PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN RESITASI (PENUGASAN) DALAM UPAYA MENINGKATKAN BERFIKIR KRITIS SISWA DALAM MEMAHAMI PELAJARAN FISIKA MATERI LISTRIK STATIS DIKELAS XII MIPA 6 / SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2018/2019

 

Atti Suharyati �

SMA Negeri 4 Bandung

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 10-10-2022

Revised: 21-10-2022

Accepted: 29-10-2022

 

Keywords: Student Learning Ability, Resistance Method

 

 

Kata Kunci: Kemampuan Belajar Siswa, Metode Resistasi.

 

 

Abstract

This study aims to improve students' ability to understand the subject matter presented and improve student learning outcomes through the recitation learning method. The type of data in this study is quantitative data obtained from learning outcomes tests and qualitative data obtained through observation sheets. The results showed that the percentage of students' learning completeness obtained, increased ability by using learning models supported by the results of teacher and student observations. After an evaluation in the pre-cycle, the researcher tried to use the Recitation learning method (assignment) so that it could get results in the first cycle, it can be seen that the percentage of students achieved the indicator value of success with the average value only reaching 75.65 Out of 35 students, 9 children were included in the category very good or 25.71% and children included in the good category or as many as 21 students or 60%, while students who entered the fairly good category there were 5 children or 14.28%. Of the 35 students there are still 5 students who did not complete the KKM. However, in the second cycle, the percentage of students who achieved the score according to the success indicator was 84.65%. Of the 35 students, there are 32 students who fall into the very good category or 91.42%, and students who get a good category score are 3 students or 8.57% of students who fall into the fairly good category and children who are in the poor category are no longer there . Seeing these results, it can be concluded that student learning outcomes show average results and classical learning completeness of 85%. This shows that the learning outcomes have met the minimum completeness criteria, namely the average value of 85 and completeness of 85% so that the learning improvement process is declared successful and complete in cycle II. The recitation learning method provides opportunities for students to participate actively and utilize learning resources optimally. Students who are given the recitation method after the teaching and learning process will know the goals they will achieve, so that they can direct them in their learning. It is different with students who are not given a recitation method, they do not know what goals are expected to be achieved in the learning process. The Recitation learning method (assignment) is acceptable and has proven successful in improving physics learning outcomes in Class XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung in the 2018/2019 academic year.

 

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan dan meningkatkan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran resitasi. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang diperoleh dari tes hasil belajar dan data kualitatif diperoleh melalui lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan persentase ketuntasan belajar siswa yang diperoleh, peningkatan kemampuan dengan penggunaan model pembelajaran ditunjang dengan hasil observasi guru dan siswa. Setelah dilakukan evaluasi pada pra siklus peneliti mencoba menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan) sehingga dapat memperoleh hasil pada siklus I dapat diketahui bahwa persentase siswa mencapai nilai indikator keberhasilan dengan nilai nilai rata � rata baru mencapai 75.65 Dari 35 siswa, 9 anak yang masuk pada kategori baik sekali atau sebesar 25.71 % dan anak yang termasuk pada kategori baik atau seanyak 21siswa atau 60 %, sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik ada 5 anak atau sebesar 14.28%. Dari 35 siswa masih ada 5 siswa yang tidak tuntas KKM. Namun pada siklus II persentasi siswa yang mencapai nilai sesuai dengan indikator keberhasilan adalah 84,65 %. Dari 35 siswa, terdapat 32 siswa yang masuk pada kategori baik sekali atau sebesar 91.42 %, dan siswa yang mendapat nilai kategori baik terdapat 3 siswa atau sebesar 8.57 % siswa yang masuk pada kategori cukup baik dan anak yang pada kategori kurang baik sudah tidak ada lagi. �Melihat hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa menunjukkan hasil rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar tersebut telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu nilai rata-rata 85 dan ketuntasan 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus II. Metode pembelajaran resitasi memberi peluang kepada siswa untuk berpartisipasi secara aktif dan pemanfaatan sumber daya pembelajaran secara optimal. Siswa yang diberikan metode resitasi setelah proses belajar mengajar akan tahu sasaran yang akan mereka capai, sehingga dapat mengarahkan mereka dalam belajarnya. Lain halnya dengan siswa yang tidak diberikan metode resitasi, mereka tidak tahu tujuan apa yang diharapkan dicapai dalam proses belajarnya. metode pembelajaran Resitasi (penugasan) dapat diterima dan terbukti berhasil dalam meningkatkan hasil belajar Fisika Dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung Tahun Pelajaran 2018/2019.

 

Corresponding Author: Atti Suharyati�

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah sebagai pendewasaan peserta didik yang menempatkan proses belajar mengajar sebagai inti permasaalahan sekaligus kunci keberhasilan pendidikan. Salah satu diantara masalah besar dalam bidang pendidikan yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang masih didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan perserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik.

Siswa kurang di berikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistic (menyeluruh), kreatif, objektiv, dan logis sehingga dalam proses pembelajaran siswa menjadi pasif dan mengakibatkan rendahnya hasil belajar. Dalam pembenahan proses belajar mengajar diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan peningkatan kualiatis pembelajaran akan terlihat dalam hasil belajar yang diperoleh siswa.

