PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING EARNING TERHADAP PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK USIA 8 � 12 TAHUN PERSEKUTUAN ANAK DAN REMAJA DI JEMAAT GKI EBENHAEZER YOKA

 

Konstantina Kreuta1, Mika Gobay2

Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Sentani

[email protected]

 

 

Riwayat Artikel:

Received: 07-12-2022

Revised: 18-12-2022

Accepted: 29-12-2022

 

Keywords: Development of Learning Models, Contextual Teaching Learning, creativity for children aged 8-12

 

 

Kata Kunci: Pengembangan Model Pembelajaran, Contextual Teaching Learning, kreativitas anak usia 8 � 12

 

 

Abstract

The purpose of this research is to develop a learning model based on Contextual Teaching Learning by actively involving Sunday school children aged 8-12 years in this learning process so that children can be creative, work, increase their creativity. Therefore Sunday school teachers are expected to be able to build a Sunday school that is advanced and developing, both in terms of quality and quantity. Teaching children is not easy, teachers must know children's learning styles so they can find out what the children's problems are in learning. If the teacher is not creative in teaching, then what will happen is the child will feel bored, lazy, bored, and don't like listening to God's word. Moreover, today's children are increasingly busy with school, courses, and various other activities, so their activities are very busy. You can imagine, if the Sunday school program is not interesting, they might feel "at a loss" to attend Sunday school. If this happens, what will happen to them, while children are the hope and the future generation of the church. By looking at the facts that occurred in the Sunday school service of the GKI Ebenhaezer Yoka Congregation, teachers paid little attention to the conditions that occurred with Sunday school children. There are so many obstacles that occur, both because children have more time for extra-curricular activities, time is so short, teaching the word of God is not emphasized too much, lack of teaching materials, lack of awareness of parents to take children to Sunday School.

 

 

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model pembelajaranberbasis Contextual Teaching Learning dengan melibatkan anak-anak sekolah minggu usia 8 � 12 tahun secara aktif dalam proses penjelajaran ini sehingga anak-anak dapat berkreasi, berkarya, meningkatkan kreativitas mereka. Oleh sebab itu guru sekolah minggu diharapkan dapat membangun sebuah sekolah minggu yangmaju dan berkembang, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Mengajar anak-anak memang tidak mudah, guru harus mengenal gaya belajar anak agar dapat menemukan apa yang menjadi masalah anak di dalam belajar. Apabila guru tidak kreatif dalam mengajar, maka yang terjadiadalah anak akan merasa bosan, malas, jenuh, dan tidak suka mendengarkan firman Tuhan. Apalagi anak-anak sekarang semakin sibuk dengan sekolah, kursus-kursus, dan berbagai kesibukan lainnya, sehingga kegiatan mereka padat sekali. Bisa dibayangkan, jika acara sekolah minggu tidak menarik, mereka mungkin bisa saja merasarugiuntuk hadir di sekolah minggu. Jika ini yang terjadi, apa yang bakal terjadi kepada mereka, sementara anak-anak adalah harapan dan generasi masa depan gereja. Dengan melihat fakta yang terjadi di dalam pelayanan sekolah minggu Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka, guru kurang memperhatikan kondisi yang terjadi dengan anak-anak sekolah minggu. Ada begitu banyak kendala yang terjadi, baik karena waktu anak lebih banyak untuk kegiatan ekstra kurikuler, waktu yang begitu singkat, pengajaran firman Tuhan tidak terlalu ditekankan, kurangnya bahan ajar, kurangnya kesadaran orang tua untuk mengajak anak ke Sekolah Minggu.

 

Corresponding Author: Konstantina Kreuta

E-mail: [email protected]

 

 

 

PENDAHULUAN

Pokok masalah utama yang akan di kedepankan dalam penulisanini adalah: Sejauh mana pengembangan model pembelajaranguru sekolah mingguterhadap peningkatan kreativitas Anak usia 8 � 12 tahun Persekutuan Anak dan RemajaJemaat GKIEbenhaezer Yoka.

Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif, yaitu metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode Kualitatif Deskriptif maksudnya ialah untuk mendiskripsikan atau menjelaskan peristiwa dan kejadian yang memberikan gambaran yang konkrit[*],mengenai permasalahan yang di hadapi berdasarkan fakta dan gejala-gejala yang dihadapi sebagaimana, sesuai dengan metode deskriptif[�] sedangkan Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositive yang digunakan untuk meneliti pada kondisi yang alamiah ,(sebagai lawannya adalah eksperimen).di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci. Sampel sumber data di ambil secara postpositive dan snowball ,pengumpulan data dengan tringulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif ,dan hasil penelitian kualitatif generalisasi

Dalam penelitian kualitatif teknik sampling yang sering digunakan adalah purpoice sampling dan snowball sampling. Dalam penelitian ini penulis menggambarkanteknik snowball sampling untuk mendapatkan sumber data,snowball sampling adalah teknik pengambilan sambel sumber data ,yang pada awalnya jumlahnnya sedikit,lama-lama menjadi besar.hal ini di lakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit tersebut belum mampu memberikan data yanglengkap.maka peneliti perlu mencariinformasi yang lain untuk mengembangkan data penelitian.

Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif di lakukan pada saatdipeniliti mulai memasuki lapangan penilitian,dan selama penilitian berlangsung Emergensi sampling desigh .caranya��� yaitu peniliti memilih orang tertentuyang di pertimbangkan akan memberikan data yang di perlukan,selanjutnya berdasarkan data atau informasi yang di peroleh dari data informasi sebelumnya itu,peneliti dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan memberi data lebih lengkap.

 

METODA PENELITIAN

Dalam penelitian ini dengan observasi langsung data yang di gunakan adalah sebagai berikut :

a.     Observasi/pengamatan

Dalam metode Observasi, peneliti mengamati tanpa (Intervensi), subjek Penelitian (tempatnya gejala yang ada pada subjek) dalam suatu hasil pengamatan itu.Pengamatan tidak hanya dilakukan pada data yang terlihat, tetapi juga bisa mencakup data yang dapat dicium, didengar, dicakap, dan diraba.Penelitian dapat mengamati subjek secara langsung, tetapi juga bisa dari hasil rekaman.Selain itu juga dilakukan pengamatan adalah gejala-gejala sosial dalam kategori yang tepat, alat bantuan seperti alat pencatat,lir dan alat mekanik. Dalam pelaksaannya digunakan alat bantu seperti checklis, sekata penilaian atau alat seperti tipe rocorde[�].

Pengamatan data dengan obserfasi langsung adalah cara langsung untuk mengambil data dengan menggunakan mata tanpa menggunakan bantuan alatstandar lain untuk keperluan tersebut.

Menurut marsall {1995} menyatakan bahwa melalui obserfasi peneliti belajar tentang perilaku , dan makna dari perilaku tersebut .dengan demikian dalam penelitian ini ,penulis akan melakukan obserfasi terhadap objek peneliti.

b.    Wawancara / intervieuw

Wawancara adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab. Sehingga dapat dikordinasikan makna dalam suatu topic tertentu[�]. Dengan demikian yang akan di lakukan oleh peneliti adalah melakukan wawancara terstuktur dengan cara rsponden sebagai sampel penelitian terkait dengan topic penelitian tersebut.

c.     Studi kepustakaan

Studi kepustakaan adalah teknik atau cara mengumpulkan data �data teoritis guna memperoleh pendapat atau pandangan oleh berbagai ahli dengan mengumpulkan berbagai buku, catatan, dokumentasi guna untuk menunjang penelitian tersebut, dengan demikian penulis akan menggali informasi sebanyak mungkin dari berbagi literature yang memperkaya kajian teoritis maupun analisis terhadap hasil penelitian.

d.       Kuesioner/ Angket

Kuesioner atau angket adalah pengumpulan data yang melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan secara tertulispada seseoang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang di lakukan oleh peneliti.[**]

Ada empat tahapan analisis dalam penelitian kualitatif, yaitu :

1. Pengumpulan data

Hal pertama yang perlu dilakukan peneliti tentunya mengumpulkan data berdasarkan pertanyaan atau permasalahan yang sudah dirumuskan. Data kualitatif bisa dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara mendalam, kajian dokumen, atau focus group discussion.

2. Reduksi dan kategorisasi data

Setelah mengumpulkan data, langkah selanjutnya ialah mereduksi data. Menurut Miles, reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari data-data lapangan.

�������� Usai direduksi, peneliti harus mengkategorikan data sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, data dikelompokkan berdasarkan tanggal, karakteristik informan, atau lokasi penelitian. Dalam tahap ini, dibutuhkan kemampuan interpretasi data yang baik agar data tersebut tidak salah masuk kategori.

3.Penampilan data

���������� Display atau penampilan data merupakan tahap yang perlu dilakukan setelah mereduksi dan mengkategorisasi data. Menurut Miles, display data adalah analisis merancang deretan dan kolom sebuah metriks untuk data kualitatif.
 
��� Berdasarkan rancangan tersebut, peneliti dapat menentukan jenis serta bentuk data yang dimasukkan ke dalam kotak-kotak metriks. Penampilan data bisa dilakukan dalam bentuk naratif, bagan, flow chart, dan sebagainya.

4. Penarikan kesimpulan

��������� Hal terakhir yang harus dilakukan adalah menarik kesimpulan. Secara garis besar, kesimpulan harus mencakup informasi-informasi penting dalam penelitian. Kesimpulan tersebut juga mesti ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti pembaca dan tidak berbelit-belit.

 

Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching Learning

Pembelajaran kontekstual (Contextual theaching learning) yaitu pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata mendorong anak membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dengan kehidupan mereka sehari- hari. Hal ini melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu ; (1). konstruktivisme (constructivism), (2). bertanya ( quetioning), (3). menemukan (inquiry), (4). masyarakat belajar (learning commonity), (5). pemodelan (modeling), (6). refleksi (Reflection) dan (7). penelitian sebenarnya (authentic assessment).������ ������������������

Proses pembelajaran bukan sekedar mentransfer pengetahuan dari guru sekolah minggu ke siswa, tetapi berlangsung   secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya, lebih mementingkan strategi daripada hasil pembelajaran, siswa didorong untuk mengerti apa arti belajar, apa manfaatnya belajar, dan bagaimana mencapainya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai pihak yang membutuhkan bekal hidup di masa depan (https://babel.kemenag.goid/id/opini/599//)

Pembelajaran kontekstual(Contextual theaching learning) adalah sebuah sistem pembelajaran yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, suatu pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan knoteks kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran kontektual (contextual theaching learning) merupakan model pembelajaran yang memungkinkan dimana siswa dapat menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam banyak konteks di dalam dan di luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif maupun nyata, baik secara individu maupun bersama-sama.

Pembelajaran ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), siswa tidak sekedar pendengar pasif. Pembelajaran inimengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman nyata (real word learning), berfikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, kreatif, memecahkan masalah, siswa belajar menyenangkan, mengasikkan, tidak membosankan, (joyfull and quantum learning) dan menggunakan berbagai sumber belajar. (https://babel.kemenag.goid/id/opini/599// )

Ciri-ciri pembelajaran CTL antara lain: 1) Adanya kerja sama antar semua pihak; �������������2) Menekankan pentingnya pemecahan masalah atau problem; 3) bermuara pada keragaman konteks kehidupan murid yang berbeda-beda; 4) saling menunjang; 5) menyenangkan tidak membosankan; 6) belajar dengan bergairah; 7) pembelajaran terintegrasi; 8) menggunakan berbagai sumber; 9) murid aktif; 10) sharing dengan teman; 11) murid kritis, guru kreatif; 12) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya murid peta-peta, gambar, artikel, humor, dan sebagainya; 13) segala sesuatu yang dikerjakan oleh anak harus di sampaikan kepada orang tua sehingga orang tua dapat mengikuti perkembangan iman dari anak melalui guru sekolah minggu, anak-anak juga akan merasa di hargai, diperhatikan (Wanti Rohani 2002 : 12)

Menurut Wina Sanjaya (2006: 114) terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL yaitu : 1). Dalam CTL pembelajaran merupakan proses mengaktifkan pengetahuan yang sudah ada artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain ; 2) . Pembelajaran yang CTL adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru. Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajarn dimulai dengan membelajarkan secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya ; 3).   Pemahaman pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan; 4.  Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut. Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan prilaku siswa; 5.  Melakukan refleksi strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik terhadap proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

