STRATEGI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SWASTA

BINA INFORMATIKA TANGERANG SELATAN MENANGANI KRISIS AGAR BERTAHAN SELAMA PANDEMI COVID-19

Ramadhan Wibisono 1, Karmila Syarif 2

Magister Ilmu komunikasi Universitas Paramadina Jakarta

[email protected]1, [email protected]2

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 10-09-2022

Revised: 16-09-2022

Accepted: 29-09-2022

 

Keywords: Covid-19; Education; Strategy

 

 

Kata Kunci: Covid-19, Edukasi; Strategi

 

 

Abstract

In order to avoid the transmission of covid-19 through physical or face-to-face meetings, the government had implemented policies ranging from Large-Scale Social Restrictions (PSBB) to the Implementation of Community Activity Restrictions (PPKM) Level 1 to Level 4. Private Vocational High Schools (SMKS) Bina Informatika South Tangerang, including private educational institutions affected by the implementation of PSBB and PPKM. The majority of educational activities are implemented online through the Zoom Meeting application or Google Meet. The new student acceptance rate (PPDB) decreased by 10% during the two years of the covid-19 pandemic because many parents lost their income and chose to send their children to public schools so that costs were cheaper. In addition, almost half of the students from several classes were delayed in paying their monthly school fees (Sumbangan Pembinaan Pendidikan or SPP) because their parents' income was decreasing. Not to mention that online learning is considered less effective due to a number of obstacles. Through this research, the author wants to know the strategy of SMKS Bina Informatika in dealing with the crisis in order to survive in the midst of the covid-19 pandemic. This study uses a qualitative method with a descriptive approach and SWOT analysis through library support so as to strengthen the results of the study. While the data collection techniques are through interviews, observation, documentation and triangulation or a combination (Sugiyono, 2016:225). Based on the results of the study, when covid-19 cases increased at the beginning of the April 2020 pandemic, SMKS Bina Informatika implemented full online learning. Meanwhile, when the covid-19 pandemic slowed from August 2021 to March 2022, Bina Informatics implemented hybrid or 50% face-to-face learning. 100% face-to-face learning since April 2022 when the South Tangerang area was declared covid-19 free. To facilitate access to subject matter, student and teacher attendance, and assessment, the BI-SMART application is used which can be accessed via mobile phones and computers. For students whose parents are financially constrained, SMKS Bina Informatika provides a flexible payment deadline and all students receive a 50% discount. For new students there is dispensation for tuition fees or school buildings can be repaid three to four times.

 

 

Abstrak

Guna menghindari penularan covid-19 melalui pertemuan fisik atau tatap muka, pemerintah sempat menerapkan kebijakan mulai dengan Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai Level 4. Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Bina Informatika Tangerang Selatan, termasuk lembaga pendidikan swasta yang terkena dampak penerapan PSBB dan PPKM. Mayoritas aktivitas pendidikan diterapkan secara daring melalui aplikasi zoom meeting atau google meet. Tingkat penerimaan peserta didik baru (PPDB) menurun 10% selama dua tahun pandemi covid-19 karena banyak orang tua yang kehilangan pendapatan sehingga memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri agar biaya lebih murah. Selain itu, hampir separuh murid dari beberapa kelas tertunda pembayaran bulanan sekolah (Sumbangan Pembinaan Pendidikan atau SPP) karena penghasilan orang tuanya berkurang. Belum lagi pembelajaran daring dianggap kurang efektif karena sejumlah kendala. Melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui strategi SMKS Bina Informatika menangani krisis supaya bertahan di tengah pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan analisis SWOT melalui dukungan kepustakaan sehingga memperkuat hasil penelitian. Sedangkan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan triangulasi atau gabungan (Sugiyono, 2016:225). Berdasarkan hasil penelitian, saat kasus covid-19 meningkat di awal pandemi April 2020, SMKS Bina Informatika menerapkan full belajar daring. Sementara saat pandemi covid-19 melandai pada Agustus 2021 hingga Maret 2022, Bina Informatika menerapkan pembelajaran hybrid atau 50% tatap muka. Pembelajaran kembali tatap muka 100% sejak April 2022 saat wilayah Tangerang Selatan dinyatakan bebas covid-19. Untuk mempermudah akses materi pelajaran, absensi murid maupun guru, dan penilaian maka digunakan aplikasi BI-SMART yang bisa diakses via ponsel serta komputer. Bagi murid yang orang tuanya terkendala keuangan, SMKS Bina Informatika memberikan kelonggaran batas waktu pembayaran dan seluruh murid menerima diskon 50%. Bagi murid baru ada dispensasi biaya uang pangkal atau gedung sekolah bisa dicicil tiga sampai empat kali.

Corresponding Author: Ramadhan Wibisono

E-mail: [email protected]

Description: https://jurnal.syntax-idea.co.id/public/site/images/idea/88x31.png

 

��������������������������������������������������������������������������������������������������������������� �����������������������������������������������������������������

PENDAHULUAN

Dunia pendidikan saat ini dituntut untuk dikembangkanya pendekatan pembelajaran sesuai dinamika pendidikan di Indonesia yang berakar pada Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang berakar pada nilai agama, kebudayaan nasional dan tanggap terhadap tuntutan zaman sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nurdiansyah:2016). Menurut Siagian (2006:273), pendidikan adalah keseluruhan proses teknik dan metode belajar mengajar dalam rangka mengalihkan pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Pendidikan selalu menjadi sorotan banyak orang, tidak hanya dari pemegang kebijakan tapi juga pengguna (murid). Pada kenyataannya masih banyak masalah yang harus dihadapi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dari luar peserta didik termasuk perkembangan teknologi, maupun faktor internal dari dalam diri peserta didik (Nurdiansyah, N. : 2018).

Nurdyansyah memperjelasThe education world must innovate in a whole. It means that all the devices in education system have its role and be the factors which take the importance in successfull of education system (Nurdiansyah, N. & Fitriani, T.: 2018). Pendidikan hendaknya berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan, serta memotivasi peserta didik untuk partisipasi aktif sesuai bakat dan minat. Pendidikan harus melibatkan banyak pihak yang diimbangi penggunaan teknologi guna mempermudah tercapainya suasana nyaman bagi murid.

Selain penggunaan teknologi, faktor penting penunjang keberhasilan pendidikan adalah komunikasi yang baik antara peserta didik dan pendidik. Dalam dunia pendidikan, komunikasi merupakan roh. Tanpa roh komunikasi yang baik, pendidikan akan kehilangan cara dan orientasi membangun kualitas output yang diharapkan. Menurut Onong Uchjana Effendi, komunikasi secara umum sebagai penyampaian pernyataan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi hubungan sosial. Dalam pengertian paradigmatis, komunikasi adalah penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk mengabarkan atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, lisan maupun melalui media (Uchjana Effendi, Onong, Dinamika Komunikasi).

Secara bentuk menurut Deddy Mulyana komunikasi dibagi dua yaitu komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang berdasarkan pada interaksi antar manusia dengan menggunakan kata kata lisan maupun tertulis dan dilakukan secara sadar guna berhubungan dengan manusia lain (Mulyana, 2002). Sementara menurut Verdeber dalam buku Alo Liliweri (2005:12) dikatakan bahwa komunikasi verbal dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Jadi komunikasi yang dilakukan menggunakan simbol yang telah disepakat dalam suatu bahasa.

Sedangkan menurut M. Sobry Sutikno sebagaimana dikutip Moh. Gufron dalam bukunya Komunikasi Pendidikan (2016) komunikasi adalah penyampaian pesan informasi dari suatu pihak ke pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.

Moh. Gufron juga dalam bukunya Komunikasi Pendidikan (2016) mendefinisikan komunikasi pendidikan secara sederhana, yaitu komunikasi yang terjadi dalam suasana belajar. Sementara komunikasi pendidikan secara istilah yaitu tindakan memberikan kontribusi sangat penting dalam pemahaman dan praktik interaksi atau tindakan seluruh individu yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Selama pandemi covid-19 melanda Indonesia, penggunaan teknologi diperlukan dalam segala sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Sebab, belajar mengajar antara murid dan guru tetap harus berjalan. Penggunaan teknologi internet di tengah pandemi COVID-19 terbukti meningkat berdasarkan data riset HootSuite dan agensi marketing sosial We Are Social tentang Global Digital Report 2020. Hasil peneltian tersebut memaparkan bahwa hampir 64 % penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Hasil penelitian juga menyebutkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 juta orang, dari total sementara penduduk Indonesia sekitar 272,1 juta jiwa (We Are Social and Hootsuite, 2020).

Guna menghindari penularan covid-19 melalui pertemuan fisik atau tatap muka, maka mayoritas aktivitas pendidikan diterapkan secara daring. Pemerintah sempat menerapkan kebijakan mulai dengan Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai Level 4. Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Bina Informatika Tangerang Selatan, termasuk lembaga pendidikan swasta yang terkena dampak penerapan PSBB dan PPKM. Meskipun ada pembatasan pertemuan fisik atau tatap muka saat pandemi covid-19, belajar mengajar tetap harus berjalan.Guru dan murid tidak bertemu di kelas melainkan belajar mengajar guru dan murid melalui komunikasi daring dengan teknologi jaringan internet dan aplikasi zoom meeting atau google meet.

Imbas PSBB dan PPKM lainnya bagi SMKS Bina Informatika adalah tingkat penerimaan peserta didik baru (PPDB) menurun 10% selama dua tahun pandemi covid-19 lantaran banyak orang tua kehilangan pendapatan sehingga memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri agar biaya lebih murah. Selain itu, hampir separuh murid dari beberapa kelas tertunda pembayaran bulanan sekolah (Sumbangan Pembinaan Pendidikan atau SPP) karena penghasilan orang tuanya berkurang. Bahkan promosi yang biasa door to door jemput bola presentasi dari sekolah ke sekolah harus diubah via daring melalui zoom meeting dan webinar (web seminar).

Beberapa pihak menganggap pembelajaran daring tidak semulus belajar tatap muka di kelas. Pegawasan guru terhadap murid saat daring dianggap tidak maksimal dan kurang efektif layaknya pembelajaran di kelas. Sinyal internet kurang stabil sering menjadi kendala komunikasi yang berjalan antara guru dan murid saat daring. Bahkan kadang pelanggaran disiplin ataupun tata tertib lebih mudah saat belajar daring karena guru sulit mengawasi murid seperti jarang memakai seragam sekolah ataupun hadir tidak tepat waktu dan tidak mengaktifkan kamera dengan alasan kendala sinyal internet.

Mengalihkan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah adalah upaya untuk mengatasi masalah penularan Covid-19 pada lingkup anak-anak sekolah. Namun pengalihan ini nyatanya menimbulkan masalah baru (edukasi.kompas.com, 2020). Misalnya masalah terkait pemahaman anak-anak sekolah terhadap materi yang disampaikan oleh para gurunya. Semula mereka mudah memahami materi pembelajaran karena disampaikan dalam jarak yang dekat dan mereka dapat berinteraksi dengan para gurunya tanpa sekat. Sedangkan proses belajar dari rumah pada era Covid-19 yang menggunakan media daring membuat mereka rentan menghadapi sejumlah hambatan seperti jaringan internet yang tidak stabil, gawai yang digunakan tidak memadai, atau penjelasan materi yang tidak komprehensif dari para guru sehingga sulit dipahami anak sekolah.

Pembelajaran daring di SMKS Bina Informatika Tangerang Selatan misalnya yang sudah berjalan dua tahun. Beberapa hari sebelum penerapan belajar daring, pengelola SMK Bina Informatika termasuk Kepala Sekolah telah melakukan sosialisasi tata tertib belajar daring. Para orang tua murid diundang mengikuti pertemuan virtual selama dua jam yang disebut webinar POPP (Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik). Bahkan, para murid Kelas 10, Kelas 11, dan Kelas 12 semua jurusan di SMK Bina Informatika juga diundang secara khusus mengikuti pertemuan virtual. Pertemuan para murid dan orangtua bersama Kepala Sekolah dan Guru sengaja dijadwalkan terpisah. Tujuannya agar para murid lebih mudah memahami peraturan belajar daring dan bebas bertanya kepada Guru maupun Kepala Sekolah. Sosialisasi bagi murid pada pagi hari dan sosialisasi kepada orangtua mulai siang hari. Orang tua wajib diundang karena orangtua perlu dilibatkan setiap kegiatan sekolah terutama belajar daring mengingat murid SMK perlu pengawasan orang tua.

Rizam Nuruzzaman Guru sekaligus Pembina OSIS SMK Bina Informatika, menjelaskan pengelola sekolah telah menjalankan komunikasi dengan baik dalam sosialisasi tata tertib belajar daring agar dipahami dan dipatuhi murid. Meskipun penerapannya, ada murid yang segera paham mematuhi aturan dan ada pula sebagian murid yang melanggar aturan. Jika sifatnya pelanggaran atau kelalaian murid, maka guru akan memberikan teguran hingga tindakan tegas.

Salah satu contoh pelanggaran sering terjadi adalah murid tidak hadir tepat waktu untuk belajar daring. Selain sosialisasi aturan tertulis di awal melalui acara POPP (Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik), setiap guru selalu mengingatkan murid sebelum belajar daring agar murid hadir tepat waktu. Jika pelangaran terus berlanjut setelah ada teguran, guru bisa bertindak tegas dengan tidak membolehkan murid tersebut ikut belajar daring yang diinfokan kepada orangtua.

Contoh pelanggaran lain yang sering terjadi saat belajar daring adalah murid tidak mengaktifkan kamera. Padahal guru selalu menyampaikan atau mengingatkan aturan tertulis sekolah yang mewajibkan murid mengaktifkan kamera. Saat ditelusuri, beragam alasan murid tidak mengaktifkan kamera di antaranya kuota internet terbatas sehingga lebih irit jika tidak mengaktifkan kamera atau alasan teknis kamera rusak.

Menyikapi pelanggaran ini, guru memberikan teguran maupun peringatan tapi keterbatasan guru saat mengajar daring adalah tidak bisa selalu memberikan teguran dalam satu kali pertemuan karena justru akan menghabiskan waktu lebih banyak memberikan teguran daripada menyampaikan materi pengajaran. Selama tidak mengganggu pembelajaran, guru �terpaksamengizinkan murid ikut belajar daring tanpa mengaktifkan kamera. Setiap guru yakin murid sudah paham tata tertib belajar daring karena sudah ada sosialiasi ataupun pemberitahuan. Penerapannya dikembalikan pada kesadaran tanggung jawab sebagai murid mematuhi aturan belajar daring.

����������� Dalam dunia pendidikan, pembelajaran akan efektif jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid terjadi secara intensif (Yasol Iriantara, Komunikasi pembelajaran, Interaksi Komunikasi dan edukatif dalam Kelas, Bandung: PT. remaja Rosdakarya, 2014). Tujuan pendidikan itu akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Jika prosesnya tidak komunikatif, tidak mungkin tujuan pendidikan itu akan tercapai. Dalam pembelajaran sehebat apapun perangkat pembelajaran yang disusun guru, tanpa ada interaksi antara guru dan siswa yang harmonis maka tujuan pembelajaran tidak tercapai optimal. Guru harus mampu menguasai pola interaksi dan teknik komunikasi yang baik dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus ada interaksi. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara guru dengan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.

Melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui strategi SMKS Bina Informatika menangani krisis supaya bertahan di tengah pandemi covid-19. Penelitian ini secara teoritis akan memberikan manfaat ilmu pengetahuan berupa data maupun informasi pembelajaran daring saat pandemi covid-19 atau kondisi tertentu lainnya dan strategi pengelola sekolah swasta menangani krisis agar bertahan di tengah pandemi covid-19 maupun kondisi rawan lainnya. Manfaat penelitian ini bisa memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan, terutama saat belajar daring agar berjalan efektif sekaligus sebagai saran kepada pengelola SMKS Bina Informatika Tangerang Selatan agar menyiapkan strategi pembelajaran daring dan upaya penanganan krisis yang efektif.

 

METODE PENELITIAN

A)     METODE KUALITATIF DESKRIPTIF

 

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan studi kasus untuk menganalisis fenomena melalui dukungan kepustakaan sehingga memperkuat hasil penelitian. Langkah-langkah metode deskriptif kualitatif menurut Salim & Haidir (2019) adalah sebagai berikut; (1) Perumusan masalah, (2) menentukan jenis informasi yang dibutuhkan, (3) menentukan prosedur pengumpulan data, (4) menentukan informasi dalam prosedur penggelolaan data, dan (5) menarik kesimpulan penelitian.

Sementara menurut Sugiyono (2016:9) deskriptif kualitatif adalah metode penelitian berdasarkan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen), peneliti sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trigulasi (gabungan) dan analisis data bersifat induktif kualitatif.
Objek penelitian yang diteliti yaitu strategi SMKS Bina Informatika dan efektivitas komunikasi saat belajar daring selama pandemi covid-19, apa kendalanya, dan upaya mengatasi kendala tersebut, termasuk fasilitas pendukung yang digunakan belajar daring. Sementara data yang digunakan, data primer berupa hasil wawancara guru, murid, dan perwakilan orang tua murid. Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2016:137). Sedangkan data sekunder berupa dokumen tambahan seperti profil sekolah dan tata tertib belajar daring. Data sekunder menurut Sugiyono (2016:137), sumber tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. Definisi lainnya, d
ata sekunder adalah data primer yang diolah lebih lanjut dan disajikan pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain misalnya bentuk tabel atau diagram (Umar, 2008:42). Diungkapkan Ruslan (2006:35), data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara, umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang disusun dalam bentuk arsip atau dokumen.

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Sugiyono (2016:225) terdiri dari wawancara, observasi, dokumentasi dan triangulasi atau gabungan. Menurut Sugiyono, (2016:231) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab. Masih menurut Sugiyono (2016:145), observasi merupakan teknik pengolahan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan teknik lain. Saat observasi, peneliti melihat dan praktik belajar mengajar daring bersama murid SMKS Bina Informatika Kelas 10 Multimedia, Kelas 11 Broadcasting Televisi, dan Kelas 12 Broadcasting Televisi.
Dokumentasi bisa tulisan, gambar atau karya monumental seseorang (Sugiyono, 2013:240). Dokumen bentuk tulisan misalnya catatan harian, biografi, peraturan dan kebijakan. Dokumen berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup atau sketsa. Dokumen bentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, dan film. Studi dokumen merupakan pelengkap metode observasi dan wawancara penelitian kualitatif.

Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat mengabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data (Sugiyono, 2016:241). Tujuan triangulasi bukan mencari kebenaran beberapa fenomena melainkan peningkatan pemahaman peneliti terhadap hasil penemuan atau obeservasi dan wawancara.

Dalam penelitian ini peneliti mengunakan satu macam triangulasi yaitu triangulasi sumber. Menurut Sugiyono (2016:241) triangulasi sumber berarti mendapatkan data dari sumber yang berbeda dengan teknik sama. Data dikatakan sah atau valid apabila terdapat konsistensi atau kesesuaian antara informasi yang diberikan oleh informan satu dengan informan lainnya. Definisi lainnya, triangulasi sumber data adalah menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber data wawancara mendalam dari beberapa informan yang menghasilkan bukti atau data berbeda dan memberikan pandangan berbeda mengenai fenomena yang diteliti (Moleong, 2005).

 

B)     ANALISIS SWOT

 

Analisis SWOT adalah metode yang digunakan untuk mengteahui strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), opportunities (Kesempatan), dan threats (Ancaman) dalam suatu spekulasi bisnis (Fatimah, 2016). Analisis SWOT merupakan instrumen perencanaan strategis klasik yang memberikan cara sederhana yang terbaik dalam menentukan strategi (Dera Setia Kristanti, dkk. 2021). Analisis SWOT dapat membantu penyusunan strategi sebuah organisasi maupun perusahaan (Fatimah, 2016). Secara umum, kegunaan Analisis SWOT sebagai berikut :

a. Menganalisis kondisi diri dan lingkungan pribadi.

b. Menganalisis kondisi internal lembaga dan lingkungan eksternal lembaga.

c. Mengetahui sejauh mana diri kita di dalam lingkungan kita.

d. Mengetahui posisi sebuah perusahaan/ organisasi di antara perusahaan/ organisasi yang lain.

Analisis SWOT memudahkan pencapaian target dengan memperhatikan beberapa hal yaitu:

A) Bagaimana kekuatan yang dimiliki mampu mengambil keuntungan dari peluang yang ada?

B) Bagaimana mengatasi kelemahan yang mencegah keuntungan dari peluang yang ada?

C) Bagaimana kekuatan yang dimiliki mampu menghadapi ancaman yang ada?

D) Bagaimana mengatasi kelemahan yang dimilki mampu membuat ancaman menjadi nyata atau dapat menciptakan suatu ancaman baru?

Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya dalam matrik SWOT meliputi :

Teknik ini dirancang Albert Humphrey yang memimpin proyek riset pada Universitas Stanford periode 1960-an hingga 1970-an dengan menggunakan data perusahaan Fortune 500.

 

C)     DEFINISI STRATEGI

 

Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya (Selvina L. Lengkong dkk, 2017). Menurut J.L. Thompson dalam Oliver (2007: 2), strategi sebagai cara mencapai sebuah hasil akhir menyangkut tujuan atau sasaran organisasi. Bennet dalam Oliver (2007:2) menggambarkan strategi sebagaiarah yang dipilih organisasi untuk diikuti dalam mencapai misinya�.

Manajemen strategis adalah proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi (Selvina L. Lengkong dkk, 2017). Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas[*]dari berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai tujuan organisasi (Selvina L. Lengkong dkk, 2017). Menurut Thomas L.Wheelen dan J. David Hunger, manajemen strategi adalah serangkaian keputusan manajerial dan kegiatan yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut terdiri dari perumusan atau perencanaan strategi, pelaksanaan atau implementasi, dan evaluasi (Selvina L. Lengkong dkk, 2017).

Manejemen strategi merupakan kegiatan memformulasi, mengimplementasi, serta mengevaluasi strategi yang dijalankan suatu perusahaan (Dera Setia Kristanti, dkk. 2021). Di tahap awal proses manajemen strategi, pengelola perusahaan atau organisasi mengidentifikasi faktor internal dan eksternal untuk memanfaatkan kekuatan mengatasi kelemahan agar meraih peluang dan menghindari ancaman (Dera Setia Kristanti, dkk. 2021). Setelah identifikasi, pengelola perlu menganalisis kondisi perusahaan atau organisasi saat ini untuk menentukanstrategi yang akan digunakan (David, 2011).

Pemilihan strategi memerlukan pertimbangan yang matang karena pada dasarnya pemilihan strategi akan mengorbankan sumber daya dan peluang yang mungkin ada pada strategi lain (Dera Setia Kristanti, dkk. 2021). Dalam penerapan manajemen strategi, terdapat beberapa alternatif strategi yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan antara lain (David, 2011) :

 

D)     DEFINSI EFEKTIVITAS

 

Hidayat dalam Rizky (2011:1) menjelaskan efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Semakin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Efektivitas secara umum menunjukkan seberapa jauh tercapai tujuan yang ditentukan (Rahadhitya & Darsono, 2015).

Indikator efektivitas belajar adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu, keterlibatan murid secara aktif menunjukkan efetivitas pembelajaran. Belajar mengajar tergolong efektif saat pembelajaran mencapai tujuan atau murid dapat memahami materi pelajaran dan mempraktikkannya.

John Carroll (Supardi, 2013) pakar pendidikan psikologi dalam bukunya yang berjudul �A Model of School Learning�, menyatakan Instructional Effectiveness tergantung lima faktor, yaitu: 1) Attitude; 2) Ability to Understand Instruction; 3) Perseverance; 4) Opportunity; 5) Quality of Instruction. Dengan mengetahui kelima faktor tersebut, pembelajaran berjalan efektif apabila terdapat sikap dan kemauan dalam diri anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi yang disampaikan. Apabila kelima faktor tersebut tidak ada maka kegiatan belajar mengajar anak tidak akan berjalan dengan baik. Kegiatan pembelajaran yang efektif sangat dibutuhkan anak untuk membantu mengembangkan daya pikir.

 

E)     PEMBELAJARAN DARING

 

Pembelajaran daring atau online dikenal pula dengan pembelajaran jarak jauh yang berlangsung dalam jaringan antara pengajar dan murid tidak langsung bertatap muka. Menurut Isman (2016), pembelajaran daring adalah pemanfaatan jaringan internet dalam pembelajaran. Sedangkan menurut Meidawati (2019), pembelajaran daring dipahami sebagai pendidikan formal yang diselenggarakan sekolah saat peserta didik dan instrukturnya (guru) berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan. Pembelajaran daring dapat dilakukan dari mana saja dan kapan saja tergantung ketersediaan alat yang digunakan (Albert Efendi Pohan, 2020).

����� Laili & Nashir (2021) menyatakan media pembelajaran online yang mudah diakses dapat mendukung pembelajaran mempengaruhi hasil belajar mengajar. Penggunaan media yang tepat sangat dibutuhkan untuk dapat memberikan akses pembelajaran yang maksimal bagi peserta didik selama masa darurat COVID-19.

Dalam buku The One World Schoolhouse, Salman Khan (Bilfaqih & Qomarudin, 2015) mengatakan, pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang yang menghubungkan telinga murid dengan mulut guru. Namun pendidikan adalah apa yang diterima dan dicerna dari masing-masing pikiran. Hal ini menunjukkan pembelajaran sejatinya masih tetap berjalan tanpa harus kontak langsung.

Sejalan dengan penelitian Yunitasari dan Hanifah (2020), pembelajaran selama pandemi covid-19 sangat bergantung dari faktor kesiapan sekolah, siswa dan guru. Namun faktor eksternal yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran daring tetap ada dan sangat penting diketahui sehingga kendala pembelajaran daring dapat diantisipasi.

����� Menurut Isman (Dewi, 2020), pembelajaran daring merupakan interaksi pembelajaran menggunakan komputer dan akses internet. Pembelajaran daring adalah suatu implementasi dari proses belajar mengajar dengan saling bertukar informasi menggunakan jaringan internet untuk mendapatkan target yang lebih masif (Bilfaqih & Qomarudin, 2015).

����� Dalam Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan saat Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19) yang dikeluarkan pemerintah sebagai solusi mewujudkan pendidikan yang efektif, salah satu kebijakannya adalah belajar mengajar dari rumah secara daring atau pembelajaran jarak jauh guna mencegah penyebaran virus di lingkungan pendidikan (Santoso, 2020).

Melalui Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020, proses belajar dari rumah diatur dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan anak-anak sekolah serta melindungi mereka dari dampak buruk penularan Covid-19 (kemdikbud.go.id, 2020).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

(A)    ANALISIS SWOT SMKS BINA INFORMATIKA

      STRENGTH (KEKUATAN / INTERNAL)

(1)Memiliki 5 jurusan favorit yaitu : (https://sekolah.data.kemdikbud.go.id)

1.1   Multimedia 2 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai kelas 3

1.2   Broadcasting TV 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai kelas 3

1.3   Animasi 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai kelas 3

1.4   Teknik Komputer Jaringan 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai kelas 3

1.5   Rekasaya Perangkat Lunak 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai kelas 3

(2) Sekolah swasta di lokasi strategis dengan akreditasi A yang dilengkapi 11 ruang kelas AC, 4 laboratorium memadai, 1 perpustakaan, 6 toilet, dan 1 studio siaran termasuk peralatan siar (3 kamera HDV, 3 kamera DSLR, 2 mixer, 3 mikrofon, 4 HT, dan 1 clip on)

(3)Memiliki 23 guru yang mayoritas praktisi di dunia kerja (industri) sesuai bidang keahlian

(4)Menggunakan jaringan internet serat optik

      WEAKNESS (KELEMAHAN / INTERNAL)

(1) Kondisi keuangan terdampak pandemi covid-19 karena mayoritas iuaran bulanan murid tertunda dan jumlah penerimaan murid baru menurun dalam tiga tahun terakhir

(2) Jaringan internet kadang terganggu sehingga kurang stabil saat belajar daring ataupun mengakses website

(3) Saat pandemi covid-19 antara guru dan murid harus belajar daring sehingga ada kendala penyampaian dan pemahaman materi ajar

(4) Promosi sekolah terkendala tidak bisa tatap muka door to door saat pandemi covid-19

(5) Butuh biaya operasional dan perawatan fasilitas sekolah sehingga biaya daftar pun mahal

(6) Butuh pengeluaran ekstra untuk peralatan hybrid kamera webcam dan wireless mic saat pandemi covid-19 karena separuh murid belajar di kelas dan sisanya belajar dari rumah

    OPPORTUNITY (PELUANG / EKSTERNAL)

(1) Mendapatkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah untuk tambahan penghasilan sekolah

(2) Mendapatkan kuota gratis dari Kementerian Pendidakan dan Kebuayaan bagi murid dan guru untuk belajar daring meskipun jumlah terbatas atau tidak memadai

(3) Belum banyak kompetitor sekolah negeri maupun swasta berbasis teknologi informasi dan penyiaran televisi di wilayah Tangerang Selatan

      THREAT (ANCAMAN / EKSTERNAL)

(1) Mayoritas orang tua yang terdampak pandemi covid-19 memilih menyekolahkan anak ke sekolah negeri karena biaya lebih murah

(2) Kebijakan Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menyulitkan promosi dan pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah

 

(B)    DAMPAK PANDEMI COVID-19

����������� Rizam Nuruzzaman Guru sekaligus Pembina OSIS SMK Bina Informatika, menjelaskan tingkat penerimaan peserta didik baru (PPDB) menurun 10% selama dua tahun pandemi covid-19 lantaran banyak orang tua yang kehilangan pendapatan sehingga memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri agar biaya lebih murah. Jumlah murid baru yang diterima berkisar 120 orang selama dua tahun pademi covid-19 jauh dari target sebelum pandemi covid-19 yang biasanya mencapai 150 murid.

����������� Selain itu, hampir separuh murid dari beberapa kelas tertunda pembayaran bulanan sekolah (Sumbangan Pembinaan Pendidikan atau SPP) karena penghasilan orang tuanya berkurang. Bagi murid yang orang tuanya terkendala keuangan, SMKS Bina Informatika memberikan kelonggaran batas waktu pembayaran dan seluruh murid menerima diskon 50% SPP. Bagi murid baru ada dispensasi biaya uang masuk sekolah yang bisa dicicil tiga sampai empat kali.

���������� Imbas Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai Level 4 bagi SMKS Bina Informatika adalah promosi yang biasa door to door jemput bola presentasi dari sekolah ke sekolah harus diubah via daring melalui zoom meeting dan webinar (web seminar). Biasanya sebelum pandemi covid-19 panita PPDB bisa mendatangi 30 sekolah untuk promosi yang terbagi dalam 3 gelombang penerimaan murid baru. Namun, saat PPDB dan PPKM, panitia hanya melakukan webinar satu sampai dua kali webinar selama tiga gelombang penerimaan murid baru. Promosi door to door dinilai lebih efektif menjaring lebih banyak minat murid baru ketimbang promosi virtual. Mayoritas calon murid baru kurang antusias mengikuti webinar dibanding menyimak langsung pemaparan promosi panitia PPDB.

����������� Saat kasus covid-19 meningkat di awal pandemi April 2020, SMKS Bina Informatika menerapkan full belajar daring. Sementara saat pandemi covid-19 melandai pada Agustus 2021 hingga Maret 2022, Bina Informatika menerapkan pembelajaran hybrid atau 50% tatap muka. Pembelajaran kembali tatap muka 100% sejak April 2022 saat wilayah Tangerang Selatan dinyatakan bebas covid-19. Untuk mempermudah akses materi pelajaran, absensi murid maupun guru, dan penilaian maka digunakan aplikasi BI-SMART yang bisa diakses via ponsel serta komputer. Aplikasi BI-SMART sampai saat pandemi covid-19 melandai pun masih digunakan.

Beberapa pihak menganggap pembelajaran daring tidak semulus belajar tatap muka di kelas. Pegawasan guru terhadap murid saat daring dianggap tidak maksimal dan kurang efektif layaknya pembelajaran di kelas. Sinyal internet kurang stabil sering menjadi kendala komunikasi yang berjalan antara guru dan murid saat daring. Bahkan kadang pelanggaran disiplin ataupun tata tertib lebih mudah saat belajar daring karena guru sulit mengawasi murid seperti jarang memakai seragam sekolah ataupun hadir tidak tepat waktu dan tidak mengaktifkan kamera dengan alasan kendala sinyal internet.

Beberapa hari sebelum penerapan belajar daring, pengelola SMK Bina Informatika termasuk Kepala Sekolah telah melakukan sosialisasi tata tertib belajar daring. Para orang tua murid diundang mengikuti pertemuan virtual selama dua jam yang disebut webinar POPP (Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik). Bahkan, para murid Kelas 10, Kelas 11, dan Kelas 12 semua jurusan di SMK Bina Informatika juga diundang secara khusus mengikuti pertemuan virtual. Pertemuan para murid dan orangtua bersama Kepala Sekolah dan Guru sengaja dijadwalkan terpisah. Tujuannya agar para murid lebih mudah memahami peraturan belajar daring dan bebas bertanya kepada Guru maupun Kepala Sekolah. Sosialisasi bagi murid pada pagi hari dan sosialisasi kepada orangtua mulai siang hari. Orang tua wajib diundang karena orangtua perlu dilibatkan setiap kegiatan sekolah terutama belajar daring mengingat murid SMK perlu pengawasan orang tua.

Rizam Nuruzzaman Guru sekaligus Pembina OSIS SMK Bina Informatika, menjelaskan pengelola sekolah telah menjalankan komunikasi dengan baik dalam sosialisasi tata tertib belajar daring agar dipahami dan dipatuhi murid. Meskipun penerapannya, ada murid yang segera paham mematuhi aturan dan ada pula sebagian murid yang melanggar aturan. Jika sifatnya pelanggaran atau kelalaian murid, maka guru akan memberikan teguran hingga tindakan tegas.

Salah satu contoh pelanggaran sering terjadi adalah murid tidak hadir tepat waktu untuk belajar daring. Selain sosialisasi aturan tertulis di awal melalui acara POPP (Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik), setiap guru selalu mengingatkan murid sebelum belajar daring agar murid hadir tepat waktu. Jika pelangaran terus berlanjut setelah ada teguran, guru bisa bertindak tegas dengan tidak membolehkan murid tersebut ikut belajar daring yang diinfokan kepada orangtua.

Contoh pelanggaran lain yang sering terjadi saat belajar daring adalah murid tidak mengaktifkan kamera. Padahal guru selalu menyampaikan atau mengingatkan aturan tertulis sekolah yang mewajibkan murid mengaktifkan kamera. Saat ditelusuri, beragam alasan murid tidak mengaktifkan kamera di antaranya kuota internet terbatas sehingga lebih irit jika tidak mengaktifkan kamera atau alasan teknis kamera rusak.

Menyikapi pelanggaran ini, guru memberikan teguran maupun peringatan tapi keterbatasan guru saat mengajar daring adalah tidak bisa selalu memberikan teguran dalam satu kali pertemuan karena justru akan menghabiskan waktu lebih banyak memberikan teguran daripada menyampaikan materi pengajaran. Selama tidak mengganggu pembelajaran, guru �terpaksamengizinkan murid ikut belajar daring tanpa mengaktifkan kamera. Setiap guru yakin murid sudah paham tata tertib belajar daring karena sudah ada sosialiasi ataupun pemberitahuan. Penerapannya dikembalikan pada kesadaran tanggung jawab sebagai murid mematuhi aturan belajar daring.

Dari penjelasan Rizam Nuruzzaman, sebagai organisasi sekolah, pengelola SMK Bina Informatika sudah menerapkan fungsi komunikasi informatif dan regulatif meskipun ada kendala dalam pelaksanannya. Menurut Sendjaja (1994) ada 4 fungsi komunikasi dalam organisasi, yaitu:

(1) Fungsi informatif, organisasi dipandang sebagai sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang diterima memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaan lebih pasti.

(2) Fungsi Regulatif, berkaitan dengan peraturan dalam organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yang memiliki kewenangan mengendalikan semua informasi yang disampaikan dan memberi perintah agar dilaksanakan. Kemudian berkaitan dengan pesan regulatif yang pada dasarnya berorientasi pada kerja. Bawahan butuh kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan.

(3) Fungsi Persuasif, dalam mengatur organisasikekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai harapan sehingga banyak pimpinan lebih suka mempersuasi bawahan daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian lebih besar dibanding jika pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangan.

(4) Fungsi Integratif, setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi (bulletin atau news letter) dan laporan kemajuan organisasi. Kemudian saluran komunikasi informal seperti perbincangan pribadi sesama karyawan selama istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun darmawisata. Aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan berpartisipasi lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

Pendapat senada disampaikan Ambarwati, Guru Bimbingan Penyuluhan sekaligus Wali Kelas 10 Multimedia 1 SMK Bina Informatika, pengelola SMK Bina Informatika telah menyiapkan dan menyampaikan aturan pembelajaran daring yang harus dipatuhi murid. Bagi murid yang melanggar akan dikenakan sanksi ringan hingga berat. Namun, bagi murid yang mematuhi aturan bakal mendapatkan hadiah atau reward untuk memacu semangat belajar.

Tidak dapat dihindari, salah satu alasan murid melanggar aturan belajar daring seperti tidak hadir tepat waktu dan tidak mengaktifkan kamera adalah rasa bosan atau jenuh. Hampir setiap hari berbulan-bulan murid hanya menghadapi suasana nyaris tidak berubah. Masih menurut Ambarwati, kondisi ini menjadi tantangan bagi guru agar lebih kreatif dan dinamis dalam berkomunikasi maupun menyampaikan materi pembelajaran sehingga menarik minat murid ikut belajar daring tanpa melanggar aturan.

Secara psikologis memasuki jenjang pendidikan SMK tergolong fase usia remaja yang dianggap sebagai masa labil yaitu anak berusaha mencari jati diri dan mudah menerima informasi dari luar dirinya tanpa pemikiran lebih lanjut (Hurlock, 1980). Menurut Jean Piaget dalam buku The Science of Psychology karya Laura A. King (2008:117-120), ada 4 tahapan perkembangan kognitif anak. Salah satunya fase remaja, anak mulai bisa membuat alasan dengan pemikiran abstrak, idealis, dan logis.

Ambarwati tidak membantah pembelajaran daring yang terlalu lama misalnya lebih dari satu tahun bisa berdampak kurang efektif. Saat belajar daring, komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid tidak berlangsung intensif. Ada keterbatasan jarak atau hambatan yang menyelimuti pembelajaran daring seperti kendala teknis gangguan sinyal internet. Guru pun tidak memiliki kedekatan emosional atau psikologis dengan murid yang seharusnya diperlukan dalam belajar mengajar. Guru juga tidak bisa mengawasi secara langsung layaknya belajar tatap muka di kelas.

Sementara itu, menurut Dharma Sudirman, salah satu orang tua murid SMK Bina Informatika, ada dua hal yang tidak bisa dipenuhi pembelajaran daring, yaitu kedisiplinan serta hidup sosialisasi. Saat belajar daring, pengawasan guru berkurang sehingga berpotensi menurunkan tingkat disiplin murid. Saat belajar daring, sosialisasi emosional maupun psikologis murid dengan teman sebaya belum sempurna karena tidak bertemu secara nyata melainkan hanya di dunia maya. Dharma Sudirman berpendapat, posisi guru kurang dominan atau tidak terlalu penting saat daring karena tidak ada interaksi secara intensif antara guru dan murid. Sebaiknya guru melakukan komunikasi dua arah saat daring dengan mengajak atau memancing murid ikut berinteraksi seperti gencar membuka forum diskusi tanya jawab dan memberikan reward atau hadiah jika murid berhasil menjawab pertanyaan guru atau aktif bertanya.

Serupa dengan pendapat ayahnya, sang anak Hasan Sudirman, siswa Kelas 12 Broadcasting TV SMK Bina Informatika, menganggap pembelajaran daring kurang efektif karena komunikasi guru dan murid tidak berjalan optimal karena sering terhambat gangguan sinyal internet. Murid sering bertanya lebih lanjut kepada guru melalui whatsapp jika ada materi yang belum dipahami saat belajar daring. Bahkan murid kadang perlu riset di google search atau youtube untuk memahami materi yang disampaikan guru saat daring.

Sedangkan Utami Ramadhana, orang tua Reva Ramadhani, siswi Kelas 10 Multimedia 2 SMK Bina Informatika, mengatakan pembelajaran daring kurang efektif untuk pelajaran yang lebih banyak praktik ketimbang teori atau mengutamakan keterampilan dibanding pengetahuan. Menurut Utami Ramadhana, peran orang tua diperlukan untuk membantu sekaligus mengawasi anaknya saat pembelajaran daring agar longgarnya pengawasan guru tidak disalahgunakan.

Pembelajaran akan efektif jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid terjadi secara intensif (Yasol Iriantara, Komunikasi pembelajaran, Interaksi Komunikasi dan edukatif dalam Kelas, Bandung: PT. remaja Rosdakarya, 2014). Tujuan pendidikan itu akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Jika prosesnya tidak komunikatif, tidak mungkin tujuan pendidikan itu akan tercapai. Dalam pembelajaran sehebat apapun perangkat pembelajaran yang disusun guru, tanpa ada interaksi antara guru dan murid yang harmonis maka tujuan pembelajaran tidak tercapai optimal. Guru harus mampu menguasai pola interaksi dan teknik komunikasi yang baik dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus ada interaksi. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara guru dengan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.

Hidayat dalam Rizky (2011:1) menjelaskan efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Semakin besar persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Efektivitas secara umum menunjukkan seberapa jauh tercapai tujuan yang telah ditentukan (Rahadhitya & Darsono, 2015).

Indikator efektivitas belajar adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu, keterlibatan murid secara aktif menunjukkan efetivitas pembelajaran. Belajar mengajar tergolong efektif saat pembelajaran mencapai tujuan atau murid dapat memahami materi pelajaran dan mempraktikkannya.

John Carroll (Supardi, 2013) pakar pendidikan psikologi dalam bukunya yang berjudul �A Model of School Learning�, menyatakan Instructional Effectiveness tergantung lima faktor, yaitu: 1) Attitude; 2) Ability to Understand Instruction; 3) Perseverance; 4) Opportunity; 5) Quality of Instruction. Dengan mengetahui kelima faktor tersebut, pembelajaran berjalan efektif apabila terdapat sikap dan kemauan dalam diri anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi yang disampaikan. Apabila kelima faktor tersebut tidak ada maka kegiatan belajar mengajar anak tidak akan berjalan dengan baik. Kegiatan pembelajaran yang efektif sangat dibutuhkan anak untuk membantu mengembangkan daya pikir.

Wabah pandemi Covid-19 mengakibatkan segala kegiatan terhenti. Salah satunya�� pembelajaran yang semula tatap muka secara langsung menjadi tatap muka virtual. Belajar daring ini bentuk kebijakan pemerintah guna mencegah penyebaran covid-19. Pembelajaran daring biasanya menggunakan media perantara komunikasi, banyak aplikasi yang biasa digunakan yaitu whatsapp, google classroom, E-learning, dan zoom meeting (Kareba, 2020). Pembelajaran daring dilakukan hampir sama belajar tatap muka di kelas. Namun, media perangkat yang menjadi metode baru pembelajaran ini menjadi tantangan bagi guru dan murid. Guru bekerja keras memastikan muridnya mengikuti metode yang sudah disusun secara daring, bila dibandingkan metode konvensional masih ada murid sulit memperhatikan (Kareba, 2020).

Secara psikologi, pembelajaran konvensional merupakan metode cukup efektif, karena murid dengan mudah memahami gaya mengajar guru. Selain itu bagi guru, mereka dapat memahami murid secara emosional sehingga membentuk karakter murid. Melihat fenomena pembelajaran daring ini proses komunikasi yang diciptakan harus sama berhasil saat belajar di kelas. Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran terwujud melalui komunikasi efektif antara murid dan guru.

�����������

(C)    KOMUNIKASI GURU DAN MURID

����������� Komunikasi yang terjadi saat belajar daring di SMKS Bina Informatika Tangerang Selatan melibatkan guru dan murid, tergolong komunikasi interpersonal menjadi tanggung jawab kedua pihak. Menurut Joseph A. DeVito dalam Effendy (2003:30), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang dengan berbagai dampaknya dan berpeluang untuk memberikan umpan balik segera.

����������� Komunikasi yang diterapkan guru kepada murid dengan mendekatkan diri kepada anak-anak. Pada dasarnya, seorang anak hanya ingin terbuka kepada orang yang dekat dengan dirinya. Karena itu, ikatan guru dan murid melekat melalui komunikasi interpersonal.

����������� Ciri komunikasi interpersonal dilihat secara keseluruhan berdasarkan kedekatan individu secara fisik, adanya keterbukaan, memiliki keakraban dan kedekatan secara intens dalam kadar tertentu (Mapiare, 2006). Sedangkan Sugiyono (2005) menjelaskan komunikasi interpernsoal adalah bentuk komunikasi yang terjalin melalui pesan yang dikirim maupun diterima secara langsung dan memiliki efek umpan balik. Sugiyono (2005) turut menjelaskan mengenai ciri komunikasi interpersonal yaitu ada keterbukaan dan rasa empati sebagai bentuk perasaan yang sama kepada orang lain, memiliki sikap memberi dukungan dan partisipasi, penilaian positif, rasa kesamaan (setara), arus pesan yang timbal balik, terjadi interaksi, dan ada akibat dari banyaknya informasi yang diterima.

����������� Supaya komunikasi interpersonal berjalan efektif maka harus memiliki lima aspek efektifitas komunikasi seperti yang dikemukakan Joseph DeVito dalam tulisan Liliweri (1997), yaitu:

(1) Keterbukaan (openness). Mengacu pada kesediaan komunikator bereaksi jujur terhadap stimulus. dan keterbukaan peserta komunikasi interpersonal kepada orang yang mengajak berinteraksi.

(2) Empati (emphaty). Menempatkan diri secara emosional dan intelektual pada posisi orang lain.

(3) Sikap Mendukung (supportiveness). Ditampilkan dengan mengurangi sikap defensif komunikasi. Tampilkan semangat motivasi agar sikap atau perilaku seseorang menjadi lebih baik.

(4) Sikap Positif (positiveness). Seseorang yang memiliki sikap positif akan mengkomunikasikan hal positif. Sikap positif juga dapat dipicu dorongan (stroking) yaitu perilaku menghargai keberadaan orang lain.

(5) Kesetaraan (equality). Pengakuan individu memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1. Suasana belajar daring guru dan murid di SMKS Bina Informatika

Gambar 2. Ketentuan umum tata tertib belajar daring di SMKS Bina Informatika

 

Gambar 3. Ketentuan khusus tata tertib belajar daring di SMKS Bina Informatika

 

KESIMPULAN

 

1.    Pandemi covid-19 signifikan mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran SMKS Bina Informatika.

2.    Sarana internet sangat mempengaruhi kelancaran belajar daring

3.    Komunikasi antara guru dan murid dalam pembelajaran daring merupakan salah satu hal yang penting dalam kegiatan belajar mengajar.

4.    Komunikasi interpersonal guru dan murid menjadi indikator penting terwujudnya komunikasi efektif.

5.    Regulasi juga diperlukan agar pembelajaran berjalan tertib secara daring maupun luring.

6.    Teknik komunikasi guru kepada murid dalam penyampaian materi terus dikembangan agar murid tidak jenuh secara daring maupun luring.

7.    Dorongan atau motivasi murid untuk aktif partisipasi pun harus ditingkatkan.

8.    Sebagai evaluasi, sebaiknya diterapkan pula penilaian vertikal dari murid kepada guru agar ada peningkatan kemampuan mengajar.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Cangara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

DeVito, J.A. (2007). The Interpersonal Communications Book. USA: Pearson Education.

Effendy, O. U. (2003). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Cetakan Kesembilan Belas. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Effendy, Onong, 1993, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung : PT.Citra

Aditya Bhakti.

Iriantara, Yasol. 2014. Komunikasi Pembelajaran (Interaksi Komunikatif dan Edukatif di Dalam Kelas). Bandung; PT. Remaja Rosdakarya.

King, L.A. (2008). The Science of Psychology. McGraw Hill-International Edition.

Lihapsari Prihatini dkk., 1997. Teknik Komunikasi Tepat Guna Dalam Mengatasi Segala Bentuk Perubahan, Bandung: PPs UNPAD.

Liliweri, Alo. (1997). Komunikasi Antara Pribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Palapah, 1991. Studi Ilmu Komunikasi. Bandung : Universitas Padjadjaran.

Permana, Hepy., 2020, Pola Komunikasi Guru dan Murid Menggunakan Metode Pembelajaran Kelas Daring di Kota Bandung, Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol-9, No.1. Bandung.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Umar, H. (2008). Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Edisi Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Aan Widiyono, PGSD, FTIK, UNISNU Jepara. Efektivitas Perkuliahan Daring Pada Mahasiswa PGSD saat Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan, Volume 8, Nomor 2, Tahun 2020.

Adi Putra Parlindungan Lubis. Dialektika Relasional Orang Tua Dan Anak Dalam Proses Belajar Di Era Covid-19. Jurnal Ilmu Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Teuku Umar.

Dera Setia Kristantia, dkk. Manajemen Strategi PT Garuda Indonesia (persero) tbk. Di Tengah Masa Pandemi. Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen Volume 5 Nomor 1, 2021.

Dian Aprianita, dkk. Analisis Pesan Kampanye #dirumahaja Di Tengah Pandemi Covid-19. Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi Dan Sosial Vol. 4 No.2 Tahun 2020.

Dwinda Nur Baety & Dadang Rahman Munandar, Universitas Singaperbangsa Karawang. Analisis Efektifitas Pembelajaran Daring Dalam Menghadapi Wabah Pandemi Covid-19. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Halaman 880-889.

Laili, R. N., & Nashir, M. (2021). Higher Education Students Perception on Online Learning during Covid-19 Pandemic. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(3), 689�697.

Selvina Lengkong, dkk. E-Journal �Acta Diurna� Volume 6. No. 1. Tahun 2017. Strategi Public Relations Dalam Pemulihan Citra Perusahaan (studi kasus Rumah Makan Kawan Baru Megamas Manado).

Yunitasari, R., & Hanifah, U. (2020). Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Minat Belajar Siswa pada Masa COVID 19. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 2(3), 232�243.