Proses belajar mengajar yang baik menuntut siswa untuk lebih aktif sehingga proses belajar mengajar mencerminkan komunikasi dua arah, tidak semata-mata merupakan pemberian informasi searah dari guru mengembangkan mental siswa. Untuk meningkatkan proses pembelajaran disekolah guru harus dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Ada beberapa macam metode pembelajaran yang dapat digunakan antara lain: Tanya jawab, diskusi, dan model pembelajaran inovatif.

Dengan demikian ada dua pihak yang berinteraksi secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu antara guru dengan siswa. Guru berperan membantu siswa dalam proses belajar yaitu proses pengalihan pengetahuan dan perubahan terhadap tingkah laku. Di dalam proses belajar mengajar interaksi antara guru dengan siswa sangatlah penting, karena interaksi yang terjadi ini akan mempengaruhi output dalam kegiatan belajar mengajar.

Keberhasilan pendidikan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk guru. Guru yang profesional akan selalu berupaya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Dalam upaya meningkatkan proses belajar, guru harus berupaya menciptakan strategi yang cocok, sebab dalam proses belajar mengajar yang bermakna, keterlibatan siswa sangatlah penting, hal ini sesuai dengan pendapat Muhamad Ali, (1983: 12) yang menyebutkan bahwa kadar pembelajaran akan bermakna apabila :

1.    Adanya keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar.

2.    Adanya keterlibatan intelektual-emosional siswa baik melalui kegiatan menganalisa, berbuat dan pembentukan sikap.

3.    Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar mengajar.

Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Fisika merupakan mata pelajaran yang dapat menumbuhkan kemampuan berpikir peserta didik yang berguna untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Fisika juga merupakan bagian dari sains yang mempelajari fenomena dan gejala alam pada benda-benda mati secara empiris, logis, sistematis, dan rasional yang melibatkan proses dan sikap ilmiah.

Fisika adalah proses yang membawa kita pada prinsip-prinsip umum yang mendeskripsikan bagaimana perilaku dunia fisik terjadi. Saat ini, pengajaran fisika di sekolah masih menekankan konsep-konsep fisika yang identik dengan persamaan dan rumus matematis. Banyaknya rumus dalam fisika menyebabkan banyak peserta didik yang menganggap bahwa fisika adalah mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari. Hal ini juga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa untuk pelajaran fisika. Hingga saat ini, permasalahan ini merupakan masalah klasik yang sering dijumpai para guru fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan pengajaran dalam proses pembelajaran, sehingga guru sebagai tenaga professional harus memiliki kemampuan untuk mengubah mindset peserta didik dengan menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan tidak membosankan, meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hasil belajarnya dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.Menurut Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses diamanatkan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi peserta didik dalam memahami dan mendalami suatu materi pembelajaran dengan menciptakan kondisi yang interaktif dan menyenangkan.

Sekolah merupakan bagian integral dari pelajaran IPA yang mendasari perkembangan teknologi dewasa ini, Perkembangan sains dan teknologi� tentu tidak dapat terlaksana tanpa dilandasi oleh ilmu �ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi,� Oleh karena itu seiring dengan semakin berkembangnya teknologi maka idealnya kualitas pembelajaran dikelas� semakin baik sehingga guru mampu membawa peserta didik kepada keberhasilan belajar, dengan kata lain kualitas pembelajaran di kelas dan� hasil� belajar peserta didik berbanding lurus dengan kemajuan teknologi. Sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, setiap sekolah/ madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan berdasarkan standart Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standart Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). Implementasi dari PP No. 19 membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk teknik dan prosedur penilaian yang dilaksanakan di kelas.

Guru mempunyai peranan yang penting yaitu membimbing dan mengarahkan siswa untuk melakukan pemusatan perhatian terhadap sesuatu yang diharapkan. Seorang guru harus peka terhadap kondisi dan keadaan siswa karena setiap siswa memiliki daya serap, kondisi dan minat yang berbeda. Guru harus memiliki metode mengajar yang baik dan tepat sesuai dengan materi yang disampaikan.

Berkenaan dengan hal itu maka perlu diupayakan model pembelajaran yang mendorong munculnya belajar bermakna pada para peserta didik, yakni bagaimana mereka mampu melibatkan diri secara fisik, mental dan intelektual dalam aktivitas belajar. Salah satu model yang dipilih adalah pembelajaran kooperatif. Ada banyak variasi yang dapat dilakukan guru dalam model pembelajaran kooperatif. Salah satu diantaranya adalah Pendekatan Konstektual dengan variasi metode berbasis masalah.

Penggunaan metode pembelajaran dalam pelajaran di kelas dapat menarik perhatian siswa karena metode pembelajaran ini memiliki berbagai komponen sehingga pembelajaran tidak membosankan. Menurut Suyanto (2003:1) metode pembelajaran ini dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan yang bermakna yang diharapkan dapat membantu mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan konteks situasi kehidupan nyata. Pembelajaran dengan peran serta lingkungan secara alami akan memantapkan pengetahuan yang dimiliki siswa. Belajar akan lebih bermanfaat dan bermakna jika seorang siswa mengalami apa yang dipelajarinya bukan hanya sekedar mengetahui.

Belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus dapat mengonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan cara mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki pada realita kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pengembangan metode pembelajaran ini dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik dari segi berbahasa maupun akan membuat pembelajaran lebih bervariasi.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1.    Bagaimana cara agar siswa mampu berfikir kritis dan meningkatkan dan hasil belajar siswa di SMA Negeri 4 Bandung yang masih rendah.

2.    Agar para peserta didik aktif bekerjasama dengan teman belajarnya dalam mempelajari pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan tanpa menunggu sajian dari guru.

3.    Bagaimana cara mengembangkan proses pembelajaran dengan model��� pembelajaran konstektual dengan variasi metode berbasis masalah

4.    Model pembelajaran konstektual diterapkan untuk konsep pembelajaran

5.    Cara memotivasi peserta didik pada pembelajaran IPA FISIKA yang mayoritas tergolong rendah.

Untuk memudahkan dalam pelaksanaan penelitian, rumusan masalah diperinci sebagai berikut:

1.    Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode resitasi (penugasan) untuk meningkatkan kemampuan siswa tentang materi Listrik Statis

2.    Bagaimanakah kemampuan siswa dalam pembelajaran tentang materi Listrik Statis melalui metode resitasi (penugasan)

 

METODA PENELITIAN

Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas dalam arti luas. Suharsimi Harikunto (2006: 2) memandang Penelitian Tindakan Kelas sebagai bentuk penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga penelitian harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran.

Penelitian Tindakan Kelas selain bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, juga untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemecahan berupa tindakan untuk mengatasi masalah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran dan upaya meningkatkan proses serta hasil belajar.

Metode penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau sering disebut dengan istilah dalam bahasa Inggris Classroom Action Research. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dan tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik pembelajaran tersebut dilakukan.

����������� �Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan terhadap kegiatan belajar, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Dalam buku Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Suharsimi Arikunto menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga kata yaitu penelitian, tindakan dan kelas. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1.    Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.

2.    Tindakan, menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.

3.    Kelas, dalam hal ini tidak terkait pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Yang dimaksud kelas di sini adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Penelitian Tindakan Kelas selain bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, juga untuk meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemecahan berupa tindakan untuk mengatasi masalah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran dan upaya meningkatkan proses serta hasil belajar. dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh guru di dalam kelas pada suatu objek yang dengan menggunakan rangkaian siklus kegiatan.

Desain atau rancangan Penelitian Tindakan Kelas secara umum mencakup empat langkah, yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan atau pelaksanaan, 3) observasi atau pengamatan, dan 4) refleksi. Keempat langkah ini dilakukan secara berurutan dan diidentifikasi menjadi sebuah siklus. Siklus dilakukan secara berulang dengan langkah yang sama mulai dari siklus 1, siklus 2, siklus 3, dan seterusnya. Proses pelaksanaan penelitian tindakan kelas dapat dirujuk dari beberapa model, tetapi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model siklus yang dikemukakan oleh Kemmis & Taggart yang terdiri atas: planning (menyusun perencanaan), acting (melaksanakan tindakan), observing (melaksanakan pengamatan), dan reflecting (melakukan refleksi), hasil refleksi ini kemudian dipergunakan untuk memperbaiki perencanaan (revise plan) berikutnya. Secara sederhana alur pelaksanaan tindakan kelas disajikan sebagai berikut:

Tempat / Waktu dan Subjek Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 4 Bandung yang beralamat di Jl. Gardujati No.20, Kb. Jeruk, Kec. Andir, Kota Bandung, Jawa Barat 40181 dan Waktu Penelitian ini dilakukan pada semester 5 (ganjil) di bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2018 dikelas XII MIPA 6 Tahun Ajaran 2018 / 2019.

Secara garis besar, prosedur tindakan dilakukan melalui kegiatan perencanaan (plan), tindakan (act), observasi (observe) dan refleksi (reflect). Adapun prosedur pengembangan model tindakan yang dilaksanakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan I dibawah ini:

Prosedur Penelitian tersebut dilaksanakan dalam lima tahapan yaitu:

1.    Rencana tindakan yaitu merumuskan perencanaan pengajaran setiap kali akan melaksanakan tindakan serta focus yang akan diamati selama pelaksanaan siklus terdiri dari aspek-aspek berikut:

�      Mengembangkan model pembelajaran pada pelajaran Fisika dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung disesuaikan dengan silabus dan rencana pengajaran yang telah disepakati dengan observer.

�      Perubahan-perubahan yang terjadi pada hasil belajar dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung, hasil belajar yang diamati antara lain aktivitas siswa dalam� menyimak, bertanya dan mengerjakan tugas secara mandiri, menjawab pertanyaan dari guru ataupun dari siswa lain.

�      Tanggapan observer dan siswa tentang kendala-kendala yang dihadapi selama mengembangkan model pembelajaran ini.

2.    Pelaksanaan tindakan�� yaitu praktek pembelajaranyang nyata dilakukan oleh guru/peneliti dan siswa berdasarkan rencana tindakan yang telah disusun sebelumnya.

3.    Observasi Pelaksanaan adalah proses mendokumentasi pengaruh, kendala, tindakan serta persoalan yang mungkin ada pada saat pembelajaran berlangsung, observer mengamati proses pembelajaran dengan mencatat kegiatan yang dilaksanakan oleh peneliti dan siswa serta mencatat kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti dalam mengembangkan model pembelajaran ini. Hasil observasi itu mendasari refleksi untuk siklus yang telah dilakukan dan dijadikan pertimbangan untuk menyusun rencana tindakan selanjutnya

4.    Refleksi yaitu menjelaskan setiap efek-efeknya dan kegagalan pelaksanaan. Rekomendasi ini hasil kolaborasi antara guru/peneliti dan observer dengan mendiskusikan kelebihan dan kekurangan serta pengaruhnya dalam kegiatan mengajar pada setiap siklus selama penelitian dilaksanakan

5.    Diskusi balikan dilakukan antara peneliti dan observer terhadap hasil observasi. Peneliti dan observer juga mendiskusikan dengan siswa dimana siswa diminta mengisi angket untuk mengetahui kesulitan siswa dalam mengerjakan tugas pada setiap siklus. Hasil diskusi balikan merupakan refleksi dari hasil observasi yang kemudian di interprestasikan dan dijadikan rencana untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus yang telah dilaksanakan, untuk diterapkan pada siklus selanjutnya.

Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh data yang diinginkan, maka dalam penelitian ini digunakan instrumen sebagai berikut:

a.     Tes dalam bentuk LKS

Hasil laporan dalam pengerjaan LKS digunakan untuk menentukan tingkat penguasaan dan daya serap siswa terhadap materi yang telah dipelajari dan ketuntasan belajarnya, sebagai diagnosa dan sebagai input balikan bagi peneliti, sedangkan LKS digunakan sebagai materi untuk melaksanakan diskusi secara berkelompok, soal LKS sama dengan soal pilihan ganda dan essay hanya urutan nomor soal dirubah.

b.    Pedoman Observasi keaktifan siswa, digunakan untuk membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa

c.     Daftar Chek adalah posisi tempat duduk siswa pada saat melaksanakan proses pembelajaran dan membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa

d.    Format keaktifan siswa

e.     Angket respon siswa digunakan untuk mengukur respon dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti

f.     Diskusi balikan antara observer dengan peneliti

Prosedur Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh pada saat tahapan tindakan diolah dan dianalisis melalui tahap-tahap sebagai berikut:

a.     Kategori Data, dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan siswa dan daya serap kelas setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran

b.    Interprestasi Data, indikator keberhasilan penelitian siklus ini adalah ketuntasan belajar dan daya serap klasikal (DSK). Suatu kelas disebut telah tuntas belajarnya bila kelas tersebut telah mencapai 85%, siswa mencapai daya serap > 65% (Depdikbud RI,1994).

c.     Validasi Data, agar data yang diperoleh sahih dan handal, maka dilakukan teknik triangulasi yaitu dengan melakukan beberapa siklus antara lain:

�         Melakukan pengecekan ulang dari data yang telah terkumpul untuk kelengkapannya

�         Melakukan pengolahan dan analisis dari data yang terkumpul

�         Membuat perangkat test

�         Pembuatan lembar observasi untuk guru/peneliti dan siswa, pedoman wawancara dan angket serta instrumen lainnya

d.    Pelaksanaan tindakan

�         Menerapakan model pembelajaran

�         Mengobservasi aktivitas siswa dan guru/peneliti selama berlangsungnya proses pembelajaran, dilakukan oleh observer

�         Melakukan tes setelah pembelajaran setiap kali pertemuan

�         Melakukan tes setelah selesai setiap kali siklus dan menyebarkan angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap model ini.

e.    Evaluasi, digunakan untuk mengukur respon dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dalam menentukan keaktifan siswa

f.     Analisis dan Refleksi, yaitu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang sudah dan yang belum terpecahkan selama siklus pembelajaran berlangsung, guna merinci siklus pembelajaran yang telah dilakukan dan meninjau kembali efektifitas pembelajaran berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti untuk menentukan siklus selanjutnya berdasarkan hasil analisis refleksi yang dilakukan secara kolaborasi antara observer dan peneliti.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal / Pra Siklus

Kondisi awal adalah tindakan awal pembelajaran sebelum dilakukan tindakan penelitian. Hasil belajar atau tes pra siklus dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan awal hasil belajar siswa. Hasil prasiklus diperoleh melalui tes sebelum menggunakan Metode Pembelajaran Resitasi (Penugasan).

Berdasarkan hasil tes awal didapat bahwa rata-rata hasil belajar siswa masih di bawah kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 85. Faktor dari guru berupa terlalu monotonnya pemakaian metode ceramah sehingga siswa merasa bosan dan tidak aktif dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajarnya masih kurang memuaskan. Dari 35 siswa yang tidak tuntas sebanyak 82.85 % atau 29 siswa, dan siswa yang tuntas sebanyak 17.13 % atau 6 siswa. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 80 dan nilai yang terendah adalah 50. Nilai rata-rata kelas yaitu 58.85%. Hal ini dapat dilihat dari table hasil nilai siswa pada saat pelaksanaan kegiatan dan pengerjaan test yang diberikan juga tabel distribusi frekuensi hasil belajar pra siklus adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1

Daftar Nilai Pra Siklus

NO

NAMA

NILAI

1

Abdurrofi Fadlurrochman

70

2

Adinda Rifda Fakhira Nadhifa

60

3

Agnino Muhammad Kevin

55

4

Angel Theresa

74

5

Annisa Verena Justicia

73

6

Astrid Kemala Dewi

80

7

Asyfahani Dini Reina

67

8

Azka Hafizha Hidayat

50

9

Cut Difa Aulya Oktaviani Yoesoef

57

10

Daniar Abdurrahman

60

11

Danyanisa Aslamiyah Avianda

53

12

Dila Nur Fadhilah

75

13

Erlangga Wicaksono

50

14

Feby Dita Pujianti

55

15

Hellen Wijaya

50

16

Luthfia Thahir

58

17

Meidiva Amanda

64

18

Meyliani Latifah

50

19

Mochammad Fajri Somantri

80

20

Mochammad Febrianto Ar Rafi

50

21

Muhamad Rafli Susanto

53

22

Muhammad Azka Fahreza

53

23

Muhammad Fauzan Nurhakim

57

24

Muhammad Samudra Anugrah

50

25

Nabilla Zalfa Adiba

55

26

Putri Aulia Pitaloka

55

27

Rachmat Fajar Fadillah

55

28

Radilla Lailatussalma Sayyidina

50

29

Rifa Aqila Saputri

58

30

Rizky Wahyu Nugroho

53

31

Sarah Azka Reviananda

55

32

Satya Yuqadirgha

67

33

Shabrina Putri Aprilia

63

34

Shafa Adinda Nurgina

50

35

Tiara Asyifa Setiawan

55

NILAI RATA - RATA

58,85

 

Klasifikasi Nilai Hasil Belajar

No

Skor

Kriteria

Jumlah siswa

Presentasi (%)

1

80 - 100

Baik Sekali

2

5,71%

2

70 - 79

Baik

4

11,42%

3

60 - 69

Cukup Baik

6

17,14%

4

50 - 59

Kurang Baik

23

65,71%

Jumlah

35

 

 

 

Tingkat Ketuntasan Belajar Pra Siklus

Rentang

Kategori

Pra Siklus

Keterangan

Frekuensi

Persentase

80 - 100

Tinggi

2

5,71%

Tuntas

70 - 79

Sedang

4

11,42%

60 - 69

Rendah

6

17,14%

Tidak Tuntas

50 - 59

Sangat Rendah

23

65,71%

Total

 

35

100%

 

Nilai Max

 

80

Nilai Min

 

50

Rata-rata

 

58,85

KKM

 

75

 

Pada pelaksanaan prasiklus hasil evaluasi menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum tuntas belajarnya, hal tersebut dikarenakan oleh:

a.     Metode yang monoton sehingga banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru.

b.    Siswa kurang aktif, karena siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru, karena guru pada pra siklus ini menggunakan metode ceramah sehingga siswa banyak yang bosan.

c.     Siswa tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapat mereka tentang pengetahuan yang mereka dapatkan selama proses pembelajaran.

d.    Masih banyak yang bermain sendiri dan masih banyak yang pasif.

e.     Tidak mucul antusia siswa terhadap pembelajaran

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut maka peneliti perlu memperbaiki pada siklus I. Bentuk perbaikan pembelajaran siklus I akan dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran Resitasi dengan penjelasan yang lebih diperjelas agar siswa dapat memahami inti dari kegiatan pembelajaran dan dapat mencapai tujuan dari pembelajaran.

Deskripsi Hasil Penelitian

Hasil penelitian dikemukakan berdasarkan penilaian dari setiap siklus dengan mengambil data tentang tingkat kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas. Sebagai tindak lanjut untuk membantu memecahkan masalah atau kesulitan siswa dalam belajar, maka perlu melakukan perencanaan perbaikan pembelajaran dengan mendata penyebab kesulitan siswa dalam memahami dan mengerti, penyebab pembelajaran belum berhasil adalah :

1.    Sebagaian besar siswa belum mengerti tentang materi pembelajaran

2.    Penggunaan media belum optimal

3.    Pembelajaran kurang memotivasi anak lebih aktif

4.    Siswa mempunyai rasa malas, jenuh dan bosan

Dengan demikian peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan Strategi pembelajaran dengan model Resitasi (Penugasan). Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Pada siklus I dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan dan pada siklus II dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan. Dari kedua siklus tersebut, maka dapat diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan peserta didik dalam pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran fisika melalui Metode Resitasi (Penugasan) Pada akhir tiap siklus dilaksanakan evaluasi dan refleksi yang berkaitan dengan meningkatnya hasil belajar fisika peserta didik.

Analisis Data Persiklus

Siklus I

a.     Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran (RPP), soal tes formatif dan alat-alat pengajaran yang mendukung, dan merumuskan scenario pembelajaran dengan memberikan penjelasan mengenai rencana proses pembelajaran.

b.    Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Persiapan yang dilakukan untuk mengembangkan model pembelajaran ini adalah menyusun rencana pelaksanaan tindakan. Proses pembelajaran diikuti oleh para siswa, dimulai dengan menginformasikan materi yang akan dibahas, tujuan pembelajaran dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Siswa diharapkan bisa mencari informasi dan menuliskan temuannya mengenai materi yang akan dibahas.

DAFTAR NILAI SIKLUS I

NO

NAMA

NILAI

1

Abdurrofi Fadlurrochman

77

2

Adinda Rifda Fakhira Nadhifa

70

3

Agnino Muhammad Kevin

73

4

Angel Theresa

80

5

Annisa Verena Justicia

78

6

Astrid Kemala Dewi

84

7

Asyfahani Dini Reina

77

8

Azka Hafizha Hidayat

65

9

Cut Difa Aulya Oktaviani Yoesoef

65

10

Daniar Abdurrahman

75

11

Danyanisa Aslamiyah Avianda

70

12

Dila Nur Fadhilah

80

13

Erlangga Wicaksono

66

14

Feby Dita Pujianti

76

15

Hellen Wijaya

65

16

Luthfia Thahir

70

17

Meidiva Amanda

75

18

Meyliani Latifah

75

19

Mochammad Fajri Somantri

87

20

Mochammad Febrianto Ar Rafi

78

21

Muhamad Rafli Susanto

78

22

Muhammad Azka Fahreza

83

23

Muhammad Fauzan Nurhakim

76

24

Muhammad Samudra Anugrah

75

25

Nabilla Zalfa Adiba

75

26

Putri Aulia Pitaloka

87

27

Rachmat Fajar Fadillah

80

28

Radilla Lailatussalma Sayyidina

78

29

Rifa Aqila Saputri

83

30

Rizky Wahyu Nugroho

69

31

Sarah Azka Reviananda

70

32

Satya Yuqadirgha

78

33

Shabrina Putri Aprilia

80

34

Shafa Adinda Nurgina

75

35

Tiara Asyifa Setiawan

75

NILAI RATA - RATA

75,65

Dari table nilai diatas dapat dilihat adanya peningkatan hasil nilai siswa dari kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran, dapat dilihat secara jelas dari table klasifikasi dibawah ini:


 

Klasifikasi Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus I

No

Skor

Kriteria

Jumlah siswa

Presentasi (%)

1

80 - 100

Baik Sekali

9

25,71%

2

70 - 79

Baik

21

60,00%

3

60 - 69

Cukup Baik

5

14,28%

4

50 - 59

Kurang Baik

 

Jumlah

35

 

 

 

 

Tingkat Ketuntasan Belajar� Siklus I

Rentang

Kategori

Siklus I

Keterangan

Frekuensi

Persentase

80 - 100

Tinggi

9

25,71%

Tuntas

70 - 79

Sedang

21

60,00%

60 - 69

Rendah

5

14,28%

Tidak Tuntas

50 - 59

Sangat Rendah

Total

35

Nilai Max

80

Nilai Min

65

Rata-rata

75,65

KKM

75

 

Berdasarkan tabel hasil nilai dan klasifikasi� di atas dapat diketahui bahwa persentase siswa mencapai nilai indikator keberhasilan yang diharapkan dari kriteria ketuntasan, namun hasil nilai yang dicapai belum seluruhnya diperoleh oleh siswa, nilai rata � rata baru mencapai 75.65%, dari 35 siswa, ada 9 anak yang masuk pada kategori baik sekali atau sebesar 25.71 % dan anak yang ter masuk pada kategori baik atau seanyak 21 siswa atau 60 %, sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik ada 5 anak atau sebesar 14.28 %, dari berbagai siklus belum dinyatakan berhasil apabila belum mencapai ketuntasan minimal 85% dan siklus harus dilanjutkan.

c.     Observasi

Observasi atau pengamatan ditunjukan pada subyek penelitian yaitu siswa sebagai responden. Adapun aspek yang diamati adalah keaktifan siswa, perhatian siswa, kedisiplinan dan penugasan. Kegiatan pengamatan ini dilaksanakan selama kegiatan perbaikan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi.

Berdasarkan data diatas menunjukan bahwa keaktifan siswa dengan pengembangan model pembelajaran ini belum mencapai maximal, hal ini disebabkan oleh karena siswa belum terbiasa dan belum memahami cara-cara pelaksanaannya. Kondisi tersebut disebabkan juga karena sebagian siswa masih belum terbiasa dalam menggunakan model pembelajaran yang baru, pada saat kerja kelompok pun anggota kelompok belum kompak dan adanya perbedaan kebiasaan pemberian tugas pada metode konvensional dikerjakan dirumah, sehingga pemberian tugas yang dikerjakan dikelas pada tindakan I ini membuat siswa belum terbiasa sehinnga proses pembelajaran tidak optimal, namun sudah ada perubahan dari hasil nilai yang dicapai sebelumnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil perbaikan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Resitasi bagi siswa dapat meningkatkan hasil belajar meskipun belum sempurna. Hasil yang diperoleh pada siklus I belum mencapai tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan, maka masih perlu dilaksanakan siklus selanjutnya yaitu siklus II.

d.    Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil tes selama berlangsung pembelajaran terhadap situasi kelas dan prestasi siswa pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, peneliti dapat menemukan kelemahan pembelajaran sebagai berikut :

�      Siswa yang berkemampuan rendah masih kurang aktif dalam memahami materi pelajaran dan dalam kelompok terlihat banyak diam selama kegiatan berlangsung.

�      Siswa yang aktif mencatat dan memahami pembelajaran pun belum maksimal dan masih banyak yang belum bisa terfokus pada materi pembelajaran.

�      Siswa belum sepenuhnya antusias dalam mengikuti pembelajaran dan masih banyak yang ribut sendiri sehingga materi yang dia dapatkan tidak sepenuhnya dapat dipahami.

�      Siswa masih belum bisa mengerjakan tugas sesuai dengan perintah yang disampaikan, karena kurang memperhatikan.

Refleksi terhadap hasil belajar siswa dilihat dari hasil test yang menunjukan adanya peningkatan hasil belajar. pada siklus I namun masih perlu ditingkatkan lagi agar pencapaian ketuntasan belajar siswa bisa mencapai lebih atau di atas 85%. Hasil yang diperoleh pada siklus I ini belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang diharapkan sebesar 85% siswa tuntas belajar, untuk itu masih perlu diadakan perbaikan terhadap pembelajaran yang dilaksanakan pada tahap berikutnya yaitu siklus yang kedua.

Siklus II

a.     Tahap perencanaan

Proses pembelajaran pada tindakan II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan tindakan sebelumnya yaitu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal tentang materi pembelajaran selanjutnya. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar siswa juga sebagai umpan balik dan perbaikan, maka guru melaksanakan evaluasi.

b.    Tahap kegiatan dan pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II, dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Selama siswa melaksanakan pembelajaran, peneliti terus berkeliling mengarahkan siswa, membimbing siswa yang kesulitan sampai siswa selesai melaksanakan percobaan.

DAFTAR NILAI SIKLUS II

NO

NAMA

NILAI

1

Abdurrofi Fadlurrochman

87

2

Adinda Rifda Fakhira Nadhifa

85

3

Agnino Muhammad Kevin

88

4

Angel Theresa

85

5

Annisa Verena Justicia

85

6

Astrid Kemala Dewi

87

7

Asyfahani Dini Reina

80

8

Azka Hafizha Hidayat

84

9

Cut Difa Aulya Oktaviani Yoesoef

79

10

Daniar Abdurrahman

80

11

Danyanisa Aslamiyah Avianda

85

12

Dila Nur Fadhilah

87

13

Erlangga Wicaksono

85

14

Feby Dita Pujianti

82

15

Hellen Wijaya

83

16

Luthfia Thahir

75

17

Meidiva Amanda

85

18

Meyliani Latifah

87

19

Mochammad Fajri Somantri

90

20

Mochammad Febrianto Ar Rafi

85

21

Muhamad Rafli Susanto

90

22

Muhammad Azka Fahreza

90

23

Muhammad Fauzan Nurhakim

84

24

Muhammad Samudra Anugrah

80

25

Nabilla Zalfa Adiba

80

26

Putri Aulia Pitaloka

90

27

Rachmat Fajar Fadillah

85

28

Radilla Lailatussalma Sayyidina

80

29

Rifa Aqila Saputri

85

30

Rizky Wahyu Nugroho

75

31

Sarah Azka Reviananda

80

32

Satya Yuqadirgha

85

33

Shabrina Putri Aprilia

90

34

Shafa Adinda Nurgina

85

35

Tiara Asyifa Setiawan

87

NILAI RATA - RATA

84,28

 

 

 

Rentang

Kategori

Siklus II

Keterangan

Frekuensi

Persentase

80 - 100

Tinggi

32

91,42%

Tuntas

70 - 79

Sedang

3

8.57%

60 - 69

Rendah

50 - 59

Sangat Rendah

Total

35

Nilai Max

90

Nilai Min

95

Rata-rata

84.28

KKM

75

 

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa persentasi siswa yang mencapai nilai sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan yaitu ≥ 75 dari KKM atau nilai di atas 75 adalah 84,28 %. Dari 35 siswa, terdapat 32 siswa yang masuk pada kategori baik sekali atau sebesar 91.42 %, dan siswa yang mendapat nilai kategori baik terdapat 3 siswa atau sebesar 0.89 %, sedangkan siswa yang masuk pada kategori cukup baik dan anak yang pada kategori kurang baik sudah tidak ada lagi. Melihat hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa menunjukkan hasil rata-rata dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar tersebut telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yaitu nilai rata-rata 85 dan ketuntasan 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus II.

c.     Observasi

Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka penelitian difokuskan pada upaya peningkatan hasil belajar. Seperti pada siklus sebelumnya untuk melakukan pengamatan terhadap situasi kelas pada saat pembelajaran, peneliti mengamati selama pembelajaran berlangsung. Proses berjalannya pembelajaran pada siklus yang ke II ini siswa merasa sangat senang dengan menggunakan metode pembelajaran resitasi karena mereka terlihat menikmati pembelajaran tersebut dengan aktif dalam pembelajaran dan mereka juga memperoleh nilai yang maksimal.

d.    Refleksi

Berdasarkan hasil pengamatan, selama berlangsung pembelajaran terhadap situasi kelas dan hasil belajar siswa pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus II, peneliti menemukan perbedaan dari mulai pra siklus sampai dengan siklus yang ke II ini.

Adapun berbagai keunggulan dengan menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan) antara lain :

�      lebih merangsang siswa untuk belajar lebih banyak, baik pada waktu di kelas maupun di luar kelas.

�      lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.

�      membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi

Hasil dari pengamatan siklus II dianalisis oleh peneliti untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang juga diambil dari siklus sebelumnya. Diharapkan refleksi ini membenarkan hipotesis yang peneliti ajukan. Adapun hasil dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus II telah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan pelaksanaan pada siklus I dan hasil pada siklus II juga telah memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal ataupun indikator keberhasilan yang telah ditentukan. Untuk itu penelitian tindakan dinyatakan berhasil karena seluruh siswa yang berjumlah 35 siswa hanya 3 anak yang tertinggal dan itupun mereka sudah masuk dalam kategori baik.

Pada siklus II guru telah menggunakan metode pembelajaran resitasi dengan baik dilihat dari aktifitas siswa, perhatian serta keaktifan terhadap pembelajaran sudah mengalami peningkatan. Maka tidak perlu dilakukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya dengan menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan) dapat meningkatkan proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Setelah dilakukan refleksi dan dianalisis maka peneliti mengadakan pembahasan antar siklus yang membahas tentang perolehan nilai post test yang diperoleh selama proses pembelajaran. Dilihat dari ketuntasan belajar siswa sebelum menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan) dan masih menggunakan metode ceramah untuk mengawali penelitian sehingga guru mengetahui hasil belajar siswa. Setelah dilakukan evaluasi pada pra siklus peneliti mencoba menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan). Perbaikan pembelajaran pada siklus I difokuskan pada aktivitas siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan metode pembelajaran Resitasi (penugasan). Karena siswa belum mengetahui tentang metode yang digunakan, kemudian mereka juga belum terbiasa. Pada siklus I masih banyak anak-anak yang bermain sendiri dan masih gaduh ketika teman-teman yang lain mencoba untuk menjelaskan materi yang mereka pahami. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus diperbaiki dan dilanjut dengan pembelajaran siklus II. Sedangkan dari hasil evaluasi perbaikan Siklus II, hasil pembelajaran dan nilai rata-rata siswa menunjukkan adanya peningkatan. Hal tersebut dibuktikan dengan tercapainya hasil ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 85%. Dari 35 siswa semua bisa dikatakan tuntas KKM.

Dari proses peningkatan hasil belajar tersebut tentunya guru harus ekstra keras memunculkan variasi di dalam proses pembelajaran maupun motivasi untuk siswa agar mereka tidak jenuh dan tidak malas-malasan.

Tercapainya indikator keberhasilan yang telah ditetapkan ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu diperbaikinya proses belajar mengajar yang dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi siklus I dan penyempurnaan penggunaan metode pembelajaran Resitasi (penugasan) . Perbaikan dan penyempurnaan siklus II membantu siswa agar lebih aktif siswa dan lebih mudah dalam mengungkapkan pendapat dalam berlangsungnya proses pembelajaran.

Dengan demikian siklus selanjutnya dapat dihentikan atau tidak perlu dilaksanakan. Sehingga hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa metode pembelajaran Resitasi (penugasan) dapat diterima dan terbukti berhasil dalam meningkatkan hasil belajar IPA Fisika dikelas XII MIPA 6 SMA Negeri 4 Bandung Tahun ajaran 2018/2019

 

KESIMPULAN

Dalam penggunaan Metode Resitasi ini, siswa mempunyai kesempatan untuk saling membandingkan dengan hasil pekerjaan orang lain serta dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Dengan demikian akan memperluas, memperkaya, dan memperdalam pengetahuan serta pengalaman siswa.

����������� Metode ini sangat baik digunakan terhadap bahan pelajaran yang terlalu banyak sementara waktu penyampaian sedikit. Artinya, banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai sesuai batas waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya guru gunakan untuk mengatasinya.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh gambaran tentang adanya perbedaan nyata antara hasil belajar siswa yang diberikan metode resitasi dengan hasil belajar siswa yang tidak diberikan metode resitasi. Artinya hasil belajar siswa yang diajar dengan memberikan metode resitasi lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang tidak diberikan metode resitasi. Siswa yang diberikan metode resitasi setelah proses belajar mengajar akan tahu sasaran yang akan mereka capai, sehingga dapat mengarahkan mereka dalam belajarnya. Lain halnya dengan siswa yang tidak diberikan metode resitasi, mereka tidak tahu tujuan apa yang diharapkan dicapai dalam proses belajarnya. Dengan demikian pembelajaran menjadi kurang efektif.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad, Susanto. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Agus Suprijono. 2013. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Alipandie, Imansyah, Didaktik Metodik Pendidikan,� (Surabaya: Penerbit Usaha Nasional, 1984),

 

Ali, Muhammad. Penelitian Kependidikan : Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa, 1987

 

Arief Armai, 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,. Jakarta: Ciputat Press.

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

 

Ahmadi, H. A. & Supatmo, A. (1991) Ilmu alam dasar. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

 

Abu Ahmadi. 1986. Metode Khusus Pendidikan Agama Islam, PT. Bima Aksara, Jakarta.

 

Abu Ahmadi. 1992. Teknik Belajar Yang Tepat. Semarang: Mutiara Permata. Wijaya.

 

Depdikbud. 1999. Pedomen Penulisan Karya Ilmiah.Malang: Universitas Negeri Malang

 

Dimyati & Mudjiono. 2013. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Hamalik, Oemar, 2004, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara

 

Imam Syah Alipandie (1990:91) penerapan metode resitasi untuk meningkatkan motivasi .... Dedaktik Metodik Pendidikan Umum

 

Jihad, Asep dan Abdul Haris. (2012). Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta : Multi Pressindo.

 

Kemmis dan Mc. Taggart (dalam Hopkins. 1993). Macam-macam Media pembelajaran

 

Munadi. 2008. Dalam Rusman. 2013. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer. (hal. 124). Bandung: Alfabeta.

 

N. K. Roestiyah.2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

 

Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

 

Sujana, Nana, 1989, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar, IKIP: Bandung

 

Sumarsono, dkk. 2005. Metode Student Facilitator ... dalam CBSA. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

 

Suyanto, M., 2003, Multimedia Alat untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing, Andi Offset,Yogyakarta.

 

Winarno Surachmad. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah:Dasar Metode dan Teknik. Bandung:Tarsito.

 

Winkel, W.S. (2009). Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia.

 

Zuhairini, dkk, 1998, Metodologi Ahmadi, Abu dan Unbiyatun, Nur. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipt