MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI DETERMINAN DAN INVERS MATRIKS MELALUI MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DI KELAS XI IPS 1 / SMTR 1 SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2017 � 2018

 

Riatinda

SMA Negeri 4 Bandung

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 10-10-2022

Revised: 18-10-2022

Accepted: 29-10-2022

 

Keywords: Student Learning Motivation, Creative Problem Solving (CPS) Model

 

 

Kata Kunci: Motivasi Belajar Siswa, Model Creative Problem Solving (CPS)

 

 

Abstract

Student activity in learning is one of the important factors that affect a person's learning outcomes, good student activities have the motivation to devote all their abilities to produce optimal learning outcomes in accordance with the expected learning outcomes. The problem studied in this study is whether or not there is an effect of applying the learning model as a learning factor on student learning outcomes that can improve student learning outcomes. The method used in this study is a questionnaire (questionnaire), documentation and observation. The collected data were analyzed by descriptive percentage techniques and simple linear analysis. The purpose of this study was to determine the improvement of mathematics learning outcomes in class XI IPS 1 students of SMA Negeri 4 Bandung Semester I of the 2017 - 2018 academic year by using the Creative Problem Solving (CPS) learning method. Based on the data analysis that has been carried out, it turns out that the test scores for learning Mathematics outcomes after the action with the application of the Creative Problem Solving (CPS) type cooperative learning model are better than before the action. The results obtained in the first cycle with the percentage of the average value of the class reached 60.69% with classical completeness only reaching 30.55%, but in the second cycle the students' scores were very good with the acquisition of the class average score reaching 80.55% and the classical average. reached 86.11%, through the application of cooperative learning model type Creative Problem Solving (CPS) can improve learning outcomes Mathematics class XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung)

 

 

Abstrak

Aktivitas siswa dalam belajar merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar seseorang, aktivitas siswa yang baik memiliki motivasi kecenderunagan untuk mencurahkan segala kemampuannya untuk menghasilkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah ada tidaknya pengaruh penerapan model pembelajaran sebagai faktor belajar terhadap hasil belajar sisw yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kuesioner), dokumentasi dan observasi.data yang dikumpulkan dianalisis dengan tekhnik deskriftif presentase dan analisis linier sederhana.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan hasil belajar Matematika pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung Semester I Tahun Pelajaran 2017 - 2018 dengan menggunakan metode pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan ternyata skor tes hasil belajar Matematikasetelah tindakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS)lebih baik dibandingkan sebelum tindakan dilakukan. Hasil nilai yang didapat pada siklus I dengan prosentase nilai rata �rata kelas mencapai 60.69 % dengan ketuntasan klasikal hanya mencapai 30.55 %, namun pada siklus II perolehan hasil nilai siswa sangat baik dengan perolehan nilai rata � rata kelas mencapai 80.55 % dan rata � rata klasikal mencapai 86,11 %, melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan hasil belajar Matematikakelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung

 

Corresponding Author: Riatinda

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu pembelajaran yang kompleks, banyak variabel dan berdimensi luas sebagai suatu proses psikologis pendidikan yang tak dapat dipisahkan dari proses belajar mengajar. Dari prespektif mengajar, pelakunya adalah guru/pendidik ataupun pihak yang mendidik. Sedangkan dari prespektif belajar, pelakunya adalah peserta didik yang melakukan aktivitas belajar. Dengan penjabaran tadi bahwa pendidikan adalah suatu proses interaksi pendidik dan peserta didik yang memiliki tujuan yang sudah di tentukan bersama, pendidikan sebagai proses yang pada dasarnya membimbing peserta didik menuju tahap kedewasaan, dengan melalui program sekolah maupun pendidikan di luar sekolah. Pembangunan pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan mutu dalam kehidupan dan martabat manusia untuk mewujudkan tujuan nasional.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, pengetahuan matematika harus dikuasai sedini mungkin oleh para siswa. Ketrampilan berhitung merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang menduduki peranan penting dalam pendidikan, hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan pelajaran matematika yang diberikan kepada semua jenjang pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Selain itu, keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2011 tentang Prosedur Operasional Standar Ujian Nasional dijelaskan bahwa mata pelajaran Matematika menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang menjadi ukuran kelulusan Ujian Nasional. Matematika juga menjadi salah satu ilmu yang dijadikan tolak ukur IntellectualQuotient (IQ) seseorang.

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.

Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah

Kenyataannya dalam pembelajaran pada pendidikan formal dewasa ini masih terdapat permasalahan seperti masih rendahnya hasil belajar siswa, aktivitas dan motivasi siswa dalam pembelajaran rendah. Secara empiris rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena proses pembelajaran didominasi oleh pembelajaran tradisional yakni berpusat pada guru (teacher-centrered) sehingga siswa menjadi pasif. Dewasa ini, banyak penelitian mengembangkan pembelajaran matematika yang relevan dengan kemampuan berfikir siswa seperti penelitian yang mengkaji tentang pembelajaran secara positivistis dan konstruksitivis.Pembelajaran berfikir positivistis dalam mengkonstruksi model belajar-mengajar dan pengembangannya menurut Knapp dan Petersen (1995) adalah sangat perlu diperhatikan. Penelitian mengenai model pembelajaran saat ini merupakan kebutuhan yang esensial agar terus-menerus diperbaiki, karena pada kenyataannya dilapangan, siswa mengalami perubahan-perubahan dalam belajar matematika sehingga perlu untuk diteliti.

Berdasarkan pendapat tersebut, seorang guru dituntut mengembangkan pembelajarannya, sehingga benar-benar membuat siswa mampu bermatematika. Dengan demikian metode pembelajaran apakah yang dapat menjawab harapan Knapp dan Petreson tersebut? Tentunya kita harus memilih suatu metode yang kita anggap paling tepat yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa. Bagi Knapp dan Petersen (1995:41), �sekalipun pembelajaran dilakukan dengan metode tradisional, seorang guru dapat saja berhasil membuat siswanya belajar matematika yang sesungguhnya. Seorang guru dapat berhasil melakukan pembelajaran apabila ia selalu mempertimbangkan terlebih dahulu strategi yang akan dilakukan dan selalu memperbaiki pembelajarannya (refleksi)�.

Beberapa hal yang lazim terjadi pada pembelajaran matematika di sekolah�� adalah:

a.     Teknik mengajar masih relatif monoton. Metode guru dalam menyampaikan materi masih terbatas dengan metode ceramah, hanya mendikte atau menuliskan catatan atau tugas siswa, demikian halnya pada saat pembahasan soal-soal latihan.

b.    Interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa termasuk lemah. Guru tidak ubahnya seperti pendongeng cerita, yang akan berakhir dengan soal atau pertanyaan dan seolah-olah tidak begitu bermakna. Hal yang menyebabkan kegiatan kosultatif antara guru dan siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang berkategori sulit jarang terjadi.

c.     Di dalam kelas, guru jarang sekali berkeliling melihat pekerjaan siswa dibarisan belakang, guru lebih sering berinteraksi dengan anak-anak dibarisan depan. Bagi siswa yang ada dibarisan belakang, baru akan mendapatkan peran apabila ada giliran untuk maju ke depan mengerjakan soal. Padahal beberapa siswa yang ada dibelakang mungkin sekali mengalami kesulitan belajar matematika yang apabila dibiarkan dapat melemahkan motivasi belajar siswa.

d.    Matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan atau bahkan membosankan. Siswa-siswa seringkali masih merasa kesulitan, ragu-ragu, agak takut, dan kuatir salah jika menjawab pertanyaan dari guru, dan terlebih lagi siswa malu untuk bertanya.

Hal ini salah satu hal yang menyebabkan disetiap jam pelajaran matematika siswa cenderung merasa enggan dan malas. Keadaan ini jika dibiarkan maka nilai pelajaran matematika akan semakin menurun dan gagal dalam memperoleh nilai ketuntasan minimal yang telah ditentukan. Untuk mengatasi masalah tersebut seorang guru harusmampu memberikan motivasi terhadap siswa melalui pengelolaan kelas yang menarik dan melibatkan siswa dalam menemukan konsep.

Pengalaman peneliti sebagai guru matematika sebelum melaksanakan pembelajaran sudah berusaha maksimal, mulai dari persiapan RPP, media hingga strategi pembelajaran dan pengelolaan kelas. Namun disisi lain peneliti sebagai guru memang masih cenderung menggunakan metode mengajar yang monoton yaitu metode ceramah, kondisi ini ternyata membuat siswa menjadi bosan, jemu dan tidak tertarik untuk belajar. Guru kurang mampu mengelola kelas dengan baik, sehingga banyak diantara siswa yang acuh tak acuh terhadap pembelajaran yang sedang dilakukan oleh guru bahkan sebagian diantaranya lebih sering mengerjakan tugas lain.

Pembelajaran matematika secara khusus harus memberikan sumbangan terhadap terbentuknya kemampuan - kemampuan tersebut, secara umum implikasi pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah ialah terbentuknya pola pembelajaran dikelas dengan skenario secara umum yakni penjelasan materi, contoh soal dan latihan aneka masalah. Hal yang harus kita ketahui pendekatan ini harus distimulus oleh masalah - masalah yang dapat membangkitkan pemikiran siswa agar masalah - masalah tersebut dapat diselesaikan. Djamara dan Aswan (2010:91) mengemukakan bahwa metode pemecahan masalah (Problem Solving) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan metode berfikir, sebab dalam Problem Solving dapat menggunakan metodemetode lainnya sampai menarik kesimpulan. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh penelitian Silaholo, Dkk (2014:811) bahwa menggunakan pendekatan Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu untuk bisa membangkitkan cara berfikir yang kritis, kreatif, dan inovatif terhadap siswa dibutuhkan metode pemecahan masalah agar nantinya pada proses pembelajaran siswa mampu memahami materi dan konsep yang diajarkan.

Sehubungan dengan uraian diatas, dalam usaha menemukan model pembelajaran yang tepat yang dipadukan dengan media pembelajaran sebagai upaya dalam meningkatkan hasil belajar maka perlu adanya model yang inovatif dalam pembelajaran, dengan model yang mampu membangkitkan pemikiran siswa untuk bisa menyelesaikan masalah - masalah yang dihadapi secara kreatif dan mandiri, untuk itu salah satu model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS).

 

METODA PENELITIAN

 

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Ada 4 macam bentuk penelitian tindakan, yaitu:

a.     penelitian tindakan guru sebagai peneliti,

b.    penelitian tindakan kolaboratif,

c.     penelitian tindakan simultan terintegratif, dan

d.    penelitian tindakan sosial eksperimental.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau berkesinambungan pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penjelasan alur di atas adalah:

1.    Rancangan/perencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.

2.    Pelaksanaan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran dengan pemberian balikan.

3.    Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.

4.    Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan membuat rangcangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:

      tahap persiapan,

      tahap pelaksanaan, dan

      tahap penyelesaian.

1.    Tahap persiapan

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan ini adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian. Dalam kegiatan ini diharapkan pelaksanaan penelitian akan berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diinginkan

2.    Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan penelitian ini, kegiatan yang dilakukan meliputi:

      pengumpulan data melalui tes dan pengamatan yang dilakukan persiklus,

      diskusi dengan pengamat untuk memecahkan kekurangan dan kelemahan selama proses belajar mengajar persiklus,

      menganalisi data hasil penelitian persiklus,

      menafsirkan hasil analisis data, dan

      bersama-sama dengan pengamat menentukan langkah perbaikan untuk siklus berikutnya.

3.    Tahap Penyelesaian

Dalam tahap penyelesaian, kegiatan yang dilakukan meliputi:

      menyusun draf laporan penelitian,

      mendiskusikan draf laporan penelitian,

      merevisi draf laporan penelitian,

      menyusun naskah laporan penelitian, dan

      menggandakan laporan penelitian.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.

2.    Lembar Kegiatan Siswa

3.    Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan pemberian tugas.

4.    Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman materi yang disampaikan. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif).

Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1.    Untuk menilai Hasil Ulangan/ tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan :��� X = Nilai rata-rata

Σ X�� = Jumlah semua nilai siswa

Σ N�� =Jumlah siswa

X = Σ X

Σ N

2.    Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

P = Σ siswa yang tuntas�� x 100 %

������������ Σ siswa

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif (Supardi, 2006:131). Terhadap perolehan hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai dari siklus satu dan siklus dua untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif presentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria deskriptifprosentase, yangdikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut:

Klasifikasi Kategori Tingkatan dan Prosentase

No.

Kriteria Nilai Penafsiran 

Hasil belajar

1

86 - 100

Baik Sekali

2

71 - 85

Baik

3

56 - 70

Cukup

4

41 - 55

kurang

5

Kurang < 40

sangat kurang

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). PTK dipilih karena mempunyai beberapa keistimewaan yaitu mudah dilakukan oleh guru, tidak mengganggu jam kerja guru, selain itu sambil mengajar bisa sekaligus melakukan penelitian serta tidak memerlukan perbandingan. Data hasil penelitian yang akan dipaparkan adalah data hasil rekaman tentang beberapa hal yang menyangkut pelaksanaan selama tindakan berlangsung.

Penelitian tindakan kelas melalui model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) pada mata pelajaran matematika materi matriks ini dilaksanakan di kelas XI IPS 1, pada semester ganjil SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2017 � 2018. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap pertemuan diberi alokasi waktu 3x45 menit (3 jam pelajaran). Setiap siklus terdapat pelaksanaan tindakan, observasi guru, observasi siswa, dan angket sikap kerja keras siswa. Satu siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Deskripsi Tindakan Awal / Pra Siklus

Pengetahuan awal ini perlu diketahui agar kiranya penelitian ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peneliti, apakah benar kiranya kelas ini perlu diberi tindakan yang sesuai dengan apa yang akan diteliti yaitu penerapan strategi pembelajaran untukmeningkatkan motivasi belajar Matematika. Untuk mengungkap kondisi awal dari kelas yang menjadi objek tindakan kelas ini maka peneliti melakukan langkahlangkah sebagai berikut :

a.     Perencanaan

Untuk mengetahui kondisi awal dari kelas XI IPS 1 Semester 1 SMA��� Negeri 4Bandung Tahun Ajaran 2017 � 2018, maka peneliti merencanakan observasi langsung, kegiatan yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Observasi langsung yang dilakukan untuk mengetahui strategi pembelajaran yang digunakan sebelumnya. Guru / Penelitidibantu guru pengajar lainnya yang bertindak sebagai observer sebagai pengamat serta menyiapkan alat tes yang akan digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan penguasaan awal materi dari siswa.

b.    Pelaksanaan.

Pelaksanaan untuk mengukur kemampuan awal siswa dilaksanakan di awali dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaranini guru / penelitimengamatikejadiankejadianyang terjadi secara rinci pada saat memaparkan materi pembelajaran, dalam menyampaikan materi memerlukan waktu 1 jam pelajaran dan 15 menit untuk pemberian contoh, selanjutnya guru / peneliti memberikan posttestdengan menggunakan soal yang telah dirancang sebelumnya Pada pelaksanaan ini peneliti / guru bersama dengan observer mengawasi kerja siswa dalam mengerjakan soal yang diberikan , sehingga keakuratan dari hasil pengawasan dapat dipertanggung jawabkan.

c.     Hasil Pengamatan / Observasi

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa pada pengajaran yang dilakukan, guru / peneliti masih menggunakan cara pengajaran yang tradisional yaitu guru sebagai pusat pembelajaran dan pengajaran materi tersebut diajarkan dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran berlangsung terlihat siswa asyik dengan kegiatannya sendiri yang tidak ada kaitannya dengan apa yang disampaikan guru. Justru masih terlihat anakanak yang bermain � main dengan temannya tanpa mempedulikan apa yang disampaikan oleh guru pengajar. Dan dari hasil pengerjaan siswa pada alat tes yang telah dirancang oleh guru setelah diadakan koreksi maka didapatkan hasil yang kurang memuaskan.

d.    Refleksi

Dari kondisi awal yang ada tersebut maka perlu diadakan suatu tindakan untuk mengangkat kemampuan penguasaan materi. Berdasarkan tanya jawab yang dilakukan peneliti terhadap siswa, terungkap bahwa siswa mempunyai kelemahan pada pengembangan skill pengerjaan suatu masalah karena kurangnya siswa diberi kesempatan untuk berlatih dalam menyelesaikan masalahmasalah, sehingga siswa minta untuk diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah sebelum guru pengajar menyelesaikannya.

Bertolak dari kondisi awal tersebut maka peneliti merencanakan tindakan penelitian dengan menerapkan strategi pembelajaran dengan memperlakukan pembelajaran aktif pada kelompok besar.

Deskripsi Tindakan Siklus I

����������� Berdasarkan temuan masalah pada awal kegiatan sebagai dasar / pra siklus sebelum masuk pada kegiatan pembelajaran Siklus I, maka diadakan pelaksanaan pembelajaran siklus I. Pada tahap ini guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar siswa (soal terlampir). Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi tentang hasil kinerja guru. Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam penelitian ini antara lain:

      Kemampuan awal siswa

      Prestasi belajar siswa untuk kelompok

Pada pelaksanaan kegiatan penerapan pembelajaran Siklus I ini dilakukan beberapa tahapan, diantaranya :

a.    Tahap Persiapan Siklus I

Pada tahap persiapan, peneliti mempersiapkan instrumen pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian seperti membuat silabus, merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membuat lembar kegiatan murid (LKS), membuat soal pretest untuk setiap kali pertemuan, membuat kisi-kisi soal ulangan harian dan soalnya, serta alternatif jawaban ulangan harian. Selain itu, peneliti juga membagi murid dalam kelompok kooperatif sesuai dengan kemampuan akademik murid, dan lembar pengamatan aktivitas guru dan murid.

b.    Tahap Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan oleh peneliti dengan melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, dimulai dengan penjelasan pada siswa tentang kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam mengikuti kegiatan.

Pada tahap ini merupakan pertemuan pertama penerapan model pembelajaran kooperatif dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Pada kegiatan awal pembelajaran guru terlebih dahulu melakukan apersepsi terhadap materi yang telah lalu dengan melakukan tanya jawab dan menghubungkan materi yang telah lalu dengan materi yang akan dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi.

Memasuki kegiatan inti guru memberikan pretes mengenai pelajaran yang akan dipelajari dan meminta murid untuk mengerjakannya secara individu. Setelah semua murid selesai mengerjakan pretes, kemudian guru mengorganisasikan murid ke dalam kelompok kooperatif yang telah dibentuk guru sebelumnya. Guru menyampaikan informasi singkat tentang materi yang dipelajari. Setelah semua murid paham dengan penjelasan singkat dari guru, selanjutnya guru membagikan LKS kepada setiap kelompok dan meminta setiap murid untuk saling bekerja sama dalam kelompoknya dalam menyelesaikan LKS tersebut. Guru sebagai fasilitator memberi bimbingan kepada kelompok yang belum memahami materi yang sedang dibahas. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS tersebut, guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk mengumpulkan LKS yang telah diselesaikan.

Pada kegiatan akhir guru membimbing murid dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kemudian mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tugas rumah kepada murid dan dikumpulkan sebagai bahan evaluasi.

c.     Tahap Observasi / pengamatan Siklus I

Observasi terhadap aktivitas guru dan murid selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) yang dilakukan oleh observer sudah menunjukkan perubahan dan peningkatan yang berarti. Pada pertemuan pertama dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS), aktivitas guru sudah sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang guru pada tahap persiapan. Tetapi pada kegiatan akhir pertemuan pertama guru tidak sempat membimbing murid dalam menyimpulkan materi pelajaran hal ini disebabkan waktu habis, sehingga guru menyimpulkan sendiri materi pelajaran dan meminta murid untuk cepat mencatat kesimpulan tersebut.

Sedangkan aktivitas murid pada pertemuan pertama ini masih tampak bingung karena sebelumnya guru belum pernah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS). Pada saat pretes berlangsung masih ada murid yang mencoba-coba melihat hasil kerja temannya, tetapi guru sudah memberi peringatan kepada murid tersebut. Tetapi setelah murid belajar dan kelompoknya, tampak adanya motivasi dalam mengikuti proses pembelajaran dibandingkan dengan sebelum dilakukan tindakan.

Pada pelaksanaan pengerjaan lembar kerja tersebut tampak adanya siswa yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan bertanya pada teman terdekatnya, namun ada pula siswa yang mengalami hambatan dalam mengerjakan lembar kerja tersebut langsung bertanya kepada peneliti dan guru pengajar. Pada post test yang diberikan setelah dikoreksi oleh guru pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1

Hasil Nilai Siklus I

No

NAMA SISWA

SKOR

KETERANGAN

 

1

Abdulah Husna Karim

65

TUNTAS

 

2

Adam

60

TIDAK TUNTAS

 

3

Ahmad Rivai

55

TIDAK TUNTAS

 

4

Aira Dita Adristi

65

TUNTAS

 

5

Aliya Wali Putri

60

TIDAK TUNTAS

 

6

Andika Cahya Wiguna

60

TIDAK TUNTAS

 

7

Anisa Fauziah

55

TIDAK TUNTAS

 

8

Ariya Tri Hermawan

50

TIDAK TUNTAS

 

9

Bisma Banyu Setia

65

TUNTAS

 

10

Delfine Felicia Christabel

70

TUNTAS

 

11

Elva Erista Irawan

60

TIDAK TUNTAS

 

12

Ezra Febrian Mustary

55

TIDAK TUNTAS

 

13

Fikri Muhammad Ramadhan

60

TIDAK TUNTAS

 

14

Haekal Lavraia

60

TIDAK TUNTAS

 

15

Ifa Khairunnisa

55

TIDAK TUNTAS

 

16

Indah Muzizat Hayati

60

TIDAK TUNTAS

 

17

Kaka Kusnadi

60

TIDAK TUNTAS

 

18

Mubayyin Hakim

55

TIDAK TUNTAS

 

19

Muhamad Raihan Bhaihaqi

65

TUNTAS

 

20

Muhammad Azka Fadhilah

70

TUNTAS

 

21

Muhammad Naim Arkan

60

TIDAK TUNTAS

 

22

Muhammad Rifqi Ardiansyah

55

TIDAK TUNTAS

 

23

Mutia Wahyuni

50

TIDAK TUNTAS

 

