LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DI SMP INSTITUT INDONESIA SEMARANG
Dewi Nurhayati
Guru Bimbingan Konseling, SMP Institut Indonesia
|
Riwayat Artikel: Received:15d-09-2022 Revised: 28-09-2022 Accepted: 08-10-2022 Keywords:
group guidance service,
learning motivation Kata
Kunci: layanan bimbingan
kelompok, motivasi belajar. |
|
Abstract This research is an Action Research in Counseling Guidance (PTBK) which
aims to increase students' learning motivation through the application of
group guidance services. This research was carried out in 2 (two) cycles with
4 (four) stages of action research procedures, namely (1) Planning, (2)
Implementation, (3) Observation, and (4) Reflection. The research was carried
out at the SMP, Institut Indonesia Semarang, with the subjects of this
research being 10 students of class VIII in the odd semester of the 2022/2023
academic year. Collecting data using a learning motivation scale. The results
showed that there was an increase in the average score in the pre-cycle,
cycle I and cycle II. The average pre-cycle score of 75.1 increased in the
first cycle to 83.6 and increased in the second cycle to 103.5. The increase
in the average score from the pre-cycle to the first cycle was 8.5 and the
increase from the first cycle to the second cycle was 19.9. The percentage of
pre-cycle classical completeness of 30% increased to 70% in the first cycle
and increased to 100% in the second cycle. Therefore, it can be concluded
that group guidance services can increase students' learning motivation.
Action research conducted using group guidance services can encourage
students to develop feelings, thoughts, perceptions, insights and attitudes
that support increasing student motivation. |
|
|
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian Penelitian Tindakan dalam Bimbingan Konseling (PTBK) yang bertujuan
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penerapan layanan bimbingan kelompok. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus dengan
4 (empat) tahapan prosedur penelitian tindakan yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan,
(3) Pengamatan, dan (4) Refleksi.
Penelitian dilaksanakan
di SMP Institut Indonesia Semarang dengan subjek penelitian ini adalah 10 orang siswa kelas VIII semester gasal tahun ajaran 2022/2023. Pengumpulan data menggunakan skala motivasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan skor rata-rata pada pra siklus, siklus I dan siklus II. Rata-rata skor pra siklus sebesar
75,1 meningkat pada siklus
I menjadi sebesar 83,6
dan meningkat pada siklus
II menjadi 103,5. Peningkatan
rata-rata skor dari pra siklus ke
siklus I sebesar 8,5 dan peningkatan dari siklus I ke siklus
II sebesar 19,9. Persentase
ketuntasan klasikal pra siklus sebesar
30% meningkat menjadi 70%
pada siklus I dan meningkat
menjadi 100% pada siklus
II. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian tindakan yang dilakukan menggunakan layanan bimbingan kelompok dapat mendorong siswa mengembangkan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang peningkatan motivasi belajar siswa. |
Corresponding Author:
Dewi Nurhayati�
E-mail:
[email protected]
PENDAHULUAN
Pendidikan pada hakikatnya
merupakan usaha sadar untuk pengembangan
kepribadian yang berlangsung
seumur hidup. Pendidikan
pada hakikatnya merupakan upaya untuk membentuk
manusia yang lebih berkualitas. Kualitas manusia yang dimaksud adalah pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang serasi, selaras, dan seimbang dalam aspek-aspek spiritual,
moral, sosial, intelektual,
fisik, dan sebagainya (Tohirin, 2014).
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional menyebutkan bahwa
�Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan oleh dirinya,
masyarakat, bangsa, dan
Negara�.
Pengertian pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengajaran, sehingga sulit untuk dipisahkan
dan dibedakan. Pendidikan tidak
dapat dilaksanakan tanpa ada pengajaran,
dan pengajaran tidak akan berarti jika
tanpa ditambah ke tujuan pendidikan.
Selain itu, pendidikan merupakan usaha pembinaan pribadi secara utuh dan lebih menyangkut masalah citra dan nilai. Sedangkan pengajaran merupakan usaha mengembangkan kapasitas intelektual dan berbagai keterampilan fisik (Suwarno, 2013).
Kegiatan belajar
tidak selalu berlangsung secara lancar bagi setiap
individu, selalu ditemui permasalahan yaitu masalah yang berhubungan dengan belajar (aktivitas belajar) salah satunya terkait dengan motivasi belaajar siswa. Motivasi sangat diperlukan dalam proses belajar, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin
melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh
kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat
orang tertentu selama sesuat itu tidak
bersentuhan dengan kebutuhannya (Djamarah. 2011).
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat nonintelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal
penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri
suatu ceramah, tetapi karena ia
tidak tertarik pada materi yang di ceramahkan, maka ia tidak
akan termotivasi untuk memperhatikan apa yang di sampaikan oleh pemateri ceramahnya, apalagi mencatat ceramah tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi dalam dirinya, kecuali karena paksaan atau sekedar
seremonial. Seorang siswa yang memilki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi
gagal karena kekurangan motivasi dalam dirinya. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi
yang tepat.
Sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan bagi siswa untuk
dapat mengembangkan diri melalui layanan
bimbingan dan konseling.
Pada layanan bimbingan konseling terdapat beberapa layanan, salah satunya adalah layanan bimbingan kelompok. Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu jenis layanan yang dianggap tepat untuk memberikan kontribusi pada siswa dalam mengembangkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu cara untuk
memberikan bantuan (bimbingan) kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Pada pelaksanaan layanan bimbingan kelompok peserta layanan bimbingan kelompok bebas dalam memberikan ide-idenya atau bebas
dalam mengeluarkan pendapatnya mengenai topik yang sedang dibahasnya. Layanan bimbingan kelompok juga merupakan bantuan alternatif dalam pemecahan masalah dan mengambil keputusan yang tepat, serta dapat
memberikan komitmen dan bertanggung jawab atas pilihan yang ditentukannya sendiri. Dalam pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, seorang guru pembimbing juga dituntut untuk menciptakan suasana kelompok menjadi suasana yang aktif, nyaman, rileks dan tidak melelahkan agar peserta layanan bimbingan kelompok tidak merasa jenuh dan terbebani pada saat pelaksanaan layanan bimbingan kelompok tersebut. Suasana ini dapat menumbuhkan
perasaan berarti bagi anggota yang selanjutnya juga dapat menambah motivasi belajar siswa (Tohirin, 2014).
Berdasarkan pada observasi awal yang dilakukan oleh penulis di Sekolah Menengah Pertama Institut Indonesia
Semarang, penulis menemukan
beberapa fenomena terkait kurangnya motivasi belajar siswa diantaranya siswa tidak memperhatikan
pelajaran, malas mencatat, kurang antusias mengikuti pelajaran, sering terlambat mengumpulkan tugas, tidak berani maju
didepan kelas, tidak mau bertanya
dan minder dengan teman-teman.
makan pada saat guru menerangkan pelajaran di kelas, keluar kelas
saat jam pelajaran berlangsung, membolos. Oleh karena itu, perlunya
siswa diberikan layanan bimbingan kelompok untuk meningkatkan motivasi belajarnya.
Layanan bimbingan kelompok tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling untuk dapat diberikan
kepada siswa yang masih memerlukan pengembangan perilaku khususnya di sekolah sehingga diharapkan secara optimal siswa mengalami perubahan dan mencapai peningkatan yang positif setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok. Adanya layanan bimbingan kelompok, diharapkan siswa dapat termotivasi dan bergairah dalam belajar, aktif dalam proses belajar mengajar, dan selalu hadir di sekolah dalam artian tidak
pernah bolos lagi ketika proses belajar berlangsung.
Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan bimbingan konseling dengan judul Layanan
Bimbingan Kelompok Sebagai Upaya Peningkatan
Motivasi Belajar Peserta Didik di SMP Institut Indonesia Semarang.
Layanan Bimbingan Kelompok
����������� Layanan
bimbingan kelompok merupakan suatu cara memberikan bantuan (bimbingan) kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Selain itu layanan
bimbingan kelompok juga diartikan sebagai layanan bimbingan kelompok yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama
memperoleh berbagai bahan dari narasumber
tertentu (terutama dari pembimbing atau konselor) yang berguna untuk menunjang
kehidupannya sehari-hari (Sukardi, 2008).
Pelayanan bimbingan kelompok memanfaatkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan pelayanan bimbingan (Prayitno dalam Sukardi, 2008). Agar dinamika kelompok yang berlangsung dalam kelompok tersebut dapat secara efektif bermanfaat bagi pembinaan para anggota kelompok, maka jumlah anggota sebuah kelompok tidak boleh terlalu
besar, sekitar 10 orang, atau paling banyak 15 orang.
Layanan bimbingan kelompok merupakan suatu cara memberikan bantuan (bimbingan) kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Dalam layanan bimbingan
kelompok, aktivitas, dan dinamika kelompok harus diwujudkan untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan
atau pemecahan masalah individu (siswa) yang menjadi peserta layanan. Topik yang dibahas dalam bimbingan kelompok adalah topik umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok dan dibahas melalui suasana dinamika kelompok secara intens dan konstruktif, diikuti oleh semua anggota kelompok
di bawah bimbingan pemimpin kelompok yaitu pembimbing atau konselor (Tohirin, 2014).
Tahapan Bimbingan Kelompok
Tahapan dari proses pelaksanaan bimbingan kelompok dilaksanakan melalui tahapan berikut (Sukardi 2008) yaitu 1) Tahap pembentukan, 2) Tahap peralihan 3) Tahap kegiatan, 4) Tahap pengakhiran. Kegiatan selama bimbingan kelompok dapat dibagi menjadi
dua bagian yaitu kelompok tugas dan kelompok bebas.
Adapun Tohirin (2014) menjelaskan
bahwa layanan bimbingan kelompok menempuh tahap-tahap kegiatan sebagai berikut :
1.
Pertama, perencanaan yang mencakup kegiatan : a) Mengidentifikasi topik yang akan dibahas dalam layanan
bimbingan kelompok; b) Membentuk kelompok, kelompok yang ideal dengan jumlah anggota 8 hingga 10 orang; c) Menyusun jadwal
kegiatan bimbingan kelompok dengan baik; d) Menetapkan prosedur pelayanan bimbingan kelompok dengan jelas dan direncanakan dengan baik; e) Menetapkan fasilitas pelayanan yang diperlukan selama kegiatan bimbingan kelompok dengan baik; f) Menyiapkan kelengkapan administrasi yang diperlukan selama kegiatan dengan baik dan lengkap.
2.
Kedua, pelaksanaan yang mencakup kegiatan antara lain: a) Mengomunikasikan rencana layanan bimbingan kelompok; b) Mengorganisasikan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan baik; c) Menyelenggarakan layanan bimbingan kelompok melalui tahapan yaitu pembentukan, peralihan, kegiatan, dan pengakhiran.
3.
Ketiga, evaluasi yang mencakup kegiatan: a) Menetapkan materi evaluasi dengan jelas; b) Menetapkan prosedur dan standar evaluasi sesuai dengan perencanaan;
c) Menyusun instrumen evaluasi
sebelum kegiatan dilakukan; d) Mengoptimalisasikan
instrumen evaluasi dengan baik; e) Mengolah hasil aplikasi instrumen dengan baik.
4.
Keempat, analisis hasil evaluasi mencakup kegiatan: a) Menetapkan norma atau standar
analisis pada saat melakukan analisis hasil evaluasi; b) Melakukan analisis pada hasil evaluasi; c) Menafsirkan atau menyimpulkan hasil analisis evaluasi.
5.
Kelima, tindak lanjut yang mencakup kegiatan: a) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut;
b) Mengomunikasikan rencana
tindak lanjut kepada pihak terkait;
c) Melaksanakan rencana tindak lanjut.
6.
Keenam, yaitu laporan yang mencakup kegiatan: a) Menyusun laporan setelah semua kegiatan dilaksanakan; b) Menyampaikan laporan kepada kepala sekolah atau madrasah dan pihak-pihak
lain yang terkain; c) Mendokumentasi
laporan layanan.
Motivasi Belajar
Motivasi dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan
kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan
sesuatu, dan bila ia tidak suka,
maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar
tetapi motivasi itu adalah tumbuh
di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat
tercapai. Dikatakan �keseluruhan�, karena pada umumnya ada beberapa
motif yang bersama-sama menggerakkan
siswa untuk belajar (Sardiman, 2008).
Belajar ialah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2013). Faktor yang mempengaruhi belajar dibagi menjadi faktor intern dan ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu
yang sedang belajar, faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu
(Slameto, 2013). Dalam faktor intern terdapat tiga hal yaitu
faktor jasmaniyah, faktor psikologi, dan faktor kelelahan.
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal
penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai
banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia
tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka tidak akan
mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah
tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi, kecuali karena paksaan atau sekadar seremonial.
Seorang siswa yang memiliki inteligensi cukup tinggi, boleh
jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayut dengan ini maka
kegagalan belajar siswa jangan begitu
saja mempersalahkan pihak siswa, sebab
mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi
yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk belajar.
Jadi tugas guru bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi (Sardiman, 2008).
Perubahan energi dalam diri
seseorang berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan
fisik, karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya
dengan segala upaya yang dapat dilakukan untuk meraihnya, Djamarah (2011) juga menjelaskan bahwa dalam proses belajar sangatlah diperlukan adanya motivasi, seseorang yang tidak memiliki motivasi belajar tidak akan
melakukan aktivitas belajar.
Jenis Motivasi Belajar
Hapsari (2005) membagi motivasi menjadi dua jenis
yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik dengan mendefinisikan kedua jenis motivasi itu sebagai berikut
yaitu motivasi instrinsik adalah bentuk dorongan belajar yang datang dari dalam diri
seseorang dan tidak perlu rangsangan dari luar. Sedangkan
motivasi ekstrinsik adalah dorongan belajar yang datangnya dari luar diri
seseorang.
Menurut (Djamarah 2015), motivasi intrinsik adalah motif yang menjadi aktif dan tidak perlu dirangsang
dari luar, karena dalam setiap
individu terdapat dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik bila tujuannya inheren dengan situasi belajar dan bertemu dengan kebutuhan dan tujuan anak didik untuk
menguasai nilai yang terkandung dalam pelajaran, bukan karena ingin dipuji,
mendapat nilai tinggi, hadiah, atau sebagainya (Djamarah, 2015).
Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik secara sadar akan melakukan
aktivitas yang memerlukan motivasi dari luar
dirinya. Hal ini juga dibutuhkan dalam aktivitas belajar. Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit untuk melakukan aktivitas belajar secara berkelanjutan.
Menurut Sardiman, yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang
dari luar, karena dalam diri
setiap individu sudah ada dorongan
untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah ada
yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari
buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari
segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri
(Sardiman, 2008).
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan
berfungsi karena adanya perangsang dari luar, motivasi
ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau
belajar, guru yang berhasil
mengajar adalah guru yang pandai membangkitkan minat anak didik
dalam belajar (Djamarah, 2015).
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif
yang aktif dan berfungsinya
karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh
seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya
akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajarr
ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah (Sardiman, 2008).
Fungsi Motivasi dalam Belajar
Pada kegiatan belajar mengajar, pasti ditemukan anak didik yang kurang memiliki motivasi intrinsik untuk belajar dan guru harus memberikan suntikan motivasi ekstrinsik, dengan bantuan tersebut diharapkan anak didik dapat keluar
dari kesulitan belajar. Purwanto (2006) berpendapat bahwa setiap motif itu bertalian erat dengan suatu tujuan
dan cita-cita. Makin berharga
tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motifnya sehingga motif itu sangat berguna bagi tindakan atau
perbuatan seseorang.
Tiga fungsi motivasi dalam belajar diuraikan sebagai berikut (Djamarah, 2015):
a.
Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Saat anak didik tidak
ada keinginan belajar, tapi karena
ada sesuatu yang dicari, muncullah minatnya untuk belajar yang dilakukan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Hal itu mendorong anak
didik untuk belajar dalam rangka
mencari tahu. Seiring dengan minat tersebut, anak didik mengambil
sikap. Anak didik yakin tentang apa
yang seharusnya dilakukan untuk mencari tahu
tentang sesuatu. Sikap tersebut yang mendasari dan mendorong ke arah sejumlah
perbuatan dalam belajar. Jadi, motivasi yang berfungsi mendorong ini mempengaruhi sikap anak didik
dalam rangka belajar.
b.
Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis melahirkan sikap terhadap anak didik itu
merupakan sebuah kekuatan, yang menjelma dalam bentuk gerakan
psikofisik. Anak didik melakukan aktivitas belajar dengan sepenuh hati.
c.
Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Anak didik
yang memiliki motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan dihindari. Anak didik yang ingin mempelajari suatu mata pelajaran tidak mungkin dipaksakan
untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Anak didik mempelajari sesuatu yang ingin dicari itu sebagai
tujuan belajarnya. Tujuan belajar tersebut sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam
belajar dan mengesampingkan
hal-hal lain yang dapat mengganggu pikiran dan konsentrasi belajar.
METODA PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan (action research). Adapun Bentuk penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan dalam Bimbingan Konseling (PTBK). Menurut Hidayat & Badrujaman (2012) penelitian tindakan bimbingan dan konseling adalah suatu kegiatan
yang dilakukan untuk mempelajari suatu masalah, mencari solusi, serta melakukan
perbaikan atas suatu program sekolah atau kelas yang khusus. Adapun prosedur penelitian tindakan menurut Arikunto (2009) secara garis besar terdapat 4 tahapan yang lazim dilalui yaitu
(1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan,
(3) Pengamatan, dan (4) Refleksi.
Penelitian dilaksanakan di SMP Institut
Indonesia Semarang. Subjek dalam
penelitian ini adalah 10 orang siswa kelas VIII semester gasal tahun ajaran 2022/2023. Subjek penelitian diambil dari siswa
kelas VIII. Alasan pemilihan subjek penelitian adalah berdasarkan informasi dari wali kelas
terdapat 10 orang siswa
yang mempunyai motivasi belajar rendah yang dapat menyebabkan prestasi siswa menurun dan tidak aktif dalam pembelajaran.
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah: 1) Secara individu mencapai skor motivasi yang ditetapkan minimal 80 dan persentase
motivasi klasikal lebih dari atau
sama dengan 80%. 2) Apabila motivasi belajar siswa meningkat
setelah dilakukan layanan bimbingan kelompok.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala
psikologi yaitu skala motivasi belajar. Indikator skala motivasi belajar yang digunakan berdasarkan teori Uno (2007) yaitu 1) adanya hasrat dalam keinginan
berhasil, 2) adanya dorongan sebagai kebutuhan dalam belajar, 3) adanya harapan untuk mewujudkan
cita-cita masa depan, 4) adanya penghargaan dalam belajar, 5) adanya lingkungan belajar yang kondusif, 6) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian penyebaran kuesioner yang dilakukan pada 10
orang siswa pada pra siklus menunjukkan bahwa 7 siswa tidak
mencapai skor ketuntasan sedangkan 3 siswa mencapai skor ketuntasan dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 30%. Siswa kemudian diberi layanan bimbingan kelompok untuk mengingkatkan motivasi belajar siswa.
Pada siklus I terjadi peningkatan skor ketuntasan yaitu sebanyak 7 siswa mencapai skor ketuntasan
dan 3 lainnya belum mencapai skor ketuntasan
dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 70%. Berikut adalah tabel hasil
pra siklus dan siklus I:
Tabel 1. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Siklus I
|
No |
Subjek |
Pra Siklus |
Siklus I |
Peningkatan Skor |
Keterangan |
||
|
Skor |
Kriteria |
Skor |
Kriteria |
||||
|
1 |
DG |
74 |
Tidak Tuntas |
83 |
Tuntas |
9 |
Meningkat |
|
2 |
GA |
72 |
Tidak Tuntas |
77 |
Tidak Tuntas |
5 |
Meningkat |
|
3 |
MH |
71 |
Tidak Tuntas |
78 |
Tidak Tuntas |
7 |
Meningkat |
|
4 |
RN |
86 |
Tuntas |
88 |
Tuntas |
2 |
Meningkat |
|
5 |
SN |
84 |
Tuntas |
91 |
Tuntas |
7 |
Meningkat |
|
6 |
FT |
82 |
Tuntas |
94 |
Tuntas |
12 |
Meningkat |
|
7 |
AR |
72 |
Tidak Tuntas |
82 |
Tuntas |
10 |
Meningkat |
|
8 |
CA |
67 |
Tidak Tuntas |
74 |
Tidak Tuntas |
7 |
Meningkat |
|
9 |
DC |
71 |
Tidak Tuntas |
85 |
Tuntas |
14 |
Meningkat |
|
10 |
MA |
72 |
Tidak Tuntas |
84 |
Tuntas |
12 |
Meningkat |
|
75,1 |
|
83,6 |
|
8,5 |
|
||
|
Persentase Ketuntasan |
30% |
70% |
|
|
|||
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan
motivasi belajar siswa. Rata-rata skor dari pra siklus
ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 8,5. Persentase ketuntasan klasikal pra siklus sebesar
30% mengingkat menjadi 70%
pada siklus I.
Berdasarkan hasil penelitian
pada siklus I, penelitian belum memenuhi indikator keberhasilan yaitu persentase motivasi klasikal kurang dari 80% sehingga penelitian dilanjutkan pada siklus II. Berikut adalah grafik peningkatan motivasi belajar siswa:
Gambar 1 Grafik Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Siklus
I
Pada siklus II terjadi
peningkatan motivasi belajar yaitu sebanyak
10 siswa mencapai skor ketuntasan dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 100%. Berikut adalah tabel peningkatan
motivasi belajar siswa siklus II:
Tabel 2.
Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Siklus II
|
Subjek |
Siklus I |
Siklus II |
Peningkatan Skor |
Keterangan |
|||
|
Skor |
Kriteria |
Skor |
Kriteria |
||||
|
1 |
DG |
83 |
Tuntas |
98 |
Tuntas |
15 |
Meningkat |
|
2 |
GA |
77 |
Tidak Tuntas |
101 |
Tuntas |
24 |
Meningkat |
|
3 |
MH |
78 |
Tidak Tuntas |
114 |
Tuntas |
36 |
Meningkat |
|
4 |
RN |
88 |
Tuntas |
102 |
Tuntas |
14 |
Meningkat |
|
5 |
SN |
91 |
Tuntas |
103 |
Tuntas |
12 |
Meningkat |
|
6 |
FT |
94 |
Tuntas |
108 |
Tuntas |
14 |
Meningkat |
|
7 |
AR |
82 |
Tuntas |
105 |
Tuntas |
23 |
Meningkat |
|
8 |
CA |
74 |
Tidak Tuntas |
98 |
Tuntas |
24 |
Meningkat |
|
9 |
DC |
85 |
Tuntas |
99 |
Tuntas |
14 |
Meningkat |
|
10 |
MA |
84 |
Tuntas |
107 |
Tuntas |
23 |
Meningkat |
|
Rata-rata |
83,6 |
|
|
19,9 |
|
||
|
Persentase Ketuntasan |
70% |
100% |
|
|
|||
Berdasarkan
tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar siswa.
Rata-rata skor dari siklus I ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 19,9.
Persentase ketuntasan klasikal siklus I sebesar 70% meningkat menjadi 100% pada
siklus I.
Berdasarkan
hasil penelitian pada siklus II, penelitian sudah memenuhi indikator
keberhasilan yaitu persentase motivasi klasikal lebih dari 80% dan skor
motivasi belajar siswa mengalami peningkatan. Berikut adalah grafik peningkatan
motivasi belajar siswa dari pra siklus ke siklus II:
Gambar
2 Grafik Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Siklus II
Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa proses layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Menurut Achmad (Tatoe, 2017) layanan bimbingan kelompok yang merupakan bantuan terhadap individu yang digunakan dalam situasi kelompok.
Layanan bimbingan kelompok digunakan sebagai media membimbing individu untuk mencapai tujuan bersama dengan memanfaatkan dinamika kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas VIII terjadi peningkatan motivasi belajar pada semua subjek dari pra
siklus dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 30%, siklus I dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 70% dan siklus II dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 100%. Penelitian tindakan yang dilakukan menggunakan layanan bimbingan kelompok dapat mendorong siswa mengembangkan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang peningkatan motivasi belajar siswa. Hal tersebut disampaikan oleh Tohirin (2014)
yang menyatakan bahwa secara umum layanan
bimbingan kelompok bertujuan untuk pengembangan kemampuan bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi peserta layanan (siswa) dan secara khusus layanan bimbingan kelompok bertujuan untuk mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang perwujudan tingkat laku yang lebih efektif, yakni peningkatan kemampuan berkomunikasi siswa, baik verbal maupun non verbal.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan
bahwa layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal tersebut terbukti dari adanya
peningkatan skor rata-rata
pada pra siklus, siklus I dan siklus II. Rata-rata
skor pra siklus sebesar 75,1 meningkat pada siklus I menjadi sebesar 83,6 dan meningkat pada siklus II menjadi 103,5. Peningkatan
rata-rata skor dari pra siklus ke
siklus I sebesar 8,5 dan peningkatan dari siklus I ke siklus
II sebesar 19,9. Persentase
ketuntasan klasikal pra siklus sebesar
30% meningkat menjadi 70%
pada siklus I dan meningkat
menjadi 100% pada siklus
II.
Berdasarkan kesimpulan penelitian, disampaikan saran mengenai layanan bimbingan kelompok. Bagi siswa, setelah
mendapatkan layanan bimbingan kelompok diharapkan agar siswa dapat memiliki motivasi belajar yang tinggi sehingga dalam pembelajaran siswa dengan mudah
menerima materi yang disampaikan. Bagi Guru BK, diharapkan dengan adanya penelitian ini guru bimbingan dan konseling mampu memberikan layanan berupa bimbingan kelompok yang dapat dilakukan pada jam sekolah maupun di luar sekolah. Dan bagi peneliti selanjutnya, diharapkan mampu mengadakan penelitian tentang motivasi belajar siswa dengan
menggunakan metode yang berbeda atau layanan
yang berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2009).
Peneitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Djamarah, Syaiful Bahri.
(2011). Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Hapsari, S. (2005). Bimbingan
dan Konseling SMA untuk Kelas XII. Jakarta : PT. Grasindo
Hidayat, Dede Rahmat dan
Badrujaman, Aip. (2012). Penelitian Tindakan dalam Bimbingan dan Konseling.
Jakarta: Indeks.
Purwanto, Ngalim. (2006).
Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sardiman. (2008). Interaksi
dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Slameto. (2013). Belajar dan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. (2008).
Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suwarno, Wiji. (2013).
Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Cet. IV. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Tatoe, Hayati. (2017). Upaya
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di dalam Kelas Melalui Bimbingan Kelompok
di SMAN 2 Bangko Kabupaten Rokan Hilir. Jurnal Perspektif Pendidikan dan
Keguruan. Vol VIII No 1, ISSN 1411-3570.
Tohirin. (2014). Bimbingan dan
Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Rajawali Pers.
Uno, Hamzah B. (2007). Teori
Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di�
Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi aksara.