PENGEMBANGAN
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING EARNING TERHADAP PENINGKATAN
KREATIVITAS ANAK USIA �8 � 12
TAHUN PERSEKUTUAN
ANAK DAN REMAJA DI JEMAAT GKI
EBENHAEZER YOKA�
Konstantina Kreuta1, Mika Gobay2
Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Sentani
|
Riwayat Artikel: Received: 07-12-2022 Revised: 18-12-2022 Accepted: 29-12-2022 Keywords:
Development
of Learning Models, Contextual Teaching Learning, creativity for children
aged 8-12 Kata
Kunci: Pengembangan Model Pembelajaran, Contextual Teaching Learning, kreativitas anak
usia 8 � 12 |
|
Abstract The purpose
of this research is to develop a learning model based on Contextual Teaching
Learning by actively involving Sunday school children aged 8-12 years in this
learning process so that children can be creative, work, increase their
creativity. Therefore Sunday school teachers are expected to be able to build
a Sunday school that is advanced and developing, both in terms of quality and
quantity. Teaching children is not easy, teachers must know children's
learning styles so they can find out what the children's problems are in
learning. If the teacher is not creative in teaching, then what will happen
is the child will feel bored, lazy, bored, and don't like listening to God's
word. Moreover, today's children are increasingly busy with school, courses,
and various other activities, so their activities are very busy. You can
imagine, if the Sunday school program is not interesting, they might feel
"at a loss" to attend Sunday school. If this happens, what will
happen to them, while children are the hope and the future generation of the
church. By looking at the facts that occurred in the Sunday school service of
the GKI Ebenhaezer Yoka Congregation, teachers paid little attention to the
conditions that occurred with Sunday school children. There are so many
obstacles that occur, both because children have more time for
extra-curricular activities, time is so short, teaching the word of God is
not emphasized too much, lack of teaching materials, lack of awareness of
parents to take children to Sunday School. |
|
|
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model
pembelajaran� berbasis Contextual
Teaching Learning dengan melibatkan anak-anak sekolah minggu usia 8 � 12
tahun secara aktif dalam proses penjelajaran ini sehingga anak-anak dapat
berkreasi, berkarya, meningkatkan kreativitas mereka. Oleh sebab itu guru sekolah minggu diharapkan dapat membangun sebuah sekolah minggu yang� maju dan berkembang, baik dalam segi kualitas
maupun kuantitas. Mengajar anak-anak memang tidak mudah, guru harus mengenal gaya belajar anak agar dapat menemukan apa yang menjadi masalah anak di dalam belajar. Apabila guru tidak kreatif dalam mengajar, maka yang terjadiadalah anak akan merasa bosan,
malas, jenuh, dan tidak suka mendengarkan firman Tuhan. Apalagi anak-anak sekarang semakin sibuk dengan sekolah, kursus-kursus, dan berbagai kesibukan lainnya, sehingga kegiatan mereka padat sekali. Bisa dibayangkan, jika acara sekolah minggu tidak menarik, mereka mungkin bisa saja merasa
�rugi� untuk hadir di sekolah minggu. Jika ini yang terjadi, apa yang bakal terjadi kepada mereka, sementara anak-anak adalah harapan dan generasi masa depan gereja. Dengan melihat fakta yang terjadi di dalam pelayanan sekolah minggu Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka, guru kurang memperhatikan kondisi yang terjadi dengan anak-anak sekolah minggu. Ada begitu banyak kendala yang terjadi, baik karena waktu anak lebih banyak
untuk kegiatan ekstra kurikuler, waktu yang begitu singkat, pengajaran firman Tuhan tidak terlalu ditekankan, kurangnya bahan ajar, kurangnya kesadaran orang tua untuk mengajak anak ke Sekolah
Minggu. |
Corresponding
Author: Konstantina Kreuta�
E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Pokok masalah utama yang akan di kedepankan dalam penulisan� ini adalah: Sejauh mana pengembangan model pembelajaran� guru sekolah minggu� terhadap peningkatan kreativitas Anak usia 8 � 12 tahun Persekutuan Anak dan Remaja� Jemaat GKI� Ebenhaezer Yoka.
Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif,
yaitu metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian sehingga
metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah
metode Kualitatif Deskriptif maksudnya ialah untuk mendiskripsikan
atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang memberikan gambaran yang konkrit[*],� mengenai permasalahan yang di hadapi berdasarkan fakta dan gejala-gejala yang dihadapi sebagaimana, sesuai dengan metode deskriptif[�] sedangkan
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat
postpositive yang digunakan untuk
meneliti pada kondisi yang alamiah ,(sebagai lawannya adalah eksperimen).di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci. Sampel sumber
data di ambil secara
postpositive dan snowball ,pengumpulan
data dengan tringulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif ,dan hasil penelitian kualitatif generalisasi
Dalam penelitian kualitatif teknik sampling yang sering digunakan adalah purpoice sampling dan snowball sampling. Dalam penelitian ini penulis menggambarkan� teknik
snowball sampling untuk mendapatkan
sumber data,snowball
sampling adalah teknik pengambilan sambel sumber data ,yang pada awalnya jumlahnnya sedikit,lama-lama menjadi besar.hal ini di lakukan karena dari jumlah
sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan data yang� lengkap.maka peneliti perlu mencari� informasi yang lain untuk mengembangkan data penelitian.
� Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif di lakukan pada saat� di�
peniliti mulai memasuki lapangan penilitian,dan selama penilitian berlangsung Emergensi sampling desigh .caranya��� yaitu peniliti memilih orang tertentu� yang di pertimbangkan
akan memberikan data yang
di perlukan,selanjutnya berdasarkan
data atau informasi yang di
peroleh dari data informasi sebelumnya itu,peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberi
data lebih lengkap.
METODA PENELITIAN
Dalam penelitian ini dengan observasi langsung data yang di gunakan adalah sebagai berikut :
a. Observasi/pengamatan
Dalam metode
Observasi, peneliti mengamati tanpa (Intervensi), subjek Penelitian (tempatnya gejala yang ada pada subjek) dalam suatu
hasil pengamatan itu.Pengamatan tidak hanya dilakukan pada data yang terlihat, tetapi juga bisa mencakup data yang dapat dicium, didengar,
dicakap, dan diraba.Penelitian
dapat mengamati subjek secara langsung,
tetapi juga bisa dari hasil rekaman.Selain
itu juga dilakukan pengamatan adalah gejala-gejala sosial dalam kategori yang tepat, alat bantuan
seperti alat pencatat,lir dan alat mekanik. Dalam pelaksaannya digunakan alat bantu seperti
checklis, sekata penilaian atau alat seperti tipe
rocorde[�].
Pengamatan data dengan
obserfasi langsung adalah cara langsung
untuk mengambil data dengan menggunakan mata tanpa menggunakan
bantuan alat� standar
lain untuk keperluan tersebut.
Menurut marsall
{1995} menyatakan bahwa melalui obserfasi peneliti belajar tentang perilaku , dan makna dari
perilaku tersebut .dengan demikian dalam penelitian ini ,penulis akan
melakukan obserfasi terhadap objek peneliti.
b. Wawancara / intervieuw
Wawancara adalah
merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab. Sehingga
dapat dikordinasikan makna dalam suatu
topic tertentu[�].
Dengan demikian yang akan di lakukan oleh peneliti adalah melakukan wawancara terstuktur dengan cara rsponden sebagai
sampel penelitian terkait dengan topic penelitian tersebut.
c. Studi kepustakaan
Studi kepustakaan
adalah teknik atau cara mengumpulkan
data �data teoritis guna memperoleh pendapat atau pandangan oleh berbagai ahli dengan
mengumpulkan berbagai buku, catatan, dokumentasi guna untuk menunjang penelitian tersebut, dengan demikian penulis akan menggali
informasi sebanyak mungkin dari berbagi
literature yang memperkaya kajian
teoritis maupun analisis terhadap hasil penelitian.
d. Kuesioner/ Angket
Kuesioner atau angket adalah pengumpulan data yang melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang
ditujukan secara tertulispada seseoang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan
dan informasi yang di lakukan
oleh peneliti.[**]
Ada empat tahapan analisis dalam penelitian kualitatif, yaitu :
1.
Pengumpulan data
�Hal pertama yang perlu dilakukan peneliti tentunya mengumpulkan data berdasarkan pertanyaan atau permasalahan yang sudah dirumuskan. Data kualitatif bisa dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara mendalam, kajian dokumen, atau focus group discussion.
2. Reduksi dan kategorisasi
data
Setelah mengumpulkan
data, langkah selanjutnya ialah mereduksi data. Menurut Miles, reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan,
dan transformasi data kasar
yang muncul dari data-data lapangan.
�������� Usai direduksi,
peneliti harus mengkategorikan data sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, data dikelompokkan berdasarkan tanggal, karakteristik informan, atau lokasi penelitian.
Dalam tahap ini, dibutuhkan kemampuan interpretasi data yang baik agar data tersebut tidak salah masuk kategori.
3.� Penampilan data
���������� Display atau
penampilan data merupakan tahap yang perlu dilakukan setelah mereduksi dan mengkategorisasi
data. Menurut Miles, display data adalah analisis merancang deretan dan kolom sebuah metriks
untuk data kualitatif.
��� Berdasarkan rancangan tersebut,
peneliti dapat menentukan jenis serta bentuk data yang dimasukkan ke dalam
kotak-kotak metriks. Penampilan data bisa dilakukan dalam bentuk naratif, bagan, flow chart, dan sebagainya.
4. Penarikan kesimpulan
��������� Hal terakhir yang harus dilakukan adalah menarik kesimpulan. Secara garis besar, kesimpulan harus mencakup informasi-informasi penting dalam penelitian.
Kesimpulan tersebut juga mesti
ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti pembaca dan
tidak berbelit-belit.
Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching Learning
Pembelajaran kontekstual
(Contextual theaching learning) yaitu pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata mendorong anak �membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari- hari. Hal ini melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu ; (1). konstruktivisme (constructivism), (2). bertanya ( quetioning), (3). menemukan (inquiry), (4). masyarakat belajar
(learning commonity), (5). pemodelan (modeling), (6). refleksi
(Reflection) dan (7). penelitian sebenarnya (authentic assessment).������ ������������������
Proses pembelajaran bukan sekedar mentransfer pengetahuan dari guru sekolah minggu ke siswa, tetapi
berlangsung secara
alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya, lebih mementingkan strategi daripada hasil pembelajaran, siswa didorong untuk mengerti apa arti belajar, apa manfaatnya belajar, dan bagaimana mencapainya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai pihak yang membutuhkan bekal hidup di masa depan (https://babel.kemenag.goid/id/opini/599//)
Pembelajaran kontekstual(Contextual theaching learning) adalah sebuah sistem pembelajaran
yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, suatu pembelajaran
yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan
muatan akademis dengan knoteks kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran kontektual
(contextual theaching learning) merupakan
model pembelajaran yang memungkinkan
dimana siswa dapat menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam banyak konteks di dalam dan di luar sekolah untuk memecahkan
masalah yang bersifat simulatif maupun nyata, baik secara
individu maupun bersama-sama.
Pembelajaran ini
lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to
do), siswa tidak sekedar pendengar pasif. Pembelajaran inimengutamakan pada pengetahuan
dan pengalaman nyata (real
word learning), berfikir tingkat
tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif,
kritis, kreatif, memecahkan masalah, siswa belajar menyenangkan,
mengasikkan, tidak membosankan, (joyfull and quantum
learning) dan menggunakan berbagai
sumber belajar. (https://babel.kemenag.goid/id/opini/599// )
Ciri-ciri pembelajaran
CTL antara lain: 1) Adanya kerja sama antar
semua pihak; �������������2) Menekankan pentingnya
pemecahan masalah atau problem; 3) bermuara pada keragaman konteks kehidupan murid yang berbeda-beda;
4) saling menunjang; 5) menyenangkan tidak membosankan; 6) belajar dengan bergairah; 7) pembelajaran terintegrasi; 8) menggunakan
berbagai sumber; 9) murid aktif; 10) sharing dengan teman; 11) murid kritis, guru kreatif; 12) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil
karya murid peta-peta, gambar, artikel, humor, dan sebagainya; 13) segala
sesuatu yang dikerjakan oleh anak harus di sampaikan kepada orang tua sehingga
orang tua dapat mengikuti perkembangan iman dari anak melalui guru sekolah
minggu, anak-anak
juga akan merasa di hargai, diperhatikan (Wanti Rohani 2002 : 12)
Menurut Wina
Sanjaya (2006: 114) terdapat lima karakteristik
penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL yaitu : 1). Dalam CTL pembelajaran
merupakan proses mengaktifkan
pengetahuan yang sudah ada artinya apa
yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain ; 2) . Pembelajaran yang CTL adalah belajar dalam rangka memperoleh
dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu diperoleh
dengan cara deduktif, artinya pembelajarn dimulai dengan membelajarkan secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya ; 3). Pemahaman pengetahuan
yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi
untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta
tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan; 4) . Mempraktekkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut. Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan
dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku siswa; 5) . Melakukan
refleksi strategi pengembangan
pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik terhadap
proses perbaikan dan penyempurnaan
strategi.
Hal ini sejalan dengan
pendapat Jonson (Kunandar� 2007: 274 ) ada
delapan komponen utama dalam pembelajaran
Contextual Teaching Learning yakni : (1) melakukan hubungan yang bermakna artinya siswa dapat
mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan
minatnya secara individual,
orang yang dapat belajar sambil berbuat. (2) melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan siswa membuat hubungan antara sekolah dengan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan yang nyata.(3)
belajar yang diatur sendiri (4) siswa bekerjasama guru membantu (5) berfikir kritis dan kreatif (6) mengasuh dan memelihara pribadi siswa (7) mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan dan memotifasi siswa untuk mencapainya (8) menggunakan penilaian autentik.
Selain itu
juga Sofyan dan Amiruddin
(2007: 16) mengemukakan bahwa
karakteristik pembelajaran
CTL yaitu : (1) kerjasama; (2) saling
menunjang; (3) menyenangkan,
tidak membosankan; (4) belajar dengan bergairah; (5) pembelajaran terintegrasi; (6) menggunakan berbagai sumber; (7) anak aktif; (8) sharing dengan teman; dan (9) peserta didik kritis
dan kreatif.
Inilah beberapa
ciri anak usia madya antara
8 � 12 �tahun, yang disarikan dari beberapa sumber dikutip dari Penulis Wijanarko Utomo March 23, 2018 �: Ciri khas jasmani adalah
sebagai berikut : (1). Mengalami pertumbuhan fisik yang semakin baik dan kuat. Koordinasi
dan keseimbangan tubuh juga
makin baik, termasuk pada kemampuan motorik halusnya. Pada umumnya daya tahan
tubuh semakin kuat, dan memiliki selera makan yang cukup besar; (2). mengalami pertumbuhan fisik
yang semakin baik; (3). Cukup aktif
dan memiliki banyak energi. Mereka juga penuh semangat serta senang melakukan
kegiatan yang sulit dan bersifat menantang. Pada saat bermain, anak
laki-laki lebih kasar daripada anak perempuan. Mereka suka melompat
atau berlari sambil berteriak-teriak, sedangkan anak perempuan suka berbisik-bisik dan tertawa cekikikan bersama; (4). Pada usia ini pertumbuhan
fisik dan psikologis anak perempuan pada umumnya lebih cepat
daripada anak laki-laki. Selain terlihat memiliki badan yang lebih besar, anak
perempuan juga terlihat �lebih dewasa�.
Peningkatan Kreatifitas Anak Usia 8 � 12 Tahun
�� Pusat Elektronik Pelayanan Anak
dan Remaja dalam tulisannya mejelaskan bahwa sekolah minggu adalah tempat anak
-anak kristen bisa belajar sambil
bermain. Bukan hanya itu mereka
juga di harapkan dapat memperoleh pengetahuan yang saksama tentang alkitab, cerita maupun tokoh -tokohnya,
prinsip, dan caranya mereka bisa memiliki
iman yang kuat akan Tuhan. Anda mungkin sebagai orang tua atau wali
pasti merasakan manfaatnya dari anak -anak mengikuti
sekolah minggu. Mereka bisa belajar
caranya berdoa
yang baik dan benar, bernyanyi lagu rohani bersama
teman- teman dan juga bermain game bersama. Apalagi game dan permainan yang dimainkan adalah game yang bersifat positif dan membangun kepribadian anak menjadi lebih baik menurut Alkitab.
1. ��Berbagai
aktivitas yang dilakukan dalam ibadah sekolah minggu pun pastinya tidak lepas dari
peran seorang guru sekolah minggu. Mereka begitu kreatif untuk mengajarkan anak -anak supaya
meamhami dan mengerti isi Alkitab. Ini
bukanlah suatu hal yang mudah, ini pasti akan ada kesulitan tersendiri
untuk membuat mereka mengerti. Memang ada saja
anak yang suka belajar, namun kebanyakan juga lebih suka bermain dan tidak penurut.
2. Melatih anak untuk menemukan
atau mengembangkan potensinya dengan berbagai kegiatan kreatif, tidak hanya dapat dilakukan
di rumah atau di sekolah formal saja. Sekolah minggu pun dapat berperan aktif dalam hal
ini. Kegiatan kreatif dalam sekolah
minggu tentu saja bukan sekadar
menggali potensi diri anak, tetapi
yang terpenting bagaimana anak-anak belajar tentang Tuhan dan kebenaran firman-Nya melalui kegiatan tersebut.
Merry Go
Setiani menjelaskan bahwa� secara mental
dan intelektual, anak usia 8 � 12 tahun memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
lebih mandiri, suka mengoleksi benda-benda kecil da mulai tekun dengan hobinya,
memiliki daya kreatifitas yang tinggi, mulai berpikir secara logis, bersikap
lebih konkret, peduli dengan orang lain, memiliki daya ingat yang tinggi, sudah
mulai tertarik dengan berbagai bacaan terutama animasi, karakteristiknya mulai
nampak.
Secara emosi
ciri-cirinya antara lain : anak menerima dan menyerap keyakinan dan nilai-nilai
yang ada dalam keluarga, anak mulai mengagumi dan meniru figur dewasa yang
berpengaruh di sekelilingnya, suka humor, Kadang-kadang memiliki
perasaan yang tersembunyi, namun karena mereka
sudah bisa mengendalikan diri (dan menutup-nutupi), mereka bisa berpura-pura seolah tidak ada
masalah yang mengganggu diri mereka. Untuk
tipe anak yang agresif, perilaku memberontak mereka dapat dengan mudah
diketahui dan karenanya mereka cenderung dianggap sebagai anak yang sulit/nakal, Anak menerima dan menyerap
keyakinan dan nilai-nilai
yang ada dalam keluarga, Mereka mengagumi dan meniru figur-figur dewasa yang berpengaruh di sekelilingnya, Suka humor dan mulai ada perasaan tidak
suka dibanding-bandingkan.
Ciri khas
dari anak kelas Tanggung Usia 8 � 12 Tahun, antara lain :
1.3. Persekutuan Anak dan Remaja Jemaat GKI
Ebenhaezer Yoka
�PAR GKI adalah bagian integral (yang tak dapat dipisahkan)
dari Gereja, yang dipanggil dan diutus untuk turut berperan
serta serta mengembangkan misi Kerajaan
Allah. Dalam mengembangkan misi Kerajaan Allah bagi
anak-anak khususnya kelas Tanggung usia 8 � 12 tahun di perlukan guru sekolah
minggu yang kreatif dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis contextual
teaching learning dimana guru sekolah minggu dan anak kelas tanggung.
Tujuan Pembinaan
PAR GKI antara lain
: (1). Pelayanan dan pemberitaan Firman
Tuhan dapat diarahkan secara khusus sehingga mudah diterima, disamping itu supaya
anggota PAR GKI mudah digiatkan; (2). Mempersiapkan Anggota PAR GKI yang bertanggung
jawab agar dapat hidup bersama selalu
dengan Tuhan.� Sekolah
minggu adalah wadah dimana anak-anak dapat belajar sambil bermain Mereka bisa belajar caranya berdoa yang baik dan benar, bernyanyi lagu rohani bersama teman- teman dan juga bermain game bersama yang meningkatkan iman mereka.
Jemaat GKI
Ebenhaezer Yoka berada dalam wilayah Kampung
Kampung yoka. Kampung Yoka merupakan salah satu dari dua kampung atau kelurahan yang termasuk dalam wilayah
administratif Distrik Heram Kota Jayapura klasis GKI Sentani. Adapun luas wilayah Kampung
Kampung yoka seluas 10.24 KM dengan batas � batas wilayah administratifnya
adalah sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan Danau� Sentani, Sebelah
selatan berbatasan dengan �Gunung, Sebelah barat
berbatasan dengan Kampung Itaukiwa, Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Waena. Jarak antara Kampung yoka dengan Ibu
Kota Jayapura berjarak � 10 km dan dengan
Ibu kota distrik berjarak � 3 km yang
dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda 2 dan Roda 4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aktifitas anak
sekolah minggu� memperlihatkan
adanya respon yang baik terhadap metode
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), namun terlihat dalam proses pembelajaran, anak-anak masih agak kaku dan malu
� malu dalam berdiskusi, hal ini mungkin dikarenakan
anak� belum terbiasa dengan metode Contextual Teaching
and Learning (CTL) dalam proses pembelajaran
sehingga perlu kerja keras dan kesabaran dalam membimbing anak sekolah minggu. Terlihat pada saat proses diskusi anak-anak� masih
sungkan bertanya terhadap materi yang disampaikan kelompok temannya, masih ragu dan malu menjawab pertanyaan
yang diajukan temannya dikarenakan mereka takut salah atau ditertawakan oleh teman lainnya. Ini menjadi
pekerjaan rumah (PR) besar bagi penulis
untuk dapat menimbulkan kepercayaan diri anak-anak dalam memilih model pembelajaran yang tepat.
������ ���������������� Berdasarkan hasil
penelitian observasi aktifitas guru sekolah minggu oleh peneliti,terlihat aktivitas guru sekolah minggu pada sudah cukup baik, namun�� terlihat masih kurang maksimal
dalam memberikan motivasi pada anak usia 8 � 12, ini akan diperbaiki pada aktifitas anak usia 8 � 12 tahun diketahui anak-anak� masih ragu dan malu menyampaikan pendapatnya terhadap materi pembelajaran yang dipelajari sehingga perlu diberikan motivasi dan penguatan sebelum proses pembelajaran agar anak kreatif. Kurang maksimalnya aktivitas anak usia 8 � 12 tahun� dalam proses
pengembangan kreatifitas anak.
������� Selama mengadakan
kegiatan kreatif di sekolah minggu, peneliti
melihat bahwa satu hal yang harus selalu diingat
ialah tidak memaksa anak melakukan
kegiatan-kegiatan tersebut.
Biarkan mereka melakukannya dengan gembira. Yang terpenting dari kegiatan ini
adalah proses kreatif yang dilalui anak. Jadi, jangan berorientasi kepada bagus atau
tidaknya hasil. Tujuannya yang paling utama adalah memupuk
erat kasih persaudaraan dengan teman yang lainnya dan terkhususnya kepada Tuhan. Dengan melakukannya
anak -anak akan jauh lebih
mengingat pengajaran yang diberikan di bandingkan hanya dengan memberikan
pengajaran berupa lisan dan tulisan. Inilah informasi singkat yang tersedia.
Anak-anak harus
diberikan motivasi, semangat, bimbingan agar mereka dapat menerapkan dan dapat
mampu untuk memimpin doa, memimpin liturgi, mampu memimpin pujian, mampu
membaca Alkitab bila di tunjuk, semakin bertumbuh dalam iman, mampu berkreasi
dan mandiri.
Di bawah ini
adalah� poin-poin yang harus dimiliki
oleh seorang pengajar atau guru sekolah minggu, berdasarkan penelitian yang
dilakukan terhadap guru sekolah minggu oleh orang tua, majelis jemaat dan
beberapa anak maka hasil persentase yang diperoleh adalah sebagai berikut :
|
NO |
PILIHAN |
PERSENTASE |
|
1. |
Beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus
|
90 |
|
2. |
Kemahiran dalam mengajar anak sekolah
minggu atau denga kata lain telah mengikuti kursus dasar, kursus lanjutan dan
kursus menengah |
90 |
|
3. |
Bijaksana |
93 |
|
4. |
Menjalin kebersamaan dengan sesama
pengajar dan anak |
|
|
5. |
Mudah menyesuaikan diri |
92 |
|
6. |
Memiliki rasa humor |
80 |
|
7. |
Memberikan penghargaan dan pujian |
80 |
|
8. |
Mempunyai minat dan bakat yang dapat
di salurkan kepada anak |
80 |
|
9. |
Menjadi pastor� bagi anak |
85 |
|
10. |
Mempunyai ide-ide cemerlang |
80 |
|
11. |
Dapat menjadi contoh dan teladan bagi
anak |
80 |
|
12. |
Minat dan keahlian� untuk belajar |
90 |
Di bawah ini adalah� poin-poin yang harus dimiliki oleh seorang
anak sekolah minggu usia 8 � 12 tahun, berdasarkan penelitian yang dilakukan
terhadap anak oleh guru atau pengajar sekolah miggu maka hasil persentase yang
diperoleh adalah sebagai berikut :
|
NO |
PILIHAN |
PERSENTASE |
|
1. |
Beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus
|
80 |
|
2. |
Kemahiran dalam dalam mengembangkan
kreativitas |
80 |
|
3. |
Dapat membuat pilihan dan keputusan |
80 |
|
4. |
Mudah bergaul |
90 |
|
5. |
Mudah menyesuaikan diri |
95 |
|
6. |
Memiliki rasa humor |
80 |
|
7. |
Menghargai hasil karya teman |
90 |
|
8. |
Mempunyai minat dan bakat yang dapat
di kembangkan |
90 |
|
9. |
Menghargai dan menghormati |
85 |
|
10. |
Mempunyai ide-ide cemerlang |
90 |
|
11. |
Dapat menjadi contoh dan teladan bagi
anak |
90 |
|
12. |
Minat dan keahlian� untuk belajar |
90 |
KESIMPULAN
Penerapan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat
mengembangkan kreatifitas anak Usia 8 � 12 tahun Persekutan Anak dan Remaja Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka perlu adanya motivasi dari guru sekolah minggu untuk menilai
dan memilah kreatifitas dari anak-anak.
Dalam pengembangan metode Contextual
Teaching and Learning, pemberian motivasi
pada anak harus maksimal agar dapat mengembangkan kreatifitas anak usia 8 � 12 tahun agar dapat kreatif dalam menemukan
minat dan bakatnya.
Guru
diharapkan mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran
untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan
fisik melalui interaksi antar anak, anak dengan
guru sekolah minggu, lingkungan dan sumber belajar lainya dalam rangka pencapaian
kompetensi dasar. Pengalaman
belajar dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang
bervariasi dan berpusat
pada anak.
DAFTAR PUSTAKA
Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati (2014), Bahasa dan Sastra, Bandung : Nuasa Cendeka, . ��Hlm 50
Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (1988), Bandung: Sinar Baru hlm 88
Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati (2014), Bahasa dan Sastra, Bandung : Nuasa Cendeka, Hlm 47
Andreas B. Subagyo, Pengantar Risert Kuantitatif & Kualitatif (2014), Bandung : Yayasan Kalam Hidup . Hlm. 227
Wanti Rohani. 2003. Pembelajaran
Sistem Persamaan Linear Untuk Pemecahan Masalah Berbasis CTL Di Kelas I SMU
Negeri 5 Malang. Tesis Malang: Universitas Negeri Malang.
Wina Sanjaya. 2006. Strategi
Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Kunandar. 2007. Guru Profesional.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sofyan, Gusarmin dan Amiruddin B. 2007. Modul Diklat Profesi Guru Model-Model Pembelajaran I. Kendari:
Universitas Haluoleo.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran berorientasi standar
proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hlm. 264
Muslich, Mansur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan
Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara, hlm 44
Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, terbitan
Yayasan Kalam Hidup