24

Najla Naila Waranggany

65

TUNTAS

 

25

Nazilatun Nisa

70

TUNTAS

 

26

Nurghaida Muthmainah

65

TUNTAS

 

27

Pinkan Agustin

60

TIDAK TUNTAS

 

28

Rafly Radifan Syachendra

65

TUNTAS

 

29

Rendy Hendriyana Saputra

60

TIDAK TUNTAS

 

30

Ricki Prisma Putra

55

TIDAK TUNTAS

 

31

Rindu Nurani

60

TIDAK TUNTAS

 

32

Rizki Wahyudhie

60

TIDAK TUNTAS

 

33

Salma Putri Taufani

70

TUNTAS

 

34

Sandi Sulistiyo

55

TIDAK TUNTAS

 

35

Siti Manda Arifah

60

TIDAK TUNTAS

 

36

Vasya Olivia

70

TIDAK TUNTAS

 

NILAI RATA - RATA

60,69

 

 

JUMLAH SISWA TUNTAS

11

% KETUNTASAN SISWA

30,55%

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata hasil belajar murid pada siklus I melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) adalah 60.99 %. Jumlah murid yang mencapai KKM ≥ 60 adalah sebanyak 11 orang murid dengan persentase ketuntasan klasikalnya sebesar 30.55 %. Jika dibandingkan dengan hasil belajar sebelum tindakan, hasil belajar murid pada siklus I ini sudah terjadi peningkatan, tetapi belum maksimal. Untuk itu melanjutkan penelitian pada siklus II agar hasil yang diperoleh murid lebih memuaskan lagi.

d.    Refleksi dan Revisi Siklus I

������ Setelah dilakukan tindakan dan diamati oleh observer, selanjutnya peneliti berdiskusi dengan observer untuk merefleksi hasil penelitian yang telah dilakukan pada siklus I. Tujuan dilakukannya refleksi adalah ntuk memperbaiki kesalah dan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Kelemahan yang terjadi pada siklus I yaitu peneliti tidak dapat menggunakan waktu seefisien mungkin, sehingga kegiatan pada akhir proses pembelajaran tidak dilakukan yaitu membimbing murid dalam menyimpulkan materi pelajaran.

Dalam pembelajaran Matematika melalui metode pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan hasil belajar sisiwa dari data nilai yang sudah dicapai dengan pembelajaran mengunakan metode ini diperoleh hasil nilai yang memuaskan . Tetapi untuk memastikan apakah karena aktifitas meningkat danmemang betulbetul meningkat, maka perlu dilanjutkan pada siklus II.

Deskripsi Tindakan Siklus II

���������� Proses pembelajaran pada siklus II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan siklus sebelumnya, peneliti membagikan hasil skor siswa serta memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materisebelumnya yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya.

a.    Tahap Persiapan Siklus II

Pada siklus II ini peneliti mempersiapkan instrumen pembelajaran, yaitu menyusun rencana, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Semua siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung yang hadir 36 orang.

b.    Tahap Pelaksanaan Siklus II

Pada siklus II dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS). Pada kegiatan awal pembelajaran guru terlebih dahulu melakukan apersepsi terhadap materi yang telah lalu dengan melakukan tanya jawab dan menghubungkan materi yang telah lalu dengan materi yang akan dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi murid dengan menceritakan hubungan materi yang akan dipelajari dengan kehidupan sehari-hari. Setalah itu pada akhir kegiatan awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai murid. Memasuki kegiatan inti guru memberikan pretes mengenai pelajaran yang akan dipelajari dan meminta murid untuk mengerjakannya secara individu. Setelah semua murid selesai mengerjakan pretes, kemudian guru mengorganisasikan murid ke dalam kelompok kooperatif yang telah dibentuk guru sebelumnya. Guru menyampaikan informasi singkat tentang materi yang dipelajari. Setelah semua murid paham dengan penjelasan singkat dari guru, selanjutnya guru membagikan LKS kepada setiap kelompok dan meminta setiap murid untuk saling bekerja sama dalam kelompoknya dalam menyelesaikan LKS tersebut. Guru sebagai fasilitator memberi bimbingan kepada kelompok yang belum memahami materi yang sedang dibahas. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS tersebut, guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk mengumpulkan LKS yang telah diselesaikan. Pada kegiatan akhir guru membimbing murid dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kemudian mengakhiri pembelajaran dengan mengevaluasi perolehan hasil nilai pengerjaan soal yang dikerjakan oleh siswa.

c.     Tahap Observasi / Pengamatan Siklus II

Aktivitas guru dan murid pada siklus II sudah terjadi peningkatan dibandingkan siklus I. Guru sudah melaksanakan semua aktivitas yang telah dirancang pada RPP. Guru juga sudah dapat menggunakan waktu seefisien mungkin, sehingga semua aktivitas pada RPP terlaksana semua. Sedangkan aktivitas murid sudah sangat memuaskan. Murid sudah sangat termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga hasil pretes dan hasil ulangan harian II sangat memuaskan. Secara umum aktivitas guru dan murid pada siklus II ini sudah sangat baik.

Pada pelaksanaan siklus II ini tampak sekali bahwa siswa sangat antusias dalam mengerjakan tugas kelompok, semua siswa terlihat aktif bersama kelompoknya dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan peneliti. Pada saat diskusi pembahasan materi yang diberikan satu kelompok untuk ditanggapi oleh kelompok lain, kadang terlihat perbedaan pola berfikir dari masing � masing individu dalam menyampaikan ide pemecahan masalah yang diberikan.

Guru / rekan sejawat sebagai pengamat bertugas mengawasi seluruh kegiatan peneliti dan mengamati semua aktfitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat tinggal mengisi lembar observasi yang telah disediakan.

Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan setelah dikoreksi didapatkan hasil yang sesuai dengan indikator pencapaian hasil yang diharapkan. Dapat dilihat dari hasil nilai siswa yang didapat pada kegiatan pembelajaran siklus II ini mengalami banyak peningkatan.

Tabel 4.2

HASIL NILAI SIKLUS II

No

NAMA SISWA

SKOR

KETERANGAN

 

1

Abdulah Husna Karim

90

TUNTAS

 

2

Adam

85

TUNTAS

 

3

Ahmad Rivai

60

TIDAK TUNTAS

 

4

Aira Dita Adristi

85

TUNTAS

 

5

Aliya Wali Putri

80

TUNTAS

 

6

Andika Cahya Wiguna

80

TUNTAS

 

7

Anisa Fauziah

60

TIDAK TUNTAS

 

8

Ariya Tri Hermawan

80

TUNTAS

 

9

Bisma Banyu Setia

85

TUNTAS

 

10

Delfine Felicia Christabel

90

TUNTAS

 

11

Elva Erista Irawan

85

TUNTAS

 

12

Ezra Febrian Mustary

85

TUNTAS

 

13

Fikri Muhammad Ramadhan

80

TUNTAS

 

14

Haekal Lavraia

80

TUNTAS

 

15

Ifa Khairunnisa

85

TUNTAS

 

16

Indah Muzizat Hayati

80

TUNTAS

 

17

Kaka Kusnadi

80

TUNTAS

 

18

Mubayyin Hakim

60

TIDAK TUNTAS

 

19

Muhamad Raihan Bhaihaqi

80

TUNTAS

 

20

Muhammad Azka Fadhilah

90

TUNTAS

 

21

Muhammad Naim Arkan

85

TUNTAS

 

22

Muhammad Rifqi Ardiansyah

60

TIDAK TUNTAS

 

23

Mutia Wahyuni

90

TUNTAS

 

24

Najla Naila Waranggany

80

TUNTAS

 

25

Nazilatun Nisa

90

TUNTAS

 

26

Nurghaida Muthmainah

85

TUNTAS

 

27

Pinkan Agustin

85

TUNTAS

 

28

Rafly Radifan Syachendra

80

TUNTAS

 

29

Rendy Hendriyana Saputra

85

TUNTAS

 

30

Ricki Prisma Putra

60

TIDAK TUNTAS

 

31

Rindu Nurani

85

TUNTAS

 

32

Rizki Wahyudhie

80

TUNTAS

 

33

Salma Putri Taufani

85

TUNTAS

 

34

Sandi Sulistiyo

80

TUNTAS

 

35

Siti Manda Arifah

90

TUNTAS

 

36

Vasya Olivia

80

TUNTAS

 

NILAI RATA - RATA

80,55

 

JUMLAH SISWA TUNTAS

31

% KETUNTASAN SISWA

86,11%

Dari tabel hasil belajar murid siklus II di atas dapat dilihat bahwa jumlah murid yang tuntas sebanyak 31 orang murid dengan persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 86.11 % dari jumlah murid seluruhnya. Karena hasil belajar murid pada siklus II ini sudah sesuai dengan yang diharapkan, maka peneliti tidak melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya.

d. Refleksi dan Revisi Siklus II

Pada tampilan tindakan II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siklus II sudah lebih baik dari siklus I, murid lebih mengerti dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS), sehingga tidak terlalu banyak melakukan kesalahan dan menunjukkan bahwa murid telah termotivasi untuk membangun pengetahuannya secara mandiri melalui saling berinteraksi dengan teman sekelompoknya. Hasil belajar murid pada siklus II ini sudah terdapat peningkatan.

Analisis Hasil Tindakan

Nilai perkembangan dihitung pada setiap siklus. Nilai perkembangan siklus I dihitung berdasarkan selisih skor dasar dengan skor ulangan harian I, dan nilai perkembangan siklus II dihitung berdasarkan selisih skor ulangan harian I dengan skor ulangan harian II. Penyusunan kelompok pada pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) siklus I berdasarkan skor sebelum tindakan, dan penyusunan kelompok siklus II sama dengan kelompok pada siklus I. Nilai perkembangan murid siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.3

TABEL KRITERIA PENILAIAN

No.

Kriteria Nilai Penafsiran 

Hasil belajar

1

86 - 100

Baik Sekali

2

71 - 85

Baik

3

56 - 70

Cukup

4

41 - 55

kurang

5

Kurang < 40

sangat kurang

 

Tabel 4.4

Tabel Analisa Ketuntasan Siswa

No.

Deskripsi

Siklus I

Siklus II

1

Jumlah siswa Tuntas

11

31

2

Jumlah Siswa Tidak Tuntas

25

5

3

Nilai Rata - Rata

60,69%

80,55%

4

% Ketuntasan Siswa

30,55%

86,11%

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.5

Tabel Aktivitas Siswa

 

No.

Deskripsi

Siklus I

Siklus II

1

Jumlah siswa Tuntas

11

31

2

Jumlah Siswa Tidak Tuntas

25

5

3

Nilai Rata - Rata

60,69%

80,55%

4

% Ketuntasan Siswa

30,55%

86,11%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

��������� Kendala-kendala pada siklus I dalam penelitian ini diperbaiki pada siklus II. Sehingga kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II. Kendala-kendala tersebut diantaranya yaitu: Siswa belum begitu memahami masalah kontekstual yang diberikan karena masih belum terbiasa, hanya ada beberapa siswa yang bisa memanfaatkan model yang diberikan untuk memecahkan masalah, banyak siswa yang malu untuk mengemukakan pendapatnya dan bertanya, baik pada teman maupun guru, belum berani memberikan pendapat atas kerja temannya dan siswa masih kesulitan dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan.

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan ternyata skor tes hasil belajar Matematika setelah tindakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) lebih baik dibandingkan sebelum tindakan dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa harapan dengan pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) pada materi pokok Determinan dan Invers Matriks dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Meningkatnya hasil belajar murid pada siklus II dibandingkan siklus I dan sebelum tindakan menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dibawakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Artinya, hipotesis tindakan yang telah diajukan yaitu melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan hasil belajar Matematika kelas XI IPS 1 Semester ganjil SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran 2017/2018 dapatditerima�.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab IV dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatf tipe Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan hasil belajar Matematika kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung. Keberhasilan ini disebabkan melalui pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) membuat murid lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Dari hasil analisis data tentang hasil belajar murid diperoleh fakta bahwa terjadi peningkatan jumlah murid yang mencapai KKM sesudah tindakan jika dibandingkan dengan jumlah murid sebelum tindakan.

Dengan demikian hasil analisis tindakan ini mendukung hipotesis tindakan berarti menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4Bandung Semester Ganjil Tahun Ajaran 2017/ 2018.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amin Suyitno. 2002. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.

A.������� M, Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996

Endang Sri Astuti, (2010). Pengertian motivasi belajar. Bandung: Nusa Media

 

Kemmis, S. & Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University Press.

Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajer. Bandung : CV Maulana.

Nasution, S. 1982. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Edisi Pertama. Jakarta: Bina Aksara.

Purwoto. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Purwanto. (2014). Evaluasi hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Purwanto, Ngalim. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purnomo, heri. 2012. Pemodelan dan simulasi untuk pengelolaan adaptif sumberdaya alam dan lingkungan. Bogor : IPB press

Rachmawati, yeni. 2010. Pengelolaan lingkungan belajar. Jakarta : kencana prenada media grup

Riduwan. 2012. Path analysis. Bandung : alfabeta

Sadirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Rajawali Pers,

2007. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Rineka Cipta, 2003

Slameto, 1 998.Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Bina Aksara.

Sri Hapsari, (2005). Bimbingan dan Konseling SMA Untuk Kelas XII. Jakarta : PT Grasindo

Sudjana. (2006). Metode Statistik. Jakarta: Rineka Cipta

Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta