MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI DETERMINAN DAN INVERS MATRIKS MELALUI MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DI KELAS XI IPS 1 / SMTR 1 SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2017 � 2018
Riatinda
SMA Negeri 4 Bandung
|
Riwayat Artikel: Received: 10-10-2022 Revised: 18-10-2022 Accepted: 29-10-2022 Keywords:
Student Learning Motivation,
Creative Problem Solving (CPS) Model Kata Kunci:
Motivasi Belajar
Siswa, Model Creative Problem Solving (CPS) |
|
Abstract Student activity in learning is one of the important factors that affect
a person's learning outcomes, good student activities have the motivation to
devote all their abilities to produce optimal learning outcomes in accordance
with the expected learning outcomes. The problem studied in this study is
whether or not there is an effect of applying the learning model as a
learning factor on student learning outcomes that can improve student
learning outcomes. The method used in this study is a questionnaire
(questionnaire), documentation and observation. The collected data were
analyzed by descriptive percentage techniques and simple linear analysis. The
purpose of this study was to determine the improvement of mathematics learning
outcomes in class XI IPS 1 students of SMA Negeri 4 Bandung Semester I of the
2017 - 2018 academic year by using the Creative Problem Solving (CPS)
learning method. Based on the data analysis that has been carried out, it
turns out that the test scores for learning Mathematics outcomes after the
action with the application of the Creative Problem Solving (CPS) type
cooperative learning model are better than before the action. The results
obtained in the first cycle with the percentage of the average value of the
class reached 60.69% with classical completeness only reaching 30.55%, but in
the second cycle the students' scores were very good with the acquisition of
the class average score reaching 80.55% and the classical average. reached
86.11%, through the application of cooperative learning model type Creative
Problem Solving (CPS) can improve learning outcomes Mathematics class XI IPS
1 SMA Negeri 4 Bandung) |
|
|
Abstrak
Aktivitas siswa dalam belajar
merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar seseorang, aktivitas siswa yang baik memiliki motivasi kecenderunagan untuk mencurahkan segala kemampuannya untuk menghasilkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah ada tidaknya
pengaruh penerapan model pembelajaran sebagai faktor belajar terhadap hasil belajar sisw yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kuesioner), dokumentasi dan observasi.data yang dikumpulkan
dianalisis dengan tekhnik deskriftif presentase dan analisis linier sederhana.� Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
peningkatan hasil belajar Matematika pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri
4 Bandung Semester I Tahun Pelajaran 2017 - 2018 dengan menggunakan metode pembelajaran Creative
Problem Solving (CPS). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan ternyata skor tes hasil
belajar Matematika� setelah
tindakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative
Problem Solving (CPS)� lebih baik dibandingkan
sebelum tindakan dilakukan. Hasil nilai yang didapat pada siklus I dengan prosentase nilai rata �rata kelas mencapai 60.69 % dengan ketuntasan klasikal hanya mencapai 30.55 %, namun pada siklus II perolehan hasil nilai siswa sangat baik dengan perolehan
nilai rata � rata kelas mencapai 80.55 % dan rata � rata klasikal
mencapai 86,11 %, melalui
penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Creative
Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan
hasil belajar Matematika� kelas XI
IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung |
Corresponding Author:
Riatinda
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu pembelajaran yang kompleks, banyak variabel dan berdimensi luas sebagai suatu proses psikologis pendidikan yang tak dapat dipisahkan
dari proses belajar mengajar. Dari prespektif mengajar, pelakunya adalah guru/pendidik ataupun pihak yang mendidik. Sedangkan dari prespektif belajar, pelakunya adalah peserta didik yang melakukan aktivitas belajar. Dengan penjabaran tadi bahwa pendidikan
adalah suatu proses interaksi pendidik dan peserta didik yang memiliki tujuan yang sudah di tentukan bersama, pendidikan sebagai proses yang pada dasarnya
membimbing peserta didik menuju tahap
kedewasaan, dengan melalui program sekolah maupun pendidikan di luar sekolah. Pembangunan pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan mutu dalam kehidupan
dan martabat manusia untuk mewujudkan tujuan nasional.
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran
di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir
secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu, pengetahuan matematika harus dikuasai sedini mungkin oleh para siswa. Ketrampilan berhitung merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang menduduki peranan penting dalam pendidikan,
hal ini dapat
dilihat dari pelaksanaan pelajaran matematika yang diberikan kepada semua jenjang
pendidikan mulai dari tingkat sekolah
dasar sampai perguruan tinggi. Selain itu, keputusan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2011 tentang Prosedur Operasional Standar Ujian Nasional dijelaskan bahwa mata pelajaran Matematika menjadi salah satu mata pelajaran
wajib yang menjadi ukuran kelulusan Ujian Nasional. Matematika juga menjadi salah satu ilmu yang dijadikan tolak ukur IntellectualQuotient
(IQ) seseorang.
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat,
efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
�Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model
dan menafsirkan solusi yang
diperoleh. Mengomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah serta
memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam
pemecahan masalah
Kenyataannya dalam pembelajaran pada pendidikan
formal dewasa ini masih terdapat permasalahan seperti masih rendahnya hasil belajar siswa,
aktivitas dan motivasi siswa dalam pembelajaran
rendah. Secara empiris rendahnya hasil belajar siswa
disebabkan karena proses pembelajaran didominasi oleh pembelajaran tradisional yakni berpusat pada guru
(teacher-centrered) sehingga
siswa menjadi pasif. Dewasa ini,
banyak penelitian mengembangkan pembelajaran matematika yang relevan dengan kemampuan berfikir siswa seperti penelitian yang mengkaji tentang pembelajaran secara positivistis dan konstruksitivis.� Pembelajaran berfikir positivistis dalam mengkonstruksi model belajar-mengajar dan pengembangannya
menurut Knapp dan Petersen (1995) adalah
sangat perlu diperhatikan. Penelitian mengenai model pembelajaran saat ini merupakan kebutuhan
yang esensial agar terus-menerus
diperbaiki, karena pada kenyataannya dilapangan, siswa mengalami perubahan-perubahan dalam belajar matematika sehingga perlu untuk diteliti.
Berdasarkan pendapat tersebut, seorang guru dituntut mengembangkan pembelajarannya, sehingga benar-benar membuat siswa mampu bermatematika.
Dengan demikian metode pembelajaran apakah yang dapat menjawab harapan Knapp dan Petreson tersebut? Tentunya kita harus
memilih suatu metode yang kita anggap paling tepat yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa. Bagi Knapp dan Petersen
(1995:41), �sekalipun pembelajaran
dilakukan dengan metode tradisional, seorang guru dapat saja berhasil membuat
siswanya belajar matematika yang sesungguhnya. Seorang guru dapat berhasil melakukan pembelajaran apabila ia selalu mempertimbangkan
terlebih dahulu strategi
yang akan dilakukan dan selalu memperbaiki pembelajarannya (refleksi)�.
Beberapa hal yang lazim terjadi pada pembelajaran matematika di sekolah�� adalah:
a.
Teknik mengajar masih relatif monoton.
Metode guru dalam menyampaikan materi masih terbatas dengan metode ceramah,
hanya mendikte atau menuliskan catatan atau tugas
siswa, demikian halnya pada saat pembahasan soal-soal latihan.
b.
Interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa termasuk lemah. Guru tidak ubahnya seperti
pendongeng cerita, yang akan berakhir dengan
soal atau pertanyaan dan seolah-olah tidak begitu bermakna.
Hal yang menyebabkan kegiatan
kosultatif antara guru dan siswa untuk menyelesaikan
soal-soal yang berkategori sulit jarang terjadi.
c.
Di dalam kelas,
guru jarang sekali berkeliling melihat pekerjaan siswa dibarisan belakang, guru lebih sering berinteraksi
dengan anak-anak dibarisan depan. Bagi siswa yang ada dibarisan belakang,
baru akan mendapatkan peran apabila ada giliran
untuk maju ke depan mengerjakan
soal. Padahal beberapa siswa yang ada dibelakang mungkin sekali mengalami kesulitan belajar matematika yang apabila dibiarkan dapat melemahkan motivasi belajar siswa.
d.
Matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan atau bahkan membosankan. Siswa-siswa seringkali masih merasa kesulitan,
ragu-ragu, agak takut, dan kuatir salah jika menjawab pertanyaan dari guru, dan terlebih lagi siswa malu
untuk bertanya.
Hal ini salah satu hal yang menyebabkan disetiap jam pelajaran matematika siswa cenderung merasa enggan dan malas. Keadaan ini jika dibiarkan
maka nilai pelajaran matematika akan semakin menurun
dan gagal dalam memperoleh nilai ketuntasan minimal yang telah ditentukan. Untuk mengatasi masalah tersebut seorang guru harusmampu memberikan motivasi terhadap siswa melalui pengelolaan
kelas yang menarik dan melibatkan siswa dalam menemukan konsep.
Pengalaman peneliti sebagai guru matematika sebelum melaksanakan pembelajaran sudah berusaha maksimal, mulai dari persiapan
RPP, media hingga strategi pembelajaran
dan pengelolaan kelas. Namun disisi lain peneliti sebagai guru memang masih cenderung
menggunakan metode mengajar yang monoton yaitu metode ceramah,
kondisi ini ternyata membuat siswa menjadi bosan,
jemu dan tidak tertarik untuk belajar. Guru kurang mampu mengelola kelas dengan baik,
sehingga banyak diantara siswa yang acuh tak acuh
terhadap pembelajaran yang sedang dilakukan oleh guru bahkan sebagian diantaranya lebih sering mengerjakan tugas lain.
Pembelajaran matematika secara khusus harus
memberikan sumbangan terhadap terbentuknya kemampuan - kemampuan tersebut, secara umum implikasi pembelajaran dengan pendekatan pemecahan masalah ialah terbentuknya
pola pembelajaran dikelas dengan skenario secara umum yakni penjelasan
materi, contoh soal dan latihan aneka masalah. Hal yang harus kita ketahui
pendekatan ini harus distimulus oleh masalah - masalah yang dapat membangkitkan pemikiran siswa agar masalah - masalah tersebut dapat diselesaikan. Djamara dan Aswan
(2010:91) mengemukakan bahwa
metode pemecahan masalah (Problem Solving) bukan hanya sekedar metode
mengajar tetapi juga merupakan metode berfikir, sebab dalam Problem Solving dapat menggunakan metode � metode lainnya sampai menarik kesimpulan. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh penelitian Silaholo, Dkk (2014:811) bahwa menggunakan pendekatan Problem
Solving dapat meningkatkan hasil belajar. Oleh karena itu untuk
bisa membangkitkan cara berfikir yang kritis, kreatif, dan inovatif terhadap siswa dibutuhkan metode pemecahan masalah agar nantinya pada proses
pembelajaran siswa mampu memahami materi dan konsep yang diajarkan.
Sehubungan dengan uraian
diatas, dalam usaha menemukan model pembelajaran yang tepat yang dipadukan dengan media pembelajaran sebagai upaya dalam meningkatkan
hasil belajar maka perlu adanya
model yang inovatif dalam pembelajaran, dengan model yang mampu membangkitkan pemikiran siswa untuk bisa menyelesaikan
masalah - masalah yang dihadapi secara kreatif dan mandiri, untuk itu salah satu model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS).
METODA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action
research), karena penelitian
dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran
diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. Ada 4 macam bentuk penelitian
tindakan, yaitu:
a.
penelitian tindakan guru sebagai
peneliti,
b.
penelitian tindakan kolaboratif,
c.
penelitian tindakan simultan terintegratif, dan
d.
penelitian tindakan sosial eksperimental.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action
research), karena penelitian
dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran
diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang. Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan
bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi
perencanaan atau berkesinambungan pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut
dan akan dihentikan jika sesuai dengan
kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
Penjelasan alur di atas adalah:
1.
Rancangan/perencana awal, sebelum mengadakan
penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana
tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat
pembelajaran.�
2.
Pelaksanaan dan pengamatan, meliputi
tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep
siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran
dengan pemberian balikan.
3.
Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan
mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan
lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4.
Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan
hasil refleksi dari pengamatan membuat rangcangan yang direvisi untuk
dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan
melalui tiga tahap, yaitu:
�
tahap persiapan,
�
tahap pelaksanaan, dan
�
tahap penyelesaian.
1. Tahap persiapan
Kegiatan yang dilakukan
dalam tahap persiapan ini adalah
mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian. Dalam kegiatan ini diharapkan
pelaksanaan penelitian akan berjalan lancar
dan mencapai tujuan yang diinginkan
2. Tahap Pelaksanaan
Pada
tahap pelaksanaan penelitian ini, kegiatan yang dilakukan meliputi:
�
pengumpulan data melalui tes
dan pengamatan yang dilakukan
persiklus,
�
diskusi dengan pengamat
untuk memecahkan kekurangan dan kelemahan selama proses belajar mengajar persiklus,
�
menganalisi data hasil penelitian
persiklus,
�
menafsirkan hasil analisis
data, dan
�
bersama-sama dengan pengamat
menentukan langkah perbaikan untuk siklus berikutnya.
3. Tahap Penyelesaian
Dalam tahap penyelesaian,
kegiatan yang dilakukan meliputi:
�
menyusun draf laporan
penelitian,
�
mendiskusikan draf laporan
penelitian,
�
merevisi draf laporan
penelitian,
�
menyusun naskah laporan
penelitian, dan
�
menggandakan laporan penelitian.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Yaitu
merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam
mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi kompetensi
dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan
kegiatan belajar mengajar.
2.
Lembar Kegiatan Siswa
3.
Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa
untuk membantu proses pengumpulan data hasil kegiatan pemberian tugas.
4.
Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan
pemahaman materi yang disampaikan. Tes formatif ini diberikan setiap akhir
putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru (objektif).
Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode
dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data
yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai
siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan
atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap
putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis
pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik
sederhana yaitu:
1.
Untuk menilai Hasil Ulangan/ tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh
siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut
sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
Dengan :� ��� X = Nilai rata-rata
Σ X��
= Jumlah semua nilai siswa
Σ N��
=� Jumlah siswa
X = Σ X
�Σ N
2.
Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori
ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan
petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu
seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65,
dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah
mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung
persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
P = Σ siswa yang tuntas��
x 100 %
������������
Σ siswa
Analisis data dalam penelitian tindakan
kelas ini menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif (Supardi, 2006:131).
Terhadap perolehan hasil belajar dianalisis secara kuantitatif dengan
memberikan nilai pada hasil belajar siswa. Data-data tersebut dianalisis mulai
dari siklus satu dan siklus dua untuk dibandingkan dengan teknik deskriptif
presentase. Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel kriteria
deskriptif� prosentase, yang� dikelompokkan dalam 5 kategori, yaitu baik
sekali, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang sebagai berikut:
Klasifikasi
Kategori Tingkatan dan Prosentase
|
No. |
Kriteria
Nilai Penafsiran |
Hasil belajar
|
|
1 |
�86 - 100 |
Baik
Sekali� |
|
2 |
71 - 85 |
Baik
|
|
3 |
56 - 70 |
Cukup |
|
4 |
41 - 55 |
kurang |
|
5 |
Kurang < 40 |
sangat kurang |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini merupakan
penelitian tindakan kelas (PTK). PTK dipilih karena mempunyai beberapa keistimewaan yaitu mudah dilakukan
oleh guru, tidak mengganggu
jam kerja guru, selain itu sambil mengajar
bisa sekaligus melakukan penelitian serta tidak memerlukan
perbandingan. Data hasil penelitian yang akan dipaparkan adalah data hasil rekaman tentang
beberapa hal yang menyangkut pelaksanaan selama tindakan berlangsung.
Penelitian tindakan kelas melalui model pembelajaran
Creative Problem Solving (CPS) pada mata pelajaran matematika materi matriks ini dilaksanakan di kelas XI IPS 1, pada semester ganjil
SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran
2017 � 2018. Penelitian dilaksanakan
dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan.
Setiap pertemuan diberi alokasi waktu 3x45 menit (3 jam pelajaran). Setiap siklus terdapat pelaksanaan tindakan, observasi guru, observasi siswa, dan angket sikap kerja keras
siswa. Satu siklus terdiri dari tahap
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.
Deskripsi Tindakan
Awal / Pra Siklus
Pengetahuan awal ini
perlu diketahui agar kiranya penelitian ini sesuai dengan
apa yang diharapkan oleh peneliti, apakah benar kiranya kelas
ini perlu diberi tindakan yang sesuai dengan apa
yang akan diteliti yaitu penerapan strategi pembelajaran untuk� meningkatkan
motivasi belajar Matematika. Untuk mengungkap kondisi awal dari kelas
yang menjadi objek tindakan kelas ini maka peneliti
melakukan langkah � langkah sebagai berikut :
a.
Perencanaan
Untuk mengetahui kondisi awal dari kelas
XI IPS 1 Semester 1 SMA��� Negeri 4� Bandung Tahun Ajaran 2017 � 2018, maka peneliti merencanakan
observasi langsung, kegiatan yang dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran.
Observasi langsung yang dilakukan untuk mengetahui strategi pembelajaran
yang digunakan sebelumnya.
Guru / Peneliti� dibantu
guru pengajar lainnya yang bertindak sebagai observer sebagai pengamat serta menyiapkan alat tes yang akan
digunakan sebagai alat untuk mengukur
kemampuan penguasaan awal materi dari
siswa.
b.
Pelaksanaan.
Pelaksanaan untuk mengukur kemampuan awal siswa dilaksanakan di awali dengan menggunakan
metode ceramah. Pada pembelajaran� ini guru / peneliti� mengamati� kejadian � kejadian� yang terjadi secara rinci pada saat memaparkan materi pembelajaran, dalam menyampaikan materi memerlukan waktu 1 jam pelajaran dan 15 menit untuk pemberian contoh, selanjutnya guru / peneliti memberikan posttest� dengan menggunakan soal yang telah dirancang sebelumnya Pada pelaksanaan ini peneliti / guru bersama dengan observer mengawasi kerja siswa dalam mengerjakan
soal yang diberikan , sehingga keakuratan dari hasil pengawasan
dapat dipertanggung jawabkan.
c.
Hasil Pengamatan / Observasi
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa pada pengajaran yang dilakukan, guru / peneliti masih menggunakan cara pengajaran yang tradisional yaitu guru sebagai pusat pembelajaran
dan pengajaran materi tersebut diajarkan dengan menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran berlangsung terlihat siswa asyik dengan kegiatannya
sendiri yang tidak ada kaitannya dengan
apa yang disampaikan guru. Justru masih terlihat
anak � anak yang bermain � main dengan temannya tanpa mempedulikan apa yang disampaikan oleh guru pengajar.
Dan dari hasil pengerjaan siswa pada alat tes yang telah
dirancang oleh guru setelah
diadakan koreksi maka didapatkan hasil yang kurang memuaskan.
d.
Refleksi
Dari kondisi awal yang ada tersebut
maka perlu diadakan suatu tindakan untuk mengangkat kemampuan penguasaan materi. Berdasarkan tanya jawab yang dilakukan peneliti terhadap siswa, terungkap bahwa siswa mempunyai
kelemahan pada pengembangan
skill pengerjaan suatu masalah karena kurangnya siswa diberi kesempatan untuk berlatih dalam menyelesaikan masalah � masalah, sehingga siswa minta untuk diberi
kesempatan untuk menyelesaikan masalah sebelum guru pengajar menyelesaikannya.
Bertolak dari kondisi awal tersebut maka peneliti merencanakan tindakan
penelitian dengan menerapkan strategi pembelajaran dengan memperlakukan
pembelajaran aktif pada kelompok besar.
Deskripsi Tindakan Siklus I
����������� Berdasarkan temuan masalah pada awal kegiatan sebagai dasar / pra siklus
sebelum masuk pada kegiatan pembelajaran Siklus I, maka diadakan pelaksanaan pembelajaran siklus I. Pada tahap ini guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan
soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar siswa (soal terlampir). Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi
tentang hasil kinerja guru. Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam penelitian ini antara lain:
�
Kemampuan awal siswa
�
Prestasi belajar siswa
untuk kelompok
Pada pelaksanaan
kegiatan penerapan pembelajaran Siklus I ini dilakukan beberapa tahapan,
diantaranya :
a.
Tahap Persiapan Siklus I
Pada tahap persiapan, peneliti mempersiapkan instrumen pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian seperti membuat silabus, merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membuat lembar kegiatan murid (LKS), membuat soal pretest untuk setiap kali pertemuan, membuat kisi-kisi soal ulangan harian
dan soalnya, serta alternatif jawaban ulangan harian. Selain itu, peneliti
juga membagi murid dalam kelompok kooperatif sesuai dengan kemampuan
akademik murid, dan lembar pengamatan aktivitas guru dan
murid.
b.
Tahap Pelaksanaan Siklus I
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan oleh peneliti dengan melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, dimulai dengan penjelasan pada siswa tentang kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam mengikuti
kegiatan.
Pada tahap ini merupakan pertemuan
pertama penerapan model pembelajaran kooperatif dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Pada kegiatan awal pembelajaran
guru terlebih dahulu melakukan apersepsi terhadap materi yang telah lalu dengan
melakukan tanya jawab dan menghubungkan materi yang telah lalu dengan materi
yang akan dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi.
Memasuki kegiatan inti guru memberikan pretes mengenai pelajaran yang akan dipelajari dan meminta murid untuk mengerjakannya secara individu. Setelah semua murid selesai mengerjakan pretes, kemudian guru mengorganisasikan murid ke dalam kelompok kooperatif yang telah dibentuk guru sebelumnya. Guru menyampaikan informasi singkat tentang materi yang dipelajari. Setelah semua murid paham dengan penjelasan
singkat dari guru, selanjutnya guru membagikan LKS kepada setiap kelompok
dan meminta setiap murid untuk saling bekerja
sama dalam kelompoknya dalam menyelesaikan LKS tersebut. Guru sebagai fasilitator memberi bimbingan kepada kelompok yang belum memahami materi yang sedang dibahas. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS tersebut, guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk mengumpulkan LKS yang telah diselesaikan.
Pada kegiatan
akhir guru membimbing murid
dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kemudian mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tugas rumah kepada
murid dan dikumpulkan sebagai
bahan evaluasi.
c.
Tahap Observasi / pengamatan Siklus I
Observasi terhadap aktivitas guru dan murid
selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) yang dilakukan oleh observer sudah menunjukkan perubahan dan peningkatan yang berarti. Pada pertemuan pertama dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS), aktivitas
guru sudah sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang guru pada tahap persiapan. Tetapi pada kegiatan akhir pertemuan pertama guru tidak sempat membimbing
murid dalam menyimpulkan materi pelajaran hal ini disebabkan
waktu habis, sehingga guru menyimpulkan sendiri materi pelajaran dan meminta murid untuk cepat mencatat
kesimpulan tersebut.
Sedangkan aktivitas murid pada pertemuan pertama ini masih
tampak bingung karena sebelumnya guru belum pernah menerapkan
model pembelajaran kooperatif
tipe Creative Problem Solving (CPS). Pada saat pretes berlangsung
masih ada murid yang mencoba-coba melihat hasil kerja temannya,
tetapi guru sudah memberi peringatan kepada murid tersebut. Tetapi setelah murid belajar dan kelompoknya, tampak adanya motivasi
dalam mengikuti proses pembelajaran dibandingkan dengan sebelum dilakukan tindakan.
Pada pelaksanaan pengerjaan
lembar kerja tersebut tampak adanya siswa yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan bertanya pada teman terdekatnya, namun ada pula siswa yang mengalami hambatan dalam mengerjakan lembar kerja tersebut
langsung bertanya kepada peneliti dan guru pengajar. Pada post test yang diberikan setelah dikoreksi oleh guru pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.1
Hasil Nilai Siklus I
|
No |
NAMA SISWA |
SKOR |
KETERANGAN |
|
|
1 |
Abdulah Husna
Karim |
65 |
TUNTAS |
|
|
2 |
Adam |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
3 |
Ahmad Rivai |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
4 |
Aira Dita Adristi |
65 |
TUNTAS |
|
|
5 |
Aliya Wali Putri |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
6 |
Andika Cahya Wiguna |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
7 |
Anisa Fauziah |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
8 |
Ariya Tri Hermawan |
50 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
9 |
Bisma Banyu
Setia |
65 |
TUNTAS |
|
|
10 |
Delfine
Felicia Christabel |
70 |
TUNTAS |
|
|
11 |
Elva Erista Irawan |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
12 |
Ezra Febrian Mustary |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
13 |
Fikri Muhammad
Ramadhan |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
14 |
Haekal Lavraia |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
15 |
Ifa Khairunnisa |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
16 |
Indah Muzizat Hayati |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
17 |
Kaka Kusnadi |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
18 |
Mubayyin Hakim |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
19 |
Muhamad
Raihan Bhaihaqi |
65 |
TUNTAS |
|
|
20 |
Muhammad Azka Fadhilah |
70 |
TUNTAS |
|
|
21 |
Muhammad Naim Arkan |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
22 |
Muhammad Rifqi Ardiansyah |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
23 |
Mutia Wahyuni |
50 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
24 |
Najla Naila Waranggany |
65 |
TUNTAS |
|
|
25 |
Nazilatun Nisa |
70 |
TUNTAS |
|
|
26 |
Nurghaida Muthmainah |
65 |
TUNTAS |
|
|
27 |
Pinkan Agustin |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
28 |
Rafly Radifan Syachendra |
65 |
TUNTAS |
|
|
29 |
Rendy Hendriyana Saputra |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
30 |
Ricki
Prisma Putra |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
31 |
Rindu Nurani |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
32 |
Rizki Wahyudhie |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
33 |
Salma
Putri Taufani |
70 |
TUNTAS |
|
|
34 |
Sandi Sulistiyo |
55 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
35 |
Siti Manda
Arifah |
60 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
36 |
Vasya Olivia |
70 |
TIDAK TUNTAS |
|
|
NILAI
RATA - RATA |
60,69 |
|
|
|
|
JUMLAH
SISWA TUNTAS |
11 |
|||
|
%
KETUNTASAN SISWA |
30,55% |
|||
Dari tabel di atas dapat diketahui
bahwa rata-rata hasil belajar murid pada siklus I melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) adalah
60.99 %. Jumlah murid yang mencapai
KKM ≥ 60 adalah sebanyak
11 orang murid dengan persentase
ketuntasan klasikalnya sebesar 30.55 %. Jika dibandingkan
dengan hasil belajar sebelum tindakan, hasil belajar murid pada siklus I ini sudah terjadi
peningkatan, tetapi belum maksimal. Untuk itu melanjutkan
penelitian pada siklus II
agar hasil yang diperoleh
murid lebih memuaskan lagi.
d.
Refleksi dan Revisi Siklus I
������ Setelah dilakukan tindakan dan diamati oleh
observer, selanjutnya peneliti
berdiskusi dengan observer untuk merefleksi hasil penelitian yang telah dilakukan pada siklus I. Tujuan dilakukannya refleksi adalah ntuk memperbaiki
kesalah dan kekurangan yang
terjadi pada siklus I. Kelemahan yang terjadi pada siklus I yaitu peneliti tidak dapat menggunakan waktu seefisien mungkin, sehingga kegiatan pada akhir proses pembelajaran tidak dilakukan yaitu membimbing murid dalam menyimpulkan materi pelajaran.
Dalam pembelajaran
Matematika melalui metode pembelajaran Creative
Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan
hasil belajar sisiwa dari data nilai yang sudah dicapai dengan pembelajaran mengunakan metode ini diperoleh
hasil nilai yang memuaskan .
Tetapi untuk memastikan apakah karena aktifitas meningkat dan� memang betul � betul meningkat,
maka perlu dilanjutkan pada siklus II.
Deskripsi Tindakan Siklus II
����������� Proses
pembelajaran pada siklus II
tidak jauh berbeda dari pelaksanaan
siklus sebelumnya, peneliti membagikan hasil skor siswa
serta memotivasi siswa supaya meningkatkan
hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya tentang materi� sebelumnya
yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya.
a.
Tahap Persiapan Siklus II
Pada siklus
II ini peneliti mempersiapkan instrumen pembelajaran, yaitu menyusun rencana, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Semua siswa kelas
XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung yang hadir 36 orang.
b.
Tahap Pelaksanaan Siklus II
Pada siklus
II dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS). Pada kegiatan awal pembelajaran
guru terlebih dahulu melakukan apersepsi terhadap materi yang telah lalu dengan
melakukan tanya jawab dan menghubungkan materi yang telah lalu dengan materi
yang akan dipelajari. Selanjutnya guru memotivasi murid
dengan menceritakan hubungan materi yang akan dipelajari dengan kehidupan sehari-hari. Setalah itu pada akhir kegiatan awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai murid. Memasuki kegiatan inti guru memberikan pretes mengenai pelajaran yang akan dipelajari dan meminta murid untuk mengerjakannya secara individu. Setelah semua murid selesai mengerjakan pretes, kemudian guru mengorganisasikan murid ke dalam kelompok kooperatif yang telah dibentuk guru sebelumnya. Guru menyampaikan informasi singkat tentang materi yang dipelajari. Setelah semua murid paham dengan penjelasan
singkat dari guru, selanjutnya guru membagikan LKS kepada setiap kelompok
dan meminta setiap murid untuk saling bekerja
sama dalam kelompoknya dalam menyelesaikan LKS tersebut. Guru sebagai fasilitator memberi bimbingan kepada kelompok yang belum memahami materi yang sedang dibahas. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan LKS tersebut, guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk mengumpulkan LKS yang telah diselesaikan. Pada kegiatan akhir guru membimbing murid dalam menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kemudian mengakhiri pembelajaran dengan mengevaluasi perolehan hasil nilai pengerjaan
soal yang dikerjakan oleh siswa.
c.
Tahap Observasi / Pengamatan Siklus II
Aktivitas guru dan
murid pada siklus II sudah terjadi peningkatan dibandingkan siklus I. Guru sudah melaksanakan semua aktivitas yang telah dirancang pada RPP. Guru
juga sudah dapat menggunakan waktu seefisien mungkin, sehingga semua aktivitas pada RPP terlaksana semua. Sedangkan aktivitas murid sudah sangat memuaskan. Murid sudah sangat termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga hasil pretes dan hasil ulangan harian II sangat memuaskan. Secara umum aktivitas guru dan murid
pada siklus II ini sudah sangat baik.
Pada pelaksanaan
siklus II ini tampak sekali bahwa
siswa sangat antusias dalam mengerjakan tugas kelompok, semua siswa terlihat
aktif bersama kelompoknya dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan peneliti. Pada saat diskusi pembahasan materi yang diberikan satu kelompok untuk
ditanggapi oleh kelompok lain, kadang terlihat
perbedaan pola berfikir dari masing � masing individu dalam menyampaikan ide pemecahan masalah yang diberikan.
Guru / rekan
sejawat sebagai pengamat bertugas mengawasi seluruh kegiatan peneliti dan mengamati semua aktfitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat tinggal mengisi lembar observasi yang telah disediakan.
Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan setelah dikoreksi didapatkan hasil yang sesuai dengan indikator
pencapaian hasil yang diharapkan. Dapat dilihat dari hasil
nilai siswa yang didapat pada kegiatan pembelajaran siklus II ini mengalami banyak
peningkatan.
Tabel 4.2
HASIL NILAI SIKLUS II
|
No |
NAMA SISWA |
SKOR |
KETERANGAN |
|
|
1 |
Abdulah Husna
Karim |
90 |
TUNTAS |
|
|
2 |
Adam |
85 |
TUNTAS |
|
|
3 |
Ahmad Rivai |
60 |
TIDAK
TUNTAS |
|
|
4 |
Aira Dita Adristi |
85 |
TUNTAS |
|
|
5 |
Aliya Wali Putri |
80 |
TUNTAS |
|
|
6 |
Andika Cahya Wiguna |
80 |
TUNTAS |
|
|
7 |
Anisa Fauziah |
60 |
TIDAK
TUNTAS |
|
|
8 |
Ariya Tri Hermawan |
80 |
TUNTAS |
|
|
9 |
Bisma Banyu
Setia |
85 |
TUNTAS |
|
|
10 |
Delfine
Felicia Christabel |
90 |
TUNTAS |
|
|
11 |
Elva Erista Irawan |
85 |
TUNTAS |
|
|
12 |
Ezra Febrian Mustary |
85 |
TUNTAS |
|
|
13 |
Fikri Muhammad
Ramadhan |
80 |
TUNTAS |
|
|
14 |
Haekal Lavraia |
80 |
TUNTAS |
|
|
15 |
Ifa Khairunnisa |
85 |
TUNTAS |
|
|
16 |
Indah Muzizat Hayati |
80 |
TUNTAS |
|
|
17 |
Kaka Kusnadi |
80 |
TUNTAS |
|
|
18 |
Mubayyin Hakim |
60 |
TIDAK
TUNTAS |
|
|
19 |
Muhamad
Raihan Bhaihaqi |
80 |
TUNTAS |
|
|
20 |
Muhammad Azka Fadhilah |
90 |
TUNTAS |
|
|
21 |
Muhammad Naim Arkan |
85 |
TUNTAS |
|
|
22 |
Muhammad Rifqi Ardiansyah |
60 |
TIDAK
TUNTAS |
|
|
23 |
Mutia Wahyuni |
90 |
TUNTAS |
|
|
24 |
Najla Naila Waranggany |
80 |
TUNTAS |
|
|
25 |
Nazilatun Nisa |
90 |
TUNTAS |
|
|
26 |
Nurghaida Muthmainah |
85 |
TUNTAS |
|
|
27 |
Pinkan Agustin |
85 |
TUNTAS |
|
|
28 |
Rafly Radifan Syachendra |
80 |
TUNTAS |
|
|
29 |
Rendy Hendriyana Saputra |
85 |
TUNTAS |
|
|
30 |
Ricki
Prisma Putra |
60 |
TIDAK
TUNTAS |
|
|
31 |
Rindu Nurani |
85 |
TUNTAS |
|
|
32 |
Rizki Wahyudhie |
80 |
TUNTAS |
|
|
33 |
Salma
Putri Taufani |
85 |
TUNTAS |
|
|
34 |
Sandi Sulistiyo |
80 |
TUNTAS |
|
|
35 |
Siti Manda
Arifah |
90 |
TUNTAS |
|
|
36 |
Vasya Olivia |
80 |
TUNTAS |
|
|
NILAI
RATA - RATA |
80,55 |
|
||
|
JUMLAH
SISWA TUNTAS |
31 |
|||
|
%
KETUNTASAN SISWA |
86,11% |
|||
Dari tabel hasil belajar murid siklus II di atas dapat dilihat bahwa
jumlah murid yang tuntas sebanyak 31 orang murid dengan persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 86.11 % dari jumlah murid seluruhnya. Karena hasil belajar murid pada siklus II ini sudah
sesuai dengan yang diharapkan, maka peneliti tidak melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya.
d. Refleksi
dan Revisi Siklus II
Pada tampilan
tindakan II proses pembelajaran
meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siklus II sudah lebih baik dari
siklus I, murid lebih mengerti dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem
Solving (CPS), sehingga tidak
terlalu banyak melakukan kesalahan dan menunjukkan bahwa murid telah termotivasi untuk membangun pengetahuannya secara mandiri melalui saling berinteraksi dengan teman sekelompoknya.
Hasil belajar murid pada siklus
II ini sudah terdapat peningkatan.
Analisis Hasil
Tindakan
Nilai perkembangan dihitung pada setiap siklus. Nilai perkembangan siklus I dihitung berdasarkan selisih skor dasar dengan
skor ulangan harian I, dan nilai perkembangan siklus II dihitung berdasarkan selisih skor ulangan
harian I dengan skor ulangan harian
II. Penyusunan kelompok
pada pembelajaran kooperatif
tipe Creative Problem Solving (CPS) siklus I berdasarkan skor sebelum tindakan,
dan penyusunan kelompok siklus II sama dengan kelompok pada siklus I. Nilai perkembangan
murid siklus I dan siklus
II dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3
TABEL
KRITERIA PENILAIAN
|
No. |
Kriteria Nilai Penafsiran |
Hasil
belajar |
|
1 |
86 - 100 |
Baik
Sekali� |
|
2 |
71 - 85 |
Baik
|
|
3 |
56 - 70 |
Cukup |
|
4 |
41 - 55 |
kurang |
|
5 |
Kurang < 40 |
sangat kurang |
Tabel 4.4
Tabel Analisa Ketuntasan
Siswa
|
No. |
Deskripsi |
Siklus I |
Siklus II |
|
1 |
Jumlah siswa Tuntas |
11 |
31 |
|
2 |
Jumlah Siswa Tidak Tuntas |
25 |
5 |
|
3 |
Nilai Rata - Rata |
60,69% |
80,55% |
|
4 |
% Ketuntasan
Siswa |
30,55% |
86,11% |
Tabel 4.5
Tabel Aktivitas Siswa
|
No. |
Deskripsi |
Siklus I |
Siklus II |
|
1 |
Jumlah siswa Tuntas |
11 |
31 |
|
2 |
Jumlah Siswa Tidak
Tuntas |
25 |
5 |
|
3 |
Nilai Rata - Rata |
60,69% |
80,55% |
|
4 |
% Ketuntasan
Siswa |
30,55% |
86,11% |
��������� Kendala-kendala
pada siklus I dalam penelitian ini diperbaiki pada siklus II. Sehingga kekurangan-kekurangan
yang terjadi pada siklus I tidak terjadi pada siklus II. Kendala-kendala tersebut diantaranya yaitu: Siswa belum
begitu memahami masalah kontekstual yang diberikan karena masih belum terbiasa,
hanya ada beberapa siswa yang bisa memanfaatkan model yang diberikan untuk memecahkan masalah, banyak siswa yang malu untuk mengemukakan
pendapatnya dan bertanya, baik pada teman maupun guru, belum berani memberikan pendapat atas kerja
temannya dan siswa masih kesulitan dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan.
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan ternyata skor tes
hasil belajar Matematika setelah tindakan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem
Solving (CPS) lebih baik dibandingkan sebelum tindakan dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa harapan dengan
pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) pada materi pokok Determinan dan Invers Matriks
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Meningkatnya hasil belajar
murid pada siklus II dibandingkan
siklus I dan sebelum tindakan menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dibawakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Artinya, hipotesis tindakan yang telah diajukan yaitu melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) dapat
meningkatkan hasil belajar Matematika kelas XI IPS 1 Semester ganjil
SMA Negeri 4 Bandung Tahun Ajaran
2017/2018 dapat �diterima�.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab IV dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran kooperatf tipe Creative Problem Solving (CPS) dapat
meningkatkan hasil belajar Matematika kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4 Bandung. Keberhasilan
ini disebabkan melalui pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem
Solving (CPS) membuat murid lebih
aktif dalam proses pembelajaran.
Dari
hasil analisis data tentang hasil belajar
murid diperoleh fakta bahwa terjadi peningkatan
jumlah murid yang mencapai
KKM sesudah tindakan jika dibandingkan dengan jumlah murid sebelum tindakan.
Dengan demikian hasil analisis tindakan ini mendukung
hipotesis tindakan berarti menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Creative Problem Solving (CPS) pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas XI IPS 1 SMA Negeri 4Bandung Semester Ganjil Tahun Ajaran
2017/ 2018.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Suyitno.
2002. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.
A.������� M, Sardiman, Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996
Endang Sri
Astuti, (2010). Pengertian motivasi belajar. Bandung: Nusa Media
Kemmis, S.
& Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin
University Press.
Mulyani
Sumantri dan Johar Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajer. Bandung : CV
Maulana.
Nasution, S.
1982. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Edisi Pertama.
Jakarta: Bina Aksara.
Purwoto.
2003. Strategi Pembelajaran Matematika. Surakarta: Sebelas Maret University
Press.
Purwanto.
(2014). Evaluasi hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Purwanto,
Ngalim. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Purnomo,
heri. 2012. Pemodelan dan simulasi untuk pengelolaan adaptif sumberdaya alam
dan lingkungan. Bogor : IPB press
Rachmawati,
yeni. 2010. Pengelolaan lingkungan belajar. Jakarta : kencana prenada media
grup
Riduwan.
2012. Path analysis. Bandung : alfabeta
Sadirman,
Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Rajawali Pers,
2007.
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Rineka Cipta,
2003
Slameto, 1
998.Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Bina Aksara.
Sri Hapsari,
(2005). Bimbingan dan Konseling SMA Untuk Kelas XII. Jakarta : PT Grasindo
Sudjana.
(2006). Metode Statistik. Jakarta: Rineka Cipta
Sugiyono.
2006. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta