wahyu Nugroho |
69 |
|
31 |
Sarah Azka Reviananda |
70 |
|
32 |
Satya Yuqadirgha |
78 |
|
33 |
Shabrina Putri Aprilia |
80 |
|
34 |
Shafa Adinda Nurgina |
75 |
|
35 |
Tiara Asyifa Setiawan |
75 |
|
NILAI
RATA - RATA |
75,65 |
|
Dari table
nilai diatas dapat dilihat adanya peningkatan hasil nilai siswa dari kegiatan
pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran, dapat dilihat secara jelas
dari table klasifikasi dibawah ini:
Klasifikasi
Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I
|
No |
Skor |
Kriteria |
Jumlah siswa |
Presentasi
(%) |
|
1 |
80 - 100 |
Baik Sekali |
9 |
25,71% |
|
2 |
70 - 79 |
Baik |
21 |
60,00% |
|
3 |
60 - 69 |
Cukup Baik |
5 |
14,28% |
|
4 |
50 - 59 |
Kurang Baik |
|
|
|
Jumlah |
35 |
|
||
Tingkat
Ketuntasan Belajar� Siklus I
|
Rentang |
Kategori |
Siklus I |
Keterangan |
|
|
Frekuensi |
Persentase |
|||
|
80 - 100 |
Tinggi |
9 |
25,71% |
Tuntas |
|
70 - 79 |
Sedang |
21 |
60,00% |
|
|
60 - 69 |
Rendah |
5 |
14,28% |
Tidak Tuntas |
|
50 - 59 |
Sangat Rendah |
|||
|
Total |
35 |
|||
|
Nilai Max |
80 |
|||
|
Nilai Min |
65 |
|||
|
Rata-rata |
75,65 |
|||
|
KKM |
75 |
|||
Berdasarkan
tabel hasil nilai dan klasifikasi� di
atas dapat diketahui bahwa persentase siswa mencapai nilai indikator
keberhasilan yang diharapkan dari kriteria ketuntasan, namun hasil nilai yang
dicapai belum seluruhnya diperoleh oleh siswa, nilai rata � rata baru mencapai
75.65%, dari 35 siswa, ada 9 anak yang masuk pada kategori baik sekali atau
sebesar 25.71 % dan anak yang ter masuk pada kategori baik atau seanyak 21
siswa atau 60 %, sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik ada 5 anak
atau sebesar 14.28 %, dari berbagai siklus belum dinyatakan berhasil apabila
belum mencapai ketuntasan minimal 85% dan siklus harus dilanjutkan.
c.
Observasi
Observasi atau pengamatan ditunjukan pada subyek penelitian
yaitu siswa sebagai responden. Adapun aspek yang diamati adalah keaktifan
siswa, perhatian siswa, kedisiplinan dan penugasan. Kegiatan pengamatan ini
dilaksanakan selama kegiatan perbaikan pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan lembar observasi.
Berdasarkan data diatas menunjukan bahwa
keaktifan siswa dengan pengembangan model pembelajaran ini belum mencapai
maximal, hal ini disebabkan oleh karena siswa belum terbiasa dan belum memahami
cara-cara pelaksanaannya. Kondisi tersebut disebabkan juga karena sebagian
siswa masih belum terbiasa dalam menggunakan model pembelajaran yang baru, pada
saat kerja kelompok pun anggota kelompok belum kompak dan adanya perbedaan
kebiasaan pemberian tugas pada metode konvensional dikerjakan dirumah, sehingga
pemberian tugas yang dikerjakan dikelas pada tindakan I ini membuat siswa belum
terbiasa sehinnga proses pembelajaran tidak optimal, namun sudah ada perubahan
dari hasil nilai yang dicapai sebelumnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil
perbaikan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Resitasi bagi siswa
dapat meningkatkan hasil belajar meskipun belum sempurna. Hasil yang diperoleh
pada siklus I belum mencapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan, maka
masih perlu dilaksanakan siklus selanjutnya yaitu siklus II.
d.
Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil tes selama
berlangsung pembelajaran terhadap situasi kelas dan prestasi siswa pelaksanaan
kegiatan pembelajaran pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, peneliti
dapat menemukan kelemahan pembelajaran sebagai berikut :
�
Siswa yang berkemampuan rendah masih kurang aktif
dalam memahami materi pelajaran dan dalam kelompok terlihat banyak diam selama
kegiatan berlangsung.
�
Siswa yang aktif mencatat dan memahami pembelajaran pun
belum maksimal dan masih banyak yang belum bisa terfokus pada materi
pembelajaran.
�
Siswa belum sepenuhnya antusias dalam mengikuti
pembelajaran dan masih banyak yang ribut sendiri sehingga materi yang dia
dapatkan tidak sepenuhnya dapat dipahami.
�
Siswa masih belum bisa mengerjakan tugas sesuai dengan
perintah yang disampaikan, karena kurang memperhatikan.
Refleksi terhadap hasil
belajar siswa dilihat dari hasil test yang menunjukan adanya peningkatan hasil
belajar. pada siklus I namun masih perlu ditingkatkan lagi agar pencapaian
ketuntasan belajar siswa bisa mencapai lebih atau di atas 85%. Hasil yang
diperoleh pada siklus I ini belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang
diharapkan sebesar 85% siswa tuntas belajar, untuk itu masih perlu diadakan perbaikan
terhadap pembelajaran yang dilaksanakan pada tahap berikutnya yaitu siklus yang
kedua.
Siklus II
a.
Tahap perencanaan
Proses pembelajaran pada tindakan II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan
tindakan sebelumnya yaitu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, membuat
LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar
siswa. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran guru
merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal
tentang materi pembelajaran selanjutnya. Memasuki kegiatan inti guru
menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan
soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk
mengukur keberhasilan mengajar siswa juga sebagai umpan balik dan perbaikan,
maka guru melaksanakan evaluasi.
b.
Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II, dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada
rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan
atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Selama siswa
melaksanakan pembelajaran, peneliti terus berkeliling mengarahkan siswa,
membimbing siswa yang kesulitan sampai siswa selesai melaksanakan percobaan.
DAFTAR NILAI SIKLUS II
|
NO |
NAMA |
NILAI |
|
1 |
Abdurrofi Fadlurrochman |
87 |
|
2 |
Adinda Rifda Fakhira Nadhifa |
85 |
|
3 |
Agnino Muhammad Kevin |
88 |
|
4 |
Angel Theresa |
85 |
|
5 |
Annisa Verena Justicia |
85 |
|
6 |
Astrid Kemala Dewi |
87 |
|
7 |
Asyfahani Dini Reina |
80 |
|
8 |
Azka Hafizha Hidayat |
84 |
|
9 |
Cut Difa Aulya Oktaviani Yoesoef |
79 |
|
10 |
Daniar Abdurrahman |
80 |
|
11 |
Danyanisa Aslamiyah Avianda |
85 |
|
12 |
Dila Nur Fadhilah |
87 |
|
13 |
Erlangga Wicaksono |
85 |
|
14 |
Feby Dita Pujianti |
82 |
|
15 |
Hellen Wijaya |
83 |
|
16 |
Luthfia Thahir |
75 |
|
17 |
Meidiva Amanda |
85 |
|
18 |
Meyliani Latifah |
87 |
|
19 |
Mochammad Fajri Somantri |
90 |
|
20 |
Mochammad Febrianto Ar Rafi |
85 |
|
21 |
Muhamad Rafli Susanto |
90 |
|
22 |
Muhammad Azka Fahreza |
90 |
|
23 |
Muhammad Fauzan Nurhakim |
84 |
|
24 |
Muhammad Samudra Anugrah |
80 |
|
25 |
Nabilla Zalfa Adiba |
80 |
|
26 |
Putri Aulia Pitaloka |
90 |
|
27 |
Rachmat Fajar Fadillah |
85 |
|
28 |
Radilla Lailatussalma Sayyidina |
80 |
|
29 |
Rifa Aqila Saputri |
85 |
|
30 |
Rizky Wahyu Nugroho |
75 |
|
31 |
Sarah Azka Reviananda |
80 |
|
32 |
Satya Yuqadirgha |
85 |
|
33 |
Shabrina Putri Aprilia |
90 |
|
34 |
Shafa Adinda Nurgina |
85 |
|
35 |
Tiara Asyifa Setiawan |
87 |
|
NILAI RATA - RATA |
84,28 |
|
|
Rentang |
Kategori |
Siklus
II |
Keterangan |
|
|
Frekuensi |
Persentase |
|||
|
80 - 100 |
Tinggi |
32 |
91,42% |
Tuntas |
|
70 - 79 |
Sedang |
3 |
8.57% |
|
|
60 - 69 |
Rendah |
|||
|
50 - 59 |
Sangat Rendah |
|||
|
Total |
35 |
|||
|
Nilai Max |
90 |
|||
|
Nilai Min |
95 |
|||
|
Rata-rata |
84.28 |
|||
|
KKM |
75 |
|||
Berdasarkan tabel
di atas dapat diketahui bahwa persentasi siswa yang mencapai nilai sesuai dengan
indikator keberhasilan yang diharapkan yaitu ≥ 75 dari KKM atau nilai di
atas 75 adalah 84,28 %. Dari 35 siswa, terdapat 32 siswa yang masuk pada
kategori baik sekali atau sebesar 91.42 %, dan siswa yang mendapat nilai
kategori baik terdapat 3 siswa atau sebesar 0.89 %, sedangkan siswa yang masuk
pada kategori cukup baik dan anak yang pada kategori kurang baik sudah tidak
ada lagi. Melihat hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa
menunjukkan hasil rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85%.
Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar tersebut telah memenuhi kriteria
ketuntasan minimal yaitu nilai rata-rata 85 dan ketuntasan 85% sehingga proses
perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus II.
c. Observasi
Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil
belajar siswa, maka penelitian difokuskan pada upaya peningkatan hasil belajar.
Seperti pada siklus sebelumnya untuk melakukan pengamatan terhadap situasi
kelas pada saat pembelajaran, peneliti mengamati selama pembelajaran
berlangsung. Proses berjalannya pembelajaran pada siklus yang ke II ini siswa
merasa sangat senang dengan menggunakan metode pembelajaran resitasi karena
mereka terlihat menikmati pembelajaran tersebut dengan aktif dalam pembelajaran
dan mereka juga memperoleh nilai yang maksimal.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil pengamatan, selama berlangsung pembelajaran terhadap
situasi kelas dan hasil belajar siswa pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada
siklus II, peneliti menemukan perbedaan dari mulai pra siklus sampai dengan
siklus yang ke II ini.
Adapun berbagai keunggulan dengan menggunakan metode pembelajaran
Resitasi (penugasan) antara lain :
� lebih
merangsang siswa untuk belajar lebih banyak, baik pada waktu di kelas
maupun di luar kelas.
� lebih meyakinkan tentang apa yang
dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan
tentang apa yang dipelajari.
� membina kebiasaan siswa untuk mencari
dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi
Hasil dari
pengamatan siklus II dianalisis oleh peneliti untuk mendapatkan suatu
kesimpulan yang juga diambil dari siklus sebelumnya. Diharapkan refleksi ini
membenarkan hipotesis yang peneliti ajukan. Adapun hasil dari pelaksanaan
pembelajaran pada siklus II telah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar
siswa dibandingkan dengan pelaksanaan pada siklus I dan hasil pada siklus II
juga telah memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal ataupun indikator
keberhasilan yang telah ditentukan. Untuk itu penelitian tindakan dinyatakan
berhasil karena seluruh siswa yang berjumlah 35 siswa hanya 3 anak yang
tertinggal dan itupun mereka sudah masuk dalam kategori baik.
Pada siklus
II guru telah menggunakan metode pembelajaran resitasi dengan baik dilihat dari
aktifitas siswa, perhatian serta keaktifan terhadap pembelajaran sudah
mengalami peningkatan. Maka tidak perlu dilakukan revisi terlalu banyak, tetapi
yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan
mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pelaksanaan proses
pembelajaran selanjutnya dengan menggunakan metode pembelajaran Resitasi
(penugasan) dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran
dapat tercapai.
Setelah
dilakukan refleksi dan dianalisis maka peneliti mengadakan pembahasan antar
siklus yang membahas tentang perolehan nilai post test yang diperoleh selama
proses pembelajaran. Dilihat dari ketuntasan belajar siswa sebelum menggunakan
metode pembelajaran Resitasi (penugasan) dan masih menggunakan metode ceramah
untuk mengawali penelitian sehingga guru mengetahui hasil belajar siswa.
Setelah dilakukan evaluasi pada pra siklus peneliti mencoba menggunakan metode
pembelajaran Resitasi (penugasan). Perbaikan pembelajaran pada siklus I
difokuskan pada aktivitas siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan
metode pembelajaran Resitasi (penugasan). Karena siswa belum mengetahui tentang
metode yang digunakan, kemudian mereka juga belum terbiasa. Pada siklus I masih
banyak anak-anak yang bermain sendiri dan masih gaduh ketika teman-teman yang
lain mencoba untuk menjelaskan materi yang mereka pahami. Hal ini menunjukkan
bahwa pembelajaran harus diperbaiki dan dilanjut dengan pembelajaran siklus II.
Sedangkan dari hasil evaluasi perbaikan Siklus II, hasil pembelajaran dan nilai
rata-rata siswa menunjukkan adanya peningkatan. Hal tersebut dibuktikan dengan
tercapainya hasil ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 85%. Dari 35
siswa semua bisa dikatakan tuntas KKM.
Dari proses
peningkatan hasil belajar tersebut tentunya guru harus ekstra keras memunculkan
variasi di dalam proses pembelajaran maupun motivasi untuk siswa agar mereka
tidak jenuh dan tidak malas-malasan.
Tercapainya
indikator keberhasilan yang telah ditetapkan ini disebabkan oleh beberapa
faktor yaitu diperbaikinya proses belajar mengajar yang dilaksanakan
berdasarkan hasil refleksi siklus I dan penyempurnaan penggunaan metode
pembelajaran Resitasi (penugasan) . Perbaikan dan penyempurnaan siklus II
membantu siswa agar lebih aktif siswa dan lebih mudah dalam mengungkapkan
pendapat dalam berlangsungnya proses pembelajaran.
Dengan
demikian siklus selanjutnya dapat dihentikan atau tidak perlu dilaksanakan.
Sehingga hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa metode pembelajaran Resitasi
(penugasan) dapat diterima dan terbukti berhasil dalam meningkatkan hasil
belajar IPA Fisika dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung Tahun ajaran
2018/2019
KESIMPULAN
Dalam
penggunaan Metode Resitasi ini, siswa mempunyai kesempatan untuk saling membandingkan
dengan hasil pekerjaan orang lain serta dapat mempelajari dan mendalami hasil
uraian orang lain. Dengan demikian akan memperluas, memperkaya, dan memperdalam
pengetahuan serta pengalaman siswa.
����������� Metode
ini sangat baik digunakan terhadap bahan pelajaran yang terlalu banyak
sementara waktu penyampaian sedikit. Artinya, banyaknya bahan yang tersedia
dengan waktu kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai sesuai batas waktu
yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya guru gunakan untuk mengatasinya.
Berdasarkan
hasil penelitian, diperoleh gambaran tentang adanya perbedaan nyata antara
hasil belajar siswa yang diberikan metode resitasi dengan hasil belajar siswa
yang tidak diberikan metode resitasi. Artinya hasil belajar siswa yang diajar dengan
memberikan metode resitasi lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang tidak
diberikan metode resitasi. Siswa yang diberikan metode resitasi setelah proses
belajar mengajar akan tahu sasaran yang akan mereka capai, sehingga dapat
mengarahkan mereka dalam belajarnya. Lain halnya dengan siswa yang tidak
diberikan metode resitasi, mereka tidak tahu tujuan apa yang diharapkan dicapai
dalam proses belajarnya. Dengan demikian pembelajaran menjadi kurang efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Susanto. (2013). Teori
Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Agus Suprijono. 2013.
Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Alipandie, Imansyah, Didaktik
Metodik Pendidikan,� (Surabaya: Penerbit
Usaha Nasional, 1984),
Ali, Muhammad. Penelitian
Kependidikan : Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa, 1987
Arief Armai, 2002. Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,. Jakarta: Ciputat Press.
Arikunto, Suharsimi. 2006.
Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Ahmadi, H. A. & Supatmo,
A. (1991) Ilmu alam dasar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta
Abu Ahmadi. 1986. Metode
Khusus Pendidikan Agama Islam, PT. Bima Aksara, Jakarta.
Abu Ahmadi. 1992. Teknik
Belajar Yang Tepat. Semarang: Mutiara Permata. Wijaya.
Depdikbud. 1999. Pedomen
Penulisan Karya Ilmiah.Malang: Universitas Negeri Malang
Dimyati & Mudjiono. 2013.
Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar, 2004, Proses
Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara
Imam Syah Alipandie (1990:91)
penerapan metode resitasi untuk meningkatkan motivasi .... Dedaktik Metodik
Pendidikan Umum
Jihad, Asep dan Abdul Haris.
(2012). Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta : Multi Pressindo.
Kemmis dan Mc. Taggart (dalam
Hopkins. 1993). Macam-macam Media pembelajaran
Munadi. 2008. Dalam Rusman.
2013. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. (hal. 124). Bandung:
Alfabeta.
N. K. Roestiyah.2002. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Sudjana, Nana. (1989).
Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sujana, Nana, 1989, Cara
Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar, IKIP: Bandung
Sumarsono, dkk. 2005. Metode
Student Facilitator ... dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.
Syaiful Bahri Djamarah dan
Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Suyanto, M., 2003, Multimedia
Alat untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing, Andi Offset,Yogyakarta.
Winarno Surachmad. 1994.
Pengantar Penelitian Ilmiah:Dasar Metode dan Teknik. Bandung:Tarsito.
Winkel, W.S. (2009). Psikologi
Pengajaran. Jakarta : Gramedia.
Zuhairini, dkk, 1998,
Metodologi Ahmadi, Abu dan Unbiyatun, Nur. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipt