PENANGANAN
MUATAN PETIKEMAS YANG OPTIMAL GUNA MENUNJANG KESELAMATAN KAPAL MV. TANTO
BERSATU SELAMA DALAM PELAYARAN
Sitepu Firdaus
Program Studi Nautika Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
|
Riwayat Artikel: Received: 04-09-2022 Revised: 13-09-2022 Accepted: 29-09-2022 Keywords:
Container, lashing, loading, ship Kata
Kunci: Peti kemas, lashing, pemuatan, kapal |
|
Abstract Containers are
very influential in the loading process at the port and the installation of
lashing equipment is also very necessary, to ensure the safety of the ship,
crew, and especially container cargo during the voyage to the port of
destination. Good arrangement and security of containers and compliance with
loading regulations directly guarantees the safety of the cargo itself.
Although the container security system on board is sometimes not in
accordance with the rules and capabilities of the ship. The research method used
in this thesis is a qualitative method. The data sources of this research
were obtained from primary data and secondary data. Data collection
techniques through observation, literature study, documentation, and
interviews during conducting research. So that the data validity technique
for the research is obtained, namely the triangulation technique. The data analysis technique used in this research is data reduction, data presentation,conclusion drawing/verification. The problem occurs
when the ship sails from the port of Tanjung Priok to the port of Makassar.
Found cargo containers stretched and docked. After checking, it turned out
that there was a loose lashing bar and turn buckle and a broken bridge
fitting. Terms of safe and appropriate lashing installation procedures.
Lashing tools should always be checked for their suitability for use to
install containers. Carry out regular maintenance of lashing equipment so as
not to increase scarcity and ship crews during the voyage should always
supervise the lashing of cargo, especially if there is bad weather |
|
|
Abstrak
Peti kemas sangat berpengaruh dalam proses pemuatan di pelabuhan dan
pemasangan peralatan lashing juga sangat di perlukan, untuk menjamin
keselamatan kapal, awak kapal, dan terutama muatan petikemas selama dalam
pelayaran hingga sampai di pelabuhan tujuan. Pengaturan dan pengamanan peti
kemas yang baik dan memenuhi aturan pemuatan secara langsung menjamin
keselamatan muatan itu sendiri. Walaupun sistem pengamanan peti kemas di atas
kepal terkadang tidak sesuai aturan dan kemampuan kapal. Metode penelitian
yang digunakan pada skripsi ini adalah metode kualitatif. Sumber data
penelitian ini diperoleh dari data primer dan data skunder. Teknik
pengumpulan data melalui observasi, studi pustaka, dokumentasi, dan wawancara
selama melaksanakan penelitian. Sehingga di peroleh teknik keabsahan data
terhadap penelitian yaitu dengan teknik triangulasi. Teknik analisis data
yang digunakan pada penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data,
penarikan simpulan/verifikasi. Permasalahan terjadi pada saat kapal berlayar
dari pelabuhan tanjung priok menuju ke pelabuhan makassar. Di temukan muatan
peti kemas yang merenggang dan merapat. Setelah dilakukan pengecekan ternyata
ada lashing bar dan turn buckle yang kendur serta bridge fitting yang patah. Syarat
pemasangan lashing yang aman dan sesuai prosedur. Alat-alat lashing sebaiknya
selalu dicek kelayakannya dalam penggunaan untuk memasang peti kemas.
Melakukan perawatan secara berkala terhadap alat-alat lashing agar tidak
menambah kelangkaan dan para crew kapal selama pelayaran hendaknya selalu
mengawasi lashing muatan terutama jika ada cuaca yang buruk |
Corresponding Author:
Sitepu
Firdaus�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Di bidang transportasi laut
khususnya pengangkutan barang atau muatan telah mengalami perubahan dan
peningkatan, yaitu dengan adanya peti kemas yang menjadi sistem baru. Dampak
yang di timbulkan sudah menyeluruh pada sistem pengangkutan muatan yang semakin
meningkat. Kemajuan sistem peti kemas ini cukup pesat dan tidak lain mempunyai
tujuan untuk mengantar muatan secara aman, cepat dan efisien dari pelabuhan
asal hingga sampai pelabuhan yang dituju untuk menghindari kerusakan muatan
sekecil apapun (ADI, 2019). Pengangkutan barang dengan menggunakan peti kemas di
Amerika Serikat dimulai tahun 1950 oleh Firma Mc Lean Trucking Company, milik
seorang pengusaha yang bernama Malcolm Mc Lean. Perluasan pelayaran melalui
laut pada tahun 1957. Mc Lean membeli perusahaan pelayaran Pan Atlantic
Steamship Company dan merubah susunan ruang muat kapalnya menjadi peti kemas,
perusahaan tersebut merupakan cikal bakal dari Sea Lan Service Inc.Di Indonesia
penerapan sistem pengangkutan dengan peti kemas dimulai pada tahun 1970 dan
penangananmya masih secara konvensional. Pembangunan pelabuhan peti kemas di
Tanjung Priok merupakan pelabuhan utama yang ada di Indonesia dan dilengkapi
gantcrane truk-truk khusus pengangkut peti kemas. Beberapa keuntungan diatas,
dapat menurunkan biaya pengangkutan barang. Pelayanan jasa angkutan laut
khususnya dalam hal jasa pengangkutan barang mampu bersaing di dunia
Internasional. Adanya pendistribusian barang ini, menjadikan kebutuhan masyarakat
terpenuhi. Sarana transportasi laut dapat membuat perbedaan harga barang-barang
menjadi stabil.
Menurut (Bhattacharyya,
1978),
heaving yaitu pergerakan kapal naik turun. Kekuatan ini mengarah pada
kesimpulan bahwa container memiliki dampak signifikan pada prosedur pemuatan
pelabuhan dan pemasangan peralatan pengikat sangat penting . Menjamin
keselamatan kapal selama pelayaran sampai dengan pelabuhan tujuan, serta
keselamatan awak kapal dan khususnya muatan peti kemas . Keamanan muatan itu
sendiri secara langsung dijamin oleh penempatan, keamanan, dan peraturan
pemuatan yang tepat. Terlepas dari kenyataan bahwa sistem keamanan peti kemas
di atas kapal terkadang menyimpang dari peraturan dan kemampuan kapal (Choirul
& Fonsula, 2020).
Pengikat dan alat pendukung lainnya, serta kapasitas geladak untuk menopang
beban di kapal, kadang-kadang tidak sesuai prosedur. Walaupun ukuran dan bentuk
sudah sesuai dengan aturan, pada sepatu peti kemas yaitu salah satu jenis dari
sepatu peti kemas yang digunakan kondisinya banyak yang rusak, sehingga tidak
mampu menahan dan mengunci container pada badan kapal dengan baik.
METODA PENELITIAN
1.
Menurut (ZAINURI, n.d.), peti kemas (container) adalah kotak
besar dari ukuran dan terbuat dari berbagai jenis pembangunan yang kegunaannya
untuk pengangkutan barang � barang baik melalui darat, laut maupun udara. Jenis
lain sebagainya ditetapkan oleh ISO (International Standard Organitation),
karena pada mulanya peti kemas dibangun dari berbagai macam ukuran yang tidak
seragam. Dalam buku Cargo Container, menurut (Tabak, 1970) peti kemas sebagai alat transportasi
mempunyai ciri sebagai berikut:
a. Bersifat tetap dan cukup kuat digunakan berulang
kali
b. Dirancang khusus untuk pengangkutan barang dengan
berbagai tipe sarana angkut, tanpa adanya penanganan terhadap muatan saat
perpindahan tersebut.
c. Dilengkapi dengan peralatan yang sesuai dan cocok
untuk digunakan, terutama bila terjadi perpindahan saranan pengangkutan dari
model yang satu ke model yang lain.
d. Dirancang sedemikian rupa agar mudah saat pengisian
dan pengosongannya.
e. Mempunyai ruangan dalam sebesar 1 meter kubik (35,8
kaki kubik) atau lebih.
2. Dalam metodologi penelitian ini peneliti
menggunakan penelitian
kualitatif deskriptif. Membuat gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual
dan akurat mengenai fakta- fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena
yang diselidiki. Krik dan Miller (Moleong, 2012) mengemukkan bahwa penelitian
kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial secara
fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik kawasannya maupun pada
peristilahannya. Sedangkan Dezin dan Licoln (Moleong, 2012) mengemukakan bahwa penilitian
kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar belakang ilmiah, dengan
maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan
berbagai metode yang ada. Sehingga dapat diartikan bahwa penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menghasilkan penemuan- penemuan yang tidak dapat dicapai
dengan menggunakan prosedur statistic atau dengan cara kuantitatif.
Data primer yaitu
data yang langsung dan segera
diperoleh dari sumber data oleh penyelidik untuk tujuan khusus
(Surakhmad,
1980).
Peneliti memperoleh data
primer melalui wawancara atau interview dengan beberapa subjek yang ada hubungannya dengan penelitian. Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh
orang di luar penyelidik sendiri. Walaupun data yang sesungguhnya dikumpulkan adalah data asli (Jogiyanto,
2017).
Data ini di peroleh dari buku- buku,
literatur-literatur yang mempunyai
kaitan dengan objek yang sedang diteliti
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Konteks Penelitian
Berkaitan dengan topik yang dipilih oleh
peneliti dalam penelitian ini, maka perlu didukung dari penelitian- penelitian
terdahulu yang membahas tentang topik permasalahan yang sama. (MUHAMMAD,
2015)
meneliti tentang Pengaturan dan pengamanan peti kemas yang baik. Kesamaan
penelitian ini dengan peneliti sebelumnya yaitu sama-sama meneliti tentang
Pengamanan Muatan Peti kemas. Sedangkan penelitian sekarang peneliti membahas
tentang Penanganan Muatan Peti kemas yang Optimal Guna Menunjang Keselamatan
Kapal MV. Tanto Bersatu Selama dalam Pelayaran. Terkait penelitian terdahulu
dengan penelitian sekarang adalah peneliti terdahulu menggunakan alat-alat yang
kurang memadai. Dimana kurangnya alat-alat Penanganan muatan Peti kemas di atas
kapal. Sedangkan peneliti saat ini lebih dipermudah dengan adanya alat dan
fasilitas yang memadai dan lebih modern (PUTRI, EFRILIA PUTRI, EFRILIA RIZQI MAHARDIAN, &
ALRIANINGRUM, SEPTINA. (2019). TUNJUNGAN PLAZA SEBAGAI AWAL PUSAT PERBELANJAAN
MODERN KOTAMADYA SURABAYA TAHUN 1985-1991. Avatara & ALRIANINGRUM, 2019). Untuk
mengetahui penanganan dan pengaturan muatan peti kemas yang baik dan benar,
agar peneliti ini dapat meminimalisir kerusakan pada barang atau muatan, dan
juga dapat mempercepat waktu pemuatan dan pembongkaran sehingga menciptakan
keamanan dan kenyamanan di kapal selama dalam pelayaran di kapal MV. Tanto
Bersatu.
B.
Deskripsi
Data
1. Analisis
Data
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan peneliti pada waktu di kapal MV. Tanto Bersatu tentang munculnya permasalahan akibat dari pergerakan
kapal selama dalam pelayaran yang dikarenakan pengaruh dari luar yang membahayakan bagi muatan dan awak kapal. Pada waktu kapal berlayar muatan menjadi perhatian yang sangat penting, dimana akan terus
bergerak atau bergeser dari tempatnya
karena disebabkan oleh pergerakan kapal. Dalam penataan muatan peti kemas
disusun membujur dari haluan ke
buritan sesuai dengan bentuk konstruksi
kapal (Pasyah & Lumbangaol, 2021).
Karena dengan penataan peti kemas yang secara membujur, selama pergerakan kapal pengaruh terbesar adalah gerakan yang berasal dari sisi-sisi kapal.
Ada enam
macam pergerakan dari sebuah kapal
yang sedang berada di laut yaitu rolling (bergulung), pitching (mengangguk),
yawing (berayun), heaving, swaying dan surging (FRANICO, 2019). Sebuah kapal dapat
bergerak salah satu dari enam macam
pergerakan tersebut atau kombinasi dari pergerakan-pergerakan tersebut. Dan pada waktu cuaca buruk muatan
bisa bergerak maju atau mundur
karena kecepatan kapal yang naik turun dan karena gerakan pitching (mengangguk). Dari pergerakan-pergerakan
itu kerusakan paling banyak disebabkan gerakan rolling (bergulung). Muatan yang berada di atas deck mempunyai kecenderungan untuk bergerak lebih besar dibanding dengan muatan peti
kemas yang berada di dekat pusat rolling (rolling centre).
Pengamanan muatan haruslah memperhatikan keadaan laut, angin,
dan cuaca. Jadi penataan muatan sebaiknya :
1.
Muatan
di kemas dengan memperhatikan keadaan selama pelayaran sehingga barang tidak bergerak dalam kemasannya;
2.
Muatan
di kemas di dalam peti kemas dengan
baik sehingga tidak bergerak, tidak bertabrakan dengan muatan lainnya
yang berakibat rusaknya barang itu sendiri
maupun
2.
Temuan
1.
Temuan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian di MV.
Tanto Bersatu, peneliti menemukan
masalah yang berhubungan dengan pengamanan muatan selama kapal
berlayar. Pada tanggal 15 �
17 Januari 2021 di posisi
Agulhas Cape dan di Cape Hope, dalam pelayaran dari pelabuhan tanjung priok menuju pelabuhan
makassar. Keadaan cuaca gale arah angin dari timur
laut dengan kecepatan 50 sampai 60 knot. Keadaan laut heavy seas sehingga menyebabkan gerakan kapal yang sangat kuat (ATHA NUR, 2020). Untuk mengurangi kuatnya gerakan rolling dari kapal, kecepatan
di kurangi dan arah haluan di ubah. Penulisan pada saat jaga 04.00 �
08.00 bersama Mualim I, Mualim II dan Juru Mudi Jaga memperhatikan muatan peti kemas
merenggang dan merapat. Semakin lama renggang rapatnya lebar sehingga kami mengadakan pengamatan secara lebih teliti (DADANG, 2020). Setelah beberapa waktu mengamati ternyata ada lashing bar dan turn
buckle yang kendur serta
bridge fitting yang patah.
Dalam kejadian itu peneliti
mencoba 52 melakukan pengamatan tentang tindakan apa yang akan dilakukan oleh Mualim I guna mengatasi
kendurnya sebagian alat lashing. Mualim I kemudian memerintahkan Juru Mudi untuk
memanggil Bosun. Setelah
bosun dan juru mudi berkumpul oleh Mualim I mereka di perintahkan untuk mengencangkan lashing bar
dan turn buckle yang kendur tersebut
serta kalau bisa untuk memeriksa
apakah ada lashinglashing lainnya yang kendur. Bersama juru mudi, bosun dengan membawa walky talky memeriksa seluruh lashing-an peti kemas
dengan penuh hati-hati karena keadaan cuaca yang buruk. Dan ternyata ada beberapa lagi
lashing-an yang perlu di kencangkan. Bosun dan juru mudi juga melaporkan bahwa recces pada peti kemas yang bergerak tadi sedikit retak.
Setelah semua di kencangkan bosun segera melapor kepada mualim I dan beristirahat.
2.
Hasil Pengolahan
Data
Dari permasalahan
yang peneliti dapatkan pada
waktu melaksanakan penelitian di kapal MV. Tanto
Bersatu di dapatkan beberapa
hasil dari pengolahan data yaitu, pelashing-an yang kendur dapat menimbulkan
beberapa permasalahan. Menurut penjelasan yang diberikan Mualim I dan awak kapal lainnya
dalam suatu wawancara, peneliti berhasil memperoleh data tentang akibat bila lashing-an peti kemas kendur
dan tidak segera di tangani akan terjadi
beberapa kemungkinan yang buruk.
a.
Muatan Jatuh ke Laut
Berdasarkan fungsi utama dari
lashing adalah untuk mengikat muatan dengan badan kapal sehingga menjadi satu kesatuan dengan
kapal maka jika lashing-an ini kendur.
b.
Membahayakan Stabilitas Kapal Kapal-kapal cepat seperti kapal pengangkut
peti kemas biasanya mempunyai permasalahan dengan trim dan stabilitas kapal. Dengan lambung bebas yang tinggi dan muatan yang tinggi pula mempunyai dampak terhadap yang cukup besar terhadap titik metacentris.
c.
Membahayakan Keselamatan awak Kapal
Karena muatan yang lepas dapat mengganggu
stabilitas kapal dan jika stabilitas kapal kurang bagus
selama pelayaran maka akan sangat berbahaya bagi awak kapal.
d.
Kerusakan Muatan
Akibat dari gerak peti
kemas yang lashing-annya terlepas muatan atau barang yang berada di dalam peti kemas itu
memungkinkan untuk bergerak dan berbenturan dengan barang-barang lainnya terutama untuk barang pecah
belah.
e.
Kerusakan
Bagian Yang Lain
Dengan lepasnya atau tidak
eratnya lashing-an maka muatan peti kemas
akan bergerak dan dapat mengangkat recces pada kaki
peti kemas.dan apabila daya tahan
recces ini kurang mampu menahan beban
gerak dari muatan peti kemas
recces ini bisa terangkat dan lepas.
3.
Pembahasan
Dan Hasil Penelitian
Berdasarkan analisa data yang peneliti peroleh pada saat sedang melaksanakan penelitian di kapal MV. Tanto
Bersatu peneliti mendapatkan
beberapa kendala antara lain bagaimana cara pengamatan muatan peti kemas
selama pelayaran, sehingga dapat menunjang kesemalatan kapal dan muatannya. Dimana permasalahan ini menyangkut ketanggapan dan ketelitian para awak kapal dalam mengawasi
muatan pada waktu pemuatan di pelabuhan dan pengawasan muatan selama kapal berlayar.
Dalam hal ini peneliti
akan menguraikan sedikit mengenai solusi permasalahan yang di hadapi antara lain:
a.
Bagaimana cara penanganan muatan peti kemas
di atas kapal agar keamanan kapal terjamin.
1.
Pe-lashing-an
yang harus sesuai dengan prosedur Dalam menjaga pengamanan
muatan sewaktu berlayar maka prosedur
dari pe-lashing-an yang sesuai
haruslah benar-benar di terapkan dalam praktek dari kegiatan
pe-lashing-an yang dilakukan baik
dari pihak darat (Buruh Lashing) dan juga anak buah kapal
dalam menjaga dan mengawasi pe- lashing-an tersebut
baik di pelabuhan maupun di dalam pelayaran. Hal ini di lakukan untuk mengurangi
akibat yang berdampak negatif atau akan
membahayakan baik dari keselamatan muatan itu sendiri
maupun bagi kapal tersebut sewaktu berlayar yang akan timbul apabila
prosedur dari pe- lashing-an tersebut tidak
sepenuhnya di jalankan sesuai dengan ketentuan
yang ada.
2.
Menempelkan standar prosedur pe-lashing-an di
ruang santai buruh (telly office) Hal ini dimaksudkan karena sebelum buruh-buruh tersebut bekerja, mereka biasanya diberi pengarahan oleh mandor mereka di ruang santai buruh.
Standar prosedur pelashing-an tersebut
secara otomatis akan di baca baik
oleh mandor kerja maupun para buruh. dan mereka akan lebih
cepat memahami dan mengingat kembali bagaimana prosedur cara pelashing-an
yang benar. Apabila kegiatan bongkar muat di pelabuhan telah selesai, maka haruslah dicek
kembali seluruh pelashing-an dari
muatan yang di muat terutama yang di muat di atas deck kapal.
3.
Pengawasan terhadap proses lashing peti kemas oleh pihak kapal Semua crew kapal yang bertanggung jawab dalam kegiatan
bongkar muat muatan haruslah menguasai dan memahami standar prosedur pelashing-an, hal ini sangatlah penting
karena apabila sedang kegiatan bongkar muat yang dalam hal ini
pelashing-an dapat mengontrol dan mengawasi proses pelashing-an tersebut yang di kerjakan oleh buruh-buruh lashing.
b.
Sejauh
Mana Sistem Pengamanan Muatan Peti Kemas
Di Kapal MV.Tanto
Bersatu.
1.
Sarana������ dan����� prasarana�������� yang���� lengkap akan menunjang dalam kegiatan pe-lashing-an. Pemeriksan
dan perawatan secara rutin alat-alat lashing peti kemas (container) yang dipakai agar terjaga dan terkontrol kelayakannya untuk lashing peti kemas (container).
2.
Pemeriksaan
dan perawatan alat-alat
lashing
Alat-alat lashing yang sudah lama harus selalu dirawat dan diperhatikan kondisinya, untuk menjaga kualitas
dan kelayakan dalam pemakaian dari alat lashing itu. Karena dengan perawatan yang baik akan menambah
umur pemakaian daripada alat lashing dan mempermudah dalam pengoperasian.
3.
Pemberian
grease / pelumas secara berkala terthadap alat-alat lashing peti kemas
Selain itu juga dapat memperlancar bagian yang berulir sehingga tidak macet pada waktu digunakan untuk me-lashing peti kemas.
Menempatkan alat-alat
lashing ke dalam tempatnya Setelah pembongkaran muatan di pelabuhan tujuan sebaiknya semua alat-alat lashing itu di tempatkan pada tempatnya yang sesuai. Pada kapal-kapal yang dirancang khusus untuk memuat peti
kemas atau full container
ship biasanya sudah di buat
tempattempat khusus untuk menempatkan alat-alat lashing peti kemas. Misalnya di kapal MV. Tanto Bersatu tempat peneliti melaksanakan praktek laut di sebelah kanan dan kiri palka sudah
ada tempat untuk menempatkan tersendiri dengan short lashing
bar. Ini untuk memudahkan dalam penggunaan dari alat-alat lashing fitting ditempatkan
pada kotak- kotak besi yang khusus dibuat untuk alat-alat
tersebut.
