RANCANG BANGUN ALAT SIMULASI
CIP (CLEANING IN PLACE) PADA TANKY PRODUKSI BAHAN BAKU CAIR MENGGUNAKAN PLC
OUTSEAL DAN SCADA HAIWEL
Sunandar Setiabudi, Agus Darwoko
Program
Studi Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknologi Duta Bangsa
|
Riwayat Artikel: Received: 02-10-2022 Revised: 14-10-2022 Accepted: 22-10-2022 Keywords: CIP,PLC Outseal,Scada Haiwell Kata Kunci: CIP,PLC Outseal,Scada
Haiwell |
|
Abstract The use of automatic washing methods is possible for machines that
produce milk and other beverage ingredients. The automatic washing method is
also known as the Cleaning In Place (CIP) method. Currently the CIP method is
widely used as a cleaning and sanitation method in the dairy industry. The
use of automatic washing methods is possible for milk production machines.
The automatic washing method is also known as the Cleaning In Place (CIP)
method. Currently, the CIP method is widely used as a cleaning and sanitation
method in the dairy industry. CIP is a series of processes that involve
circulating the washing and disinfection solution in a line that does not
require disassembly. For this reason, in this chapter we will discuss the
manufacturing hygine process. The optimization of the washing process
includes optimization of the concentration of alkaline and acidic cleaning
agents in this simulation design, which is a small picture of the CIP system.
This author represents the design of the CIP system to explain through the
media simulation software scada heiwel which is assisted in programming using
PLC outseal. |
|
|
Abstrak Penggunaan metode pencucian otomatis dimungkinkan untuk
mesin produksi susu dan bahan minuman lainya. Metode pencucian otomatis
disebut juga sebagai metode Cleaning In Place (CIP). Saat ini metode CIP
banyak digunakan sebagai metode pembersihan dan sanitasi di industri
susu.enggunaan metode pencucian otomatis dimungkinkan untuk mesin produksi
susu. Metode
pencucian otomatis disebut juga sebagai metode Cleaning In Place (CIP). Saat
ini metode CIP banyak digunakan sebagai metode pembersihan dan sanitasi di
industri susu. CIP adalah suatu rangkaian proses yang meliputi sirkulasi
larutan pencuci dan disinfeksi dalam suatu jalur yang tidak memerlukan
pembongkaran. Untuk itu di dalam bab ini akan dibahas proses hygine
pabrikasi.�� Optimasi�� proses�
pencucian meliputi optimasi konsentrasi bahan pembersih basa dan asam
pada rancang bangun simulasi ini yaitu berupa gambaran kecil pada sistem CIP. Penulis ini merepresentasikan
rancang bangun sistem CIP untuk menjelaskan melalui media simulasi software
scada heiwel yang di bantu dalam pemogramannya mengggunakan PLC outseal. |
Corresponding Author: Sunandar
Setiabudi�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
����������� Pada era
globalisasi saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi dalam
berbagai bidang berkembang sangat pesat sehingga mahasiswa yang akan memasuki
dunia pekerjaan harus memiliki keterampilan dan keahlian yang memadahi dan
mendukung agar dapat diterapkan secara nyata. Hal tersebut dapat didukung
dengan suatu instansi atau lembaga yang sesuai dengan bidang atau program studi
yang sedang didalami maupun dengan praktek kerja secara langsung sebagai
persiapan awal kepada mahasiswa.
Dengan demikian, penulisan skripsi
disesuaikan dengan bidang pendidikan yang diambil, yaitu terkait dengan bidang
kelistrikan sistem CIP. Memudahkan siswa untuk lebih berkembang dalam
menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama ini.
Dengan demikian, penulisan skripsi
disesuaikan dengan bidang pendidikan yang diambil, yaitu terkait dengan bidang
kelistrikan sistem CIP. Memudahkan siswa untuk lebih berkembang dalam
menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama ini.
Penggunaan metode pencucian otomatis
dimungkinkan untuk mesin yang memproduksi susu dan bahan minuman lainnya.
Metode pencucian otomatis juga dikenal sebagai metode Cleaning In Place (CIP).
Saat ini, metode CIP banyak digunakan sebagai metode pembersihan dan sanitasi
di industri susu. CIP adalah serangkaian proses yang mencakup sirkulasi larutan
pencuci dan desinfeksi dalam jalur yang tidak memerlukan pembongkaran (Spreer,
1998)
Dalam praktiknya, biaya pembersihan
dan sanitasi sangat sering diperhitungkan. Menurut Marriott (1999), sistem
pencucian yang optimal adalah kombinasi yang efektif dari bahan pembersih basa
dan asam, pembersih dan alat sehingga pencucian dapat berlangsung secara
efektif dan ekonomis. Biaya bahan pembersih dapat dikurangi melalui penggunaan
konsentrasi bahan pembersih yang tepat.
Dalam proses pembuatan produk
makanan, banyak bakteri yang mencemari produk susu diketahui berasal dari mesin
dan peralatan produksi. Sehubungan dengan itu, Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor: 23/MEN/SK/I/1978 tentang Pedoman Cara Produksi Pangan
yang Baik menyatakan bahwa alat dan perlengkapan yang digunakan untuk
memproduksi pangan harus dirancang menurut persyaratan teknis dan higienis.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa alat
dan perlengkapan yang digunakan tidak mencemari produk dengan mikroorganisme,
unsur atau pecahan logam lepas, minyak pelumas, bahan bakar dan lain-lain.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut maka harus dilakukan sanitasi mesin proses
produksi. Hasil akhir yang diharapkan dari proses sanitasi adalah permukaan
mesin yang bersentuhan langsung dengan produk susu bebas residu dan
mikroorganisme hidup.
Penggunaan metode pencucian otomatis
dimungkinkan untuk mesin produksi susu. Metode pencucian otomatis juga dikenal
sebagai metode Cleaning In Place (CIP). Saat ini, metode CIP banyak digunakan
sebagai metode pembersihan dan sanitasi di industri susu. CIP adalah
serangkaian proses yang melibatkan sirkulasi larutan pencuci dan desinfeksi
dalam satu jalur yang tidak memerlukan pembongkaran. Untuk alasan ini, dalam
bab ini kita akan membahas proses higiene manufaktur.
Konsentrasi bahan pembersih yang
terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat mengakibatkan hasil pencucian yang
tidak efektif, sehingga perlu dilakukan
optimalisasi konsentrasi bahan pembersih untuk mendapatkan hasil pencucian yang
efektif dengan biaya yang minimal.
Optimalisasi proses pencucian
meliputi optimalisasi konsentrasi bahan pembersih basa dan asam pada desain
simulasi ini, yang merupakan gambaran kecil dari sistem CIP. Penulis ini
merepresentasikan perancangan sistem CIP dengan menjelaskan melalui media
simulasi software scada heiwel yang dibantu dalam pemrograman menggunakan PLC
outseal.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pelajari
tentang proses CIP dalam produksi bahan baku.
2. Pelajari
tentang sistem Otomasi pada sistem CIP
3. Mempelajari
proses konsentrasi bahan pembersih di setiap Tanky yang disimulasikan
Dalam
pembahasan bab ini mengenai kajian teori dasar yang diperlukan dalam tugas
akhir ini. Diantaranya dijelaskan juga mengenai sejarah konsep dasar PLC (Programmable Logic Controller). Pada
tahapan ini yaitu merencanaan proses pembuatan suatu sistem. Tahap yang
dilakukan yaitu menacari permasalahan yang ada di sekitar lingkungan terutama
lingkungan kerja, kemudian memilih komponen dengan karakteristik yang sesuai
dengan kebutuhan. Untuk pemilihan komponen ini diperlukan manual book serta petunjuk lain yang dapat membantu dalam
mengetahui spesifikasi dari komponen tersebut sehingga komponen yang didapat
merupakan pilihan yang tepat bagi alat yang akan dibuat.
METODA PENELITIAN
Untuk mencapai tujuan
penelitian dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagai
berikut:
1. Metode Pengamatan
Melakukan
observasi dan diskusi dengan tim dan mengumpulkan data langsung di lokasi
penelitian.
2. Studi Sastra
Mencari
sumber referensi penelitian melalui buku, jurnal ilmiah dan internet.
Perancangan sistem digunakan untuk
membuat simulasi pada sistem CIP (Cleaning In Place) dimana simulasi ini
ditampilkan pada aplikasi Scada Haiwel. Sistem ini merupakan sistem pencucian
pada tangki bahan baku, dimana aplikasi ini sangat membantu dalam membersihkan
tangki tanpa harus operator memasukkan tangki dan membersihkannya secara
manual.
Dalam
perencanaan sistem ini penulis membuat trainer kit yang kurang lebih sama
dengan keadaan sebenarnya pada sistem CIP (Clening In Place) pada tangki bahan
baku cair. Penulis membuat simulasi dengan harapan dapat dengan mudah
menggambarkan keadaan sebenarnya dalam proses CIP
Kemudian dalam penelitian ini juga
dilakukan studi pustaka dan googling untuk mendapatkan informasi terkait sistem
CIP. Penulis juga menanyakan kepada beberapa orang yang mengerjakan sistem CIP
ini, data- data yang kemudian dapat dituangkan oleh penulis dalam penulisan
skripsi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa Sistem
Pada analisa system ini, terdapat beberapa hasil analisa dan monitoringnya, sebagai
berikut:
A. Penulis membuat semua controll di lakukan pada tombol start dan stop.
B. Tombol start digunakan untuk memulai proses
kerja dalam sistem CIP.
C. Sistem ini
di buat dengan sistem monitoring menggunak PC melalui aplikasi scada Haeiwell.
D. Tampilan pada monitoring menjelaskan proses alur kerja dari system CIP dimana valve akan membuka dan menutup sebagaimana urutan valve tersebut.
E. Komunikasi antara PLC Outseal dengan menggunakan kabel USB.
F. Sistem ini juga dapat di monitoring melalui aplikasi scada Haiwel
G. Sofware Haiwell hanya support pada OS Windos untuk Open Source sepeti Linux belum bisa
A. Tampilan pada Start
Pada tampilan ini
menjelaskan prose transfer air panas
ke tank Hot Demin dan valve pada hot demin
akan membuka, kemudian valve
drain juga membuka untuk
mengosongan product yang ada
pada tanki product. Pada proses ini membutuh
waktu yang berbeda dimana waktu pengisaian
ke Hot Demin lebih cepat dibandingkan dengan pengosongan product
karena ukuran tank yang berbeda. Pada gambar 4.1 menjelaskan valve 1 akan on
lebih
cepat dibandingkan valev-6 yang digunaka untuk drain pengosongan product.
Gambar 1 Tampilan saat start
B. Tampilan Setelah Pengosongan tank product
Pada tampilan ini
menjelaskan prose transfer air panas ke tank Product dan valve out pada hot demin akan membuka, kemudian Motor pompa
juga On untuk mengisi
air hangat ke tank product.
Pada proses ini membutuh waktu untuk proses pengisian dimana
waktu yg di tentukan saat ini selama 10
detik. Setelah selesai proses ini makan motor pompa akan off, valve-3 juga akan off. Prose dapat dilihat pada gambar 4.2 seperti
dibawah ini.
Gambar 2 Tampilan setelah pengosongan
A. Tampilan pada saat pembilasan awal
Pada tampilan ini menjelaskan prose
pembilasan pada tank product dimana motor
pompa 2 merupakan pompa yang digunaka sebagai sirkulasi dimana air hot demin di kembalikan lagi pada
tank hot demin. Pada proses ini valve 2 akan on
beberapa detik sesuai
settingan yang sudah di
tetapkan.
Gambar 3 Tampilan
setelah pengosongan
B. Tampilan Proses Transfer
Cairan Resin
Pada
tampilan ini menjelaskan prose transfer cairan
resin ke tank Product dan valve out pada tank resin akan membuka, kemudian Motor
pompa juga On untuk mengisi air hangat ke tank product.
Pada proses ini membutuh waktu untuk proses pengisian dimana waktu yg di tentukan
saat ini selama 10 detik. Setelah selesai proses
ini makan motor pompa akan off, valve-5 juga akan
off. Prose dapat dilihat
pada gambar 4.4 seperti dibawah ini.
Gambar 4 Tampilan Pengisian Resin
C. Tampilan pada saat pembilasan resin
Pada tampilan ini
menjelaskan prose pembilasan pada tank product dimana motor pompa 2 merupakan pompa yang digunaka sebagai sirkulasi
dimana air hot demin di kembalikan
lagi pada tank hot demin. Pada proses ini valve-4 akan on beberapa
detik sesuai settingan
yang sudah di tetapkan.
Gambar 5 Tampilan
setelah pengosongan
D. Tampilan Setelah Pembilasan terakhir
Pada
tampilan ini menjelaskan prose transfer air panas
ke tank Product dan
valve out pada hot demin akan
membuka, kemudian Motor pompa juga On untuk mengisi air hangat ke tank product.
Pada proses ini membutuh waktu untuk proses pengisian dimana waktu yg di tentukan saat ini selama
10
detik. Setelah selesai proses ini makan motor pompa akan off, valve-3 juga akan off. Prose dapat dilihat pada gambar 4.6 seperti
dibawah ini.
Gambar 6 Tampilan
setelah pengosongan
E. Tampilan pada saat pembilasan akhir
Pada
tampilan ini menjelaskan prose pembilasan pada tank product dimana motor pompa 2 merupakan pompa yang
digunaka sebagai sirkulasi dimana air
hot demin di kembalikan lagi pada tank hot demin.
Pada proses ini valve 2 akan on beberapa
detik sesuai settingan yang sudah di tetapkan.
Gambar 7 Tampilan setelah pengosongan
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan
dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian
dengan cek tegangan dan wiring
kabel
Tabel 1 Hasil Pengujian Valve 1
Berdasarkan data pada table 1 diatas
menunjukkan nilai ukur dari masing masing
Valve bernilai 12 dan 12.3. Berikut adalah dokumentasi dari hasil pengujian
yang ada pada tabel:
Gambar
8 Pengujian Valve
1
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian dengan cek tegangan dan wiring kabel
Tabel 2 Hasil Pengujian Valve 2
Berdasarkan data pada table 2 diatas
menunjukkan nilai ukur dari masing masing
Valve bernilai 12 dan 12.3. Berikut adalah dokumentasi dari hasil pengujian
yang ada pada tabel:
Gambar
9 Pengujian Valve
2
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian dengan cek tegangan dan wiring kabel.
Tabel 3 Hasil Pengujian Valve 3
Berdasarkan data pada table 3 diatas
menunjukkan nilai ukur dari masing masing
Valve bernilai 12 dan 12.3. Berikut adalah dokumentasi dari hasil pengujian
yang ada pada tabel:
Gambar 10 Pengujian Valve 3
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian dengan cek tegangan dan wiring kabel.
Tabel 4 Hasil Pengujian Valve 4
Berdasarkan data pada table 4 diatas
menunjukkan nilai ukur dari masing masing
Valve bernilai 12 dan 12.6 Berikut adalah dokumentasi dari hasil pengujian
yang ada pada tabel:
Gambar 11 Pengujian Valve 4
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian dengan cek tegangan dan wiring kabel
Tabel 5 Hasil Pengujian Valve 5
Berdasarkan
data pada table 5 diatas menunjukkan nilai ukur dari masing masing Valve bernilai
12 dan 12. Berikut adalah dokumentasi dari hasil pengujian yang ada pada tabel:
Gambar 4. 12 Pengujian Valve 5
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan
dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian
dengan cek tegangan dan wiring
kabel.
Tabel 7 Hasil Pengujian Motor 1
Berdasarkan data pada tabel 7 diatas
menunjukkan nilai ukur dari masing masing
Valve bernilai 12 dan 12.3. Berikut adalah dokumentasi dari hasil pengujian
yang ada pada tabel:
Gambar 4. 14
Hasil Pengujian
Motor 1
Pengujian sistem dilakukan agar dapat mengetahui apakah part yang digunakan
dalam keadaan normal atau bermasalah. Maka penulis melakukan pengujian
dengan cek tegangan dan wiring
kabel
Tabel� 8 Hasil
Pengujian Motor 2
Berdasarkan data pada tabel 8 diatas
menunjukkan nilai ukur dari masing masing Valve bernilai 12 dan 12.3
Pada tahap pengujian penulis
menggunakan 2 buah pilot lamp dan
satu stop kontak untuk ruang meeting
sedangkan untuk ruang tamu menggunakan indikator 2 buah lampu pijar dan satu stop kontak.
Penggujian ini dilakukan di lokasi penulis
pertempat tinggal yaitu di rumah.
��� Gambar 15
Pada skripsi ini penulis membuat miniatur
yang merepresentasikan keadaan pada setiap
ruangan yaitu adanya lampu penerangan adanya AC pendingin ruangan dan stop kontak sebagai sumber tegangan
untuk menyalakan projector ataupun alat elektronik lainnya.
Adanya
alat ini dapat membantu menjelaskan konsep yang penulis
sampaikan pada skripsi.
Pembuatan alat ini tidak lah sulit dikarekan konsep yang digunakan sudah membuat sistem ini menjadi simple.
Adanya control HMI dan PLC dalam satu
modul membuat sistem tidak banyak memerlukan ukuran atau ruang yang lebih besar.
Gambar
16 Time chart sistem
Pada
sistem ini penulis membuat sistem CIP secara simulasi menggunakan papan kerja yang dapat di monitoring secara hardware dan software. Melalui flowchart dapat
di simpulkan bahwa input terdiri dar 2 tombol
yaitu Start dan Stop.
Sedangkan outnya ada 8 yaitu 6 Valve dan 2 Motor, hal ini terlihat
dari time chart dimana perpindahan output berdasarkan
waktu.
Gambar 17 Program outseal
Sistem kerjanya
sebagai berikut:
A. Power AC 220 V di ON kan, maka Power supply AC to DC
On dan memberikan tegangan 12 vDC
B.
Power DC 12 V untuk menghidupakan PLC dan Pilot lamp indicator.
C. Bila tombol
Start di tekan maka valve 1
(inlet hotdemin) dan
valve 2 (drain) On
D.
Setelah waktu
10 detik selesai maka Valve inlet hotdemin akan nenutup dan setelah 15 detik valve drain akan menutup.
E.
Setelah valve drain menutup, maka valve outlet hotdemin membuka dan motor 1 akan On selama 10 detik, setela 10 detik seslesai maka valve kedua ya akan meutup.
F.
Setelah motor 1 off, maka selanjutnya valve inlet hotdemin akan on dan motor 2
akan on selama 10 detik.
G.
Setelah motor 2 off, selanjutnya yaitu valve outlet
resin anak membuka dan motor 1 On selama
10 detik, setelah 10 detik maka motor 1 dan valve outlet
resin akan
off.
H.
Motor 2 akan on setelah
motor 1 off, valve inlet resin akan membuka dan motor 2 akan on selama 10 detik.
I.
Setelah motor 2 off maka selanjutnya valve outlet hotdemin membuka motor 1
akan on selama 10 detik.
J.
Setelah proses pembilasan maka motor2 akan on dan valve inlet hotdemin akan membuka.
K.
Setelah proses selesai maka operator harus menekan tombol stop.
L.
Semua proses di atas dapat di monitoring melalu PC secara real time
KESIMPULAN
Dengan ini dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
a) Pengontrollan menggunakan PLC dapat mempermudah dalam
wiring dan perubahan sistem secara berkala.
b) Sistem simula dapat sangat membatu dalam penerapan
dilapangan.
c) Hasil pengujian komponen dapat
dinyatakan dalam keadaan normal.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Agung. (2020), panduan
dasar outseal plc, teknologi otomasi karya anak bangsa, Indonesia
Christoper Kilian, Christopher T. Modern Control Technology. New York :
Thomsom Delmar Learning
Hudallah, N. 2010. Rancang
Bangun Sistem Pneumatis Untuk Pengembangan
Modul-Moduk Gerak Otomatis Sebagai Media Pembelajaran. Jurnal TeknikElektro Vol. 2
No. 1 UNNES.
Muhamad Mujahidin ,
Amin Syahroni (2016),
�Pengontrolan
Suhu Pada Sterilizer Menggunakan Programmable Logic Controller (PLC)�,Universitas Maritim Raja Ali Haji, Jl. Politeknik Senggarang, Tanjungpinang
Setiawan, Y. Fitri. 2015. Rancang Bangun Buka Tutup Pintu Pagar Rumah Menggunakan
Remote Control Wireless Rf315. Jurnal Sisfokom Volume 4.Teknik Informatika STMIK Atma Luhur Pangkalpinang.
Suyanto.,& Yulistyawan, D. 2017. Otomatisasi Sistem Pengendali Berbasis PLC Pada Mesin Vacuum Metalizer Untuk Proses Coating. Jurnal Teknik Komputer Vol.9 No.2. Surabaya: Institut
Teknologi Sepuluh Nopember.
Slamet Budi Utomo, Tribowo Indrato , Moch. Prastawa
Assalim T.P(2019),�Modifikasi Autoclave Hansin
Hs-85e Berbasis Programmable Logic Control (PLC)�,
Politeknik
Kesehatan Kemenkes, Surabaya
Wijaya, M. Budiyanto ( 2006 ), Pengenalan Dasar-Dasar PLC
(Programmable Logic Controller), Gava
Media, Yogyakarta.
Autonics . FX Programming Manual. Korean : FA Business Book.
Autonics . LP Series (Lp � S070) . : Korean:FA Business Book.
Autonics. PLC Smart Studio. Korean : Autonics Automation Korea.
http://eprints.undip.ac.id/67146/6/12._BAB_2.pdf.
http://srimawarni28.blogspot.com/2013/10/pengertian-perekaman.html.
http://www.markijar.com/2018/07/pengertian-grafik-lengkap-contoh- jenis.html.
https://www.transkerja.com/2019/06/pengertian-record.html.
https://www.autonics.com/model/A1200000018.
https://docplayer.info/49465130-Bab-ii-dasar-teori-terdapat-beberapa- software-hmi-yang-dikeluarkan-oleh-beberapa-vendor-antara-lain- yaitu.html.
https://www.plcdroid.com/2019/02/pilot-lamp-indikator-panel- listrik.html#:~:text=Pilot%20lamp%20adalah%20sebuah%20lampu,pentin g%20dari%20Komponen%20Panel%20Listrik.