PENGGUNAAN METODE PROBLEM POSSING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS X OTKP SMK
Sekolah Menengah
Kejuruan Negeri 1 Kota Serang
Email : [email protected]
|
Riwayat Artikel: Received: 01-10-2022 Revised: 07-10-2022 Accepted: 15-10-2022 Keywords: problem posing, document, file Kata
Kunci: problem
posing, dokumen, arsip |
|
Abstract This research is based on the following problems: (a) Does learning the
Problem Posing method have an influence on learning outcomes for Managing
Documents and Archives? (b) How high is the level of mastery of the subject
matter with the implementation of the Problem Posing cooperative learning
method? This study adopted a three-cycle research design. Each cycle consists
of four stages: design, activity and observation, reflection, and revision.
The main subjects of this study were class students. X OTKP 1. The data
obtained are formative test results, observation sheets for teaching and
learning activities. The results of the analysis showed that student
achievement increased from cycle I (71.4%), cycle II (80%) and cycle III
(91%). The conclusion of this study is that the problem posing method has a
positive influence on the learning motivation of class X OTKP students at SMK
Negeri 1 Serang and this method can be used as a
choice of OTKP learning methods. |
|
|
Abstrak Penelitian ini berdasarkan
permasalahan: (a) Apakah pembelajaran metode Problem
Posing memiliki
pengaruh pada hasil belajar Mengelola Dokumen dan Arsip? (b) Seberapa tinggi
tingkat penguasaan materi pelajaran dengan diterapkannya metode belajar
kooperatif Problem Posing? Penelitian ini
mengadopsi desain penelitian tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat
tahap : rancangan,
kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Subyek utama
penelitian ini adalah siswa kelas. X OTKP 1. Data yang didapat adalah hasil tes formatif, lembar pengamatan kegiatan belajar mengajar. Hasil analisis menunjukkan
bahwa prestasi siswa meningkat dari siklus I (71,4%), siklus II (80%) dan siklus III (91%). Kesimpulan penelitian ini adalah metode
problem posing memiliki pengaruh positif pada motivasi belajar siswa
kelas X OTKP SMK Negeri 1 Serang dan metode ini dapat digunakan sebagai pilihan metode pembelajaran OTKP. |
Corresponding Author:
Wirdayati�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah masih banyak
sekolah yang menggunakan sistem pendidikan tradisional dimana siswa
mendengarkan dan memperhatikan guru tanpa melibatkan mereka dalam proses
pembelajaran. Guru paling tahu dan menjelaskan semua yang ada di buku, dan
bahkan jika siswa tidak mengerti, mereka pasif menerimanya dan tidak aktif
bertanya.
�������� Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di SMK Negeri 1 Kota Serang menunjukkan bahwa motivasi dan minat belajar pada materi Mengelola Dokumen dan Arsip masih rendah sehingga mempengaruhi kinerja siswa. Motivasi siswa dalam belajar juga menentukan keberhasilan akademik. Motivasi siswa sangat mendukung siswa untuk belajar, memperhatikan pembelajaran selama di kelas, tidak bosan dengan rutinitas belajar, dan bertanya ketika ada kesempatan pada saat proses belajar mengajar.
�������� Minat belajar akan menentukan pencapaian hasil belajar. Minat siswa, membuat siswa tidak mudah putus asa, bekerja keras, dan selalu melakukan yang terbaik. Dengan minat baik, akan dapat meningkatkan semangat belajar secara mandiri tanpa memaksa orang lain.
�������� Guru belum memiliki pedoman memilih metode pembelajaran untuk mendorong siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru cenderung masih menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok. Ketika guru menggunakan metode diskusi, ternyata belum dapat membuat siswa belajar lebih antusias. Proses pembelajaran masih tetap terasa membosankan.
������� Pada saat menggunakan metode diskusi, yang terjadi adalah tidak adanya pemerataan kelompok. Anggota yang kurang aktif hanya mengandalkan tanggapan dari teman-temannya, yang dianggap lebih pintar dari mereka. Mereka cenderung bercerita dengan teman satu kelompoknya, dan jika ada materi yang kurang jelas siswa cenderung diam dan tidak bertanya.
������� Penyajian materi pembelajaran Mengelola Dokumen dan Arsip di SMK Negeri 1 Kota Serang sebagian besar masih berdasarkan teori tekstual dan siswa hanya menyerap dan memperhatikan apa yang diberikan oleh guru. Setelah pembelajaran, siswa cenderung lupa ketika guru bertanya lagi. Ketika kegiatan pembelajaran, sebagian besar siswa pasif dan kurang termotivasi untuk masuk kelas. Guru tidak menggunakan sarana dan prasarana yang ada, misalnya dengan menggunakan layar LCD, yang dapat membuat suasana belajar menjadi lebih menarik.
Peneliti memilih metode ini karena sesuai dengan permasalahan di sekolah. Sekolah masih menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi pasif dan cenderung diam ketika materi yang disampaikan guru tidak jelas. Padahal, metode pengajaran ini dapat dikombinasikan dengan metode lain. Problem Posing adalah metode pengajaran di mana siswa mengajukan pertanyaan atau masalah. Pertanyaan yang diajukan dapat didasarkan pada pertanyaan umum atau pertanyaan yang ada hubungannya dengan materi yang sedang dipelajari. Problem Posing memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran dan menemukan sendiri informasi atau data untuk ditransformasikan ke dalam konsep, teori atau kesimpulan. Penerapan metode Problem Posing dapat dijadikan sebagai metode yang inovatif dan untuk mengefektifkan proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul �Penggunaan Metode Problem Posing untuk Meningkatkan Motivasi dan Minat Belajar Siswa Kelas X OTKP SMK�.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Kota Serang, pada bulan Maret sampai Mei 2020. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas X OTKP 1 SMK Negeri 1
Kota Serang tahun ajaran 2019/2020.
������� Penelitian tindakan adalah studi tentang apa yang terjadi pada sekelompok
orang atau sasaran, dan hasilnya dapat langsung diterapkan pada masyarakat yang
terkena dampak (Arikunto, Suharsimi, 2002: 82). Karakteristik yang paling
penting dari penelitian tindakan adalah partisipasi dan kolaborasi antara peneliti
dan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah strategi pemecahan
masalah yang menggunakan tindakan praktis dalam bentuk proses pengembangan yang
inovatif dan teruji di jalan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah.
Orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini dapat saling mendukung.
Tahapan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: a) perencanaan, meliputi penentuan materi, tempat dan waktu penelitian; b) Tindakan yang mencakup seluruh proses kegiatan belajar mengajar melalui model yang dipelajari; c) Observasi yang dilakukan dengan proses pembelajaran meliputi aktivitas siswa, perkembangan materi dan hasil belajar siswa; d) Refleksi, meliputi analisis hasil belajar dan sekaligus realisasi rencana perbaikan untuk siklus berikutnya.
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di kelas dengan cara bekerjasama
dengan guru lain, yang ikut melakukan observasi dan refleksi, sehingga
penelitian ini terkontrol dan keabsahan hasil tetap terjaga. Sesusi dengan
pendapat
Suharsimi Arikunto (2006:16) bahwa penelitian tindakan kelas memiliki tindakan
atau tahapan (perencanaan, tindakan, observasi, refleksi).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Suatu materi pelajaran dalam sub pokok
bahasan
dianggap tuntas secara klasikal jika 85% atau lebih siswa mencapai nilai 65,
sedangkan untuk kategori siswa tuntas yaitu apabila
siswa tersebut memperoleh nilai minimal 65.���
1. ��� Siklus I
a. ��� Tahap Perencanaan
Pada
langkah ini peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari 1 RPP,
1 soal tes formatif dan perangkat bantu ajar. Selain itu, lembar observasi ketika pelaksanaan
pembelajaran untuk mencatat aktifitas
(tingkat keaktifan siswa) selama proses belajar mengajar berlangsung.
b. ��� Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
�������� Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 15 April 2020 dengan jumlah siswa sebanyak 35 orang. Dalam hal ini peneliti berperan sebagai guru. Proses belajar mengajar berpedoman pada rencana pelajaran. Observasi (pengamatan) berjalan seiring dengan praktik mengajar.
�������� Di akhir pembelajaran, siswa diberi soal tes formatif I untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Data penelitian siklus 1 adalah aspek pemberian motivasi siswa, pencapaian tujuan pembelajaran, manajemen waktu dan antusias siswa masih dalam kategori kurang baik. Keempat aspek yang mendapat penilaian kurang baik tersebut merupakan kelemahan pada siklus 1 dan akan dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk refleksi dan koreksi yang akan dilakukan pada siklus 2. Hasil tes formatif siklus 1 adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1. Rekapitulasi
Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I
|
No |
Uraian |
Hasil |
|
1 2 3 |
Rata-rata nilai tes formatif Jumlah siswa
tuntas belajar Prosentase ketuntasan
belajar |
71.72 25 71.4 |
�����������
Pada tabel di atas,diketahui bahwa jika diterapkan metode Problem Posing maka nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 71.72 dan tingkat ketuntasan sudah mencapai 71,4% atau terdapat 25 dari 35 siswa telah tuntas belajarnya. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa secara klasikal belum tuntas pada siklus I. Siswa yang tuntas hanya 71,4% di bawah tingkat ketuntasan yang diinginkan yaitu 85%. Hal ini dikarenakan siswa belum mengenal dan belum memahami maksud guru dengan menerapkan metode Problem Posing.
c. ��� Refleksi
Pada saat melakukan kegiatan belajar mengajar, informasi yang diperoleh dari pengamatan sebagai berikut: (1) guru belum optimal dalam memotivasi siswa dan mengikuti tujuan pembelajaran; (2) guru kurang optimal dalam manajemen waktu; (3) Siswa kurang aktif selama proses pembelajaran.
d. ��� Revisi
Masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I, sehingga diperlukan koreksi pada siklus berikutnya: (1) Guru perlu lebih mahir memotivasi siswa dan lebih jelas dalam pelaksanaan instruksi. dimana siswa diajak untuk berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan yang akan berlangsung; (2) guru harus menggunakan waktu dengan baik dengan menambahkan informasi yang diperlukan dan mencatat; (3) Guru harus lebih terampil dan antusias dalam memotivasi siswa agar siswa menjadi lebih semangat.
�������
2.���� Siklus II
a.���� Tahap perencanaan
Sama dengan
siklus 1, pada siklus 2 ini peneliti
menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari 1 RPP, 1 soal tes formatif
dan perangkat bantu ajar. Selain itu, lembar observasi ketika pelaksanaan
pembelajaran untuk mencatat aktifitas
(tingkat keaktifan siswa) selama proses belajar mengajar berlangsung.
b. ���� Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Siklus II berlangsung pada tanggal 22 April 2020 kelas X OTKP 1 dengan jumlah siswa 35 orang. Dalam hal ini peneliti berperan sebagai guru. Proses belajar mengajar mengacu pada RPP dengan memperhatikan revisi siklus I agar kesalahan atau kekurangan siklus I tidak terulang pada siklus II. Observasi (pengamatan) dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Di akhir proses pembelajaran, siswa mendapatkan tes formatif II untuk mengetahui seberapa berhasil siswa dalam proses belajar mengajar. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Data penelitian siklus II menunjukkan bahwa aspek-aspek yang diamati dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru melalui penerapan metode pembelajaran Problem Posing dinilai cukup baik oleh pengamat, namun belum optimal, ada beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dalam rangka peningkatan keberhasilan.
Aspek-aspek pada siklus I ditingkatkan untuk keberhasilan metode pembelajaran Problem-Posing. Siswa diharapkan dapat menuntaskan materi yang telah dipelajarinya dan mengungkapkan pendapatnya sehingga dapat lebih memahami apa yang telah dilakukannya. Hasil tes formatif siklus II ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.2. Rekapitulasi
Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus II |
|
1 2 3 |
Rata-rata nilai tes formatif Jumlah siswa
tuntas belajar Prosentase ketuntasan
belajar |
76.42 28 80 |
Dari tabel tersebut, rata-rata nilai hasil belajar siswa adalah 76,42 dan ketuntasan belajar adalah 80% atau dari 35 siswa ada 28 yang telah tuntas. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ketuntasan belajar klasikal mengalami peningkatan dibanding siklus I. Kemampuan pemahaman siswa meningkat karena guru memberikan informasi bahwa akan ada tes di setiap akhir pelajaran, sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu, siswa juga memahami apa yang dimaksud dan diinginkan oleh guru dengan penggunaan metode problem posing.
c. ��� Refleksi
Pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran, diperoleh data sebagai berikut: (1) memberis siswa motivasi; (2) Siswa dibimbing untuk membentuk kesimpulan/penemuan konsep; dan (3) manajemen waktu.
d. ��� Revisi
Pelaksanaan kegiatan proses belajar
mengajar siklus II
masih kurang. Oleh karena itu diperlukan beberapa revisi, antara lain : (1)
dalam memotivasi siswa, guru harus mampu membuat siswa lebih termotivasi selama
proses belajar mengajar; (2) dalam rangka menggugah keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan
pertanyaan, guru harus lebih dekat dengan
siswa, sehingga tidak ada rasa takut dalam diri
siswa; �(3) pada saat
siswa mengambil/merumuskan kesimpulan, guru harus lebih sabar
dalam membimbing/mengarahkan; (4) guru
harus memberikan waktu yang cukup agar kegiatan pembelajaran berlangsung sesuai
rencana; (5) penambahan contoh soal dan soal-soal untuk latihan perlu ditambah
agar siswa lebih terampil dalam mengerjakan soal. ���������
3.���� Siklus III
a.���� Tahap perencanaan
Sama dengan
siklus 1 dan 2, pada siklus
3 ini peneliti
menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari 1 RPP, 1 soal tes formatif
dan perangkat bantu ajar. Selain itu, lembar observasi ketika pelaksanaan
pembelajaran untuk mencatat aktifitas
(tingkat keaktifan siswa) selama proses belajar mengajar berlangsung.
b.���� Tahap kegiatan dan pengamatan
Siklus III berlangsung pada tanggal 29 April 2020 kelas X OTKP 1 dengan jumlah siswa 35 orang. Dalam hal ini peneliti berperan sebagai guru. Proses belajar mengajar mengacu pada RPP dengan memperhatikan revisi siklus I agar kesalahan atau kekurangan siklus II tidak terulang pada siklus III. Observasi (pengamatan) dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Di akhir proses pembelajaran, siswa mendapatkan tes formatif III untuk mengetahui seberapa berhasil siswa dalam proses belajar mengajar. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Data penelitian siklus III menunjukkan bahwa aspek-aspek yang diamati dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan guru melalui penerapan metode pembelajaran Problem Posing dinilai baik oleh pengamat, terutama dalam hal pemberian motivasi kepada siswa, pembimbingan siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep, dan dalam hal manajemen waktu.
Aspek-aspek pada siklus II ditingkatkan untuk keberhasilan metode pembelajaran Problem-Posing. Siswa diharapkan dapat menuntaskan materi yang telah dipelajarinya dan mengungkapkan pendapatnya sehingga dapat lebih memahami apa yang telah dilakukannya. Hasil tes formatif siklus III ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.3. Hasil Formatif Siswa Pada Siklus III
|
No |
Uraian |
Hasil Siklus III |
|
1 2 3 |
Rata-rata nilai tes formatif Jumlah siswa
tuntas belajar Prosentase ketuntasan
belajar |
77.28 31 91% |
Berdasarkan tabel tersebut, rata-rata nilai tes formatif adalah 77,28 dan dari 35 siswa yang tuntas menjadi 31 siswa dan 4 siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan. Jadi secara klasikal, keseluruhan pembelajaran adalah 91%. Hasil siklus III ini lebih baik dari pada siklus II. Peningkatan ketuntasan belajar pada Siklus III dipengaruhi oleh peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran Problem Posing, sehingga siswa menjadi terbiasa belajar dengan cara tersebut. Siswa lebih mudah dalam menyerap materi yang dipelajari.
c. ��� ���RefleksiPada fase ini, lebih diperdalam lagi tentang aspek apa yang suadah baik dan aspek apa yang masih kurang pada penerapan metode Problem Posing. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Selama proses pembelajaran, guru telah melakukan semua kegiatan pembelajaran dengan baik. Meskipun beberapa aspek tidak sempurna tetapi tingkat implementasi setiap aspek cukup tinggi; (2) Berdasarkan data observasi, siswa diketahui aktif selama proses pembelajaran; (3) Kekurangan pada siklus sebelumnya telah diperbaiki dan diperbaiki menjadi lebih baik; (4) Ketuntasan belajar siswa pada siklus III sudah mencapai kesempurnaan.
d. ���� Revisi
Pada siklus III guru telah berhasil melaksanakan pembelajaran sesuai dengan
metode Problem Posing. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan aktifitas dan minat siswa, pelaksanaan
proses pembelajaran berlangsung dengan baik. Adapun yang harus diperhatikan dalam kelanjutan penerapan metode ini adalah
maksimalisasi dan mempertahankan segala
sesuatu yang ada untuk implementasi
selanjutnya demi tercapainya tujuan pembelajaran.