 

Hal ini sejalan dengan pendapat Jonson (Kunandar2007: 274 ) ada delapan komponen utama dalam pembelajaran Contextual Teaching Learning yakni : (1) melakukan hubungan yang bermakna artinya siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat belajar sambil berbuat. (2) melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan siswa membuat hubungan antara sekolah dengan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan yang nyata.(3) belajar yang diatur sendiri (4) siswa bekerjasama guru membantu (5) berfikir kritis dan kreatif (6) mengasuh dan memelihara pribadi siswa (7) mencapai standar yang tinggi, mengidentifikasi tujuan dan memotifasi siswa untuk mencapainya (8) menggunakan penilaian autentik.

Selain itu juga Sofyan dan Amiruddin (2007: 16) mengemukakan bahwa karakteristik pembelajaran CTL yaitu : (1) kerjasama; (2) saling menunjang; (3) menyenangkan, tidak membosankan; (4) belajar dengan bergairah; (5) pembelajaran terintegrasi; (6) menggunakan berbagai sumber; (7) anak aktif; (8) sharing dengan teman; dan (9) peserta didik kritis dan kreatif.

Inilah beberapa ciri anak usia madya antara 812 tahun, yang disarikan dari beberapa sumber dikutip dari Penulis Wijanarko Utomo March 23, 2018 : Ciri khas jasmani adalah sebagai berikut : (1). Mengalami pertumbuhan fisik yang semakin baik dan kuat. Koordinasi dan keseimbangan tubuh juga makin baik, termasuk pada kemampuan motorik halusnya. Pada umumnya daya tahan tubuh semakin kuat, dan memiliki selera makan yang cukup besar; (2). mengalami pertumbuhan fisik yang semakin baik; (3). Cukup aktif dan memiliki banyak energi. Mereka juga penuh semangat serta senang melakukan kegiatan yang sulit dan bersifat menantang. Pada saat bermain, anak laki-laki lebih kasar daripada anak perempuan. Mereka suka melompat atau berlari sambil berteriak-teriak, sedangkan anak perempuan suka berbisik-bisik dan tertawa cekikikan bersama; (4). Pada usia ini pertumbuhan fisik dan psikologis anak perempuan pada umumnya lebih cepat daripada anak laki-laki. Selain terlihat memiliki badan yang lebih besar, anak perempuan juga terlihatlebih dewasa�.

Peningkatan Kreatifitas Anak Usia 8 � 12 Tahun

�� Pusat Elektronik Pelayanan Anak dan Remaja dalam tulisannya mejelaskan bahwa sekolah minggu adalah tempat anak -anak kristen bisa belajar sambil bermain. Bukan hanya itu mereka juga di harapkan dapat memperoleh pengetahuan yang saksama tentang alkitab, cerita maupun tokoh -tokohnya, prinsip, dan caranya mereka bisa memiliki iman yang kuat akan Tuhan. Anda mungkin sebagai orang tua atau wali pasti merasakan manfaatnya dari anak -anak mengikuti sekolah minggu. Mereka bisa belajar caranya berdoa yang baik dan benar, bernyanyi lagu rohani bersama teman- teman dan juga bermain game bersama. Apalagi game dan permainan yang dimainkan adalah game yang bersifat positif dan membangun kepribadian anak menjadi lebih baik menurut Alkitab.

1.  ��Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam ibadah sekolah minggu pun pastinya tidak lepas dari peran seorang guru sekolah minggu. Mereka begitu kreatif untuk mengajarkan anak -anak supaya meamhami dan mengerti isi Alkitab. Ini bukanlah suatu hal yang mudah, ini pasti akan ada kesulitan tersendiri untuk membuat mereka mengerti. Memang ada saja anak yang suka belajar, namun kebanyakan juga lebih suka bermain dan tidak penurut.

2.       Melatih anak untuk menemukan atau mengembangkan potensinya dengan berbagai kegiatan kreatif, tidak hanya dapat dilakukan di rumah atau di sekolah formal saja. Sekolah minggu pun dapat berperan aktif dalam hal ini. Kegiatan kreatif dalam sekolah minggu tentu saja bukan sekadar menggali potensi diri anak, tetapi yang terpenting bagaimana anak-anak belajar tentang Tuhan dan kebenaran firman-Nya melalui kegiatan tersebut.

Merry Go Setiani menjelaskan bahwasecara mental dan intelektual, anak usia 8 � 12 tahun memiliki ciri-ciri sebagai berikut : lebih mandiri, suka mengoleksi benda-benda kecil da mulai tekun dengan hobinya, memiliki daya kreatifitas yang tinggi, mulai berpikir secara logis, bersikap lebih konkret, peduli dengan orang lain, memiliki daya ingat yang tinggi, sudah mulai tertarik dengan berbagai bacaan terutama animasi, karakteristiknya mulai nampak.

Secara emosi ciri-cirinya antara lain : anak menerima dan menyerap keyakinan dan nilai-nilai yang ada dalam keluarga, anak mulai mengagumi dan meniru figur dewasa yang berpengaruh di sekelilingnya, suka humor, Kadang-kadang memiliki perasaan yang tersembunyi, namun karena mereka sudah bisa mengendalikan diri (dan menutup-nutupi), mereka bisa berpura-pura seolah tidak ada masalah yang mengganggu diri mereka. Untuk tipe anak yang agresif, perilaku memberontak mereka dapat dengan mudah diketahui dan karenanya mereka cenderung dianggap sebagai anak yang sulit/nakal, Anak menerima dan menyerap keyakinan dan nilai-nilai yang ada dalam keluarga, Mereka mengagumi dan meniru figur-figur dewasa yang berpengaruh di sekelilingnya, Suka humor dan mulai ada perasaan tidak suka dibanding-bandingkan.

Ciri khas dari anak kelas Tanggung Usia 8 � 12 Tahun, antara lain :

  1. Anak-anak Madya lebih suka bergaul dengan teman sebayanya dibanding dengan orang tua maupun gurunya.
  2. Suka bergaul dengan teman sejenis dan ada kecenderungan untuk �anti� dengan lawan jenis (misalnya: tidak mau duduk berdampingan).
  3. Setia pada kelompoknya dan menganggap kelompoknya sebagai sesuatu yang istimewa. Bagi anak-anak usia 9-11 tahun, pendapat dan sikap kelompoknya terhadap segala sesuatu amat penting. Mereka juga kadang bersikap seolah-olah sedang melakukan sesuatu yang misterius dan terlarang bersama dengan anggota-anggota kelompoknya (padahal sebenarnya tidak, mereka hanya sedang mengekspresikan rasa bangga terhadap kelompoknya). Tak jarang mereka memiliki bahasa dan kode sendiri di dalam kelompoknya.
  4. Semangat berkompetisi pada anak usia 9-11 tahun tinggi sekali. Pada waktu bertanding, mereka seringkali memperlihatkan interaksi yang bersifat negatif, seperti melontarkan komentar yang bernada permusuhan, berbuat curang, dan berusaha untuk menghalangi atau mendominasi satu sama lain.
  5. Suka bergurau, termasuk mungkin menertawakan orang lain. Untuk itu arahkan mereka pada gurauan yang sehat, dan yang tidak melukai atau menyinggung perasaan orang lain.
  6. Mulai sadar terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya, mulai peduli pada pendapat orang lain mengenai tubuhnya. Persoalan body image atau gangguan makan biasanya mulai terjadi pada usia ini.
  7. Mereka senang bekerjasama dan mampu menyelesaikan konflik dengan negosiasi atau kompromi.

1.3. Persekutuan Anak dan Remaja Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka

  1. Pedoman Pelayanan Persekutuan Anak dan Remaja Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua menjelaskan bahwa Persekutuan Anak dan Remaja Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (PAR GKI) Organisasi yang berbentuk wadah pelayanan dan pembinaan bagi anak dan remaja gereja/jemaat dan tidak mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART). Melatih anak untuk menemukan atau mengembangkan potensinya dengan berbagai kegiatan kreatif, tidak hanya dapat dilakukan di rumah atau di sekolah formal saja. Sekolah minggu pun dapat berperan aktif dalam hal ini. Kegiatan kreatif dalam sekolah minggu tentu saja bukan sekadar menggali potensi diri anak, tetapi yang terpenting bagaimana anak-anak belajar tentang Tuhan dan kebenaran firman-Nya melalui kegiatan tersebut.

PAR GKI adalah bagian integral (yang tak dapat dipisahkan) dari Gereja, yang dipanggil dan diutus untuk turut berperan serta serta mengembangkan misi Kerajaan Allah. Dalam mengembangkan misi Kerajaan Allah bagi anak-anak khususnya kelas Tanggung usia 8 � 12 tahun di perlukan guru sekolah minggu yang kreatif dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis contextual teaching learning dimana guru sekolah minggu dan anak kelas tanggung.

Tujuan Pembinaan PAR GKI antara lain : (1). Pelayanan dan pemberitaan Firman Tuhan dapat diarahkan secara khusus sehingga mudah diterima, disamping itu supaya anggota PAR GKI mudah digiatkan; (2). Mempersiapkan Anggota PAR GKI yang bertanggung jawab agar dapat hidup bersama selalu dengan Tuhan.Sekolah minggu adalah wadah dimana anak-anak dapat belajar sambil bermain Mereka bisa belajar caranya berdoa yang baik dan benar, bernyanyi lagu rohani bersama teman- teman dan juga bermain game bersama yang meningkatkan iman mereka.

Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka berada dalam wilayah Kampung Kampung yoka. Kampung Yoka merupakan salah satu dari dua kampung atau kelurahan yang termasuk dalam wilayah administratif Distrik Heram Kota Jayapura klasis GKI Sentani. Adapun luas wilayah Kampung Kampung yoka seluas 10.24 KM dengan batas � batas wilayah administratifnya adalah sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan  DanauSentani, Sebelah selatan berbatasan dengan Gunung, Sebelah barat berbatasan dengan Kampung Itaukiwa, Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Waena. Jarak antara Kampung  yoka dengan Ibu Kota Jayapura berjarak � 10 km dan  dengan Ibu kota distrik berjarak � 3 km yang dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Roda 2 dan Roda 4.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Aktifitas anak sekolah minggumemperlihatkan adanya respon yang baik terhadap metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), namun terlihat dalam proses pembelajaran, anak-anak masih agak kaku dan malumalu dalam berdiskusi, hal ini mungkin dikarenakan anakbelum terbiasa dengan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam proses pembelajaran sehingga perlu kerja keras dan kesabaran dalam membimbing anak sekolah minggu. Terlihat pada saat proses diskusi anak-anakmasih sungkan bertanya terhadap materi yang disampaikan kelompok temannya, masih ragu dan malu menjawab pertanyaan yang diajukan temannya dikarenakan mereka takut salah atau ditertawakan oleh teman lainnya. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi penulis untuk dapat menimbulkan kepercayaan diri anak-anak dalam memilih model pembelajaran yang tepat.

������ ��������������� Berdasarkan hasil penelitian observasi aktifitas guru sekolah minggu oleh peneliti,terlihat aktivitas guru sekolah minggu pada sudah cukup baik, namun�� terlihat masih kurang maksimal dalam memberikan motivasi pada anak usia 8 � 12, ini akan diperbaiki pada aktifitas anak usia 8 � 12 tahun diketahui anak-anakmasih ragu dan malu menyampaikan pendapatnya terhadap materi pembelajaran yang dipelajari sehingga perlu diberikan motivasi dan penguatan sebelum proses pembelajaran agar anak kreatif. Kurang maksimalnya aktivitas anak usia 8 � 12 tahundalam proses pengembangan kreatifitas anak.

������� Selama mengadakan kegiatan kreatif di sekolah minggu, peneliti melihat bahwa satu hal yang harus selalu diingat ialah tidak memaksa anak melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Biarkan mereka melakukannya dengan gembira. Yang terpenting dari kegiatan ini adalah proses kreatif yang dilalui anak. Jadi, jangan berorientasi kepada bagus atau tidaknya hasil. Tujuannya yang paling utama adalah memupuk erat kasih persaudaraan dengan teman yang lainnya dan terkhususnya kepada Tuhan. Dengan melakukannya anak -anak akan jauh lebih mengingat pengajaran yang diberikan di bandingkan hanya dengan memberikan pengajaran berupa lisan dan tulisan. Inilah informasi singkat yang tersedia.

Anak-anak harus diberikan motivasi, semangat, bimbingan agar mereka dapat menerapkan dan dapat mampu untuk memimpin doa, memimpin liturgi, mampu memimpin pujian, mampu membaca Alkitab bila di tunjuk, semakin bertumbuh dalam iman, mampu berkreasi dan mandiri.

Di bawah ini adalahpoin-poin yang harus dimiliki oleh seorang pengajar atau guru sekolah minggu, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap guru sekolah minggu oleh orang tua, majelis jemaat dan beberapa anak maka hasil persentase yang diperoleh adalah sebagai berikut :

NO

PILIHAN

PERSENTASE

1.

Beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus

90

2.

Kemahiran dalam mengajar anak sekolah minggu atau denga kata lain telah mengikuti kursus dasar, kursus lanjutan dan kursus menengah

90

3.

Bijaksana

93

4.

Menjalin kebersamaan dengan sesama pengajar dan anak

 

5.

Mudah menyesuaikan diri

92

6.

Memiliki rasa humor

80

7.

Memberikan penghargaan dan pujian

80

8.

Mempunyai minat dan bakat yang dapat di salurkan kepada anak

80

9.

Menjadi pastorbagi anak

85

10.

Mempunyai ide-ide cemerlang

80

11.

Dapat menjadi contoh dan teladan bagi anak

80

12.

Minat dan keahlianuntuk belajar

90

Di bawah ini adalahpoin-poin yang harus dimiliki oleh seorang anak sekolah minggu usia 8 � 12 tahun, berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap anak oleh guru atau pengajar sekolah miggu maka hasil persentase yang diperoleh adalah sebagai berikut :

NO

PILIHAN

PERSENTASE

1.

Beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus

80

2.

Kemahiran dalam dalam mengembangkan kreativitas

80

3.

Dapat membuat pilihan dan keputusan

80

4.

Mudah bergaul

90

5.

Mudah menyesuaikan diri

95

6.

Memiliki rasa humor

80

7.

Menghargai hasil karya teman

90

8.

Mempunyai minat dan bakat yang dapat di kembangkan

90

9.

Menghargai dan menghormati

85

10.

Mempunyai ide-ide cemerlang

90

11.

Dapat menjadi contoh dan teladan bagi anak

90

12.

Minat dan keahlianuntuk belajar

90

 

KESIMPULAN

Penerapan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat
mengembangkan kreatifitas anak Usia 8 � 12 tahun Persekutan Anak dan Remaja Jemaat GKI Ebenhaezer Yoka perlu adanya motivasi dari guru sekolah minggu untuk menilai dan memilah kreatifitas dari anak-anak.

Dalam pengembangan metode Contextual Teaching and Learning, pemberian motivasi pada anak harus maksimal agar dapat mengembangkan kreatifitas anak usia 8 � 12 tahun agar dapat kreatif dalam menemukan minat dan bakatnya.

Guru diharapkan mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran
untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan
fisik melalui interaksi antar anak, anak dengan guru sekolah minggu, lingkungan dan sumber belajar lainya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman
belajar dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang
bervariasi dan berpusat pada anak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati (2014), Bahasa dan Sastra, Bandung : Nuasa Cendeka, . ��Hlm 50

Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah (1988), Bandung: Sinar Baru hlm 88

Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati (2014), Bahasa dan Sastra, Bandung : Nuasa Cendeka, Hlm 47

Andreas B. Subagyo, Pengantar Risert Kuantitatif & Kualitatif (2014), Bandung : Yayasan Kalam Hidup . Hlm. 227

Wanti Rohani. 2003. Pembelajaran Sistem Persamaan Linear Untuk Pemecahan Masalah Berbasis CTL Di Kelas I SMU Negeri 5 Malang. Tesis Malang: Universitas Negeri Malang.

Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sofyan, Gusarmin dan Amiruddin B. 2007. Modul Diklat Profesi Guru Model-Model Pembelajaran I. Kendari: Universitas Haluoleo. 

 Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hlm. 264

Muslich, Mansur. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara, hlm 44

Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar, terbitan Yayasan Kalam Hidup