STRATEGI
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SWASTA
BINA
INFORMATIKA TANGERANG SELATAN MENANGANI KRISIS AGAR BERTAHAN SELAMA PANDEMI
COVID-19
�
Ramadhan Wibisono 1, Karmila
Syarif 2�
Magister Ilmu komunikasi Universitas
Paramadina Jakarta
[email protected]1, [email protected]2
|
Riwayat
Artikel: Received: 10-09-2022 Revised: 16-09-2022 Accepted: 29-09-2022 Keywords:
Covid-19; Education; Strategy Kata Kunci: Covid-19, Edukasi; Strategi |
|
Abstract In order to avoid the transmission of covid-19
through physical or face-to-face meetings, the government had implemented
policies ranging from Large-Scale Social Restrictions (PSBB) to the
Implementation of Community Activity Restrictions (PPKM) Level 1 to Level 4.
Private Vocational High Schools (SMKS) Bina Informatika
South Tangerang, including private educational institutions affected by the
implementation of PSBB and PPKM. The majority of educational activities are
implemented online through the Zoom Meeting application or Google Meet. The
new student acceptance rate (PPDB) decreased by 10% during the two years of
the covid-19 pandemic because many parents lost their income and chose to
send their children to public schools so that costs were cheaper. In
addition, almost half of the students from several classes were delayed in
paying their monthly school fees (Sumbangan Pembinaan Pendidikan or SPP) because their parents'
income was decreasing. Not to mention that online learning is considered less
effective due to a number of obstacles. Through this research, the author
wants to know the strategy of SMKS Bina Informatika
in dealing with the crisis in order to survive in the midst of the covid-19
pandemic. This study uses a qualitative method with a descriptive approach
and SWOT analysis through library support so as to strengthen the results of
the study. While the data collection techniques are through interviews,
observation, documentation and triangulation or a combination (Sugiyono, 2016:225). Based on the results of the study,
when covid-19 cases increased at the beginning of the April 2020 pandemic,
SMKS Bina Informatika implemented full online
learning. Meanwhile, when the covid-19 pandemic slowed from August 2021 to
March 2022, Bina Informatics implemented hybrid or 50% face-to-face learning.
100% face-to-face learning since April 2022 when the South Tangerang area was
declared covid-19 free.
To facilitate access to subject matter, student and teacher attendance, and
assessment, the BI-SMART application is used which can be accessed via mobile
phones and computers. For students whose parents are financially constrained,
SMKS Bina Informatika provides a flexible payment
deadline and all students receive a 50% discount. For new students there is
dispensation for tuition fees or school buildings can be repaid three to four
times. |
|
|
Abstrak
Guna menghindari
penularan covid-19 melalui
pertemuan fisik atau tatap muka,
pemerintah sempat menerapkan kebijakan mulai dengan Pembatasan Skala Sosial Berskala
Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai
Level 4. Sekolah Menengah
Kejuruan Swasta (SMKS)
Bina Informatika Tangerang Selatan, termasuk lembaga pendidikan swasta yang terkena dampak penerapan PSBB dan PPKM. Mayoritas
aktivitas pendidikan diterapkan secara daring melalui aplikasi zoom meeting atau
google meet. Tingkat penerimaan peserta didik baru (PPDB) menurun 10% selama dua tahun
pandemi covid-19 karena banyak orang tua yang kehilangan pendapatan sehingga memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri agar biaya lebih murah.
Selain itu, hampir separuh murid dari beberapa kelas tertunda pembayaran bulanan sekolah (Sumbangan Pembinaan Pendidikan atau SPP) karena
penghasilan orang tuanya berkurang. Belum lagi pembelajaran daring dianggap kurang efektif karena sejumlah kendala. Melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui strategi SMKS Bina Informatika menangani krisis supaya bertahan di tengah pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan analisis SWOT melalui dukungan kepustakaan sehingga memperkuat hasil penelitian. Sedangkan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan triangulasi atau gabungan (Sugiyono, 2016:225). Berdasarkan hasil penelitian, saat kasus covid-19 meningkat di awal pandemi April 2020, SMKS
Bina Informatika menerapkan
full belajar
daring. Sementara saat pandemi covid-19 melandai pada Agustus 2021 hingga Maret 2022, Bina Informatika menerapkan pembelajaran hybrid atau
50% tatap muka. Pembelajaran kembali tatap muka 100% sejak April 2022 saat wilayah
Tangerang Selatan dinyatakan bebas
covid-19. Untuk mempermudah
akses materi pelajaran, absensi murid maupun guru, dan penilaian maka digunakan aplikasi BI-SMART yang bisa diakses via ponsel serta komputer. Bagi murid yang orang tuanya terkendala keuangan, SMKS Bina Informatika memberikan kelonggaran batas waktu pembayaran dan seluruh murid menerima diskon 50%. Bagi murid baru ada dispensasi
biaya uang pangkal atau gedung sekolah
bisa dicicil tiga sampai empat
kali. |
Corresponding Author: Ramadhan Wibisono�
E-mail: [email protected]
���������������������������������������������������������������������������������������������������������������
�����������������������������������������������������������������
PENDAHULUAN
Dunia pendidikan
saat ini dituntut untuk dikembangkanya pendekatan pembelajaran sesuai dinamika pendidikan di Indonesia
yang berakar pada Undang-Undang
Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor
20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang berakar pada nilai agama, kebudayaan nasional dan tanggap terhadap tuntutan zaman sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Nurdiansyah:2016). Menurut Siagian (2006:273), pendidikan
adalah keseluruhan proses teknik dan metode belajar mengajar dalam rangka mengalihkan
pengetahuan dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan.
Pendidikan
selalu menjadi sorotan banyak orang, tidak hanya dari
pemegang kebijakan tapi juga pengguna (murid). Pada kenyataannya masih banyak masalah yang harus dihadapi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang
dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dari luar peserta
didik termasuk perkembangan teknologi, maupun faktor internal dari dalam diri
peserta didik (Nurdiansyah, N. : 2018).
Nurdyansyah
memperjelas �The
education world must innovate in a whole. It means that all the devices in
education system have its role and be the factors which take the importance in successfull of education system (Nurdiansyah,
N. & Fitriani, T.: 2018). Pendidikan hendaknya berlangsung interaktif, inspiratif, menyenangkan, serta memotivasi peserta didik untuk partisipasi
aktif sesuai bakat dan minat. Pendidikan harus melibatkan banyak pihak yang diimbangi penggunaan teknologi guna mempermudah tercapainya suasana nyaman bagi murid.
Selain
penggunaan teknologi, faktor penting penunjang keberhasilan pendidikan adalah komunikasi yang baik antara peserta didik dan pendidik. Dalam dunia pendidikan, komunikasi merupakan roh. Tanpa roh
komunikasi yang baik, pendidikan akan kehilangan cara dan orientasi membangun kualitas output
yang diharapkan. Menurut Onong Uchjana Effendi, komunikasi secara umum sebagai penyampaian
pernyataan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi hubungan sosial. Dalam pengertian
paradigmatis, komunikasi adalah penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk mengabarkan atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, lisan maupun melalui media (Uchjana Effendi, Onong, Dinamika Komunikasi).
Secara bentuk menurut Deddy Mulyana
komunikasi dibagi dua yaitu komunikasi
verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi
verbal adalah komunikasi
yang berdasarkan pada interaksi
antar manusia dengan menggunakan kata kata lisan maupun
tertulis dan dilakukan secara sadar guna
berhubungan dengan manusia lain (Mulyana, 2002). Sementara menurut Verdeber dalam buku Alo Liliweri
(2005:12) dikatakan bahwa komunikasi verbal dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Jadi komunikasi yang dilakukan menggunakan simbol yang telah disepakat dalam suatu bahasa.
Sedangkan
menurut M. Sobry Sutikno sebagaimana dikutip Moh. Gufron
dalam bukunya Komunikasi Pendidikan (2016) komunikasi
adalah penyampaian pesan informasi dari suatu pihak
ke pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya.
Moh.
Gufron juga dalam bukunya Komunikasi Pendidikan (2016)
mendefinisikan komunikasi pendidikan secara sederhana, yaitu komunikasi yang terjadi dalam suasana belajar.
Sementara komunikasi pendidikan secara istilah yaitu tindakan
memberikan kontribusi
sangat penting dalam pemahaman dan praktik interaksi atau tindakan seluruh individu yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Selama
pandemi covid-19 melanda
Indonesia, penggunaan teknologi
diperlukan dalam segala sektor kehidupan,
termasuk dunia pendidikan. Sebab, belajar mengajar antara murid dan guru tetap harus berjalan.
Penggunaan teknologi
internet di tengah pandemi
COVID-19 terbukti meningkat
berdasarkan data riset HootSuite dan agensi marketing sosial We Are Social tentang
Global Digital Report 2020. Hasil peneltian tersebut memaparkan bahwa hampir 64 % penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Hasil
penelitian juga menyebutkan
jumlah pengguna internet di
Indonesia mencapai 175,4 juta
orang, dari total sementara
penduduk Indonesia sekitar
272,1 juta jiwa (We
Are Social and Hootsuite,
2020).
Guna
menghindari penularan
covid-19 melalui pertemuan fisik atau tatap
muka, maka mayoritas aktivitas pendidikan diterapkan secara daring. Pemerintah sempat menerapkan kebijakan mulai dengan Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai
Level 4. Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) Bina Informatika Tangerang Selatan, termasuk
lembaga pendidikan swasta yang terkena dampak penerapan PSBB dan PPKM. Meskipun ada pembatasan
pertemuan fisik atau tatap muka
saat pandemi covid-19, belajar mengajar tetap harus berjalan.� Guru dan murid tidak
bertemu di kelas melainkan belajar mengajar guru dan murid melalui komunikasi daring dengan teknologi jaringan internet dan aplikasi zoom meeting
atau google
meet.
Imbas
PSBB dan PPKM lainnya bagi
SMKS Bina Informatika adalah
tingkat penerimaan peserta
didik baru (PPDB) menurun 10% selama dua tahun pandemi
covid-19 lantaran banyak
orang tua kehilangan pendapatan sehingga memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah
negeri agar biaya lebih murah. Selain itu,
hampir separuh murid dari beberapa kelas
tertunda pembayaran bulanan sekolah (Sumbangan Pembinaan
Pendidikan atau SPP) karena penghasilan orang tuanya berkurang.
Bahkan promosi yang biasa door to door jemput bola presentasi dari sekolah ke
sekolah harus diubah via daring melalui zoom meeting dan webinar (web seminar).�
Beberapa
pihak menganggap pembelajaran daring tidak semulus belajar tatap muka di kelas.
Pegawasan guru terhadap
murid saat daring dianggap tidak maksimal dan kurang efektif layaknya pembelajaran di kelas. Sinyal internet kurang stabil sering
menjadi kendala komunikasi yang berjalan antara guru dan murid saat
daring. Bahkan kadang pelanggaran disiplin ataupun tata tertib lebih mudah saat
belajar daring karena guru sulit mengawasi murid seperti jarang memakai seragam sekolah ataupun hadir tidak tepat
waktu dan tidak mengaktifkan kamera dengan alasan kendala
sinyal internet.
Mengalihkan kegiatan
belajar dari sekolah ke rumah
adalah upaya untuk mengatasi masalah penularan Covid-19 pada lingkup anak-anak sekolah. Namun pengalihan ini nyatanya menimbulkan masalah baru (edukasi.kompas.com,
2020). Misalnya masalah terkait pemahaman anak-anak sekolah terhadap materi yang disampaikan oleh para gurunya. Semula mereka mudah
memahami materi pembelajaran karena disampaikan dalam jarak yang dekat dan mereka dapat berinteraksi
dengan para gurunya tanpa sekat. Sedangkan
proses belajar dari rumah pada era Covid-19 yang menggunakan
media daring membuat mereka
rentan menghadapi sejumlah hambatan seperti jaringan internet yang tidak stabil, gawai
yang digunakan tidak memadai, atau penjelasan
materi yang tidak komprehensif dari para guru sehingga sulit dipahami anak sekolah.�
Pembelajaran
daring di SMKS Bina Informatika Tangerang Selatan misalnya yang sudah berjalan dua tahun.
Beberapa hari sebelum penerapan belajar daring, pengelola SMK
Bina Informatika termasuk Kepala Sekolah telah melakukan sosialisasi tata tertib belajar daring. Para orang tua
murid diundang mengikuti pertemuan virtual selama dua jam yang disebut webinar POPP
(Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik). Bahkan, para murid Kelas 10, Kelas 11, dan Kelas 12 semua jurusan di SMK Bina Informatika juga diundang secara khusus mengikuti
pertemuan virtual. Pertemuan
para murid dan orangtua bersama
Kepala Sekolah dan Guru sengaja dijadwalkan terpisah. Tujuannya agar para
murid lebih mudah memahami peraturan belajar daring dan bebas bertanya kepada Guru maupun Kepala Sekolah.
Sosialisasi bagi murid pada
pagi hari dan sosialisasi kepada orangtua mulai siang hari. Orang tua wajib diundang
karena orangtua perlu dilibatkan setiap kegiatan sekolah terutama belajar daring mengingat murid
SMK perlu pengawasan orang tua.
Rizam
Nuruzzaman Guru sekaligus
Pembina OSIS SMK Bina Informatika, menjelaskan pengelola sekolah telah menjalankan
komunikasi dengan baik dalam sosialisasi
tata tertib belajar daring
agar dipahami dan dipatuhi
murid. Meskipun penerapannya,
ada murid yang segera paham mematuhi aturan dan ada pula sebagian murid yang melanggar aturan. Jika sifatnya pelanggaran atau kelalaian murid, maka guru akan memberikan teguran hingga tindakan tegas.
Salah
satu contoh pelanggaran sering terjadi adalah murid tidak hadir tepat
waktu untuk belajar daring. Selain sosialisasi aturan tertulis di awal melalui acara POPP (Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik), setiap guru selalu mengingatkan murid sebelum belajar daring agar murid
hadir tepat waktu. Jika pelangaran terus berlanjut setelah ada teguran,
guru bisa bertindak tegas dengan tidak
membolehkan murid tersebut ikut belajar daring yang diinfokan kepada orangtua.
Contoh
pelanggaran lain yang sering
terjadi saat belajar daring adalah murid tidak mengaktifkan kamera. Padahal guru selalu menyampaikan atau mengingatkan aturan tertulis sekolah yang mewajibkan murid mengaktifkan kamera. Saat ditelusuri, beragam alasan murid tidak mengaktifkan kamera di antaranya kuota internet terbatas sehingga lebih irit jika tidak
mengaktifkan kamera atau alasan teknis
kamera rusak.
Menyikapi
pelanggaran ini, guru memberikan teguran maupun peringatan tapi keterbatasan guru saat mengajar daring adalah tidak bisa
selalu memberikan teguran dalam satu
kali pertemuan karena justru akan menghabiskan
waktu lebih banyak memberikan teguran daripada menyampaikan materi pengajaran. Selama tidak mengganggu pembelajaran, guru �terpaksa� mengizinkan murid ikut belajar daring tanpa mengaktifkan kamera. Setiap guru yakin murid sudah paham tata tertib belajar daring karena sudah ada
sosialiasi ataupun pemberitahuan. Penerapannya dikembalikan pada kesadaran tanggung jawab sebagai murid mematuhi aturan belajar daring.
����������� Dalam dunia pendidikan, pembelajaran akan efektif jika
komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid terjadi secara intensif (Yasol Iriantara, Komunikasi pembelajaran, Interaksi Komunikasi dan edukatif dalam Kelas, Bandung: PT. remaja Rosdakarya, 2014). Tujuan pendidikan itu akan tercapai
jika prosesnya komunikatif. Jika prosesnya tidak komunikatif, tidak mungkin tujuan
pendidikan itu akan tercapai. Dalam pembelajaran sehebat apapun perangkat pembelajaran yang disusun guru, tanpa ada interaksi antara
guru dan siswa yang harmonis
maka tujuan pembelajaran tidak tercapai optimal. Guru harus mampu menguasai pola interaksi dan teknik komunikasi yang baik dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus
ada interaksi. Pendidikan pada
dasarnya merupakan interaksi antara guru dengan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.
Melalui penelitian ini, penulis ingin mengetahui
strategi SMKS Bina Informatika menangani krisis supaya bertahan di tengah pandemi covid-19. Penelitian ini secara teoritis akan memberikan manfaat ilmu pengetahuan
berupa data maupun informasi pembelajaran daring saat pandemi covid-19 atau kondisi tertentu
lainnya dan strategi pengelola
sekolah swasta menangani krisis agar bertahan di tengah pandemi covid-19 maupun kondisi rawan lainnya.
Manfaat penelitian ini bisa memberikan
kontribusi dalam dunia pendidikan, terutama saat belajar daring agar berjalan efektif sekaligus sebagai saran kepada pengelola SMKS Bina Informatika Tangerang Selatan agar menyiapkan
strategi pembelajaran daring dan upaya
penanganan krisis yang efektif.
METODE PENELITIAN
�
A) METODE KUALITATIF DESKRIPTIF
Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan studi kasus untuk menganalisis fenomena melalui dukungan kepustakaan sehingga memperkuat hasil penelitian. Langkah-langkah metode
deskriptif kualitatif menurut Salim & Haidir (2019)
adalah sebagai berikut; (1) Perumusan masalah, (2) menentukan jenis informasi yang dibutuhkan, (3) menentukan prosedur pengumpulan data, (4) menentukan informasi dalam prosedur penggelolaan data, dan (5) menarik
kesimpulan penelitian.
Sementara menurut Sugiyono (2016:9) deskriptif kualitatif adalah metode penelitian
berdasarkan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen), peneliti sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara trigulasi (gabungan) dan analisis data bersifat induktif kualitatif.
Objek penelitian yang diteliti yaitu strategi SMKS Bina
Informatika dan efektivitas
komunikasi saat belajar daring selama pandemi covid-19, apa kendalanya, dan upaya mengatasi kendala tersebut, termasuk fasilitas pendukung yang digunakan belajar daring. Sementara data yang digunakan,
data primer berupa hasil wawancara guru, murid, dan perwakilan
orang tua murid. Data primer adalah
sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono,
2016:137). Sedangkan data sekunder
berupa dokumen tambahan seperti profil sekolah dan tata tertib belajar daring. Data sekunder menurut Sugiyono (2016:137), sumber tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. Definisi lainnya, data
sekunder adalah data primer
yang diolah lebih lanjut dan disajikan pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain misalnya bentuk tabel atau diagram (Umar,
2008:42). Diungkapkan Ruslan (2006:35), data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara, umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis
yang disusun dalam bentuk arsip atau
dokumen.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Sugiyono
(2016:225) terdiri dari wawancara, observasi, dokumentasi dan triangulasi atau gabungan. Menurut Sugiyono, (2016:231) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab. Masih menurut Sugiyono (2016:145), observasi merupakan teknik pengolahan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan
teknik lain. Saat observasi, peneliti melihat dan praktik belajar mengajar daring bersama murid SMKS Bina Informatika
Kelas 10 Multimedia, Kelas
11 Broadcasting Televisi, dan Kelas
12 Broadcasting Televisi.
Dokumentasi bisa tulisan, gambar atau karya
monumental seseorang (Sugiyono,
2013:240). Dokumen bentuk
tulisan misalnya catatan harian, biografi, peraturan dan kebijakan. Dokumen berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup
atau sketsa. Dokumen bentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar,
patung, dan film. Studi dokumen merupakan pelengkap metode observasi dan wawancara penelitian kualitatif.
Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat mengabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data
(Sugiyono, 2016:241). Tujuan
triangulasi bukan mencari kebenaran beberapa fenomena melainkan peningkatan pemahaman peneliti terhadap hasil penemuan atau obeservasi
dan wawancara.
Dalam penelitian ini peneliti mengunakan satu macam triangulasi
yaitu triangulasi sumber. Menurut Sugiyono (2016:241) triangulasi sumber berarti mendapatkan data dari sumber yang berbeda dengan teknik sama.
Data dikatakan sah atau valid apabila terdapat konsistensi atau kesesuaian antara informasi yang diberikan oleh informan satu dengan informan
lainnya. Definisi lainnya, triangulasi sumber data adalah menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber data wawancara mendalam dari beberapa
informan yang menghasilkan bukti atau data berbeda dan memberikan pandangan berbeda mengenai fenomena yang diteliti (Moleong, 2005).
B)
ANALISIS SWOT
Analisis SWOT adalah metode yang digunakan untuk mengteahui strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan),
opportunities (Kesempatan), dan threats (Ancaman) dalam suatu spekulasi bisnis (Fatimah, 2016). Analisis
SWOT merupakan instrumen perencanaan strategis klasik yang memberikan cara sederhana yang terbaik dalam menentukan
strategi (Dera Setia Kristanti, dkk.
2021). Analisis SWOT dapat membantu penyusunan strategi sebuah organisasi maupun perusahaan (Fatimah,
2016). Secara umum, kegunaan Analisis SWOT sebagai berikut :
a. Menganalisis kondisi diri dan lingkungan pribadi.
b. Menganalisis kondisi internal lembaga dan lingkungan eksternal lembaga.
c. Mengetahui sejauh mana diri kita di dalam lingkungan
kita.
d. Mengetahui posisi sebuah perusahaan/
organisasi di antara perusahaan/ organisasi yang
lain.�
Analisis SWOT memudahkan pencapaian target dengan memperhatikan beberapa hal yaitu:
A) Bagaimana kekuatan yang dimiliki mampu mengambil keuntungan dari peluang yang ada?
B) Bagaimana mengatasi kelemahan yang mencegah keuntungan dari peluang yang ada?
C) Bagaimana kekuatan yang dimiliki mampu menghadapi ancaman yang ada?
D) Bagaimana mengatasi kelemahan yang dimilki mampu membuat
ancaman menjadi nyata atau dapat
menciptakan suatu ancaman baru?
Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis
dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya dalam matrik SWOT meliputi :�
Teknik ini dirancang
Albert Humphrey yang memimpin proyek riset pada Universitas
Stanford periode 1960-an hingga
1970-an dengan
menggunakan data perusahaan
Fortune 500.

C)
DEFINISI STRATEGI
Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen
(management) untuk mencapai
tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan
yang hanya menunjukan arah saja, melainkan
harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya (Selvina L. Lengkong dkk, 2017). Menurut J.L. Thompson dalam
Oliver (2007: 2), strategi sebagai cara mencapai sebuah
hasil akhir menyangkut tujuan atau sasaran organisasi.
Bennet dalam Oliver (2007:2) menggambarkan
strategi sebagai �arah yang
dipilih organisasi untuk diikuti dalam
mencapai misinya�.
Manajemen strategis adalah proses penetapan tujuan organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran tersebut, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan
kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi (Selvina L. Lengkong dkk, 2017). Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas[*]dari
berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai
tujuan organisasi (Selvina L. Lengkong dkk, 2017). Menurut Thomas L.Wheelen dan J. David Hunger, manajemen strategi adalah serangkaian keputusan manajerial dan kegiatan yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Kegiatan tersebut terdiri dari perumusan
atau perencanaan strategi, pelaksanaan atau implementasi, dan evaluasi (Selvina L. Lengkong dkk, 2017).
Manejemen strategi merupakan
kegiatan memformulasi, mengimplementasi, serta mengevaluasi strategi yang dijalankan
suatu perusahaan (Dera
Setia Kristanti, dkk.
2021). Di tahap awal proses
manajemen strategi, pengelola
perusahaan atau organisasi mengidentifikasi faktor internal dan eksternal untuk memanfaatkan kekuatan mengatasi kelemahan agar meraih peluang dan menghindari ancaman (Dera Setia Kristanti, dkk. 2021). Setelah identifikasi, pengelola perlu menganalisis kondisi perusahaan atau organisasi saat ini untuk
menentukan� strategi yang akan
digunakan (David, 2011).
Pemilihan strategi memerlukan
pertimbangan yang matang karena pada dasarnya pemilihan strategi akan mengorbankan sumber daya dan peluang yang mungkin ada pada strategi lain
(Dera Setia Kristanti, dkk.
2021). Dalam penerapan manajemen strategi, terdapat beberapa alternatif strategi yang
dapat diimplementasikan
oleh perusahaan antara lain
(David, 2011) :
D)
DEFINSI EFEKTIVITAS
Hidayat dalam Rizky (2011:1) menjelaskan efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Semakin besar persentase
target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Efektivitas secara umum menunjukkan seberapa jauh tercapai
tujuan yang ditentukan (Rahadhitya & Darsono, 2015).
Indikator efektivitas belajar adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu, keterlibatan murid secara aktif menunjukkan
efetivitas pembelajaran. Belajar mengajar tergolong efektif saat pembelajaran mencapai tujuan atau murid dapat memahami materi pelajaran dan mempraktikkannya.
John Carroll (Supardi, 2013) pakar pendidikan psikologi dalam bukunya yang berjudul �A Model of
School Learning�, menyatakan Instructional
Effectiveness tergantung lima faktor,
yaitu: 1) Attitude; 2) Ability to Understand
Instruction; 3) Perseverance; 4) Opportunity; 5) Quality of Instruction. Dengan mengetahui kelima faktor tersebut,
pembelajaran berjalan efektif apabila terdapat sikap dan kemauan dalam diri
anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi
yang disampaikan. Apabila kelima faktor tersebut
tidak ada maka kegiatan belajar
mengajar anak tidak akan berjalan
dengan baik. Kegiatan pembelajaran yang efektif sangat dibutuhkan anak untuk membantu
mengembangkan daya pikir.
E) PEMBELAJARAN
DARING
Pembelajaran daring atau online dikenal
pula dengan pembelajaran jarak jauh yang berlangsung dalam jaringan antara pengajar dan murid tidak langsung bertatap muka. Menurut Isman
(2016), pembelajaran daring adalah
pemanfaatan jaringan
internet dalam pembelajaran.
Sedangkan menurut Meidawati (2019), pembelajaran
daring dipahami sebagai pendidikan formal yang diselenggarakan
sekolah saat peserta didik dan instrukturnya (guru) berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan. Pembelajaran daring dapat dilakukan dari mana saja dan kapan saja tergantung ketersediaan alat yang digunakan (Albert Efendi Pohan,
2020).
����� Laili & Nashir
(2021) menyatakan media pembelajaran
online yang mudah diakses dapat mendukung pembelajaran mempengaruhi hasil belajar mengajar.
Penggunaan media yang tepat
sangat dibutuhkan untuk dapat memberikan akses pembelajaran yang maksimal bagi peserta
didik selama masa darurat COVID-19.
Dalam buku The
One World Schoolhouse, Salman Khan (Bilfaqih & Qomarudin, 2015) mengatakan, pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang yang menghubungkan telinga murid dengan mulut guru. Namun pendidikan adalah apa yang diterima dan dicerna dari masing-masing pikiran. Hal ini menunjukkan pembelajaran sejatinya masih tetap berjalan tanpa harus kontak
langsung.
Sejalan dengan penelitian Yunitasari dan Hanifah (2020), pembelajaran selama pandemi covid-19 sangat bergantung dari faktor kesiapan sekolah, siswa dan guru. Namun faktor eksternal
yang dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran daring tetap ada dan sangat penting diketahui sehingga kendala pembelajaran daring dapat diantisipasi.
����� Menurut Isman (Dewi, 2020), pembelajaran daring merupakan interaksi pembelajaran menggunakan komputer dan akses internet. Pembelajaran daring adalah suatu implementasi dari proses belajar mengajar dengan saling bertukar informasi menggunakan jaringan internet untuk mendapatkan target yang lebih masif (Bilfaqih & Qomarudin, 2015).
����� Dalam Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan saat Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19) yang dikeluarkan pemerintah sebagai solusi mewujudkan pendidikan yang efektif, salah satu kebijakannya adalah belajar mengajar dari rumah secara
daring atau pembelajaran jarak jauh guna
mencegah penyebaran virus
di lingkungan pendidikan
(Santoso, 2020).
Melalui Surat Edaran
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020, proses belajar dari rumah diatur
dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan anak-anak sekolah serta melindungi
mereka dari dampak buruk penularan
Covid-19 (kemdikbud.go.id, 2020).
HASIL DAN PEMBAHASAN
(A) ANALISIS
SWOT SMKS BINA INFORMATIKA
�
STRENGTH
(KEKUATAN / INTERNAL)
(1)Memiliki 5 jurusan
favorit yaitu : (https://sekolah.data.kemdikbud.go.id)
1.1 Multimedia
2 kelas (rombongan belajar) dari kelas
1 sampai kelas 3
1.2 Broadcasting
TV 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas
1 sampai kelas 3
1.3 Animasi 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai
kelas 3
1.4 Teknik
Komputer Jaringan 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas
1 sampai kelas 3
1.5 Rekasaya Perangkat
Lunak 1 kelas (rombongan belajar) dari kelas 1 sampai
kelas 3
(2) Sekolah swasta di
lokasi strategis dengan akreditasi A yang dilengkapi 11 ruang kelas AC, 4 laboratorium memadai, 1 perpustakaan, 6
toilet, dan 1 studio siaran termasuk
peralatan siar (3 kamera HDV, 3 kamera DSLR, 2 mixer, 3 mikrofon,
4 HT, dan 1 clip on)
(3)Memiliki 23 guru yang mayoritas praktisi di dunia kerja (industri) sesuai bidang keahlian
(4)Menggunakan jaringan
internet serat optik
�
WEAKNESS
(KELEMAHAN / INTERNAL)
(1) Kondisi keuangan terdampak pandemi covid-19 karena mayoritas iuaran bulanan murid tertunda dan jumlah penerimaan murid baru menurun dalam tiga
tahun terakhir
(2) Jaringan internet kadang
terganggu sehingga kurang stabil saat
belajar daring ataupun mengakses website
(3) Saat pandemi
covid-19 antara guru dan murid harus
belajar daring sehingga ada kendala penyampaian
dan pemahaman materi ajar
(4) Promosi sekolah terkendala tidak bisa tatap muka
door to door saat
pandemi covid-19
(5) Butuh biaya operasional dan perawatan fasilitas sekolah sehingga biaya daftar pun mahal
(6) Butuh pengeluaran
ekstra untuk peralatan hybrid kamera webcam dan
wireless mic saat
pandemi covid-19 karena separuh murid belajar di kelas dan sisanya belajar dari rumah
�
OPPORTUNITY
(PELUANG / EKSTERNAL)
(1) Mendapatkan dana BOS (Bantuan
Operasional Sekolah) dari pemerintah untuk tambahan penghasilan sekolah
(2) Mendapatkan kuota
gratis dari Kementerian Pendidakan
dan Kebuayaan bagi murid
dan guru untuk belajar
daring meskipun jumlah terbatas atau tidak
memadai
(3) Belum
banyak kompetitor sekolah negeri maupun swasta berbasis teknologi informasi dan penyiaran televisi di wilayah Tangerang
Selatan
�
THREAT
(ANCAMAN / EKSTERNAL)
(1) Mayoritas orang tua
yang terdampak pandemi
covid-19 memilih menyekolahkan
anak ke sekolah
negeri karena biaya lebih murah
(2) Kebijakan Pembatasan
Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menyulitkan
promosi dan pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah
(B) DAMPAK
PANDEMI COVID-19
����������� Rizam Nuruzzaman Guru sekaligus Pembina
OSIS SMK Bina Informatika, menjelaskan
tingkat penerimaan peserta
didik baru (PPDB) menurun 10% selama dua tahun pandemi
covid-19 lantaran banyak
orang tua yang kehilangan pendapatan sehingga memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah
negeri agar biaya lebih murah. Jumlah murid baru yang diterima berkisar 120 orang selama dua tahun pademi
covid-19 jauh dari target sebelum pandemi covid-19 yang biasanya mencapai 150 murid.
����������� Selain itu, hampir
separuh murid dari beberapa kelas tertunda pembayaran bulanan sekolah (Sumbangan Pembinaan
Pendidikan atau SPP) karena penghasilan orang tuanya berkurang. Bagi murid yang orang tuanya
terkendala keuangan, SMKS
Bina Informatika memberikan
kelonggaran batas waktu pembayaran dan seluruh murid menerima diskon 50% SPP. Bagi murid baru ada dispensasi
biaya uang masuk sekolah yang bisa dicicil tiga sampai
empat kali.
����������� Imbas Pembatasan Skala Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 sampai
Level 4 bagi SMKS Bina Informatika
adalah promosi yang biasa door to door jemput bola presentasi dari sekolah ke
sekolah harus diubah via daring melalui zoom meeting dan webinar (web seminar). Biasanya
sebelum pandemi covid-19 panita PPDB bisa mendatangi 30 sekolah untuk promosi yang terbagi dalam 3 gelombang penerimaan murid baru. Namun, saat
PPDB dan PPKM, panitia hanya
melakukan webinar
satu sampai dua kali webinar selama tiga gelombang penerimaan murid baru. Promosi door to door dinilai lebih efektif
menjaring lebih banyak minat murid baru ketimbang promosi virtual. Mayoritas calon murid baru kurang antusias mengikuti webinar dibanding menyimak langsung pemaparan promosi panitia PPDB.�
����������� Saat kasus covid-19 meningkat di awal pandemi April 2020, SMKS
Bina Informatika menerapkan
full belajar
daring. Sementara saat pandemi covid-19 melandai pada Agustus 2021 hingga Maret 2022, Bina Informatika menerapkan pembelajaran hybrid atau
50% tatap muka. Pembelajaran kembali tatap muka 100% sejak April 2022 saat wilayah
Tangerang Selatan dinyatakan bebas
covid-19. Untuk mempermudah
akses materi pelajaran, absensi murid maupun guru, dan penilaian maka digunakan aplikasi BI-SMART yang bisa diakses via ponsel serta komputer. Aplikasi BI-SMART sampai saat pandemi covid-19 melandai pun masih digunakan.
Beberapa
pihak menganggap pembelajaran daring tidak semulus belajar tatap muka di kelas.
Pegawasan guru terhadap
murid saat daring dianggap tidak maksimal dan kurang efektif layaknya pembelajaran di kelas. Sinyal internet kurang stabil sering
menjadi kendala komunikasi yang berjalan antara guru dan murid saat
daring. Bahkan kadang pelanggaran disiplin ataupun tata tertib lebih mudah saat
belajar daring karena guru sulit mengawasi murid seperti jarang memakai seragam sekolah ataupun hadir tidak tepat
waktu dan tidak mengaktifkan kamera dengan alasan kendala
sinyal internet.
Beberapa
hari sebelum penerapan belajar daring, pengelola SMK Bina Informatika termasuk Kepala Sekolah telah melakukan
sosialisasi tata tertib belajar daring. Para orang tua
murid diundang mengikuti pertemuan virtual selama dua jam yang disebut webinar POPP
(Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik). Bahkan, para murid Kelas 10, Kelas 11, dan Kelas 12 semua jurusan di SMK Bina Informatika juga diundang secara khusus mengikuti
pertemuan virtual. Pertemuan
para murid dan orangtua bersama
Kepala Sekolah dan Guru sengaja dijadwalkan terpisah. Tujuannya agar para
murid lebih mudah memahami peraturan belajar daring dan bebas bertanya kepada Guru maupun Kepala Sekolah.
Sosialisasi bagi murid pada
pagi hari dan sosialisasi kepada orangtua mulai siang hari. Orang tua wajib diundang
karena orangtua perlu dilibatkan setiap kegiatan sekolah terutama belajar daring mengingat murid
SMK perlu pengawasan orang tua.
Rizam
Nuruzzaman Guru sekaligus
Pembina OSIS SMK Bina Informatika, menjelaskan pengelola sekolah telah menjalankan
komunikasi dengan baik dalam sosialisasi
tata tertib belajar daring
agar dipahami dan dipatuhi
murid. Meskipun penerapannya,
ada murid yang segera paham mematuhi aturan dan ada pula sebagian murid yang melanggar aturan. Jika sifatnya pelanggaran atau kelalaian murid, maka guru akan memberikan teguran hingga tindakan tegas.
Salah
satu contoh pelanggaran sering terjadi adalah murid tidak hadir tepat
waktu untuk belajar daring. Selain sosialisasi aturan tertulis di awal melalui acara POPP (Pertemuan Orangtua Peserta dan Pendidik), setiap guru selalu mengingatkan murid sebelum belajar daring agar murid
hadir tepat waktu. Jika pelangaran terus berlanjut setelah ada teguran,
guru bisa bertindak tegas dengan tidak
membolehkan murid tersebut ikut belajar daring yang diinfokan kepada orangtua.
Contoh
pelanggaran lain yang sering
terjadi saat belajar daring adalah murid tidak mengaktifkan kamera. Padahal guru selalu menyampaikan atau mengingatkan aturan tertulis sekolah yang mewajibkan murid mengaktifkan kamera. Saat ditelusuri, beragam alasan murid tidak mengaktifkan kamera di antaranya kuota internet terbatas sehingga lebih irit jika tidak
mengaktifkan kamera atau alasan teknis
kamera rusak.
Menyikapi
pelanggaran ini, guru memberikan teguran maupun peringatan tapi keterbatasan guru saat mengajar daring adalah tidak bisa
selalu memberikan teguran dalam satu
kali pertemuan karena justru akan menghabiskan
waktu lebih banyak memberikan teguran daripada menyampaikan materi pengajaran. Selama tidak mengganggu pembelajaran, guru �terpaksa� mengizinkan murid ikut belajar daring tanpa mengaktifkan kamera. Setiap guru yakin murid sudah paham tata tertib belajar daring karena sudah ada
sosialiasi ataupun pemberitahuan. Penerapannya dikembalikan pada kesadaran tanggung jawab sebagai murid mematuhi aturan belajar daring.
Dari
penjelasan Rizam Nuruzzaman, sebagai organisasi sekolah, pengelola SMK Bina Informatika sudah menerapkan fungsi komunikasi informatif dan regulatif meskipun ada kendala
dalam pelaksanannya. Menurut Sendjaja (1994) ada 4 fungsi komunikasi
dalam organisasi, yaitu:
�(1) Fungsi informatif, organisasi dipandang sebagai sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi
berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih
baik dan tepat waktu. Informasi yang diterima memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaan lebih pasti.
(2) Fungsi Regulatif,
berkaitan dengan peraturan dalam organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh
terhadap fungsi regulatif, yaitu berkaitan dengan orang-orang yang
berada dalam tataran manajemen, yang memiliki kewenangan mengendalikan semua informasi yang disampaikan dan memberi perintah agar dilaksanakan. Kemudian berkaitan dengan pesan regulatif yang pada dasarnya berorientasi pada kerja. Bawahan butuh kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan.
(3) Fungsi Persuasif, dalam mengatur organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu
membawa hasil sesuai harapan sehingga banyak pimpinan lebih suka mempersuasi bawahan daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan sukarela oleh karyawan akan menghasilkan
kepedulian lebih besar dibanding jika pimpinan sering
memperlihatkan kekuasaan
dan kewenangan.
(4) Fungsi Integratif, setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu saluran komunikasi
formal seperti penerbitan
khusus dalam organisasi (bulletin atau news
letter) dan laporan kemajuan
organisasi. Kemudian saluran komunikasi
informal seperti perbincangan
pribadi sesama karyawan selama istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun darmawisata. Aktivitas ini akan
menumbuhkan keinginan berpartisipasi lebih besar dalam diri
karyawan terhadap organisasi.
Pendapat
senada disampaikan Ambarwati, Guru Bimbingan Penyuluhan sekaligus Wali Kelas 10 Multimedia 1 SMK
Bina Informatika, pengelola
SMK Bina Informatika telah menyiapkan dan menyampaikan aturan pembelajaran daring yang harus dipatuhi murid. Bagi murid yang melanggar akan dikenakan sanksi ringan hingga
berat. Namun, bagi murid yang mematuhi aturan bakal mendapatkan
hadiah atau reward untuk memacu semangat belajar.�
Tidak
dapat dihindari, salah satu alasan murid melanggar aturan belajar daring seperti tidak hadir tepat
waktu dan tidak mengaktifkan kamera adalah rasa bosan atau jenuh. Hampir
setiap hari berbulan-bulan murid hanya menghadapi suasana nyaris tidak berubah.
Masih menurut Ambarwati, kondisi ini menjadi
tantangan bagi guru agar lebih kreatif dan dinamis dalam berkomunikasi
maupun menyampaikan materi pembelajaran sehingga menarik minat murid ikut belajar daring tanpa melanggar aturan.
Secara
psikologis memasuki jenjang pendidikan SMK tergolong fase usia remaja yang dianggap sebagai masa labil yaitu anak
berusaha mencari jati diri dan mudah
menerima informasi dari luar dirinya
tanpa pemikiran lebih lanjut (Hurlock, 1980).
Menurut Jean Piaget dalam
buku The
Science of Psychology karya Laura A. King
(2008:117-120), ada 4 tahapan
perkembangan kognitif anak. Salah satunya fase remaja, anak
mulai bisa membuat alasan dengan pemikiran abstrak, idealis, dan logis.
Ambarwati tidak membantah pembelajaran daring
yang terlalu lama misalnya lebih dari satu
tahun bisa berdampak kurang efektif. Saat belajar
daring, komunikasi dan interaksi antara
guru dengan murid tidak berlangsung intensif. Ada keterbatasan jarak atau hambatan yang menyelimuti pembelajaran daring seperti kendala teknis gangguan sinyal internet. Guru pun tidak memiliki kedekatan emosional atau psikologis dengan murid yang seharusnya diperlukan dalam belajar mengajar.
Guru juga tidak bisa mengawasi secara langsung layaknya belajar tatap muka
di kelas.
Sementara
itu, menurut Dharma
Sudirman, salah satu orang tua
murid SMK Bina Informatika, ada
dua hal yang tidak bisa dipenuhi
pembelajaran daring, yaitu kedisiplinan serta hidup sosialisasi. Saat belajar daring, pengawasan guru berkurang sehingga berpotensi menurunkan tingkat disiplin murid. Saat belajar daring, sosialisasi emosional maupun psikologis murid dengan teman sebaya belum
sempurna karena tidak bertemu secara
nyata melainkan hanya di dunia maya. Dharma Sudirman berpendapat,
posisi guru kurang dominan atau tidak
terlalu penting saat daring karena tidak ada interaksi
secara intensif antara guru dan murid. Sebaiknya
guru melakukan komunikasi dua arah saat
daring dengan mengajak atau memancing murid ikut berinteraksi seperti gencar membuka forum diskusi tanya jawab dan memberikan reward atau hadiah jika
murid berhasil menjawab pertanyaan guru atau aktif bertanya.
Serupa
dengan pendapat ayahnya, sang anak Hasan
Sudirman, siswa Kelas 12 Broadcasting
TV SMK Bina Informatika, menganggap
pembelajaran daring kurang efektif karena komunikasi guru dan murid tidak berjalan optimal karena sering terhambat gangguan sinyal internet. Murid sering bertanya lebih lanjut kepada
guru melalui whatsapp jika ada
materi yang belum dipahami saat belajar
daring. Bahkan murid kadang
perlu riset di google search atau
youtube untuk memahami materi yang disampaikan guru saat daring.
Sedangkan
Utami Ramadhana, orang tua Reva Ramadhani, siswi Kelas 10 Multimedia 2 SMK Bina
Informatika, mengatakan pembelajaran daring kurang efektif untuk pelajaran
yang lebih banyak praktik ketimbang teori atau mengutamakan
keterampilan dibanding pengetahuan. Menurut Utami Ramadhana, peran orang tua diperlukan untuk membantu sekaligus mengawasi anaknya saat pembelajaran daring agar longgarnya pengawasan guru tidak disalahgunakan.�
Pembelajaran akan efektif jika
komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid terjadi secara intensif (Yasol Iriantara, Komunikasi pembelajaran, Interaksi Komunikasi dan edukatif dalam Kelas, Bandung: PT. remaja Rosdakarya, 2014). Tujuan pendidikan itu akan tercapai
jika prosesnya komunikatif. Jika prosesnya tidak komunikatif, tidak mungkin tujuan
pendidikan itu akan tercapai. Dalam pembelajaran sehebat apapun perangkat pembelajaran yang disusun guru, tanpa ada interaksi antara
guru dan murid yang harmonis maka
tujuan pembelajaran tidak tercapai optimal. Guru harus mampu menguasai
pola interaksi dan teknik komunikasi yang baik dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus
ada interaksi. Pendidikan
pada dasarnya merupakan interaksi antara guru dengan murid untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.
�� Hidayat dalam Rizky (2011:1) menjelaskan efektivitas adalah suatu ukuran
yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Semakin besar persentase
target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Efektivitas secara umum menunjukkan seberapa jauh tercapai
tujuan yang telah ditentukan (Rahadhitya & Darsono, 2015).
Indikator efektivitas
belajar adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu, keterlibatan murid secara aktif menunjukkan
efetivitas pembelajaran. Belajar mengajar tergolong efektif saat pembelajaran mencapai tujuan atau murid dapat memahami materi pelajaran dan mempraktikkannya.
John Carroll (Supardi,
2013) pakar pendidikan psikologi dalam bukunya yang berjudul �A Model of School Learning�, menyatakan Instructional Effectiveness tergantung
lima faktor, yaitu: 1)
Attitude; 2) Ability to Understand Instruction; 3) Perseverance; 4)
Opportunity; 5) Quality of Instruction. Dengan mengetahui kelima faktor tersebut, pembelajaran berjalan efektif apabila terdapat sikap dan kemauan dalam diri
anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi
yang disampaikan. Apabila kelima faktor tersebut
tidak ada maka kegiatan belajar
mengajar anak tidak akan berjalan
dengan baik. Kegiatan pembelajaran yang efektif sangat dibutuhkan anak untuk membantu
mengembangkan daya pikir.
Wabah
pandemi Covid-19 mengakibatkan
segala kegiatan terhenti. Salah satunya�� pembelajaran yang semula tatap muka
secara langsung menjadi tatap muka
virtual. Belajar daring ini
bentuk kebijakan pemerintah guna mencegah penyebaran covid-19. Pembelajaran daring biasanya menggunakan media perantara komunikasi, banyak aplikasi yang biasa digunakan yaitu whatsapp, google classroom, E-learning, dan zoom meeting
(Kareba, 2020). Pembelajaran
daring dilakukan hampir sama belajar tatap
muka di kelas. Namun, media perangkat yang menjadi metode baru pembelajaran ini menjadi tantangan
bagi guru dan murid. Guru bekerja
keras memastikan muridnya mengikuti metode yang sudah disusun secara daring, bila dibandingkan metode konvensional masih ada murid sulit memperhatikan (Kareba, 2020).
Secara
psikologi, pembelajaran konvensional merupakan metode cukup efektif,
karena murid dengan mudah memahami gaya mengajar guru. Selain itu bagi
guru, mereka dapat memahami murid secara emosional sehingga membentuk karakter murid. Melihat fenomena pembelajaran daring ini proses komunikasi yang diciptakan harus sama berhasil
saat belajar di kelas. Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran terwujud melalui komunikasi efektif antara murid dan guru.
�����������
(C) KOMUNIKASI
GURU DAN MURID
����������� Komunikasi
yang terjadi saat belajar daring di SMKS Bina Informatika
Tangerang Selatan melibatkan guru dan murid, tergolong komunikasi
interpersonal menjadi tanggung
jawab kedua pihak. Menurut Joseph A. DeVito dalam Effendy
(2003:30), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang dengan berbagai dampaknya dan berpeluang untuk memberikan umpan balik segera.
����������� Komunikasi yang diterapkan guru kepada murid dengan mendekatkan diri kepada anak-anak. Pada dasarnya, seorang anak hanya ingin
terbuka kepada orang yang dekat dengan dirinya.
Karena itu, ikatan guru dan
murid melekat melalui komunikasi interpersonal.
����������� Ciri komunikasi interpersonal dilihat secara keseluruhan berdasarkan kedekatan individu secara fisik, adanya keterbukaan,
memiliki keakraban dan kedekatan secara intens dalam kadar
tertentu (Mapiare, 2006). Sedangkan Sugiyono (2005) menjelaskan komunikasi interpernsoal adalah bentuk komunikasi yang terjalin melalui pesan yang dikirim maupun diterima secara langsung dan memiliki efek umpan
balik. Sugiyono (2005) turut menjelaskan mengenai ciri komunikasi
interpersonal yaitu ada keterbukaan dan rasa empati sebagai bentuk perasaan yang sama kepada orang lain, memiliki sikap memberi dukungan
dan partisipasi, penilaian positif, rasa kesamaan (setara), arus pesan
yang timbal balik, terjadi interaksi, dan ada akibat dari banyaknya
informasi yang diterima.�
����������� Supaya komunikasi interpersonal berjalan
efektif maka harus memiliki lima aspek efektifitas komunikasi seperti yang dikemukakan Joseph DeVito dalam
tulisan Liliweri (1997), yaitu:
(1) Keterbukaan (openness).
Mengacu pada kesediaan komunikator bereaksi jujur terhadap stimulus. dan keterbukaan peserta komunikasi interpersonal kepada
orang yang mengajak berinteraksi.�
(2) Empati (emphaty). Menempatkan diri secara emosional
dan intelektual pada posisi
orang lain.�
(3) Sikap Mendukung (supportiveness). Ditampilkan
dengan mengurangi sikap defensif komunikasi. Tampilkan semangat motivasi agar sikap atau perilaku
seseorang menjadi lebih baik.
(4) Sikap Positif (positiveness). Seseorang
yang memiliki sikap positif akan mengkomunikasikan
hal positif. Sikap positif juga dapat dipicu dorongan
(stroking) yaitu
perilaku menghargai keberadaan orang lain.
(5) Kesetaraan (equality).
Pengakuan individu memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan.

Gambar 1. Suasana
belajar daring guru dan murid di SMKS Bina Informatika

Gambar 2. Ketentuan umum tata tertib belajar daring di SMKS Bina Informatika

Gambar 3. Ketentuan khusus tata tertib belajar daring di SMKS Bina Informatika
KESIMPULAN
1.
Pandemi
covid-19 signifikan mempengaruhi
pendapatan dan pengeluaran
SMKS Bina Informatika.�
2.
Sarana internet sangat mempengaruhi kelancaran belajar daring
3.
Komunikasi antara guru dan murid dalam pembelajaran daring merupakan
salah satu hal yang penting dalam kegiatan
belajar mengajar.
4.
Komunikasi
interpersonal guru dan murid menjadi indikator penting terwujudnya komunikasi efektif.
5.
Regulasi
juga diperlukan agar pembelajaran
berjalan tertib secara daring maupun luring.
6.
Teknik komunikasi
guru kepada murid dalam penyampaian materi terus dikembangan agar murid tidak jenuh secara
daring maupun luring.
7.
Dorongan atau motivasi murid untuk aktif partisipasi
pun harus ditingkatkan.
8.
Sebagai evaluasi, sebaiknya diterapkan pula penilaian vertikal dari murid kepada guru agar ada peningkatan kemampuan mengajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Cangara,
Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
DeVito,
J.A. (2007). The Interpersonal
Communications Book. USA: Pearson Education.
Effendy,
O. U. (2003). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Cetakan Kesembilan Belas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Effendy, Onong,
1993, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung : PT.Citra
Aditya
Bhakti.
Iriantara, Yasol. 2014. Komunikasi Pembelajaran (Interaksi Komunikatif dan Edukatif di Dalam Kelas). Bandung; PT. Remaja Rosdakarya.
King, L.A. (2008). The Science of Psychology. McGraw
Hill-International Edition.
Lihapsari Prihatini dkk., 1997. Teknik Komunikasi Tepat Guna Dalam Mengatasi Segala Bentuk Perubahan, Bandung:
PPs UNPAD.
Liliweri, Alo. (1997). Komunikasi Antara Pribadi.
Bandung: Citra Aditya Bakti.
Palapah, 1991. Studi Ilmu Komunikasi.
Bandung : Universitas Padjadjaran.
Permana,
Hepy., 2020, Pola
Komunikasi Guru dan Murid Menggunakan
Metode Pembelajaran Kelas Daring di Kota Bandung, Jurnal
Ilmu Komunikasi, Vol-9,
No.1. Bandung.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D). Bandung: Alfabeta.
Umar, H. (2008). Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Edisi Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Aan Widiyono, PGSD, FTIK, UNISNU Jepara.
Efektivitas Perkuliahan
Daring Pada Mahasiswa PGSD saat
Pandemi Covid-19. Jurnal
Pendidikan, Volume 8, Nomor 2, Tahun 2020.
Adi Putra Parlindungan Lubis. Dialektika Relasional Orang Tua Dan Anak Dalam Proses Belajar Di Era Covid-19. Jurnal
Ilmu Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Teuku Umar.
Dera Setia Kristantia, dkk. Manajemen Strategi PT Garuda Indonesia (persero) tbk. Di Tengah Masa Pandemi. Jurnal Bisnis dan Kajian Strategi Manajemen
Volume 5 Nomor 1, 2021.
Dian Aprianita,
dkk. Analisis Pesan Kampanye #dirumahaja Di
Tengah Pandemi Covid-19. Komunikologi:
Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi Dan Sosial Vol. 4
No.2 Tahun 2020.
Dwinda Nur Baety & Dadang Rahman Munandar, Universitas Singaperbangsa
Karawang. Analisis Efektifitas Pembelajaran Daring Dalam Menghadapi Wabah Pandemi Covid-19. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Halaman
880-889.
Laili, R. N., & Nashir,
M. (2021). Higher Education Students
Perception on Online Learning during Covid-19 Pandemic. Edukatif:
Jurnal Ilmu Pendidikan,
3(3), 689�697.
Selvina Lengkong, dkk. E-Journal �Acta Diurna�
Volume 6. No. 1. Tahun 2017. Strategi Public Relations Dalam Pemulihan Citra Perusahaan (studi
kasus Rumah Makan Kawan Baru
Megamas Manado).
Yunitasari, R., & Hanifah,
U. (2020). Pengaruh Pembelajaran
Daring terhadap Minat Belajar Siswa pada Masa COVID 19.
Edukatif :
Jurnal Ilmu Pendidikan,
2(3), 232�243.