1.����� Peningkatan
Minat dan Motivasi Siswa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode Problem Posing berpengaruh positif terhadap peningkatan motivasi dan minat belajar. Hal ini tercermin dari semakin meningkatnya pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan oleh guru (ketuntasan belajar siklus I, II dan III), yaitu masing-masing sebesar 71,4%, 80% dan 91%. Pada siklus III tercapailah ketuntasan belajar siswa secara klasikal.
2. ��� Kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar
Berdasarkan analisis data diketahui bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran Problem Posing, aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar meningkat pada setiap siklusnya. Hal ini berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa, terbukti dengan peningkatan rata-rata nilai siswa per siklus yang terus meningkat.
3. ��� Aktivitas Siswa dalam PembelajaranData penelitian menyebutkan bahwa aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model Problem Posing adalah �mendengarkan atau menyimak penjelasan guru dan diskusi antarsiswa/siswa ke guru. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kegiatan siswa bertambah aktif. Sementara itu, aktivitas guru selama pembelajaran menunjukkan bahwa tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara benar dengan menggunakan �pembelajaran kontekstual model pembelajaran Problem Posing. Hal ini tercermin dari aktivitas guru yang muncul antara lain membimbing dan mengamati siswa saat mereka mengeksplorasi konsep, menjelaskan materi yang sulit, memberikan umpan balik, penilaian, atau pertanyaan, dengan prosentase semakin meningkat.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan selama siklus I, II, dan III, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran
Problem Posing dapat meningkatkan kualitas pembelajaran materi
mengelola Dokumen dan Arsip.
2. Model pembelajaran
Problem Posing berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar yang ditandai
dengan peningkatan ketuntasan
belajar siswa pada
setiap siklusnya yaitu Siklus I (71,4%), Siklus II (80%), Siklus III (91%). .
3. Model pembelajaran
Problem Posing dapat memberikan rasa kepedulian dan kesempatan kepada siswa untuk
mengemukakan pendapat, gagasan, dan pertanyaan.
4. Model pembelajaran
Problem Posing� membiasakan siswa bekerja secara individu maupun kelompok dan mampu
bertanggung jawab atas semua tugas individu dan kelompok.
5. Penerapan model pembelajaran
Problem Posing berpengaruh positif yaitu dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmad,
Israr, & Gao, Yongqiang. (2018). Ethical leadership and work engagement:
The roles of psychological empowerment and power distance orientation. Management
Decision, 56(9), 1991�2005. https://doi.org/10.1108/MD-02-2017-0107
Aiyub, Yusuf, Em, & Raja. (2021). The Effect of
Employee Engagement on Employee Performance with Organizational Commitment as
Intervening Variable and Percieved Organization Support as a Moderating
Variable at The Regional Secretariat of Bireuen District. 10(September),
1�15.
Al-Madi, Faisal N., Assal, Husam, Shrafat, Fayiz,
& Zeglat, Dia. (2017). Impact of Employee Motivation on Organizational
Performance. International Journal of Advanced Research, 9(15),
134�145. https://doi.org/10.21474/ijar01/9818
Alam, Imtiaz, Kartar Singh, Jugindar Singh, &
Islam, Muhammad Umar. (2021). Does supportive supervisor complements the effect
of ethical leadership on employee engagement? Cogent Business and Management,
8(1). https://doi.org/10.1080/23311975.2021.1978371
Andika, Rudi, & Darmanto, Susetyo. (2020). the
Effect of Employee Empowerment and Intrinsic Motivation on Organizational
Commitment and Employee Performance. Jurnal Aplikasi Manajemen, 18(2),
241�251. https://doi.org/10.21776/ub.jam.2020.018.02.04
Bedi, Akanksha, Alpaslan, Can M., & Green, Sandy.
(2016). A Meta-analytic Review of Ethical Leadership Outcomes and Moderators. Journal
of Business Ethics, 139(3), 517�536.
https://doi.org/10.1007/s10551-015-2625-1
Brown, Michael E., & Mitchell, Marie S. (2010).
Ethical and Unethical Leadership: Exploring New Avenues for Future Research. Business
Ethics Quarterly, 20(4), 583�616.
https://doi.org/10.5840/beq201020439
Brown, Michael E., Trevi�o, Linda K., & Harrison,
David A. (2005). Ethical leadership: A social learning perspective for construct
development and testing. Organizational Behavior and Human Decision
Processes, 97(2), 117�134.
https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2005.03.002
Choong, Yuen onn, & Wong, Kee Luen. (2011).
Intrinsic Motivation and Organizational Commitment in the Malaysian Private
Higher Education Institutions : an Empirical Study. International
Refereed Research Journal, II(4), 91.
Demirtas, Ozgur. (2015). Ethical Leadership Influence
at Organizations: Evidence from the Field. Journal of Business Ethics, 126(2),
273�284. https://doi.org/10.1007/s10551-013-1950-5
Endang, Ruswanti, Izudin, Amar nuriman, &
Januarko, Moehammad Unggul. (2018). THE EFFECT OF ELECTRONIC WORD OF MOUTH
SOCIAL MEDIA, YOUTUBE DURIAN TRAVELER ON INTEREST IN BUYING: STUDY ON
DEVELOPMENT OF INFORMATION ADOPTION APPROACH. 1�14.
Hair Jr., Joe F., Matthews, Lucy M., Matthews, Ryan
L., & Sarstedt, Marko. (2017). PLS-SEM or CB-SEM: updated guidelines on
which method to use. International Journal of Multivariate Data Analysis,
1(2), 107. https://doi.org/10.1504/ijmda.2017.10008574
Hair Jr, J F, M. Hult, G. T., M. Ringle, Christian,
Sarstedt, Marko, P. Danks, Nicholas, & Ray, Soumya. (2021). Partial least
squares structural equation modeling (PLS-SEM) using R: A workbook. In Springer.
Hanaysha, Jalal. (2016). Testing the Effects of
Employee Engagement, Work Environment, and Organizational Learning on
Organizational Commitment. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 229,
289�297. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.07.139
Lambert, Eric G., Keena, Linda D., Leone, Matthew,
May, David, & Haynes, Stacy H. (2019). The effects of distributive and
procedural justice on job satisfaction and organizational commitment
ofcorrectional staff. Social Science Journal, 57(4), 405�416. https://doi.org/10.1016/j.soscij.2019.02.002
Oades, & Cantore, Stefan P. (2017). Positive
Approaches to Organizational Change. The Wiley Blackwell Handbook of the
Psychology of Positivity and Strengths-Based Approaches at Work, 272�296.
https://doi.org/10.1002/9781118977620.ch16
Ortiz, Daniel A. Cerna., Lau, Wai Kwan, & Qin,
Hong. (2013). Quantitative analysis of impacts of employee engagement on
continuance and normative commitment. International Journal of Services and
Standards, 8(4), 315�331. https://doi.org/10.1504/IJSS.2013.058227
Sheraz, A., Afzal, MM, & Rehman, K. ur. (2017).
Testing a Model of Ethical Leadership , Organizational Commitment and Its
Outcomes with Social Exchange as Mediating Variable : A Pakistani
Corporate Sector Perspective. Journal of Managerial Sciences - Qurtuba
University, 11(3), 342�370.
Soelton, Mochamad, Suatoni, Marco, Yanuar, Tantri,
Syah, Rahmat, Ramli, Yanto, Santoso, Puji, Amanda, Bella, & Octaviani,
Rini. (2020). Conceptualizing The Role of Organizational Commitment. American
International Journal of Business Management (AIJBM) ISSN, 3(8),
178�188.
Sutisna, Ismie Fauziah. (2020). Gaya kepemimpinan
dalam mendukung perilaku organisasi di PT. Kerry Ingredients Indonesia pada
masa pandemi covid-19. Jurnal PROFIT Kajian Pendidikan Ekonomi Dan Ilmu
Ekonomi, 7(2), 158�166. https://doi.org/10.36706/jp.v7i2.12904
Ugaddan, Reginald G., & Park, Sung Min. (2017).
Quality of leadership and public service motivation. International Journal
of Public Sector Management, 30(3), 270�285.
https://doi.org/10.1108/IJPSM-08-2016-0133
Wright, Bradley E., Christensen, Robert K., &
Isett, Kimberley Roussin. (2013). Motivated to Adapt? The Role of Public
Service Motivation as Employees Face Organizational Change. Public
Administration Review, 73(5), 738�747.
https://doi.org/10.1111/puar.12078
Yates, L. (2011). Exploring the relationship of
ethical leadership with job satisfaction, organizational commitment, and
organizational citizenship behavior. The Journal of Values-Based Leadership,
7(1), 1�14.