KESIMPULAN
Berdasarkan atas uraian�uraian sebelumnya tentang
pembahasan mengenai faktor�faktor penyebab terjadinya kecelakaan dan penerapan
Internal Management Code di atas kapal MV. Tanto Bersatu, maka sebagai bagian
akhir dari penelitian ini, peneliti mencoba memberikan beberapa simpulan dan
saran yang berkaitan dengan masalah tersebut, sebagai berikut : Penerapan
sistem menajemen keselamatan di atas kapal MV. Tanto Bersatu kurang optimal.
Sehingga kecelakaan sering terjadi dan kurang pahamnya awak kapal dan
pengawasan para perwira terhadap penggunaan alat-alat keselamatan yang benar.
Kurangnya kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dari para awak kapal dalam
melaksanakan tugas dan penggunaan peralatan keselamatan sehingga terjadi
kegagalan-kegagalan dalam melaksanankan tugas dan seringnya terjadi kecelakaan
terhadap awak kapal itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
�Adi, A.
(2019). Optimalisasi Penanganan Muatan Peti Kemas Dan Peralatannya Di Atas Km.
Pekan Fajar Milik Pt. Spil. Karya Tulis. Google Scholar
Atha Nur, S. H. (2020). Optimalisasi
Penanganan Muatan Peti Kemas Mv. Meratus Manado. Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang. Google Scholar
Bhattacharyya, R. (1978). Dynamics Of
Marine Vehicles. John Wiley & Sons Incorporated. Google Scholar
Choirul, A., & Fonsula, V. (2020).
Penanganan Muatan Peti Kemas Guna Menunjang Keselamatan Muatan Kapal Selama
Berlayar Studi Kasus Di Mv. Sinar Sumba. Majalah Ilmiah Gema Maritim, 22(1),
17�26. Google Scholar
Choirul, A. S. (2020). Optimalisasi
Penanganan Muatan Peti Kemas Untuk Menunjang Keselamatan Muatan Selama Dalam
Pelayaran Di Atas Kapal Mv. Sinar Sumba. Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang. Google Scholar
Dadang, I. (2020). Optimalisasi
Kegiatan Lashing Muatan Petikemas Untuk Menunjang Keselamatan Pelayaran Di Mv.
Tanto Bersatu. Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Google Scholar
Franico, Y. A. (2019). Peningkatan
Keselamatan Muatan Dengan Mengoptimalkan Pengawasan Pelashingan Kontainer Di
Mv. Armada Purnama. Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Google Scholar
Jogiyanto, H. M. (2017). Analisis Dan
Desain (Sistem Informasi Pendekatan Terstruktur Teori Dan Praktek Aplikasi
Bisnis). Penerbit Andi. Google Scholar
Moleong, L. J. (2012). Metodologi
Penelitian Kualitatif (Cet. Ke-30.). Bandung: Remaja Rosdakarya, 93�106.
Google Scholar
Muhammad, F. Z. (2015). Penanganan
Muatan Peti Kemas Guna Menunjang Keselamatan Di Kapal Mv. Tanto Fajar Ii.
Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang. Google Scholar
Pasyah, A. C., & Lumbangaol, E. R.
(2021). Efektifitas Kegiatan Lashing Muatan Peti Kemas Guna Menunjang
Keselamatan Operasional Kapal. Meteor Stip Marunda, 14(1), 20�25.
Google Scholar
Putri, Efrilia Putri, Efrilia Rizqi
Mahardian, & Alrianingrum, Septina. (2019). Tunjungan Plaza Sebagai Awal
Pusat Perbelanjaan Modern Kotamadya Surabaya Tahun 1985-1991. Avatara,
7(1).Rizqi Mahardian, & Alrianingrum, S. (2019). Tunjungan Plaza Sebagai
Awal Pusat Perbelanjaan Modern Kotamadya Surabaya Tahun 1985-1991. Avatara,
7(1). Google Scholar
Surakhmad, W. (1980). Pengantar
Penelitian Ilmiah (Dasar, Metode Dan Teknik) Edisi�7. Tarsito Bandung:
Bandung. Google Scholar
Tabak, H. D. (1970). Cargo
Containers, Their Stowage, Handling And Movement. Google Scholar
Zainuri, I. (N.D.). Upaya Penggunaan
Peralatan Lashing Peti Kemas Di Kapal Mv. Tanto Sukses. Google Scholar