MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA PELAJARAN EKONOMI MATERI PENDAPATAN NASIONAL DI KELAS XI IPS 2 / SMTR 1 SMA NEGERI 4 BANDUNG TAHUN AJARAN 2018 / 2019

 

Imas Yulianti

SMA Negeri 4 Bandung

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 11-10-2022

Revised: 18-10-2022

Accepted: 29-10-2022

 

Keywords: Application of the Discovery Learning Model, Problem-Solving Ability.

 

 

Kata Kunci: Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning, Kemampuan Memecahkan Masalah

 

 

Abstract

This research is a classroom action research in class XI IPS 2 / semester 1 SMA Negeri 4 Bandung in the 2018/2019 academic year. The action was carried out in two cycles, each cycle consisting of two meetings. At the end of each cycle, students are given a problem-solving ability test. The instruments used to collect data in this study were learning observation sheets, problem-solving ability tests that had been consulted with observers (peers), mathematical disposition questionnaires, and interviews. The results showed that there was an increase in students' problem solving skills through the application of the Discovery Learning learning model. This study aims to improve students' problem-solving skills in learning in class XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung through the Discovery Learning learning method approach. The increase in students' abilities can be seen from the learning process and from the results of the problem-solving ability test in each cycle. In addition, the learning objectives are not only on the cognitive aspect but also touch on the affective aspect in this case the student's attitude towards the subject matter itself. in this case, it is called a mathematical disposition. Based on the results of observations, learning activities before using this learning model, the results of the pre-cycle final test, it is known that the number of students who experience mastery learning is 37.93%. This result shows that there are many obstacles and shortcomings. With the application of the learning model used by researchers, students' problem-solving abilities increase, namely the average value obtained in the first cycle increased to 75.86% and in the second cycle it was 100%. Likewise, each indicator has increased. The results of the analysis of the mathematical disposition questionnaire obtained in cycles 1 and 2 obtained a value with a good category. An increase also occurred in the number of students who obtained mathematical dispositions in the complete category in cycle 1, 22 students obtained and in cycle 2 as many as 29, this shows that the application of the Discovery Learning learning model has an impact on the mathematical disposition of students.

 

 

Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas di kelas XI IPS 2 / semester 1 SMA Negeri 4 Bandung tahun pelajaran 2018/2019. Tindakan dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Pada setiap akhir siklus, siswa diberikan tes kemampuan memecahkan masalah. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa lembar observasi pembelajaran, tes kemampuan memecahkan masalah yang telah dikonsultasikan dengan observer (rekan sejawat), angket disposisi matematis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan memecahkan masalah siswa melalui penerapan model pembelajaran Discovery Learning. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung melalui pendekatan metode pembelajaran Discovery Learning. Peningkatan kemampuan siswa dapat diketahui dari proses pembelajaran dan dari hasil tes kemampuan memecahkan masalah pada setiap siklus. Selain itu tujuan pembelajaran tidak saja pada asfek kognitif tetapi juga menyentuh pada aspek afektif dalam hal ini sikap siswa terhadap materi pelajaran itu sendiri. dalam hal, ini disebut disposisi matematis. Berdasarkan hasil observasi, kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran ini hasil tes akhir prasiklus diketahui jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebesar 37.93 % hasil ini menunjukkan adanya banyak kendala dan kekurangan, Dengan penerapan model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti, kemampuan memecahkan masalah siswa meningkat yaitu dari rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus I meningkat menjadi 75,86 % dan pada siklus 2 sebesar 100%. Begitu juga pada setiap indikator mengalami peningkatan. Hasil analisis angket disposisi matematis diperoleh pada siklus 1 dan 2 diperoleh nilai dengan kategori baik. Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa yang memperoleh disposisi matematis pada kategori tuntas pada siklus 1 diperoleh 22 peserta didik dan pada siklus 2 sebanyak 29, Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery Learning berdampak pada disposisi matematis peserta didik.

 

Corresponding Author: Imas Yulianti

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu sistem pencerdasan anak bangsa, dewasa ini dihadapkan pada berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Maka, pembaruan-pembaruan dibidang pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik kedalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan, karena menurut Zulaecha (2014: 79) dalam interaksi belajar mengajar terjadi proses pengaruh mempengaruhi. Bukan hanya guru yang mempengaruhi siswa, tetapi siswa juga dapat mempengaruhi guru.

Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan terbelakang. Dalam pendidikan, perkembangan kurikulum menuntut siswa untuk selalu aktif, kreatif, dan inovatif dalam menanggapi setiap mata pelajaran yang diajarkan. Sikap aktif, kreatif, dan inovatif dapat terwujud dengan menempatkan siswa sebagai objek pendidikan. Peran guru adalah sebagai fasilitator dan bukan sumber belajar yang paling benar. Seorang guru yang profesional dituntut untuk dapat menampilkan keahlian di depan kelas. Salah satu komponen keahlian itu adalah kemampuan untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efisien, guru perlu mengenal berbagai jenis model pembelajaran sehingga dapat memilih model pembelajaran manakah yang paling tepat untuk suatu bidang pengajaran.

Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sedangkan mengajar adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam menyampaikan informasi. Menyampaikan bahan pelajaran berarti melaksanakan beberapa kegiatan, tetapi kegiatan itu tidak akan ada gunanya jika tidak mengarah pada tujuan tertentu. Artinya seorang pengajar harus mempunyai tujuan dalam kegiatan pengajarannya agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan jelas oleh peserta didiknya. Untuk mengerti suatu hal dalam diri seseorang, terjadi suatu proses yang disebut sebagai proses belajar melalui model-model mengajar yang sesuai dengan kebutuhan proses belajar itu.

Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti, berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Hasil belajar siswa pada umumnya relatif masih rendah. Rendahnya nilai rata � rata kelas terjadi karena proses pembelajaran yang tidak menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran, serta tidak menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat meraih belajar yang bermakna. Proses pembelajaran yang dilakukan didalam kelas seharusnya dapat menyebabkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, serta hasil belajarnya.

Dalam memilih metode atau model pembelajaran yang tepat, diperlukan kreativitas dan kemampuan guru. Penggunaan model pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang dimaksudkan untuk membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran, guna menjadikan pembelajaran menjadi inovatif, aktif dan kreatif.

Pembelajaran yang inovatif, aktif dan kreatif menjadi tugas utama guru adalah mengelola proses belajar dan mengajar, sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut tentu akan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dirumuskan. Belum adanya penggunaan model pembelajaran mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa dikarenakan masih dominannya skill menghafal dari pada skill memproses.

Model pembelajaran penemuan (discovery learning) diartikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara langsung tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi diharapkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan.

Penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan pada mata pelajaran ekonomi adalah sebagai berikut: (1) Sswa belum memahami cara belajar yang diterapkan oleh guru. (2) Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, Masih bersifat komunikasi satu arah. (3) Proses belajar tidak berkembang karena siswa kurang aktif yang berakibat pada hasil belajar siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan mereka kurang menguasai materi yang disampaikan dengan metode ceramah saja. Padahal, materi-meteri yang ada dalam mata pelajaran Ekonomi mencakup pada kehidupan sehari-hari. Maka yang perlu dilakukan, guru harus melakukan perubahan dalam proses pembelajaran yakni dengan mengunakan model-model pembelajaran agar pembelajaran cenderung menyenangkan.

Solusi dari masalah-masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan oleh guru yakni dengan menerapkan metode Discovery learning. Karena dengan menerapkan metode Discovery learning adalah suatu teknik yang di gunakan oleh guru dalam mengajar dan memberikan arahan sehingga siswa aktif dan menemukan sendiri konsep dari materi yang di ajar. Keaktifan siswa dalam pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelajaran siswa dalam memahami materi. Siswa diharapkan benar-benar aktif dalam belajar ekonomi, sehingga akan berdampak pada ingatan siswa tentang materi pelajaran.

Berdasarkan latar belakang dan Identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:

a.     Bagaimana penerapanmetode pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Ekonomi kelas XI � IPS SMA Negeri 4 Bandung ?

b.    Bagaimanapenerapan metodepembelajaranterhadapketerampilanberpikir tingkat tinggi siswa kelas XI � IPSSMA Negeri 4 Bandung?

c.     Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI � IPS SMA Negeri 4 Bandung?

Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti mempunyai tujuan sebagai berikut:

a.     Mengetahui cara kerja penerapan metode pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran XI � IPS SMA Negeri 4 Bandung

b.    Meningkatkan aktivitas siswa setelah menggunakannya model pembelajaran

c.     Mengetahui perubahan dalam pembelajaran setelah menggunakannya model pembelajaran

d.    Mengetahui sikap siswa dikelas setelah menggunakannya model pembelajaran

e.     Meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan model pembelajaran

 

METODA PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penelaahan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktik praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional.

Penelitian tindakan kelas bercirikan perbaikan secara terus menerus sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya siklussiklus tersebut dalam proses penelitian ini. Setelah dilakukan refleksi biasanya muncul permasalahan yang perlu diperhatikan sehingga perlu merumuskan kembali rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan kritis.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat kualitatif, (PTK) atau dalam bahasa inggrisnya Classroom Action Reset. Penelitian merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuahtindakan yangsengaja dimunculkandanterjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Penelitian Tindakan Kelas merupakan tindakan pemecahan masalah yang dimulai dari: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi, 5) Evaluasi yang telah disusun, dilakukan observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai masukan untuk melakukan refleksi yang dijadikan pertimbangan pada rencana tindakan selanjutnya. Menurut Arikunto (2006:16), model penelitian tindakan kelas adalah secara garis besar terdapat 4 tahapan yang lazim untuk diketahui, yaitu: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan,3) Pengamatan, 4) Refleksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam penelitian tindakan kelas ini dalam pengumpulan data digunakan berbagai tehnik antara lain :

1.    Tes Tertulis

Tes tertulis disini digunakan untuk mengumpulkan data siswa berkenaan hasil pengusaan materi yang dikuasai siswa, setelah siswa mengikuti suatu proses perlakuan yang dilakukan oleh peneliti, sehingga didapatkan hasil yang akurat dan dapat menggambarkan secara jelas kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut.

2.    Alat Pengumpul Data

Untuk mengetahui kemampuan yang dikuasai siswa dalam penguasaan materi yang dijadikan obejek penelitian ini, peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang telah dirancang oleh peneliti sesuai dengan tujuan yang telah tertuang didalam kisikisi soal.

3.    Deskripsi perilaku ekologis

Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap meliputi :

a)       suasana kelas

b)      perilaku masing � masing siswa saat mengikuti pembelajaran di dalam kelas, pada penggunaan metode ini peneliti hanya untuk mengumpulkan data dan bukan untuk menafsirkan data.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1.       Silabus

Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.

2.       Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, dan kegiatan belajar mengajar. RPP yang direncanakan sebagaimana dalam lampiran laporan penelitian ini.

3.       Lembar Kegiatan Siswa

Lembar kegiatan ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.

4.       Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar

a)    Lembar observasi penerapan metode pembelajaran, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

b)    Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Pedoman Observasi keaktivan siswa, digunakan untuk membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa

5.       Tes formatif

Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah uraian.

6.       Format keaktivan siswa

7.       Angket respon digunakan untuk mengukur respon dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Data Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti sebelum melakukan penelitian diperoleh data mengenai kondisi pembelajaran di SMA Negeri 4 Bandung. Sistem pembelajaran yang berlangsung masih satu arah di mana guru masih berperan sebagai orang yang maha tahu dan sumber dari segala pengetahuan bagi siswa, sehingga selama proses pembelajaran berlangsung keterlibatan siswa dalam pembelajaran masih kurang atau dapat dikatakan bahwa siswa cenderung pasif. Selain itu siswa juga kurang berantusias dalam mengikuti pelajaran yang ditunjukkan dengan masih sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan maupun menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus untuk menentukan bagaimana cara meningkatkan Keaktifan melalui penerpan model pembelajaran Discovery Learning. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, mulai dari pemeriksaan tahap studi awal sampai pada siklus kedua diperoleh data sebagai berikut

Siklus I

����������� Berdasarkan temuan masalah pada awal kegiatan sebagai dasar / pra siklus sebelum masuk pada kegiatan pembelajaran Siklus I, maka diadakan pelaksanaan pembelajaran siklus I. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini mengacu pada Rencana Pembelajaran (RP) yang telah dipersiapkan.

Pada pelaksanaan kegiatan penerapan pembelajaran Siklus I ini dilakukan beberapa tahapan, diantaranya :

a.       Perencanaan.

Untuk melakukan penelitian pada siklus I ini peneliti merencanakan tindakan yang meliputi :

         Membuat silabus materi pembelajaran.

         Membuat rancangan program pengajaran yang diperuntukkan untuk pengajaran pada kelompok besar.Membuat lembar kerja siswa yang digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar dengan penyusunan tahap demi tahap yang membawa siswa dalam penemuan masalah atau penyelesaian suatu masalah.

         Membuat alat evaluasi yang digunakan untuk mendapatkan data kemampuan siswa setelah mendapatkan tindakan dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif yang diperuntukkan untuk kelompok besar

         Membuat solusi dan langkah untuk disampaikan pada siswa berkaitan kelemahan siswa dalam menyelesaikan masalah yang telah di ujikan oleh guru pengajar.

b.      Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan oleh peneliti dengan melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, dimulai dengan penjelasan pada siswa tentang kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam mengikuti kegiatan. Pada tahap ini guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara menyelesaikan soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar. Selama pembelajaran berlangsung siswa diberikan latihan-latihan soal yang dikerjakan baik secara individu maupun kelompok. Selama pembelajaran berlangsung, aktivitas peneliti maupun siswa diamati oleh guru kolaborator maupun rekan peneliti yang bertindak sebagai pengamat. Pada akhir siklus I dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa. Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi tentang hasil kinerja guru. Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam penelitian ini antara lain:

         Kemampuan awal siswa

         Prestasi belajar siswa untuk kelompok

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan peneliti pada saat observasi pengajaran yang dilakukan maka peneliti menyampaikan kelemahan dan kekurangankekurangan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan materi pembelajaran yang diujikan dengan menggunakan metode tanya jawab. Peneliti membagikan lembar kerja yang telah dirancang untuk diselesaikan siswa secara keseluruhan dan peneliti berkeliling untuk mengamati cara kerja siswa serta membantu siswa yang mengalami masalah dalam menyelesaikan lembar kerja yang dibagikan.

c.       Hasil Pengamatan (Observasi)

Observasi digunakan untuk mengadakan penilaian afektif dan psikomotorik serta aktivitas siswa maupun peneliti selama proses pembelajaran. Observasi terhadap siswa dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan pengamat sedang untuk observasi aktivitas peneliti dilakukan oleh guru kolaborator.

Setelah lembar kerja yang mengarahkan siswa untuk menemukan suatu masalah mengenai materi yang disampaikan maka tampak siswa mulai antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan mengerjakan lembar kerja. Namun pada pengerjaan lembar kerja yang dibagikan ini masih terlihat ada beberapa siswa yang bermain � main ataupun asyik mengerjakan pekerjaan yang lain, Pada pelaksanaan pengerjaan lembar kerja tersebut tampak adanya siswa yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan bertanya pada teman terdekatnya, namun ada pula siswa yang mengalami hambatan dalam mengerjakan lembar kerja tersebut langsung bertanya kepada peneliti dan guru pengajar.

Pada post test yang diberikan setelah dikoreksi oleh guru pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut :

Hasil nilai siklus I

 

NO

NAMA SISWA

NILAI

1

Anggi Nurdiani

75

2

Anisya Sabilla

70

3

Arinda Assyfa Putri Budiana

70

4

Audrey Triessa Dannica

70

5

Aufa Shulthonul Falah

70

6

Dilla Rachmawati

75

7

Dwi Putra Pangestu

65

8

Fatih Sabilur Azka

70

9

Fitria Salsabila

80

10

Frysa Ratanika Azzahra

75

11

Gabriela Angelica Annastasha

60

12

Galuh Arya Nata

70

13

Ghaney Pratama

80

14

Hikmal Ryvaldi Pelu

75

15

Keisha Cipta Khairunnisa

70

16

Mochamad Faizal

65

17

Muhammad Aimar Normansyah Akbar

70

18

Muhammad Reyhan Fada Abdussalam

80

19

Neza Zahwa Devara Erwin

75

20

Pipit Dwi Arum Hermawan

70

21

Putri Aulia Noer Azizah

70

22

Rafael Giovanni

60

23

Rifqi Muhammad Firdaus

75

24

Rizka Putri Amelia

60

25

Syita Sofia Elkarima

65

26

Tasya Maulani

65

27

Teddy Okpriyandi

75

28

Tiara Paramita

75

29

Zidan Fahrian

75

Nilai rata - rata

70,86

 

Dari siswa didik yang ada di kelas tersebut didapatkan hasil, siswa yang mendapatkan nilai rata-rata harian tertinggi adalah 80, nilai terendah 60, dan rata-rata nya adalah 70.86, namun masih ada beberapa siswa yang belum tuntas sesuai dengan kriteria ketuntasan maximal yang ditentukan.

Data Hasil Belajar Siswa Siklus I

No

Keterangan

Perolehan

1

nilai terendah

60

2

nilai tertinggi

80

3

nilai rata - rata

70,86

4

jumlah siswa blm tuntas

7

5

jumlah siswa tuntas

22

6

prosentasi ketuntasan

75,86

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil observasi penilaian afektif SIKLUS I

Kriteria

Skor

Nilai

Siklus I

Keterangan

Jml siswa

%

Sangat Baik

 

80 - 100

3

10,34

 

Baik

60 - 65

70 - 79

19

65,51

Tuntas

Cukup

45 - 55

60 - 69

7

24,13

Tidak Tuntas

Kurang

40

50 - 59

 

 

Sangat Kurang

≤ 40

≤ 49

 

 

 

d.      Refleksi dan Revisi Tindakan

Berdasarkan data-data yang telah terkumpul pada siklus I, proses pembelajaran yang berlangsung masih kurang efektif yang ditunjukkan dengan kurang aktifnya siswa selama pembelajaran berlangsung, hal ini dapat dilihat dari hasil observasi aktivitas siswa hanya sebesar 39,39 %.

Proses pembelajaran pada tindakan I menunjukan kelebihan dan kekurangan, kelebihannya yaitu telah dilaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kekurangan nya adalah pada saat pelaksanaan pembelajaran kondisi siswa dalam kelas belum tertib dan aktif, dalam memulai kegiatan belajar mengajar guru kurang memberikan motivasi dan apresiasi, serta kurang tegas terhadap siswa yang tidak mengikuti pelajaran

 

Siklus II

Proses pembelajaran pada tindakan II tidak jauh berbeda dari pelaksanaan tindakan sebelumnya yaitu menyusun rencana, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Semua siswa yang hadir 29 orang. Pada kegiatan penelitian tindakan II ini guru / peneliti mengacu pada kelemahankelemahan yang terjadi pada tindakan sebelumnya.Pembelajaran pada tindakan II diawali dengan menyuruh siswa mengatur tempat duduk. Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan tentang kegiatan belajar yang akan dilaksanakan.

Kemudian peneliti membagikan hasil skor siswa serta memotivasi siswa supaya meningkatkan hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi sebelumnya yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya.

a.       Perencanaan

Pada perencanaan siklus II ini peneliti dan guru merencanakan tindakan sebagai berikut :

         Membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 anak dan masing � masing kelompok dipimpin oleh anak yang dipilih dari anak yang punya kemampuan lebih dan mampu memimpin.

         Membuat rancangan pembelajaran yang sederhana untuk kelompok kecil yang dipergunakan bagi pengajaran selama 90 menit.

         Membuat 2 lembar kerja yang dipergunakan untuk diskusi kelompok

         Merencanakan alat evaluasi yang berupa soal tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa.

b.      Pelaksanaan Tindakan

Seperti yang telah direncanakan maka peneliti melaksanaan tindakan siklus II dengan materi pembelajaran yang masih berhubungan dengan materi sebelumnya, pada tindakan di siklus II ini diawali penjelasan kepada siswa tentang prosedur yang akan dilaksanakan pada pembelajaran untuk kelompok kecil. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II juga mengacu pada Rencana Pembelajaran (RP) yang telah dipersiapkan. Prinsip pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini hampir sama dengan siklus I, tetapi peneliti lebih menekankan pemberian latihan soal yang semakin sering dilakukan. Selama pembelajaran aktivitas peneliti maupun siswa tetap diamati oleh guru kolaborator maupun pengamat. Pada akhir siklus II juga dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa.


 

c.       Hasil Penganatar (Observasi)

Observasi terhadap siswa dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan pengamat sedang untuk observasi aktivitas peneliti dilakukan oleh guru kolaborator. Pada pelaksanaan siklus II ini tampak sekali bahwa siswa mulai antusias dalam mengerjakan tugas kelompok, semua siswa terlihat aktif bersama kelompoknya dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan peneliti.

Pada saat diskusi pembahasan materi yang diberikan satu kelompok untuk ditanggapi oleh kelompok lain, kadang terlihat perbedaan pola berfikir dari masing � masing individu dalam menyampaikan ide pemecahan masalah yang diberikan.

Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan setelah dikoreksi didapatkan hasil yang sesuai dengan indikator pencapaian hasil yang diharapkan.

Pada post test yang diberikan setelah dikoreksi oleh guru pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut :

NO

NAMA SISWA

NILAI

1

Anggi Nurdiani

90

2

Anisya Sabilla

80

3

Arinda Assyfa Putri Budiana

85

4

Audrey Triessa Dannica

85

5

Aufa Shulthonul Falah

90

6

Dilla Rachmawati

85

7

Dwi Putra Pangestu

75

8

Fatih Sabilur Azka

80

9

Fitria Salsabila

85

10

Frysa Ratanika Azzahra

90

11

Gabriela Angelica Annastasha

85

12

Galuh Arya Nata

85

13

Ghaney Pratama

90

14

Hikmal Ryvaldi Pelu

85

15

Keisha Cipta Khairunnisa

90

16

Mochamad Faizal

75

17

Muhammad Aimar Normansyah Akbar

90

18

Muhammad Reyhan Fada Abdussalam

85

19

Neza Zahwa Devara Erwin

90

20

Pipit Dwi Arum Hermawan

75

21

Putri Aulia Noer Azizah

85

22

Rafael Giovanni

90

23

Rifqi Muhammad Firdaus

85

24

Rizka Putri Amelia

85

25

Syita Sofia Elkarima

90

26

Tasya Maulani

80

27

Teddy Okpriyandi

85

28

Tiara Paramita

85

29

Zidan Fahrian

90

Nilai rata - rata

85,17

Dari data diatas diperoleh adanya peningkatan, pada kegiatan pembelajaran tindakan II ini hampir seluruh siswa dapat menguasai dan memahami materi pelajaran yang disampiakan oleh guru / peneliti hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan nilai yang didapat yaitu dengan nilai tertinggi mencapai 90 dan terendah mencapai nilai 75 dengan rata � rata mencapai 85.17 % dan telahmencapai tingkat ketuntasan minimum yaitu 85 % keberhasilan siswa dalam memahami materi yang disampaikan guna mencapai nilai diatas batas ketuntasan

Data Hasil Belajar Siswa Siklus II

Data Hasil Belajar Siswa Siklus II

No

Keterangan

Perolehan

1

nilai terendah

75

2

nilai tertinggi

90

3

nilai rata - rata

85,17

4

jumlah siswa blm tuntas

 

5

jumlah siswa tuntas

29

6

prosentasi ketuntasan

100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Hasil observasi penilaian afektif SIKLUS II

Kriteria

Skor

Nilai

Siklus II

Keterangan

Jml siswa

%

Sangat Baik

80 - 100

80 - 100

26

89,65

 

Baik

70 - 80

70 - 79

3

10,34

Tuntas

Cukup

60 - 65

60 - 69

Tidak Tuntas

Kurang

40

50 - 59

Sangat Kurang

≤ 40

≤ 49

 

 

 

d.      Refleksi dan Revisi Tindakan II

Berdasarkan data-data yang telah terkumpul pada siklus II, diketahui bahwa proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus II ini sudah lebih baik dibandingkan dengan siklus I. Dari hasil evaluasi yang diberikan tenyata sudah sebagian besar siswa telah mampu mendapatkan nilai yang mengalami peningkatan, namun masih terlihat kesalahan yang dibuat oleh siswa dikarenakan faktor kekurang telitian siswa dalam bekerja tapi tidak terlalu fatal dan masih bisa dilakukan perbaikan. Pada tampilan tindakan II proses pembelajaran meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tugas - tugas. Selain adanya peningkatan terbukti pada pencapaian nilai rata-rata pretest dan posttest. Masalah skill dan kecermatan dalam mengambil langkah pengerjaan masih perlu ditingkatkan agar penguaasaan materi pembelajaran dapat lebih baik lagi. Maka diadakan lagi evaluasi pengerjaan soal guna mencapai nilai ketuntasan 85 % yang diharapkan.

Hasil Analisis Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes akhir siklus yang berbentuk obyektif tes, lembar observasi, dan angket. Sebelum digunakan sebagai alat evaluasi hasil belajar siswa dalam penelitian ini, instrumen penelitian diuji coba terlebih dahulu. Uji coba soal tes siklus dilakukan di kelas XI IPS 2 untuk tes siklus I dengan jumlah siswa sebanyak 29 anak. Hasil uji coba soal kemudian dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal. Sedangkan instrumen penelitian yang berupa angket telah dikonsultasikan sebelumnya kepada guru / rekan sejawat tempat peneliti melakukan penelitian sebagai dasar validitas konstruk (validitas berdasar pertimbangan ahli).

Deskripsi Antar Siklus

Aktivitas Belajar Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung, menunjukkan bahwa pada siklus I sampai siklusIItingkat aktivitas belajar siswa mengalami perubahan setelah diterapkan model pembelajaran. Suasana kelas lebih baik dari sebelumnya, aktivitas siswa mengalami kemajuan terlihat dari semakin banyaknya siswa yang turut aktif dalam proses pembelajaran.

Selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar observasi dengan cara memberikan skor pada aspek aktivitas yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran mulai dari tindakan I sampai tindakan II menunjukan peningkatan. Keaktivan siswa terlihat dari aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan melakukan aktivitas menyimak, memberi pertanyaan, maupun menjawab pertanyaan lisan dari peneliti dan temannya serta menanggapi.

Pembahasan dan Kesimpulan

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada materi Pendapatan Nasional yang terbagi menjadi dua siklus pembelajaran. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pembelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah atau tugas. Dengan interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat setara.

Pelaksanaan proses pembelajaran siklus I mengacu pada rencana pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti. Pada awal pembelajaran, peneliti mengingatkan kembali materi yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya dan memberikan motivasi kepada siswa sehingga siswa menjadi tertarik untuk mempelajari materi pelajaran lebih lanjut.

Proses pembelajaran siklus I yang dilakukan oleh peneliti adalah mengoptimalkan terjadinya interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan peneliti selaku guru sehingga proses pembelajaran tidak hanya berlangsung satu arah melalui kegiatan kelompok. Selama pembelajaran peneliti memberikan latihan-latihan soal yang harus dikerjakan oleh siswa baik secara individu maupun berkelompok. Pelaksanaan diskusi kelompok bertujuan agar siswa lebih banyak berinteraksi dengan teman satu kelompok dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru kepada mereka, sehingga apabila mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut dapat bertanya kepada teman satu kelompok. Namun apabila semua siswa dalam satu kelompok juga tidak dapat menyelesaikan, maka siswa tersebut dapat bertanya kepada guru. Pemberian latihan soal dimulai dari soal dengan tingkat kesulitan yang rendah ke soal dengan tingkat kesulitan tinggi. Pada akhir pembelajaran, peneliti membimbing siswa untuk dapat menarik kesimpulan dari apa yang telah mereka pelajari dan mengadakan evaluasi berupa tes akhir siklus untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.

Berdasarkan hasil tes akhir siklus I diketahui jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebesar 75.86 % hasil ini menunjukkan adanya banyak kendala dan kekurangan,setelah diberi tindakan dan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Peningkatan pemahaman ini disebabkan oleh karena adanya keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui belajar secara berkelompok, siswa lebih banyak berinteraksi dengan teman atau dapat dikatakan siswa terlibat secara langsung selama pembelajaran sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa akan lebih lama melekat dalam ingatannya. Pada siklus I jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 22 siswa dan nilai rata-rata siswa 70.86pada saat kegiatan pembelajaran siklus II ketuntasan siswa sebanyak 29 orang dengan nilai rata � rata 100 hal ini dikarenakan guru / peneliti sudah dapat menguasai kelemahankelemahan yang terjadi pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Peran peneliti sangat penting dan menetukan keberhasilan siswa pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan analisis dan hasil pembahasan, maka keterlibaatn siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Discovery Learning mengalami peningkatan sehingga tingkat pemahaman dan hasil belajar siswa juga turut meningkat karena siswa mengalami sendiri setiap kegiatan pembelajaran. Pengalaman ini mereka peroleh dengan semakin sering berlatih mngerjakan soal yang diberikan oleh guru, sehingga apabila mereka menemukan kesulitan akan bertanya kepada teman maupun guru.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Ekonomi yang masing-masing terdiri dari 2 siklus�� serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1.    Prestasi belajar siswa sebelum menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan.

2.    Aktifitas siswa selama proses pembelajaran Ekonomi dengan metodePembelajaran Discovery Learningmenunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik secara fisik, mental, emosional dan kemampuan intelektual.

3.    Pada pembelajaran Ekonomi guru harus banyak memberikan contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakan siswa dalam proses penyelesaian soal-soal tersebut dengan menunjuk beberapa orang siswa untuk belajarmenyelesaikannya sesuai dengankemampuannya masing-masing dengan bimbingan guru.

4.    Selama proses pembelajaran mulai tindakan I sampai II peneliti berusaha memotivasi setiap siswa pada semua kelompok dengan intensif dan adil supaya setiap siswa berpartisipasi menyimak, menjawab, memberi sanggahan dan masukan selama diskusi berlangsung, selanjutnya menuliskan jawaban hasil diskusi tersebut pada lembar jawaban secar mandiri.

5.    Guru dapat menemukan berbagai metode pembelajaran yang menarik pada mata pelajaran Ekonomi dengan tujuan agar siswa lebih interaktif dalam di masa sekarang dan yang akan datang.

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Supardi, Sekolah Efektif, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2013), h. 2 2 Ibid., h. 164

 

Hidayaningrat, Azas-azas Organisasi Manajemen, (Jakarta: Erlangga, 1995), h. 16

 

Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 265 5 Ibid., h. 266 6

 

Abdul Majid, Pembelajaran Tematik Terpadu, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2014), h.15 7

 

Eveline Siregar, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), h. 12 8

 

Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012)

 

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah : Konsep Strategi dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), h.82 10

 

Djamarah, strategi belajar mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 11

 

Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Kencana, 2004), h. 12

 

Hamzah B.Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan PAIKEM, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 12 16

 

Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan, ( Jakarta: Kencana prenada media, 2008), h

 

Anni, Catharina Tri, dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: Universitas

Negeri Semarang Press.

 

Anitah W., Sri, dkk (2007), Strategi Pembelajaran Kimia, Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.nn

 

Arifin, Mulyati, dkk (2000), Common Textbook Strategi Belajar Mengaja Kimia, Bandung: JICA

 

Arifin, Mulyati, (1995), Pengembangan Pengajaran, Surabaya : Erlangga Univ. Press.

 

Darsono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.

 

Dahar, R.W., (1982), Pengembangan Konsep-Konsep Kimia pada SMA se Kodya Bandung, Bandung : FPMIPA IKIP.

 

Firman, Harry dan Liliasari (1994), Kimia 1 untuk SMU , Jakarta : Depdikbud

 

Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

 

Hamalik, O. 2003. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar berdasarkan CBSA.Bandung: Sinar Baru Algensindo.

 

Karyadi, Benny, (1994), Kimia 2 untuk SMU, Jakarta : Depdikbud

 

Kemmis & Mc. Taggart. 2010. The Action Research Planner. Geelong: Deaken

Univercity Press.

 

Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Konsep dan Penerapan. Surabaya: Kata Pena.

 

Liliasari (1994), Kimia 3 untuk SMU , Jakarta : Depdikbud

 

Novak, Joseph D., (1973), A Summary of Research in Science Education, Ohio : Eric Ohio State Univ. Trowbridge, Leslie W., and Bybee, Rodger W., (1990), Becoming A Secondary School Science Teacher, Fifth Edition, Columbus,Ohio : Merrill Publishing Company.

 

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar

Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Ruseffendi. 2006. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika. Bandung: Tarsito.

 

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

 

Slameto. 1995. Belajar Dan Factor-faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rinekacipta). Edisi revisi

 

Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Suprihatiningrum, Jamil. 2014. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Suherman, Erman dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica.Veerman, k. 2003. Intelligent Support for Discovery Learning. Twente: Twente University Press.

 

Tresna Sastrawijaya. (1988). Proses Belajar Mengajar Kimia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.