MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA PELAJARAN EKONOMI
MATERI PENDAPATAN NASIONAL DI KELAS XI IPS 2 / SMTR 1 SMA NEGERI 4 BANDUNG
TAHUN AJARAN 2018 / 2019
Imas Yulianti
SMA Negeri 4 Bandung
|
Riwayat Artikel: Received: 11-10-2022 Revised: 18-10-2022 Accepted: 29-10-2022 Keywords:
Application of the Discovery
Learning Model, Problem-Solving Ability. Kata
Kunci: Penerapan Model Pembelajaran
Discovery Learning, Kemampuan Memecahkan
Masalah |
|
Abstract This research is a classroom action research in class XI IPS 2 /
semester 1 SMA Negeri 4 Bandung in the 2018/2019 academic year. The action
was carried out in two cycles, each cycle consisting of two meetings. At the
end of each cycle, students are given a problem-solving ability test. The
instruments used to collect data in this study were learning observation
sheets, problem-solving ability tests that had been consulted with observers
(peers), mathematical disposition questionnaires, and interviews. The results
showed that there was an increase in students' problem solving skills through
the application of the Discovery Learning learning model. This study aims to
improve students' problem-solving skills in learning in class XI IPS 2 SMA
Negeri 4 Bandung through the Discovery Learning learning method approach. The
increase in students' abilities can be seen from the learning process and
from the results of the problem-solving ability test in each cycle. In
addition, the learning objectives are not only on the cognitive aspect but
also touch on the affective aspect in this case the student's attitude
towards the subject matter itself. in this case, it is called a mathematical
disposition. Based on the results of observations, learning activities before
using this learning model, the results of the pre-cycle final test, it is
known that the number of students who experience mastery learning is 37.93%.
This result shows that there are many obstacles and shortcomings. With the
application of the learning model used by researchers, students'
problem-solving abilities increase, namely the average value obtained in the
first cycle increased to 75.86% and in the second cycle it was 100%. Likewise,
each indicator has increased. The results of the analysis of the mathematical
disposition questionnaire obtained in cycles 1 and 2 obtained a value with a
good category. An increase also occurred in the number of students who
obtained mathematical dispositions in the complete category in cycle 1, 22
students obtained and in cycle 2 as many as 29, this shows that the
application of the Discovery Learning learning model has an impact on the
mathematical disposition of students. |
|
|
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas di kelas XI IPS 2 /
semester 1 SMA Negeri 4 Bandung tahun pelajaran 2018/2019. Tindakan dilaksanakan
dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan.
Pada setiap akhir siklus, siswa diberikan tes kemampuan memecahkan masalah. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa lembar observasi pembelajaran, tes kemampuan memecahkan masalah yang telah dikonsultasikan dengan observer (rekan sejawat), angket disposisi matematis, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan memecahkan masalah siswa melalui penerapan model pembelajaran
Discovery Learning. Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa dalam pembelajaran
di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung melalui pendekatan metode pembelajaran Discovery
Learning. Peningkatan kemampuan
siswa dapat diketahui dari proses pembelajaran dan dari hasil tes kemampuan
memecahkan masalah pada setiap siklus. Selain itu tujuan
pembelajaran tidak saja pada asfek kognitif tetapi juga menyentuh pada aspek afektif dalam hal ini sikap
siswa terhadap materi pelajaran itu sendiri. dalam hal, ini
disebut disposisi matematis. Berdasarkan hasil observasi, kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan model pembelajaran ini hasil tes akhir
prasiklus diketahui jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebesar 37.93 % hasil ini menunjukkan
adanya banyak kendala dan kekurangan, Dengan penerapan model pembelajaran yang digunakan
oleh peneliti, kemampuan memecahkan masalah siswa meningkat yaitu dari rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus I meningkat menjadi 75,86 % dan pada siklus
2 sebesar 100%. Begitu
juga pada setiap indikator
mengalami peningkatan.
Hasil analisis angket disposisi matematis diperoleh pada siklus 1 dan 2 diperoleh nilai dengan kategori baik. Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa yang memperoleh disposisi matematis pada kategori tuntas pada siklus 1 diperoleh 22 peserta didik dan pada siklus 2 sebanyak 29, Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Discovery Learning berdampak
pada disposisi matematis peserta didik. |
Corresponding Author:
Imas Yulianti
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu sistem pencerdasan
anak bangsa, dewasa ini dihadapkan
pada berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial,
budaya, maupun politik. Maka, pembaruan-pembaruan dibidang pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan
pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik kedalam
proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh
tujuan belajar sesuai dengan apa
yang diharapkan, karena menurut Zulaecha (2014: 79) dalam interaksi belajar mengajar terjadi proses pengaruh mempengaruhi. Bukan hanya guru yang mempengaruhi siswa, tetapi siswa
juga dapat mempengaruhi
guru.
Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia, sebab tanpa pendidikan
manusia akan sulit berkembang dan bahkan terbelakang. Dalam pendidikan, perkembangan kurikulum menuntut siswa untuk selalu aktif,
kreatif, dan inovatif dalam menanggapi setiap mata pelajaran
yang diajarkan. Sikap aktif, kreatif, dan inovatif dapat terwujud dengan menempatkan siswa sebagai objek pendidikan.
Peran guru adalah sebagai fasilitator dan bukan sumber belajar yang paling benar. Seorang guru yang profesional dituntut untuk dapat menampilkan
keahlian di depan kelas. Salah satu komponen keahlian itu adalah kemampuan
untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk dapat
menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efisien, guru perlu mengenal berbagai jenis model pembelajaran sehingga dapat memilih model pembelajaran manakah yang paling tepat untuk suatu bidang
pengajaran.
Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sedangkan mengajar adalah interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam
menyampaikan informasi. Menyampaikan bahan pelajaran berarti melaksanakan beberapa kegiatan, tetapi kegiatan itu tidak
akan ada gunanya jika tidak
mengarah pada tujuan tertentu. Artinya seorang pengajar harus mempunyai tujuan dalam kegiatan
pengajarannya agar materi
yang disampaikan dapat diterima dengan jelas oleh peserta didiknya. Untuk mengerti suatu hal dalam diri
seseorang, terjadi suatu proses yang disebut sebagai proses belajar melalui model-model mengajar yang
sesuai dengan kebutuhan proses belajar itu.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti, berbagai terobosan baru terus dilakukan
oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga
pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Hasil belajar siswa pada umumnya relatif masih rendah.
Rendahnya nilai rata � rata
kelas terjadi karena proses pembelajaran yang tidak menjadikan siswa sebagai pusat
pembelajaran, serta tidak menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara
aktif dan menyenangkan, sehingga siswa dapat meraih belajar
yang bermakna. Proses pembelajaran
yang dilakukan didalam kelas seharusnya dapat menyebabkan peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi diri, serta
hasil belajarnya.
Dalam memilih metode atau model pembelajaran yang tepat, diperlukan kreativitas dan kemampuan guru. Penggunaan model pembelajaran adalah strategi pembelajaran yang
dimaksudkan untuk membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran, guna menjadikan pembelajaran menjadi inovatif, aktif dan kreatif.
Pembelajaran yang inovatif,
aktif dan kreatif menjadi tugas utama
guru adalah mengelola
proses belajar dan mengajar,
sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Interaksi
tersebut tentu akan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dirumuskan. Belum adanya penggunaan model pembelajaran mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa
dikarenakan masih dominannya skill menghafal dari pada skill memproses.
Model pembelajaran penemuan (discovery learning) diartikan
sebagai proses pembelajaran
yang terjadi ketika siswa tidak disajikan
informasi secara langsung tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi tersebut secara mandiri. Siswa dilatih untuk
terbiasa menjadi seorang yang saintis (ilmuan). Mereka tidak hanya sebagai
konsumen, tetapi diharapkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta
ilmu pengetahuan.
Penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan pada mata pelajaran ekonomi adalah sebagai berikut: (1) Sswa belum memahami
cara belajar yang diterapkan oleh guru. (2) Partisipasi
siswa dalam kegiatan pembelajaran, Masih bersifat komunikasi satu arah. (3) Proses belajar tidak berkembang
karena siswa kurang aktif yang berakibat pada hasil belajar siswa itu
sendiri. Hal ini disebabkan mereka kurang menguasai materi yang disampaikan dengan metode ceramah
saja. Padahal, materi-meteri yang ada dalam mata pelajaran
Ekonomi mencakup pada kehidupan
sehari-hari. Maka yang perlu dilakukan, guru harus melakukan perubahan dalam proses pembelajaran yakni dengan mengunakan model-model pembelajaran agar pembelajaran cenderung menyenangkan.
Solusi dari masalah-masalah di atas yang mungkin untuk dilaksanakan
oleh guru yakni dengan menerapkan metode Discovery
learning. Karena dengan menerapkan
metode Discovery learning adalah
suatu teknik yang di gunakan oleh guru dalam mengajar dan memberikan arahan sehingga siswa aktif dan menemukan sendiri konsep dari materi
yang di ajar. Keaktifan siswa
dalam pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelajaran siswa dalam memahami
materi. Siswa diharapkan benar-benar aktif dalam belajar
ekonomi, sehingga akan berdampak pada ingatan siswa tentang
materi pelajaran.
Berdasarkan latar
belakang dan Identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
a.
Bagaimana penerapan�
metode pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Ekonomi kelas XI � IPS �SMA Negeri
4 Bandung ?
b.
Bagaimana�
penerapan metode� pembelajaran� terhadap�
keterampilan� berpikir tingkat
tinggi siswa kelas XI � IPS�
SMA Negeri
4 �Bandung?
c.
Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran dengan
keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI
� IPS SMA Negeri
4 Bandung?
Berdasarkan permasalahan di atas, maka peneliti
mempunyai tujuan sebagai berikut:
a. Mengetahui cara kerja penerapan metode pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
terhadap mata pelajaran XI � IPS SMA Negeri 4 Bandung
b. Meningkatkan aktivitas siswa setelah menggunakannya
model pembelajaran
c. Mengetahui perubahan dalam pembelajaran setelah menggunakannya model pembelajaran
d. Mengetahui sikap siswa dikelas setelah
menggunakannya model pembelajaran
e.
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan model pembelajaran
METODA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian
tindakan dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan
tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk
penelaahan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktik praktik pembelajaran di kelas secara lebih
profesional.
Penelitian tindakan kelas bercirikan perbaikan secara terus menerus
sehingga kepuasan peneliti menjadi tolak ukur berhasilnya
siklus�siklus tersebut dalam proses penelitian ini. Setelah dilakukan refleksi biasanya muncul permasalahan yang perlu diperhatikan sehingga perlu merumuskan kembali rencana berdasarkan informasi yang lebih lengkap dan kritis.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat kualitatif, (PTK) atau dalam bahasa inggrisnya
Classroom Action Reset. Penelitian merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah� tindakan
yang� sengaja dimunculkan� dan� terjadi dalam sebuah kelas
secara bersama. Penelitian Tindakan Kelas merupakan tindakan pemecahan masalah yang dimulai dari: 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi, 5) Evaluasi yang telah disusun, dilakukan observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai masukan untuk melakukan refleksi yang dijadikan pertimbangan pada rencana tindakan selanjutnya. Menurut Arikunto (2006:16), model
penelitian tindakan kelas adalah secara
garis besar terdapat 4 tahapan yang lazim untuk diketahui, yaitu: 1) Perencanaan, 2)
Pelaksanaan,3) Pengamatan, 4) Refleksi.
Dalam penelitian tindakan
kelas ini dalam pengumpulan data digunakan berbagai tehnik antara lain
:
1.
Tes Tertulis
Tes tertulis disini digunakan untuk mengumpulkan data siswa berkenaan hasil pengusaan materi yang dikuasai siswa, setelah siswa mengikuti
suatu proses perlakuan yang
dilakukan oleh peneliti, sehingga didapatkan hasil yang akurat dan dapat menggambarkan secara jelas kemampuan
siswa dalam menguasai materi tersebut.
2.
Alat Pengumpul
Data
Untuk mengetahui kemampuan
yang dikuasai siswa dalam penguasaan materi yang dijadikan obejek penelitian ini, peneliti menggunakan
alat yang berupa tes tertulis yang telah dirancang oleh peneliti sesuai dengan tujuan yang telah tertuang didalam kisi � kisi soal.
3.
Deskripsi perilaku ekologis
Pada teknik ini peneliti mencatat
observasi dan pemahaman urutan perilaku siswa dengan lengkap
meliputi :
a)
suasana kelas
b)
perilaku masing � masing siswa saat
mengikuti pembelajaran di dalam kelas, pada penggunaan metode ini peneliti hanya
untuk mengumpulkan data dan
bukan untuk menafsirkan data.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1.
Silabus
Yaitu seperangkat
rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian
hasil belajar.
2.
Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.
Masing-masing RPP berisi standar
kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, dan kegiatan belajar mengajar. RPP yang direncanakan sebagaimana dalam lampiran laporan penelitian ini.
3.
Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegiatan ini
yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.
4.
Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
a)
Lembar observasi penerapan metode pembelajaran, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.
b)
Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. Pedoman Observasi keaktivan siswa, digunakan untuk membantu observer dalam menentukan keaktifan siswa
5.
Tes formatif
Tes ini disusun
berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep. Tes formatif
ini diberikan setiap akhir putaran.
Bentuk soal yang diberikan adalah uraian.
6.
Format keaktivan siswa
7.
Angket respon
digunakan untuk mengukur respon dan tanggapan
siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan oleh peneliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Data Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil observasi
yang dilakukan oleh peneliti
sebelum melakukan penelitian diperoleh data mengenai kondisi pembelajaran di SMA Negeri 4 Bandung. Sistem
pembelajaran yang berlangsung
masih satu arah di mana guru masih berperan sebagai orang yang maha tahu dan sumber
dari segala pengetahuan bagi siswa, sehingga selama proses pembelajaran berlangsung keterlibatan siswa dalam pembelajaran
masih kurang atau dapat dikatakan
bahwa siswa cenderung pasif. Selain itu siswa
juga kurang berantusias dalam mengikuti pelajaran yang ditunjukkan dengan masih sedikitnya
siswa yang mengajukan pertanyaan maupun menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh guru.
Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan
di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 4 Bandung. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan
dalam 2 siklus untuk menentukan bagaimana cara meningkatkan Keaktifan melalui penerpan model pembelajaran Discovery Learning. Berdasarkan
penelitian yang dilaksanakan,
mulai dari pemeriksaan tahap studi awal sampai
pada siklus kedua diperoleh data sebagai berikut
Siklus I
����������� Berdasarkan temuan masalah pada awal kegiatan sebagai dasar / pra siklus
sebelum masuk pada kegiatan pembelajaran Siklus I, maka diadakan pelaksanaan pembelajaran siklus I. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini mengacu
pada Rencana Pembelajaran
(RP) yang telah dipersiapkan.�
Pada pelaksanaan
kegiatan penerapan pembelajaran Siklus I ini dilakukan beberapa
tahapan, diantaranya :
a.
Perencanaan.
Untuk melakukan penelitian pada siklus I ini peneliti
merencanakan tindakan yang meliputi :
�
Membuat silabus materi pembelajaran.
�
Membuat rancangan program pengajaran yang
diperuntukkan untuk pengajaran pada kelompok besar.� Membuat lembar kerja siswa yang digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar dengan
penyusunan tahap demi tahap yang membawa siswa dalam penemuan
masalah atau penyelesaian suatu masalah.
�
Membuat alat evaluasi yang digunakan untuk mendapatkan data kemampuan siswa setelah mendapatkan
tindakan dengan menggunakan strategi pembelajaran
aktif yang diperuntukkan untuk kelompok besar
�
Membuat solusi dan langkah untuk disampaikan pada siswa berkaitan kelemahan siswa dalam menyelesaikan masalah yang telah di ujikan oleh guru pengajar.
b.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan oleh peneliti dengan melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, dimulai dengan penjelasan pada siswa tentang kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dalam mengikuti
kegiatan. Pada tahap ini guru merumuskan skenario pembelajaran dengan memberikan contoh pengerjaan soal. Memasuki kegiatan inti guru menjelaskan materi tersebut sambil memberikan banyak contoh cara
menyelesaikan soal. Setelah dianggap paham dan mengerti, guru memberikan evaluasi untuk mengukur keberhasilan mengajar. Selama pembelajaran berlangsung siswa diberikan latihan-latihan soal yang dikerjakan baik secara individu
maupun kelompok. Selama pembelajaran berlangsung, aktivitas peneliti maupun siswa diamati oleh guru kolaborator maupun rekan peneliti yang bertindak sebagai pengamat. Pada akhir siklus I dilakukan tes akhir yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa. Dari tindakan siklus pertama didapat hasil pree test, posttest serta hasil observasi
tentang hasil kinerja guru. Sebagai hasil penelitian, data yang terkumpul dalam penelitian ini antara lain:
�
Kemampuan awal siswa
�
Prestasi belajar siswa untuk
kelompok
Berdasarkan informasi yang telah didapatkan peneliti pada saat observasi pengajaran yang dilakukan maka peneliti menyampaikan
kelemahan dan kekurangan � kekurangan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan
materi pembelajaran yang diujikan dengan menggunakan metode tanya jawab. Peneliti
membagikan lembar kerja yang telah dirancang untuk diselesaikan siswa secara keseluruhan dan peneliti berkeliling untuk mengamati cara kerja siswa
serta membantu siswa yang mengalami masalah dalam menyelesaikan
lembar kerja yang dibagikan.
c.
Hasil Pengamatan (Observasi)
Observasi digunakan untuk mengadakan penilaian afektif dan psikomotorik serta aktivitas siswa maupun peneliti
selama proses pembelajaran.
Observasi terhadap siswa dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan pengamat sedang untuk observasi
aktivitas peneliti dilakukan oleh guru kolaborator.
Setelah lembar kerja yang mengarahkan siswa untuk menemukan suatu masalah mengenai
materi yang disampaikan maka tampak siswa
mulai antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan mengerjakan lembar kerja. Namun pada pengerjaan lembar kerja yang dibagikan ini masih terlihat
ada beberapa siswa yang bermain � main ataupun asyik mengerjakan
pekerjaan yang lain, Pada pelaksanaan
pengerjaan lembar kerja tersebut tampak adanya siswa
yang mengalami hambatan dalam menyelesaikan bertanya pada teman terdekatnya, namun ada pula siswa yang mengalami hambatan dalam mengerjakan lembar kerja tersebut
langsung bertanya kepada peneliti dan guru pengajar.
Pada post test yang diberikan setelah dikoreksi oleh guru pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut :
Hasil nilai siklus I
|
NO |
NAMA SISWA |
NILAI |
|
|
1 |
Anggi Nurdiani |
75 |
|
|
2 |
Anisya Sabilla |
70 |
|
|
3 |
Arinda Assyfa Putri Budiana |
70 |
|
|
4 |
Audrey Triessa Dannica |
70 |
|
|
5 |
Aufa Shulthonul Falah |
70 |
|
|
6 |
Dilla Rachmawati |
75 |
|
|
7 |
Dwi Putra Pangestu |
65 |
|
|
8 |
Fatih Sabilur Azka |
70 |
|
|
9 |
Fitria Salsabila |
80 |
|
|
10 |
Frysa Ratanika Azzahra |
75 |
|
|
11 |
Gabriela Angelica Annastasha |
60 |
|
|
12 |
Galuh Arya Nata |
70 |
|
|
13 |
Ghaney Pratama |
80 |
|
|
14 |
Hikmal Ryvaldi Pelu |
75 |
|
|
15 |
Keisha Cipta Khairunnisa |
70 |
|
|
16 |
Mochamad Faizal |
65 |
|
|
17 |
Muhammad Aimar Normansyah Akbar |
70 |
|
|
18 |
Muhammad Reyhan Fada Abdussalam |
80 |
|
|
19 |
Neza Zahwa Devara Erwin |
75 |
|
|
20 |
Pipit Dwi Arum Hermawan |
70 |
|
|
21 |
Putri Aulia Noer Azizah |
70 |
|
|
22 |
Rafael Giovanni |
60 |
|
|
23 |
Rifqi Muhammad Firdaus |
75 |
|
|
24 |
Rizka Putri Amelia |
60 |
|
|
25 |
Syita Sofia Elkarima |
65 |
|
|
26 |
Tasya Maulani |
65 |
|
|
27 |
Teddy Okpriyandi |
75 |
|
|
28 |
Tiara Paramita |
75 |
|
|
29 |
Zidan Fahrian |
75 |
|
|
Nilai rata - rata |
70,86 |
||
Dari siswa
didik yang ada di kelas tersebut didapatkan hasil, siswa yang mendapatkan nilai rata-rata harian tertinggi adalah 80, nilai terendah 60, dan rata-rata nya adalah 70.86, namun masih ada
beberapa siswa yang belum tuntas sesuai
dengan kriteria ketuntasan maximal yang ditentukan.
Data Hasil Belajar Siswa Siklus
I
|
No |
Keterangan |
Perolehan |
|
1 |
nilai terendah |
60 |
|
2 |
nilai tertinggi |
80 |
|
3 |
nilai rata - rata |
70,86 |
|
4 |
jumlah siswa
blm tuntas |
7 |
|
5 |
jumlah siswa
tuntas |
22 |
|
6 |
prosentasi ketuntasan
|
75,86 |
|
Hasil observasi penilaian afektif SIKLUS I |
|||||
|
Kriteria |
Skor |
Nilai |
Siklus I |
Keterangan |
|
|
Jml siswa |
% |
||||
|
Sangat Baik |
|
80 - 100 |
3 |
10,34 |
|
|
Baik |
60 - 65 |
70 - 79 |
19 |
65,51 |
Tuntas |
|
Cukup |
45 - 55 |
60 - 69 |
7 |
24,13 |
Tidak Tuntas |
|
Kurang |
40 |
50 - 59 |
|
|
|
|
Sangat Kurang |
≤ 40 |
≤ 49 |
|
|
|
d. Refleksi dan Revisi
Tindakan
Berdasarkan data-data yang telah terkumpul pada siklus I, proses pembelajaran yang berlangsung masih kurang efektif
yang ditunjukkan dengan kurang aktifnya siswa selama pembelajaran
berlangsung, hal ini dapat dilihat
dari hasil observasi aktivitas siswa hanya sebesar
39,39 %.
Proses
pembelajaran pada tindakan
I menunjukan kelebihan dan kekurangan, kelebihannya yaitu telah dilaksanakan
pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai. Kekurangan nya adalah pada saat pelaksanaan pembelajaran kondisi siswa dalam
kelas belum tertib dan aktif, dalam memulai kegiatan
belajar mengajar guru kurang memberikan motivasi dan apresiasi, serta kurang tegas
terhadap siswa yang tidak mengikuti pelajaran
Siklus II
Proses pembelajaran
pada tindakan II tidak jauh berbeda dari
pelaksanaan tindakan sebelumnya yaitu menyusun rencana, membuat LKS, pedoman observasi untuk membantu guru dalam menentukan aktivitas belajar siswa. Semua siswa yang hadir 29 orang. Pada kegiatan penelitian tindakan II ini guru / peneliti mengacu pada kelemahan � kelemahan yang terjadi pada tindakan sebelumnya.� Pembelajaran pada tindakan II diawali dengan menyuruh siswa mengatur tempat duduk. Selanjutnya peneliti memberikan penjelasan tentang kegiatan belajar yang akan dilaksanakan.
Kemudian peneliti membagikan hasil skor siswa
serta memotivasi siswa supaya meningkatkan
hasil belajarnya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya tentang materi sebelumnya yang tidak dimengerti dan menjelaskan garis besar materi sebelumnya.
a.
Perencanaan
Pada perencanaan siklus II ini peneliti
dan guru merencanakan tindakan
sebagai berikut :
�
Membuat kelompok kecil yang terdiri dari 4 anak dan masing � masing kelompok
dipimpin oleh anak yang dipilih dari anak
yang punya kemampuan lebih
dan mampu memimpin.
�
Membuat rancangan pembelajaran yang sederhana untuk kelompok kecil yang dipergunakan bagi pengajaran selama 90 menit.
�
Membuat 2 lembar kerja yang dipergunakan untuk diskusi kelompok�
�
Merencanakan alat evaluasi yang berupa soal tes
yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa.
b.
Pelaksanaan Tindakan
Seperti yang telah direncanakan maka
peneliti melaksanaan tindakan siklus II dengan materi pembelajaran yang masih
berhubungan dengan materi sebelumnya, pada tindakan di siklus II ini diawali
penjelasan kepada siswa tentang prosedur yang akan dilaksanakan pada
pembelajaran untuk kelompok kecil. Pelaksanaan pembelajaran
pada siklus II juga mengacu
pada Rencana Pembelajaran
(RP) yang telah dipersiapkan.
Prinsip pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini hampir sama
dengan siklus I, tetapi peneliti lebih menekankan pemberian latihan soal yang semakin sering dilakukan. Selama pembelajaran aktivitas peneliti maupun siswa tetap
diamati oleh guru kolaborator
maupun pengamat. Pada akhir siklus II juga dilakukan tes akhir
yang berfungsi untuk mengukur kemampuan belajar siswa.
c.
Hasil Penganatar (Observasi)
Observasi terhadap siswa dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan pengamat sedang untuk observasi aktivitas peneliti dilakukan oleh guru kolaborator.
Pada pelaksanaan siklus II ini tampak sekali
bahwa siswa mulai antusias dalam mengerjakan tugas kelompok, semua siswa terlihat
aktif bersama kelompoknya dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan peneliti.
Pada saat diskusi pembahasan materi yang diberikan satu kelompok untuk
ditanggapi oleh kelompok lain, kadang terlihat
perbedaan pola berfikir dari masing � masing individu dalam menyampaikan ide pemecahan masalah yang diberikan.
Berdasarkan evaluasi yang dilaksanakan setelah dikoreksi didapatkan hasil yang sesuai dengan indikator
pencapaian hasil yang diharapkan.
Pada post test yang diberikan
setelah dikoreksi oleh guru
pengajar dan peneliti didapatkan hasil sebagai berikut :
|
NO |
NAMA SISWA |
NILAI |
|
|
1 |
Anggi Nurdiani |
90 |
|
|
2 |
Anisya Sabilla |
80 |
|
|
3 |
Arinda Assyfa Putri Budiana |
85 |
|
|
4 |
Audrey Triessa Dannica |
85 |
|
|
5 |
Aufa Shulthonul Falah |
90 |
|
|
6 |
Dilla Rachmawati |
85 |
|
|
7 |
Dwi Putra Pangestu |
75 |
|
|
8 |
Fatih Sabilur Azka |
80 |
|
|
9 |
Fitria Salsabila |
85 |
|
|
10 |
Frysa Ratanika Azzahra |
90 |
|
|
11 |
Gabriela Angelica Annastasha |
85 |
|
|
12 |
Galuh Arya Nata |
85 |
|
|
13 |
Ghaney Pratama |
90 |
|
|
14 |
Hikmal Ryvaldi Pelu |
85 |
|
|
15 |
Keisha Cipta Khairunnisa |
90 |
|
|
16 |
Mochamad Faizal |
75 |
|
|
17 |
Muhammad Aimar Normansyah Akbar |
90 |
|
|
18 |
Muhammad Reyhan Fada Abdussalam |
85 |
|
|
19 |
Neza Zahwa Devara Erwin |
90 |
|
|
20 |
Pipit Dwi Arum Hermawan |
75 |
|
|
21 |
Putri Aulia Noer Azizah |
85 |
|
|
22 |
Rafael Giovanni |
90 |
|
|
23 |
Rifqi Muhammad Firdaus |
85 |
|
|
24 |
Rizka Putri Amelia |
85 |
|
|
25 |
Syita Sofia Elkarima |
90 |
|
|
26 |
Tasya Maulani |
80 |
|
|
27 |
Teddy Okpriyandi |
85 |
|
|
28 |
Tiara Paramita |
85 |
|
|
29 |
Zidan Fahrian |
90 |
|
|
Nilai rata - rata |
85,17 |
||
Dari data diatas diperoleh adanya peningkatan, pada kegiatan pembelajaran tindakan II ini hampir seluruh
siswa dapat menguasai dan memahami materi pelajaran yang disampiakan oleh guru / peneliti hal ini dapat
dilihat dari hasil perolehan nilai yang didapat yaitu dengan nilai
tertinggi mencapai 90 dan terendah mencapai nilai 75 dengan rata � rata mencapai 85.17 % dan telah� mencapai tingkat ketuntasan minimum yaitu 85 % keberhasilan siswa dalam memahami
materi yang disampaikan guna mencapai nilai
diatas batas ketuntasan
Data Hasil Belajar Siswa
Siklus II
|
Data Hasil Belajar Siswa Siklus II |
||
|
No |
Keterangan |
Perolehan |
|
1 |
nilai terendah |
75 |
|
2 |
nilai tertinggi |
90 |
|
3 |
nilai rata - rata |
85,17 |
|
4 |
jumlah siswa blm tuntas |
|
|
5 |
jumlah siswa tuntas |
29 |
|
6 |
prosentasi ketuntasan |
100 |
|
Hasil observasi penilaian afektif SIKLUS II |
|||||
|
Kriteria |
Skor |
Nilai |
Siklus II |
Keterangan |
|
|
Jml siswa |
% |
||||
|
Sangat Baik |
80 - 100 |
80 - 100 |
26 |
89,65 |
|
|
Baik |
70 - 80 |
70 - 79 |
3 |
10,34 |
Tuntas |
|
Cukup |
60 - 65 |
60 - 69 |
Tidak Tuntas |
||
|
Kurang |
40 |
50 - 59 |
|||
|
Sangat Kurang |
≤ 40 |
≤ 49 |
|
|
|
d. Refleksi dan Revisi Tindakan II
Berdasarkan data-data yang telah terkumpul pada siklus II, diketahui bahwa proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus II ini sudah lebih
baik dibandingkan dengan siklus I. Dari hasil
evaluasi yang diberikan tenyata sudah sebagian
besar siswa telah mampu mendapatkan
nilai yang mengalami peningkatan, namun masih terlihat kesalahan yang dibuat oleh siswa dikarenakan faktor kekurang telitian siswa dalam bekerja tapi
tidak terlalu fatal dan masih bisa dilakukan
perbaikan. Pada tampilan
tindakan II proses pembelajaran
meningkat disebabkan oleh karena guru dapat memahami kendala yang dihadapinya pada tampilan tindakan sebelumnya. Siswa lebih aktif
dan kreatif dalam menyelesaikan tugas - tugas. Selain adanya
peningkatan terbukti pada pencapaian nilai rata-rata
pretest dan posttest. Masalah skill dan kecermatan dalam mengambil langkah pengerjaan masih perlu ditingkatkan agar penguaasaan materi pembelajaran dapat lebih baik lagi.
Maka diadakan lagi evaluasi pengerjaan
soal guna mencapai nilai ketuntasan 85 % yang diharapkan.
Hasil Analisis Instrumen
Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes akhir
siklus yang berbentuk obyektif tes, lembar
observasi, dan angket. Sebelum digunakan sebagai alat evaluasi
hasil belajar siswa dalam penelitian
ini, instrumen penelitian diuji coba terlebih dahulu.
Uji coba soal tes siklus dilakukan
di kelas XI IPS 2 untuk tes siklus I dengan
jumlah siswa sebanyak 29 anak. Hasil uji coba soal kemudian
dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda soal. Sedangkan
instrumen penelitian yang berupa angket telah
dikonsultasikan sebelumnya kepada guru / rekan sejawat tempat peneliti melakukan penelitian sebagai dasar validitas konstruk (validitas berdasar pertimbangan ahli).
Deskripsi Antar Siklus
Aktivitas Belajar
Siswa Kelas XI IPS 2 SMA
Negeri 4 Bandung, menunjukkan bahwa
pada siklus I sampai siklus� II� tingkat aktivitas belajar siswa mengalami perubahan setelah diterapkan model pembelajaran. Suasana kelas lebih
baik dari sebelumnya, aktivitas siswa mengalami kemajuan terlihat dari semakin banyaknya
siswa yang turut aktif dalam proses pembelajaran.
Selama pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar observasi dengan cara memberikan
skor pada aspek aktivitas yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan
kriteria yang telah ditentukan. Keaktifan siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran mulai dari tindakan I sampai tindakan II menunjukan peningkatan. Keaktivan siswa terlihat dari aktivitas
siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan melakukan aktivitas menyimak, memberi pertanyaan, maupun menjawab pertanyaan lisan dari peneliti dan temannya serta menanggapi.
Pembahasan dan Kesimpulan
Penelitian tindakan
kelas ini dilaksanakan pada materi Pendapatan Nasional yang terbagi menjadi dua siklus
pembelajaran. Dalam hal ini sebagian
besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari
materi pembelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah atau tugas. Dengan
interaksi yang efektif dimungkinkan semua anggota kelompok dapat menguasai materi pada tingkat setara.
Pelaksanaan proses pembelajaran
siklus I mengacu pada rencana pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti. Pada awal pembelajaran, peneliti mengingatkan kembali materi yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya dan memberikan motivasi kepada siswa sehingga siswa menjadi tertarik
untuk mempelajari materi pelajaran lebih lanjut.
Proses pembelajaran siklus I yang dilakukan oleh peneliti adalah mengoptimalkan terjadinya interaksi antar siswa maupun antara
siswa dengan peneliti selaku guru sehingga proses pembelajaran tidak hanya berlangsung
satu arah melalui kegiatan kelompok. Selama pembelajaran peneliti memberikan latihan-latihan soal yang harus dikerjakan oleh siswa baik secara individu
maupun berkelompok. Pelaksanaan diskusi kelompok bertujuan agar siswa lebih banyak
berinteraksi dengan teman satu kelompok
dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru kepada mereka, sehingga apabila mereka mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut dapat bertanya kepada teman satu kelompok.
Namun apabila semua siswa dalam
satu kelompok juga tidak dapat menyelesaikan,
maka siswa tersebut dapat bertanya kepada guru. Pemberian latihan soal dimulai dari
soal dengan tingkat kesulitan yang rendah ke soal
dengan tingkat kesulitan tinggi. Pada akhir pembelajaran, peneliti membimbing siswa untuk dapat
menarik kesimpulan dari apa yang telah
mereka pelajari dan mengadakan evaluasi berupa tes akhir
siklus untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
Berdasarkan hasil
tes akhir siklus I diketahui jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebesar 75.86 % hasil ini menunjukkan
adanya banyak kendala dan kekurangan,� setelah diberi tindakan dan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Peningkatan pemahaman ini disebabkan oleh karena adanya keterlibatan
siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui belajar secara berkelompok, siswa lebih banyak
berinteraksi dengan teman atau dapat
dikatakan siswa terlibat secara langsung selama pembelajaran sehingga pengetahuan yang diperoleh siswa akan lebih
lama melekat dalam ingatannya. Pada siklus I jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 22 siswa dan nilai rata-rata siswa 70.86� pada saat kegiatan pembelajaran
siklus II ketuntasan siswa sebanyak 29 orang dengan nilai rata � rata 100 hal ini dikarenakan
guru / peneliti sudah dapat menguasai kelemahan � kelemahan yang terjadi pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Peran peneliti
sangat penting dan menetukan
keberhasilan siswa pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan analisis
dan hasil pembahasan, maka keterlibaatn siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Discovery Learning mengalami
peningkatan sehingga tingkat pemahaman dan hasil belajar siswa
juga turut meningkat karena siswa mengalami
sendiri setiap kegiatan pembelajaran. Pengalaman ini mereka peroleh dengan semakin sering berlatih mngerjakan soal yang diberikan oleh guru, sehingga apabila mereka menemukan kesulitan akan bertanya kepada
teman maupun guru.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian
tentang perbaikan pembelajaran pada mata pelajaran Ekonomi yang masing-masing terdiri
dari 2 siklus�� serta melakukan pengamatan pada kegiatan tersebut, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.
Prestasi belajar
siswa sebelum menggunakan variasi metode pembelajaran selalu menunjukan prestasi yang kurang memuaskan.
2.
Aktifitas siswa
selama proses pembelajaran
Ekonomi dengan metode �Pembelajaran Discovery Learning� menunjukan perubahan yang positif. Terbukti dengan keaktifan dan keterlibatan dari siswa baik secara
fisik, mental, emosional
dan kemampuan intelektual.
3.
Pada pembelajaran Ekonomi guru harus banyak memberikan
contoh pengerjaan soal yang bervariasi dan mengikut sertakan siswa dalam proses penyelesaian soal-soal tersebut dengan menunjuk beberapa orang siswa untuk belajar� menyelesaikannya
sesuai dengan� kemampuannya
masing-masing dengan bimbingan
guru.
4.
Selama proses pembelajaran
mulai tindakan I sampai II peneliti berusaha memotivasi setiap siswa pada semua kelompok dengan intensif dan adil supaya setiap
siswa berpartisipasi menyimak, menjawab, memberi sanggahan dan masukan selama diskusi berlangsung, selanjutnya menuliskan jawaban hasil diskusi
tersebut pada lembar jawaban secar mandiri.
5.
Guru dapat menemukan
berbagai metode pembelajaran yang menarik pada mata pelajaran Ekonomi dengan tujuan agar siswa lebih interaktif
dalam di masa sekarang dan
yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Supardi, Sekolah Efektif, (Jakarta: PT. Raja Grafindo,
2013), h. 2 2 Ibid., h. 164
Hidayaningrat, Azas-azas Organisasi Manajemen, (Jakarta: Erlangga, 1995), h. 16
Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2008), h. 265
5 Ibid., h. 266 6
Abdul Majid, Pembelajaran
Tematik Terpadu, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,
2014), h.15 7
Eveline Siregar, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor: Ghalia
Indonesia, 2010), h. 12 8
Made Wena,
Strategi Pembelajaran Inovatif
Kontemporer, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2012)
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah :
Konsep Strategi dan Implementasi,
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), h.82 10
Djamarah, strategi belajar
mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 11
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Kencana,
2004), h. 12
Hamzah B.Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan PAIKEM, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2012), h. 12 16
Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran
berorientasi standar proses
pendidikan, ( Jakarta: Kencana prenada media, 2008), h
Anni, Catharina Tri, dkk.
2006. Psikologi Belajar.
Semarang: Universitas
Negeri Semarang Press.
Anitah W., Sri, dkk
(2007), Strategi Pembelajaran Kimia, Jakarta : Penerbit Universitas Terbuka.nn
Arifin, Mulyati, dkk (2000), Common Textbook Strategi Belajar
Mengaja Kimia, Bandung: JICA
Arifin, Mulyati,
(1995), Pengembangan Pengajaran,
Surabaya : Erlangga Univ.
Press.
Darsono. 2001. Belajar
dan Pembelajaran. Semarang :
IKIP Semarang Press.
Dahar, R.W., (1982), Pengembangan
Konsep-Konsep Kimia pada SMA se Kodya
Bandung, Bandung : FPMIPA IKIP.
Firman, Harry dan Liliasari
(1994), Kimia 1 untuk SMU ,
Jakarta : Depdikbud
Hosnan, M. 2014. Pendekatan
Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Hamalik, O. 2003. Pendekatan
Baru Strategi Belajar Mengajar berdasarkan CBSA.Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Karyadi, Benny, (1994), Kimia 2 untuk SMU, Jakarta : Depdikbud
Kemmis & Mc. Taggart. 2010. The Action
Research Planner. Geelong: Deaken
Univercity Press. �
Kurniasih, Imas dan Berlin
Sani. 2014. Implementasi Kurikulum
2013 Konsep dan Penerapan.
Surabaya: Kata Pena.
Liliasari (1994), Kimia 3 untuk
SMU , Jakarta : Depdikbud
Novak, Joseph D., (1973), A Summary of
Research in Science Education, Ohio : Eric Ohio State
Univ. Trowbridge, Leslie W., and Bybee, Rodger W., (1990), Becoming A Secondary
School Science Teacher, Fifth Edition, Columbus,Ohio
: Merrill Publishing Company.
Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan
Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Ruseffendi. 2006. Pengantar
Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika. Bandung: Tarsito.
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Slameto. 1995. Belajar
Dan Factor-faktor Yang Mempengaruhinya
(Jakarta : Rinekacipta). Edisi revisi
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Suprihatiningrum, Jamil. 2014. Strategi Pembelajaran.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suherman, Erman dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica.Veerman, k. 2003. Intelligent Support for Discovery
Learning. Twente: Twente University Press.
Tresna Sastrawijaya.
(1988). Proses Belajar Mengajar
Kimia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.